Tampilkan postingan dengan label Sastra Petir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Petir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Sehari Bersama Max Havelaar

Antara 2 hari di akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu, aku lebih suka hari Sabtu. Sabtu adalah hari libur yang lepas dari memikirkan esok harinya. Beda hal dengan hari Minggu yang meski hari libur namun ada perasaan gundah, karena esok harinya Senin harus kembali beraktivitas ke kantor bagi si karyawan, atau ke sekolah bagi si pelajar. Sabtu pekan ini aku mengajak beranjangsana istri serta anak-anakku ke pantai Goa Langir yang terletak di Lebak, Banten Selatan, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Bayah. 

Mendengar nama Bayah terlintaslah dalam pikiranku satu nama dari seseorang di zaman dahulu kala, orang itu bernama Tan Malaka. Bisa dibilang ia pelopor awal kemerdekaan Indonesia. Di tahun 1921 dia menuangkan pemikiran dalam sebuah tulisan yang diberi judul “Naar Republik Indonesia”, yang berarti Negara Republik Indonesia. Jauh sebelum Proklamasi kemerdekaan tahun 1945 dia sudah memikirkan konsep bentuk Indonesia kelak, maka tak salah jika ada yang menganggapnya Bapak Republik Indonesia. 

Tan Malaka pernah singgah di Bayah dengan nama samaran Ilyas Hussein. Dia menyamar menjadi pekerja kasar di lokasi penambangan batu-bara, setelah bertahun-tahun melanglang-buana ke berbagai negara asing. Di tahun 40an sesaat sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, suatu malam dia bertamu ke rumah K.H Wahid Hasyim di Jakarta, yang tak lain ayah dari Abdurahman Wahid atau yang kita kenal sebagai Gus Dur. Antara K.H Wahid Hasyim dengan Tan Malaka memang sudah terjalin persahabatan, maksud kedatangannya selain berdiskusi soal bangsa, Tan Malaka mengatasnamakan Pemuda Bayah juga menyatakan dukungannya atas rencana Proklamasi kemerdekaan Indonesia agar dilaksanakan sesegera mungkin.

Bayah adalah kota kecil yang menghadap langsung dengan Samudera Indonesia di pesisir selatan Pulau Jawa. Kota ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lebak, provinsi Banten. Pantai Goa Langir terletak tidak jauh dari pusat kota Bayah. Pantainya indah, dengan hamparan pasir putih yang panjang, merupakan bagian dari pantai Sawarna. Di lokasi pantai Goa Langir terdapat 3 Goa lainnya yakni Goa Kanekes, Goa Harta Karun dan Goa Seribu Candi yang menggenapkan eksotisme suasana pantai itu. 

Goa Langir adalah goa terbesar, mungkin karena itulah nama lokasi pantainya dinamakan demikian. Aku mengambil rute perjalanan dari arah Malingping, masih di daerah pesisir selatan Lebak. Bukan tanpa alasan juga aku mengambil rute ini, karena kebetulan istriku dibesarkan di sebuah desa bernama Panjaungan, yang terletak antara Malingping dengan Bayah. Setiap hari raya Idul Fitri mesti kami mudik ke Panjaungan, jadilah aku sudah terbiasa dengan jalur ini. Memang sekalian juga liburan keluargaku ini menjenguk mertuaku di Panjaungan yang rencananya kami kunjungi sehabis dari pantai Goa Langir. 

Berangkat dari rumah di bilangan Jakarta Timur pukul 5 subuh, sampai di Malingping sekitar pukul 10 pagi menjelang siang. Sambil melepas lelah dan meluruskan kaki karena penat mengendarai mobil beberapa jam kami singgah dahulu di sebuah toko serba ada sekalian membeli bekal makanan ringan. “Wah, panas ya..”, kataku kepada anak-anak. Hari itu memang cerah, matahari bersinar dengan teriknya. Aku melirik kepada alat deteksi suhu yang terpasang di mobil, menunjukan angka 32 derajat celcius. Jam berapa sampai di pantai yah?”, tanya anakku yang paling besar. Aku jawab sekitar jam 12, pas waktu makan siang. 

Sepanjang perjalanan dari Malingping ke Bayah mulai dari suatu desa bernama Sukahujan kami disuguhi pemandangan pantai dan lautan lepas yang sedap dipandang mata. Sungguh sebuah terapi melepas penat dari tekanan bagi aku yang sehari-harinya bergelut dengan kemacetan jalan raya di Jakarta.

Ayah matikan ac-nya ya. Kita buka kaca aja”, ujar aku kepada istri dan anak-anak. “Yahh…jangan yah, gerah”, protes semua di dalam mobil. “Engga, percaya deh”, balasku. Pengatur suhu aku matikan, kaca mobilnya aku buka. Tidak berapa lama kemudian angin sejuk berhembus mengalir masuk ke dalam mobil, terasa kesejukan yang alami. 

Berbarengan dengan mengalirnya hembusan angin ke dalam mobil menyeruak pula suatu aroma yang khas, aroma lautan. Aku tidak dapat menerka dengan pasti sebenarnya aroma apakah itu, apakah berasal dari pasir pantai, air laut, rumput laut, hanyir ikan, tetumbuhan pantai, atau gabungan dari semuanya itu. Yang pasti aroma itu mampu menggugah indera penciumanku hingga memberikan efek rasa ketenangan dan kedamaian. 

Senang rasanya terbebas dari bau asap knalpot kendaraan yang memenuhi udara kota Jakarta. Aku melirik kepada istriku di sampingku ia Nampak menikmati perjalanan, mungkin sambil mengenang masa-masa sekolahnya dulu bersama sahabat-sahabatnya. Demikian juga anak-anakku di kursi belakang, mereka menatap ke arah lautan dengan deburan ombaknya. 

Sudah 8 tahun pernikahanku dengan istriku namun baru kali ini aku berkesempatan mengajak anak-anakku ke pantai Goa Langir. Jika libur mudik pantai-pantai di lokasi wisata jadi terlalu ramai oleh para wisatawan baik dari sekitar Lebak maupun dari luar Lebak, bahkan tidak sedikit wisatawan dari kota-kota lain di luar Banten. Aku jadi enggan ke lokasi wisata di masa libur lebaran karena rasanya sudah bosan dengan kepadatan kota Jakarta, tidak ingin lagi harus berdesakan dengan banyak orang. 

Tapi bukan berarti tidak mengajak piknik keluarga ke pantai samasekali, karena mulai dari Sukahujan sampai ke Bayah adalah garis pantai yang sangat panjang maka aku mengajak keluargaku mengunjungi pantai-pantai lain yang sepi namun pemandangannya tidak kalah indah. Berada di pantai yang sepi rasanya seolah menjadi pantai pribadi. 


Ayah, lihat itu di pinggir pantai ada tembok tebal seperti bekas jembatan!, apa itu ayah?”, kata anak bungsuku memecah keheningan. Aku melihat kepada reruntuhan tembok tidak jauh dari pantai yang ditunjuk anakku. Memang setahuku dari kisah sejarah di zaman kolonial Belanda di Bayah ini merupakan jalur kereta api untuk mengangkut komoditas batu-bara. Bekas jalur kereta api sudah mulai tampak mulai dari daerah Saketi. Aku pikir ini menarik juga sebenarnya jika jalur ini diaktifkan kembali untuk wisata sejarah, apalagi di jalur Bayah ini pemandangannya lautan lepas pasti akan sangat menarik wisatawan. 

Iya sayang, itu bekas jalur kereta api batu-bara zaman Belanda”, terangku kepada si bungsu. Sejenak pikiranku menerawang, “Gila juga ya orang Belanda dulu itu, mencari kekayaan negri ini sampai ke pelosok Bayah begini di zaman kuda gigit besi. Seperti apa wilayah Lebak selatan ini di zaman dulu?, sekarang saja masih cukup banyak hutan belantara”. Aku pikir Lebak memang menarik baik dari potensi alamnya seperti pantai-pantainya yang indah maupun kisah-kisah sejarahnya.


Bicara secara soal sejarah, di Lebak inilah terjadi dialektika awal lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia yang tercatat dalam sejarah hingga gaungnya mencapai negeri-negeri di barat khususnya Eropa. Adalah cikal-bakal kesadaran rakyat Indonesia sebagai sebuah bangsa yang ingin merdeka dari lepas penjajahan. 

Hal tersebut dikarenakan sebuah novel berjudul “Max Havelaar” yang ditulis seorang Belanda dengan nama pena Multatuli, nama sebenarnya adalah Eduard Douwes Dekker. Multatuli berasal dari bahasa latin yang berarti “aku yang telah banyak menderita. 

Max Havelaar pertama kali diterbitkan di tahun 1860, berkisah tentang kesengsaraan rakyat jelata Lebak akibat penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda maupun penguasa pribumi. Diceritakan dalam novel itu rakyat Lebak dipaksa menanam kopi sebagai bagian dari sistem tanam paksa (culture stelsel) untuk kemudian harus dijual kepada penguasa dengan harga sangat murah, belum lagi pajak tinggi yang harus dibayarkan kepada penguasa setempat yakni Regent atau Bupati, apabila tidak mampu membayar pajak maka harta milik rakyat yang paling berharga yakni kerbau akan diambil paksa sebagai ganti. Sedangkan kerbau kala itu adalah hewan yang sangat berarti bagi rakyat karena tenaganya digunakan untuk membajak sawah. Dapat dibayangkan betapa sengsaranya kehidupan rakyat Lebak. 

Max Havelaar membuat mata dunia menoleh kepada East Indies, sebutan untuk Indonesia saat itu. Masyarakat barat bagaikan terperangah mengetahui ada eksploitasi rakyat yang demikian buruknya di belahan bumi lain, sampai-sampai di negeri Belanda sendiri terjadi kegemparan yang memaksa pemerintah kolonial akhirnya mengeluarkan kebijakan Politik Etis atau Politik Balas Budi. 

Politik Etis mengharuskan pemerintah kolonial Belanda lebih memperhatikan nasib negeri jajahan agar tidak melulu mengeksploitasi kekayaan alamnya dan menindas rakyat pribuminya. Salah satu poin Politik Etis adalah di bidang pendidikan, dengan memberikan kesempatan kepada kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan formal di bangku-bangku sekolah. Dari sanalah kelak lahir kaum intelektual pribumi yang memiliki kesadaran menuntut kesamaan hak sebagai manusia dan kemerdekaan sebagai bangsa.

*******

Kecepatan sedang saja aku mengendarai mobil, sambil menikmati suasana jalan raya pesisir selatan Lebak yang tidak padat oleh kendaraan lain, bebas hambatan dan nyaris tidak berkelok seolah lurus saja, dengan suguhan pemandangan pantai yang indah. Tidak terasa sudah di pintu masuk wisata pantai Goa Langir. Aku toleh jam tanganku, pukul 11 lewat sedikit. Lebih cepat dari perkiraan ternyata. 

Di gerbang lokasi wisata ditunggui oleh beberapa orang petugas retribusi tiket masuk ke pantai. Tiket masuknya hanya 5000 rupiah per orang saja, untuk mobil tidak dikenakan biaya alias gratis. Kawasan pantai Goa Langir masih merupakan bagian dari komplek pantai Sawarna yang sudah lebih dahulu dikenal banyak wisatawan dengan karang Tanjung Layarnya, namun memiliki daya tarik berbeda pantai Sawarna. 

Di lokasi wisata pantai Goa Langir dari gerbang hingga menuju pantainya tidak terdapat pemukiman penduduk. Akses jalannya bersisian dengan bukit batuan karst setinggi kira-kira 25 meter sampai 50 meter. Pada gugusan perbukitan itulah terdapat 4 buah goa di bagian bawahnya.

Tidak jauh dari gerbang tadi aku melihat di sisi sebelah kiri jalan terdapat warung yang memiliki lahan parkir cukup lega untuk mobilku. “Kita parkir di situ aja ya, sekalian makan siang”, kataku kepada istri. Istriku setuju, terlebih anak-anakku mereka sudah lapar katanya ingin segera bersantap siang. Kami sengaja membawa makanan dari rumah karena niat kami memang piknik, “tapi minumnya kita beli ke warung yang punya lahan parkir ya, ga enak masa parkir di tempatnya tapi ga jajan ke warungnya,” sambungku. 

Terasa nikmat sekali santap siang kami, karena memang lapar dan pemandangan pantai di tempat kami singgah luar biasa indah. Panoramanya hamparan pasir putih dan cerahnya siang hari itu dengan biru langitnya yang sempurna. Pasir putih pantainya seolah memantulkan kembali sinar matahari yang menerpanya sehingga suasana menjadi seperti berkilauan. Aku takjub dengan pemandangannya. “Subhanallah, indah banget ya”, gumam istriku. Lokasi tempat kami makan siang itu dinaungi oleh rindangnya pepohonan, sehingga seberapa teriknya pun tetap terasa sejuk. “Ini macam surga dunia, hehe”, candaku.

Selesai juga bersantap, tiba waktunya menjelajah pantai Goa Langir. Aku ijin parkir saja mobilku di tempat ini kepada ibu pemilik warung. Ibu warung mempersilahkan dengan ramah. Tujuan utamaku mengajak keluarga ke pantai Goa Langir adalah mengunjungi pantainya yang memang terbukti indah. Namun setelah melewati saja 3 goa tanpa masuk ke dalamnya begitu tiba di mulut goa yang letaknya paling ujung dan terbesar yakni goa Langir ada terbesit rasa penasaran masuk ke dalamnya. 

Sayang sekali istri dan anak-anak enggan turut masuk ke dalam goa, “engga ah, takut”, kata mereka kompak. “Ga jauh sampai ke dalam banget, paling 10 meteran aja masuknya, penasaran dalamnya seperti apa”, aku coba membujuk mereka. Sia-sia mereka tetap enggan. Akhirnya aku memberanikan diri masuk seorang diri hanya mengandalkan cahaya lampu senter dari telpon genggamku. Tidak ada persiapan membawa senter memang, karena memang tidak ada niat jelajah goa. Gentar juga rasanya masuk seorang diri, namun rasa penasaran jauh lebih kuat, “ya sudah, ga perlu 10 meterlah masuk ke dalam, cukup hitungan langkah aja, 10 langkah”, aku bertawar nyali dengan diri sendiri.

Di mulut goa aku berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan, “Bismillah”, gumamku sambil mengambil langkah pertama. Hawa di serambi goa terasa lembab namun ada semilir angin sejuk yang berhembus seolah dari dalamnya. Tiba pada langkah ke tujuh aku menapakkan langkah pada permukaan yang basah dan licin menyebabkan aku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh. Aku coba bangkit namun kepalaku terasa berat, kelopak mata ini seakan memaksa aku terpejam saja. Kemudian semuanya menjadi gelap.

*******

Sedikit-sedikit aku mencoba membuka kedua mata ini namun masih terasa sulit rasanya, rasa nyeri masih sedikit terasa di bagian belakang kepalaku. Nampaknya aku terjatuh di dalam goa dan kepalaku terantuk batu. Tak lama kemudian samar-samar telingaku mendengar seperti seseorang sedang berpidato dengan aksen yang cedal.
         
Tuanku Raden Adipati Bupati Banten Kidul dan sekalian para Raden Demang yang menjadi kepala di daerah ini, tuan Raden Jaksa yang menjadi kepala polisi, serta Raden-raden dan Mantri-mantri serta seluruh kepala-kepala di daerah Banten Kidul. Terimalah salam hormat dari saya. Saya tahu diantara tuan-tuan terdapat ketinggian ilmu dan kemurahan hati, dengan demikian saya harap pengetahuan saya terhadap daerah Banten Kidul akan bertambah dengan ilmu tuan-tuan semua." 

"Saya membaca banyak hal-hal yang baik di Banten Kidul, rakyat tuan-tuan memiliki sawah-sawah di lembah-lembah dan adapula di gunung-gunung dan suasana di sini yang demikian damai. Tapi saya lihat rakyat tuan-tuan sekalian miskin. Mungkin karena itulah Tuhan mengutus saya ke tempat ini dimana ada banyak keadaan yang harus dibenahi kembali, untuk itu saya merasa gembira bertugas di tempat ini."

"Di luar sana banyak yang tidak mengerti kemiskinan di Banten Kidul sebab di sini banyak ladang-ladang dan curah hujan yang cukup, tanah yang gembur dan subur. Satu biji padi yang ditanam akan menghasilkan satu batang padi, sungguh mengherankan jika Banten Kidul miskin. Saya yakin ini bukan karena Tuhan menimpakan bencana kepada kita sehingga kita harus berkata; Yang demikianlah sudah kehendak-Nya. Negri kita ini miskin karena banyak kesalahan yang kita lakukan."

Terhenyak aku mendengar pidato seperti itu. Dari mulut siapakah gerangan kalimat-kalimat itu keluar. Sementara aku masih dalam posisi tidur terlentang pada kasur sambil menatap ke atas. Aku mulai merasa ada kejanggalan dengan tempat ini. Model dipan kasurnya seperti sudah sangat tua, terdapat tiang di tiap sikunya dengan atap dan kelambu. Aku paksakan juga untuk duduk disisi dipan, ku sapu segala penjuru kamar, menatap ke bawah ku lihat ubin lantainya bermotif seperti simbol kepanduan internasional berwarna hijau cerah. 

Dimana aku ini?”, tanyaku dalam hati. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapaan seseorang, “Je wordt wakker. Goedemiddag meneer!”, kata orang itu, seorang laki-laki berperawakan ras kaukasian atau yang biasa kita sebut “bule”. “Voel je je al gezond?”, sambungnya lagi. Aku semakin bingung dan sedikit panik. “I’m…, I’m sorry sir, I…I don’t understand your language”, balasku dengan terbata. “Ahh… speak English?, where do you come from sir?”, balasnya. “Actually sir, I’am from Indonesia”, balasku lagi. “Indo what?, indo…nesia?, by the name of God, where is that country?, I never heard any country in this world named Indonesia”, sahutnya. 

Aku semakin bingung, sedemikian tidak dikenalkah Indonesia olehnya. “I beg you pardon Sir, but I heard you just spoken in Indonesia”, kataku. “me?, spoken Indonesia?, when?”, tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Tampak olehku dia mengernyitkan dahinya. “Ah... you must be just heard me while I’m giving speech to the Regent, Demang and all Raden under my authority here in Banten Kidul. Well, that’s was Melayu. Jadi kamu bicara Melayu?”, tanya dia lagi kali ini mulai ada senyum di wajahnya dan wajahnya menjelaskan bahwa dia merasa lega, yang mana sebenarnya aku pun merasa demikian. 

Siapa kamu punya nama?”, kembali dia menginterogasiku. “Nama saya Permana tuan”, jawabku sambil menyodorkan telapak tangan mengajaknya berjabat tangan. “Dekker, Eduard Douwes Dekker”, Jawabnya lugas sambil balas menjabat tanganku. Mendengar nama itu aku jadi gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori. “Permana mengapa kamu kelihatan pucat seperti itu?, apakah kamu merasa tidak sehat?”, tanyanya heran. Aku mengumpulkan segenap kesadaran, kekuatan, sebenarnya juga keberanianku. Aku pejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam kemudian ku hembuskan perlahan. 

Aku pasti sedang bermimpi”, ku bicara dalam hati. Sejurus kemudian aku tampar pipi sebelah kananku sendiri, “Plak!”, ternyata terasa perih juga. “Permana kenapa kamu pukul sendiri kamu punya pipi?”, suara Douwes Dekker masih terdengar. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada diriku. 

Dine!, Dine!, breng me een glas water. Onze gast wordt wakker”, dia seperti memanggil seseorang. Tidak lama seorang perempuan kaukasian masuk ke dalam kamar membawa segelas air putih. “Hallo meneer, hoe gaat het?”, sapanya kepadaku sambil menunjukan senyum ramah. “Hij spreekt geen Nederlands. Hij spreekt melayu”, kata Douwes Dekker kepada perempuan itu. “Oh maaf, silahkan diminum airnya tuan”, kata perempuan itu kepadaku. “Terimakasih Nyonya ….”, balasku. 

Everdine van Wijnbergen. Saya istri dari Eduard”, sahutnya. Tentu saja aku mengetahui nama itu sebagai istri dari Douwes Dekker dari literasi sejarah tentang Max Havelaar yang aku baca. Rasa kebingunganku semakin menjadi-jadi, semua ini sungguh tidak masuk akal, tapi aku berusaha menyembunyikan kesan itu. “Nama saya Permana nyonya”, balasku. 

Kami bertiga kemudian berbincang-bincang kecil. Aku bertanya bagaimana aku bisa berada disini, Douwes Dekker berkata bawahannya menemukan aku tergeletak tidak sadarkan diri di tepi sungai dan membawa aku ke kediamannya sekaligus kantor Assisten Residen Lebak ini. 

Baiklah Permana, silahkan kamu lanjutkan istirahat. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Mari Dine kita biarkan tamu kita beristirahat”, kata Douwes Dekker sebelum menutup pintu kamar. 

Aku pergi menuju jendela kamar untuk melihat suasana diluar. Tampak olehku beberapa orang berpakaian seperti zaman kerajaan mengenakan beskap khas sunda berwarna hitam dan beberapa orang kaukasian juga mengenakan pakaian resmi berbahan seperti beludru berwarna biru tua dengan bordiran berwarna keemasan. 

Dari kamar bangunan tempatku beristirahat dengan bangunan yang nampaknya seperti kantor tidaklah berjauhan, hanya berseberangan dibatasi taman bunga yang terlihat terawat dengan apik. Ada tiang bendera di tengah-tengahnya, tampak oleh kedua mataku bendera Merah Putih Biru berkibar.

*******

Dentang jam Junghans terdengar bunyinya 7 kali, tadi sore Douwes Dekker berkata bahwa pukul 7 petang waktunya makan malam keluarga. Dia mengingatkan aku agar makan bersama keluarganya di meja makan di ruang tengah. Malam hari di tempat itu sumber penerangannya dari lampu minyak, tidak ada lampu bohlam, tidak ada listrik rupanya. 

Aku berjalan menuju ruang makan. “Selamat malam Permana”, sapa Dine menyambutku. Douwes Dekker sudah duduk di bangku utama meja makan yang posisinya di tengah. “Silahkan duduk Permana”, Douwes mempersilahkan aku. Setelah Douwes memimpin doa secara Nasrani sebelum bersantap kami pun menikmati hidangan.

Makan malam selesai namun aku dan Douwes Dekker belum beranjak dari meja makan. “Tuan Douwes Dekker saya terlupa menanyakan ini tadi siang, kita ini sedang berada dimana?, dan tahun berapakah ini?”, dua pertanyaan sekaligus aku utarakan. Douwes Dekker menjelaskan bahwa sekarang sedang berada di Rangkas Betung, ibu kota dari Banten Kidul dan sekarang tahun 1856. 

Mendengar penjelasannya aku jadi termangu. “Ini sungguh tidak masuk akal”, kataku dalam hati. Kemudian dia bercerita tentang tanah kelahirannya di Nederland, kesannya saat pertama kali menginjakkan kaki ke negri kolonial East Indies ini. Dia berkata bahwa dia merasa bersimpati kepada kaum pribumi rakyat jelata yang menurutnya orang-orang yang ramah, bersahaja, jujur dan juga pekerja keras. 

Saat dia bertanya kepadaku tentang asal-usulku aku jelaskan saja bahwa aku adalah kaum pribumi dari masa depan. “Negri ini akan merdeka tuan, negaranya kelak bernama Indonesia yang terdiri dari Sabang di ujung utara Sumatera sampai Merauke, atau New Holland di tanah Papua Barat. Penduduknya terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, namun kami berikrar tetap satu sebagai bangsa”. 

Aku jelaskan juga bahwa tanah Lebak tempat dia sekarang bertugas adalah tanah yang subur dan kaya, di bagian selatan terdapat hamparan pantai yang indah. Strata kemasyarakatan di tanah Banten memiliki 3 pilar utama yaitu Umara atau pemerintah, Ulama dan Jawara. Lebak juga memiliki keunikan yang khas yakni terdapat sekelompok masyarakat adat yang tetap mempertahankan budaya leluhur dengan hidup memisahkan diri dengan peradaban dunia luar bernama Suku Baduy. Letak tempat tinggal Suku Baduy tidak seberapa jauh lagi dari Rangkasbitung, ke arah Kanekes. 

Aku uraikan semua yang aku tahu tentang Lebak dan sejarah Indonesia, tampak Douwes Dekker menyimak dengan seksama dan antusias meski tidak dipungkiri juga terlihat raut kebingungan seolah tidak percaya dengan penjelasanku khususnya soal masa depan. 

Tuan Douwes Dekker ke tanah Lebak ini sebagai Asisten Residen, hendaknya tuan dapat melindungi hak-hak dasar rakyat jelata di Lebak ini”, tandasku. “Tentu saja Permana, saat pelantikan jabatan saya sudah bersumpah atas nama Tuhan bahwa saya akan melindungi rakyat dari penindasan, eksploitasi dan pemerasan”, jabarnya. 

Aku menyambung perkataanku kepadanya, “Maukah tuan berjanji kepada saya?, Tuan harus menulis segala pengalaman tuan selama bertugas sebagai Asisten Residen di Lebak ini”, pintaku kepadanya. “Tentu Permana, saya memang selalu menulis dan terbiasa membuat catatan-catatan terkait dengan tugas-tugas saya. Tapi mengapa kamu seperti menekankan perihal Lebak ini?, apakah memang Lebak sedemikian istimewa?, dan apakah tulisan saya tentang Lebak akan dibaca banyak orang?”, tanyanya kepadaku seperti keheranan. 

Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil, bahasa tubuh yang memintanya agar mempercayaiku. Aku tidak dapat membeberkan soal novel Max Havelaar dan nasibnya di masa depan, seperti ada pagar moralitas yang tidak ingin aku lompati dengan menceritakan nasib orang di masa depan seolah mendahului takdir Tuhan.

Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 1 dini hari, Douwes Dekker pamit tidur. Sebelum menuju tempat peraduannya dia memberiku 3 lembar kertas kosong dan pena beserta botol tintanya seraya meminta agar aku menulis semua hal yang menjadi topik diskusi dengannya supaya dia dapat mempelajarinya lebih lanjut soal-soal Lebak ini. Aku menyanggupinya. 

Sampai besok Permana. Selamat malam, selamat beristirahat”, katanya kepadaku. “Sama-sama tuan Douwes Dekker. Selamat malam”, balasku. Aku pun beranjak menuju kamar istirahat tamu di bagian depan rumah ini. Di luar hening sekali, tidak ada suara mesin kendaraan yang melintas, hanya terdengar suara serangga dan burung malam. Rasa kantukku sudah tidak tertahankan, sejadinya aku melemparkan tubuhku ke kasur dipan. Terlelap.

*******

Ayah…ayah..bangun yah!, bangun ayah!”, aku mendengar suara istri dan kedua anakku ditelingaku. Perlahan kubuka kelopak mataku. “Kenapa sekarang aku berada di kamar kediaman mertuaku di Panjaungan”, batinku mengenali kamar ini. Begitu aku membuka lebar kedua belah mataku, semua yang berada di kamar itu mengucap syukur. 

Seseorang dengan kalung stetoskop menghampiriku dan berkata, “Bapak pingsan selama 3 jam, kepala bagian belakang bapak terantuk batu di dalam goa, tapi syukurlah tidak ada tanda-tanda gegar otak”, rupanya dia dokter yang memberiku pertolongan pertama. Aku meraba kepala bagian belakangku, ada perban. 

Ayah sih nekat masuk ke dalam goa cuma pake senter hp”, protes anakku yang sulung. Aku hanya bisa tersenyum tanpa bicara. Aku tidak akan menceritakan apa yang aku alami kepadanya atau kepada siapapun juga. 

Saat semua orang sudah keluar kamar hanya tinggal aku sendirian, aku termenung mengingat apa yang telah ku alami, kemudian meraba kantung kemejaku. Tanganku menyentuh sesuatu benda panjang sekitar 15 sentimeter. Ternyata itu pena tinta yang diberikan Eduard Douwes Dekker kepadaku sebelum pamit tidur.                         
  
                                           

Jumat, 24 Juli 2015

Tuhannya Beda

"Saya aja yang bakar ya paman tumpukan sampahnya", kata Iwo kepada pamannya. Sampah rumah-tangga dibelakang rumah paman Iwo nampak semakin menggunung apalagi seminggu yang lalu neneknya Iwo meninggal dunia karena usia yang sudah sangat sepuh, meninggalkan pula barang-barang tua dan usang yang disimpan begitu saja oleh si nenek di salah satu kamar rumah pamannya sampai saat-saat akhir hidupnya.
Setelah kamar itu dibersihkan ternyata banyak barang-barang yang tidak terpakai, termasuk kain-kain rombeng bekas nenek.

"Jangan", kata pamannya kepada Iwo. "Pamali, ada kain-kain bekas nenek. Tidak boleh membakar bekas pakaian orang yang sudah meninggal", sambungnya.
"Masa iya paman?, lah orang Cina malah dibakar sama jenazah-jenazahnya, orang Bali juga", bantah Iwo.
"Ya mereka kan agamanya lain, Tuhannya beda", timpal paman lagi.

"Tuhannya beda, ......TUHANNYA BEDA",..... kalimat itu terngiang di telinga Iwo, kemudian merasuk ke alam pikirnya. Bukankah sebagai Muslim (atau boleh jadi ajaran agama lain pula) kita bersaksi "Tiada Tuhan selain Allah"?, dan kita wajib menanamkan ke dalam akal-hati-jiwa bahwa Tuhan itu Ahad, Tuhan itu satu.
Iwo merenung dan merasa ada sebuah paradoks pemikiran, ....... bahwa kita wajib meyakini Tuhan itu Satu, tapi disatu sisi kita "meyakini" pula ada "beberapa tuhan", ada "tuhan yang lain", ada "tuhan yang beda".
Bahkan ada diantara kita yang saling menghujat bahkan saling berbunuh "membela tuhan masing-masing". 



Bobby Revolta, 24 Juli 2015

Senin, 20 April 2015

Jalan Setapak Seorang Ayah

Sore itu menjelang malam
Gelap mulai menerkam 

Seorang lelaki dewasa berjalan menyusur di sisi
Lewati satu rumah kosong, kemudian dua, tiga sampai rumah keempat
Semua rumah gelap dan mati

Beberapa saat lalu baru saja ia lewati sebuah rumah bersalin
Disanalah terlahir anaknya yang terharap seorang lelaki

Ketika sang bayi terlahir lelaki itu menangis meraung-raung
Tak satu orang pun dapat menghentikannya dari isak sesalnya
Anaknya terlahir namun telah membiru tanpa nyawa

Kembali, ia lanjutkan saja langkahnya hingga melewati surau
Ada ia rasakan bisikan dalam kalbu
"yah...sholat ayah, sholat ayah, Doakanlah aku"

Yakin lelaki itu, jiwa halus anaknyalah yang meminta
Kemudian berhenti ia di muka surau, berkata 
"iya nak, ayah segera sholat" 
Lalu tak terasa pipinya hangat oleh air mata


Serang, 20 April 2015
to my beloved son
MICKA REVOLTA

Kamis, 12 Februari 2015

Malam Yang aga Jahanam Bagi Seorang Gadis

Malam datang lagi….

Adalah saat Mela harus bekerja. Sebuah profesi yang tidak diimpikannya sama sekali, sangat jauh melenceng dari jawabannya saat usianya tujuh tahun ketika ibunya bertanya, “Mela kalau sudah besar mau jadi apa?”, “Mau jadi dokter”, jawab Mela kecil.

Ketika lulus SMP dia memantapkan cita-citanya dengan memasuki sekolah kejuruan perawat atau lebih dikenal sebagai suster. Meski berbeda jurusan dari cita-cita menjadi dokter ke perawat karena terkendala biaya pendidikan yang mahal, dia pikir profesi perawat tidaklah terlalu melenceng dari profesi dokter, masih bertugas menyembuhkan orang sakit meskipun tidak menangani langsung karena hanya asisten dokter. Profesi perawat pun masih menangani seputar tubuh manusia, tidak terlalu jauh berbeda dengan pekerjaan dokter. Dan yang terpenting adalah  karena sama-sama dapat menolong jiwa manusia, maka perawat pun sama mulianya dengan dokter.

Sekolah Kejuruan Perawat dijalani Mela dengan suka cita, hingga tak terasa sudah hampir kenaikan kelas yaitu ke kelas dua atau kelas sebelas kurikulum sekarang. Hingga sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan berlangsung, ujian terdiri dari ujian teori dan ujian praktek. Suatu hari wali kelasnya memberi pengumuman di muka kelas,”anak-anak jangan lupa minggu depan ujian kenaikkan kelas, maka bayaran ujian paling lambat hari Sabtu di minggu ini. Kalau belum bayar ya tidak bisa ikut ujian”, demikian kata ibu wali kelas.

Lonceng tanda kelas berakhir berbunyi, Mela seperti biasa pulang ke rumah menggunakan angkutan pedesaan, meski sesekali ia menggunakan sepeda motor ayahnya. Namun sekitar 6 bulan yang lalu sepeda motor ayahnya itu dijual, katanya buat menambah biaya dapur dan biaya rumah tangga lainnya. Ayahnya hanya bekerja sebagai karyawan honorer pada perusahaan rokok di desa itu, bertugas sebagai pesuruh. Sudah 32 tahun ayahnya mengabdi di perusahaan itu.

Mela tiba di rumahnya sekitar pukul setengah tiga sore, lama perjalanan dari sekolah ke rumahnya hanya setengah jam. “Assalamualaikum”, Mela mengucap salam. “Waalaikumsalam”, jawab suara yang berasal dari kamar kedua orangtuanya, suara ibunya. Mela kemudian menghampiri ke arah sumber suara, batinnya sedikit heran karena biasanya jam segini ibunya mesti sedang berada di dapur menyiapkan masakan untuk makan malam seluruh keluarga, atau jika sedang senggang pasti sedang menyaksikan tayangan infotainment alias berita sensasional yang remeh-temeh para pesohor di televisi. “Tumben ibu ada di kamar”, batin Mela.      

Mela mengetuk pintu, “masuk nak”, suara ibunya. Ketika pintu dibuka Mela sedikit terkejut, ternyata ayahnya sudah pulang karena biasanya ayahnya tiba di rumah menjelang waktu Isya. “Kemari nak, ada yang ingin bapak dan ibu sampaikan”, kata ayahnya sambil duduk di sisi kasur sedangkan ibunya duduk terkulai di lantai menghadap ayah. Suasana di kamar itu terasa muram begitupun wajah ayah dan ibu Mela, air muka keduanya tampak muram.

Selanjutnya ayah menguraikan ceritanya, bahwa disebabkan aturan pemerintah atas penjualan tembakau yang semakin ketat yakni dengan menaikkan pajak tembakau, mengkibatkan harga rokok dipasaran melambung tinggi, dengan demikian ongkos produksi perusahaan rokok menjadi naik. Demi keberlangsungan perusahaan dan agar tetap stabilnya harga jual rokok produksi perusahaan maka manajemen mengeluarkan kebijakan “merumahkan” sebagian besar karyawannya. Ayah Mela adalah salah satu karyawan yang dirumahkan oleh perusahaan.   

“Ayah diPHK?!!”, tanya Mela seolah tak percaya atas kenyataan itu. Seperti berhenti rasanya semua jam di rumah itu, senyap dan hening. Begitupun detak jantung Mela, saat itu juga rasanya berhenti. Di Kamarnya Mela terpaku dalam lamunan, tatapannya kosong menerawang ke luar jendela menatap pohon mangga di halaman depan rumah yang banyak ditumbuhi benalu.

“Bagaimana biaya ujianku?, bagaimana biaya sekolahku?, bagaimana masa depanku?”, demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang berputar mengurung benak Mela.

Kemudian Mela mengalihkan pandangannya ke cermin meja riasnya. Secara fisik Mela adalah gadis yang cantik, kulitnya putih bersih, tinggi tubuhnya proporsional, hidungnya mancung untuk ukuran orang Indonesia bibirnya merah alami, wajahnya tipe kekanakan, lekuk tubuhnya sintal dan sebagaimana gadis diusianya potongan rambutnya trendi, panjang sebahu dengan poni dibagian depan. Benar-benar gadis muda yang ranum menggoda bak buah rambutan yang matang tumbuh lebat di halaman kantor Polsek, meski berisiko tetap menggoda untuk dipetik.

Esok harinya Mela tidak berangkat ke sekolah, ia memutuskan berhenti sekolah. Iya tahu diri, ia tidak ingin membebani keluarga, belum lagi ia teringat ketiga adiknya yang masih memerlukan biaya. Mela teringat akan kegemarannya akan musik dangdut. Setiap ada acara pertunjukan seni di sekolahnya dulu sejak ia SMP mestilah ia didapuk menyanyi diatas panggung. Alunan vokalnya serak-serak basah dan goyangan tubuhnya yang serasi dengan hentakan tabuhan gendang benar-benar melenakan siapapun yang menatapnya, khususon dimata kaum lelaki. Liukkan tubuhnya meskipun tidak seronok namun ditubuh sintal Mela tetap saja menjadi erotis.

*******

Mela memutuskan menjadikan penyanyi dangdut sebagai profesinya. Ada sebuah grup Orkes Melayu yang cukup terkenal di kota kabupaten itu yakni grup OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah. Sebenarnya ketika Mela duduk di kelas 3 SMP atau kelas 9, grup OM tersebut sempat mengajak Mela bergabung namun orangtua Mela enggan memberi restu. Kini, karena keadaan yang menimpa keluarga Mela, orangtua Mela tidak punya pilihan untuk melarangnya. 
Mela mendapat uang dari hasil menyanyi dangdut, meskipun tidak besar namun cukuplah untuk biaya diri sendiri dan membantu keuangan keluarga. Karir Mela sebagai penyanyi dangdut di daerah cukup gemilang, dia pun memiliki nama panggung yaitu Mela Grasak. 

Bukan tanpa godaan dalam menjalani karirnya sebagai penyanyi dangdut. Saat berdendang diatas panggung sudah tidak terhitung celoteh dan celetukan bernada sensualitas bahkan cenderung pelecehan, seperti kata-kata : “buka dikit !”, “pantate joss!”, “waduh celanaku jadi sempit!”, “Aduh maak, indah banget pemandangan gunung !”, dan lain-lain sejenisnya. Apalagi apabila ada acara saweran diatas panggung, para lelaki yang menyawer dengan uang kertas yang nilainya besar seperti merasa berhak atas tubuh Mela.

Pernah suatu kali ketika acara saweran wajah Mela dilempar secara kasar uang kertas seratus ribuan 5 lembar, sungguh pemandangan yang merendahkan martabat perempuan, namun Mela memaksakan diri tetap tersenyum. Jika masih mencubit sisi bahu lengan atau mencolek bokong, dia menanggapinya dengan pura-pura genit, namun jika ada yang menurutnya terlampau jauh seperti ingin menyelipkan uang kertas ke belahan buah dadanya maka Mela secara halus menampiknya sambil tetap tersenyum.   

Pada suatu hari OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah diundang mengisi acara syukuran panen padi di pendopo kantor kecamatan. Jajaran perangkat pimpinan desa hadir semua, dari Pak Camat, Pak Lurah, Pak Danramil dan Pak Kapolsek, juga para tokoh masyarakat. Semua duduk di sofa yang telah disediakan terletak persis 7 meter menghadap depan panggung. Seperti biasa Mela menjadi bintang utama disetiap acara panggung dangdut, ratusan pasang mata menikmati liukan tubuh Mela dibanding menikmati irama musik yang didendangkan. 

Pak Lurah desa itu adalah orang yang terpandang, dia memiliki sawah yang luasnya hektaran, memiliki perternakan sapi potong, memiliki dua toko emas di pasar, serta memiliki 3 istri, singkatnya ia adalah seorang saudagar kaya di desa itu. Bahkan acara hiburan panggung dangdut malam itu pun disponsori atau atas biaya pribadi Pak Lurah. Sedari awal Mela melantunkan lagu, Pak Lurah tidak melepaskan pandangan bergantian ke wajah, dada, dan bokong Mela, Pak Lurah telah terhipnotis oleh pesona kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Mela. Ingin rasanya ia keatas panggung untuk berjoget bersama Mela atau ikut saweran, namun ia menjaga citra dirinya sebagai Bapak Lurah yang terhormat, sehingga ia urungkan hasrat jogetnya, hanya saja kedua jempol tangannya tak kuasa bergoyang mengikuti irama kendang dangdut yang bertalu-talu.

Kemudian Pak Lurah meminta diri kepada seluruh perangkat pimpinan desa yang sejajar duduk dengannya di sofa; “permisi bapak-bapak, saya ke belakang sebentar”, begitu katanya. Ternyata yang dimaksud “belakang” bukanlah kamar mandi atau kamar kecil untuk buang air, melainkan ke belakang panggung. Ia menemui pimpinan OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah, ia menyerahkan segepok uang lembaran 50 ribuan kepada pimpinan OM tersebut kemudian berkata ; “kamu atur gimana caranya supaya si Mela nanti pulang bisa bareng sama aku”. “Siap Pak Boss Lurah, serahkan sama saya”, balas pimpinan OM itu.

Acara hiburan itupun selesai sekitar pukul setengah satu dini hari. Pimpinan OM menghampiri Mela, “Mel,…saya minta maaf ga bisa nganter kamu pulang ya”. “Loh pak saya gimana pulangnya?”, tanya Mela resah. “Tenang aja, ada yang bersedia nganter kamu pulang, Pak Lurah,” Jawab pimpinan OM itu. Mela terperanjat, “wah…masa Pak Lurah yang nganter aku, aku kan ga enak dong”. Tiba-tiba ada suara yang menyela, “tidak apa-apa dik Mela, aku anter pulang ya, sudah malam sekali ini loh”, ternyata si penyela itu adalah Pak Lurah sendiri. Mela pun menunduk tersipu namun mengiyakan ajakan Pak Lurah.

Akhirnya Mela telah berada di dalam mobil bersama Pak Lurah. Pak Lurah membuka pembicaraan, “Dik Mela penampilannya tadi luar biasa, bagus sekali!, suaranya apik, gurih…goyanganmu itu dik, bikin jantung saya mau copot”. Dengan genit Mela membalas pujian Pak Lurah, “ahh Pak Lurah bisa saja”. Pak Lurah menyambung, “Dik Mela saya punya kenalan produser musik dangdut dari Jakarta, besok aku janjian mau ketemuan, kamu mau ga aku kenalkan?, aku yakin dia pasti tertarik mau mengorbitkan kamu menjadi artis top ibu kota”.

Mendengar pemaparan Pak Lurah mata Mela berbinar, pikirannya sejenak menerawang, ia teringat kembali ketika ayahnya terkena PHK, kemudian ia putus sekolah, 3 orang adik-adiknya yang masih butuh banyak biaya, ibunya yang berjualan hasil kebun di pasar. Terbesit dipikirannya; “inilah saatnya…..akhirnya aku bisa menjadi artis dangdut top”. Kemudian dia membayangkan kehidupan sebagai artis dangdut top sebagaiman yang ia saksikan di acara-acara televisi, begitu glamour dan sensasional. Bagaimana tidak, semua peristiwa pribadi seperti harus masuk rumah sakit hanya karena masuk angin saja masuk berita, ditinggalkan suami masuk berita, semata-mata masak di dapur pun bisa masuk berita. Mela kemudian tersenyum sendiri gara-gara membayangkan jika dia sudah menjadi artis top jangan-jangan hobi kentutnya akan jadi berita, kemudian yang terpenting dia membayangkan dia akan mempunyai banyak uang.

“Dik Mela!, dik Mela!…. Kok jadi melamun senyum-senyum sendiri, ada apa?, tegur Pak Lurah membuyarkan lamunan Mela. Mela jadi sedikit terkejut malu, “ehh…hehehe ga kenapa-napa pak”. “Gimana, mau kan kamu besok malam aku kenalkan sama produser kenalanku itu?, kalau mau aku jemput kamu besok jam 8 malam”, tanya Pak Lurah. “Mau pak, mau”, kata Mela sumringah. 

Sekitar pukul 1 dini hari sampailah mereka di rumah Mela. Pak Lurah mengucapkan salam perpisahan kemudian melajukan kembali mobilnya. Didalam mobil Pak Lurah tertawa-tawa sendiri laksana tawa kemenangan.

*******     

Seperti disepakati pada malam sebelumnya, Pak Lurah menjemput Mela dirumahnya pada pukul 8 malam lewat 2 menit. Necis sekali penampilan Pak Lurah malam itu, celana jeans baggy, kemeja lengan pendek warna merah motif kotak, sepatu santai merk terkenal berlogo seekor buaya, tak ketinggalan ramnbut yang tersisir rapih licin berminyak rambut, serta wangi parfum yang semerbak tercium hingga radius 10 meter. “Kemana kita pak?”, tanya Mela. “Tenang aja dik, pokoknya sip”, jawab Pak Lurah. 

Tiba di persimpangan jalan Pak Lurah membelokkan mobilnya ke kanan kemudian masuk ke sebuah hotel kelas melati.

“Di hotel toh pak”, ujar Mela. “Iya dik, soalnya kenalanku yang produser ini baru sampai dari Jakarta tadi sore, dia masih kecapean diperjalanan katanya, jadi kita ketemu dia langsung di hotel tempatnya menginap saja sambil dia istirahat biar lebih santai juga. Ga masalah kan dik Mela”, terang Pak Lurah mencoba menyakinkan. “Ohh begitu…, ga apa-apa pak, ga masalah”, jawab Mela.

Kemudian Pak Lurah memparkirkan mobilnya di depan kamar hotel bernomor 213. “Mari dik Mela”, kata Pak Lurah sambil membukakan pintu mobil buat Mela. “Musti di kamar toh pak?”, Tanya Mela, terdengar nada sedikit khawatir. “Lah kan sudah saya kasi tau barusan, kenalanku ini kecapean jadi hari ini belum bisa kemana-mana, jadi ya di kamar saja sambil santai-santai. Sudah dik Mela tenang saja. Mau jadi artis dangdut top ga?”, papar Pak Lurah.

Pak Lurah kemudian mengetuk pintu kamar itu. “Masuk”, kata seseorang dari dalam kamar. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar. “Halo Pak boss produser, ini aku udah bawa calon artis dangdut kita”, tegur Pak Lurah akrab kepada orang yang nampaknya sudah menunggu di dalam kamar hotel itu. “Ayo dik Mela, kasih salam boss produser”, sambung Pak Lurah kepada Mela. Mela pun menyalami si produser. “Wah wah wah….ini barang bagus, mulus, ckckckckck, cantik sekali kamu”, kata si produser sambil meremas jabatan tangan Mela, matanya jelalatan memandangi tubuh sintal Mela, dari bawah, tengah sampai atas. “Coba kamu berputar”, kata si produser kemudian. Mela pun memutar tubuhnya. “Wah wah wah….bemper belakangnya masih kenceng”, tambah si produser. Yang dimaksud bemper adalah bagian bokong Mela.

“Gimana Mel, kamu siap dan mau kan jadi artis dangdut top?, saya bisa mengorbitkan kamu jadi artis top. Nanti saya bikin kamu seperti si Nunu Gleper-gleper, atau seperti si Naskia Gitok, atau seperti si Trio Beruang Madu Betina, atau kamu mau seperti si Cica Cacimaki?,” demikian si produser mengimingi Mela. “Mau Pak Produser, mau banget”, jawab Mela antusias. “Husss…jangan panggil pak, panggil “Om” donk”, pinta si produser kepada Mela. “Eh..iya om pak, eh maksud saya om”, ralat Mela. Mata Mela menerawang ke sekeliling dalam kamar hotel itu, ia melihat di atas meja ada 3 botol minuman keras, beberapa botol minuman berenergi, beberapa butir pil berwarna biru, borgol, ikat pinggang, pecut dan seperti pajangan meja namun berbentuk kelamin pria.

“Tapi kamu harus saya tes dulu, tenang aja ga susah kok tesnya enak malahan”, kata si produser sambil nyengir seperti kuda. “Iya dik Mela, ga usah takut, buat dik Mela tesnya ga susah, sambil santai-santai minum-minum ini”, tambah Pak Lurah nimbrung bicara sambil membuka satu botol minuman keras kemudian menuangkannya ke 3 gelas. Kemudian Pak Lurah menyodorkan gelas yang telah terisi minuman keras kepada si produser, satu gelas lagi kepada Mela. Namun Mela menolak secara halus sambil berkata, “maaf pak, aku ga minum minuman itu”. “Loh lohhh, kamu ga boleh nolak, ini bagian dari tes loh”, ancam si produser. Mela kemudian memberanikan diri menyanggah, “bukannya seharusnya tesnya nyanyi pak?”. “Ahhh tes nyanyi itu gampang. Ya sudah kalau tidak mau tes minum, gimana kalau kamu dites yang lain aja ya”, sambung Pak Lurah. “Tes apa pak?”, tanya Mela penasaran. Pak Lurah menyodorkan wajahnya ke telinga kanan Mela, membisikkan sesuatu. 

“Apaaa ???!!!”, bentak Mela. Sejurus kemudian telapak tangan kanan Mela mendarat di pipi kiri Pak Lurah. Kemudian Mela menghardik kedua pria itu; “dasar buaya buntung !, tua-tua bangsat !, lintah comberan !, iblis gerbong kereta sapi !”.

Tanpa diduga tiba-tiba si produser mendekap Mela dari arah belakang, Mela meronta-ronta dan berteriak, “tolonggg !!, toll…”, tak dapat dilanjutkan dikarenakan tangan si produser membekap mulutnya. Sedang Pak Lurah bersiap-siap seolah ingin menerkam Mela. Mela terus meronta mengeluarkan seluruh tenaganya, namun apalah daya tenaga seorang gadis dihadapan tenaga dua pria dewasa. Dengan beringas Pak Lurah berusaha mendaratkan bibirnya ke wajah Mela, si produser tak kalah beringas, tangan kanan membekap mulut Mela sedangkan tangan kirinya berusaha membuka rok Mela.

Hingga tiba sekejap Mela mendapat kesempatan ia melihat bagian kemaluan Pak Lurah tidak terhalang maka dengan sekuat tenaga Mela menyepaknya. Sepakan Mela bagaikan sepakan Lionel Messi, “Jediigggg !!”, begitu kira-kira bunyinya. Namun tanpa komentar “AHAAYY” dan “JEBRET” sebagaimana komentator sepakbola dalam siaran sepakbola di televisi. Yang terdengar adalah kalimat ; “TOBAAATTTT !!!”, dari mulut Pak Lurah. Tendangan Mela tepat dan telak menghantam kemaluan Pak Lurah. Pak Lurah terjengkang sambil memegangi kemaluannya. 

Tangan Mela jadi lebih terbebas dari himpitan dari depan, kemudian cakar kukunya yang memang panjang ia benamkan dan tarik sekencang-kencangnya ke wajah si produser. Tangan kanan si produser yang masih membekap mulut Mela jadi mengendur memberikan kesempatan Mela menggigit jari si produser. Saking kalapnya Mela sehingga gigitannya mengakibatkan jari klingking si produser putus satu ruas dan mengeluarkan banyak darah. “WADAAWW !!”, teriak si produser sangat kesakitan, pada wajahnya pun tampak tiga garis merah berdarah.

Mela tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia melihat kunci kamar hotel masih menggantung di pintu. Ia segera berlari ke arah pintu dan membukanya kemudian berlari ke luar kompleks hotel kelas melati itu, berlari ke arah jalan raya.   

*******

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, malam ini Mela bersiap lagi menjalani profesinya yang ia geluti 1 bulan terakhir. Semua perlengkapan telah ia kenakan; sarung tangan, jaket kulit berwarna hitam buatan Garut, pengaman siku dan dengkul, juga sepatu boot, dan tak lupa mengenakan helm motor cross. Ia berjalan dengan tenang ke arah papan papan panjang kira-kira 12 meter disejajarkan vertikal dibentuk melingkar seperti tong. Di dalamnya sudah disiapkan motor tril oleh rekannya.
Ya…kini Mela telah beralih profesi menjadi seorang pengendara motor pada atraksi akrobat “tong stand”, atau sering disebut menjadi “Tong Setan”.

Setahun lalu, saat kejadian percobaan pemerkosaan yang hampir menimpa Mela, ketika ia berlari panik sambil menangis berteriak-teriak mencari pertolongan, ia berpapasan dengan konvoi mobil truk rombongan sirkus kampung yang biasa beroperasi pada pasar malam secara nomaden. Ia diselamatkan oleh pasangan suami-istri pimpinan sirkus kampung itu.
Untuk menenangkan dan menyembunyikan diri ia mengikuti kemanapun rombongan sirkus itu menuju. Lama kelamaan ia tertarik mencoba mengendarai motor modifikasi dalam sebuah tong besar. Latihan demi latihan dijalani dengan tekun dan tekad kuat, jadilah kini Mela bergiat pada profesi yang menurutnya jauh dari fitnah dan pelecehan, yaitu pengendara TONG SETAN.

Kereenn….


-selesai-                                                      

Senin, 03 November 2014

Sumpah Serapah Karyawan Level Bawah Kepada Boss Bangsat

Pada sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antah berantah, bekerjalah disana beratus karyawan. Manajemen menanamkan serta senantiasa menggembor-gemborkan sebuah jargon yang berbunyi ; I-N-T-E-G-R-I-T-A-S.
Tidak banyak yang paham betul makna kata integritas itu sendiri, sekalipun kebanyakan karyawan dari BUMN itu sendiri, bahkan ironisnya para pejabatnya sekalipun.  Lebih gila lagi si pencetus jargon integritas itu sendiri tidak sungguh-sungguh paham maknanya.

Suatu kali direktur BUMN tersebut menginstruksikan bahwa perusahaan harus bersih dari kegiatan kolusi, yakni menggunakan atau menghalalkan segala cara demi tercapainya laba perusahaan termasuk diantaranya melakukan penyuapan kepada sebuah institusi tertentu agar mendapat kemudahan ijin usaha. Pokoknya semua tindakan perusahaan harus mengedepankan etika dan moralitas serta konsekwen menerapkan prinsip tata kelola perusahaan pemerintah yang baik dan benar.
Hingga suatu saat di penghujung tahun pada bulan Desember si direktur BUMN memberikan sebuah instruksi kepada bagian operasional. Instruksinya adalah memberikan tenggat waktu sampai pertengahan bulan Januari tahun depan untuk mendirikan unit usaha di 15 titik tempat bagaimanapun caranya.
Tentu saja para staf operasionalnya sudah mahfum apa yang mesti dilakukan demi mewujudkan keinginannya si direktur, yaitu dengan cara menyuap institusi pemberi ijin usaha.
Maka pada tenggat waktu yang ditentukan olehnya, 15 gerai unit usaha pada 15 titik tempat pada tanggal 15 bulan januari, si direktur BUMN tersebut dengan bangga meresmikannya.

Adalah Robod, seorang karyawan level bawah BUMN tersebut sangat muak akan retorika dan omong-kosong yang selama ini berlangsung di perusahaannya. Karirnya mandeg sedangkan tuntutan kehidupan dan kewajiban menafkahi keluarga demikian menghimpitnya. Setiap hari hanya keterpaksaan yang mengharuskan dia tetap bertahan bekerja di BUMN tersebut, itupun sudah banyak hari dia absen membolos kerja dengan berbagai alasan seperti; sakit, mengantar anak sekolah atau imunisasi, mengantar orangtua, mengantar istri bekerja, kendaraan mogok, kompleks rumahnya kebanjiran sampai dengan alasannya yang paling unik dan berkarakter adalah kepalanya tidak sengaja menghantam pintu lemari kamarnya sendiri. Ketika sebagian besar orang merasa kesusahan jika banjir melanda lingkungan tempat tinggal, namun tidak bagi Robod, banjir adalah momen yang membahagiakan karena dia mendapat alibi yang mutlak untuk tidak bekerja.
Menurutnya buat apa jadi karyawan rajin kalau para atasannya "Bangsat" semua.

Bangsat, adalah sebuah kata makian yang ditujukan kepada seseorang yang sangat menyebalkan. Ada juga sebagian masyarakat di Indonesia yang menyebut jenis serangga kecil penghisap darah yang hidup pada busa kasur maupun sofa, biasanya serangga jenis ini menyerang dan menggigit bagian bokong atau pantat. Konon rasa gigitannya sangat perih dan gatal, ketika digigit serangga kecil ini sering kali hardikan si korban ; "bangsat !!".

Adalah Doblang, salah seorang manajer pada BUMN tersebut. Sebagai salah seorang pimpinan alias boss divisi pada BUMN berintegritas tersebut tentu saja dia kerap memarahi dan menegur bawahanya yang menurutnya tidak disiplin, dia tidak suka kepada bawahannya yang pulang kantor mendahuluinya meskipun memang sudah jam pulang kantor normal. Karena menurutnya semua karyawan harus loyal kepada perusahaan termasuk dalam hal memberikan waktu lebih kepada perusahaan, jikalau perlu harus mengkorbankan waktu berkualitas untuk diri sendiri maupun waktu berkualitas bersama keluarga.
Doblang pernah berkata kepada jajaran bawahannya yang resah; "jangan selalu mempertanyakan apa yang perusahaan beri kepada kalian, tanyakanlah apa yang sudah kalian beri kepada perusahaan ini".

Tentu saja soal-soal timbal balik kontribusi karyawan-atasan kepada perusahaan menjadi sesuatu yang absurd pada BUMN tersebut. Bagaimana tidak, ketika para atasan selain mendapat gaji sebagaimana golongan kekaryawanannya, mendapatkan juga tunjangan jabatan seperti; uang tunjangan jabatan, kendaraan roda empat untuk operasional beserta penggantian bahan bakarnya, pulsa untuk telepon genggamnya, penggantian biaya parkir dan tol, biaya entertainment relasi, belum lagi pendapatan dari proyek-proyek tender yang memang pejabat seperti Doblang memiliki akses kesana.
Keadaan itu berbanding terbalik dengan kondisi karyawan bawahan yang mendapat upah hanya dari gaji pokok dan transport yang sangat "pas", ...... "pas" akhir bulan "pas"-ti habis uang atau bahkan "pas" untuk 2 mingguan saja.

Sudah menjadi rahasia umum pada BUMN tersebut bahwa sebagian besar mereka yang mendapat jabatan sebagai boss adalah mereka yang bisa dekat secara pribadi kepada orang-orang yang sedang menjabat dan hasil "jaringan pertemanan" yang dikuatkan. Bukan "jaringan pertemanan" biasanya tentunya, karena entah sejak kapan dimulainya di BUMN itu para boss memiliki hobi mencari kenikmatan di tempat pijat dengan bumbu seks, karaoke dengan bumbu seks, golf dengan bumbu seks, intinya semua kenikmatan hidup berbumbu seks. Mereka berdalih hal itu wajar dan layak sebagai upaya meredakan ketegangan setelah bekerja keras mengejar omzet besar perusahaan.
Apakah semua kenikmatan itu dengan biaya sendiri?, tentu tidak, selama bisa dibuat dalih "meng-entertaint relasi" maka semua kenikmatan itu menjadi beban tanggungan perusahaan.
Apakah para istri mereka tahu kelakuan para suaminya itu?, tentu (mungkin) tidak, sepanjang para istri terus dilenakan dengan uang dan kemewahan lainnya, biasanya para istri senang dan tenang saja.

Kembali kepada soal "jaringan pertemanan", adalah model pertemanan yang kerap pergi bersama biasanya di akhir pekan hari kerja untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan berbumbu sekslah yang malah mendapat peluang menjadi pejabat atau boss pada BUMN tersebut.
Kemudian yang paling penting dari semua hal jika ingin berkarir cemerlang, harus pandai menyenangkan hati boss, melayani kemauan bos dan jangan pernah mengatakan tidak kepada semua kebijakan, instruksi ataupun keinginan boss meski buruk sekalipun.

Suatu kali Doblang ditanya oleh rekan sejawatnya apa rahasia selalu mendapat jabatan dan mempertahankannya. Sambil tersenyum Doblang menjawab, "ini adalah seni, kawan,...seni". Dia tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari seni, bisa jadi semua yang berhubungan dengan air seni yaitu alat kelamin, ....bisa jadi.
Sedangkan dari perspektif Robod, makna seni seperti dimaksud Doblang adalah; seni menjilat ke atas, menginjak ke bawah.

Sudah 2 minggu ini Robod menggerutu kesal, karena bonus tidak dikeluarkan juga oleh perusahaan. Tentu saja jika urusan bonus bukan hanya Robod yang berharap-harap cemas melainkan seluruh karyawan bawahan. Rumor bonus akan dikeluarkan awal bulan ternyata isapan jempol belaka, sampai minggu ketiga bulan itu belum juga ada tanda-tanda bonus akan dikeluarkan. Padahal karyawan seperti Robod sangat mengharap bonus itu untuk membayar ongkos dapur rumahnya agar selalu mengebul, biaya sekolah anak-anaknya dan membayar hutang-hutang dan tagihan rutin lainnya.
Setelah penantian panjang, melelahkan dan membuat putus asa, akhirnya bonus keluar juga di awal minggu bulan berikutnya. Namun Robod kecewa dikarenakan jumlahnya menurutnya sangat jauh dari cukup. Robod menghardik dalam hati, "sialan bonus udah keluarnya lama, pake alasan kondisi keuangan perusahaan sedang lesu, sekalinya keluar cuma segini aja. Ini sih 1 minggu aja bakal habis tak bersisa. Padahal kata Direktur pada waktu acara Family Gathering 3 bulan lalu perusahaan mendapat laba besar, mana buktinya?, omong kosong semua!"

Esok harinya entah mendapat keberanian dari mana, Robod berniat menanyakan langsung kepada atasannya yakni si Doblang, dia sungguh-sungguh berniat secara verbal. Robod mengetuk pintu ruangan Doblang.
"Permisi pak Doblang, saya ada perlu bicara". Doblang mempersilahkan masuk dan duduk kepada Robod dengan raut muka dan tatapan menyepelekan. Robodpun masuk namun menolak duduk.
"Ada apa Rob?", tanya Doblang. "Pak, kenapa bonus saya kecil?", tanya Robod. Nampak raut muka Doblang semakin menyepelekan, kemudian berkata, "kamu udah dapet bonus aja udah bagus, kinerja kamu berantakan gitu. Sudah sering datang kesiangan sering pula minta ijin cuti".
Robod balas menjawab, "loh pak tapi kan semua pekerjaan saya selesai". Mendapat dalih sekenanya dari Robod, Doblang naik pitam, "sampeyan pikir ini perusahaan nenek moyang sampeyan!!??, sampeyan kerja seenaknya aja. Disini tidak sekedar dituntut kerjaan selesai, tapi juga kepatuhan, kedisiplinan, dan jangan lupa yang satu ini integritas sampeyan sebagai karyawan BUMN!!", hardik Doblang. Rupanya Doblang sudah sangat kesal. "Keluar sampeyan !!", sampeyan ini buang waktu saya saja", sambung Doblang.

Robod keluar dari ruangan Doblang sambil menahan amarahnya.

Tak lama kemudian terdengar teriakan, "Woyy Doblang!!, keluar lo !!", ternyata itu Robod.
Parang sepanjang sekitar 30 centimeter digenggam di tangan kanannya. "Anjing lo!, penjahat kelamin lo!, babi rakus!, tuyul kantoran lo!, tikus berdasi lo!, penjilat lo!, lidah basah lo!", rentetan maki Robod kepada Doblang dari luar. Rupanya Robod sudah menyiapkan parang yang terasah dan kemarahannya itu sedari rumah.
"Hari ini kepala lo harus pisah dari badan lo!, dasar pemakan rejeki orang, penindas bawahan, BOSS BANGSAT !!", sambung Robod.
Tiba-tiba Robod mendengar suara istrinya, "ayah bangun yah, udah setengah 7, kerja ga?, masa mau bolos lagi?". Robod pun bangun, bergegas, dia kesiangan lagi.