Sabtu, 25 Februari 2017

Rasisme, Malcolm X dan Nation of Islam

Amerika saat ini adalah satu-satunya negara adikuasa juga merupakan salah satu negara besar dan modern. Namun mungkin beberapa dari kita tidak mengetahui, bahwa untuk mencapai taraf kondisi itu, Amerika harus terlebih dahulu mengalami “ujian” di dalam negeri. Selain Perang Saudara (Civil War) di abad 19 antara Utara (Union) dengan Selatan (Konfederasi), di abad 20 pada tahun 60an kembali negara itu mengalami ujian berat. Ujian tersebut adalah RASISME. Sebagai negara yang memiliki sejarah sebagai bangsa koloni yang nenek moyangnya adalah para imigran dari berbagai negara dan bangsa, maka penduduk Amerika terdiri dari berbagai ras; yakni kulit putih (Kaukasian), kulit hitam (Negroid), Latin (Hispanik), Timur Tengah/Arab (Semit), India dan kulit kuning (Asia).

Selepas perang dunia ke 2, situasi global dunia menggeliat dengan bermunculannya gerakan-gerakan kemerdekaan berbagai bangsa-bangsa jajahan (termasuk Indonesia). Gerakan-gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa tersebut dibarengi pula dengan kesadaran kesetaraan hak asasi manusia dan kesetaraan hak sipil berbagai suku-suku bangsa di dunia. Kesadaran hak asasi manusia dan kesetaraan hak sipil tersebut tidak hanya menjangkiti negara-negara yang baru merdeka, di Amerika pun yang selama bertahun-tahun dapat “mengendalikan” soal-soal rasisme dengan superioritas kulit putih, terkena terpaan angin perubahan ini. Kulit hitam di Amerika selama ini adalah sebagai penduduk kelas 2 karena sejarah kehadirannya di Amerika adalah budak yang didatangkan dari Afrika, di tahun 60an mulai terbit kesadaran sebagai manusia yang setara terhadap suku bangsa/ras lainnya. Pada beberapa wilayah Amerika saat itu, kulit hitamnya mulai melakukan pembangkangan atas penindasan dan kesewenang-wenangan kulit putih yang masih memandang kulit hitam adalah bangsa budak.
 
Adalah seorang Malcolm Little yang terlahir dari keluarga kulit hitam Amerika pada 19 Mei 1925. Ayahnya seorang pastur yang kemudian tewas diduga dibunuh oleh pendukung supremasi kulit putih (Klu Klux Klan) saat iya masih kecil. Tidak lama kemudian ibunya harus dikirim ke rumah sakit jiwa akibat shock. Keadaan itu membuat Malcolm kecil harus hidup dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Malcolm tumbuh dengan realita hidup yang sulit dan keras. Saat usia sekolah dia berujar kepada gurunya yang berkulit putih, bahwa sebagai murid yang terpandai di kelas ia bercita-cita menjadi seorang pengacara. Namun sang guru berkata bahwa ia harus mencari cita-cita yang lebih realistis untuk seorang kulit hitam. Gurunya menyarankan ia menjadi seorang yang berprofesi sebagai tukang atau pekerja-pekerja kasar lainnya.


Memasuki usia remaja, Malcolm tumbuh dijalan lingkungan Harlem, kota New York. Ia menjadi remaja yang gemar dengan kehidupan bersenang-senang ala kulit putih. Ia seolah malu akan kenyataan bahwa ia seorang berkulit hitam. Ia berpakaian seperti seorang kulit putih dan berpenampilan seperti layaknya kulit putih dengan mewarnai rambutnya menjadi merah, meski harus melawan rasa panas dan perih dari kimia pewarna rambut.. Untuk menghidupi keperluan sehari-hari ia bekerja sebagai pelayan di kereta api. 

Suatu hari saat berkunjung ke sebuah bar minuman, ia bertemu dengan sekelompok gangster bandar judi. Pimpinan gangster itu mengajaknya bergabung ke dalam kelompoknya. Malcolm menerima tawaran itu. Sejak bergabung dengan gangster itu uang yang ia dapatkan menjadi jauh lebih banyak daripada menjadi pelayan di kereta api, namun ia menjadi lebih dekat dengan kehidupan kriminal, pesta-pesta, minuman keras dan opium. Hingga akhirnya dia bersitegang dengan pimpinan gangsternya, ia diancam dibunuh yang membuatnya melarikan ke Boston. Disana ia membangun “gangsternya” sendiri dan mengangkat dirinya menjadi pimpinan kelompok perampok rumah-rumah orang kaya. Sepak terjang kriminalnya harus berhenti saat polisi menggerebek rumah yang dijadikan markas kelompoknya. Oleh pengadilan dia dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun.

Saat dipenjara, ia melawan perintah seorang sipir penjara yang mengakibatkan dia dimasukan ke dalam sel khusus untuk narapidana yang dianggap berbahaya. Sel khusus itu berukuran sempit dan tanpa cahaya, lebih mirip kandang. Satu-satunya cahaya yang masuk adalah pada saat diberi makan dan minum melalui sebuah celah. Saat sipir memberi makan kepadanya pun tak ubahnya memberi makan seekor hewan. Setelah beberapa hari menderita dalam sel khusus akhirnya ia dikeluarkan juga.

Dititik terendah dalam keadaannya di dalam penjara itulah ia bertemu dengan sesama narapidana berkulit hitam. Ia bernama Baines, atau nama panggilannya Bimbi. Baines berkata kepada Malcolm bahwa ia telah tesesat jalan. Baines bermaksud ingin menunjukan jalan yang lurus kepada Tuhan. Baines ternyata seorang anggota Nation of  Islam, sebuah organisasi yang semua anggotanya merupakan kulit hitam, dipimpin oleh Mr. Elijah Muhammad. Oleh Baines pulalah kesadaran awal Malcolm akan ketidakadilan dan diskriminasi oleh kulit putih diluar sana terbentuk. Baines pun meyakinkan kepada Malcolm untuk tidak malu kepada diri sendiri, mengenal diri sendiri dan memiliki kebanggaan diri sebagai ras kulit hitam. Suatu hari Baines mengajak Malcolm mengunjungi perpustakan dalam penjara itu, kemudian menunjukan sebuah kamus bahasa Inggris. Kemudian Baines menunjukan sebuah halaman yang tertulis makna kata “PUTIH”, ternyata menurut kamus itu arti PUTIH mengandung segala hal yang baik, indah, bagus dan benar. Selanjutnya Malcolm ditunjukan lagi halaman pada kamus itu yang menerangkan makna kata “HITAM”, ternyata menurut kamus itu pula arti HITAM mengandung segala hal yang buruk, kotor, jahat, jelek dan kelam. Menyadari hal tersebut Malcolm menjadi terperanjat, lantas dia bertanya kepada Baines apakah benar demikian adanya makna kata Hitam dan Putih seperti keterangan dalam kamus itu. Baines menjawab, bahwa si pembuat kamus itu adalah seorang berkulit putih. Itulah mengapa pada kamusnya memaknai yang Putih adalah kebaikan, sedang yang Hitam adalah keburukan. 

Semenjak saat itu Malcolm menjadi berbeda, ia mendapat pencerahan. Kemudian ia memapas habis rambut merahnya yang mencitrakan seperti orang kulit putih, ia ingin menjadi kulit hitam sejati. Ia pun menjadi narapidana yang gemar membaca. Selama dalam penjara pula ia mengadakan surat menyurat dengan pimpinan Nation of Islam, Mr Elijah Muhammad. Dalam suratnya Mr Elijah Muhammad mengatakan bahwa agama asli bangsa kulit hitam adalah Islam. Ditambahkannya pula bahwa kulit putih merampas kehidupan kaum kulit hitam dari tanah kelahiran mereka, Afrika. Berdasarkan sejarah, pada saat kulit putih dating ke Afrika, mereka membunuh, menculik dan membuang para lelaki kulit hitam ke belahan dunia Barat dengan menjadikan mereka sebagai budak, juga para wanita dan anak-anaknya terpaksa harus bekerja dan tersiksa sebagai budak sepanjang hidupnya. Mereka menjadikan orang-orang kulit hitam bodoh, dengan tidak mengenalkan bentuk-bentuk pendidikan serta pengetahuan. Secara turun-temurun, budak-budak wanita kulit hitam selalu mengalami perkosaan yang dilakukan terlebih dahulu oleh para agen budak kulit putih. Intinya, kulit putihlah yang sesungguhnya jahat bagaikan setan atau iblis. Kemudian digambarkan bahwa untuk mengisi kekayaan rohani mereka, para agen budak kulit putih itu mengajarkan agama Kristen. Para budak diajarkan dan harus percaya bahwa Tuhan sama dengan kaum kulit putih; berkulit pucat/putih, berhidung mancung, berambut pirang, serta bermata biru. Anggapan seperti itu membuat kaum kulit hitam yakin bahwa kulit mereka yang hitam akibat terkena kutukan Tuhan. 
Melalui surat pulalah Malcolm mendapat bimbingan tentang agama Islam oleh Mr Elijah Muhammad, diajarkannya bahwa Islam adalah penyerahan diri kepada Allah, kewajiban sholat lima waktu, larangan meminum alkohol, larangan memakan babi dan larangan berzinah.
Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam
                                      

Akhirnya Malcolm menyelesaikan masa tahanannya di penjara. Ia langsung berkunjung ke kantor Nation of Islam di kota Detroit untuk bergabung dengan Mr Elijah Muhammad. Di Nation of Islam sesama anggotanya saling menyapa dengan sapaan “Brother” atau Saudara. Dan saat berjumpa dengan sesama akan menyapa “Assalammualaikum”.
Saat bergabung dengan Nation of Islam, dia mengganti nama keluarganya menjadi “X”. X bermakna identifikasi para budak kulit hitam yang dibawa ke Amerika dahulu. Maka jadilah ia seorang Malcolm X.
Kegiatannya di Nation of Islam adalah mempresentasikan misi dan visi Nation of Islam di pinggir jalan layaknya pekerjaan seorang marketing, sambil memberikan brosur undangan untuk menghadiri pertemuan Nation of Islam di Masjid milik mereka.


Suatu hari Malcolm mendapat informasi bahwa ada seorang anggota mereka ditahan oleh kepolisian setelah terlebih dahulu dipukuli para polisi yang menangkapnya. Tanpa berpikir lama Malcolm mendatangi kantor polisi tersebut dengan berjalan kaki diikuti oleh puluhan anggota Nation of lslam yang lainnya. Pada saat berjalan kaki tersebut, warga kulit hitam biasa yang sedang berlalu-lalang melihat rombongan Malcolm itu kemudian berbondong-bondong mengikutinya, hingga barisan anggota Nation of Islam dan warga kulit hitam lain itu menjadi seperti long march massa. Kemudian mereka berbaris dengan tertib di sebrang kantor polisi itu sambil berteriak meminta pembebasan kulit hitam yang ditahan polisi tersebut. Malcolm masuk ke dalam kantor polisi tersebut dan meminta pihak kepolisian membebaskan rekannya itu jika memang tidak ada kesalahan. Akhirnya polisi memenuhi permintaan Malcolm, dan luar biasanya hanya dengan aba-aba jari Malcolm X, para peserta long march kulit hitam itu membubarkan diri dengan tertib. Disinilah kali pertama kharisma dan daya tarik seorang Malcolm X diketahui orang banyak. Berdasarkan kejadian itu pula Mr Elijah Muhammad mengangkat Malcolm X menjadi salah seorang menteri dalam organisasi Nation of Islam.
Malcolm X
                                                                   
Tugas Malcolm X sebagai menteri cenderung menjadi juru bicara dari Nation of Islam. Dia pun ditugasi berdakwah ke seluruh penjuru Amerika utara. Karenanya tidak heran seorang Malcolm X namanya semakin membumbung tinggi bagaikan seorang publik figur. Seorang Malcolm X senantiasa mengobarkan semangat harga diri kulit hitam untuk menolak ditindas oleh kulit putih, menolak selalu menundukan kepala saat berhadapan dengan kulit putih dan ia berseru agar pemuda kulit hitam meraih pendidikan setinggi mungkin. Saat berpidato di podium Malcolm X benar-benar menjadi singa podium. Hanya saja dalam menyampaikan dakwah dan menjadi juru bicara, ia wajib berbicara sesuai doktrin Nation of Islam dan harus selalu menjunjung tinggi seorang Elijah Muhammad sebagai pemimpin Nation of Islam. Namun demikian, alih-alih ia dan Nation of Islam sangat anti rasisme kulit putih Amerika, dalam ujarannya ia malahan bersikap rasis, sangat anti kulit putih. Ia berdakwah bahwa kulit putih adalah setan atau iblis dan Elijah Muhammad adalah utusan Allah. Berbeda dengan rekan sesama pejuang pembela hak asasi kulit hitam Dr. Martin Luther King yang menghendaki kesetaraan kulit hitam dengan kulit putih di Amerika, Malcolm X menawarkan solusi ala Nation of Islam atas masalah rasisme di Amerika yakni dengan pemisahan total antara kulit putih dengan kulit hitam.


Sorotan media membuat seorang Malcolm X menjadi publik figur, bahkan melebihi ketokohan Elijah Muhammad pimpinan Nation of Islam itu sendiri. Dari media pula akhirnya terbit berita yang mengabarkan perihal tidak sedap. Media memberitakan bahwa tiga orang wanita sekretaris pribadi Mr Elijah Muhammad melahirkan anak dari benih Elijah Muhammad. Malcolm X yang sejak dalam penjara menganggap Elijah Muhammad adalah seorang figur panutan, menjadi goyah pandangannya akan integritas seorang imam dari Nation of Islam. Apalagi ia membuktikan sendiri bahwa ternyata benar apa yang menjadi berita di media dengan mendatangi para sekretaris pribadi Elijah Muhammad tersebut. Namun demikian oleh ajudan Elijah Muhammad ia diingatkan bahwa Elijah Muhammad hanya manusia biasa, dan Malcolm harus membedakan antara Elijah Muhammad sebagai pemimpin Nation of Islam dengan kehidupan pribadinya. Malcolm harus menerima itu. 

Pada 22 November 1963, terjadi sebuah tragedi yang membuat bangsa Amerika tersentak. Presiden John F Kennedy ditembak pada saat kunjungan di kota Dallas. Amerika berkabung Nasional. Pada sebuah kesempatan Malcolm X dimintakan komentarnya atas peristiwa tersebut oleh wartawan, lalu dia mengatakan ;      
                                              “Anak-anak ayam masuk ke kandang”.
Maknanya kurang lebih; kekejaman kulit putih akhirnya memakan sendiri seorang kulit putih sebagai kepala negara.

Pernyataan Malcolm X tersebut membuat geger Amerika karena dianggap pernyataan kontroversi disaat negara sedang berkabung. Karena dianggap mencoreng nama baik Nation of Islam, Malcolm X dijatuhkan hukuman langsung oleh Elijah Muhammad, dia dilarang berbicara atau mengeluarkan pernyataan kepada media atau publik selama 90 hari. Hukuman berbicara itu termasuk juga larangan berdakwah di kalangan sendiri

Atas pemberhentiannya tersebut membuat Malcolm X mengundurkan diri dari Nation of Islam, ia pun mendirikan perkumpulannya sendiri yang ia namakan Muslim Mosque Inc.
Pada saat konferensi pers ia berkata bahwa sejak saat itu semua pernyataannya merupakan pernyataan dirinya sendiri dan tidak ada hubungan lagi dengan Nation of Islam. Sejak ia menyatakan mundur dari Nation of Islam, ia dan keluarga kerap mendapat caki-maki hingga teror ancaman pembunuhan melalui telpon rumah bahkan suatu malam rumahnya dilempari bom molotov. Untuk memenangkan hatinya atas permasalahan berat yang ia hadapi, ia melakukan perjalanan ke tanah Arab sekaligus menunaikan ibadah haji di Mekah.


Saat di Mekah dalam rangkaian ibadah haji, ia menuliskan kesannya berdasarkan pengalamannya di sana, yang ia tujukan kepada istrinya. Kutipannya sebagai berikut ;

Hari ini aku tiba di tanah Arabia. Aku tidak pernah menyaksikan keramahan yang sedemikian tulus dan persaudaraan sejati seperti disini, di tanah kuno dari Ibrahim, Muhammad SAW dan nabi-nabi besar lain yang tertulis dalam kitab suci.
Hari ini dengan ribuan orang lainnya aku memproklamirkan kebesaran Allah di kota suci Mekah. Aku mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Aku minum dari sumber mata air zam-zam. Aku berdoa kepada Allah di gunung Arafat. Itu adalah satu-satunya waktu dalam hidupku aku berdiri dibawah Sang Pencipta dan merasa menjadi manusia yang seutuhnya.


Kau mungkin terkejut dengan kalimat ini, …… aku makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan berdoa kepada Tuhan yang sama dengan sesama Muslim yang bermata biru, yang berambut pirang dan berkulit seputih-putihnya. Dan kita semua saudara sejati. Orang-orang dengan semua warna dan ras percaya kepada satu Tuhan dalam ikatan kemanusiaan. Setiap jam di tanah suci ini memberiku pandangan spiritual yang lebih besar daripada yang ku alami di Amerika

Dulu aku telah membuat dakwaan menyamakan semua kulit putih, dan akhirnya generalisir itu melukai perasaan beberapa sahabat kulit putih yang sepatutnya tidak layak menerimanya. Kelahiran kembali diriku secara spiritual yang telah ku alami sebagai buah dari berhaji ke kota suci Mekah adalah ……, aku tidak ingin lagi membuat dakwaan menyamakan sebuah ras. Aku memilih untuk sangat berhati-hati menyatakan seseorang bersalah sebelum terbukti kesalahannya.  

Aku bukan seorang rasis dan tidak akan menganut rasisme apapun. Dengan segala kejujuran dan ketulusan aku menyatakan bahwa yang aku inginkan hanyalah kebebasan, keadilan dan persamaan. Hidup, kemerdekaan dan tercapainya kebahagiaan untuk semua orang.

Saat ini, konsentrasi utamaku dengan perkumpulan dimana aku didalamnya, untuk kami sendiri tidak lain membela hak-hak mutlak kami. Namun demikian penerapan Islam yang benar dapat mengangkat kanker rasisme dari hati dan jiwa semua orang Amerika. Jika aku mati dengan membawa cahaya bagi mereka untuk mengabarkan kebenaran yang akan membantu melenyapkan penyakit rasisme ini, maka semata-mata itu karena Allah, Tuhan Semesta Alam. Sedangkan semua kesalahannya datangnya dari diriku.

Salam,
El Hajj Malik El-Shabazz ……
Malcolm X 


Beberapa saat kemudian setelahnya kepulangannya dari berhaji, ia bersama teman-temannya mendirikan organisasi baru bernama Organization of Afro-American Unity (OAAU). OAAU mendeklarasikan berdirinya organisasi tersebut di gedung pertemuan di kota New York. Hadir dalam deklarasi tersebut istri beserta anak-anaknya, sahabat-sahabat pergerakan yang sepaham dengannya, wartawan dan para tamu lainnya serta masyarakat umum.
Saat tiba giliran Malcolm X berbicara di podium, dari barisan kursi belakang ada seseorang membuat kegaduhan dengan melemparkan sebuah bom asap, hingga membuat suasana dalam gedung itu panik. Saat perhatian peserta deklarasi terfokus pada suasana gaduh, tiga orang kulit hitam maju ke depan menghampiri Malcolm X di podium dan memberondong tembakan kepadanya. Malcolm X ditembaki di depan istri dan anak-anaknya.

Malcolm X tewas pada 21 Februari 1965, ia tewas sebelum sempat menyampaikan kepada khalayak yang lebih luas lagi perihal pandangan-pandangan barunya dan solusi barunya atas masalah rasisme di Amerika. Namun demikian semangatnya, cita-citanya dan perjuangannya membela hak-hak asasi kaum hitam yang tertindas menjadi inspirasi bagi kaum kulit hitam siapapun, dimanapun dan apapun agamanya, bahkan menginspirasi siapapun tanpa mengenal warna kulit para pejuang melawan penindasan.

referensi :
1. Buku :
2. Film: Malcolm X. rilis 1992. directed by Spike Lee. distributor: Paramount Picture

TUHAN & GAMBARAN


 Saya teringat masa kecil dulu, kira-kira usia Sekolah Dasar. Ada sebuah permainan yang waktu itu di tempat saya dinamakan “gambaran”. Gambaran berbentuk selembar karton persegi panjang dengan ukuran kira-kira 30x15cm, yang terdiri dari gambar-gambar dalam kotak ukuran lebih kecil lagi kira-kira ukuran 6x3cm.


Gambar-gambar itu harus kita gunting sendiri menjadi satu-satu berbentuk seperti kartu. Biasanya (kalau tidak salah ingat) akan mendapat 36 kartu, yang memang ada nomor pada tiap-tiap gambar dalam kotak yaitu 1 sampai 36. Setahu dan seingat saya produsen mainan gambaran ini adalah “Gunung Kelud”, the one and only.   
Gambar pada lembar gambaran bisa bermacam-macam tema; ada cerita film, ada gambar tokoh pewayangan, gambar binatang dan yang paling favorit bagi saya dan teman-teman anak laki-laki adalah tentu saja gambar super hero seperti Superman, Batman, Spiderman, Hulk, Godam, Wonder Woman dan lain-lain. Cara bermain gambaran sepanjang yang pernah saya mainkan bersama teman-teman diantaranya adalah Tepokan; pemainnya berjumlah dua orang. Permainan yang satu ini, pemilihan kartunya oleh masing-masing pemainnya (disebut gacoan) adalah berdasarkan penilaian subyektiv si pemain. Maksudnya begini, misalnya menurut saya Spiderman adalah tokoh super hero yang paling keren, paling jagoan, paling hebat, banyak keunggulan, ya saya pilih gacoan kartu bergambar Spiderman. Cara bermainnya cukup sederhana, dua pemain saling berhadapan kemudian kartu gacoan diletakan ditelapak tangan masing-masing. Telapak tangan para pemain kemudian ditepukan kepada telapak tangan pemain lawan, seperti melakukan toss (hi-five). Saat kartu jatuh ke tanah (atau ke lantai) akibat pemain bertepukan, maka kartu siapa yang posisinya saat jatuh ke tanah dalam keadaan terbuka, maka dialah pemenangnya. 
Cara bermain yang lainnya adalah Saweran. Seperti namanya, cara bermainnya ya dengan cara disawer. Saweran bisa dimainkan lebih dari dua orang. Menentukan pemenangnya mirip dengan Tepokan, yakni kartu yang begitu jatuh di tanah dalam posisi terbuka, dialah pemenangnya. Namun bedanya, saweran bisa dimainkan ramai-ramai bersama teman-teman maka rasanya lebih seru dan menyenangkan. Para pemain memilih kartu gacoan berdasar gambar super hero favorit masing-masing; ada yang memilih Spiderman (saya ^_^), ada yang memilih Hulk, ada yang memilih Superman, ada yang memilih Iron Man, ada yang memilih Thor dan lain sebagainya. Kartu-kartu gacoan pemain dikumpulkan kepada salah satu pemain yang kemudian dia melemparkan kartu-kartu itu ke udara. Maka kartu-kartu pun berhamburan bagaikan daun kering yang rontok dari pohon.
Bayangkan jika peserta pemainnya lebih dari 5 orang, rasanya sangat menyenangkan saat melihat kartu-kartu yang berhamburan. Dan saat yang paling mendebarkan adalah ketika kartu-kartu itu mendarat di tanah, masing-masing pemain akan mencari gacoannya, apakah posisinya terbuka atau tertutup. Jika kartu gacoan bergambar super hero pilihannya dalam posisi terbuka girang rasanya hati. Tapi hingga belum didapatkan kartu gacoan yang hanya satu-satunya terbuka saat mendarat di tanah, belumlah ada pemenang. Maka dalam satu putaran, kartu-kartu dapat disawer beberapa kali hingga didapatlah satu-satunya kartu yang posisinya terbuka saat mendarat di tanah yang mana dialah pemenangnya, dialah jagoannya. Bagi yang gacoannya akhirnya menjadi satu-satunya yang terbuka, rasanya bangga sekali, seolah super hero pilihannyalah paling hebat. 
Biasanya selepas bermain gambaran, karena kartu-kartu gambaran kami bertema super hero atau jagoan, maka saya dan teman-teman melanjutkan bermainan gambaran tadi, tapi bukan memainkan kartunya namun membahas kehebatan masing-masing super hero yang menjadi jagoan pilihan masing-masing kami. Kami membahas sampai bahkan berdebat tentang kelebihan, kehebatan dan keahlian masing-masing super hero pilihannya. Misalnya bagi saya Spiderman itu keren, tangannya bisa mengeluarkan jaring, bisa menempel di tembok dan bisa menjerat lawan-lawannya. Dibalas oleh teman saya sebagai pengagum Superman, dia bisa terbang, matanya bisa mengeluarkan cahaya yang bisa menghancurkan benda-benda dan kebal peluru. Kemudian teman saya yang lain tidak mau kalah, super hero jagoannya adalah Hulk, tubuhnya kekar dan besar, tenaganya dahsyat, kebal peluru juga. 
Sampai akhirnya kami “saling menyerang” kelemahan super hero pilihan teman lainnya. “Spiderman apaan?, ga kebal peluru”, begitu cela teman saya. Saya tidak mau kalah tentunya, “Superman yang payah. Dikasih batu kripton doang semua kekuatannya ilang”, balas saya. “Hulk yang lucu, kalo udah ga marah jadi balik lagi ke orang biasa lemah, mana tinggal make celana pendek robek-robek doang lagi”, cela teman lain kepada yang memilih Hulk sebagai jagoannya. Hati rasanya dongkol juga sih mendapat cela-celaan kedapatan kelemahan jagoan-jagoan kami itu. Tapi herannya tiap celaan kelemahan kepada jagoan kami tetap saja jadi bahan tertawa bareng, ya paling tidak mencoba tetap tertawa walau dalam hati tetap dongkol juga. 
Jika jagoan utama kami habis dibahas kehebatan dan keunggulannya dan tentu saja kelemahannya, kami akan mencari jagoan lain yang akan dibanggakan. Misalnya saya setelah menjagokan Spiderman, jagoan alternativ saya adalah Flash, dia gerakannya sangat super cepat. Lalu teman saya jagoan alternativnya adalah Batman, dia misterius dan peralatannya canggih. Demikian teman-teman saya yang lainpun tidak ketinggalan mencari jagoan lainnya. Babak selanjutnya ya kembali lagi,…. cela-celaan mencari kelemahan jagoan pilihan teman lainnya, selanjutnya ya tawa berderai lagi. 
Acara membahas (dan saling mencela) jagoan kami ini tidak kalah serunya dengan memainkan gambaran dengan cara Tepokan atau Saweran, kami mengandalkan nalar dan pengetahuan kami untuk bisa mempresentasikan kelebihan jagoan pilihan kami tersebut, bahkan saat mencela kelemahan super hero jagoan pilihan teman lain pun kami mengandalkan logika dan nalar. Tapi sedang asik-asiknya acara “debat terbuka” itu ada saja salah seorang teman yang akhirnya berkata ; “ayo nih, Jagoan gue ga bakal pada bisa lo kalahin; ….. ALLAH !”. Serentak semua diam, tak bisa membantah atau malahan tidak ada yang berani membantah. Kebetulan saya dan teman-teman semua beragama Islam, siapa yang tidak sungkan dan bergetar hati mendengar kalimat ALLAH. Secara iman dan aqidah memanglah tidak terbantahkan, tapi masalahnya acara yang seharusnya tema dan konteksnya adalah bermain jadi langsung terasa tidak seru lagi, tidak menyenangkan lagi. Untuk beberapa saat suasana jadi hening, kemudian ada yang menyeletuk, “ah elo mah maennya Tuhan-nan”. Akhirnya acara bermain gambarannya malahan jadi bubar, semua pulang ke rumah masing-masing. 
Keesokan hari atau lusa, kembali lagi kami bermain gambaran. Yah, namanya juga anak-anak…. banyak seru-seruan, tapi ada juga momen ga serunya. Tapi tetap saja permainan gambaran super hero itu menyenangkan dan seru !