Sore
menjelang malam pukul setengah delapan, sesuai rencana David mengunjungi rumah
Joe. Malam itu band Joe, The Bargels akan mengisi acara panggung seni puncak
acara peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI. Kala itu tahun 1997 adalah peringatan
Dirgahayu kemerdekaan RI ke-52. Siang tadi Joe memberitahukan kepada David ; ” vid, tar malem band gw manggung diacara
tujuhbelasan, lo mo ikut ga?”, kata Joe. “Wah boleh tuh, jam berapa jalan?”, balas David bertanya. “Abis Isyalah, setengah delapanan”, jawab
Joe.
Sesampai dirumah David berpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengutarakan niatnya kepada Joe dan Chris , niat untuk membentuk sebuah band baru. Sebelumnya David adalah seorang penabuh drum pada sebuah band bernama “Detectorz”, sebuah band yang mengusung musik dari band seperti Metallica, Sepultura dan Kreator, sebuah band Metal.
Pada saat itu dalam Detectorz David adalah personil termuda, usianya baru lima belas, sehingga ketika awal tahun 90’an kala itu Alternative menggeliat merajai trend musik dunia yang ditandai oleh munculnya video clip “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana yang digandrungi dan digilai oleh remaja seusianya, maka David ikut terkena “sengatan” Nirvana. Menurut dia video clip dan lagu Smell Like Teen Spirit mewakili jiwanya yang sedang memberontak kepada nilai-nilai yang mengekang entah dari keluarga maupun lingkungan sekitar dan sebagai penawar kegelisahan dalam pencarian jatidiri.
Sesampai dirumah David berpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengutarakan niatnya kepada Joe dan Chris , niat untuk membentuk sebuah band baru. Sebelumnya David adalah seorang penabuh drum pada sebuah band bernama “Detectorz”, sebuah band yang mengusung musik dari band seperti Metallica, Sepultura dan Kreator, sebuah band Metal.
Pada saat itu dalam Detectorz David adalah personil termuda, usianya baru lima belas, sehingga ketika awal tahun 90’an kala itu Alternative menggeliat merajai trend musik dunia yang ditandai oleh munculnya video clip “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana yang digandrungi dan digilai oleh remaja seusianya, maka David ikut terkena “sengatan” Nirvana. Menurut dia video clip dan lagu Smell Like Teen Spirit mewakili jiwanya yang sedang memberontak kepada nilai-nilai yang mengekang entah dari keluarga maupun lingkungan sekitar dan sebagai penawar kegelisahan dalam pencarian jatidiri.
David
kemudian mencoba menciptakan lagu yang bertipe seperti Nirvana dan berulang kali
David menawarkan materi musiknya itu kepada kawan-kawannya di Detectorz namun
selalu ditolak dengan alasan tidak sesuai “aliran”. Bahkan lagu buatannya mendapat
cibiran dari gitarisnya yang memang berskill mumpuni, menurutnya musik
Alternative kurang berskill. Sejak dari situlah ia selalu “mencuri ilmu”
gitarisnya ketika memainkan gitar, tekadnya bulat; “gw harus bisa maen gitar”. Sebenarnya ia bukannya tidak meminta
diajarkan bermain gitar kepada gitarisnya itu, namun ada saja alasan penolakan
dari gitarisnya itu, entah mengapa, yang paling sering dijadikan alasan; “udah,..elo fokus aja di drum”. Diam-diam saat sedang latihan band atau
mengulik lagu, David memperhatikan posisi jari grip kunci gitar saat gitarisnya
memainkannya, kemudian mempraktekannya sendiri, dan diam-diam pula dia berniat
akan keluar dari Detectorz kemudian membentuk band sendiri.
Sampai
tahun 1997, tiga tahun setelah kematian frontman Nirvana, Kurt Cobain yang
tewas pada bulan April 1994, keinginannya menjadi seorang penyanyi sekaligus
gitaris sebagaimana Kurt Cobain tidak pernah padam. Perhatiannya teralih kepada
teman tempat tinggalnya, Joe dan Chris yang tergabung dalam sebuah band.
Beberapa kali David menyaksikan penampilan The Bargels mengcover (memainkan
lagu milik band lain) dari band seperti Collective Soul, The Offspring dan
Radiohead, sebuah band yang mengusung Alternative!!, begitu dalam benak David
girang. “Bandnya lumayan, tapi sayang bawain
lagu orang mulu,..trus vokalisnya ,,…aduhh”, pikir David. Namun diluar hal
teknis tersebut, dia tertarik dengan penampilan bassis dan gitarisnya, Joe
Fellis dan Chris van Gill.
Tepat
setengah delapan malam seperti rencana, rombongan The Bargels plus David
bergerak menuju venue acara Panggung Seni puncak acara peringatan Dirgahayu kemerdekaan
RI. Selain Joe dan Chris, personil lain The Bargels adalah Modjo sebagai
gitaris utama, Dino sebagai drummer dan Lucky sebagai vokalis. Lucky sebagai
vokalis penampilannya bisa dikatakan nyentrik dan selalu berhasil menarik
perhatian orang. Seperti pada malam itu, dia memakai sweater model turtle neck
lengan panjang berwarna hitam, celana jeans yang kependekan dibagian bawah seperti
model celana Michael Jackson alias ngatung
dan robek pada kedua dengkulnya, memakai sepatu basket, tidak ketinggalan kacamata
hitam, berkalung timah bulat-bulat kecil seperti kalung yang dipakai tentara di
medan perang. Rambutnya kriting panjang sebahu dan dicat berwarna merah. Pada
pergelangan tangannya memakai gelang dari akar bahar. Jika ditegaskan penampilannya
lebih mendeskripsikan seperti Paranormal dibanding anak band.
Pembawa
acara sudah di atas panggung, “yah
terimakasih buat adik-adik yang membawakan dance modern barusan,…nahh penonton
semua yang hadir disini pasti udah gak sabar buat acara yang satu ini. sekarang
tiba waktunya penampilan banddd !!!”, demikian kata pembawa acara bersemangat.
Sontak saja mendapat sambutan meriah dari penonton, kali ini sambutannya lebih
meriah dibanding penampil-penampil sebelumnya. “Oke,..ga usah menunggu lama-lama,…kita tampilkan…., The Bargels!!!”
sambung pembawa acara. Kemudian disambut riuh tepuk tangan para penonton. Semua
personil The Bargels naik ke atas panggung, dan yang terakhir naik adalah sang
vokalis, Lucky.
“Suit!! Suittt !!!
huuuuuu!!!....prok-prok-prok!!”, ternyata sambutan kepada sang vokalis lima
kali lebih meriah dibanding untuk personil lainnya. David tertawa geli juga
melihatnya dan tentu saja dia ikut berpartisipasi dalam siulan dan tepukan
tangan heboh seperti penonton lainnya.
“Alloowww,,….pakabar
semuanyaaaa!!?, assalamualaikum!! How ar yu??!”, teriak Lucky menyapa
penonton yang tidak sedikit adalah ibu-ibu itu. “Walaikumsalammm”, balas penonton.
“Kenalkan, kami The Bargels akan mencoba menghibur para penonton semua disini”, sambung Lucky. “Kemudian ia berteriak kembali; MERDEKAAAA !!!” Lagu pertama dimainkan, sebuah lagu dari The Offspring, berjudul Come Out & Play. Entah apa yang didendangkan oleh Lucky, pengucapannya tidak jelas, apalagi lagu tersebut berlirik bahasa Inggris, yang terparah adalah suaranya yang fals tidak senada dengan alunan musik. Namun ketika lagu pertama usai dibawakan tetap saja para penonton heboh dan antusias dengan penampilan The Bargels khususnya penampilan Lucky. Bahkan dari arah dibelakang ada celetukan, “wooiyy, makan apaan siy lo barusan??!!”.
“Kenalkan, kami The Bargels akan mencoba menghibur para penonton semua disini”, sambung Lucky. “Kemudian ia berteriak kembali; MERDEKAAAA !!!” Lagu pertama dimainkan, sebuah lagu dari The Offspring, berjudul Come Out & Play. Entah apa yang didendangkan oleh Lucky, pengucapannya tidak jelas, apalagi lagu tersebut berlirik bahasa Inggris, yang terparah adalah suaranya yang fals tidak senada dengan alunan musik. Namun ketika lagu pertama usai dibawakan tetap saja para penonton heboh dan antusias dengan penampilan The Bargels khususnya penampilan Lucky. Bahkan dari arah dibelakang ada celetukan, “wooiyy, makan apaan siy lo barusan??!!”.
“Okeehh, trimakasihhh, lagu kedua kami akan
membawakan lagu Jamrud yang berjudul Ayam!!”, kata Lucky.
“tikam-menikam sudah tradisi
tak mau tau apa yang
kan terjadi
hanya perkara yang kamu
cari
untuk penuhi hasrat
gila…
kasih saja
abadikan ganti wujud
aslinya
biar dia kan brubah
jadi ayam jantan “…
Demikianlah
lamat-lamat terdengar penggalan lirik lagu Jamrud band yang saat itu digawangi
Krisyanto, Aziz, Ricky Teddy, Sandy dan Fitrah yang merupakan formasi
terbaiknya.
Sekonyong-konyong
terdengar; KUKURUYUUUKKKKK !!!!!!, teriak
Lucky sambil menyeringai lalu kemudian menunjuk ke arah Pak RT dan jajaran tamu
yang duduk di bagian kursi paling depan, lirik “Kukuruyuk” adalah bagian jeda
pada lagu Jamrud tersebut dan di bagian itulah yang paling jelas terdengar
dinyanyikan Lucky dari keseluruhan penampilannya malam itu. Para penonton
terpingkal-pingkal dibuatnya, sampai-sampai ada yang memegangi perutnya. Terlihat
Chris tersipu-sipu malu oleh ulah vokalisnya tersebut. Namun lain dengan Lucky,
ia justru terlihat lebih semangat beraksi panggung, kaki kanannya dinaikkan ke
atas speaker muka panggung sambil tetap bernyanyi dengan kedua tangannya
memegangi stand mick, persis gaya andalan Axl Rose. Akhirnya lagu Ayam tuntas
juga, “terimakasih, terimakasih, sampai
jumpa lagi…I Love You!!”, tutup Lucky kepada para penonton sambil kiss-bye.
“Anjiinngg…., keren banget penampilan lo pada
men”, sambut David di bawah panggung menyambut The Bargels. Wajah Lucky
terlihat sumringah, puas sekali nampaknya dia. Joe hanya bisa cengar-cengir
sambil menyilangkan jari telunjuk kanannya melihat ke arah Lucky. “Mau suara fals, yang penting gaya broo”,
kata Lucky kepada David. “Eh vid, lo mau
minjem kacamata gw?..nih.., banyak cewe man, harus mantap gaya”, sambung
Lucky menawarkan kebaikan kepada David. Rupanya Lucky merasa diatas angin
melihat sambutan penonton tadi. “Ogah
ahh, makasih, gw masih pengen kliatan waras malem ini Luck”, sergah David.
“Hahahaha..”, gelak tawa terdengar.
“Hahahaha..”, gelak tawa terdengar.
Seluruh
rangkaian acara Panggung Seni peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI telah
selesai, namun rombongan The Bargels tidak langsung membubarkan diri, mereka
menyempatkan berfoto-foto di sebuah lapangan basket yang berada di tengah
kompleks perumahan tempat tinggal mereka menghabiskan sisa rol film yang masih tersisa
pada kamera.
Jam
menunjukan pukul setengah satu dini hari. “Ok
fren, gw cabut (pulang) ya, ngantuk nih”, celetuk Modjo. “gw juga deh”, sambut yang lainnya
bagaikan meng-amin-i ajakan Modjo. Kecuali David, buru-buru dia berkata kepada
Joe dan Chris; “nongkrong bentaran lagi
yu bro, ngobrol-ngobrol lahh, malem minggu ini”. Sekarang di lapangan
basket itu tinggal ada tiga orang anak muda; David, Joe dan Chris.
“Ada yang pengen gw omongin ke elo bedua”,
kata David mengawali pembicaraan. “Ada apaan
vid”, sergah Chris penasaran. David menyambung pembicaraannya, “sebenernya gw dah merhatiin sepak terjang
band lo The Bargels belakangan ini, cukup keren menurut gw, khususnya gw suka
perform lo bedua. Ok deh,…gini maksud gw”, kata David, ada jeda sejenak
kemudian dia seperti membuang nafas, rupanya dia mencoba merangkai kata terbaik
untuk menyampaikan maksudnya kepada Joe dan Chris. “Gw mo ngajak lo bedua bikin band baru sama gw!, gimana menurut lo?”,
demikian kalimat yang akhirnya diutarakan David. Joe nampak terperanjat
mendengar ajakan yang baru saja diucapkan David, dia menatap teman satu bandnya
Chris, kemudian dia berkata; “ini serius
vid?”. “Dua rius!!”, balas David.
“Detectorz gimana?”, tanya Chris
menyambung. “Gw udah keluar dari
Detectorz, karena ide-ide music gw udah ga sejalan lagi sama Detectorz”,
argumen David. “Trus rencananya di band
yang baru entar lo maen drum, vokalisnya siapa?”, tanya Joe kemudian dengan
beruntun. “Gw jelasin dulu deh,…gw punya
materi lagu buatan sendiri, format sama soundnya yaa deket-deket Nirvana lah,
sebenernya siy ada unsur Sex Pistols juga…Punk Rock. Materi lagu-lagu buatan gw
ga ada yang diterima di Detectorz”, papar David. “Hah, Sex Pistols?!”, tanya Chris.”Iya, Sex Pistols, wah ini band legend man…maut!, salah satu pioneer
Punk, salah satu band yang banyak mempengaruhi musisi rock generasi dibawah
mereka!”, terang David.
Sex
Pistols, adalah sebuah band asal Inggris dibentuk tahun 1975 oleh seorang
manajer bernama Malcolm McLaren, formasi awal personel bandnya adalah Johhny
Rotten – vokalis, Steve Jones – gitaris, Glen Matlock – bassis dan Paul Cook –
drummer, kemudian posisi Glen Matlock digantikan oleh Sid Vicious. Materi dalam
lirik lagu mereka berisikan paham Anarkisme dan Nihilisme, serta menyerang monarki
Inggris. Mereka dianggap membawa jenis musik baru yang “berbahaya”. Istilah punk pun mulai dikenal orang banyak
gara-gara kemunculan mereka. Suatu
kali Steve Jones-gitaris membuat pernyataan yang mempatenkan sebagai imej Sex Pistols;. “We’re not into
music, we’re into chaos!”. Dapat diartikan musik Sex Pistols 90% attitude, selebihnya musik.
“Gw jamin lo bakalan suka Sex Pistols. Eh…, lo
pasti pada suka Nirvana kan?”, tanya David memburu. Joe dan Chris
mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian David menyambung,”kalo lo suka Nirvana lo pada musti tau kalo Kurt Cobain dalam buku
harian pribadinya bikin list Lagu en Album favorit dia, nah Album Sex Pistols,
Nevermind The Bollocks adalah salah satu album band favoritnya”, demikian
David menjelaskan lebih lanjut.
Sebenarnya
Joe dan Chris bukannya tidak tahu sama sekali tentang Sex Pistols, mereka
paling tidak sekedar tahu, namun tidak seperti David yang lebih tahu banyak
tentang Sex Pistols, bukan hanya lagu-lagunya tapi juga sejarahnya dan makna
dibalik lagu Sex Pistols. Begitupun Nirvana, David, Joe dan Chris sama-sama sangat
menggilai Nirvana, namun tingkatan “kegilaan” David bisa dikatakan tiga tingkat
diatas Joe dan Chris. David mempunyai semua album rekaman Nirvana, kasetnya,
CDnya, video konser, dan kliping tentang Nirvana yang dia dapatkan dari mana
saja. Adapun Joe, selain Nirvana, kecenderungannya adalah menyukai band-band
rock Indonesia seperti Elpamas, God Bless, Jamrud, Boomerang, Grass Rock, dan
Slank. Sedangkan Chris cenderung menyukai band-band yang disebut “Hair Band”, adalah band-band beraliran
Heavy Metal yang berjaya di tahun 80’an, adalah band-band seperti Skid Row,
Motley Crue, Bon Jovi, Twisted Sister, Poison dan Guns N’ Roses.
“Gw tau, selera musik kita sebenernya sama
lahh, paling engga kita sama-sama suka banget sama Nirvana!”, kata David
mencoba lebih meyakinkan Joe dan Chris. “Yoiii,
gw suka banget Nirvana, gokil tuh band”, setuju Chris. “Gw cocok sama penjiwaan Nirvana, berontak!”,
sambung Joe. “Naaahh kann!!, cocok kita!”,
kata David berbinar-binar. Joe kemudian melanjutkan, “sebenernya gw pengen banget bawain lagu-lagu Nirvana tapi anak-anak ga
ada yang mau, gw doang sama Chris yang suka”. Pada titik ini David tahu dia
menemukan benang merah kesamaan atas selera musik masing-masing yang sedikit
berbeda, Nirvana!.
“Well guys,…gimana ajakan gw?!”, David
kembali kepada inti pembicaraan. Suasana hening sejenak, kemudian Joe berkata,
wajahnya tampak cerah, “gw sebenernya udah
rada males juga sih di The Bargels, ampun dah vokalnya Lucky, fals banget!, ga
pernah bisa masuk nada tu anak. Terus si Modjo terlalu serius anaknya, ga bisa
diajak gokil-gokilan”. Chris seperti jadi tersulut mendengar pemaparan Joe,
“gw suka tipe musik yang soundnya rada-rada
liar, ada storing or feedback di lagu, terusnya tipe lagu yang nada awal tuh
lembut eh pas di bagian reff distorsi galak,..Nirvana gitu kan cirinya”. “Bener banget”, kata David wajahnya
semakin ceria. Sejenak suasana kembali sepi. “Ok deh!!, kita coba dulu, gimana menurut lo Chris?”, Joe memecah
kesunyian sambil menoleh ke Chris. “Gw
siy gimana elo Joe”, kata Chris. “Lah
terus, yang nyanyi sama yang maen drum siapa?”, Joe teringat kembali
pertanyaannya. “Kalo lo ga pada keberatan
gw jadi vokalis sekaligus maen gitar rhytem, nah elo Chris gitar melody,
gimana?”, David mengajukan diri sekaligus meminta persetujuan Joe dan
Chris. Nampak Joe dan Chris mengangguk-angguk, kemudian Chris berkata, “setuju gw!”. “Drumernya?”, tanya Joe lagi. “Danny,
sepupu gw!”, jawab David”.
Danny adalah adik sepupu David yang
kebetulan tinggal satu komplek. Ibunya adalah adik dari ayah David. Tingkat
perekonomian Danny terbilang lumayan, dia memilik satu set drum sendiri di
rumahnya hadiah ulang tahun dari ayahnya. Satu set standar drum merk Tama.
Skillnya lumayan bagus, feelnya kuat, power pukulannya bagus. David pernah
beberapa kali mengajak Danny bermain drum dengannya dan David dan Danny
langsung sama-sama cocok dalam bermusik. Selera musiknya bebas, dalam arti
semua aliran musik dia suka dan dia bisa mengirinya dengan permainan drumnya,
salah satu kelebihan Danny.
“Si
Danny sepupu lo?, wah dia siy maennya bagus banget!!, setuju gw!!”, kata
Joe. “Tapi kan dia rada “anak mami”,
emang dia diijinin sama bokap-nyokapnya nongkrong-nongkrong bareng kita nanti?”,
sergah Chris. “Tenang aja gw bakal
ngomong sama bokap-nyokapnya nanti”, kata David mencoba menjawab keraguan
Chris.
Kemudian
David menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada Joe dan Chris, “ok,
mulai hari ini kita satu band”, kata David, Joe dan Chris sepakat.
Tiba-tiba
mereka tersadarkan oleh suara toa masjid yang mulai mengumandangkan lantunan
salawat, sebagai tanda tidak lama lagi akan masuk waktu shubuh. “Udah jam empat man”, kata Joe. “Wah iya, ga kerasa ya…, ok deh cabs (pulang)
kita?,..oiya, gimana kalo besok malem kita langsung ngulik materi lagu?”,
kata David. “Oke, jam berapa?”, tanya
Chris. “enaknya jam delapanan, di rumah
elo Joe, eh iya Chris lo bawa gitar kopong (sebutan untuk gitar akustik) ya”,
jawab David. “Oke”, kata Joe dan
Chris berbarengan. “Engg…, sekalian nyari
nama band”, sambung Joe cepat. Girang hati David bahwasanya Joe begitu
semangat mengajukan soal penamaan band baru mereka, padahal baru beberapa jam
saja dia manggung dengan bandnya The Bargels, dan baru beberapa saat saja
mereka sepakat membentuk band, David tersenyum kepada Joe.
Di awal pagi yang masih dini, ketiga anak muda itu pulang ke arah rumah masing-masing. Meskipun menahan kantuk, dalam benak mereka ada semacam semangat yang membuncah akan lahirnya sebuah band yang dibenak masing-masing ada pengharapan bahwa mereka akhirnya menemukan kawan band yang benar-benar cocok satu sama lain, sebuah band yang selama ini mereka idam-idamkan.
Lamat-lamat
mulai terdengar ayam jantan berkokok bersahutan menyamput datangnya sang surya,
KUKURUYUUUKK !!, David tertawa
sendiri jadinya teringat aksi panggung Lucky, vokalis The Bargels.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar