Selasa, 15 Oktober 2019

Aktivis Mahasiswa

Gerakan mahasiswa angkatan '98 menduduki gedung MPR

Saat gerakan mahasiswa tahun '98 dengan tuntutan "Reformasi Total" berlangsung aku sedang duduk di semester 3 bangku perkuliahan. Dahulu aku anak muda yang lugu yang didadanya dipenuhi nilai-nilai idealis. Aku menilai segala sesuatu hanya "hitam-putih", tidak ada "abu-abu". Dahulu itu aku memandang rezim pak Harto berkuasa terlalu lama di Indonesia sehingga menjadi demikian absolut dan cenderung menyimpang, titik!. 

Demokrasi dibunuh, kekayaan negara dikuasai kelompok oligarki "Cendana", penegakan keamanan menggunakan pendekatan militeristik nan represif, stabilitas demikian terjaga bukan karena kesadaran warga negaranya namun karena ketakutan. Klimaksnya tahun 1997 krisis moneter menerpa Indonesia, rupiah langsung kolaps terhadap dolar Amerika yang mengakibatkan harga sembako dan bbm jenis premium membumbung tinggi karena negara tidak mampu memsubsidi.

Aslinya, aku ini mahasiswa yang apolitis. Duniaku hanya kampus kemudian pulang ke rumah, ditambah kegiatan yang bersifat hobi dan senang-senang layaknya anak muda yakni ngeband, naik gunung, nongkrong bareng teman-teman kompleks, dan pacaran. 

Di kampus ada beberapa teman yang kerap berdiskusi seputar politik nasional dan ideologi-ideologi. Aku hanya sekedar bersapa saja dengan mereka-mereka ini tidak mengakrabkan diri, toh aku pikir "lain dunia". Setiap hadir di kampus mereka sering terlihat kumal, karena jarang pulang ke rumah katanya, lebih sering di Basecamp (baca "beskem"). 

Barulah kemudian aku tahu bahwa yang disebut beskem adalah organisasi diluar lingkungan kampus. Sedangkan di kampus sendiri sebenarnya ada organisasi formal internal kampus, seperti yang aku tahu ada Senat Mahasiswa (sekarang disebut Badan Eksekutif Mahasiswa), adapula organisasi internal kampus yang bersifat unit kegiatan mahasiswa seperti Resimen Mahasiswa, Pencinta Alam, kesenian, kerohanian dan ilmu beladiri.

Dikarenakan satu angkatan dan satu kelas aku sesekali mendengar juga topik pembicaraan mereka, dan karena rasa ingin tahu sesekali pula aku nimbrung obrolan mereka. Tapi aku tidak berkomentar apa-apa, karena tidak terlalu paham, apalagi jika membahas seputar ideologi-ideologi seperti : fasisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme, perbedaan antara Islam politik dengan politik Islam, militerisme, sayap kanan, sayap kiri, konservatisme, proletar dan lain sebagainya, bisa pusing aku dibuatnya. 

Sekali waktu mereka berdiskusi tentang Soe Hok Gie, gerakan mahasiswa angkatan '66, lalu beranjak ke topik ketidakadilan sosial, kesewenang-wenangan aparat, penyerobotan lahan petani, jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat kecil yang tidak kunjung terwujud. Semua itu terjadi di Republik Indonesia yang sudah merdeka puluhan tahun ini. Pendeknya, kata mereka; "Indonesia tidak sedang baik-baik saja".

Namun demikian berteman dengan mereka-mereka ini bagiku ada juga manfaatnya. Paling tidak semua topik-topik diskusi menambah pengetahuanku, dan tentunya rasa ingin tahu. Aku jadi mulai membaca buku-buku dan koran, tontonan televisiku jadi bertambah tidak hanya menyaksikan tayangan video klip musik dan film lepas tapi juga menyaksikan berita nasional dan acara dialog. Perlahan aku mulai berpikir dan merasa bahwasanya benar ada yang tidak beres dengan negeri ini. Ya!, kita tidak sedang baik-baik saja!. 

Padahal sebelum berteman dengan mereka-mereka itu aku merasa baik-baik saja, ceria-ceria saja. Karena aku hobi musik maka aku hanya peduli dengan debut terbaru band favoritku dari Amerika atau Inggris yang biasanya dibarengi kemunculan video klipnya di televisi, tentunya tidak lupa juga band lokal favorit. Juga yang terpikir olehku adalah malam minggu ini nongkrong dimana dengan teman-teman atau rencana kencan dengan gebetan.  

**********

21 Mei 1998, adalah hari yang tidak akan terlupa bagiku. Ia tercatat dengan tinta emas dalam lembar catatan perjalanan hidupku. Itu adalah hari yang membahagiakan. Adalah hari ketika akhirnya pak Harto menyatakan "lengser keprabon" alias mundur. Aku merasa menjadi bagian dari sejarah gerakan perubahan di Indonesia, yang memang jika ditilik dari sejarah kontemporer Indonesia pergerakan nasional Indonesia kerap dipelopori oleh kaum pemuda. Sebut saja salah satunya adalah dimulai dari momen Sumpah Pemuda 1928.

Hari itu adalah hari yang mengharu-biru. Aku bersama barisan demonstran mahasiswa sudah berada di depan gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, sejak siang hari di tanggal 20 Mei 1998 hingga akhirnya merobohkan gerbang gedung parlemen itu sore harinya, kemudian malamnya bermalam di sana pula. Teringat masa-masa sebelumnya bersama teman-teman, kami menantang aparat baik Polisi maupun ABRI meskipun ada gentar toh kami hadapi juga, karena yakin apa yang sedang kami lakukan adalah membela kebenaran, untuk rakyat dan masa depan bangsa yang lebih baik. 

Panas terik matahari yang memantul di aspal jalanan tidak menyurutkan semangat perjuangan kami. Tembakan gas air mata dan peluru karet, dan bahkan ancaman peluru tajam sekalipun tidak menghentikan langkah kami. Betapa semangatnya aku dan teman-teman menjalani hari-hari aksi demontrasi mahasiswa meski pakaian dan rupa kami lusuh juga kusam bagaikan gembel. Meski sekedar duduk hanya beralas seadanya atau menggunakan jaket almamater di aspal atau trotoar sambil mendengarkan orasi, meskipun makan hanya nasi bungkus dengan menu alakadarnya, atau makan hanya ala warung tegal, toh semua kesusahan terbayar dengan jatuhnya rezim Orde Baru.                   

Paska 21 Mei 1998, aku merasa tanggungjawabku sebagai pemuda harapan bangsa sudah selesai. Bagiku itu berarti aku kembali ke bangku perkuliahan, kembali menjadi anak band, kembali mendaki gunung, kembali nongkrong seru bareng teman-teman komplek dan kembali kencan dengan pacar. Namun tidak dengan teman-teman kampusku yang aku ceritakan di awal. Mereka tetap melanjutkan aksi demonstrasi, mereka tetap terus menggalang massa mahasiswa untuk turun ke jalan. Setelah bergaul dengan mereka kemudian bersama bergabung dalam barisan demonstran gerakan mahasiswa '98 barulah aku mengenal istilah dan "dunia" mereka; Aktivis Mahasiswa. 

Adalah satu peristiwa yang dinamakan Tragedi Semanggi 1, yang terjadi pada 11 hingga 13 November 1998. Bentrokan terjadi antara aparat keamanan yang terdiri dari Polisi dan ABRI dibantu ormas yang dinamakan Pam-swakarsa melawan massa demonstran mahasiswa. Pada peristiwa itu tidak sedikit korban yang tewas baik dari pihak mahasiswa, pelajar, masyarakat sipil bahkan aparat.

Aku tidak turut serta pada aksi mahasiswa saat peristiwa Semanggi 1 pecah. Aku sedang naik gunung bareng teman tongkrongan dan gebetan. Karena aku pikir perjuangan "Reformasi Total" sudah selesai, ternyata tidak. Indonesia belum baik-baik saja rupanya. 

********

Waktupun terus bergulir, akhirnya aku meninggalkan bangku kuliah. Aku meraih gelar sarjana strata 1. Kemudian aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Fase baru dalam hidupku, menjadi karyawan kantoran. Aku dan teman-teman kampusku pisah jalan, menapaki kehidupan masing-masing. Demikian juga dengan teman-teman aktivisku, entah kemana dan menjadi apa mereka. Kami kehilangan kontak. 

Aku menjalani kehidupan "normal", fasenya klise; lulus kuliah, jadi karyawan, menikah, punya anak, akhir pekan menghabiskan waktu bareng keluarga ke mall atau ke tempat wisata, setahun sekali ikut family gathering yang digelar kantor, seperti itulah.   

Bertahun-tahun kemudian, sekitar tahun 2017 semesta mempertemukan aku dengan teman-teman saat gerakan mahasiswa '98 dulu. Tak dinyana, teman-teman aktivis yang dahulu berpenampilan kumal sekarang ada yang menjadi komisaris BUMN, kepala daerah, anggota parlemen atau fungsionaris partai politik besar. Penampilan mereka berubah total menjadi necis.

"Ketidakadilan sosial, kesewenang-wenangan aparat, penyerobotan lahan petani, jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat kecil yang tidak kunjung terwujud", tidak lagi menjadi pilihan topik favorit pembicaraan mereka. Topik yang menarik berubah menjadi misalnya; kesiapan menghadapi era revolusi digital "four point o", kesiapan sumber daya manusia Indonesia menghadapi era perdagangan bebas dan isue-isue ala milenial lainnya.   

Jika aku dimintakan pendapat jujur setelah melewati 5 Presiden sejak rezim Pak Harto tumbang, persoalan-persoalan bangsa Indonesia sebagaimana aku kemukakan di awal tulisan masih belum tuntas, bahkan sekarang persoalan korupsi masih membelit kencang hingga mencekik negeri ini. Meski harus diakui juga ada perubahan besar dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia yang tidak mungkin dirasakan di era pak Harto, yakni kebebasan netizen di media sosial dan kekuasaan ekonomi tidak lagi dikuasai lingkungan "Cendana" namun kelompok-kelompok elit baru bermunculan. 

Aku jadi teringat dahulu ketika aku dan teman-temanku saat masih menjadi mahasiswa dan bersama menjadi demonstran, kami menganggap bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaannya adalah; apakah saat ini Indonesia sudah berubah menjadi baik-baik saja seiring dengan kondisi ekonomi para aktivis yang semakin sejahtera?, sehingga topik kesejahteraan bangsa yang belum terwujud dan kemakmuran yang baru dinikmati oleh segelintir kelompok elit negri tidak lagi menarik dibahas. Ini bukan sebuah pernyataan berbentuk pertanyaan, namun aku sedang sedang bertanya pada diriku sendiri.

Pertanyan-pertanyan itu membawaku kepada sebuah pemahaman baru atas persoalan bangsa ini, bahwa ternyata semua tidak dapat dinilai secara "hitam-putih" belaka. Di sana ada wilayah abu-abu, atau polos saja alias tanpa warna, atau bahkan terkadang berwarna-warni begitu indahnya. Aku sudah semakin ke fase sintesa pikir bahwa "Bung Karno ada baiknya ada tidak baiknya, Pak Harto ada baiknya ada tidak baiknya", kurang lebih seperti itu metaforanya jika pendekatannya "politis".  

Menurutku saat ini yang penting adalah bagaimana hidup bisa memberi manfaat nyata ke masyarakat sekitar meskipun dengan hal yang nampak remeh, misalnya memberi sekedar seribu atau dua ribu rupiah atau sepatutnya kepada "polisi putar balik" di jalan raya.

*********

Pemuda, khususnya kelompok mahasiswa adalah anak zaman. Ia dengan segenap jiwa idealismenya dan nalar kritisnya akan selalu menjadi antitesis bagi generasi sebelumnya.  Ia harus dan akan selalu hadir untuk memberi koreksi kepada kesalahan-kesalahan lama, atau menegur penguasa, demi masa depan yang lebih baik untuk bangsa ini. Mereka masih polos tidak terkontaminasi kepentingan politik praktis dan belum terdesak kebutuhan hidup, terlepas mereka aktivis atau non-aktivis. 

Menyaksikan ada pemuda, setelah membaca novel bertema distopia dari George Orwell dalam buku 1984 atau Animal Farm, atau selesai membaca tulisan tentang Che Guevara, atau setelah membaca ide-ide dan wacana-wacana apapun, kemudian mereka menyimpulkan; "Indonesia sedang tidak baik-baik saja", membuatku tersenyum. 


#selesai#    

    


Tidak ada komentar:

Posting Komentar