Apakah anda merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang anda jalani atau yang terpikir akan anda jalani?, jika jawabannya ya maka pergilah mengarungi planet bumi yang luas ini, temuilah beberapa komunitas masyarakat dan bergaulah dengan bermacam karakter manusia kemudian menyatulah dengan alam bebas. Namun janganlah diartikan anda lari dari kenyataan, jadikan kepergian anda sebagai arena perenungan dan sebuah usaha untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan hidup.
Itulah pesan yang saya dapat dari film INTO THE WILD. Adalah sebuah film yang mengadopsi perjalanan hidup Christopher Johnson McCandless (12 Februari 1968 – 18 Agustus 1992), seorang pemuda dari keluarga kelas menengah di Amerika yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMU dengan nilai yang sangat baik dan memiliki kesempatan yang terbuka luas untuk melanjutkan studinya ke Jurusan Hukum Universitas Harvard.
Namun alih-alih melanjutkan studi dan menjalani kehidupan penuh ceria dan hura-hura seperti kebanyakan remaja Amerika seusianya, dia malah memilih pergi ke “alam bebas(Into The Wild) ” untuk mencari kebahagiaan hidup yang hakiki.
Terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang secara ekonomi tercukupi, sebuah keluarga yang nampak sempurna ini ternyata menyimpan percikan-percikan ketidak harmonisan diantara Ayah dan Ibu Christopher. Suatu ketika digambarkan kedua orang tuanya bertengkar hebat di depan mata Christopher dan adik perempuannya.
Namun demikian memiliki orang tua yang berlatar belakang pendidikan tinggi maka bisa berarti pula terjaminnya fasilitas mengembangkan intelektualitas seorang Christopher. Christopher terbiasa dan gemar membaca literatur-literatur filsafat dan cerita-cerita roman dari penulis besar, salah satu buku yang sangat mempengaruhi alam pikirnya adalah karya Leo Tolstoy yang berjudul Happy Family.
Kemudian, hari yang selama ini dia idamkan tiba, hari dia memulai “petualangannya”. Dengan berbekal tas ransel besar yang hanya berisi pakaian, matras tidur, buku-buku favoritnya (termasuk buku Leo Tolstoy tadi) dan buku catatan yang akan merekam semua pengalaman dalam perjalannya. Hebatnya dia tidak membawa sepeser uang pun sebagai bekal, bahkan beberapa lembar uang terakhir yang ada dalam sakunya dia bakar.
Dia memulai perjalanannya dari wilayah gurun di Texas, kemudian perbatasan Mexico sampai tujuan akhir yang menurutnya disanalah dia baru akan memulai petualangannya ; wilayah hutan dingin bersalju….Alaska, yang berarti perjalannya tersebut dari wilayah paling selatan USA sampai wilayah utara USA. Dalam perjalan inilah dia menyatu dengan alam dan menemui berbagai macam karakter manusia yang semua itu dia anggap menjadi “guru kehidupan”. Uniknya, selama petualangannya dia mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp.
Seting film ini adalah tahun 1990-an, ketika Presiden Amerika pada saat itu George Bush senior sedang melancarkan Perang Teluk, yang berakibat resesi dalam negri di Amerika, mengakibatkan banyak anak muda frustasi akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, hal mana boleh jadi juga menjadi kegalauan seorang Christopher.
Suatu ketika dalam persinggahannya, dia berdialog dengan seseorang di sebuah bar, orang itu bertanya; “Apa yang sedang kamu lakukan ini?(melakukan petualangan)”, dia menjawab ; “Kamu hanya “hidup”, Ini adalah tentang kau keluar dari masyarakat yang sakit (sick society), karena yang aku tidak mengerti, kenapa setiap orang melakukan hal buruk satu sama lain. Bagiku itu tidak masuk akal. Kemudian atas semua penilaian-penilaian, cara pandang, kendali dari para orang tua, manusia-manusia hipokrit dan politisi-politisi”.
Dari sisi sebuah perjalanan hidup, memang kisah hidup Christopher getir, karena digambarkan kedua orang-tuanya mengerahkan segala upaya untuk mencari keberadaan anaknya Christopher, dan senantiasa merindukan kembalinya Christopher ditengah keluarga. Nasib Christopher pun berakhir tragis, karenakan minimnya pengalaman bertahan hidup di alam bebas (jungle survival) dia terjebak tidak dapat kembali pulang, dan salah memakan tumbuhan hutan yang ternyata beracun.
Namun demikian dari sisi filosofis, Christopher menemukan yang selama ini dia cari, paling tidak kesan itulah yang tersirat dalam guratan terakhirnya di lembar halaman buku Happy Family-nya Leo Tolstoy, yang mungkin sebuah pesan bagi mereka yang membacanya ;
“HAPPINES ONLY REAL WHEN SHARED”.
Jenasah Christopher ditemukan oleh pemburu rusa, dengan perkiraan telah 2 minggu sejak nafas terakhirnya, dia meninggal pada usia 24 tahun.
Sebuah film yang sangat apik dan menginspirasi. Diproduksi tahun 2007, disutradarai oleh Sean Pean, karakter Christopher diperankan oleh aktor muda berbakat Emile Hirsch.
Di film ini selain mata dimanjakan oleh keindahan alam Amerika, telingan pun dimanjakan oleh musik soundtrack yang sebagian besar diisi oleh lagu-lagu bernuansa balada dan folk yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder frontman dari Pearl Jam.
