Selasa, 18 Maret 2014

PRINCIPAL MALAYSIA


Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan pada momen-momen yang memang sudah menjadi  bagian kehidupan kantoran seperti harus menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.

Tidak jarang saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio – visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka rangkaian kalimat persis yang diinginkan  atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”

Saya coba mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.

 Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib. Saya  bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau meetingnya?”.

Tidak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari divisi lain membuka pintu ruangan; “bro orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.

Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.

Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear, selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9 pagi.”         

Revolta, 16 Maret 2014 

Penjual Kecapi

Hari Sabtu biasanya saya mencuci mobil, setelah seminggu baru hari sabtulah ada waktu untuk mencucinya. Itu pun setelah saya berhasil melawan rasa malas yang sangat. Alhasil waktu mencuci mobil pun tidak lagi bisa dikatakan pagi, sekitar pukul 11 menjelang siang.


Jangan ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah, kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.


Ditengah saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan mencari dari mana suara  berasal.


Di luar pagar rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya. Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih.  Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan merasa iba juga melihat si kakek.


“Ki* !”, saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah kecapi.  Saya lihat plastik kreseknya masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.


“Waduh, kasian banget, udah sepuh banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”, kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak, seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir seikhlasnya.

“Aki metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya lagi. 


Saya tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya pun melanjutkan mencuci mobil.

Malam harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang. Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung jadi iket pinggang, jalannya aga gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.

“Bukan pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.  




Setenk,

Serang, Februari 2014


noted :
  1. Aki = Kakek (sunda)
  2. Aa = Kakak laki-laki (sunda)