Senin, 03 November 2014

Sumpah Serapah Karyawan Level Bawah Kepada Boss Bangsat

Pada sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antah berantah, bekerjalah disana beratus karyawan. Manajemen menanamkan serta senantiasa menggembor-gemborkan sebuah jargon yang berbunyi ; I-N-T-E-G-R-I-T-A-S.
Tidak banyak yang paham betul makna kata integritas itu sendiri, sekalipun kebanyakan karyawan dari BUMN itu sendiri, bahkan ironisnya para pejabatnya sekalipun.  Lebih gila lagi si pencetus jargon integritas itu sendiri tidak sungguh-sungguh paham maknanya.

Suatu kali direktur BUMN tersebut menginstruksikan bahwa perusahaan harus bersih dari kegiatan kolusi, yakni menggunakan atau menghalalkan segala cara demi tercapainya laba perusahaan termasuk diantaranya melakukan penyuapan kepada sebuah institusi tertentu agar mendapat kemudahan ijin usaha. Pokoknya semua tindakan perusahaan harus mengedepankan etika dan moralitas serta konsekwen menerapkan prinsip tata kelola perusahaan pemerintah yang baik dan benar.
Hingga suatu saat di penghujung tahun pada bulan Desember si direktur BUMN memberikan sebuah instruksi kepada bagian operasional. Instruksinya adalah memberikan tenggat waktu sampai pertengahan bulan Januari tahun depan untuk mendirikan unit usaha di 15 titik tempat bagaimanapun caranya.
Tentu saja para staf operasionalnya sudah mahfum apa yang mesti dilakukan demi mewujudkan keinginannya si direktur, yaitu dengan cara menyuap institusi pemberi ijin usaha.
Maka pada tenggat waktu yang ditentukan olehnya, 15 gerai unit usaha pada 15 titik tempat pada tanggal 15 bulan januari, si direktur BUMN tersebut dengan bangga meresmikannya.

Adalah Robod, seorang karyawan level bawah BUMN tersebut sangat muak akan retorika dan omong-kosong yang selama ini berlangsung di perusahaannya. Karirnya mandeg sedangkan tuntutan kehidupan dan kewajiban menafkahi keluarga demikian menghimpitnya. Setiap hari hanya keterpaksaan yang mengharuskan dia tetap bertahan bekerja di BUMN tersebut, itupun sudah banyak hari dia absen membolos kerja dengan berbagai alasan seperti; sakit, mengantar anak sekolah atau imunisasi, mengantar orangtua, mengantar istri bekerja, kendaraan mogok, kompleks rumahnya kebanjiran sampai dengan alasannya yang paling unik dan berkarakter adalah kepalanya tidak sengaja menghantam pintu lemari kamarnya sendiri. Ketika sebagian besar orang merasa kesusahan jika banjir melanda lingkungan tempat tinggal, namun tidak bagi Robod, banjir adalah momen yang membahagiakan karena dia mendapat alibi yang mutlak untuk tidak bekerja.
Menurutnya buat apa jadi karyawan rajin kalau para atasannya "Bangsat" semua.

Bangsat, adalah sebuah kata makian yang ditujukan kepada seseorang yang sangat menyebalkan. Ada juga sebagian masyarakat di Indonesia yang menyebut jenis serangga kecil penghisap darah yang hidup pada busa kasur maupun sofa, biasanya serangga jenis ini menyerang dan menggigit bagian bokong atau pantat. Konon rasa gigitannya sangat perih dan gatal, ketika digigit serangga kecil ini sering kali hardikan si korban ; "bangsat !!".

Adalah Doblang, salah seorang manajer pada BUMN tersebut. Sebagai salah seorang pimpinan alias boss divisi pada BUMN berintegritas tersebut tentu saja dia kerap memarahi dan menegur bawahanya yang menurutnya tidak disiplin, dia tidak suka kepada bawahannya yang pulang kantor mendahuluinya meskipun memang sudah jam pulang kantor normal. Karena menurutnya semua karyawan harus loyal kepada perusahaan termasuk dalam hal memberikan waktu lebih kepada perusahaan, jikalau perlu harus mengkorbankan waktu berkualitas untuk diri sendiri maupun waktu berkualitas bersama keluarga.
Doblang pernah berkata kepada jajaran bawahannya yang resah; "jangan selalu mempertanyakan apa yang perusahaan beri kepada kalian, tanyakanlah apa yang sudah kalian beri kepada perusahaan ini".

Tentu saja soal-soal timbal balik kontribusi karyawan-atasan kepada perusahaan menjadi sesuatu yang absurd pada BUMN tersebut. Bagaimana tidak, ketika para atasan selain mendapat gaji sebagaimana golongan kekaryawanannya, mendapatkan juga tunjangan jabatan seperti; uang tunjangan jabatan, kendaraan roda empat untuk operasional beserta penggantian bahan bakarnya, pulsa untuk telepon genggamnya, penggantian biaya parkir dan tol, biaya entertainment relasi, belum lagi pendapatan dari proyek-proyek tender yang memang pejabat seperti Doblang memiliki akses kesana.
Keadaan itu berbanding terbalik dengan kondisi karyawan bawahan yang mendapat upah hanya dari gaji pokok dan transport yang sangat "pas", ...... "pas" akhir bulan "pas"-ti habis uang atau bahkan "pas" untuk 2 mingguan saja.

Sudah menjadi rahasia umum pada BUMN tersebut bahwa sebagian besar mereka yang mendapat jabatan sebagai boss adalah mereka yang bisa dekat secara pribadi kepada orang-orang yang sedang menjabat dan hasil "jaringan pertemanan" yang dikuatkan. Bukan "jaringan pertemanan" biasanya tentunya, karena entah sejak kapan dimulainya di BUMN itu para boss memiliki hobi mencari kenikmatan di tempat pijat dengan bumbu seks, karaoke dengan bumbu seks, golf dengan bumbu seks, intinya semua kenikmatan hidup berbumbu seks. Mereka berdalih hal itu wajar dan layak sebagai upaya meredakan ketegangan setelah bekerja keras mengejar omzet besar perusahaan.
Apakah semua kenikmatan itu dengan biaya sendiri?, tentu tidak, selama bisa dibuat dalih "meng-entertaint relasi" maka semua kenikmatan itu menjadi beban tanggungan perusahaan.
Apakah para istri mereka tahu kelakuan para suaminya itu?, tentu (mungkin) tidak, sepanjang para istri terus dilenakan dengan uang dan kemewahan lainnya, biasanya para istri senang dan tenang saja.

Kembali kepada soal "jaringan pertemanan", adalah model pertemanan yang kerap pergi bersama biasanya di akhir pekan hari kerja untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan berbumbu sekslah yang malah mendapat peluang menjadi pejabat atau boss pada BUMN tersebut.
Kemudian yang paling penting dari semua hal jika ingin berkarir cemerlang, harus pandai menyenangkan hati boss, melayani kemauan bos dan jangan pernah mengatakan tidak kepada semua kebijakan, instruksi ataupun keinginan boss meski buruk sekalipun.

Suatu kali Doblang ditanya oleh rekan sejawatnya apa rahasia selalu mendapat jabatan dan mempertahankannya. Sambil tersenyum Doblang menjawab, "ini adalah seni, kawan,...seni". Dia tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari seni, bisa jadi semua yang berhubungan dengan air seni yaitu alat kelamin, ....bisa jadi.
Sedangkan dari perspektif Robod, makna seni seperti dimaksud Doblang adalah; seni menjilat ke atas, menginjak ke bawah.

Sudah 2 minggu ini Robod menggerutu kesal, karena bonus tidak dikeluarkan juga oleh perusahaan. Tentu saja jika urusan bonus bukan hanya Robod yang berharap-harap cemas melainkan seluruh karyawan bawahan. Rumor bonus akan dikeluarkan awal bulan ternyata isapan jempol belaka, sampai minggu ketiga bulan itu belum juga ada tanda-tanda bonus akan dikeluarkan. Padahal karyawan seperti Robod sangat mengharap bonus itu untuk membayar ongkos dapur rumahnya agar selalu mengebul, biaya sekolah anak-anaknya dan membayar hutang-hutang dan tagihan rutin lainnya.
Setelah penantian panjang, melelahkan dan membuat putus asa, akhirnya bonus keluar juga di awal minggu bulan berikutnya. Namun Robod kecewa dikarenakan jumlahnya menurutnya sangat jauh dari cukup. Robod menghardik dalam hati, "sialan bonus udah keluarnya lama, pake alasan kondisi keuangan perusahaan sedang lesu, sekalinya keluar cuma segini aja. Ini sih 1 minggu aja bakal habis tak bersisa. Padahal kata Direktur pada waktu acara Family Gathering 3 bulan lalu perusahaan mendapat laba besar, mana buktinya?, omong kosong semua!"

Esok harinya entah mendapat keberanian dari mana, Robod berniat menanyakan langsung kepada atasannya yakni si Doblang, dia sungguh-sungguh berniat secara verbal. Robod mengetuk pintu ruangan Doblang.
"Permisi pak Doblang, saya ada perlu bicara". Doblang mempersilahkan masuk dan duduk kepada Robod dengan raut muka dan tatapan menyepelekan. Robodpun masuk namun menolak duduk.
"Ada apa Rob?", tanya Doblang. "Pak, kenapa bonus saya kecil?", tanya Robod. Nampak raut muka Doblang semakin menyepelekan, kemudian berkata, "kamu udah dapet bonus aja udah bagus, kinerja kamu berantakan gitu. Sudah sering datang kesiangan sering pula minta ijin cuti".
Robod balas menjawab, "loh pak tapi kan semua pekerjaan saya selesai". Mendapat dalih sekenanya dari Robod, Doblang naik pitam, "sampeyan pikir ini perusahaan nenek moyang sampeyan!!??, sampeyan kerja seenaknya aja. Disini tidak sekedar dituntut kerjaan selesai, tapi juga kepatuhan, kedisiplinan, dan jangan lupa yang satu ini integritas sampeyan sebagai karyawan BUMN!!", hardik Doblang. Rupanya Doblang sudah sangat kesal. "Keluar sampeyan !!", sampeyan ini buang waktu saya saja", sambung Doblang.

Robod keluar dari ruangan Doblang sambil menahan amarahnya.

Tak lama kemudian terdengar teriakan, "Woyy Doblang!!, keluar lo !!", ternyata itu Robod.
Parang sepanjang sekitar 30 centimeter digenggam di tangan kanannya. "Anjing lo!, penjahat kelamin lo!, babi rakus!, tuyul kantoran lo!, tikus berdasi lo!, penjilat lo!, lidah basah lo!", rentetan maki Robod kepada Doblang dari luar. Rupanya Robod sudah menyiapkan parang yang terasah dan kemarahannya itu sedari rumah.
"Hari ini kepala lo harus pisah dari badan lo!, dasar pemakan rejeki orang, penindas bawahan, BOSS BANGSAT !!", sambung Robod.
Tiba-tiba Robod mendengar suara istrinya, "ayah bangun yah, udah setengah 7, kerja ga?, masa mau bolos lagi?". Robod pun bangun, bergegas, dia kesiangan lagi.

5 komentar:

  1. Asli gw suka banget nih tulisan,fuck off lah para pejabat dikantor gw yg dulu itu. 081289307001 itu nomer UBER TAXI gw bob. Can i meet you bro?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yo watsap bro!
      udah berhasil numbuhin rambut belom lo?, kalo belum you still can meet me. :D

      Hapus
  2. Anjing banget ne tulisan kena banget broo...bangsaat...lanjut broo

    BalasHapus
  3. Anjing banget ne tulisan kena banget broo...bangsaat...lanjut broo

    BalasHapus
    Balasan
    1. kena bagaimana maksudnya bro?, maju kena-mundur kena ya? hahaha..
      Ok deh, trims atensinya :)

      Hapus