Saya
teringat masa kecil dulu, kira-kira usia Sekolah Dasar. Ada sebuah permainan
yang waktu itu di tempat saya dinamakan “gambaran”. Gambaran berbentuk selembar
karton persegi panjang dengan ukuran kira-kira 30x15cm, yang terdiri dari
gambar-gambar dalam kotak ukuran lebih kecil lagi kira-kira ukuran 6x3cm.
Gambar-gambar
itu harus kita gunting sendiri menjadi satu-satu berbentuk seperti kartu.
Biasanya (kalau tidak salah ingat) akan mendapat 36 kartu, yang memang ada
nomor pada tiap-tiap gambar dalam kotak yaitu 1 sampai 36. Setahu dan seingat
saya produsen mainan gambaran ini adalah “Gunung Kelud”, the one and only.
Gambar pada
lembar gambaran bisa bermacam-macam tema; ada cerita film, ada gambar tokoh pewayangan, gambar binatang dan yang paling
favorit bagi saya dan teman-teman anak laki-laki adalah tentu saja gambar super
hero seperti Superman, Batman, Spiderman, Hulk, Godam, Wonder Woman dan
lain-lain. Cara bermain gambaran sepanjang yang pernah saya mainkan bersama
teman-teman diantaranya adalah Tepokan;
pemainnya berjumlah dua orang. Permainan yang satu ini, pemilihan kartunya oleh
masing-masing pemainnya (disebut gacoan) adalah berdasarkan penilaian subyektiv
si pemain. Maksudnya begini, misalnya menurut saya Spiderman adalah tokoh super
hero yang paling keren, paling jagoan, paling hebat, banyak keunggulan, ya saya
pilih gacoan kartu bergambar Spiderman. Cara bermainnya cukup sederhana, dua
pemain saling berhadapan kemudian kartu gacoan diletakan ditelapak tangan masing-masing.
Telapak tangan para pemain kemudian ditepukan kepada telapak tangan pemain
lawan, seperti melakukan toss (hi-five). Saat kartu jatuh ke tanah
(atau ke lantai) akibat pemain bertepukan, maka kartu siapa yang posisinya saat
jatuh ke tanah dalam keadaan terbuka, maka dialah pemenangnya.
Cara bermain
yang lainnya adalah Saweran. Seperti
namanya, cara bermainnya ya dengan cara disawer. Saweran bisa dimainkan lebih
dari dua orang. Menentukan pemenangnya mirip dengan Tepokan, yakni kartu yang
begitu jatuh di tanah dalam posisi terbuka, dialah pemenangnya. Namun bedanya,
saweran bisa dimainkan ramai-ramai bersama teman-teman maka rasanya lebih seru
dan menyenangkan. Para pemain memilih kartu gacoan berdasar gambar super hero
favorit masing-masing; ada yang memilih Spiderman (saya ^_^), ada yang memilih
Hulk, ada yang memilih Superman, ada yang memilih Iron Man, ada yang memilih
Thor dan lain sebagainya. Kartu-kartu gacoan pemain dikumpulkan kepada salah
satu pemain yang kemudian dia melemparkan kartu-kartu itu ke udara. Maka
kartu-kartu pun berhamburan bagaikan daun kering yang rontok dari pohon.
Bayangkan jika peserta pemainnya lebih dari 5 orang, rasanya sangat
menyenangkan saat melihat kartu-kartu yang berhamburan. Dan saat yang paling
mendebarkan adalah ketika kartu-kartu itu mendarat di tanah, masing-masing
pemain akan mencari gacoannya, apakah posisinya terbuka atau tertutup. Jika
kartu gacoan bergambar super hero pilihannya dalam posisi terbuka girang rasanya
hati. Tapi hingga belum didapatkan kartu gacoan yang hanya satu-satunya terbuka
saat mendarat di tanah, belumlah ada pemenang. Maka dalam satu putaran,
kartu-kartu dapat disawer beberapa kali hingga didapatlah satu-satunya kartu
yang posisinya terbuka saat mendarat di tanah yang mana dialah pemenangnya,
dialah jagoannya. Bagi yang gacoannya akhirnya menjadi satu-satunya yang
terbuka, rasanya bangga sekali, seolah super hero pilihannyalah paling hebat.
Biasanya selepas
bermain gambaran, karena kartu-kartu gambaran kami bertema super hero atau
jagoan, maka saya dan teman-teman melanjutkan bermainan gambaran tadi, tapi
bukan memainkan kartunya namun membahas kehebatan masing-masing super hero yang
menjadi jagoan pilihan masing-masing kami. Kami membahas sampai bahkan berdebat
tentang kelebihan, kehebatan dan keahlian masing-masing super hero pilihannya.
Misalnya bagi saya Spiderman itu keren, tangannya bisa mengeluarkan jaring,
bisa menempel di tembok dan bisa menjerat lawan-lawannya. Dibalas oleh teman
saya sebagai pengagum Superman, dia bisa terbang, matanya bisa mengeluarkan
cahaya yang bisa menghancurkan benda-benda dan kebal peluru. Kemudian teman
saya yang lain tidak mau kalah, super hero jagoannya adalah Hulk, tubuhnya
kekar dan besar, tenaganya dahsyat, kebal peluru juga.
Sampai
akhirnya kami “saling menyerang” kelemahan super hero pilihan teman lainnya.
“Spiderman apaan?, ga kebal peluru”, begitu cela teman saya. Saya tidak mau
kalah tentunya, “Superman yang payah. Dikasih batu kripton doang semua
kekuatannya ilang”, balas saya. “Hulk yang lucu, kalo udah ga marah jadi balik
lagi ke orang biasa lemah, mana tinggal make celana pendek robek-robek doang
lagi”, cela teman lain kepada yang memilih Hulk sebagai jagoannya. Hati rasanya
dongkol juga sih mendapat cela-celaan
kedapatan kelemahan jagoan-jagoan kami itu. Tapi herannya tiap celaan kelemahan
kepada jagoan kami tetap saja jadi bahan tertawa bareng, ya paling tidak
mencoba tetap tertawa walau dalam hati tetap dongkol juga.
Jika jagoan
utama kami habis dibahas kehebatan dan keunggulannya dan tentu saja
kelemahannya, kami akan mencari jagoan lain yang akan dibanggakan. Misalnya
saya setelah menjagokan Spiderman, jagoan alternativ saya adalah Flash, dia
gerakannya sangat super cepat. Lalu teman saya jagoan alternativnya adalah
Batman, dia misterius dan peralatannya canggih. Demikian teman-teman saya yang
lainpun tidak ketinggalan mencari jagoan lainnya. Babak selanjutnya ya kembali
lagi,…. cela-celaan mencari kelemahan jagoan pilihan teman lainnya, selanjutnya
ya tawa berderai lagi.
Acara
membahas (dan saling mencela) jagoan kami ini tidak kalah serunya dengan
memainkan gambaran dengan cara Tepokan atau Saweran, kami mengandalkan nalar
dan pengetahuan kami untuk bisa mempresentasikan kelebihan jagoan pilihan kami
tersebut, bahkan saat mencela kelemahan super hero jagoan pilihan teman lain
pun kami mengandalkan logika dan nalar. Tapi sedang asik-asiknya acara “debat
terbuka” itu ada saja salah seorang teman yang akhirnya berkata ; “ayo nih,
Jagoan gue ga bakal pada bisa lo kalahin; ….. ALLAH !”. Serentak semua diam,
tak bisa membantah atau malahan tidak ada yang berani membantah. Kebetulan saya
dan teman-teman semua beragama Islam, siapa yang tidak sungkan dan bergetar
hati mendengar kalimat ALLAH. Secara iman dan aqidah memanglah tidak
terbantahkan, tapi masalahnya acara yang seharusnya tema dan konteksnya adalah bermain
jadi langsung terasa tidak seru lagi, tidak menyenangkan lagi. Untuk beberapa
saat suasana jadi hening, kemudian ada yang menyeletuk, “ah elo mah maennya
Tuhan-nan”. Akhirnya acara bermain
gambarannya malahan jadi bubar, semua pulang ke rumah masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar