"Saya aja yang bakar ya paman tumpukan sampahnya", kata Iwo kepada pamannya. Sampah rumah-tangga dibelakang rumah paman Iwo nampak semakin menggunung apalagi seminggu yang lalu neneknya Iwo meninggal dunia karena usia yang sudah sangat sepuh, meninggalkan pula barang-barang tua dan usang yang disimpan begitu saja oleh si nenek di salah satu kamar rumah pamannya sampai saat-saat akhir hidupnya.
Setelah kamar itu dibersihkan ternyata banyak barang-barang yang tidak terpakai, termasuk kain-kain rombeng bekas nenek.
"Jangan", kata pamannya kepada Iwo. "Pamali, ada kain-kain bekas nenek. Tidak boleh membakar bekas pakaian orang yang sudah meninggal", sambungnya.
"Masa iya paman?, lah orang Cina malah dibakar sama jenazah-jenazahnya, orang Bali juga", bantah Iwo.
"Ya mereka kan agamanya lain, Tuhannya beda", timpal paman lagi.
"Tuhannya beda, ......TUHANNYA BEDA",..... kalimat itu terngiang di telinga Iwo, kemudian merasuk ke alam pikirnya. Bukankah sebagai Muslim (atau boleh jadi ajaran agama lain pula) kita bersaksi "Tiada Tuhan selain Allah"?, dan kita wajib menanamkan ke dalam akal-hati-jiwa bahwa Tuhan itu Ahad, Tuhan itu satu.
Iwo merenung dan merasa ada sebuah paradoks pemikiran, ....... bahwa kita wajib meyakini Tuhan itu Satu, tapi disatu sisi kita "meyakini" pula ada "beberapa tuhan", ada "tuhan yang lain", ada "tuhan yang beda".
Bahkan ada diantara kita yang saling menghujat bahkan saling berbunuh "membela tuhan masing-masing".
Bobby Revolta, 24 Juli 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar