Jumat, 09 April 2010

THE GUERILLA (Che Guevara, part 2)


“Revolusi” tidak semudah mengucapkannya…..

Paling tidak itulah kesan yang terbesit di hati saya setelah menyaksikan film “Che-part 2, the Guerrilla”, disutradarai oleh Steven Soderbergh dan karakter Che Guevara diperankan oleh Benicio del Torro (yang juga sebagai produser film ini), produksi tahun 2008. Film yang membutuhkan analisa bagi del Torro untuk memahami karakter serta prinsip-prinsip seorang Che Guevara selama 7 tahun, dan untuk napak tilas gerilyawan di hutan Bolivia selama 3 tahun.
Film ini merupakan upaya Steven Soderbergh dan Benicio del Torro menterjemahkan diari Che yang kemudian menjadi sebuah buku yaitu “Bolivian Diary” atau versi Indonesianya “Hari-hari terakhir Che Guevara”, sebuah catatan harian Che Guevara ketika menjalani hari-harinya kembali menjadi seorang gerilyawan membantu para pemberontak di Bolivia, rentang tahun 1967.
Film berbahasa Latin ini mengantarkan Benicio del Torro menerima penghargaan aktor terbaik di Festival Film Canes Perancis tahun 2008, sebuah perhelatan penghargaan untuk film-film kategori “idealis”.

Sebuah pilihan hidup yang teramat sangat sedikit manusia memilihnya, menjadi seorang Revolusioner. Seseorang yang memilih melawan penguasa penindas, kapitalisme dan imprelisme dengan mengangkat senjata dimanapun penindasan, praktek kapitalisme dan imprealisme berlangsung. Seorang yang konsisten menerapkan gerakan “Internasionalisme” dari Manifesto Komunis.

Digambarkan seorang Che setelah keberhasilan menumbangkan penguasa diktaktor Kuba Fulgencio Batista pada tahun 1956 bersama sahabatnya Fidel Castro, kemudian membentuk pemerintahan revolusioner dan Che duduk di jabatan formal Pemerintah sebagai seorang Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional Kuba.
Dan dalam kehidupan pribadi memiliki sebuah keluarga yang ideal, dia meninggalkan semua itu dan memilih bergerilya di hutan.

Keseharian gerilyawan Bolivia dalam perjuangan mereka digambarkan cukup mendekati sebagaimana “Bolivian Diary”, keberhasilan menghadang patroli tentara Pemerintah Bolivia, mendekatkan diri kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, perkelahian antar sesama gerilyawan, ketidakdisiplinan beberapa gerilyawan dengan membuka logistik minuman tanpa seijin komandan pasukan, seragam lapangan gerilyawan yang mulai compang-camping, penampilan mereka yang mulai lusuh dan dekil karena terlalu lama di hutan, moral beberapa gerilyawan yang mulai menurun karena melihat kawan mereka tewas akibat kontak senjata dengan tentara Pemerintah Bolivia dan mendengar kabar di radio bahwa kawan mereka di sektor lain tewas semua karena penyergapan oleh tentara Pemerintah Bolivia.

Klimaksnya, tertangkapnya Che Guevara pada tanggal 8 Oktober 1967 karena pasukan gerilya Che yang jumlahnya tinggal belasan orang saja dikepung oleh tentara Pemerintah Bolivia dibantu CIA yang jumlahnya ratusan. Hingga Che Guevara dieksekusi mati di sebuah ruangan pada tanggal 9 Oktober 1967.
Sebelum dieksekusi dengan cara ditembak, Che berkata kepada calon eksekutornya, yang dalam bahasa Indonesianya ; “ayo tembak pengecut, kamu hanya akan membunuh seorang manusia !”

“Revolusi” memang tidak semudah mengucapkannya, sebagaimana Che Guevara pernah berkata …..
“In a revolution, one triumphs or dies”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar