Jumat, 07 Agustus 2015

Pantai Bagedur Pada Suatu Hari



Seharian kemarin aku di pantai saja dengan maksud menenangkan pikiran. Bagedur nama pantai itu, terletak di pesisir Banten Selatan. Aku bagai menyaksikan  lukisan alam yang begitu dashyat indahnya. Pantai dengan hamparan pasir putih kecoklatan yang membentang luas mengeluarkan kilau bagaikan memantulkan serbuk berlian, langit yang biru tanpa batas dengan sedikit guratan putih awan, gulungan ombak laksana saling berlomba menuju pantai dan alunan debur ombak bagaikan musik latar yang tiada habisnya.
Aku pandangi arah lautan lepas sampai sejauh mana mataku mampu melihat, yang nampak dimataku adalah sebuah garis horizontal imaginer. Benakku bertanya, “ada apa dibalik garis garis lautan itu?, apakah ada kapal besar atau perahu nelayan yang kecil?”, “apakah nun jauh disana letak pulau Chrismast yang sudah masuk teritori Australia?”, “akan adakah ikan paus atau lumba-lumba yang tiba-tiba menyembul keluar?”.
Kemudian,…di dipan bambu saung itu aku rebahkan saja tubuhku sambil ku pandangi lautan sekalian langit birunya.” Ya ampun”,…kataku membatin, melihat lautan luas sekalian langit birunya dengan posisi rebah memberi sensasi yang berbeda dibanding dengan posisi kepala tegak. Seolah-olah pantai ini tidak hanya menjamah dalam bentuk keindahan visual yang diterima bola mata kemudian dicerna otak dalam bentuk keindahan logika semata, namun ketika memandang lautan lepas sambil merebahkan tubuh pantai ini bagaikan menjadi hidup, kemudian menyapa hati dan nurani. Bagaikan hanya ada aku yang sangat kecil seorang diri direngkuh oleh “Sesuatu” yang maha hebat dan megah, namun “Dia” begitu ramah dan begitu mistis. Aku tersenyum bahagia bagaikan baru pertama kali merasa hidup, hatiku bebas.     

Aku jadi teringat sahabatku, sahabat baikku yang sudah aku anggap abangku sendiri, namanya Lutvy. Aku berkata sendiri, “harusnya sekarang lo ada disini man”. Lutvy suatu hari mengatakan padaku dia menyaksikan indahnya pantai Bagedur ini  di sebuah siaran televisi, dia langsung jatuh cinta kepada pantai ini. Kemudian dia berkata kepadaku, “ajak gue kesana bro”.
Aku kemudian berpikir, kenapa tidak saat ini saja ku ajak Lutvy disini bersamaku di pantai ini menikmati suasana. Jangankan di pinggir pantai, kami jika sudah bersama bahkan di tepi sawah berlumpur pun bias menjadi tempat yang sangat menyenangkan dan ceria.

Sesaat kemudian Lutvy sudah duduk di dipan belakangku dengan posisi duduk, kedua kakinya dilipat ke dadanya, kedua tangannya posisi mengikat betis. Aku menyapanya, “my maann”. Tak lama kemudian kami bersulang whiski mansion, bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Kami terhanyut dalam derai tawa mentertawakan kisah-kisah konyol masa lalu yang telah kami lalui bersama, ada juga kisah-kisah yang kami banggakan. Kemudian Lutvy bangkit dari duduknya, dia berlari ke arah pantai sambil berteriak riang mengangkat kedua tangannya, menerjang ombak menceburkan diri ke laut dengan masih mengenakan pakaian dan sepatu lengkap. Aku tertawa melihat tingkahnya, “dasar gokil !”, kataku. Lutvy keluar dari air tertawa menyeringai, senang sekali dia nampaknya. Kemudian dia berjalan ke arahku, aku sudah hafal gelagatnya dia pasti berniat mengerjaiku menarik aku ke laut berbasahan. Aku bersiap lari.

Tapi Lutvy perlahan pudar dari pandanganku, kemudian aku tersadar dia sudah tiada. Dia telah dipanggil ke haribaan Tuhan 2 tahun yang lalu. Terpikir olehku jika ada kesempatan aku berziarah ke makamnya aku akan mengambil sedikit tanah kuburnya dan kemudian aku lempar ke pantai ini atau fotonya akan aku lemparkan ke laut pantai ini agar keinginannya melihat pantai Bagedur akhirnya kesampaian meski hanya diwakilkan tanah kuburnya atau fotonya.

Aku kembali ke dipan itu, rebahkan tubuh lagi. Suasana menjadi hening kembali yang terdengar hanya deburan ombak. Ku tarik panjang nafasku, kembali bersatu dengan alam pantai itu. Sampai aku terhenyak ketika seorang bapak tua memanggil-manggil aku tapi bukan dengan namaku.


Pantai Bagedur, Bansel, 7 Juli 2015.    








Tidak ada komentar:

Posting Komentar