Selasa, 12 November 2019

Joker Versus Masyarakat yang Sakit

credit pict from comicbook.com
Beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan oleh penayangan film “Joker” di bioskop yang premiernya 2 Oktober 2019. Film tersebut disutradarai Todd Phillips dan merupakan franchise dari komik DC. Sebelum film Joker terbaru ini, pada film The Dark Knight yang disutradarai Christopher Nolan rilisan 2008 lalu Joker juga hadir. Namun Joker pada kedua film tersebut bukanlah narasi pertempuran “jagoan versus penjahat” sebagaimana pemahaman anak-anak. Kehadiran Joker pada dua film itu menawarkan konsep kritik atas tatanan masyarakat yang sedang sakit (sick society).  

Joker versi Chritopher Nolan tahun 2008 berjudul film “The Dark Night”. Tokoh sentral utamanya adalah Batman, sedangkan Joker (diperankan dengan ciamik oleh Heath Ledger) menjadi “tokoh utama” lain, tepatnya pihak yang berseberangan dengan Batman, menjadi rival tangguhnya.

Film The Dark Night berseting pada sebuah kota besar fiksi di Amerika bernama Gotham. Gotham digambarkan sebagai kota yang nampak modern pada permukaannya, namun yang tidak nampak secara kasat mata adalah kota ini sebenarnya menjadi habitat yang nyaman untuk organisasi-organisasi kejahatan besar (mafia) dalam menjalankan aktivitas bisnis illegal mereka karena dekat dengan para pejabatnya juga dengan oknum aparat penegak hukumnya. Bahkan di kota Gotham ada bank tempat para mafia menyimpan pundi-pundi uang keuntungan mereka. Kegiatan para mafia ini selalu lolos dari jeratan hukum karena para mafia menyuap pejabat dan para oknum aparat penegak hukum.

Pejabat yang korup serta munafik kemudian instrumen dan aparat hukum yang tidak dapat dipercaya membuat angka kriminalitas sangat tinggi di kota Gotham. Atas kondisi tersebut hadirlah Batman yang kemunculannya selalu pada malam hari. Batman bermaksud melindungi masyarakat Gotham dari tindak kejahatan yang diperbuat oleh para mafia dan begundalnya, maupun kriminalitas lain akibat tidak langsung dari kondisi kota Gotham yang tatanan sosialnya hancur tersebut.

Dalam menjalankan aksi heroiknya tersebut Batman tidak serta-merta berbuat sekehendaknya, dia masih berkordinasi dengan kepolisian kota Gotham. Batman hanya menangkapi para mafia dan pelaku kriminal yang sulit ditundukan polisi, proses hukum selanjutnya dia tetap menyerahkan kepada polisi dan sistem hukum formal kota Gotham.

Berbeda dengan Batman diatas, munculah satu karakter yang memproklamirkan dirinya bernama Joker. Digambarkan pada film The Dark Night, di awal film itu langsung diceritakan dia merampok bank dan menguras habis simpanan uang pada bank tersebut. Ternyata bank yang dirampok oleh Joker tersebut adalah bank tempat para mafia menyimpan uang-uangnya. Kemudian uang yang dirampoknya itu alih-alih digunakan untuk dinikmati ia malah membakarnya. Aksi Joker selanjutnya adalah membunuh Gubernur kota Gotham dan Hakim Pengadilan kota Gotham, kemudian berlanjut meledakkan rumah sakit umum kota Gotham.

Joker melakukan itu semua dengan maksud hendak menciptakan kondisi anarki,  dia ingin menghancurkan tatanan sosial yang dianggapnya sudah rusak, dia bermaksud hendak me-reset semua dari awal dengan menghancurkan semua tatanan lama. Dia tidak percaya hukum kota Gotham dapat merekaya sosial dikarenakan sistemnya sudah rusak dan aparaturnya manipulatif, munafik dan korup.    
   
*****

Film Joker besutan Todd Phillps tahun 2019 menceritakan seorang bernama Arthur Fleck (sukses diperankan oleh Jaquin Phoenix), seorang warga kelas bawah, yang untuk bertahan hidup bekerja sebagai badut pada sebuah agensi. Ia bertempat tinggal di apartemen kumuh dengan ibunya yang sakit. Sebagaimana film The Dark Knight, film Joker berseting di kota Gotham. Kota Gotham pada film Joker merupakan penggambaran mikro dari Gotham yang digambarkan film The Dark Knight. Gotham pada film Joker mendeskripsikan kehidupan dan interaksi antar warga kotanya.

Gotham pada film Joker digambarkan sebagai kota yang kumuh, mulai masalah sampah yang tak tertangani dengan baik, lapangan kerja yang sedikit, jurang antara si kaya dengan si miskin yang menganga, rasa empati dan tenggang rasa masyarakatnya pun demikian buruk, solidaritas masyarakat semakin pudar sedangkan individualistis dan apatisme semakin menguat. Kota tak ubahnya seperti rimba, mereka yang kuat yang bertahan dan menindas yang lemah. Kelompok yang kerap menjadi sasaran penindasan digambarkan adalah mereka yang bekerja sebagai badut.  
    
Arthur Fleck adalah salah satu warga kota Gotham dari golongan kelas bawah yang bekerja sebagai badut. Kesehariannya, dia tak jarang mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya. Hidup Arthur yang sudah berat, bertambah berat ketika dia dipecat dari pekerjaannya.

Kemudian secara tak sengaja dia menemukan surat ibunya untuk Thomas Wayne, konglomerat kota Gotham. Isi surat itu membuatnya marah dan terkejut, dia menemukan fakta bahwa ibunya saat muda pernah terlibat skandal dengan Thomas Wayne, dan seorang mantan pasien rumah sakit jiwa karena depresi parah yang dideritanya. Dia samar-samar mulai mengingat masa kecilnya yang sering disiksa secara fisik oleh ibu dan ayah tirinya.

Sebagai warga biasa ia juga memiliki mimpi kesuksesan hidup. Dia bermimpi menjadi komedian sukses dan kemudian diundang pada sebuah acara talk show di televisi yang menjadi tontonan favoritnya. Namun, lagi-lagi, hanya kekecewaanlah yang dia terima. Dia gagal sebagai komedian dan orang-orang seperti dirinya ternyata hanya menjadi bahan lelucon acara talk show favoritnya tersebut.

Pada klimaksnya Arthur menjadi orang yang mati rasa, kenyataan hidup yang kelam menjadi semacam shock therapy, dia kemudian menganggap bahwa hidupnya bukanlah tragedi melainkan komedi. Lalu ia membunuh teman kerjanya, ibunya, kemudian pembawa acara talk show favoritnya.

Film Joker tahun 2019 seolah menjadi penjelasan latar belakang kebrutalan seorang Joker pada karakter Joker di film The Dark Knight. Joker seperti sedang menghukum orang-orang yang menindasnya, yang melecehkan dan meremehkannyannya, bahkan “menghukum” ibunya sendiri yang dianggapnya biang keladi yang mula-mula membuat jiwanya terluka dan hidupnya susah. Pada tahap lebih lanjut dia menghukum pejabat dan oknum aparat hukum yang munafik, manipulatif dan korup. Pada intinya, dia sedang menghukum masyarakat yang sakit dengan cara menghancurkan tatanan sosial, dengan cara Anarkisme.

*****

Pada film The Dark Knight, Joker mengadakan yang ia sebut “eksperimen sosial”. Ia memasang bom pada dua kapal feri. Kapal feri yang satu berisi orang-orang yang dikategorikan “orang baik” yakni warga kota biasa yang tidak memiliki catatan kriminal di kota Gotham, sedangkan kapal feri satunya lagi berisikan para narapidana kota Gotham.

Joker mengumumkan, bahwa tepat pukul 12.00 tengah malam mereka yang di dalam kapal feri harus menekan tombol pemicu bom yang terpasang pada kapal feri lainnya. Bom pada kapal feri berisikan narapidana, tombol pemicunya di kapal feri berisikan “orang baik”, dan sebaliknya. Eksperimen sosial ini Joker ingin melihat siapakah yang lebih layak dimusnahkan oleh dua kubu yang berlainan golongan itu. Apakah para “orang baik” akan memutuskan menekan tombol bom yang meledakkan kapal feri berisikan para narapidana, atau sebaliknya, atau malah kedua kapal feri itu meledak karena mereka saling menekan tombol pemicu bom.

Tepat jam 12 tengah malam ternyata tidak satupun kapal feri itu meledak, rupanya orang-orang di kedua kapal itu memutuskan tidak akan “menghakimi” orang yang lain dengan meledakkannya. Mereka masih berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan. Jika coba memahami, hal itu merupakan sebuah penggambaran, bahwa obat dari kondisi masyarakat yang sakit tidak lain adalah masyarakat itu sendiri.
  
#Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar