Hari itu David mengunjungi Joe Felis, kawan band-nya di “The CoCOn”. Minggu pagi menjelang siang yang cerah…, setelah lebih dari seminggu mereka tidak berjumpa dan bertegur sapa. Tempat tinggal mereka sekarang berjauhan, tidak satu lingkungan lagi, sehingga agak sulit berkomunikasi antar mereka, dikarenakan pula Joe saat ini tidak lagi memiliki Ha-Pe, rusak keseringan dibanting oleh pacarnya karena terlalu sering masuk sms-sms dari orang-orang (cewe) yang ga jelas dan tidak bertanggung jawab, yang bunyi redaksional sms-nya rata2 : “lagi ngaps say?”
David membuka pintu pagar rumah Joe, karena sudah biasa dan mengenal dekat keluarga Joe, dia langsung menggeloyor masuk pekarangan rumah Joe.
Ditemuilah ibu-nya Joe, “Pagi Bunda”, kata David bersopan santun kepadanya. “Eeeehh…David, kemana ga kliatan seminggu ini?”, balas ibunda Joe. ”Saya sakit Bunda..., Joe ada Bunda?”, timpal David berturut-turut seperti menghindari pertanyaan Ibunda Joe lebih lanjut. “Ada, langsung aja ke kamarnya…., masih tidur..”, kata Ibunda Joe. David menuju kamar Joe. Pelan-pelan ia membuka kamar Joe dan dilihatnya Joe masih pulas tidur mengenakan celana basket yang sudah super butut.
David langsung mengambil ancang-ancang gaya Diving stage, sebuah ekspresi menikmati musik hingar-bingar nan cadas dimana penonton naik ke atas panggung kemudian melempar diri atau terjun kembali ke lautan penonton dibawahnya. Loncatlah David dengan gaya punggung tepat menindih Joe yang sedang nikmat-nikmatnya tidur.
“Hegggghhhhhh !!!!!!”……suara itulah yang keluar dari mulut Joe ketika ditindih oleh David.
“ANNNJJIIIIIIIIGGGGGGG !!!!!!!!!”…….teriak Joe.
”Hahahahahahahahahahhahahahha”…, tawa David puas sambil memegang perutnya karena menahan kegelian melihat reaksi Joe.
“Damn it lo Vid !!”, maki Joe kepada David. “Lagi-lagi elo nge-Bed Diving gw”, lanjut Joe.”Hehehehe…..sorry men, daripada gw bangunin gw sentil biji lo, mening mana?”, sergah David. “Tai lo !, kaga ada yang mening, ga enak dua2nya bangsat !”, balas Joe. David malah tetep cengar-cengir kuda.
Kedua sahabat David dan Joe, emang sahabatan kental didalam dan diluar band mereka. Tumbuh di lingkungan yang sama, dan minat akan musik yang sama. Joe seorang yatim, Bapaknya meninggal dunia ketika dia masih sangat kecil. Makanya ga aneh kalo Joe bengal. Suka berkelahi, udah berambut gondrong sejak sekolah menengah tingkat atas, punya tato kebanggaan gambar kepala suku indian di lengan kanan, suka dicariin bokap para gadis2 belia, udah gitu nih anak rese banget kalo mabok (berkali-kali David suka nahan Joe yang udah ga tahan pengen nampolin/mukulin orang). Potongan rambutnya panjang sebahu, lurus dan berwarna merah persis seperti Axl Roses lagi jaman “Appetite for Destruction”.
“Dah siang men…bangun lo !”, kata David. “Semalem begadang gw, sampe jam setengah lima….., jam berapa sih sekarang?”, tanya Joe. “Jam setengah sebelas....dah cukup lah lo tidur”, kata David.
David menyambung, “lo kemana aja ga ke rumah gw?”. “Malem jum’at kemaren gw mo ke rumah lo,...ehh....si Vonny minta anterin ke rumah sakit”, jawab Joe. David mengerenyitkan mata seperti menyelidik lalu dia bilang, “hah...ke RS, ngapain?...Abortus?”.
“Sialan lo !, nyokap nya sakit...tensinya tinggi”, sanggah Joe. ”Hehehe....gw kira...”, balas David sambil senyum.
“Gw bawa ini nih...”, kata David sambil membuka tas nya. Dua botol Mansion House beralkohol 43% ukuran Jumbo pun nampak, beserta minuman oplosannya 2 botol minuman energi merk kratingdeng plus kacang buat tarikan.
“Anjrit ! gokil lo Vid !...masih pagi nih..”, kata Joe. “Apaan??…, udah siang tau!”, sergah David. Joe terbengong sebentar kemudian dia bilang,….”ayo deh…, anggep aja minum kopi anget abis bangun pagi”, jawab Joe anteng. Kemudian dia sambung, “kayanya gw tewasnya kena lever nih”.
David menyangkal, “kaga men…, lo gw doain tewas secara “Rock n Roll way to die”, nelen muntah sendiri…kaya John Bonham drummer Led Zeppelin”.
“Yeeeehhh…malah doain gw tewas nelen jekpot sendiri, sialan lo !”, kata Joe.
Minggu pagi menjelang siang itu, kedua sahabat itu larut dalam keriangan dan keakraban, bagaikan acara reuni sebuah sekolah lanjutan yang baru berjumpa setelah 25 tahun kelulusan. Kemudian Joe menyetel tape-nya pada posisi 6 dari maksimal 8, terdengarlah suara Johnny Rotten menyanyikan “Holidays in The Sun” :
i don't wanna holiday in the sun
i wanna go to the new belsen
i wanna see some history
'cause now i got a reasonable economy
now i got a reason, now i got a reason,
now i got a reason and i'm still waiting
now i got a reason, now i got a reason to be waiting
the Berlin Wall
sensurround sound in a two inch wall
well i was waiting for the Communist call……..
“Buat kesehatan lo men…”, sebuah ting-tos dari David buat Joe sambil mengangkat gelas loki. Joe membalas, “yoi men…buat kesehatan lo juga…., trus buat vonny, lulu, vety, ica, melda, nunu, joy, peggy…n her mother …hahahahahaha…, memey, grace….mmmm…”. “Anjrit !!! banyak amat men !!”, kata David.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar