Rabu, 28 Maret 2018

G U N A D I


Saat masih remaja berusia dua puluhan saya pernah punya seorang sahabat, namanya Gunadi, teman-temannya memanggilnya "Gun". Ayahnya seorang pensiunan tentara Angkatan Darat angkatan 60an, veteran operasi Trikora berpangkat Kopral Kepala. Di usianya yang saat itu sudah 64 ia terlihat begitu renta. Dia tidak dapat lagi sepenuhnya memantau pergaulan Gun anaknya, tubuhnya sudah ringkih karena sakit lever yang dideritanya. Sedangkan ibu Gun adalah tipe ibu yang lemah lembut dan cenderung tidak dapat memberikan larangan kepada anak-anaknya. Gun anak ke enam dari tujuh bersaudara, namun si adik bungsu meninggal dunia saat berusia 3 tahun, akibat wabah campak. Itu membuat Gun otomatis menjadi anak bungsu. Sebagai anak bungsu Gun cenderung dimanja oleh kedua orang tuanya, segala kemauan dan keinginannya dituruti saja. Termasuk saat ulang tahunnya yang ke 19 dia memaksa orang tuanya membelikan motor baru. Tentu saja hal tersebut memberatkan kedua orangtuanya, tapi toh dituruti juga kemauan si Gun meski ayahnya hanya mampu membelikannya motor bekas, tapi sangat layak pakai. Ada seorang tetangga yang menggadaikan motor Honda supranya buat menambah ongkos pulang kampung. “Ah, paling lama sebulan aja motornya”, kata seorang teman mengomentari motor baru tapi bekas Gun. Sambil mendengus Gun membalas berkata; “ngehe lo”, disambung kemudian tertawa berderai. Imej Gun yang paling saya hapal adalah kebiasaannya menggaruk-garuk sepanjang lengan dan rambut gondrongnya yang lepek pertanda sudah kurang lebih seminggu tidak keramas. Tapi itu tidak mengurangi daya tarik Gun dimata perempuan, memang ia pada dasarnya berwajah tampan.

Karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, selepas SMA Gun tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hanya saja ia mengambil kursus komputer selama setahun. Gun sendiri tidak pernah menyesali keadaan itu, malahan dia seperti senang karena pikirnya dia bisa terbebas dari buku-buku pelajaran sekolah. Selama dibangku SMA saja dibandingkan bersekolah dia lebih gemar membolos, bermain bilyard disebuah persewaan bilyard di pasar belakang komplek rumah. Biasanya dia bermain dengan bertaruh uang. Ibunya hanya mengelus dada saja ketika lagi-lagi surat panggilan dari pihak sekolah diterimanya, yang bertanda dari guru Bimbingan Penyuluhan atau disingkat guru BP. Sehari setelah pemanggilan pihak sekolah keesokan harinya Ayahnya dengan berjalan tertatih-tatih mencoba melabrak Gun di tempat bilyard biasa Gun menghabiskan waktunya membolos sekolah. “Ada Gun kesini?”, katanya kepada pemuda-pemuda yang sedang bermain bilyard. “Ga ada pak, sekolah”, sahut mereka kompak. Yang ditanya sebenarnya sekitar 3 menit yang lalu sedang membidik bola nomor enam. Ketika seseorang berteriak; “GUN.., BOKAP LO!”, Gun langsung terbirit-birit melarikan diri lewat pintu belakang, kemudian bersembunyi di los daging pasar itu.

Gun dan saya sebenarnya satu komplek perumahan. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar saya dan keluarga pindah ke komplek ini, sebelumnya saya dan keluarga tinggal di Antapani, Bandung. Sedangkan Gun dan keluarga sudah lebih dulu setahun tinggal disini. Keluarganya pindahan dari Lombok, NTB. Artinya saya mengenalnya sudah cukup lama, hanya saja sebatas teman kenal satu komplek. Dia lebih tua satu tahun dari saya. Sewaktu SD, saya kelas 3 dia kelas 4. Namun tidak disangka beberapa tahun kemudian kami menjadi sahabat akrab. Awal mula keakraban persahabatan kami dimulai saat saya menjadi peserta festival band di sebuah Universitas swasta di kota kami bersama 3 teman saya lainnya. Jumlah peserta festival band itu sekitar 67 band. Selain band ada juga kompetisi lainnya yang diselenggarakan, yakni cheerleader. Pada saat babak penyisihan saya dan band membawakan lagu “Creeping Death dari  Metallica”, saya menabuh drum. Setelah seluruh band membawakan satu lagu pada babak penyisihan, petang harinya sekitar pukul 3 panitia festival mengumumkan band-band yang berhasil masuk final, terpilih sebanyak 10 band. Ternyata band saya termasuk diantara finalis. Saya dan seluruh teman-teman band melompat gembira mendengar pengumuman panitia itu. Tiba-tiba seorang laki-laki berambut gondrong berwarna kecoklatan menghampiri rombongan saya; “Selamat ya bro”, katanya sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada saya dan ketiga personil band saya. “Heiy…,Gun!”, kata saya sambil melongo keheranan. “Ada di sini lo. Dari kapan?”, tanya saya kepadanya. “Dari jam satuan. Gue liat lo maen. Keren bro”, jawabnya.

Tidak lama setelah jeda istirahat, pukul 4 petang kembali panitia festival menaiki panggung, nampaknya akan mengumumkan sesuatu.  Selamat sore semuanya!!, masih semangat kan?!!. Ada kompetisi yang asik nih sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu…: CHEERLEADER!!”, demikian mc menyapa diatas panggung. Semua yang mendengar pengumuman mc itu menjadi berwajah lebih ceria dan suasana menjadi gegap gempita. “Cheerleader bro!”, kata Gun kepada saya sambil menampakan raut muka berbinar bermakna mengajak. “Yu”, balas saya yang bermakna mengiyakan ajakan. Kompetisi cheerleader digelar di depan panggung utama, posisinya tentu saja lebih rendah dari panggung. Untuk menyaksikannya penonton membentuk lingkaran, ditengah-tengahlah para gadis cheerleader berwajah manis kinyis-kinyis nan ceria menunjukan atraksi kebolehan gerakan atau tariannya, terdengar teriakan khas cheerleader. Dari posisi terbelakangi beberapa penonton lain saya hanya bisa melihat aksi cheerleader saat mereka melakukan gerakan kombinasi bertingkat atau “piramida”, lazimnya 3 tingkat. Karena posisi saya yang dibelakang penonton lain, saya hanya bisa melihat cheerleader yang berada di tingkat kedua dan ketiga piramida, itupun harus berjinjit sesekali. “Ke depan yu bro, ga kliatan disini”, kata Gun. Belum sempat saya jawab dia sudah menghilang dari dekat saya, melesat kedepan. 

Pukul 11 malam festival band itu berakhir, band saya tidak beruntung menjuarai festival. Tapi  lumayanlah, jadi finalis 10 besar. Gun masih bertahan hingga acara selesai, ingin jadi supporter band saya katanya. “Thanks man”, kata saya kepadanya. Di dalam angkutan umum menuju pulang, dia bercerita kepada saya bahwa dia sebenarnya suka ngeband juga, dia seorang vokalis. Dan dari obrolan kami ternyata saya dan Gun sama-sama penggemar berat The Doors. Hanya saja dia bilang hingga detik ini belum menemukan partner ngeband yang menggemari dan memainkan musik The doors, mungkin karena The Doors termasuk band old school. Sejak malam itu kami menjadi akrab, Tuhan menyatukan kami dalam The Doors.

The Doors, 1967
The Doors adalah band asal Los Angeles, Amerika Serikat yang aktiv dipertengahan tahun 60an. Saat itu Amerika sedang terlibat dalam perang Vietnam sebagai bagian dari panggung era perang dingin. Di Amerika sendiri menggeliat semacam gerakan anak muda pecinta damai yang melakukan aksi protes menolak kebijakan perang pemerintah Amerika, generasi ini disebut “Generasi Bunga” atau “Flower Generation”. The Doors menjadi salah satu band yang mewakili suara anak-anak muda generasi bunga. The Doors beranggotakan Jim Morrison pengisi vocal, Ray Manzarek pengisi organ, Robby Krieger pengisi gitar dan John Densmore pengisi drum. Gun sangat terobsesi kepada Jim Morrison, dan sejak perjalanan pulang bareng malam itu dia mengajak saya membentuk band yang membawakan lagu-lagu The Doors, atau jika membawakan lagu sendiri maka The Doors menjadi pengaruh utama musikalitasnya. Karena bagi saya ajakan ini seperti gayung bersambut maka saya menyetujuinya. Saya bisa juga bermain gitar, maka saya memutuskan pada band saya bersama Gun ini mengisi posisi gitar. Gun sendiri tentu saja sebagai vokalis.

Singkat cerita, akhirnya band saya dengan Gun terbentuk utuh. Namun sedikit berbeda dengan The Doors, kami menambahkan satu personil lagi yaitu posisi bass gitar. Ray Manzarek memang seorang dewa, tidak ada yang menyamakan kepiawaiannya bermain organ yang berfungsi pula sebagai harmonisasi bass. Maka jumlah personil kami berlima. Tiga personil lainnya adalah kawan-kawan kami. Pada posisi bass dan drum teman band saya, sedangkan posisi organ merupakan teman dari Gun. Skill permainan organ teman kami levelnya belum setingkat dewa seperti Ray Manzarek. Kami menamakan band ini PATIENT yang artinya “sabar”, saya yang mengusulkan nama itu. Ide nama Patient didapat dari Al Quran, yang didalamnya terdapat firman Allah yang mengatakan; “jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Juga begitu banyak kalam dalam Al Quran yang mengingatkan manusia untuk lebih banyak bersabar. Gun dan teman-teman lainnya setuju, “bermakna spiritual”, kata Gun. Entah bagaimana menjelaskan secara logika pemikiran ini, namun Gun merasa roh Jim Morrison menitis ke dalam jiwanya. Saya sendiri sedapat mungkin memahami dengan sebaik-baiknya cara Robby Krieger memainkan gitarnya pada setiap lagu-lagu The Doors sehingga setiap lagu dan penampilan mereka berjiwa. Memang secara musikalitas The Doors, alunan nada organ seorang Ray Manzareklah yang paling dominan, namun jika diibaratkan tim sepakbola maka Jim dan Robbie saat berada diatas panggung keduanya bagaikan dua ujung tombak tim, dalam hal ini Jim Morrison strikernya.

Suatu malam Gun berkunjung ke rumah saya, “bikin lagu nyok”, ajaknya. “Ayo, tapi kita cari mansion dulu biar aura psikedeliknya dapet”, balas saya. “Wah mantap!”, sahut Gun. Mansion adalah minuman beralkohol jenis whiski, kadar alkoholnya 43%, lumayan cepat membuat mabuk. Dari otak saya dan Gun dibawah pengaruh mansion terciptalah sebuah lagu yang kami beri judul “Budak Kenyataan”. Liriknya seperti dibawah ini :

Aku milik siapa, kamu milik siapa
Aku cinta siapa, kamu cinta siapa
Saling mengagumi dan saling merindukan
Kita menjalani kisah yang tertutupi
Malammalam sunyi menjadi saksi
Tanpa bersuara pun kita berjumpa
Langit gelap jadi medan petualangan
Kosong disisi menjadi niat
Niat kesempatan maka terjadilah

(bridge)
Semua menyesakku semua pojokkanku
Tak mampu ku lawan harus ku alami
Budak kenyataan adanya diriku
Nikmati saja, nikmati saja
Nikmati saja, nikmati saja

(reff)
Mati saja! Mati saja!, Nikmati saja!
Mati saja!, Nikmati saja!
Mati saja!,
Nikmati  saja!,...sampai mati!!  

Mimpi-mimpi mahal yang tak mampu dibayar

Usaha panjang yang tlah terjalani semakin hilang dari harapan
Aku sudah lelah bahkan kadang muak
Semua ini tidak seperti kehendak
Aku sangat benci keadaan ini
Hingga pada saat harus memutuskan
Idealisme diri harus mengalah
Aku hanya ini menjadi berarti   

(kembali ke bridge kemudian reff)

Saat azan subuh berkumandang, Gun beranjak pulang ke rumahnya. Langkahnya terlihat sedikit gontai. Sampai di muka rumahnya dia melihat pagar masih tergembok. Tanpa pikir panjang dia lompati saja pagar rumahnya. Kemudian terdengar seseorang membuka kunci pintu rumah, ayah Gun. “Dari mana kamu?”, tanya ayah Gun. “Dari rumah david”, jawab Gun. “Sampai seminggu?”, tanya ayahnya lagi. Gun mengabaikan pertanyaan terakhir ayahnya kemudian langsung menuju kamarnya, melanjutkan tidur lagi. Dia juga merasa kepalanya masih berat.

Jam sudah menunjukan 4.30 petang, Gun baru saja terbangun. Namun rohnya belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhnya. Terduduk saja ia disisi kasur pegasnya meski mata masih memejam, berat untuk membuka. Tangannya meraba meja disamping kasur, dia mencari batang rokok Marlboro merah siapa tahu ada tercecer disana. Dapat satu. Ganti merogoh saku celana jinsnya, mencari korek api kayu dalam kemasan kotak kardus kecil. Ia bakar rokoknya, dia hisap kemudian dia hembuskan asapnya. Perlahan dia membuka matanya hingga akhirnya sepenuhnya membuka. Ia beranjak kepada tape pemutar kasetnya dan menekan tombol “play”. Terdengar Jim Morrison menyerukan “Break On Trough To The Other Side”. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media Jim mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak sedang bernyanyi, dia lebih merasa sedang berseru. 

Kemudian Gun seperti teringat sesuatu, “oh iya,..mana tuh barang”. Lagi dia merogoh saku celana jinsnya, di sebelah dia menemukan korek apinya, “ga ada”, gumamnya dalam hati. Dia merogoh saku sebelah lagi, “nah ni dia”. Sebuah insulin, jarum suntik, dan lipatan kecil kertas foil bungkus dalam rokok. Didalam kertas foil itu terdapat bubuk putih kira-kira ukuran satu gram. Kemudian dia pergi ke dapur mencari sendok makan. Masuk kembali kedalam kamarnya, tidak lupa dia kunci. Berlanjut dia menyalakan lilin, seolah dia hendak melakukan sebuah ritual. Serbuk tadi dia bubuhkan pada sendok makan, kemudian diberi air sesuai takaran sendoknya. Sendok yang telah dibubuhkan bubuk dan diberi air tadi dia letakkan tepat diatas api yang menyala pada lilin, laksana merebus telur atau mie hanya saja pancinya dari sendok makan dan yang direbus adalah bubuk tadi. Tidak sampai satu menit air dalam sendok itu menggolak kecil sama seperti tanda air yang telah masak sempurna karena direbus. Lanjut dia buka kemasan insulin, kemudian dia masukkan perlahan cairan rebusan bubuk tadi ke dalam insulin dengan cara disedot melalui jarum suntiknya. Sampai tandas habis tak ada cairan yang tersisa pada di sendok. Ritual selanjutnya dia buka sabuk celana jinsnya kemudian dia ikatkan pada lengan kirinya diatas siku, ia ikat kuat-kuat. Kemudian dia buka-tutup kepalan tangan lengan kirinya itu dengan interval yang konstan sesekali dengan kombinasi seperti melakukan gerakan mengangkat barbel kecil pada gym sebanyak 3 kali angkatan, dia buka-tutup lagi kepalan tangannya, begitu seterusnya sampai beberapa urat lengan kirinya itu tampak jelas. Setelah itu dia ambil insulin yang telah siap tadi yang telah berisi cairan bercampur bubuk, bagaikan mantri suntik atau dokter handal dia menginjeksi lengannya sendiri tepat pada urat yang tampak menonjol. Dia tekan insulinnya hingga setengah cairan dalam insulin itu masuk ke dalam uratnya kemudian dia tarik sedot kembali insulinnya sehingga cairan tadi yang telah masuk kedalam uratnya kembali masuk ke dalam insulin, namun kali ini bercampur dengan darahnya. Kembali dia tekan insulinnya dengan perlahan hingga seluruh cairan yang telah berwarna kemerahan itu kembali masuk kedalam uratnya langsung cepat menyebar keseluruh tubuh. “Ahhhh…..”, Gun melenguh. Kelopak matanya terpejam, kali ini bukan karena kantuk namun seolah mencapai klimaks ejakulasi. Pupil bola matanya mengarah ke atas. Dia buka perlahan sabuk yang terikat pada lengannya, ketika mengendur hingga terlepas, kembali Gun melenguh; “Aaahh….”. Gun pun menggeletak kembali pada kasur pegasnya. Adegan selanjutnya dia berlarian diantara awan-awan dan pelangi yang berwarna-warni, namun bukan lari yang melelahkan melainkan berlari pada ruang hampa nol gravitasi. Terus dia melayang tinggi hingga ruang angkasa yang bertabur bintang, planet dan galaksi. 

Sementara itu lantunan musik The Doors dan seruan Jim Morrison dari speaker tape seakan turut membuai Gun yang semakin melayang tinggi hingga berada di lorong lubang hitam. “You know the day destroy the night, Night divides the day, Tried to run, Tried to hideBreak on trough to the other side!, Break on to trough to the other side, yeah!, We chased our pleasures here, Dug our treasurer there, But can you still recal, The time we cried, Break on trough to the other side, Break on trough to the other side!!
https://youtu.be/rOpQjD-rX0g


# b e r s a m b u n g #