Selasa, 02 Oktober 2012

Adakah Negara yang Tidak Memiliki Jejak Berdarah & Kelam Dalam Sejarahnya??

Jikalau sebagai tolok ukur negara modern dan beradab adalah negara yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) adalah bangsa-bangsa barat baik itu negara Eropa seperti contohnya Perancis...,well, era sekarang boleh jadi betul. Image Prancis sekarang ini adalah negara dengan penduduk multi ras, salah satu poros fashion dunia, dan yang paling menarik tentang Prancis adalah semangat Seni, Bohemian & Intelektualitasnya. Banyak filsuf, budayawan dan seniman besar berasal atau melahirkan hasil-hasil pemikiran nya pada saat berada di Prancis.

Kemudian kita geser pandangan peta kita ke benua Amerika Utara, United States of America tepatnya. Sejak runtuhnya Uni Sovyet maka praktis satu-satunya negara adikuasa di planet bumi saat ini adalah Amerika. Negara yang mengibaratkan diri sebagai "The Land of the Free" ini berani dan sangat percaya diri mengajukan diri sebagai pemimpin Demokrasi di dunia, bentuk negara yang Serikat/Federal terbukti berhasil membangun "ibu kota negara" terkenal mendunia lebih dari satu, tidak hanya Washington DC, tapi juga ada New York, Los Angeles, Las Vegas, Seattle, Boston, Honolulu dll.

Tapi baik Prancis dan Amerika dengan segala kehebatannya itu tidak dibangun dalam semalam, sejarah panjang mengiringi perjalanannya hingga sampai pada keadaan sekarang ini. Beberapa diantaranya adalah sejarah kelam dan berdarah, Prancis misalnya ;
- Pernah mendengar ungkapan terkenal "L'État, c'est moi" ("Negara adalah saya"), kalimat itu dilontarkan oleh salah satu raja Prancis yang paling terkenal yang berkuasa pada tahun 1643 - 1715 yaitu Louis XIV yang dijuluki Raja Matahari sebagai perwujudan kekuasaannya yang sangat absolut.
- Revolusi Perancis; antara tahun 1789 dan 1799 di mana para demokrat dan pendukung republikanisme menjatuhkan monarki absolut di Perancis dan memaksa Gereja Katolik Roma menjalani restrukturisasi yang radikal. Massa mengarak para keluarga kerajaan dan kroninya menuju lapangan untuk selanjutnya dieksekusi dengan Guillotine (alat pemancung kepala).
- Siapa yang tidak tahu sebuah nama Napoleon Bonaparte (1769-1821), penguasa asal Prancis ini hampir menguasai seluruh daratan Eropa baik dengan cara diplomasi maupun dengan cara perang, dengan cara diplomasipun semata-mata negara lain yang akan diinvasi sudah terlebih dahulu takut jika berhadapan dengan pasukan Napoleon, artinya bagaimanapun juga Prancis jaman Napoleon menguasai negara lain dengan cara Militer.
- Sebelum terlibat perang dengan Amerika, Vietnam terlebih dahulu merupakan negara jajahan Perancis, saat dijajah masih bernama Indochina Perancis (1887-1954). Selama masa pendudukannya tentu saja Perancis mendapat perlawan dari rakyat Vietnam.

Kemudian Amerika, Amerika pun mengalami sejarah kelam dan berdarah  :
- Perang Saudara/Civil War (1861-1865); adalah perang antar wilayah Utara dan Selatan Amerika Serikat, wilayah Utara menyebut diri Union sedangkan wilayah Selatan disebut Konfederasi. Menurut catatan sejarah  kurang lebih 500.000 serdadu dari kedua belah pihak tewas selama Perang Saudara.
- Beberapa Presiden mereka dibunuh oleh "bangsa sendiri" ketika masih menjabat, diantaranya yang paling terkenal adalah: Abraham Lincoln (ditembak 15 April 1865) dan John F. Kennedy (ditembak 22 November 1963).
 - Masalah kulit hitam di Amerika merupakan persoalan yang panjang negara itu, salah satu pemicu Perang Saudara adalah masalah perbudakan, dimana wilayah utara menghentikan perbudakan sedangkan wilayah selatan menginginkan perbudakan tetap dipertahankan. Pada era 1920an sampai menjelang Perang Dunia ke-2 pada beberapa wilayah Amerika sering terlihat kulit hitam atau dengan stigma rasis disebut "Negro", dihakimi massa tanpa alasan yang jelas dengan cara dibakar hidup-hidup kemudian mayatnya digantung pada pohon. Pada banyak fasilitas umum dipasang pengumuman "Negro dan Anjing Dilarang Masuk". Ada sebuah kelompok radikal kanan yang terkenal yang mendalangi gerakan-gerakan "pemberantasan" kulit hitam yaitu Ku Klux Klan (KKK), sebuah perkumpulan berideologi Fasis kanan, Supremasi Kulit Putih.
Salah satu pejuang hak-hak sipil kulit hitam, Martin Luther King tewas ditembak pada 4 April 1968 oleh seorang kulit putih bernama James Earl Ray. 

Konteks tulisan ini adalah mencoba mengkomper/membandingkan dengan Republik Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945 dengan Perancis maupun Amerika dari sisi rentang waktu berdirinya ketiga bangsa tersebut. Entitas Perancis dimulai jauh di tahun 486 M, dan berdiri sebagai negara berbentuk Republik pada tahun 1792, sedangkan Amerika memproklamasikan sebagai negara merdeka lepas dari pemerintah kolonial Inggris pada 4 Juli 1776.
Konsern saya adalah betapa Indonesia bertatih-tatih berusaha menjadi negara modern yang beradab dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Yang patut dibanggakan adalah sebuah kenyataan sejarah bahwa Deklarasi Penghormatan Hak Asasi Manusia dirumuskan oleh para Pendiri Bangsa/Founding Father (Sukarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim dkk) terangkum dalam Pembukaan/Preambule UUD pada tanggal 17 Agustus 1945, yang isinya secara garis besar menyatakan : "Bahwa Kemerdekaan adalah Hak Semua Bangsa, dan oleh sebab  itu Penjajahan di Atas Dunia Harus Dihapuskan Karena Tidak Sesuai dengan Perikemanusiaan dan Perikeadilan", sedangkan Deklarasi Hak Asasi Manusia secara internasional baru dicanangkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa pada 10 Desember 1948, ini artinya Indonesia 2 tahun lebih dahulu menyadari pentingnya menjunjung Perikemanusiaan dan Perikeadilan dibanding organisasi dunia.
Namun kenyataannya dalam perjalanan berbangsa jejak berdarah dan kelam mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, sebut saja; tragedi September 1965, Invasi Timor-Timur 1975 (akhirnya lepas pada tahun 1999), Daerah Operasi Militer era tahun 1990an, tidak terlindunginya kaum minoritas, kelompok organisasi masyarakat berlandaskan agama yang bertindak dengan merusak dan bar-barian berdalih mengamankan dan lain sebagainya.
Untuk menjadi negara modern dalam arti beradab dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia jika mengambil contoh negara Perancis dan Amerika (well,...kalau ada pendapat yang menyanggah dan mempertanyakan  keberadaban Amerika jika melihat cara mereka mengedepankan demokrasi "ala koboi" dan bertindak sebagai polisi dunia dengan dalih "menyelamatkan demokrasi" dengan cara menguasai politik, ideologi dan ekonomi, saya sependapat dengan anda, saya pun benci cara-cara Amerika ditilik dari sisi tersebut. Namun secara normatif (atau relatif?) harus jujur diakui bahwa , Amerika modern dan makmur) ternyata perlu waktu dan proses yang panjang, Perancis dan Amerika menjadi seperti sekarang pun setelah mengalami beberapa kejadian berdarah dan kelam, namun boleh jadi kuncinya adalah belajar dari kesalahan sejarah.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kalau Indonesia mau modern harus ada presiden/pemimpin yang ditembak mati atau dipancung dengan Guillotine, atau harus ada perang saudara, atau harus ada kaum minoritas yang dibakar kemudian mayatnya digantung (eh, tapi kayanya yang satu ini kejadian ya di Indonesia?astagfirulloh, semoga tidak terjadi lagi), namun sebagaimana kedua negara tersebut diatas bisa menjadi seperti sekarang, sebaiknya kita selalu belajar dari sejarah baik sejarah bangsa sendiri maupun sejarah dari bangsa lain. Semoga kelak Indonesia menjadi negara seperti yang diharapkan oleh para Pendiri Bangsa;
"membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"


Bobby Setenk
2 Oktober 2012
                 
             

Selasa, 25 September 2012

Tips agar cepat naek jabatan di BUMN absurd !,,,haha :D

1. Bangunlah sebuah kelompok Perkoncoan.

Dalam arti; bangunlah sebuah kelompok hang-out party-party, hura-hura, pijat-pijet yang tujuannya memperat ikatan perkoncoan. Kelompok perkoncoan tersebut hendaknya kemudian mendekat kepada lingkar kekuasaan yakni orang-orang atawa pejabat-pejabat yang sedang dan/atau berpotensi menjabat.



2. Beratkan Kepala.

Dalam arti; tundukkan kepala kalian setunduk-tunduknya apabila bertemu atasan yang kira-kira bisa membantu karir. Bahkan ketika berbicara via telepon pun dengan atasan tersebut, tetap menunduk-nunduk dengan penuh penghayatan seolah-olah berhadapan langsung.


3. "Yes" Man.

Dalam arti; Mau salah-mau bener atasan anda, hendaknya selalu katakan: "enjeh pak/bu" ataw "siapp pak/bu bos" ataw "baik pak/bu", katakan lebih dari sekali ataw berkali-kali dalam satu kali kesempatan.


4. Hilangkan Ijasah.

Dalam arti; nahh.... yang satu ini unik. Biasanya selama masih status Karyawan Paruh Waktu Tertentu (PKWT) ijasah anda akan "ditahan" oleh bagian SDM/personalia. Bagaimana caranya baik sengaja maupun tidak disengaja hilangkan ijasah tersebut, kemudian tanyakanlah secara bertubi-tubi berkesinambungan kepada bagian SDM/personalia.
Maka bagian SDM/personalia akan kelimpungan dan merasa bersalah, sehingga sebagai kompensasi anda bersangkutan akan dinaikkan jabatan bahkan diberikan jabatan struktural.


Selamat Mencoba!!




 

Saya Senang Berfikir, Tidak Berarti Simpatisan ILLuminati

Menggunakan RASIONALITAS dan NALAR dianggap simpatisan Illuminati dan berpaham Liberal, berpikir IDE PROGRESIV dicap Yahudi.
Ahh, betapa picik & kejinya sebuah dakwaan tanpa dasar, apalah bedanya dengan fitnah?
Hendaklah bedakan kepatuhan dengan kebodohan dan kematian akal budi.

Sabtu, 22 September 2012

KUKURUYUUKKK (bagian 1)


Sore menjelang malam pukul setengah delapan, sesuai rencana David mengunjungi rumah Joe. Malam itu band Joe, The Bargels akan mengisi acara panggung seni puncak acara peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI. Kala itu tahun 1997 adalah peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI ke-52. Siang tadi Joe memberitahukan kepada David ; ” vid, tar malem band gw manggung diacara tujuhbelasan, lo mo ikut ga?”, kata Joe. “Wah boleh tuh, jam berapa jalan?”, balas David bertanya. “Abis Isyalah, setengah delapanan”, jawab Joe.
Sesampai dirumah David berpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengutarakan niatnya kepada Joe dan Chris , niat untuk membentuk sebuah band baru. Sebelumnya David adalah seorang penabuh drum pada sebuah band bernama “Detectorz”, sebuah band yang mengusung musik dari band seperti Metallica, Sepultura dan Kreator, sebuah band Metal.  
Pada saat itu dalam Detectorz David adalah personil termuda, usianya baru lima belas, sehingga ketika awal tahun 90’an kala itu Alternative menggeliat merajai trend musik dunia yang ditandai oleh munculnya video clip “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana yang digandrungi dan digilai oleh remaja seusianya, maka David ikut terkena “sengatan” Nirvana. Menurut dia video clip dan lagu Smell Like Teen Spirit mewakili jiwanya yang sedang memberontak kepada nilai-nilai yang mengekang entah dari keluarga maupun lingkungan sekitar dan sebagai penawar kegelisahan dalam pencarian jatidiri.

David kemudian mencoba menciptakan lagu yang bertipe seperti Nirvana dan berulang kali David menawarkan materi musiknya itu kepada kawan-kawannya di Detectorz namun selalu ditolak dengan alasan tidak sesuai “aliran”. Bahkan lagu buatannya mendapat cibiran dari gitarisnya yang memang berskill mumpuni, menurutnya musik Alternative kurang berskill. Sejak dari situlah ia selalu “mencuri ilmu” gitarisnya ketika memainkan gitar, tekadnya bulat; “gw harus bisa maen gitar”. Sebenarnya ia bukannya tidak meminta diajarkan bermain gitar kepada gitarisnya itu, namun ada saja alasan penolakan dari gitarisnya itu, entah mengapa, yang paling sering dijadikan alasan; “udah,..elo fokus aja di drum”.  Diam-diam saat sedang latihan band atau mengulik lagu, David memperhatikan posisi jari grip kunci gitar saat gitarisnya memainkannya, kemudian mempraktekannya sendiri, dan diam-diam pula dia berniat akan keluar dari Detectorz kemudian membentuk band sendiri.  


Sampai tahun 1997, tiga tahun setelah kematian frontman Nirvana, Kurt Cobain yang tewas pada bulan April 1994, keinginannya menjadi seorang penyanyi sekaligus gitaris sebagaimana Kurt Cobain tidak pernah padam. Perhatiannya teralih kepada teman tempat tinggalnya, Joe dan Chris yang tergabung dalam sebuah band. Beberapa kali David menyaksikan penampilan The Bargels mengcover (memainkan lagu milik band lain) dari band seperti Collective Soul, The Offspring dan Radiohead, sebuah band yang mengusung Alternative!!, begitu dalam benak David girang. “Bandnya lumayan, tapi sayang bawain lagu orang mulu,..trus vokalisnya ,,…aduhh”, pikir David. Namun diluar hal teknis tersebut, dia tertarik dengan penampilan bassis dan gitarisnya, Joe Fellis dan Chris van Gill.


Tepat setengah delapan malam seperti rencana, rombongan The Bargels plus David bergerak menuju venue acara Panggung Seni puncak acara peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI. Selain Joe dan Chris, personil lain The Bargels adalah Modjo sebagai gitaris utama, Dino sebagai drummer dan Lucky sebagai vokalis. Lucky sebagai vokalis penampilannya bisa dikatakan nyentrik dan selalu berhasil menarik perhatian orang. Seperti pada malam itu, dia memakai sweater model turtle neck lengan panjang berwarna hitam, celana jeans yang kependekan dibagian bawah seperti model celana Michael Jackson alias ngatung dan robek pada kedua dengkulnya, memakai sepatu basket, tidak ketinggalan kacamata hitam, berkalung timah bulat-bulat kecil seperti kalung yang dipakai tentara di medan perang. Rambutnya kriting panjang sebahu dan dicat berwarna merah. Pada pergelangan tangannya memakai gelang dari akar bahar. Jika ditegaskan penampilannya lebih mendeskripsikan seperti Paranormal dibanding anak band.


Pembawa acara sudah di atas panggung, “yah terimakasih buat adik-adik yang membawakan dance modern barusan,…nahh penonton semua yang hadir disini pasti udah gak sabar buat acara yang satu ini. sekarang tiba waktunya penampilan banddd !!!”, demikian kata pembawa acara bersemangat. Sontak saja mendapat sambutan meriah dari penonton, kali ini sambutannya lebih meriah dibanding penampil-penampil sebelumnya. “Oke,..ga usah menunggu lama-lama,…kita tampilkan…., The Bargels!!!” sambung pembawa acara. Kemudian disambut riuh tepuk tangan para penonton. Semua personil The Bargels naik ke atas panggung, dan yang terakhir naik adalah sang vokalis, Lucky.

Suit!! Suittt !!! huuuuuu!!!....prok-prok-prok!!”, ternyata sambutan kepada sang vokalis lima kali lebih meriah dibanding untuk personil lainnya. David tertawa geli juga melihatnya dan tentu saja dia ikut berpartisipasi dalam siulan dan tepukan tangan heboh seperti penonton lainnya.


Alloowww,,….pakabar semuanyaaaa!!?, assalamualaikum!! How ar yu??!”, teriak Lucky menyapa penonton yang tidak sedikit adalah ibu-ibu itu. “Walaikumsalammm”, balas penonton.
Kenalkan, kami The Bargels akan mencoba menghibur para penonton semua disini”, sambung Lucky. “Kemudian ia berteriak kembali; MERDEKAAAA !!!” Lagu pertama dimainkan, sebuah lagu dari The Offspring, berjudul Come Out & Play. Entah apa yang didendangkan oleh Lucky, pengucapannya tidak jelas, apalagi lagu tersebut berlirik bahasa Inggris, yang terparah adalah suaranya yang fals tidak senada dengan alunan musik. Namun ketika lagu pertama usai dibawakan tetap saja para penonton heboh dan antusias dengan penampilan The Bargels khususnya penampilan Lucky. Bahkan dari arah dibelakang ada celetukan, “wooiyy, makan apaan siy lo barusan??!!”.

Okeehh, trimakasihhh, lagu kedua kami akan membawakan lagu Jamrud yang berjudul Ayam!!”, kata Lucky.


tikam-menikam sudah tradisi

tak mau tau apa yang kan terjadi

hanya perkara yang kamu cari

untuk penuhi hasrat gila…

kasih saja

abadikan ganti wujud aslinya

biar dia kan brubah jadi ayam jantan “…


Demikianlah lamat-lamat terdengar penggalan lirik lagu Jamrud band yang saat itu digawangi Krisyanto, Aziz, Ricky Teddy, Sandy dan Fitrah yang merupakan formasi terbaiknya.

Sekonyong-konyong terdengar; KUKURUYUUUKKKKK !!!!!!, teriak Lucky sambil menyeringai lalu kemudian menunjuk ke arah Pak RT dan jajaran tamu yang duduk di bagian kursi paling depan, lirik “Kukuruyuk” adalah bagian jeda pada lagu Jamrud tersebut dan di bagian itulah yang paling jelas terdengar dinyanyikan Lucky dari keseluruhan penampilannya malam itu. Para penonton terpingkal-pingkal dibuatnya, sampai-sampai ada yang memegangi perutnya. Terlihat Chris tersipu-sipu malu oleh ulah vokalisnya tersebut. Namun lain dengan Lucky, ia justru terlihat lebih semangat beraksi panggung, kaki kanannya dinaikkan ke atas speaker muka panggung sambil tetap bernyanyi dengan kedua tangannya memegangi stand mick, persis gaya andalan Axl Rose. Akhirnya lagu Ayam tuntas juga, “terimakasih, terimakasih, sampai jumpa lagi…I Love You!!”, tutup Lucky kepada para penonton sambil kiss-bye.


Anjiinngg…., keren banget penampilan lo pada men”, sambut David di bawah panggung menyambut The Bargels. Wajah Lucky terlihat sumringah, puas sekali nampaknya dia. Joe hanya bisa cengar-cengir sambil menyilangkan jari telunjuk kanannya melihat ke arah Lucky. “Mau suara fals, yang penting gaya broo”, kata Lucky kepada David. “Eh vid, lo mau minjem kacamata gw?..nih.., banyak cewe man, harus mantap gaya”, sambung Lucky menawarkan kebaikan kepada David. Rupanya Lucky merasa diatas angin melihat sambutan penonton tadi. “Ogah ahh, makasih, gw masih pengen kliatan waras malem ini Luck”, sergah David.
“Hahahaha..”, gelak tawa terdengar.

Seluruh rangkaian acara Panggung Seni peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI telah selesai, namun rombongan The Bargels tidak langsung membubarkan diri, mereka menyempatkan berfoto-foto di sebuah lapangan basket yang berada di tengah kompleks perumahan tempat tinggal mereka menghabiskan sisa rol film yang masih tersisa pada kamera.


Jam menunjukan pukul setengah satu dini hari. “Ok fren, gw cabut (pulang) ya, ngantuk nih”, celetuk Modjo. “gw juga deh”, sambut yang lainnya bagaikan meng-amin-i ajakan Modjo. Kecuali David, buru-buru dia berkata kepada Joe dan Chris; “nongkrong bentaran lagi yu bro, ngobrol-ngobrol lahh, malem minggu ini”. Sekarang di lapangan basket itu tinggal ada tiga orang anak muda; David, Joe dan Chris.

Ada yang pengen gw omongin ke elo bedua”, kata David mengawali pembicaraan. “Ada apaan vid”, sergah Chris penasaran. David menyambung pembicaraannya, “sebenernya gw dah merhatiin sepak terjang band lo The Bargels belakangan ini, cukup keren menurut gw, khususnya gw suka perform lo bedua. Ok deh,…gini maksud gw”, kata David, ada jeda sejenak kemudian dia seperti membuang nafas, rupanya dia mencoba merangkai kata terbaik untuk menyampaikan maksudnya kepada Joe dan Chris. “Gw mo ngajak lo bedua bikin band baru sama gw!, gimana menurut lo?”, demikian kalimat yang akhirnya diutarakan David. Joe nampak terperanjat mendengar ajakan yang baru saja diucapkan David, dia menatap teman satu bandnya Chris, kemudian dia berkata; “ini serius vid?”. “Dua rius!!”, balas David. “Detectorz gimana?”, tanya Chris menyambung. “Gw udah keluar dari Detectorz, karena ide-ide music gw udah ga sejalan lagi sama Detectorz”, argumen David. “Trus rencananya di band yang baru entar lo maen drum, vokalisnya siapa?”, tanya Joe kemudian dengan beruntun. “Gw jelasin dulu deh,…gw punya materi lagu buatan sendiri, format sama soundnya yaa deket-deket Nirvana lah, sebenernya siy ada unsur Sex Pistols juga…Punk Rock. Materi lagu-lagu buatan gw ga ada yang diterima di Detectorz”, papar David. “Hah, Sex Pistols?!”, tanya Chris.”Iya, Sex Pistols, wah ini band legend man…maut!, salah satu pioneer Punk, salah satu band yang banyak mempengaruhi musisi rock generasi dibawah mereka!”, terang David.


Sex Pistols, adalah sebuah band asal Inggris dibentuk tahun 1975 oleh seorang manajer bernama Malcolm McLaren, formasi awal personel bandnya adalah Johhny Rotten – vokalis, Steve Jones – gitaris, Glen Matlock – bassis dan Paul Cook – drummer, kemudian posisi Glen Matlock digantikan oleh Sid Vicious. Materi dalam lirik lagu mereka berisikan paham Anarkisme dan Nihilisme, serta menyerang monarki Inggris. Mereka dianggap membawa jenis musik baru yang “berbahaya”. Istilah punk pun mulai dikenal orang banyak gara-gara kemunculan mereka. Suatu kali Steve Jones-gitaris membuat pernyataan yang mempatenkan sebagai imej Sex Pistols;. “We’re not into music, we’re into chaos!. Dapat diartikan musik Sex Pistols 90% attitude, selebihnya musik.   


Gw jamin lo bakalan suka Sex Pistols. Eh…, lo pasti pada suka Nirvana kan?”, tanya David memburu. Joe dan Chris mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian David menyambung,”kalo lo suka Nirvana lo pada musti tau kalo Kurt Cobain dalam buku harian pribadinya bikin list Lagu en Album favorit dia, nah Album Sex Pistols, Nevermind The Bollocks adalah salah satu album band favoritnya”, demikian David menjelaskan lebih lanjut.

Sebenarnya Joe dan Chris bukannya tidak tahu sama sekali tentang Sex Pistols, mereka paling tidak sekedar tahu, namun tidak seperti David yang lebih tahu banyak tentang Sex Pistols, bukan hanya lagu-lagunya tapi juga sejarahnya dan makna dibalik lagu Sex Pistols. Begitupun Nirvana, David, Joe dan Chris sama-sama sangat menggilai Nirvana, namun tingkatan “kegilaan” David bisa dikatakan tiga tingkat diatas Joe dan Chris. David mempunyai semua album rekaman Nirvana, kasetnya, CDnya, video konser, dan kliping tentang Nirvana yang dia dapatkan dari mana saja. Adapun Joe, selain Nirvana, kecenderungannya adalah menyukai band-band rock Indonesia seperti Elpamas, God Bless, Jamrud, Boomerang, Grass Rock, dan Slank. Sedangkan Chris cenderung menyukai band-band yang disebut “Hair Band”, adalah band-band beraliran Heavy Metal yang berjaya di tahun 80’an, adalah band-band seperti Skid Row, Motley Crue, Bon Jovi, Twisted Sister, Poison dan Guns N’ Roses.


Gw tau, selera musik kita sebenernya sama lahh, paling engga kita sama-sama suka banget sama Nirvana!”, kata David mencoba lebih meyakinkan Joe dan Chris. “Yoiii, gw suka banget Nirvana, gokil tuh band”, setuju Chris. “Gw cocok sama penjiwaan Nirvana, berontak!”, sambung Joe. “Naaahh kann!!, cocok kita!”, kata David berbinar-binar. Joe kemudian melanjutkan, “sebenernya gw pengen banget bawain lagu-lagu Nirvana tapi anak-anak ga ada yang mau, gw doang sama Chris yang suka”. Pada titik ini David tahu dia menemukan benang merah kesamaan atas selera musik masing-masing yang sedikit berbeda, Nirvana!.


Well guys,…gimana ajakan gw?!”, David kembali kepada inti pembicaraan. Suasana hening sejenak, kemudian Joe berkata, wajahnya tampak cerah, “gw sebenernya udah rada males juga sih di The Bargels, ampun dah vokalnya Lucky, fals banget!, ga pernah bisa masuk nada tu anak. Terus si Modjo terlalu serius anaknya, ga bisa diajak gokil-gokilan”. Chris seperti jadi tersulut mendengar pemaparan Joe, “gw suka tipe musik yang soundnya rada-rada liar, ada storing or feedback di lagu, terusnya tipe lagu yang nada awal tuh lembut eh pas di bagian reff distorsi galak,..Nirvana gitu kan cirinya”. “Bener banget”, kata David wajahnya semakin ceria. Sejenak suasana kembali sepi. “Ok deh!!, kita coba dulu, gimana menurut lo Chris?”, Joe memecah kesunyian sambil menoleh ke Chris. “Gw siy gimana elo Joe”, kata Chris. “Lah terus, yang nyanyi sama yang maen drum siapa?”, Joe teringat kembali pertanyaannya. “Kalo lo ga pada keberatan gw jadi vokalis sekaligus maen gitar rhytem, nah elo Chris gitar melody, gimana?”, David mengajukan diri sekaligus meminta persetujuan Joe dan Chris. Nampak Joe dan Chris mengangguk-angguk, kemudian Chris berkata, “setuju gw!”. “Drumernya?”, tanya Joe lagi. “Danny, sepupu gw!”, jawab David”.


Danny adalah adik sepupu David yang kebetulan tinggal satu komplek. Ibunya adalah adik dari ayah David. Tingkat perekonomian Danny terbilang lumayan, dia memilik satu set drum sendiri di rumahnya hadiah ulang tahun dari ayahnya. Satu set standar drum merk Tama. Skillnya lumayan bagus, feelnya kuat, power pukulannya bagus. David pernah beberapa kali mengajak Danny bermain drum dengannya dan David dan Danny langsung sama-sama cocok dalam bermusik. Selera musiknya bebas, dalam arti semua aliran musik dia suka dan dia bisa mengirinya dengan permainan drumnya, salah satu kelebihan Danny.

Si Danny sepupu lo?, wah dia siy maennya bagus banget!!, setuju gw!!”, kata Joe. “Tapi kan dia rada “anak mami”, emang dia diijinin sama bokap-nyokapnya nongkrong-nongkrong bareng kita nanti?”, sergah Chris. “Tenang aja gw bakal ngomong sama bokap-nyokapnya nanti”, kata David mencoba menjawab keraguan Chris. 

Kemudian David menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada Joe dan Chris, “ok, mulai hari ini kita satu band”, kata David, Joe dan Chris sepakat.


Tiba-tiba mereka tersadarkan oleh suara toa masjid yang mulai mengumandangkan lantunan salawat, sebagai tanda tidak lama lagi akan masuk waktu shubuh. “Udah jam empat man”, kata Joe. “Wah iya, ga kerasa ya…, ok deh cabs (pulang) kita?,..oiya, gimana kalo besok malem kita langsung ngulik materi lagu?”, kata David. “Oke, jam berapa?”, tanya Chris. “enaknya jam delapanan, di rumah elo Joe, eh iya Chris lo bawa gitar kopong (sebutan untuk gitar akustik) ya”, jawab David. “Oke”, kata Joe dan Chris berbarengan. “Engg…, sekalian nyari nama band”, sambung Joe cepat. Girang hati David bahwasanya Joe begitu semangat mengajukan soal penamaan band baru mereka, padahal baru beberapa jam saja dia manggung dengan bandnya The Bargels, dan baru beberapa saat saja mereka sepakat membentuk band, David tersenyum kepada Joe.


Di awal pagi yang masih dini, ketiga anak muda itu pulang ke arah rumah masing-masing. Meskipun menahan kantuk, dalam benak mereka ada semacam semangat yang membuncah akan lahirnya sebuah band yang dibenak masing-masing ada pengharapan bahwa mereka akhirnya menemukan kawan band yang benar-benar cocok satu sama lain, sebuah band yang selama ini mereka idam-idamkan.


Lamat-lamat mulai terdengar ayam jantan berkokok bersahutan menyamput datangnya sang surya, KUKURUYUUUKK !!, David tertawa sendiri jadinya teringat aksi panggung Lucky, vokalis The Bargels.