Selasa, 03 Desember 2013

PULANG


PULANG (Novel), Leila S. Chudori
penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

“PULANG”, adalah sebaris kata yang bermakna tersirat.
Ada makna merengkuh hati, tempat kita bersauh mengistirahatkan fisik dan batin setelah seharian bergumul dengan penat dan kerasnya kehidupan.
Ada makna kerinduan yang mendalam, kembalinya kita ke rengkuhan tempat dan dimana muasal kita berasal, dimana ada banyak cerita dan romantika masa lalu yang membentuk pencitraan diri dimasa saat ini.
Ada pula Pulang bermakna kembalinya kita ke haribaan Sang Pemilik jiwa dan raga ini.
Demikianlah kata PULANG, ada makna sentimental dibaliknya.
Novel ini berlatar belakang kisah eksil (pelarian) politik pada saat Indonesia mengalami sejarah terkelamnya yaitu peristiwa 30 September 1965 dan kejadian setelahnya, yaitu pembersihan bahkan pembrantasan mereka yang disangka terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada peristiwa 30 September 1965 tersebut.

Beberapa tokoh sentralnya adalah Dimas Suryo, wartawan Kantor Berita Nusantara. Pada saat gelombang pembersihan orang-orang yang diduga terlibat Gerakan 30 September 1965 dia dikirim ke Luar Negri oleh kantor beritanya. Pergaulan dengan kawan-kawan dekatnya termasuk sang Pemimpin Redaksi yang memiliki pandangan politik Komunis membuatnya tak bisa kembali ke Tanah Air, ditolak oleh pemerintah Orde Baru bahkan diburu, sehingga bersama ke-tiga sahabatnya harus pertualang dari satu negara ke negara lain, hingga Paris Perancis menjadi persinggahan terakhir.
Kehidupan di Perancis tidak membuatnya melupakan Tanah Airnya Indonesia, kampung kelahirannya Solo, Jawa Tengah. Meskipun dia membangun sebuah restoran bercita-rasa Indonesia yang cukup sukses bersama ketiga sahabatnya sesama pelarian politik di Perancis, meskipun dia telah bertemu dengan jodohnya seorang istri berkebangsaan Perancis yang kemudian lahirlah anak dari hasil pernikahannya, seorang perempuan cantik yang diberi nama Lintang Utara.
Namun tetap jauh di lubuk hatinya yang tersendu dia mengingat orang-orang yang dicintai jauh di negri yang saat itu dirundung kisah horor pembantaian besar-besaran diluar nalar kemanusiaan.  
Ada rasa hilang dari hatinya meskipun dia dikeliling orang-orang yang mengasihinya.
Tokoh sentral lainnya adalah Lintang Utara, anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan perempuan Perancis bernama Vivienne. Parasnya perpaduan ras Asia dengan Kaukasian, kecantikan yang ada padanya bukan kecantikan biasa gadis-gadis Eropa yang putih pucat, namun lebih mirip putih berisi layaknya susu. Ketidakbahagiaan sang ayah yang dirasakannya mau tidak mau membawanya kepada pergumulan pertanyaan-pertanyaan apa yang ayahnya sembunyikan dari dia dan ibunya, misteri negara asal ayahnya yang bernama INDONESIA, mengapa ayahnya yang seorang Asia bisa terdampar di negri Perancis, yang kesemuanya membawanya kepada pertanyaan yang paling tinggi yakni akar dari kejati diriannya yang memiliki darah Indonesia. Hingga takdir membawanya  menuju Indonesia dikarenakan harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di salah satu Universitas terkemuka di Perancis yaitu Universitas Sorbonne, yakni membuat film dokumenter tentang para mantan Tahanan Politik mereka yang disangka terlibat Gerakan 30 September 1965. Namun seperti mendapat kesialan, dia datang ke Indonesia disaat yang kurang tepat, yakni di tahun 1998. Saat itu Indonesia kembali berkecamuk oleh sebuah gerakan perubahan yang disuarakan oleh Mahasiswa, yang menuntut Reformasi sistem yang demikian menyesakkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebuah klimaks dari masa-masa yang dinamakan krisis moneter yang menerpa Indonesia, dimulai tahun 1997, sebuah gambaran dari rapuhnya pondasi Pembangunan yang dibanggakan oleh Orde Baru.
Sekali lagi, Indonesia porak-poranda dan Lintang Utara putri Dimas Suryo berada ditengah kekacauan itu.

Novel ini berlatar belakang Indonesia saat menjelang kejadian 30 September  1965, kejadian-kejadian beberapa tahun setelahnya, Gerakan Mei 1968 di Perancis, hingga pada saat kerusuhan 1998 dan Gerakan Reformasi 1998.
Menariknya, saya (sebagai pembaca) merasa mendapat gambaran kehidupan para eksil/pelarian politik atas kejadian 30 September 1965 di negri Perancis, mereka bertahan hidup dengan segala rintangan yang menerpa, teror mental yang tidak pernah berhenti bahkan di tempat yang jauh dari Indonesia, rasa kehilangan identitas diri, dijauhkan dari keluarga mereka yang beberapa tidak tahu bagaimana nasibnya, hingga keharuan dan kerinduan mereka akan PULANG ke Tanah Air, Indonesia.
 Ada gambaran pula, bahwa mereka-mereka yang ditangkapi kemudian diinterogasi dan disiksa bahkan dibunuh, tidaklah mereka yang terlibat Gerakan 30 September 1965, mereka “sekedar” menjadi anggota keluarga para simpatisan Partai Komunis Indonesia, teman dekat, bahkan “sekedar” berinteraksi sebagai sesama warga negara.

Saya pikir Leila S. Chudori sebagai penulis Novel ini tidak main-main atas penggambaran dalam Novelnya, mestinya semua tulisannya berdasarkan riset yang mendalam selama 6 tahun proses penulisannya.
Menariknya lagi (bagi saya), menurut Leila karakter Lintang Utara menjadi hidup berdasarkan penuturan seorang Mariana Renata Dantec dengan mengisahkan kehidupan mahasiswa Universitas Sorbonne, Paris. Meskipun tidak mengatakan bahwa Lintang Utara adalah penggambaran Mariana Renata.
 Kemudian karakter Dimas Suryo terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan para eksil politik salah satunya adalah Sobron Aidit, adik kandung dari DN Aidit.           


Ada bumbu romantisme bahkan sensualitas dalam novel, tapi menurut saya “its ok lah” dan yang penting tidak lari dari konteks judul novel itu sendiri, nilai-nilai humanisme yang tersirat dalam novel dan tentu saja sedikit banyak atahun 1965, karena meskipun kelam  sejarah tetaplah sejarah yang tidak boleh ditinggalkan dan menjadi pembe
lajaran.



Rabu, 24 Juli 2013

MALIN KUNDANG MENGGUGAT !

Kalian tahu legenda Malin Kundang si anak yang konon durhaka kepada sang ibu?, saya beri tahu sesuatu, Malin Kundang itu sebenarnya juga korban. Dia tidak diberi kesempatan menjelaskan duduk perkara kepada orang banyak yang terlanjur melabelinya “anak durhaka” mengapa dia bersikap seolah memusuhi ibunya, karena boleh jadi sang ibulah yang telah sekian lama terlebih dahulu tidak mencurahkan kasih sayang yang tulus laiknya ibu kepada anaknya. 

Mengapa masyarakat tidak bertanya kepada sang Ibu; bukankah seorang ibu seharusnya mengasihi tanpa batas anaknya, mengasihaninya, mencintainya dengan tulus bagaikan matahari yang menyinari bumi tak mengharapkan balas dan hanya memberi tak harap kembali, mengapa tega mengutuk darah dagingnya sendiri menjadi batu?. Adakah masyarakat memikirkan; apakah sang ibu Malin Kundang kemudian tertawa puas setelah anaknya sendiri berubah menjadi batu akibat sumpah serapahnya?, adakah secercah sesal dalam kelembutan hati seorang ibu demi melihat anaknya berubah menjadi seonggok batu? 

Sedangkan dikehidupan nyata dan bukan sekedar legenda, cobalah ingat dan hitung telah berapa banyak kabar tentang bayi tak berdosa yang dibunuh ibunya sendiri ketika masih merah, dikubur hidup-hidup di halaman belakang tempat bersalin bidan jahat yang membuka praktek gelap aborsi, dibuang bagaikan sampah di selokan yang kotor dan berair busuk, dibiarkan dalam kardus bekas kemudian ditinggal di tengah jalan antah berantah jika sang bayi merah bernasib sial tentunya akan menjadi santapan anjing jalanan atau hidangan pesta semut merah yang gemar daging mentah.

Jika si anak sudah lebih besar, pernahkah mendengar kabar ada anak yang dijual oleh ibunya sendiri?, baik itu dijual dengan cara yang tidak manusiawi, seperti dijadikan sundal jika anaknya perempuan atau dijual untuk dijadikan peminta-minta di jalanan kota. Atau dijual dengan “cara terhormat”, yaitu dikawinkan dengan paksa demi sang ibu mendapat kenikmatan ataupun kehormatan status sosial hidup.

Anak-anak selalu menjadi korban ambisi orang tua. Banyak dari mereka tidak mampu dan berani melawan kodrat sebagai anak. Label “Anak Durhaka” terlalu diterima mentah-mentah oleh pola pikir masyarakat yang terlanjur mengakar kuat hingga ke perut bumi sehingga menjadi stigma yang sangat menakutkan. Lalu mengapa atas kejahatan orang tua kepada anak-anaknya tidak pernah ada label “Orang Tua Durhaka”?. Belum lagi ancaman dari agama yang ditafsirkan berat sebelah dan diterima mentah-mentah tanpa nalar akal budi, sungguh ganjaran neraka adalah ancaman menakutkan. Mestinya orang yang paham agama mengetahui, atau pura-pura tidak tahu?, atau tidak ingin tahu?,….bahwa Tuhan Maha Adil, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. 

Padahal anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan ke alam fana yang penuh kebusukan ini, mereka seharusnya menjadi "Buah Cinta" ayah dan ibu, bukanlah "Buah Nafsu" yang banal.

Boleh jadi legenda Malin Kundang sebagai anak yang memusuhi sang ibu maka terkutuklah dia menjadi batu, namun ternyata di dunia ini tidak sedikit pula orang tua yang berhati batu!      

Sabtu, 27 April 2013

MAGAZINE (bagian 2)


“Maen di A apa maen di E?”, tanya Chris kepada David. Sebagaimana rencana mereka pada malam sebelumnya, mereka berkumpul di rumah Joe. David, Joe dan Chris tinggal dalam lingkungan yang sama sejak mereka seumuran bocah kelas 1 Sekolah Dasar, sebuah komplek veteran perang, ayah mereka adalah tentara. Maka tidak aneh, jika diantara mereka ada kedekatan secara psikologis karena merasakan “persamaan nasib”. Namun berbeda halnya dengan David dan Chris, Joe adalah seorang yatim, ayahnya telah gugur di medan pertempuran, pada saat Joe masih balita. 


Pada tahun 1975, pada saat era perang dingin antara blok timur yang berhaluan komunis dan sosialis dipimpin Uni Sovyet (sekarang Rusia) dengan blok barat yang berhaluan kapitalis  dipimpin oleh Amerika, masing-masing saling berusaha menancapkan pengaruhnya di muka bumi. Efek dari perang dingin ini turut pula menarik Indonesia ke dalam pusaran konflik.

Sebuah pulau kecil di timur Indonesia yang berbatasan dengan Flores, Nusa Tenggara Timur bernama Timor Portugis adalah sebuah wilayah kolonial/jajahan bangsa Portugis, saat itu sedang berkecamuk perang saudara antara faksi-faksi yang berpengaruh di Timor Portugis sebagai akibat hengkangnya pemerintah kolonial Portugis. Pada saat pemerintah kolonial hengkang tersebut maka terjadi kekosongan kekuasaan, sebuah partai berhaluan sosialis bernama FRETILIN (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente) mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokratik Timor Leste. Faksi lain menganggap deklarasi kemerdekaan oleh FRETILIN tersebut dilakukan secara sepihak. Salah satu faksi yang menentang deklarasi kemerdekaan tersebut membalas dengan deklarasi tandingan yakni deklarasi berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah APODETI (Associacao Popular Democratica da Timorense).


Amerika dan Australia sangat berkepentingan dengan kejadian yang sedang terjadi di Timor Portugis, Amerika sebagai pemimpin blok barat tidak menginginkan munculnya negara baru berhaluan komunis/sosialis, apalagi Amerika baru saja kalah perang di Vietnam yang akhirnya menjadi negara komunis keseluruhan. Australia pun khawatir akan terjadi efek domino dari kemenangan komunis di Vietnam akan berimbas ke negara-negara Asia Tenggara yang merupakan serambi Australia. Maka Amerika dan Australia sangat mendukung Timor Portugis menjadi bagian dari Indonesia atau berintegrasi dengan Indonesia.

Saat itu yang menjabat sebagai presiden Republik Indonesia adalah Suharto. Suharto memiliki trauma terhadap komunis akibat peristiwa 1965 maka dari itu ia sangat membenci Komunisme dengan ajaran Marxisme dan Leninismenya. Maka ketika mendapat restu dari Amerika merebut Timor Portugis dari FRETILIN, tidak memerlukan waktu lama baginya mengeluarkan instruksi untuk menginvasi Timor Portugis dengan mengirimkan Tentara Nasional Indonesia dalam sebuah operasi militer bernama Operasi Seroja pada tanggal 7 Desember 1975. 

Ayah Joe, David dan Chris turut serta dalam Operasi Seroja tersebut.


Kembali kepada ketiga sahabat yang malam itu sedang berkumpul membulatkan rencana pembentukan band baru sambil menikmati suasana malam yang berbintang ditemani alunan gitar dan dendang lagu dan tidak ketinggalan seteko kopi hitam.

“Kayanya enak di A deh, dari A – Em – G tapi kuncinya jalan terus, kocokan dinamis”, jawab David. Ternyata mereka sedang mencari kunci nada sebuah lagu. “Lo dah ada liriknya Vid?”, tanya Joe. “Ada, udah gw kasih judul malah, judul lagunya Gerombolan Kera”, jawab David.

“Liat gw liriknya!”, samber Joe lagi.


Liriknya :


Gerombolan Makhluk ngumpul

Bersuara ‘ga karuan

Ada yang ngomong, ada yang sibuk

Suasana bikin pusing

Ceritanya berdiskusi

Ko semua bersuara?

Teriak sini- teriak sana lalu berkejar-kejaran

reff:

Rebutan barang

Rebutan sarang biasa

Rebutan pisang lalu kelahi

Sampai ada salah satu yang mampus!

Ada satu yang paling gede

Dia itu pemimpinnya

Nguk-nguk…katanya

Ngik-ngik..katanya

Yang lain setuju aja

Sambut riuh tepuk tangan

Sekalian tepuk kaki

Ngelempar barang, ngroyokin teman

Itu cara merayakan


“Wah, keren vid”, kata Chris, tentang apa?, tanya Chris kemudian.

 “Mmm……., tentang sebuah kelompok atau organisasi masyarakat atau bias juga Partai Politik yang lagi marak bermunculan belakangan ini nih, ngakunya penolong rakyat dan bangsa tapi ternyata penipu en korup semua, malah nambah bikin kacau keadaan. Mereka sebenarnya ga lebih dari mentingin kepentingan kelompok mereka sendiri. Gw sebut mereka Gerombolan Kera sekalian!!hahahaha”, papar David sambil tertawa.

“Hahahaha, yoii, mantap bro!!”, sambut Joe semangat.

“Lo suka politik vid?”, tanya Chris kemudian.

“Kalo konteksnya sebagai wacana en pijakan analisis untuk mengkritisi sikon Negara ini gw suka, tapi kalo Politik Praktis gw ga suka!”, jawab David. “Politik praktis?”, tanya Joe sambil mengrenyitkan dahi. “Setau gw yang praktis itu beli tokipan gingseng”, sergah Joe. Hahahaha, semua tertawa. “Gini bro, ngerti politik itu penting supaya kita tau kebusukan penguasa, dan tentu aja supaya kita paham juga sejauh mana sebenarnya politik bisa membuat rakyat sejahtera dan bebas dari kemiskinan dan ketakutan, ya ketakutan,….politik yang baik itu melindungi Hak Asasi Manusia”, papar David. “Kalo politik yang lagi rame-rame sekarang ini yang gw tonton di tivi en baca koran malah itu ya,….. rebutan jatah kursi, jabatan en kekuasaan”, sambung Chris. “Nahh….!!, itu dia politik praktis!!, Partai Politik negri ini rata-rata kaya gitu, meskipun ga semua, tapi gw sejauh ini blom nemu Partai Politik yang bener-bener bersih”, sergah David.

“Hmmm,…..., tapi seperti kata lo vid, ada juga bangsat selain Partai Politik kan?, organisasi kemasyarakatan klakuannya anjing juga tuh!, apalagi yang berkedok agama, kelakuan mereka lebih kaya preman, bikin resah, bar-bar!, klakuannya ga mencerminkan orang yang berketuhanan Yang Maha Pengasih dan Penyayang”, argument Joe. “Mantaaaapp pak hajih!”, timpal David.


“Btw, gimana lagu gw?, kurang sip ya?”, tanya David kembali fokus kepada lagunya. “Bagus vid, masih kedengeran asing siih, blom familiar sama lagunya ntar juga lama-lama pasti akrab di kuping”, jawab Chris.



 “Guys guys,….nama band kita apa nih?”, tiba-tiba Joe menyela. “,,…nama band ya?”, baru kepikiran juga David.

“Mmmm…., mmmmm,…”, suara itu yang terdengar dari ketiganya.

“Cucak!”, teriak Joe. “Cucak?”, apaan maknanya tuh?, tanya Chris.”Biar semerdu dan mahal seperti burung Cucak Rawa!”, jawab Joe. “Hahahaha, najis, jelek banget!, ga sekalian aja Kuntul!, biar kaya…..anu,…kuntul!!”, Chris menyanggah sambil tertawa. David dan Joe tertawa terbahak-bahak.
“Mastron!, The Parto!, Umbels!, The Dead Wood!, Kecambah!, The Gitings!, The Toks!, Navigators!, Sampurasun!, Ragaji!, Cuktai!”, demikian mereka silih berganti mencoba memberi ide nama, namun semua terdengar tidak kena di hati dan telinga bersama.


“Gimana kalo Xerud?!”, usul Chris.

“Apaan artinya tuh?”, tanya David. “Kebalikan dari kondom merk Durex!, jawab Chris. “Hahahaha”, tawa menggelegar. Emang lo tuh Chris, ocha!, timpal David. Wuahahaha sialan lo!, balas Chris.
Suatu kali ketika Chris menjaga parkiran sebuah minimarket, ada seorang gadis keluar dari minimarket tersebut. Penampakan gadis itu membuat Chris terbelalak, kulit putih, tinggi, berambut panjang sebahu, memakai celana hot pants berwarna pink, dan kaos t-shirt berwarna putih. Haii cewe, boleh kenalan ga?, namanya siapa siih?, Tanya Chris memberondong. Si gadis yang ditanya tampak acuh saja sambil menaiki motornya siap-siap berlalu, nampak bola matanya memicing sinis kea rah Chris. “Ocha, kata sang gadis tak dinyana-nyana. Waw, ochaaaa, nama yang manis, kata Chris bangga dan gede rasa. Bukan gue, tapi elo tuh ocha, OTAK CHABUL!!, kata si gadis sambil berlalu menggeber gas motornya. Chris hanya bisa melongo terpana.
   

“Gimana kalo Cutbray?!”, usul David.

“Cutbray,…..model celana cutbrai?”, tanya Joe. “Bukan, singkatan Kancut Berderai!”, jawab David.

“Hahahahahaha”, kembali tawa berderai.

“Gw, gw, gw,……gimana kalo The Kucel?!”, kata usul Chris tak mau kalah. “Hahahahaha, kucel!!, pas tuh buat lo, muke lo Kucel!!”, cela Joe. “Hahahahahahaha, sialan lo” kata Chris, kembali tawa menggema.


“Uhukk, uhukkk, uhuukkk!!”, terdengar suara batuk Ibunda Joe dari dalam rumah Joe.

“Pfffttt, ez ez ez ez ez,”, kini tawa mereka bertiga tidak keluar lepas, ditahan sambil menutup mulut. “Lo si pada berisik, nyokap gw keganggu noh”, kata Joe.


“Weiy weiy, seriuss nih, apa nama band yang keren”, David mencoba mengembalikan fokus teman-temanya.

“Mmmmmmm,……mmmmmm”.

Keadaan menjadi hening sejenak.

“Aha!!!!, gw dapet nih”, tiba-tiba Joe memecah keheningan. “Apa?”, tanya David dan Chris.

“MAGAZINE!! dibacanya Magazin!!”, kata Joe, matanya nampak berbinar seperti orang yang telah menemukan uang segepok lembaran seratus ribu semua.

“Magazin?, hmm….ma-ga-zin, magazin ya”, samar-samar David mengulang-ngulang nama itu sambil kepalanya mengangguk-ngangguk. “Magazin, bahasa inggrisnya majalah?”, tanya Chris memastikan. “Apa magazine isi pelor buat senapan?”, sambung David.

“Nah, itu dia!, kan bokap-bokap kita tentara nih, kita juga tinggal di komplek tentara, kita kan Anak Kolong, jadi sekalian menyatakan identitas kita juga, pas kan!”, urai Joe rada berapi-api.

“Dan kalo Magazin diartikan majalah, siapa tau band kita ini bakal selalu dimuat di majalah!!, sambung David lagi.


“Wehhh mantappp!!,,ok tuh, setuju gw MAGAZINE!”, kata Chris.


Porn Magazine,….celetuk David setengah berbisik sambil senyum sendiri. Haha, majalah bokep, sambung Chris. Gue pertama liat majalah bokep pas SMP kelas 2, punya bokap gue, Playboy, sambung David. Playboy bokap vid, ko bisa?, tanya Joe. Iya, bokap lagi tahun 70an sebelum ke Tim-tim kan ikut pasukan perdamaian PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) kontingen dari Indonesia namanya Pasukan Garuda, yang lagi di Mesir tuh, lagi Mesir perang lawan Israel rebutan terusan Suez. Namanya juga tentara lagi tugas kali ya, jauh dari istri, negara, keluarga, dah gitu banyak juga pasukan PBB dari negara lain khususnya dari negara barat, nah gue rasa bokap dapet Playboy dari pasukan asal Amrik soalnya Playboynya playboy Amrik, papar David. Nah lo bisa nyolong-nyolong liat Playboy gimana caranya?, tanya David penasaran. Ga sengaja sih sebenernya, pas lagi bantuin beresin kamar bokap, dilemarinya gue liat tumpukan majalah, iseng gue selidik aja, ehh taunya,,, harta karun!, hahaha. Sejak itu kalo ada kesempatan bokap lagi ga ada, gue nyolong-nyolong menuju lemari bokap ngoprek Playboy, gue udah apal posisi tumpukannya and gue pastiin posisinya ga berubah, smooth criminal gitu maksudnya. Akhirnya dari cuma sekedar ngeliat-liat ngambar levelnya jadi naek, jadi pengen memiliki, jadilah gue ngerobek halaman yang ada gambar cewenya yang menurut gw paling hooooottttt!!, hahahaha.

Tapi dasar ya, emang bener tuh ungkapan sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Suatu kali gue dipanggil bokap, pas gue samperin ada nyokap gue juga disitu sambil cengar-cengir natap gue, perasaan gue udah ga enak, pasti ada yang ga beres nih. Ini punya kamu?, tanya bokap sambil nyerahin lipetan kertas yang sepintas gue liat kaya gambar paha cewe, putih banget. Dengan gaya pura-pura ga tau gue buka tuh lipetan kertas yang lebih mirip poster, dan …..astaga,,,tamat lah gue, itu adalah gambar cewe bugil yang gue sobek dari halaman tengah playboy bokap, Miss June 1976!!, hahahahahahaha, tawa pun menggelegar dari mulut Joe dan Chris.
Gue lupa banget, ternyata tuh gambar ada di kantong celana gue, and gue lupa masukin keranjang cucian, eh kedapetan pembokat gue pas lagi nyuci, hahaha. Lagian ngapain tuh gambar bisa terus-terusan di dalem celana lo vid, lo bawa-bawa ke kamar mandi yaks? buat bahan coli, huahahahahaha, samber Joe disambut gelegar tawa ketiganya. Eh tapi, ini nih kejadian yang ga terduganya guys, David menyambung ceritanya. Bokap gue dengan gentle nyerahin balik tuh gambar ke gue sambil bilang “lain kali kalo nyimpen gambar ginian hati-hati”. Setengah ga percaya juga gue sama respon bokap gw, gue kira gue bakal abis-abisan diomelin dan dihukum ala militer, ternyata….. cukup bijak juga doi. Ada rasa bangga juga gue, gue merasa bokap mengakui kedewasaan gue sebagai laki-laki, hahaha, papar David bangga.
Oya?, wah mantep vid, terus abis itu gimana pid?, tanya Chris penasaran. Ya ga kenapa-napa, terusnya bokap nyerahin gambar bokep itu lagi ke gue ya gue balik kanan bubar jalan ke kamar gue lagi, sambil dalem hati bilang ke bokap; “lain kali kalo nyimpen majalah begituan hati-hati”, hahahahahaha!, mantap-mantapp!!, gelegar tawa ketiganya.


Gue juga ada cerita kurang lebih sama kaya elo vid, Joe rupanya tidak mau kalah, pas gue SMP juga. Kejadian di sekolah pas pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), yang ngajar Pak Hadiro. Anak-anak coba kalian baca dalam hati halaman 15 sampai 23, kata Joe menirukan Bapak Hadiro sang guru PMP. Pak, saya ijin ke belakang cuci muka, kata gue sambil ngacung tangan. Ga ada joe, ga bisa!, terakhir kamu ijin ke belakang tidak kembali ke kelas, kamu malah tidur di mushola, kata Pak Hadiro. Udah buka buku cetak PMP kamu dan baca halaman yang tadi saya bilang, bentak Pak Hadiro. Asli deh, lama kelamaan gue jenuh juga sama pelajaran PMP yang ngajar Pak Hadiro, masa pendidikan moral tapi hafalan, ga ada jiwanya banget, yang ada malah ngantuk gw. Nah yaudah dari pada ngantuk and gue ngerasa percuma juga belajar moral tapi ga ada jiwanya sekalian deh gue keluarin stensilan yang baru gue pinjem dari Tommi.


Stensil adalah sebutan untuk buku kecil mirip novel yang dikarang oleh seorang misterius memakai nama samaran ENNY ARROW, buku ini cukup menjadi ikon remaja Jakarta dan sekitarnya di tahun-tahun akhir 80an sampai awal 90an, menyaingi popularitas Novel Lupus karangan Hilman Hariwijaya. Namun sangat berbeda dengan Lupus, stensil Enny Arrow mengandung materi cerita pornografi.


Ah sekalian deh gue selewengkan moral, jadi gue baca stensil tapi gue tumpuk sama buku PMP, jadi kliatannya gue lagi baca buku PMP, padahal siih,,,, hahaha.
Eh tiba-tiba gue dikagetin suara Pak Hadiro; Joe!!, asli kaget banget gue. Coba kamu sebut Trias Politica menurut Montesqui?, tanya Pak Hadiro. Siapa Pak, mosquito?, kata gue balik nanya, kontan sekelas pada ketawa. Apa yang kamu baca itu?, saya heran dari tadi perhatiin kamu, ko baca buku PMP tapi cengar-cengir?, sudah curiga rupanya Pak Hadiro.
Pak Hadiro nyamperin meja gue and sekonyong-koyong ngerebut buku yang gue pegang,, anjriittt, gue ke-gep man!!, papar Joe. Hahaha, parah!, kata David, terus kejadian sama kaya gue, Pak Hadiro senyum-senyum maklumin lo sebagai anak laki-laki and secara gentle ngasi lo balik tuh stensil?, kata David memburu sambil senyum.
Apaan, boro-boro!!, gue dihukum dijemur di lapangan sambil ngehormat bendera sampe kira-kira 2 jam, mana lagi itu masuk siang lagi jam 2an man!, and sorenya gue disuruh menghadap guru BP, ngasih surat panggilan buat or-tu. Besoknya nyokap gue ngadep ke Kepala Sekolah, gue disuruh tanda tangan surat pernyataan tidak akan melakukan perbuatan tidak senonoh. Huahahahahahahaha,,, apes beraaattt!!, kata Chris dan David sambil terkekeh mentertawai Joe, Joe cengar-cengir saja.


Eh, bagus juga tuh, nama band STENSIL atau ENNY ARROW?, usul Joe lagi. Huahahahaha, lagi-lagi Chris dan David tertawa. Udah ah, fix nama band kita MAGAZINE !!, demikian kata David.     

  
 


                                    

Jumat, 26 April 2013

Banyak hal yang menurut gw ga penting tapi malah jadi bahan berita,,pfftt..


Sorry to say,... menurut gw ada orang laen nge-follow twitter orang tuh ga penting banget, meskipun yang difollow or yang nge-follow tuh sama-sama seleb.
I mean; so fucking what man??!
Apa emang gw yang terlalu konservatif yaks?, gw ga maen twitter alias ga punya akun twitter coz ; cape juga ngikutin trend jejaring sosial media (sosmed) yang ga ada kelar en abisnya. bayangin aja dalam rentang 10 tahun terakhir aja udah ada Friendster, friendster kelar ganti Facebook, meskipun beberapa facebook sampe saat ini masih eksis tapi ga sedikit yang udah beralih ke Twitter, dan kemudian pun orang berbondong-bondong jadi "Twitter-an".
Satu lagi berita yang ga penting adalah ;

Lagi rame nih, "eyang" subur, saking seolah-olah penting masa DPR sampe MUI ikut-ikutan ngurusin?,
Emang ga ada yang lebih penting apa daripada ngurusin orang yang menurut gw ga penting ini??!
Wooii DPR, urus tuh rakyat yang udah rela milih kalian ; bikin aturan/kebijakan yang berpihak kepada rakyat banyak yang notabene di Indonesia masih banyak yang susah.
Wooii MUI,meningan banyakin ngurus kerukunan umat beragama deh yang di Indonesia ini semakin lama semakin luntur.
Si eyang ini gw yakin tadinya ga penting, gara-gara jadi berita mulu malahan seolah-olah jadi penting, salah siapa coba?

Udah, sekian dulu kemuakan hari ini,, pfftt...
 

Sabtu, 13 April 2013

HIDUP ADALAH PERJALANAN

Hidup adalah perjuangan, dan Hidup adalah perjalanan.

Disuatu masa dan ketika kita berkumpul dalam kebersamaan, akan datang suatu saat ketika waktunya setiap kita harus menapaki jalan hidup masing-masing, maka kita akan terpisah bercerai-berai.

Kelak disuatu masa yang akan datang, pada keadaan yang lebih baik, dibawah naungan awan biru nan cerah dalam sapaan terangnya matahari yang ramah, atau di malam indah yang bertabur bintang dalam temaram cahaya bulan nan syahdu, kita semua akan kembali berkumpul dalam suka-cita, derai tawa, kehangatan, keintiman rasa dan kebahagiaan....., dalam rasa persaudaraan.

Kemudian kita akan bercerita mengenang masa lalu yang membahagiakan, terkadang konyol dan kocak, yang tidak akan terlupa....selamanya akan menjadi bagian kisah hidup kita.

Mari bersulang!

Bobby Revolta
13 April 2013
-40 hari berpulangnya sahabat sejati Lutvy Gaselick-