![]() |
| credit pict from comicbook.com |
Beberapa
waktu lalu masyarakat dihebohkan oleh penayangan film “Joker” di bioskop yang
premiernya 2 Oktober 2019. Film tersebut disutradarai Todd Phillips dan
merupakan franchise dari komik DC. Sebelum film Joker terbaru ini, pada film The Dark Knight yang disutradarai Christopher Nolan rilisan 2008 lalu Joker juga
hadir. Namun Joker pada kedua film tersebut bukanlah narasi pertempuran “jagoan versus penjahat”
sebagaimana pemahaman anak-anak. Kehadiran Joker pada dua film itu menawarkan konsep kritik atas tatanan masyarakat
yang sedang sakit (sick society).
Joker
versi Chritopher Nolan tahun 2008 berjudul film “The Dark Night”. Tokoh sentral
utamanya adalah Batman, sedangkan Joker (diperankan dengan ciamik oleh Heath
Ledger) menjadi “tokoh utama” lain, tepatnya pihak yang berseberangan dengan
Batman, menjadi rival tangguhnya.
Film
The Dark Night berseting pada sebuah kota besar fiksi di Amerika bernama Gotham.
Gotham digambarkan sebagai kota yang nampak modern pada permukaannya, namun yang
tidak nampak secara kasat mata adalah kota ini sebenarnya menjadi habitat yang
nyaman untuk organisasi-organisasi kejahatan besar (mafia) dalam menjalankan
aktivitas bisnis illegal mereka karena dekat dengan para pejabatnya juga dengan
oknum aparat penegak hukumnya. Bahkan di kota Gotham ada bank tempat para mafia
menyimpan pundi-pundi uang keuntungan mereka. Kegiatan para mafia ini selalu
lolos dari jeratan hukum karena para mafia menyuap pejabat dan para oknum
aparat penegak hukum.
Pejabat
yang korup serta munafik kemudian instrumen dan aparat hukum yang tidak dapat
dipercaya membuat angka kriminalitas sangat tinggi di kota Gotham. Atas kondisi
tersebut hadirlah Batman yang kemunculannya selalu pada malam hari. Batman bermaksud melindungi masyarakat Gotham dari tindak kejahatan yang diperbuat oleh
para mafia dan begundalnya, maupun kriminalitas lain akibat tidak langsung dari
kondisi kota Gotham yang tatanan sosialnya hancur tersebut.
Dalam
menjalankan aksi heroiknya tersebut Batman tidak serta-merta berbuat
sekehendaknya, dia masih berkordinasi dengan kepolisian kota Gotham. Batman
hanya menangkapi para mafia dan pelaku kriminal yang sulit ditundukan polisi, proses
hukum selanjutnya dia tetap menyerahkan kepada polisi dan sistem hukum formal kota
Gotham.
Berbeda
dengan Batman diatas, munculah satu karakter yang memproklamirkan dirinya
bernama Joker. Digambarkan pada film The Dark Night, di awal film itu langsung
diceritakan dia merampok bank dan menguras habis simpanan uang pada bank tersebut. Ternyata bank yang dirampok oleh Joker tersebut adalah bank tempat
para mafia menyimpan uang-uangnya. Kemudian uang yang dirampoknya itu alih-alih
digunakan untuk dinikmati ia malah membakarnya. Aksi Joker selanjutnya adalah
membunuh Gubernur kota Gotham dan Hakim Pengadilan kota Gotham, kemudian
berlanjut meledakkan rumah sakit umum kota Gotham.
Joker
melakukan itu semua dengan maksud hendak menciptakan kondisi anarki, dia ingin menghancurkan tatanan sosial yang
dianggapnya sudah rusak, dia bermaksud hendak me-reset semua dari awal dengan menghancurkan semua tatanan lama. Dia
tidak percaya hukum kota Gotham dapat merekaya sosial dikarenakan sistemnya
sudah rusak dan aparaturnya manipulatif, munafik dan korup.
*****
Film
Joker besutan Todd Phillps tahun 2019 menceritakan seorang bernama Arthur Fleck
(sukses diperankan oleh Jaquin Phoenix), seorang warga kelas bawah, yang untuk
bertahan hidup bekerja sebagai badut pada sebuah agensi. Ia bertempat tinggal
di apartemen kumuh dengan ibunya yang sakit. Sebagaimana film The Dark Knight,
film Joker berseting di kota Gotham. Kota Gotham pada film Joker merupakan
penggambaran mikro dari Gotham yang digambarkan film The Dark Knight. Gotham
pada film Joker mendeskripsikan kehidupan dan interaksi antar warga kotanya.
Gotham
pada film Joker digambarkan sebagai kota yang kumuh, mulai masalah sampah yang
tak tertangani dengan baik, lapangan kerja yang sedikit, jurang antara si kaya
dengan si miskin yang menganga, rasa empati dan tenggang rasa masyarakatnya pun
demikian buruk, solidaritas masyarakat semakin pudar sedangkan individualistis
dan apatisme semakin menguat. Kota tak ubahnya seperti rimba, mereka yang kuat
yang bertahan dan menindas yang lemah. Kelompok yang kerap menjadi sasaran penindasan
digambarkan adalah mereka yang bekerja sebagai badut.
Arthur Fleck adalah salah satu warga kota Gotham dari golongan
kelas bawah yang bekerja sebagai badut. Kesehariannya, dia tak jarang
mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang di sekitarnya. Hidup Arthur yang
sudah berat, bertambah berat ketika dia dipecat dari pekerjaannya.
Kemudian secara tak sengaja dia menemukan surat ibunya untuk
Thomas Wayne, konglomerat kota Gotham. Isi surat itu membuatnya marah dan
terkejut, dia menemukan fakta bahwa ibunya saat muda pernah terlibat skandal
dengan Thomas Wayne, dan seorang mantan pasien rumah sakit jiwa karena depresi
parah yang dideritanya. Dia samar-samar mulai mengingat masa kecilnya yang sering disiksa
secara fisik oleh ibu dan ayah tirinya.
Sebagai warga biasa ia juga memiliki mimpi kesuksesan hidup. Dia
bermimpi menjadi komedian sukses dan kemudian diundang pada sebuah acara talk show di televisi yang menjadi
tontonan favoritnya. Namun, lagi-lagi, hanya kekecewaanlah yang dia terima. Dia
gagal sebagai komedian dan orang-orang seperti dirinya ternyata hanya menjadi bahan lelucon acara
talk show favoritnya tersebut.
Pada klimaksnya Arthur menjadi orang yang mati rasa, kenyataan
hidup yang kelam menjadi semacam shock therapy, dia kemudian menganggap bahwa hidupnya
bukanlah tragedi melainkan komedi. Lalu ia membunuh teman kerjanya, ibunya, kemudian pembawa acara talk show favoritnya.
Film
Joker tahun 2019 seolah menjadi penjelasan latar belakang kebrutalan seorang Joker
pada karakter Joker di film The Dark Knight. Joker seperti sedang menghukum
orang-orang yang menindasnya, yang melecehkan dan meremehkannyannya, bahkan “menghukum”
ibunya sendiri yang dianggapnya biang keladi yang mula-mula membuat jiwanya
terluka dan hidupnya susah. Pada tahap lebih lanjut dia menghukum pejabat dan
oknum aparat hukum yang munafik, manipulatif dan korup. Pada intinya, dia
sedang menghukum masyarakat yang sakit dengan cara menghancurkan tatanan sosial,
dengan cara Anarkisme.
*****
Pada
film The Dark Knight, Joker mengadakan yang ia sebut “eksperimen sosial”. Ia memasang
bom pada dua kapal feri. Kapal feri yang satu berisi orang-orang yang
dikategorikan “orang baik” yakni warga kota biasa yang tidak memiliki catatan kriminal
di kota Gotham, sedangkan kapal feri satunya lagi berisikan para narapidana
kota Gotham.
Joker
mengumumkan, bahwa tepat pukul 12.00 tengah malam mereka yang di dalam kapal
feri harus menekan tombol pemicu bom yang terpasang pada kapal feri lainnya.
Bom pada kapal feri berisikan narapidana, tombol pemicunya di kapal feri
berisikan “orang baik”, dan sebaliknya. Eksperimen sosial ini Joker ingin melihat
siapakah yang lebih layak dimusnahkan oleh dua kubu yang berlainan golongan
itu. Apakah para “orang baik” akan memutuskan menekan tombol bom yang
meledakkan kapal feri berisikan para narapidana, atau sebaliknya, atau malah kedua kapal feri itu meledak karena mereka saling menekan tombol pemicu bom.
Tepat
jam 12 tengah malam ternyata tidak satupun kapal feri itu meledak, rupanya orang-orang
di kedua kapal itu memutuskan tidak akan “menghakimi” orang yang lain dengan
meledakkannya. Mereka masih berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan. Jika coba memahami, hal itu merupakan sebuah penggambaran, bahwa obat dari kondisi masyarakat yang sakit tidak lain
adalah masyarakat itu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar