Dengan tergopoh-gopoh gw segera berlari ke kereta yang udah ada di depan mata, padahal gw baru aja beli tiket di loket. Tiga hari terakhir kereta listrik yang biasa gw naikin selalu terlambat dari jadwal, dan itu bikin gw terlambat tiba di tempat gawe/kerja (kata bang Iwan Fals, “itu cerita lama”), makanya tanpa peduli gw naikin aja kereta itu.
Sungguh sesak dan minim cahaya di dalam kereta yang gw naikin, heran gw..., tapi segera gw sadar bahwa ternyata nih kereta emang ga bejendela. Pencahayaan dan udara yang masuk cuman dari pintu dengan lebar seukuran dua orang dewasa berdiri jajar.
Ini pasti “odong-odong” kata gw dalam hati. Ya..itulah sebutan kereta rangkaian diesel (KRD) yang oleh para pengguna jasa transportasi kereta jabodetabek. Entah siapa yang pertama kali menamakan itu. Setahu gw sejak gw kuliah, nama kereta diesel itu sudah disebut “odong-odong”. Odong-odong diberangkatan dari Cikampek, sebuah kota setingkat kabupaten (kalo ga salah) yang jaraknya dari Jakarta sekitar……berapa gw juga ga tau pasti, tapi kalo diperkirakan berdasarkan kota-kota singgahan, adalah seperti demikian; ….dari Jakarta terus Bekasi, terus Tambun, terus Cikarang, terus Cibitung, terus Krawang, baru deh …Cikampek (nah…silahkan temen2 mengira2).
Sementara itu bulir-bulir keringat mulai keluar dari pori-pori tangan, sebuah indikator bahwa atmosfir didalam kereta sangat tidak nyaman karena keringat keluar tidak hanya dari badan. Di pojok kanan dari posisi gw tampak beberapa laki-laki bercakap seperti tidak mempedulikan situasi sekeliling. “La iya’, lah…kata mobil polisi ada kaya kawatnya ya’…lah susah…”, kata seorang dari mereka. Seorang lagi menyahut, “lah….dimana-mana namanya udah megang botol…gimana sih…”. Dengan logat betawi pinggiran, entah apa yang mereka diskusikan, renyah sekali nampaknya.
Di setiap stasiun, maka kereta berhenti untuk mengangkut penumpang. Gerbong gw seperti sudah berjejal namun tetep aja ada penumpang baru yang masuk. Setiap ada penumpang baru, terdengar terikan, BONGKAR !!...BONGKAR !! (gw lagi2 jadi teringat lagu bang Iwan Fals ketika berkolaborasi dengan mas Sawung Jabo di Swami, ungkapan “BONGKAR !!” seperti jadi anthem kaum tertindas marginal yang ditujukan untuk penguasa sewenang-wenang). Sementara gw udah bener-bener kejepit, badan ga bergerak bahkan sekedar benerin posisi kaki. Beruntung masih bisa menggerakkan dada untuk mengambil oksigen yang mulai menipis (hiperbola beuds).
Melalui celah tubuh para penumpang yang berjejal mata gw beradu dengan sepasang mata yang sedang natap gw, sepasang mata yang ternyata dimiliki oleh seorang gadis yang manis, dengan rambut tergerai panjang, dia tersenyum ke arah gw, tentu saja gw balas senyumannya.
Gw membatin, “ada juga makhluk manis dalam gerbong terkutuk ini”. Namun sial sungguh sial, jangankan untuk sekedar menyapanya untuk mendekatinya saja suatu hal yang tidak mungkin. Tiba-tiba sekonyong-konyong terdengar batuk yang lebih mirip gonggongan anjing keluar dari mulut seorang anak laki seumuran sekolah menengah pertama. Dari bunyi batuknya seperti dia sangat menderita. Seorang bapak dibelakang gw nyeletuk, “emang kalo naek di gerbong sapi, pasti yang punya bengek kumat”.
Apa gw ga salah denger?, bapak tadi bilang kalo gerbong ini adalah gerbong sapi. Apakah itu hanya ungkapan analogi ketus nan pasrah, atau emang bener-bener gerbong yang diperuntukkan sapi?. Gw coba perhatiian lagi keadaan gerbong....ternyata emang lebih mirip kandang. Sebuah sintesa darurat keluar dari otak gw, “ah...paling ga kalau pun gerbong ini sebenernya diperuntukkan untuk sapi, toh ga kecium sama gw bau sapi atau tai sapi (sory cs) sedari awal gw naik”. Hanya aja emang gw mencium bau beras bercampur bau ketiak!!.
Semakin deket stasiun Jatinegara berarti sebentar lagi gw sampe di stasiun tujuan akhir gw. Dengan sedikit perjuangan gw berhasil menggerakkan tubuh gw sampe dekat pintu keluar gerbong. Gw nengokin kepala keluar, ga sengaja ngeliat spanduk yang terpasang di jembatan dekat rel. Spanduk bergambar seorang (yang mengangap dirinya) Tokoh Reformasi (dasar narsis!!) bertuliskan : “Tuntaskan Reformasi !!”. Pengen gw maki-maki tuh orang; “siapa lo ??!!, dasar oportunis !!”.
Tersadar kemudian, “odong-odong” dengan gerbong sapi-nya sudah tiba di stasiun Jatinegara. Gw bergegas turun sambil nyeka kringet.
Kebetulan pula sebuah toko menyetel radio yang memainkan lagu “Juwita Malam” ciptaan Ismail Marzuki versi Slank.
“kereta kita….segera tiba…
di Jatinegara kita kan berpisah…
berilah nama.., alamat serta..
esok lusa boleh kita jumpa pula.....”
-bobby revolta, 24 Agustus 2007-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar