Kamis, 30 Juli 2015

Ke-GR-an Disamper Malaikat



Siang itu aku mengantar istri ke terminal bus, ia ada keperluan ke rumah orang-tuanya di kampung. Setelah memastikan dia menaiki bus sesuai tujuan aku tidak langsung pulang karena aku pikir tidak lama lagi akan masuk waktu dzuhur langsung saja aku mengarahkan langkahku menuju masjid terminal itu untuk melaksanakan sholat dzuhur.
Setelah berwudhu aku duduk bersimpuh pada pelataran masjid itu menunggu saat-saat azan yang kira-kira tinggal 2-3 menit lagi.
Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang sudah nampak tua menghampiriku, dia mengenakan celana bahan berwarna abu-abu, memakai batik yang warna coraknya mulai pudar dan lusuh, berkacamata tebal dan memakai kopiah dengan warna hitam yang sudah pudar pula.
“Darimana nak?”, tanyanya kepadaku kalimat pembuka basa-basinya. Ku jawab, “abis nganter istri pak”.

Kemudian dia bercerita bahwa ia berasal dari kota yang cukup jauh dari terminal kota ini bermaksud hendak menjemput istrinya dari ibu-kota namun sial sang istri terlanjur pulang terlebih dahulu dari si bapak itu, yang menjadi masalah adalah si bapak itu kehabisan ongkos untuk kembali pulang ke kotanya. Ia kemudian menanyakan kepadaku apakah kiranya aku dapat membantunya memberi ongkos pulang kepadanya barang Rp 15.000,- atau Rp 20.000. Tentu saja dengan senang hati aku ingin membantunya karena aku merasa kasihan kepada bapak itu. Aku pun memberinya Rp. 20.000, dia nampak senang sekali dan mengucapkan terimakasih kepadaku kemudian berlalu hendak mengambil wudhu katanya.

Akhirnya adzan dzuhur berkumandang, aku pun kemudian sholat berjamaah bersama orang yang hadir di masjid terminal itu. Selesai sholat aku teringat kembali kepada Bapak itu, aku berpikir karena ini bula Ramadhan boleh jadi bapak tadi merupakan jelmaan malaikat.

Seminggu kemudian aku kembali ke terminal itu, kali ini aku yang hendak bepergian ke luar kota. Lagi-lagi aku tiba di terminal itu menjelang dzuhur, aku pun bermaksud hendak sholat terlebih dahulu sebelum menaiki bus kota tujuanku.Waktu adzan masih kurang 15 menit lagi, aku duduk di pelataran masjid menunggu adzan. Beberapa saat kemudian masuklah ke pelataran masjid seorang bapak tua yang ciri-ciri fisiknya sama persis dengan yang bertemu dan meminta bantuanku seminggu yang lalu. Kali ini dia tidak melihatku. Aku perhatikan saja gerak-geriknya diam-diam. Dia menghampiri seorang pemuda yang duduk sendirian, akupun memasang kuping mendengar percakapan mereka berdua. Jarakku dengan mereka tidak terlalau jauh sehingga terdengar jelas percakapan mereka. Ajaib….., dialog bapak dengan pemuda itu kurang lebih sama persis dengan pengalamanku seminggu yang lalu, aku bagaikan mengalami dejavu. Aku gelengkan kepalaku sambil tersenyum kecut….ternyata.. 

Tidak lama kemudian aku melihat bapak itu beranjak pergi ke tempat wudhu, aku pun menghampiri pemuda yang barusan bercakap-cakap dengan bapak tadi untuk memastikan kecurigaanku. “Mas…maaf, abis ngobrol sama bapak-bapak tadi ya?”, tanyaku. “Iya”, jawabnya. Aku melanjutkan, “Apa dia bilang dari kota yang jauh datang ke terminal ini ingin menjemput istrinya yang datang dari ibu-kota tapi ketinggalan bus dan kemudian dia kehabisan ongkos untuk pulang kemudian ujung-ujungnya dia minta bantuan uang ke mas?”, “Iya”, jawabnya lagi. Aku tertawa, “itu modus mas”, kataku. Wajah pemuda itu nampak bingung. Aku jelaskan kepadanya bahwa seminggu yang lalu aku mengalami hal yang sama dengannya dengan bapak yang sama pula. “Mas ngasih berapa?”, tanyaku. “20 ribu”, jawabnya. “Hahaha…sama”, kataku lagi.

Seorang ibu-ibu yang sedari tadi mendengar obrolan kami menyela kemudian berkata bahwa sekitar 2 hari yang lalu bapak itu juga menghampiri seseorang dan berbuat hal yang sama persis. Aku tertawa kecut lagi, “nah mas…kita ga sendiri”, kataku sambil menepuk samping lengannya.
Pemuda itu tetap memasang tampang bingung dengan senyum yang canggung.    

..... Ini !
.... Revolta!
-30 Juli 2015
-        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar