Jumat, 14 Desember 2018

Sehari Bersama Max Havelaar

Antara 2 hari di akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu, aku lebih suka hari Sabtu. Sabtu adalah hari libur yang lepas dari memikirkan esok harinya. Beda hal dengan hari Minggu yang meski hari libur namun ada perasaan gundah, karena esok harinya Senin harus kembali beraktivitas ke kantor bagi si karyawan, atau ke sekolah bagi si pelajar. Sabtu pekan ini aku mengajak beranjangsana istri serta anak-anakku ke pantai Goa Langir yang terletak di Lebak, Banten Selatan, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Bayah. 

Mendengar nama Bayah terlintaslah dalam pikiranku satu nama dari seseorang di zaman dahulu kala, orang itu bernama Tan Malaka. Bisa dibilang ia pelopor awal kemerdekaan Indonesia. Di tahun 1921 dia menuangkan pemikiran dalam sebuah tulisan yang diberi judul “Naar Republik Indonesia”, yang berarti Negara Republik Indonesia. Jauh sebelum Proklamasi kemerdekaan tahun 1945 dia sudah memikirkan konsep bentuk Indonesia kelak, maka tak salah jika ada yang menganggapnya Bapak Republik Indonesia. 

Tan Malaka pernah singgah di Bayah dengan nama samaran Ilyas Hussein. Dia menyamar menjadi pekerja kasar di lokasi penambangan batu-bara, setelah bertahun-tahun melanglang-buana ke berbagai negara asing. Di tahun 40an sesaat sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, suatu malam dia bertamu ke rumah K.H Wahid Hasyim di Jakarta, yang tak lain ayah dari Abdurahman Wahid atau yang kita kenal sebagai Gus Dur. Antara K.H Wahid Hasyim dengan Tan Malaka memang sudah terjalin persahabatan, maksud kedatangannya selain berdiskusi soal bangsa, Tan Malaka mengatasnamakan Pemuda Bayah juga menyatakan dukungannya atas rencana Proklamasi kemerdekaan Indonesia agar dilaksanakan sesegera mungkin.

Bayah adalah kota kecil yang menghadap langsung dengan Samudera Indonesia di pesisir selatan Pulau Jawa. Kota ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lebak, provinsi Banten. Pantai Goa Langir terletak tidak jauh dari pusat kota Bayah. Pantainya indah, dengan hamparan pasir putih yang panjang, merupakan bagian dari pantai Sawarna. Di lokasi pantai Goa Langir terdapat 3 Goa lainnya yakni Goa Kanekes, Goa Harta Karun dan Goa Seribu Candi yang menggenapkan eksotisme suasana pantai itu. 

Goa Langir adalah goa terbesar, mungkin karena itulah nama lokasi pantainya dinamakan demikian. Aku mengambil rute perjalanan dari arah Malingping, masih di daerah pesisir selatan Lebak. Bukan tanpa alasan juga aku mengambil rute ini, karena kebetulan istriku dibesarkan di sebuah desa bernama Panjaungan, yang terletak antara Malingping dengan Bayah. Setiap hari raya Idul Fitri mesti kami mudik ke Panjaungan, jadilah aku sudah terbiasa dengan jalur ini. Memang sekalian juga liburan keluargaku ini menjenguk mertuaku di Panjaungan yang rencananya kami kunjungi sehabis dari pantai Goa Langir. 

Berangkat dari rumah di bilangan Jakarta Timur pukul 5 subuh, sampai di Malingping sekitar pukul 10 pagi menjelang siang. Sambil melepas lelah dan meluruskan kaki karena penat mengendarai mobil beberapa jam kami singgah dahulu di sebuah toko serba ada sekalian membeli bekal makanan ringan. “Wah, panas ya..”, kataku kepada anak-anak. Hari itu memang cerah, matahari bersinar dengan teriknya. Aku melirik kepada alat deteksi suhu yang terpasang di mobil, menunjukan angka 32 derajat celcius. Jam berapa sampai di pantai yah?”, tanya anakku yang paling besar. Aku jawab sekitar jam 12, pas waktu makan siang. 

Sepanjang perjalanan dari Malingping ke Bayah mulai dari suatu desa bernama Sukahujan kami disuguhi pemandangan pantai dan lautan lepas yang sedap dipandang mata. Sungguh sebuah terapi melepas penat dari tekanan bagi aku yang sehari-harinya bergelut dengan kemacetan jalan raya di Jakarta.

Ayah matikan ac-nya ya. Kita buka kaca aja”, ujar aku kepada istri dan anak-anak. “Yahh…jangan yah, gerah”, protes semua di dalam mobil. “Engga, percaya deh”, balasku. Pengatur suhu aku matikan, kaca mobilnya aku buka. Tidak berapa lama kemudian angin sejuk berhembus mengalir masuk ke dalam mobil, terasa kesejukan yang alami. 

Berbarengan dengan mengalirnya hembusan angin ke dalam mobil menyeruak pula suatu aroma yang khas, aroma lautan. Aku tidak dapat menerka dengan pasti sebenarnya aroma apakah itu, apakah berasal dari pasir pantai, air laut, rumput laut, hanyir ikan, tetumbuhan pantai, atau gabungan dari semuanya itu. Yang pasti aroma itu mampu menggugah indera penciumanku hingga memberikan efek rasa ketenangan dan kedamaian. 

Senang rasanya terbebas dari bau asap knalpot kendaraan yang memenuhi udara kota Jakarta. Aku melirik kepada istriku di sampingku ia Nampak menikmati perjalanan, mungkin sambil mengenang masa-masa sekolahnya dulu bersama sahabat-sahabatnya. Demikian juga anak-anakku di kursi belakang, mereka menatap ke arah lautan dengan deburan ombaknya. 

Sudah 8 tahun pernikahanku dengan istriku namun baru kali ini aku berkesempatan mengajak anak-anakku ke pantai Goa Langir. Jika libur mudik pantai-pantai di lokasi wisata jadi terlalu ramai oleh para wisatawan baik dari sekitar Lebak maupun dari luar Lebak, bahkan tidak sedikit wisatawan dari kota-kota lain di luar Banten. Aku jadi enggan ke lokasi wisata di masa libur lebaran karena rasanya sudah bosan dengan kepadatan kota Jakarta, tidak ingin lagi harus berdesakan dengan banyak orang. 

Tapi bukan berarti tidak mengajak piknik keluarga ke pantai samasekali, karena mulai dari Sukahujan sampai ke Bayah adalah garis pantai yang sangat panjang maka aku mengajak keluargaku mengunjungi pantai-pantai lain yang sepi namun pemandangannya tidak kalah indah. Berada di pantai yang sepi rasanya seolah menjadi pantai pribadi. 


Ayah, lihat itu di pinggir pantai ada tembok tebal seperti bekas jembatan!, apa itu ayah?”, kata anak bungsuku memecah keheningan. Aku melihat kepada reruntuhan tembok tidak jauh dari pantai yang ditunjuk anakku. Memang setahuku dari kisah sejarah di zaman kolonial Belanda di Bayah ini merupakan jalur kereta api untuk mengangkut komoditas batu-bara. Bekas jalur kereta api sudah mulai tampak mulai dari daerah Saketi. Aku pikir ini menarik juga sebenarnya jika jalur ini diaktifkan kembali untuk wisata sejarah, apalagi di jalur Bayah ini pemandangannya lautan lepas pasti akan sangat menarik wisatawan. 

Iya sayang, itu bekas jalur kereta api batu-bara zaman Belanda”, terangku kepada si bungsu. Sejenak pikiranku menerawang, “Gila juga ya orang Belanda dulu itu, mencari kekayaan negri ini sampai ke pelosok Bayah begini di zaman kuda gigit besi. Seperti apa wilayah Lebak selatan ini di zaman dulu?, sekarang saja masih cukup banyak hutan belantara”. Aku pikir Lebak memang menarik baik dari potensi alamnya seperti pantai-pantainya yang indah maupun kisah-kisah sejarahnya.


Bicara secara soal sejarah, di Lebak inilah terjadi dialektika awal lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia yang tercatat dalam sejarah hingga gaungnya mencapai negeri-negeri di barat khususnya Eropa. Adalah cikal-bakal kesadaran rakyat Indonesia sebagai sebuah bangsa yang ingin merdeka dari lepas penjajahan. 

Hal tersebut dikarenakan sebuah novel berjudul “Max Havelaar” yang ditulis seorang Belanda dengan nama pena Multatuli, nama sebenarnya adalah Eduard Douwes Dekker. Multatuli berasal dari bahasa latin yang berarti “aku yang telah banyak menderita. 

Max Havelaar pertama kali diterbitkan di tahun 1860, berkisah tentang kesengsaraan rakyat jelata Lebak akibat penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda maupun penguasa pribumi. Diceritakan dalam novel itu rakyat Lebak dipaksa menanam kopi sebagai bagian dari sistem tanam paksa (culture stelsel) untuk kemudian harus dijual kepada penguasa dengan harga sangat murah, belum lagi pajak tinggi yang harus dibayarkan kepada penguasa setempat yakni Regent atau Bupati, apabila tidak mampu membayar pajak maka harta milik rakyat yang paling berharga yakni kerbau akan diambil paksa sebagai ganti. Sedangkan kerbau kala itu adalah hewan yang sangat berarti bagi rakyat karena tenaganya digunakan untuk membajak sawah. Dapat dibayangkan betapa sengsaranya kehidupan rakyat Lebak. 

Max Havelaar membuat mata dunia menoleh kepada East Indies, sebutan untuk Indonesia saat itu. Masyarakat barat bagaikan terperangah mengetahui ada eksploitasi rakyat yang demikian buruknya di belahan bumi lain, sampai-sampai di negeri Belanda sendiri terjadi kegemparan yang memaksa pemerintah kolonial akhirnya mengeluarkan kebijakan Politik Etis atau Politik Balas Budi. 

Politik Etis mengharuskan pemerintah kolonial Belanda lebih memperhatikan nasib negeri jajahan agar tidak melulu mengeksploitasi kekayaan alamnya dan menindas rakyat pribuminya. Salah satu poin Politik Etis adalah di bidang pendidikan, dengan memberikan kesempatan kepada kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan formal di bangku-bangku sekolah. Dari sanalah kelak lahir kaum intelektual pribumi yang memiliki kesadaran menuntut kesamaan hak sebagai manusia dan kemerdekaan sebagai bangsa.

*******

Kecepatan sedang saja aku mengendarai mobil, sambil menikmati suasana jalan raya pesisir selatan Lebak yang tidak padat oleh kendaraan lain, bebas hambatan dan nyaris tidak berkelok seolah lurus saja, dengan suguhan pemandangan pantai yang indah. Tidak terasa sudah di pintu masuk wisata pantai Goa Langir. Aku toleh jam tanganku, pukul 11 lewat sedikit. Lebih cepat dari perkiraan ternyata. 

Di gerbang lokasi wisata ditunggui oleh beberapa orang petugas retribusi tiket masuk ke pantai. Tiket masuknya hanya 5000 rupiah per orang saja, untuk mobil tidak dikenakan biaya alias gratis. Kawasan pantai Goa Langir masih merupakan bagian dari komplek pantai Sawarna yang sudah lebih dahulu dikenal banyak wisatawan dengan karang Tanjung Layarnya, namun memiliki daya tarik berbeda pantai Sawarna. 

Di lokasi wisata pantai Goa Langir dari gerbang hingga menuju pantainya tidak terdapat pemukiman penduduk. Akses jalannya bersisian dengan bukit batuan karst setinggi kira-kira 25 meter sampai 50 meter. Pada gugusan perbukitan itulah terdapat 4 buah goa di bagian bawahnya.

Tidak jauh dari gerbang tadi aku melihat di sisi sebelah kiri jalan terdapat warung yang memiliki lahan parkir cukup lega untuk mobilku. “Kita parkir di situ aja ya, sekalian makan siang”, kataku kepada istri. Istriku setuju, terlebih anak-anakku mereka sudah lapar katanya ingin segera bersantap siang. Kami sengaja membawa makanan dari rumah karena niat kami memang piknik, “tapi minumnya kita beli ke warung yang punya lahan parkir ya, ga enak masa parkir di tempatnya tapi ga jajan ke warungnya,” sambungku. 

Terasa nikmat sekali santap siang kami, karena memang lapar dan pemandangan pantai di tempat kami singgah luar biasa indah. Panoramanya hamparan pasir putih dan cerahnya siang hari itu dengan biru langitnya yang sempurna. Pasir putih pantainya seolah memantulkan kembali sinar matahari yang menerpanya sehingga suasana menjadi seperti berkilauan. Aku takjub dengan pemandangannya. “Subhanallah, indah banget ya”, gumam istriku. Lokasi tempat kami makan siang itu dinaungi oleh rindangnya pepohonan, sehingga seberapa teriknya pun tetap terasa sejuk. “Ini macam surga dunia, hehe”, candaku.

Selesai juga bersantap, tiba waktunya menjelajah pantai Goa Langir. Aku ijin parkir saja mobilku di tempat ini kepada ibu pemilik warung. Ibu warung mempersilahkan dengan ramah. Tujuan utamaku mengajak keluarga ke pantai Goa Langir adalah mengunjungi pantainya yang memang terbukti indah. Namun setelah melewati saja 3 goa tanpa masuk ke dalamnya begitu tiba di mulut goa yang letaknya paling ujung dan terbesar yakni goa Langir ada terbesit rasa penasaran masuk ke dalamnya. 

Sayang sekali istri dan anak-anak enggan turut masuk ke dalam goa, “engga ah, takut”, kata mereka kompak. “Ga jauh sampai ke dalam banget, paling 10 meteran aja masuknya, penasaran dalamnya seperti apa”, aku coba membujuk mereka. Sia-sia mereka tetap enggan. Akhirnya aku memberanikan diri masuk seorang diri hanya mengandalkan cahaya lampu senter dari telpon genggamku. Tidak ada persiapan membawa senter memang, karena memang tidak ada niat jelajah goa. Gentar juga rasanya masuk seorang diri, namun rasa penasaran jauh lebih kuat, “ya sudah, ga perlu 10 meterlah masuk ke dalam, cukup hitungan langkah aja, 10 langkah”, aku bertawar nyali dengan diri sendiri.

Di mulut goa aku berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan, “Bismillah”, gumamku sambil mengambil langkah pertama. Hawa di serambi goa terasa lembab namun ada semilir angin sejuk yang berhembus seolah dari dalamnya. Tiba pada langkah ke tujuh aku menapakkan langkah pada permukaan yang basah dan licin menyebabkan aku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh. Aku coba bangkit namun kepalaku terasa berat, kelopak mata ini seakan memaksa aku terpejam saja. Kemudian semuanya menjadi gelap.

*******

Sedikit-sedikit aku mencoba membuka kedua mata ini namun masih terasa sulit rasanya, rasa nyeri masih sedikit terasa di bagian belakang kepalaku. Nampaknya aku terjatuh di dalam goa dan kepalaku terantuk batu. Tak lama kemudian samar-samar telingaku mendengar seperti seseorang sedang berpidato dengan aksen yang cedal.
         
Tuanku Raden Adipati Bupati Banten Kidul dan sekalian para Raden Demang yang menjadi kepala di daerah ini, tuan Raden Jaksa yang menjadi kepala polisi, serta Raden-raden dan Mantri-mantri serta seluruh kepala-kepala di daerah Banten Kidul. Terimalah salam hormat dari saya. Saya tahu diantara tuan-tuan terdapat ketinggian ilmu dan kemurahan hati, dengan demikian saya harap pengetahuan saya terhadap daerah Banten Kidul akan bertambah dengan ilmu tuan-tuan semua." 

"Saya membaca banyak hal-hal yang baik di Banten Kidul, rakyat tuan-tuan memiliki sawah-sawah di lembah-lembah dan adapula di gunung-gunung dan suasana di sini yang demikian damai. Tapi saya lihat rakyat tuan-tuan sekalian miskin. Mungkin karena itulah Tuhan mengutus saya ke tempat ini dimana ada banyak keadaan yang harus dibenahi kembali, untuk itu saya merasa gembira bertugas di tempat ini."

"Di luar sana banyak yang tidak mengerti kemiskinan di Banten Kidul sebab di sini banyak ladang-ladang dan curah hujan yang cukup, tanah yang gembur dan subur. Satu biji padi yang ditanam akan menghasilkan satu batang padi, sungguh mengherankan jika Banten Kidul miskin. Saya yakin ini bukan karena Tuhan menimpakan bencana kepada kita sehingga kita harus berkata; Yang demikianlah sudah kehendak-Nya. Negri kita ini miskin karena banyak kesalahan yang kita lakukan."

Terhenyak aku mendengar pidato seperti itu. Dari mulut siapakah gerangan kalimat-kalimat itu keluar. Sementara aku masih dalam posisi tidur terlentang pada kasur sambil menatap ke atas. Aku mulai merasa ada kejanggalan dengan tempat ini. Model dipan kasurnya seperti sudah sangat tua, terdapat tiang di tiap sikunya dengan atap dan kelambu. Aku paksakan juga untuk duduk disisi dipan, ku sapu segala penjuru kamar, menatap ke bawah ku lihat ubin lantainya bermotif seperti simbol kepanduan internasional berwarna hijau cerah. 

Dimana aku ini?”, tanyaku dalam hati. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapaan seseorang, “Je wordt wakker. Goedemiddag meneer!”, kata orang itu, seorang laki-laki berperawakan ras kaukasian atau yang biasa kita sebut “bule”. “Voel je je al gezond?”, sambungnya lagi. Aku semakin bingung dan sedikit panik. “I’m…, I’m sorry sir, I…I don’t understand your language”, balasku dengan terbata. “Ahh… speak English?, where do you come from sir?”, balasnya. “Actually sir, I’am from Indonesia”, balasku lagi. “Indo what?, indo…nesia?, by the name of God, where is that country?, I never heard any country in this world named Indonesia”, sahutnya. 

Aku semakin bingung, sedemikian tidak dikenalkah Indonesia olehnya. “I beg you pardon Sir, but I heard you just spoken in Indonesia”, kataku. “me?, spoken Indonesia?, when?”, tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Tampak olehku dia mengernyitkan dahinya. “Ah... you must be just heard me while I’m giving speech to the Regent, Demang and all Raden under my authority here in Banten Kidul. Well, that’s was Melayu. Jadi kamu bicara Melayu?”, tanya dia lagi kali ini mulai ada senyum di wajahnya dan wajahnya menjelaskan bahwa dia merasa lega, yang mana sebenarnya aku pun merasa demikian. 

Siapa kamu punya nama?”, kembali dia menginterogasiku. “Nama saya Permana tuan”, jawabku sambil menyodorkan telapak tangan mengajaknya berjabat tangan. “Dekker, Eduard Douwes Dekker”, Jawabnya lugas sambil balas menjabat tanganku. Mendengar nama itu aku jadi gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori. “Permana mengapa kamu kelihatan pucat seperti itu?, apakah kamu merasa tidak sehat?”, tanyanya heran. Aku mengumpulkan segenap kesadaran, kekuatan, sebenarnya juga keberanianku. Aku pejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam kemudian ku hembuskan perlahan. 

Aku pasti sedang bermimpi”, ku bicara dalam hati. Sejurus kemudian aku tampar pipi sebelah kananku sendiri, “Plak!”, ternyata terasa perih juga. “Permana kenapa kamu pukul sendiri kamu punya pipi?”, suara Douwes Dekker masih terdengar. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada diriku. 

Dine!, Dine!, breng me een glas water. Onze gast wordt wakker”, dia seperti memanggil seseorang. Tidak lama seorang perempuan kaukasian masuk ke dalam kamar membawa segelas air putih. “Hallo meneer, hoe gaat het?”, sapanya kepadaku sambil menunjukan senyum ramah. “Hij spreekt geen Nederlands. Hij spreekt melayu”, kata Douwes Dekker kepada perempuan itu. “Oh maaf, silahkan diminum airnya tuan”, kata perempuan itu kepadaku. “Terimakasih Nyonya ….”, balasku. 

Everdine van Wijnbergen. Saya istri dari Eduard”, sahutnya. Tentu saja aku mengetahui nama itu sebagai istri dari Douwes Dekker dari literasi sejarah tentang Max Havelaar yang aku baca. Rasa kebingunganku semakin menjadi-jadi, semua ini sungguh tidak masuk akal, tapi aku berusaha menyembunyikan kesan itu. “Nama saya Permana nyonya”, balasku. 

Kami bertiga kemudian berbincang-bincang kecil. Aku bertanya bagaimana aku bisa berada disini, Douwes Dekker berkata bawahannya menemukan aku tergeletak tidak sadarkan diri di tepi sungai dan membawa aku ke kediamannya sekaligus kantor Assisten Residen Lebak ini. 

Baiklah Permana, silahkan kamu lanjutkan istirahat. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Mari Dine kita biarkan tamu kita beristirahat”, kata Douwes Dekker sebelum menutup pintu kamar. 

Aku pergi menuju jendela kamar untuk melihat suasana diluar. Tampak olehku beberapa orang berpakaian seperti zaman kerajaan mengenakan beskap khas sunda berwarna hitam dan beberapa orang kaukasian juga mengenakan pakaian resmi berbahan seperti beludru berwarna biru tua dengan bordiran berwarna keemasan. 

Dari kamar bangunan tempatku beristirahat dengan bangunan yang nampaknya seperti kantor tidaklah berjauhan, hanya berseberangan dibatasi taman bunga yang terlihat terawat dengan apik. Ada tiang bendera di tengah-tengahnya, tampak oleh kedua mataku bendera Merah Putih Biru berkibar.

*******

Dentang jam Junghans terdengar bunyinya 7 kali, tadi sore Douwes Dekker berkata bahwa pukul 7 petang waktunya makan malam keluarga. Dia mengingatkan aku agar makan bersama keluarganya di meja makan di ruang tengah. Malam hari di tempat itu sumber penerangannya dari lampu minyak, tidak ada lampu bohlam, tidak ada listrik rupanya. 

Aku berjalan menuju ruang makan. “Selamat malam Permana”, sapa Dine menyambutku. Douwes Dekker sudah duduk di bangku utama meja makan yang posisinya di tengah. “Silahkan duduk Permana”, Douwes mempersilahkan aku. Setelah Douwes memimpin doa secara Nasrani sebelum bersantap kami pun menikmati hidangan.

Makan malam selesai namun aku dan Douwes Dekker belum beranjak dari meja makan. “Tuan Douwes Dekker saya terlupa menanyakan ini tadi siang, kita ini sedang berada dimana?, dan tahun berapakah ini?”, dua pertanyaan sekaligus aku utarakan. Douwes Dekker menjelaskan bahwa sekarang sedang berada di Rangkas Betung, ibu kota dari Banten Kidul dan sekarang tahun 1856. 

Mendengar penjelasannya aku jadi termangu. “Ini sungguh tidak masuk akal”, kataku dalam hati. Kemudian dia bercerita tentang tanah kelahirannya di Nederland, kesannya saat pertama kali menginjakkan kaki ke negri kolonial East Indies ini. Dia berkata bahwa dia merasa bersimpati kepada kaum pribumi rakyat jelata yang menurutnya orang-orang yang ramah, bersahaja, jujur dan juga pekerja keras. 

Saat dia bertanya kepadaku tentang asal-usulku aku jelaskan saja bahwa aku adalah kaum pribumi dari masa depan. “Negri ini akan merdeka tuan, negaranya kelak bernama Indonesia yang terdiri dari Sabang di ujung utara Sumatera sampai Merauke, atau New Holland di tanah Papua Barat. Penduduknya terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, namun kami berikrar tetap satu sebagai bangsa”. 

Aku jelaskan juga bahwa tanah Lebak tempat dia sekarang bertugas adalah tanah yang subur dan kaya, di bagian selatan terdapat hamparan pantai yang indah. Strata kemasyarakatan di tanah Banten memiliki 3 pilar utama yaitu Umara atau pemerintah, Ulama dan Jawara. Lebak juga memiliki keunikan yang khas yakni terdapat sekelompok masyarakat adat yang tetap mempertahankan budaya leluhur dengan hidup memisahkan diri dengan peradaban dunia luar bernama Suku Baduy. Letak tempat tinggal Suku Baduy tidak seberapa jauh lagi dari Rangkasbitung, ke arah Kanekes. 

Aku uraikan semua yang aku tahu tentang Lebak dan sejarah Indonesia, tampak Douwes Dekker menyimak dengan seksama dan antusias meski tidak dipungkiri juga terlihat raut kebingungan seolah tidak percaya dengan penjelasanku khususnya soal masa depan. 

Tuan Douwes Dekker ke tanah Lebak ini sebagai Asisten Residen, hendaknya tuan dapat melindungi hak-hak dasar rakyat jelata di Lebak ini”, tandasku. “Tentu saja Permana, saat pelantikan jabatan saya sudah bersumpah atas nama Tuhan bahwa saya akan melindungi rakyat dari penindasan, eksploitasi dan pemerasan”, jabarnya. 

Aku menyambung perkataanku kepadanya, “Maukah tuan berjanji kepada saya?, Tuan harus menulis segala pengalaman tuan selama bertugas sebagai Asisten Residen di Lebak ini”, pintaku kepadanya. “Tentu Permana, saya memang selalu menulis dan terbiasa membuat catatan-catatan terkait dengan tugas-tugas saya. Tapi mengapa kamu seperti menekankan perihal Lebak ini?, apakah memang Lebak sedemikian istimewa?, dan apakah tulisan saya tentang Lebak akan dibaca banyak orang?”, tanyanya kepadaku seperti keheranan. 

Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil, bahasa tubuh yang memintanya agar mempercayaiku. Aku tidak dapat membeberkan soal novel Max Havelaar dan nasibnya di masa depan, seperti ada pagar moralitas yang tidak ingin aku lompati dengan menceritakan nasib orang di masa depan seolah mendahului takdir Tuhan.

Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 1 dini hari, Douwes Dekker pamit tidur. Sebelum menuju tempat peraduannya dia memberiku 3 lembar kertas kosong dan pena beserta botol tintanya seraya meminta agar aku menulis semua hal yang menjadi topik diskusi dengannya supaya dia dapat mempelajarinya lebih lanjut soal-soal Lebak ini. Aku menyanggupinya. 

Sampai besok Permana. Selamat malam, selamat beristirahat”, katanya kepadaku. “Sama-sama tuan Douwes Dekker. Selamat malam”, balasku. Aku pun beranjak menuju kamar istirahat tamu di bagian depan rumah ini. Di luar hening sekali, tidak ada suara mesin kendaraan yang melintas, hanya terdengar suara serangga dan burung malam. Rasa kantukku sudah tidak tertahankan, sejadinya aku melemparkan tubuhku ke kasur dipan. Terlelap.

*******

Ayah…ayah..bangun yah!, bangun ayah!”, aku mendengar suara istri dan kedua anakku ditelingaku. Perlahan kubuka kelopak mataku. “Kenapa sekarang aku berada di kamar kediaman mertuaku di Panjaungan”, batinku mengenali kamar ini. Begitu aku membuka lebar kedua belah mataku, semua yang berada di kamar itu mengucap syukur. 

Seseorang dengan kalung stetoskop menghampiriku dan berkata, “Bapak pingsan selama 3 jam, kepala bagian belakang bapak terantuk batu di dalam goa, tapi syukurlah tidak ada tanda-tanda gegar otak”, rupanya dia dokter yang memberiku pertolongan pertama. Aku meraba kepala bagian belakangku, ada perban. 

Ayah sih nekat masuk ke dalam goa cuma pake senter hp”, protes anakku yang sulung. Aku hanya bisa tersenyum tanpa bicara. Aku tidak akan menceritakan apa yang aku alami kepadanya atau kepada siapapun juga. 

Saat semua orang sudah keluar kamar hanya tinggal aku sendirian, aku termenung mengingat apa yang telah ku alami, kemudian meraba kantung kemejaku. Tanganku menyentuh sesuatu benda panjang sekitar 15 sentimeter. Ternyata itu pena tinta yang diberikan Eduard Douwes Dekker kepadaku sebelum pamit tidur.                         
  
                                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar