Jangan
ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti
tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya
menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore
atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang
menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah,
kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.
Ditengah
saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan
sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang
yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan
mencari dari mana suara berasal.
Di luar pagar
rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek
mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang
memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya.
Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih. Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan
merasa iba juga melihat si kakek.
“Ki* !”,
saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli
dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik
kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap
kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah
kecapi. Saya lihat plastik kreseknya
masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya
ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.
“Waduh, kasian banget, udah sepuh
banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya
iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa
beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli
buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah
kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”,
kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah
kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak,
seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil
membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir
seikhlasnya.
“Aki
metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet
saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya
ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya
ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya
lagi.
Saya
tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi
aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya
pun melanjutkan mencuci mobil.
Malam
harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah
saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang.
Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman
saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek
jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung
jadi iket pinggang, jalannya aga
gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri
si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.
“Bukan
pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang
selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti
seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya
liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.
Setenk,
Serang,
Februari 2014
noted :
- Aki = Kakek (sunda)
- Aa = Kakak laki-laki (sunda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar