Rabu, 07 April 2010

"AnaRcHist CoOK BooK"; versi gw !!


Buat temen2 yang hari ini 9 Desember 2009, turun ke jalan memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, saya ucapkan selamat berdemonstrasi.
Memang korupsi itu bagai virus maut bagi kehidupan berbangsa & bernegara. Uang negara yang harusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat banyak, malahan dimakan/dinikmati sekelompok manusia yang sedang memegang kekuasaan formal negara, baik di tingkat kekuasaan eksekutif, legislatif & yudikatif.
Jelas ini (harus) di-berantas ! (words by Iwan Fals).
Tapi jangan lupa juga kalo besok, 10 Desember 2009 adalah peringatan 61 tahun Deklarasi Hak Asasi Manusia Sedunia. Ingat juga…, selama kasus Munir yang “mati di udara” (words by Efek Rumah Kaca) tidak ada kejelasan siapa dalangnya, selama penegakan hukum yang tegas cuman buat orang miskin dan kaum marginal dsb masih terjadi saat ini, selama kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih jadi kabut gelap, berarti penegakan HAM di sini belum/tidak tuntas, dan harus terus diperjuangkan.

Tentu saja dalam suatu “aksi” demonstrasi kita semua tidak menginginkan keadaan clash yang bisa menjadi chaos, namun terkadang di jalanan semua dapat terjadi termasuk keadaan clash tadi dalam arti pertempuran jalanan Aparat vs Demonstran.
Ini sedikit tips dari saya :

1. Sebisa mungkin hindari clash. Biasanya ada provokator, kalo ada indikasi tsb, amankan provokator itu.

2. Kalo clash tidak terhindar :
- Jangan panik berlebihan, hanya ada satu kata : “LAWAN !”
- Segera bawa demonstran perempuan ke tempat aman.
- Untuk meredam efek gas air mata, oleskan odol disekitar mata dengan volume proposional.
- Sebaiknya hindari semburan “water canon”, karena biasanya air dalam water canon sudah dicampur zat tertentu yang membuat gatal kulit.
- Tabung gas air mata yang baru terlontar, masih bisa dilempar balik ke arah aparat secepatnya sebelum menyemburkan lebih banyak gas putih. Sebaiknya memakai sarung tangan atau apapun yang dapat melindungi telapak tangan, karena tabung tersebut lumayan panas.
- Hindari jenis gas air mata dalam bentuk lebih kecil dari tabung. Kira2 bentuknya seperti swastika dan tiap lontaran mengeluarkan bunyi seperti gasing. Jenis gas air mata ini efek lebih perih ke mata dan panas ke kulit. Penanganan meredamnya seperti saya utarakan diatas, dengan odol dan dibasuh dengan air bersih sebanyak-banyaknya.
- Pertempuran jalanan sebenarnya tidak berimbang. Aparat memakai senjata standar penghalau demonstran yaitu senjata dengan peluru karet. Untuk menghindari terkena tembakan peluru karet, jangan bergerombol karena akan memudahkan bidikan. Percayalah, terkena peluru karet cukup sakit, apalagi terkena mata, berbahaya.
- Untuk menghindari dugaan clash telah direncanakan dan aksi demonstrasi dianggap “tidak murni”, sebisa mungkin jangan menggunakan Bom Molotov. Batu2 conblok untuk trotoar bisa dicabut dan digunakan sebagai “senjata”.
- Membakar ban bekas yang menimbulkan asap hitam cukup menyulitkan pandangan aparat. Ingat; hanya ban bekas ! bukan mobil, gedung, rumah atau apapun selain ban.
- Apabila clash berlangsung cukup “fair”, dalam arti aparat tidak menggunakan bom gas air mata, senjata peluru karet dan water canon, maka rapatkan barisan dan hadapi dengan “satu komando-satu perjuangan”. Kayu/bambu sudah cukup menjadi “senjata”.
- Politik jaman penjajah Belanda dulu yaitu “Devide et Impera” terkadang, bahkan saat ini sering diterapkan oleh Aparat. Organisasi2 Masyarakat tertentu seolah2 “mendukung” aparat. Mereka diarahkan untuk berhadapan dengan demonstran oleh aparat. Indikasi ini mulai muncul di tahun 1999-2000 dengan “dibentuknya” PAM-SWAKARSA atau RATIH (Rakyat Terlatih).
Menurut saya, jika saat demonstrasi berhadapan dengan mereka sebaiknya gunakan pendekatan persuasif atau menghindari tantangan fisik mereka. Karena jika clash dengan mereka justru keadaan tersebut yang dikehendaki oleh aparat.
Cari jalan/arah lain menuju titik tujuan “aksi” demonstrasi.
- Apabila karena keadaan yang “tidak berimbang” sebagaimana saya utarakan diatas terjadi, posisi demonstran terdesak maka berhadapan secara frontal dengan aparat adalah konyol. Daerah sekitar “sasaran” demonstrasi seperti gedung MPR, Semanggi, Bundaran HI dan Istana Negara dikelilingi pemukiman padat penduduk dan banyak “jalan tikus” berupa gang. Segeralah mengamankan diri ke tempat2 yang saya maksud itu.
- Setel lagu sebagai soundtrack supaya semangat : “Street Fighting Men”, lagunya Rolling Stone tapi versi Rage Against the Machine & “Demonstran”, lagu dari sebuah band Indie scene grunge dari Jakarta bernama “the Bolong”.(yang satu ini optional)

*dipublish pertama kali: 9 Desember 2009, bertepatan "hari anti korupsi sedunia"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar