Ada berita yang cukup mencengangkan 3 hari terakhir ini, yaitu ditunjuknya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi Managing Director atau Direktur Operasional Bank Dunia mulai 1 Juni 2010 menggantikan pejabat lama yang akan habis masa jabatannya pada 30 Mei 2010, Juan Jose Daboub. Saya sebut mencengangkan bukan karena ada wakil Indonesia aktif duduk sebagai salah satu pejabat teras suatu organisasi level Internasional, namun sebagaimana kita ketahui bahwa beliau saat ini berada dalam pemeriksaan dugaan penyelewengan uang negara sebesar Rp 6,7 triliun.
Sedemikian maha pentingkah jabatan di Bank Dunia?, apa dan bagaimana Bank Dunia?, dibawah ini saya akan paparkan sedikit;
International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) -- lebih dikenal sebagai World Bank/Bank Dunia -- merupakan sebuah lembaga keuangan internasional yang pertama. Didirikan pada 27 Desember 1945 setelah ratifikasi internasional mengenai perjanjian yang dicapai pada konferensi yang berlangsung pada 1 Juli–22 Juli 1944 di kota Bretton Woods. Markas Bank Dunia berada di Washington, DC, Amerika Serikat. Secara teknis dan struktural Bank Dunia termasuk salah satu dari badan PBB, namun secara operasional sangat berbeda dari badan-badan PBB lainnya.
Meskipun IBRD telah berkembang pesat selama beberapa dekade, struktur dasar dalam Anggaran Dasar tidak berubah. Anggaran Dasar tersebut menggambarkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan organisasi secara umum, sementara untuk perincian operasional diserahkan kepada pihak manajemen Bank Dunia dan dewan direktur eksekutif.
Tujuan utama Bank Dunia adalah membantu pembangunan di negara anggota dengan memberikan fasilitas investasi dana untuk tujuan-tujuan yang produktif. Juga untuk menciptakan pertumbuhan perdagangan internasional dalam jangka panjang dan seimbang dengan cara mendorong investasi internasional. Dengan demikian membantu dalam meningkatkan produktivitas, standar hidup, dan kondisi buruh. IBRD melakukannya dengan jaminan investasi swasta serta pinjaman langsung yang diambil dari modalnya sendiri. Perbaikan dan pembangunan mendapatkan prioritas yang sama dalam aktivitas Bank Dunia.
Modal awal Bank Dunia sebesar 10 miliar dolar AS, senilai 70 atau 80 miliar dolar AS pada tahun 1993. Itu merupakan "jumlah yang besar" seperti yang diamati oleh para delegat di Bretton Woods, yakni "jauh melebihi modal bank mana pun".20 persen dari modal akan dibayarkan oleh negara-negara anggota dan sisanya (80 persen) akan "dicantumkan" sebagai jaminan. Rasio dari pembayaran sampai modal yang dapat diambil telah menurun selama bertahun-tahun. Pada tahun 1993 modal keseluruhan Bank Dunia 165,59 miliar dolar AS, dan hanya 10,53 miliar dolar dibayarkan.Jaminan oleh negara-negara industri utama (modal bank yang dapat diambil) membuat Bank Dunia dapat menaikkan uang untuk peminjaman dengan meminjam dari pasar modal internasional; Bank Dunia menarik bunga dari para peminjam sebesar setengah persen di atas ongkos peminjaman, menyimpan selisih bunga itu untuk membiayai pengeluaran operasional dan untuk menambah cadangan. Keanggotaan dalam IMF adalah prasyarat untuk dapat bergabung dengan Bank Dunia.
Bank Dunia hanya memberikan pinjaman untuk "proyek-proyek tertentu", yang dalam praktiknya adalah bendungan, jalan raya, pembangkit listrik, dan sebagainya. Bank Dunia harus memastikan bahwa dana pinjaman hanya digunakan untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan ketentuan penjaminan pinjaman, dengan perhatian pada pertimbangan atas ekonomi dan efisiensi, tanpa memandang pertimbangan atau pengaruh politik atau faktor nonekonomi yang lain".
Staf Bank Dunia akan melakukan kunjungan selama beberapa hari atau beberapa minggu ke negara sasaran. Hasil kunjungan itu kemudian digabungkan dengan riset data di belakang meja. Setelah itu, staf tersebut memerintahkan suatu pengumpulan data untuk menyusun rencana pembangunan bagi setiap aspek yang relevan dari kerangka sosial suatu negara.
Bank Dunia akan terus mengamati score pemerintah saat menyusun rencana tersebut, yang tentu saja akan berupaya meregulasi "setiap aspek yang relevan" dari masyarakat. Berdasarkan pengumpulan, penyaringan dan pengorganisasian informasi Bank Dunia, maka lembaga pendonor lainnya akan membantu memberikan dana untuk setiap elemen utama pembangunan yang dirumuskan di bawah pengawasan Bank Dunia.
Bank Dunia menekankan aspek kuantitas bukan kualitas dari proyek-proyek yang didanainya, sehingga salah satu syarat pendanaan pada suatu negara adalah terjaminnya “stabilitas” dibidang ekonomi. Hal tersebut memaksa pemerintah menerapkan privatisasi perusahaan-perusahaan negara, membuka selebar-lebarnya investasi asing (liberalisasi) dan diterapkannya upah buruh yang rendah.
Di bidang lingkungan hidup, perambahan hutan (deforestasi) dikonversi menjadi perkebunan sehingga dimaksudkan agar lebih bernilai ekonomis. Di era Presiden Suharto, pembukaan sejuta hektar lahan gambut (rawa) untuk dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Kebijakan tersebut berakibat kehancuran ekologis, dikarenakan fungsi lahan gambut sebagai daerah resapan air dikonversi (alih fungsi) menjadi perkebunan, mengakibatkan bencana banjir besar.
Belum lagi mental-mental pemerintah korup di Negara yang menjadi donor Bank Dunia,
India bisa dijadikan contoh lain mengenai korupsi dan penyelewengan bantuan untuk kaum miskin, sejak negeri itu (dan tampaknya untuk seterusnya) menjadi negara pengutang terbesar Bank Dunia, dengan banyak penduduk yang masih berada dalam kemiskinan absolut. Pertanian India, terutama pertanian irigasinya adalah medan pertempuran terpenting dari strategi perang McNamara dalam memberantas kemiskinan.
Pada tahun 1982, Robert Wade -- peneliti kebangsaan Inggris -- menggambarkan korupsi yang sudah menjalar di badan administrasi irigrasi sebuah negara bagian yang terpencil di selatan India. Dia mengungkapkan, ternyata di beberapa daerah, sistem irigasi dibangun dan dioperasikan bukan untuk kepentingan petani gurem. Bahkan selanjutnya Wade mengatakan, kinerja buruk pada proyek-proyek irigasi kemungkinan akibat buruknya pengoperasian dan pemeliharaan irigasi. Kecenderungan yang terjadi adalah berlomba-lomba menaikkan jumlah pendapatan haram di antara staf badan administrasi irigasi dan para politikus di daerah itu.
Dalam studi kasusnya di selatan India ditemukan, 50 persen dana perawatan lenyap dikorupsi. Selain itu, para insinyur irigasi tampaknya memiliki iktikad buruk karena sering membuat pasokan air jadi tidak menentu, menutup pasokan air bagi perkampungan yang kekurangan, hingga penduduk terpaksa membayar uang sogokan untuk mendapatkan air. "Pendapatan dari uang sogokan akan semakin besar jika pasokan air semakin tidak menentu.
Lalu bagaimana penerapan “bantuan” donor Bank Dunia di Indonesia?apakah lolos dari usaha-usaha penyelewengan?.
Demikianlah sedikit pemaparan tentang Bank Dunia, yang ternyata (menurut saya) bukan lembaga yang tanpa “noda”.
Saya setuju terhadap pendapat bahwa seseorang menjabat di lembaga internasional tersebut pastilah orang pintar. Namun permasalahannya bukan tidak dihargainya seorang Sri Mulyani sebagai orang pintar akan menjabat di Bank Dunia. Uang negara sebesar Rp 6,7 triliyun tidaklah sedikit, ketidakjelasan kemana aliran dana tersebut hingga kini tidak jelas rimbanya. “Kepintaran” seseorang tidak lantas menghapuskan pertanggungjawaban atas dugaan penyelewengan uang negara yang harusnya digunakan untuk kepentingan Rakyat Indonesia.
Masih banyak orang pintar di Indonesia yang bermartabat dan sangat layak mendapat pengakuan Nasional maupun Internasional tanpa harus menjabat di kancah internasional, manfaatnya justru lebih kentara dan langsung terasa, contohnya Saur Marlina Manurung seorang sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran, Bandung. Mengabdikan dirinya untuk pendidikan masyarakat kaum marginal dengan mendirikan “Sokola Rimba”, menetap untuk mengajar dan mendidik di kawasan pedalaman yang dihuni Suku Anak Dalam–orang banyak menyebutnya Suku Kubu, Jambi.
-Bobby Setenk-, 6 Mei 2010
Bacaan lanjut :
- “Menggadaikan Bumi”, Bruce Rich, penerbit: Infid 1999
- Wikipedia Indonesia, artikel “Bank Dunia”
- “Butet” Saur Marlina Manurung, beberapa artikel internet.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar