penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
“PULANG”, adalah sebaris kata yang bermakna tersirat.
Ada makna merengkuh hati, tempat kita bersauh mengistirahatkan fisik dan batin setelah seharian bergumul dengan penat dan kerasnya kehidupan.
Ada makna kerinduan yang mendalam, kembalinya kita ke rengkuhan tempat dan dimana muasal kita berasal, dimana ada banyak cerita dan romantika masa lalu yang membentuk pencitraan diri dimasa saat ini.
Ada pula Pulang bermakna kembalinya kita ke haribaan Sang Pemilik jiwa dan raga ini.
Demikianlah kata PULANG, ada makna sentimental dibaliknya.
Ada makna merengkuh hati, tempat kita bersauh mengistirahatkan fisik dan batin setelah seharian bergumul dengan penat dan kerasnya kehidupan.
Ada makna kerinduan yang mendalam, kembalinya kita ke rengkuhan tempat dan dimana muasal kita berasal, dimana ada banyak cerita dan romantika masa lalu yang membentuk pencitraan diri dimasa saat ini.
Ada pula Pulang bermakna kembalinya kita ke haribaan Sang Pemilik jiwa dan raga ini.
Demikianlah kata PULANG, ada makna sentimental dibaliknya.
Novel ini berlatar belakang kisah eksil (pelarian) politik
pada saat Indonesia mengalami sejarah terkelamnya yaitu peristiwa 30 September
1965 dan kejadian setelahnya, yaitu pembersihan bahkan pembrantasan mereka yang
disangka terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada peristiwa 30
September 1965 tersebut.
Beberapa tokoh sentralnya adalah Dimas Suryo, wartawan Kantor Berita Nusantara. Pada saat gelombang pembersihan orang-orang yang diduga terlibat Gerakan 30 September 1965 dia dikirim ke Luar Negri oleh kantor beritanya. Pergaulan dengan kawan-kawan dekatnya termasuk sang Pemimpin Redaksi yang memiliki pandangan politik Komunis membuatnya tak bisa kembali ke Tanah Air, ditolak oleh pemerintah Orde Baru bahkan diburu, sehingga bersama ke-tiga sahabatnya harus pertualang dari satu negara ke negara lain, hingga Paris Perancis menjadi persinggahan terakhir.
Kehidupan di Perancis tidak membuatnya melupakan Tanah Airnya Indonesia, kampung kelahirannya Solo, Jawa Tengah. Meskipun dia membangun sebuah restoran bercita-rasa Indonesia yang cukup sukses bersama ketiga sahabatnya sesama pelarian politik di Perancis, meskipun dia telah bertemu dengan jodohnya seorang istri berkebangsaan Perancis yang kemudian lahirlah anak dari hasil pernikahannya, seorang perempuan cantik yang diberi nama Lintang Utara.
Namun tetap jauh di lubuk hatinya yang tersendu dia mengingat orang-orang yang dicintai jauh di negri yang saat itu dirundung kisah horor pembantaian besar-besaran diluar nalar kemanusiaan.
Ada rasa hilang dari hatinya meskipun dia
dikeliling orang-orang yang mengasihinya.
Tokoh sentral lainnya adalah Lintang Utara, anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan perempuan Perancis bernama Vivienne. Parasnya perpaduan ras Asia dengan Kaukasian, kecantikan yang ada padanya bukan kecantikan biasa gadis-gadis Eropa yang putih pucat, namun lebih mirip putih berisi layaknya susu. Ketidakbahagiaan sang ayah yang dirasakannya mau tidak mau membawanya kepada pergumulan pertanyaan-pertanyaan apa yang ayahnya sembunyikan dari dia dan ibunya, misteri negara asal ayahnya yang bernama INDONESIA, mengapa ayahnya yang seorang Asia bisa terdampar di negri Perancis, yang kesemuanya membawanya kepada pertanyaan yang paling tinggi yakni akar dari kejati diriannya yang memiliki darah Indonesia. Hingga takdir membawanya menuju Indonesia dikarenakan harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di salah satu Universitas terkemuka di Perancis yaitu Universitas Sorbonne, yakni membuat film dokumenter tentang para mantan Tahanan Politik mereka yang disangka terlibat Gerakan 30 September 1965. Namun seperti mendapat kesialan, dia datang ke Indonesia disaat yang kurang tepat, yakni di tahun 1998. Saat itu Indonesia kembali berkecamuk oleh sebuah gerakan perubahan yang disuarakan oleh Mahasiswa, yang menuntut Reformasi sistem yang demikian menyesakkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebuah klimaks dari masa-masa yang dinamakan krisis moneter yang menerpa Indonesia, dimulai tahun 1997, sebuah gambaran dari rapuhnya pondasi Pembangunan yang dibanggakan oleh Orde Baru.
Sekali lagi, Indonesia porak-poranda dan Lintang Utara putri Dimas Suryo berada ditengah kekacauan itu.
Tokoh sentral lainnya adalah Lintang Utara, anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan perempuan Perancis bernama Vivienne. Parasnya perpaduan ras Asia dengan Kaukasian, kecantikan yang ada padanya bukan kecantikan biasa gadis-gadis Eropa yang putih pucat, namun lebih mirip putih berisi layaknya susu. Ketidakbahagiaan sang ayah yang dirasakannya mau tidak mau membawanya kepada pergumulan pertanyaan-pertanyaan apa yang ayahnya sembunyikan dari dia dan ibunya, misteri negara asal ayahnya yang bernama INDONESIA, mengapa ayahnya yang seorang Asia bisa terdampar di negri Perancis, yang kesemuanya membawanya kepada pertanyaan yang paling tinggi yakni akar dari kejati diriannya yang memiliki darah Indonesia. Hingga takdir membawanya menuju Indonesia dikarenakan harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di salah satu Universitas terkemuka di Perancis yaitu Universitas Sorbonne, yakni membuat film dokumenter tentang para mantan Tahanan Politik mereka yang disangka terlibat Gerakan 30 September 1965. Namun seperti mendapat kesialan, dia datang ke Indonesia disaat yang kurang tepat, yakni di tahun 1998. Saat itu Indonesia kembali berkecamuk oleh sebuah gerakan perubahan yang disuarakan oleh Mahasiswa, yang menuntut Reformasi sistem yang demikian menyesakkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebuah klimaks dari masa-masa yang dinamakan krisis moneter yang menerpa Indonesia, dimulai tahun 1997, sebuah gambaran dari rapuhnya pondasi Pembangunan yang dibanggakan oleh Orde Baru.
Sekali lagi, Indonesia porak-poranda dan Lintang Utara putri Dimas Suryo berada ditengah kekacauan itu.
Novel ini berlatar belakang Indonesia saat menjelang kejadian 30 September 1965, kejadian-kejadian beberapa tahun setelahnya, Gerakan Mei 1968 di Perancis, hingga pada saat kerusuhan 1998 dan Gerakan Reformasi 1998.
Menariknya, saya (sebagai pembaca) merasa mendapat gambaran kehidupan para eksil/pelarian politik atas kejadian 30 September 1965 di negri Perancis, mereka bertahan hidup dengan segala rintangan yang menerpa, teror mental yang tidak pernah berhenti bahkan di tempat yang jauh dari Indonesia, rasa kehilangan identitas diri, dijauhkan dari keluarga mereka yang beberapa tidak tahu bagaimana nasibnya, hingga keharuan dan kerinduan mereka akan PULANG ke Tanah Air, Indonesia.
Ada gambaran pula, bahwa mereka-mereka yang ditangkapi kemudian diinterogasi dan disiksa bahkan dibunuh, tidaklah mereka yang terlibat Gerakan 30 September 1965, mereka “sekedar” menjadi anggota keluarga para simpatisan Partai Komunis Indonesia, teman dekat, bahkan “sekedar” berinteraksi sebagai sesama warga negara.
Saya pikir Leila S. Chudori sebagai penulis Novel ini tidak
main-main atas penggambaran dalam Novelnya, mestinya semua tulisannya
berdasarkan riset yang mendalam selama 6 tahun proses penulisannya.
Menariknya lagi (bagi saya), menurut Leila karakter Lintang Utara menjadi hidup berdasarkan penuturan seorang Mariana Renata Dantec dengan mengisahkan kehidupan mahasiswa Universitas Sorbonne, Paris. Meskipun tidak mengatakan bahwa Lintang Utara adalah penggambaran Mariana Renata.
Kemudian karakter Dimas Suryo terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan para eksil politik salah satunya adalah Sobron Aidit, adik kandung dari DN Aidit.
Menariknya lagi (bagi saya), menurut Leila karakter Lintang Utara menjadi hidup berdasarkan penuturan seorang Mariana Renata Dantec dengan mengisahkan kehidupan mahasiswa Universitas Sorbonne, Paris. Meskipun tidak mengatakan bahwa Lintang Utara adalah penggambaran Mariana Renata.
Kemudian karakter Dimas Suryo terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan para eksil politik salah satunya adalah Sobron Aidit, adik kandung dari DN Aidit.
Ada bumbu romantisme bahkan sensualitas dalam novel, tapi menurut saya “its ok lah” dan yang penting tidak lari dari konteks judul novel itu sendiri, nilai-nilai humanisme yang tersirat dalam novel dan tentu saja sedikit banyak atahun 1965, karena meskipun kelam sejarah tetaplah sejarah yang tidak boleh ditinggalkan dan menjadi pembe


