Selasa, 27 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 1



Sabtu itu pagi menjelang siang sekitar pukul setengah sebelas di sebuah kota kecil nun jauh di Banten selatan, berbeda dari hari-hari biasanya. Saat mengantar istri ke rumah makan milik keluarganya, saya melihat sepasang “bule” bercakap-cakap dengan seseorang di seberang jalan. “Heiy…, tumben ada bule di Malingping”, dalam hati saya. Kemudian mereka berjalan menuju arah saya. Saat itu juga saya berharap mereka menghampiri, sudah lama saya ingin bercakap-cakap dengan bule sekedar melatih kemampuan bahasa Inggris saya. Tak disangka, ternyata memang rumah makan keluarga saya yang mereka tuju.
Saya menyapa mereka, “hello, can I help you?”. Awalnya mereka seperti mengacuhkan saya, lebih seperti waspada. Kemudian yang laki-laki menoleh kepada saya kemudian berkata, “oh, you can speak English”. ku jawab, “yes, a little. “We like to have a breakfast, something vegetable, no meat, like vegetarian”, sambung yang perempuan. “Ow, please come in”, balas saya. Karena rumah makan keluarga istri saya adalah rumah makan masakan Padang, tentu saja sebagian besar menunya adalah daging. Menu non daging yang kebetulan tersedia siang itu adalah tahu dan terong balado, saya pikir masa iya hanya makan tahu dan terong. Kemudian saya melihat kembali pada etalase makanan tersedia pula telur goreng dan ikan asam padeh, “would you like fish?”, tanyaku. “No”, jawab yang perempuan. “What about egg?, fried egg”, tanya saya lagi. “Egg is ok”, jawab yang perempuan. Kemudian dia menunjuk pada piring saji berisi tahu goreng, lanjut bertanya, “is that tofu or tempeh?”, “tofu”, jawabku. “great!, I want that”, katanya.
Saya persilahkan mereka memilih tempat duduk, setelah mereka duduk saya pun duduk semeja dengan mereka dan mengajak bercakap-cakap sebentar.
Selanjutnya dalam cerita saya ini dialog saya dengan mereka akan saya tulis dalam terjemahan bahasa Indonesia, well…sedikit campur-campur bahasa Inggris lah ya, biar sama-sama belajar kita J.
“Kalian dari negara mana, dan hendak kemana?”, tanyaku. “Kami dari Slovakia”, jawab yang laki-laki. “Slovakia?”, tanyaku mengulang. “Ya, Eropa bagian tengah”, ditengah-tengah antara Polandia, Austria, Ceko, Hunggaria dan Ukraina. Ke sini berkendara menggunakan skuter”. “Skuter?!, tanyaku setengah tidak percaya. “Ya, skuter. Kami sewa di Jakarta untuk kami gunakan selama 1 bulan. Kami hendak ke Sawarna. Apakah masih jauh?, berapa lama perjalanan lagi”, katanya menyambung. “Sudah tidak terlalu jauh, kira-kira 2 jam lagi perjalanan berkendara”, jawabku. “Oya, nama saya Bobby, nama kalian siapa?”, Tanya saya sambil mengulurkan tangan bersalaman. Yang laki-laki bernama Andre, yang perempuan bernama Maria. Kemudian Andre bercerita bahwa kemarin malam mereka bermalam di Anyer, disebuah hotel yang menurut gambaran mereka lebih seperti bedeng tapi mereka harus membayar seharga apabila di negara mereka lebih mahal dari hotel berbintang tiga. Tidak terlalu kaget sebenarnya mendengar cerita mereka soal Anyer, saya sampaikan kepada Andre, jangankan kepada kalian turis asing, kepada turis lokal pun ada beberapa kejadian harus membayar diluar logika jika berwisata kesana, meski tidak semua pengelola wisata di Anyer berkelakuan seperti itu tentunya.
Maria pun turut buka suara bertanya, “apakah maksud jika bersalaman jari telunjuk lawan bersalaman digerak-gerakkan pada telapak tangan saya?, sambil ia peragakan salam telunjuk digoyang. Apakah itu sesuatu yang baik atau tidak?”. “That’s a flirt!, itu menggoda!, dan itu tidak baik”, terangku. “Saya sudah menduganya”, katanya. “Bagaimana cara menolaknya?”, katanya lagi. “Tarik saja tanganmu”, jawab saya.
Pikir saya, “pantas saja pertama disapa seperti waspada begitu, ternyata mereka baru dapat pengalaman kurang baik”.
Ketika diantarkan segelas besar air teh tawar hangat, Andre bertanya, apakah ini teh?, saya mengiyakan. Ketika diantar wadah almunium berisi air bening, Andre bertanya kembali, ini air apa?, saya jawab sambil tersenyum, “for washing your hand” alias kobokan. Setengah tertawa Andre menjawab, “Of course”. 
Andre kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil atau notes dan pena, lanjut bertanya, “apakah arti HATI-HATI?”. Saya pikir saat dalam perjalanan seseorang mengancam mereka, saya pun bertanya, “apakah kalian diancam?”. “Tidak”, kata Andre, hanya saja dalam perjalanan dia sering melihat rambu bertuliskan HATI-HATI. Saya tertawa, “ooo…saya pikir kalian diancam. HATI-HATI means BE CAREFULL in English”, saya menjelaskan. “Saat kapan penggunaan kata HATI-HATI digunakan?”, ganti Maria bertanya. “Mmm…misalnya saja kawan kamu akan bepergian ke suatu tempat, atau siapapun orang yang kamu kenal akan melakukan sesuatu yang sekiranya sedikit berbahaya, saat itulah kamu mengatakan HATI-HATI kepadanya”, demikian saya mencotohkan. “Ahh… I see”, kata Maria, sepertinya dia menangkap maksudnya.
Kemudian Andre lanjut bertanya, apakah benar jika menyapa seseorang laki-laki dengan panggilan “Mas”?. Meskipun sebenarnya itu bahasa Jawa tapi saya pikir sudah “mengindonesia”, saya mengiyakan. Kemudian dia bertanya kembali, “jika kepada perempuan apa?”. Saya jawab, “Mba”. Dia mengulangi perkataan saya sambil menulis, “BA”. “Tidak, tidak, kurang M”, koreksi saya. Andre pun menambahkan huruf M. “Bagaimana kepada orang yang lebih tua?”, tanyanya lagi. Aku jawab, “tentu saja beda”. “PAK”, untuk laki-laki dan “IBU”, untuk perempuan. Andre menulis kalimat bahasa Indonesia yang dia tanyakan itu pada notesnya.
Semua hidangan sudah tersedia, nasi, tahu, telur goreng dan terong balado, serta masing-masing segelas teh tawar. “Oya, silahkan kalian nikmati dulu makanannya”, kata saya. Saya pun meninggalkan mereka ke meja dibelakang mereka.

                                                             nyam-nyam...delicioso!! :)

Sekitar lima belas menit kemudian saya hampiri lagi mereka, tampak seluruh makanan dan minuman ludes, kecuali tentu saja air kobokan. Saya membuka sapaan, “jadi kemana rencana kalian setelah ini?”. Tujuan utama mereka sebenarnya menuju Sawarna yang terletak di Bayah, namun mereka bertanya apa yang menarik di Malingping, saya jawab bahwa kita berada di pesisir selatan Banten, dan disini terdapat banyak pantai alami. Mereka pun sangat tertarik melihatnya, “Kami tidak masalah menambah hari kunjungan kami disini”, kata Andre. Kemudian dia bertanya pantai apa yang menarik disini. “Saya akan mengajak kalian ke pantai Bagedur dan pantai Pasir Putih”, jawab saya. Andre bertanya untuk menegaskan sambil membuka notesnya, rupanya dia bermaksud menulis nama pantai yang barusan saya sebut pada notesnya. “BAGEDUR”, kataku. “What?”, tanyanya. Aku yakin nama pantai itu janggal ditelinganya.Aku membantu mengejakan huruf yang harus ditulisnya; “bi-ei-ji-i-di-yu-ar, BA-GE-DUR!”. Dia coba mengucapkannya, “bageidjyur”. “That’s right”, kataku membenarkan. Satu lagi, pantai Pasir Putih. “What?!”, tanyanya lagi. Saya pikir dari pada repot saya sampaikan saja bahasa Inggrisnya; “is White Sandy Beach”, simple karena memang pantai itu berpasir putih. Saya menawarkan diri menemani mereka ke pantai-pantai yang tadi disebut, mereka tampak senang.  
Mereka bercerita bahwa sebelum ke Indonesia mereka sudah terlebih dahulu berkelana selama 6 bulan di India, sampai dataran tinggi Himalaya. Andre mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkan beberapa foto-foto menarik dokumentasi petualangan mereka di India, Nepal sampai dengan pegunungan Himalaya. “Ini salah satu foto favorit saya”, sela Maria menunjukan sebuah foto. Foto sekumpulan anak kecil  perempuan seusia kira-kira 7 tahunan, seperti dalam sebuah kelas, mereka semua mengenakan seragam, atasannya mengenakan topi kecuali ada seorang anak perempuan ditengah-tengah, seorang diri mengenakan hijab. Menurut Maria, itu adalah sekolah Budha di sebuah desa di Nepal. Kemudian Andre membuka sebuah situs internet yang mereka kelola ; www.marushka.sk, yang isi materi situsnya diantaranya foto-foto dan cerita petualangan mereka. Menarik. Saat bertualang di India sampai pegunungan Himalaya pun mereka mengendarai motor.

                                             Halaman web yang mereka kelola. Good site guys

Saya kemudian berkata kepada mereka, “saya pikir kalian turis yang menggunakan mobil pariwisata”. Ternyata mereka bukan tipe “turis” seperti itu. Setelah mereka membayar makanan, mereka pamit kembali ke hotel untuk mengambil skuter mereka, sebagaimana yang Andre sampaikan, naik skuter.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke rumah makan, ternyata dengan dua motor masing-masing berkendara sendiri, tidak satu motor, mereka masing-masing mengenakan helm. Dugaan saya mereka berboncengan, meleset. Namun demikian, saat Andre sampaikan bahwa mereka menaiki skuter, saya membayangkan mereka menaiki motor Vespa klasik yang tidak jarang saya melihat dipinggir jalan raya pengendaranya mengutak-ngutik vespanya karena mogok, ternyata yang mereka kendarai adalah motor matic, dugaan meleset lagi.
Tapi tetap saja, bagi saya mereka cukup gokil alias gila, dalam makna yang keren tentunya. Bagaimana tidak, saya berpikir panjang jika harus melakukan perjalanan jarak super jauh mengendarai motor, hanya berdua dengan pasangan, ke kampung orang pula. Nah mereka ini, sudah melakukan perjalanan jarak super jauh, berdua dengan pasangan, ke negara orang pula!.

Saat mereka sudah siap dengan motornya masing-masing saya baru terpikir pasti akan seharian menemani mereka, saya mesti makan siang dulu. Giliran saya minta mereka tunggu sebentar saya mengisi perut dulu, Andre menjawab, “its ok, take your time Bobby”. Ternyata mereka pun hendak mengisi bahan bakar motor mereka terlebih dahulu, “Dimana saya bisa menemukan Pertamina disini?”, tanya Andre. Saya paham, tentulah maksudnya adalah stasiun pengisian bahan bakar atau pom bensin, “kamu ikuti saja jalan utama ini, kira-kira 2 km dari sini, pom bensinnya sebelah kanan jalan. Kamu akan lihat papan besar bertuliskan Pertamina”, terang saya.
Tepat saya menyelesaikan makan siang saya dan telah bersiap, mereka pun tiba. “Are you ready to go Bobby?”, kata Andre sambil tersenyum.    

(bersambung -)

Sabtu, 12 Desember 2015

FILOSOFI NGOPI SEPERTI MENJALANI KEHIDUPAN



"NGOPI" atau minum kopi adalah ketika kamu membuat kopi, kamu meracik sendiri akan seperti apa rasa kopi yang menurut kamu terenak dan ternikmat, dengan komposisi yang kamu perkirakan sendiri apakah lebih banyak atau lebih sedikit kopinyakah, gulanyakah, krimnyakah, susunyakah, coklatnyakah, kemudian volume airnya bahkan ukuran dan bentuk gelas atau cangkirnya, semua itu akan berpengaruh kepada citarasa yang menurutmu sendiri adalah kopi enak dan nikmat.
Untuk mencapai citarasa yang benar-benar sesuai, kamu harus mencoba berkali-kali sampai entah berapa gelas racikan kopi yang gagal memenuhi citarasa yang kamu inginkan. Tapi atas semua kegagalan itu kamu tidak akan berhenti, terus dan terus meracik kopi terbaikmu.
 
Adakalanya kamu menikmati kopi yang tersedia pada warung-warung kopi tradisional ataupun modern ala kafe, tapi tetap saja jenis dan citarasa kopinya kamulah yang pilih dan tentukan sendiri.
Adakalanya pula kamu memilih kopi cepat saji atau instan yang sudah terkemas dari pabrikan, kamulah yang memilih rasa kopi yang kamu inginkan. Meskipun sering kali kamu hanya bisa terima apa adanya rasa racikan kopi dari pabrikan, karena kamu tidak mampu meracik kopi kamu sendiri, atau kamu tidak punya pilihan lain, atau bahkan kamu tidak tahu bahwa sebenarnya ada kopi yang lebih nikmat yang sebenarnya lebih sesuai dan memenuhi citarasa dan seleramu, namun kamu …pasrah.


Demikian pula kehidupanmu, kamu harus meracik sendiri, ketika gagal kamu coba lagi berkali-kali sampai menurutmu mencapai kehidupan yang “enak dan nikmat”. Atau kamu harus memilih kehidupan “yang tersedia”, atau kamu terima apa adanya kehidupan bagaimanapun yang terjalani…pasrah.


Begitulah…, filosofi "ngopi", seperti menjalani kehidupan ini.



B. Revolta
12 Desember 2015       

Jumat, 07 Agustus 2015

Pantai Bagedur Pada Suatu Hari



Seharian kemarin aku di pantai saja dengan maksud menenangkan pikiran. Bagedur nama pantai itu, terletak di pesisir Banten Selatan. Aku bagai menyaksikan  lukisan alam yang begitu dashyat indahnya. Pantai dengan hamparan pasir putih kecoklatan yang membentang luas mengeluarkan kilau bagaikan memantulkan serbuk berlian, langit yang biru tanpa batas dengan sedikit guratan putih awan, gulungan ombak laksana saling berlomba menuju pantai dan alunan debur ombak bagaikan musik latar yang tiada habisnya.
Aku pandangi arah lautan lepas sampai sejauh mana mataku mampu melihat, yang nampak dimataku adalah sebuah garis horizontal imaginer. Benakku bertanya, “ada apa dibalik garis garis lautan itu?, apakah ada kapal besar atau perahu nelayan yang kecil?”, “apakah nun jauh disana letak pulau Chrismast yang sudah masuk teritori Australia?”, “akan adakah ikan paus atau lumba-lumba yang tiba-tiba menyembul keluar?”.
Kemudian,…di dipan bambu saung itu aku rebahkan saja tubuhku sambil ku pandangi lautan sekalian langit birunya.” Ya ampun”,…kataku membatin, melihat lautan luas sekalian langit birunya dengan posisi rebah memberi sensasi yang berbeda dibanding dengan posisi kepala tegak. Seolah-olah pantai ini tidak hanya menjamah dalam bentuk keindahan visual yang diterima bola mata kemudian dicerna otak dalam bentuk keindahan logika semata, namun ketika memandang lautan lepas sambil merebahkan tubuh pantai ini bagaikan menjadi hidup, kemudian menyapa hati dan nurani. Bagaikan hanya ada aku yang sangat kecil seorang diri direngkuh oleh “Sesuatu” yang maha hebat dan megah, namun “Dia” begitu ramah dan begitu mistis. Aku tersenyum bahagia bagaikan baru pertama kali merasa hidup, hatiku bebas.     

Aku jadi teringat sahabatku, sahabat baikku yang sudah aku anggap abangku sendiri, namanya Lutvy. Aku berkata sendiri, “harusnya sekarang lo ada disini man”. Lutvy suatu hari mengatakan padaku dia menyaksikan indahnya pantai Bagedur ini  di sebuah siaran televisi, dia langsung jatuh cinta kepada pantai ini. Kemudian dia berkata kepadaku, “ajak gue kesana bro”.
Aku kemudian berpikir, kenapa tidak saat ini saja ku ajak Lutvy disini bersamaku di pantai ini menikmati suasana. Jangankan di pinggir pantai, kami jika sudah bersama bahkan di tepi sawah berlumpur pun bias menjadi tempat yang sangat menyenangkan dan ceria.

Sesaat kemudian Lutvy sudah duduk di dipan belakangku dengan posisi duduk, kedua kakinya dilipat ke dadanya, kedua tangannya posisi mengikat betis. Aku menyapanya, “my maann”. Tak lama kemudian kami bersulang whiski mansion, bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Kami terhanyut dalam derai tawa mentertawakan kisah-kisah konyol masa lalu yang telah kami lalui bersama, ada juga kisah-kisah yang kami banggakan. Kemudian Lutvy bangkit dari duduknya, dia berlari ke arah pantai sambil berteriak riang mengangkat kedua tangannya, menerjang ombak menceburkan diri ke laut dengan masih mengenakan pakaian dan sepatu lengkap. Aku tertawa melihat tingkahnya, “dasar gokil !”, kataku. Lutvy keluar dari air tertawa menyeringai, senang sekali dia nampaknya. Kemudian dia berjalan ke arahku, aku sudah hafal gelagatnya dia pasti berniat mengerjaiku menarik aku ke laut berbasahan. Aku bersiap lari.

Tapi Lutvy perlahan pudar dari pandanganku, kemudian aku tersadar dia sudah tiada. Dia telah dipanggil ke haribaan Tuhan 2 tahun yang lalu. Terpikir olehku jika ada kesempatan aku berziarah ke makamnya aku akan mengambil sedikit tanah kuburnya dan kemudian aku lempar ke pantai ini atau fotonya akan aku lemparkan ke laut pantai ini agar keinginannya melihat pantai Bagedur akhirnya kesampaian meski hanya diwakilkan tanah kuburnya atau fotonya.

Aku kembali ke dipan itu, rebahkan tubuh lagi. Suasana menjadi hening kembali yang terdengar hanya deburan ombak. Ku tarik panjang nafasku, kembali bersatu dengan alam pantai itu. Sampai aku terhenyak ketika seorang bapak tua memanggil-manggil aku tapi bukan dengan namaku.


Pantai Bagedur, Bansel, 7 Juli 2015.    








Kamis, 30 Juli 2015

Ke-GR-an Disamper Malaikat



Siang itu aku mengantar istri ke terminal bus, ia ada keperluan ke rumah orang-tuanya di kampung. Setelah memastikan dia menaiki bus sesuai tujuan aku tidak langsung pulang karena aku pikir tidak lama lagi akan masuk waktu dzuhur langsung saja aku mengarahkan langkahku menuju masjid terminal itu untuk melaksanakan sholat dzuhur.
Setelah berwudhu aku duduk bersimpuh pada pelataran masjid itu menunggu saat-saat azan yang kira-kira tinggal 2-3 menit lagi.
Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang sudah nampak tua menghampiriku, dia mengenakan celana bahan berwarna abu-abu, memakai batik yang warna coraknya mulai pudar dan lusuh, berkacamata tebal dan memakai kopiah dengan warna hitam yang sudah pudar pula.
“Darimana nak?”, tanyanya kepadaku kalimat pembuka basa-basinya. Ku jawab, “abis nganter istri pak”.

Kemudian dia bercerita bahwa ia berasal dari kota yang cukup jauh dari terminal kota ini bermaksud hendak menjemput istrinya dari ibu-kota namun sial sang istri terlanjur pulang terlebih dahulu dari si bapak itu, yang menjadi masalah adalah si bapak itu kehabisan ongkos untuk kembali pulang ke kotanya. Ia kemudian menanyakan kepadaku apakah kiranya aku dapat membantunya memberi ongkos pulang kepadanya barang Rp 15.000,- atau Rp 20.000. Tentu saja dengan senang hati aku ingin membantunya karena aku merasa kasihan kepada bapak itu. Aku pun memberinya Rp. 20.000, dia nampak senang sekali dan mengucapkan terimakasih kepadaku kemudian berlalu hendak mengambil wudhu katanya.

Akhirnya adzan dzuhur berkumandang, aku pun kemudian sholat berjamaah bersama orang yang hadir di masjid terminal itu. Selesai sholat aku teringat kembali kepada Bapak itu, aku berpikir karena ini bula Ramadhan boleh jadi bapak tadi merupakan jelmaan malaikat.

Seminggu kemudian aku kembali ke terminal itu, kali ini aku yang hendak bepergian ke luar kota. Lagi-lagi aku tiba di terminal itu menjelang dzuhur, aku pun bermaksud hendak sholat terlebih dahulu sebelum menaiki bus kota tujuanku.Waktu adzan masih kurang 15 menit lagi, aku duduk di pelataran masjid menunggu adzan. Beberapa saat kemudian masuklah ke pelataran masjid seorang bapak tua yang ciri-ciri fisiknya sama persis dengan yang bertemu dan meminta bantuanku seminggu yang lalu. Kali ini dia tidak melihatku. Aku perhatikan saja gerak-geriknya diam-diam. Dia menghampiri seorang pemuda yang duduk sendirian, akupun memasang kuping mendengar percakapan mereka berdua. Jarakku dengan mereka tidak terlalau jauh sehingga terdengar jelas percakapan mereka. Ajaib….., dialog bapak dengan pemuda itu kurang lebih sama persis dengan pengalamanku seminggu yang lalu, aku bagaikan mengalami dejavu. Aku gelengkan kepalaku sambil tersenyum kecut….ternyata.. 

Tidak lama kemudian aku melihat bapak itu beranjak pergi ke tempat wudhu, aku pun menghampiri pemuda yang barusan bercakap-cakap dengan bapak tadi untuk memastikan kecurigaanku. “Mas…maaf, abis ngobrol sama bapak-bapak tadi ya?”, tanyaku. “Iya”, jawabnya. Aku melanjutkan, “Apa dia bilang dari kota yang jauh datang ke terminal ini ingin menjemput istrinya yang datang dari ibu-kota tapi ketinggalan bus dan kemudian dia kehabisan ongkos untuk pulang kemudian ujung-ujungnya dia minta bantuan uang ke mas?”, “Iya”, jawabnya lagi. Aku tertawa, “itu modus mas”, kataku. Wajah pemuda itu nampak bingung. Aku jelaskan kepadanya bahwa seminggu yang lalu aku mengalami hal yang sama dengannya dengan bapak yang sama pula. “Mas ngasih berapa?”, tanyaku. “20 ribu”, jawabnya. “Hahaha…sama”, kataku lagi.

Seorang ibu-ibu yang sedari tadi mendengar obrolan kami menyela kemudian berkata bahwa sekitar 2 hari yang lalu bapak itu juga menghampiri seseorang dan berbuat hal yang sama persis. Aku tertawa kecut lagi, “nah mas…kita ga sendiri”, kataku sambil menepuk samping lengannya.
Pemuda itu tetap memasang tampang bingung dengan senyum yang canggung.    

..... Ini !
.... Revolta!
-30 Juli 2015
-        

Jumat, 24 Juli 2015

Tuhannya Beda

"Saya aja yang bakar ya paman tumpukan sampahnya", kata Iwo kepada pamannya. Sampah rumah-tangga dibelakang rumah paman Iwo nampak semakin menggunung apalagi seminggu yang lalu neneknya Iwo meninggal dunia karena usia yang sudah sangat sepuh, meninggalkan pula barang-barang tua dan usang yang disimpan begitu saja oleh si nenek di salah satu kamar rumah pamannya sampai saat-saat akhir hidupnya.
Setelah kamar itu dibersihkan ternyata banyak barang-barang yang tidak terpakai, termasuk kain-kain rombeng bekas nenek.

"Jangan", kata pamannya kepada Iwo. "Pamali, ada kain-kain bekas nenek. Tidak boleh membakar bekas pakaian orang yang sudah meninggal", sambungnya.
"Masa iya paman?, lah orang Cina malah dibakar sama jenazah-jenazahnya, orang Bali juga", bantah Iwo.
"Ya mereka kan agamanya lain, Tuhannya beda", timpal paman lagi.

"Tuhannya beda, ......TUHANNYA BEDA",..... kalimat itu terngiang di telinga Iwo, kemudian merasuk ke alam pikirnya. Bukankah sebagai Muslim (atau boleh jadi ajaran agama lain pula) kita bersaksi "Tiada Tuhan selain Allah"?, dan kita wajib menanamkan ke dalam akal-hati-jiwa bahwa Tuhan itu Ahad, Tuhan itu satu.
Iwo merenung dan merasa ada sebuah paradoks pemikiran, ....... bahwa kita wajib meyakini Tuhan itu Satu, tapi disatu sisi kita "meyakini" pula ada "beberapa tuhan", ada "tuhan yang lain", ada "tuhan yang beda".
Bahkan ada diantara kita yang saling menghujat bahkan saling berbunuh "membela tuhan masing-masing". 



Bobby Revolta, 24 Juli 2015

Selasa, 19 Mei 2015

THE FIGHTER



Ni film sebenernya udah aga lama dirilisnya yaitu taun 2010, tapi karena ga diputer di bioskop Indonesia gw coba review.

Dicky Ecklund dan Micky Ward adalah dua bersaudara, mereka adalah petinju profesional Amerika. Dicky sang kakak telah menjadi legenda karena menjatuhkan juara dunia Sugar Ray Leonard meskipun tetap dikalahkan karena keputusan wasit (Unanimous Decisions) pada pertarungan tinju di tahun 1978, namun setelah masa keemasannya telah habis Dicky menjadi seorang pecandu narkoba, pembuat onar dan sesekali berbuat kriminal.
Micky Ward sang adik saat itu adalah seorang petinju yang sedang menapaki karirnya, namun prestasinya kurang cemerlang.

Setelah Dicky pensiun dari dunia tinju profesional ia kemudian bertindak sebagai pelatih Micky. Namun demikian sebagai pelatih Dicky sangat tidak disiplin pada waktu karena dihabiskan bersama kawan-kawannya sesama pecandu menikmati narkoba. Masalah lain yang menghambat karir tinju Micky adalah tidak profesionalnya manajer Micky yaitu ibunya sendiri. Ibunya hanya mengejar bayaran bertinju, meskipun sang anak yakni Micky harus babak belur dihajar habis-habisan lawan tinjunya.


Disaat genting karir tinjunya Micky bertemu gadis pujaan hatinya yaitu Charlene Fleming. Menurut Charlene penyebab hancurnya karir tinju Micky adalah kakaknya dan ibunya sendiri atau secara formalnya adalah sebuah manajemen yang jauh dari profesional alias berantakan. Charlene menyarankan untuk mencari pelatih dan manajer yang lebih baik.
Micky pun mengikuti saran Charlene. Akhirnya kemenangan demi kemenangan diraih Micky.

Pada suatu pertarungan tinju yang menentukan Micky terpojok dan menjadi bulan-bulanan pukulan lawan. Semua strategi pelatihnya disisi ring tidak ampuh menghadapi gempuran lawan, hingga yang terlintas olehnya adalah ajaran-ajaran kakaknya ketika menjadi pelatihnya. Akhirnya Micky berhasil membalik keadaan, dia mempukul KO lawannya di ronde ke 8.
Micky menyadari bahwa ia masih membutuhkan keluarganya yang dia cinta, tapi ia tidak ingin kehilangan Charlene kekasihnya dan karirnya yang cemerlang bersama manajemen barunya. Bahwa ternyata yang Micky butuhkan adalah support dari semua yang disebut diatas.

Film apik ini temanya mirip film drama tinju pendahulunya yaitu Rocky Balboa, yang membedakan adalah film Fighter ceritanya begitu "membumi", seperti problematika keluarga, dilema harus memilih antara kekasih atau keluarga maupun masalah ketergantungan narkoba, karena memang film ini berdasarkan kisah asli perjalanan hidup dua petinju bersaudara Dicky Ecklund dengan nama panggilan di ring (nickname) The Pride of Lowell dan Micky Ward dengan nickname Irish yang berkarir sebagai petinju profesional asal Amerika di rentang tahun 1975 - 2003.
Faktor lain yang bikin film ini keren adalah Dicky Ecklund diperankan oleh Christian Bale yang menurut gw aktor "jaminan mutu" film-film maut alias keren. Layaklah film ini diganjar 2 piala Academy Awards untuk kategori Supporting Actor dan Supporting Actress.

"The Fighter", rilis 2010, distribusi by Paramount Pictures, Directed : David O. Rusell, Aktor/Aktris : Christian Bale, Mark Walhberg, Melissa Leo, Amy Adams.

Poin dari gw : 8.5 dari skala 10 !!

Quote keren dari film ini :
"YOU NEVER KNOW WHAT CAN HAPPEN, NEVER GIVE UP IN THIS GAME !"
-Micky Ward-



 

 

Senin, 20 April 2015

Jalan Setapak Seorang Ayah

Sore itu menjelang malam
Gelap mulai menerkam 

Seorang lelaki dewasa berjalan menyusur di sisi
Lewati satu rumah kosong, kemudian dua, tiga sampai rumah keempat
Semua rumah gelap dan mati

Beberapa saat lalu baru saja ia lewati sebuah rumah bersalin
Disanalah terlahir anaknya yang terharap seorang lelaki

Ketika sang bayi terlahir lelaki itu menangis meraung-raung
Tak satu orang pun dapat menghentikannya dari isak sesalnya
Anaknya terlahir namun telah membiru tanpa nyawa

Kembali, ia lanjutkan saja langkahnya hingga melewati surau
Ada ia rasakan bisikan dalam kalbu
"yah...sholat ayah, sholat ayah, Doakanlah aku"

Yakin lelaki itu, jiwa halus anaknyalah yang meminta
Kemudian berhenti ia di muka surau, berkata 
"iya nak, ayah segera sholat" 
Lalu tak terasa pipinya hangat oleh air mata


Serang, 20 April 2015
to my beloved son
MICKA REVOLTA