Tampilkan postingan dengan label Review Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2015

THE FIGHTER



Ni film sebenernya udah aga lama dirilisnya yaitu taun 2010, tapi karena ga diputer di bioskop Indonesia gw coba review.

Dicky Ecklund dan Micky Ward adalah dua bersaudara, mereka adalah petinju profesional Amerika. Dicky sang kakak telah menjadi legenda karena menjatuhkan juara dunia Sugar Ray Leonard meskipun tetap dikalahkan karena keputusan wasit (Unanimous Decisions) pada pertarungan tinju di tahun 1978, namun setelah masa keemasannya telah habis Dicky menjadi seorang pecandu narkoba, pembuat onar dan sesekali berbuat kriminal.
Micky Ward sang adik saat itu adalah seorang petinju yang sedang menapaki karirnya, namun prestasinya kurang cemerlang.

Setelah Dicky pensiun dari dunia tinju profesional ia kemudian bertindak sebagai pelatih Micky. Namun demikian sebagai pelatih Dicky sangat tidak disiplin pada waktu karena dihabiskan bersama kawan-kawannya sesama pecandu menikmati narkoba. Masalah lain yang menghambat karir tinju Micky adalah tidak profesionalnya manajer Micky yaitu ibunya sendiri. Ibunya hanya mengejar bayaran bertinju, meskipun sang anak yakni Micky harus babak belur dihajar habis-habisan lawan tinjunya.


Disaat genting karir tinjunya Micky bertemu gadis pujaan hatinya yaitu Charlene Fleming. Menurut Charlene penyebab hancurnya karir tinju Micky adalah kakaknya dan ibunya sendiri atau secara formalnya adalah sebuah manajemen yang jauh dari profesional alias berantakan. Charlene menyarankan untuk mencari pelatih dan manajer yang lebih baik.
Micky pun mengikuti saran Charlene. Akhirnya kemenangan demi kemenangan diraih Micky.

Pada suatu pertarungan tinju yang menentukan Micky terpojok dan menjadi bulan-bulanan pukulan lawan. Semua strategi pelatihnya disisi ring tidak ampuh menghadapi gempuran lawan, hingga yang terlintas olehnya adalah ajaran-ajaran kakaknya ketika menjadi pelatihnya. Akhirnya Micky berhasil membalik keadaan, dia mempukul KO lawannya di ronde ke 8.
Micky menyadari bahwa ia masih membutuhkan keluarganya yang dia cinta, tapi ia tidak ingin kehilangan Charlene kekasihnya dan karirnya yang cemerlang bersama manajemen barunya. Bahwa ternyata yang Micky butuhkan adalah support dari semua yang disebut diatas.

Film apik ini temanya mirip film drama tinju pendahulunya yaitu Rocky Balboa, yang membedakan adalah film Fighter ceritanya begitu "membumi", seperti problematika keluarga, dilema harus memilih antara kekasih atau keluarga maupun masalah ketergantungan narkoba, karena memang film ini berdasarkan kisah asli perjalanan hidup dua petinju bersaudara Dicky Ecklund dengan nama panggilan di ring (nickname) The Pride of Lowell dan Micky Ward dengan nickname Irish yang berkarir sebagai petinju profesional asal Amerika di rentang tahun 1975 - 2003.
Faktor lain yang bikin film ini keren adalah Dicky Ecklund diperankan oleh Christian Bale yang menurut gw aktor "jaminan mutu" film-film maut alias keren. Layaklah film ini diganjar 2 piala Academy Awards untuk kategori Supporting Actor dan Supporting Actress.

"The Fighter", rilis 2010, distribusi by Paramount Pictures, Directed : David O. Rusell, Aktor/Aktris : Christian Bale, Mark Walhberg, Melissa Leo, Amy Adams.

Poin dari gw : 8.5 dari skala 10 !!

Quote keren dari film ini :
"YOU NEVER KNOW WHAT CAN HAPPEN, NEVER GIVE UP IN THIS GAME !"
-Micky Ward-



 

 

Senin, 04 April 2011

INTO THE WILD

Apakah anda merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang anda jalani atau yang terpikir akan anda jalani?, jika jawabannya ya maka pergilah mengarungi planet bumi yang luas ini, temuilah beberapa komunitas masyarakat dan bergaulah dengan bermacam karakter manusia kemudian menyatulah dengan alam bebas. Namun janganlah  diartikan anda lari dari kenyataan, jadikan kepergian anda sebagai arena perenungan dan sebuah usaha untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan hidup.

Itulah pesan yang saya dapat dari film INTO THE WILD. Adalah sebuah film yang mengadopsi perjalanan hidup Christopher Johnson McCandless (12 Februari 1968 – 18 Agustus 1992), seorang pemuda dari keluarga kelas menengah di Amerika yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMU dengan nilai yang sangat baik dan memiliki kesempatan yang terbuka luas untuk melanjutkan studinya ke Jurusan Hukum Universitas Harvard.
Namun alih-alih melanjutkan studi dan menjalani kehidupan penuh ceria dan hura-hura seperti kebanyakan remaja Amerika seusianya, dia malah memilih pergi ke “alam bebas(Into The Wild) ” untuk mencari kebahagiaan hidup yang hakiki.
Terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang secara ekonomi tercukupi, sebuah keluarga yang nampak sempurna ini ternyata menyimpan percikan-percikan ketidak harmonisan diantara Ayah dan Ibu Christopher. Suatu ketika digambarkan kedua orang tuanya bertengkar hebat di depan mata Christopher dan adik perempuannya.
Namun demikian memiliki orang tua yang berlatar belakang pendidikan tinggi maka bisa berarti pula terjaminnya fasilitas mengembangkan intelektualitas seorang Christopher. Christopher terbiasa dan gemar membaca literatur-literatur filsafat dan cerita-cerita roman dari penulis besar, salah satu buku yang sangat mempengaruhi alam pikirnya adalah karya Leo Tolstoy yang berjudul Happy Family.

Kemudian, hari yang selama ini dia idamkan tiba, hari dia memulai “petualangannya”. Dengan berbekal tas ransel besar yang hanya berisi pakaian, matras tidur, buku-buku favoritnya (termasuk buku Leo Tolstoy tadi) dan buku catatan yang akan merekam semua pengalaman dalam perjalannya. Hebatnya dia tidak membawa sepeser uang pun sebagai bekal, bahkan beberapa lembar uang terakhir yang ada dalam sakunya dia bakar.
Dia memulai perjalanannya dari wilayah gurun di Texas, kemudian perbatasan Mexico sampai tujuan akhir yang menurutnya disanalah dia baru akan memulai petualangannya ; wilayah hutan dingin bersalju….Alaska, yang berarti perjalannya tersebut dari wilayah paling selatan USA sampai wilayah utara USA. Dalam perjalan inilah dia menyatu dengan alam dan menemui berbagai macam karakter manusia yang semua itu dia anggap menjadi “guru kehidupan”. Uniknya, selama petualangannya dia mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp.

Seting film ini adalah tahun 1990-an, ketika Presiden Amerika pada saat itu George Bush senior sedang melancarkan Perang Teluk, yang berakibat resesi dalam negri di Amerika, mengakibatkan banyak anak muda frustasi akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, hal mana boleh jadi juga menjadi kegalauan seorang Christopher.    
Suatu ketika dalam persinggahannya, dia berdialog dengan seseorang di sebuah bar, orang itu bertanya; “Apa yang sedang kamu lakukan ini?(melakukan petualangan)”, dia menjawab ; “Kamu hanya “hidup”, Ini adalah tentang kau keluar dari masyarakat yang sakit (sick society), karena yang aku tidak mengerti, kenapa setiap orang melakukan hal buruk satu sama lain. Bagiku itu tidak masuk akal. Kemudian atas semua penilaian-penilaian, cara pandang, kendali dari para orang tua, manusia-manusia hipokrit dan politisi-politisi”.

Dari sisi sebuah perjalanan hidup, memang kisah hidup Christopher getir, karena digambarkan kedua orang-tuanya mengerahkan segala upaya untuk mencari keberadaan anaknya Christopher, dan senantiasa merindukan kembalinya Christopher ditengah keluarga. Nasib Christopher pun berakhir tragis, karenakan minimnya pengalaman bertahan hidup di alam bebas (jungle survival) dia terjebak tidak dapat kembali pulang, dan salah memakan tumbuhan hutan yang ternyata beracun.
Namun demikian dari sisi filosofis, Christopher menemukan yang selama ini dia cari, paling tidak kesan itulah yang tersirat dalam guratan terakhirnya di lembar halaman buku Happy Family-nya Leo Tolstoy, yang mungkin sebuah pesan bagi mereka yang membacanya ;
“HAPPINES ONLY REAL WHEN SHARED”.
 Jenasah Christopher ditemukan oleh pemburu rusa, dengan perkiraan telah 2 minggu sejak nafas terakhirnya, dia meninggal pada usia 24 tahun.

Sebuah film yang sangat apik dan menginspirasi. Diproduksi tahun 2007, disutradarai oleh Sean Pean, karakter Christopher diperankan oleh aktor muda berbakat Emile Hirsch.
Di film ini selain mata dimanjakan oleh keindahan alam Amerika, telingan pun dimanjakan oleh musik soundtrack yang sebagian besar diisi oleh lagu-lagu bernuansa balada dan folk yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder frontman dari Pearl Jam.           

Jumat, 09 April 2010

THE GUERILLA (Che Guevara, part 2)


“Revolusi” tidak semudah mengucapkannya…..

Paling tidak itulah kesan yang terbesit di hati saya setelah menyaksikan film “Che-part 2, the Guerrilla”, disutradarai oleh Steven Soderbergh dan karakter Che Guevara diperankan oleh Benicio del Torro (yang juga sebagai produser film ini), produksi tahun 2008. Film yang membutuhkan analisa bagi del Torro untuk memahami karakter serta prinsip-prinsip seorang Che Guevara selama 7 tahun, dan untuk napak tilas gerilyawan di hutan Bolivia selama 3 tahun.
Film ini merupakan upaya Steven Soderbergh dan Benicio del Torro menterjemahkan diari Che yang kemudian menjadi sebuah buku yaitu “Bolivian Diary” atau versi Indonesianya “Hari-hari terakhir Che Guevara”, sebuah catatan harian Che Guevara ketika menjalani hari-harinya kembali menjadi seorang gerilyawan membantu para pemberontak di Bolivia, rentang tahun 1967.
Film berbahasa Latin ini mengantarkan Benicio del Torro menerima penghargaan aktor terbaik di Festival Film Canes Perancis tahun 2008, sebuah perhelatan penghargaan untuk film-film kategori “idealis”.

Sebuah pilihan hidup yang teramat sangat sedikit manusia memilihnya, menjadi seorang Revolusioner. Seseorang yang memilih melawan penguasa penindas, kapitalisme dan imprelisme dengan mengangkat senjata dimanapun penindasan, praktek kapitalisme dan imprealisme berlangsung. Seorang yang konsisten menerapkan gerakan “Internasionalisme” dari Manifesto Komunis.

Digambarkan seorang Che setelah keberhasilan menumbangkan penguasa diktaktor Kuba Fulgencio Batista pada tahun 1956 bersama sahabatnya Fidel Castro, kemudian membentuk pemerintahan revolusioner dan Che duduk di jabatan formal Pemerintah sebagai seorang Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional Kuba.
Dan dalam kehidupan pribadi memiliki sebuah keluarga yang ideal, dia meninggalkan semua itu dan memilih bergerilya di hutan.

Keseharian gerilyawan Bolivia dalam perjuangan mereka digambarkan cukup mendekati sebagaimana “Bolivian Diary”, keberhasilan menghadang patroli tentara Pemerintah Bolivia, mendekatkan diri kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, perkelahian antar sesama gerilyawan, ketidakdisiplinan beberapa gerilyawan dengan membuka logistik minuman tanpa seijin komandan pasukan, seragam lapangan gerilyawan yang mulai compang-camping, penampilan mereka yang mulai lusuh dan dekil karena terlalu lama di hutan, moral beberapa gerilyawan yang mulai menurun karena melihat kawan mereka tewas akibat kontak senjata dengan tentara Pemerintah Bolivia dan mendengar kabar di radio bahwa kawan mereka di sektor lain tewas semua karena penyergapan oleh tentara Pemerintah Bolivia.

Klimaksnya, tertangkapnya Che Guevara pada tanggal 8 Oktober 1967 karena pasukan gerilya Che yang jumlahnya tinggal belasan orang saja dikepung oleh tentara Pemerintah Bolivia dibantu CIA yang jumlahnya ratusan. Hingga Che Guevara dieksekusi mati di sebuah ruangan pada tanggal 9 Oktober 1967.
Sebelum dieksekusi dengan cara ditembak, Che berkata kepada calon eksekutornya, yang dalam bahasa Indonesianya ; “ayo tembak pengecut, kamu hanya akan membunuh seorang manusia !”

“Revolusi” memang tidak semudah mengucapkannya, sebagaimana Che Guevara pernah berkata …..
“In a revolution, one triumphs or dies”