Rabu, 24 Juli 2013

MALIN KUNDANG MENGGUGAT !

Kalian tahu legenda Malin Kundang si anak yang konon durhaka kepada sang ibu?, saya beri tahu sesuatu, Malin Kundang itu sebenarnya juga korban. Dia tidak diberi kesempatan menjelaskan duduk perkara kepada orang banyak yang terlanjur melabelinya “anak durhaka” mengapa dia bersikap seolah memusuhi ibunya, karena boleh jadi sang ibulah yang telah sekian lama terlebih dahulu tidak mencurahkan kasih sayang yang tulus laiknya ibu kepada anaknya. 

Mengapa masyarakat tidak bertanya kepada sang Ibu; bukankah seorang ibu seharusnya mengasihi tanpa batas anaknya, mengasihaninya, mencintainya dengan tulus bagaikan matahari yang menyinari bumi tak mengharapkan balas dan hanya memberi tak harap kembali, mengapa tega mengutuk darah dagingnya sendiri menjadi batu?. Adakah masyarakat memikirkan; apakah sang ibu Malin Kundang kemudian tertawa puas setelah anaknya sendiri berubah menjadi batu akibat sumpah serapahnya?, adakah secercah sesal dalam kelembutan hati seorang ibu demi melihat anaknya berubah menjadi seonggok batu? 

Sedangkan dikehidupan nyata dan bukan sekedar legenda, cobalah ingat dan hitung telah berapa banyak kabar tentang bayi tak berdosa yang dibunuh ibunya sendiri ketika masih merah, dikubur hidup-hidup di halaman belakang tempat bersalin bidan jahat yang membuka praktek gelap aborsi, dibuang bagaikan sampah di selokan yang kotor dan berair busuk, dibiarkan dalam kardus bekas kemudian ditinggal di tengah jalan antah berantah jika sang bayi merah bernasib sial tentunya akan menjadi santapan anjing jalanan atau hidangan pesta semut merah yang gemar daging mentah.

Jika si anak sudah lebih besar, pernahkah mendengar kabar ada anak yang dijual oleh ibunya sendiri?, baik itu dijual dengan cara yang tidak manusiawi, seperti dijadikan sundal jika anaknya perempuan atau dijual untuk dijadikan peminta-minta di jalanan kota. Atau dijual dengan “cara terhormat”, yaitu dikawinkan dengan paksa demi sang ibu mendapat kenikmatan ataupun kehormatan status sosial hidup.

Anak-anak selalu menjadi korban ambisi orang tua. Banyak dari mereka tidak mampu dan berani melawan kodrat sebagai anak. Label “Anak Durhaka” terlalu diterima mentah-mentah oleh pola pikir masyarakat yang terlanjur mengakar kuat hingga ke perut bumi sehingga menjadi stigma yang sangat menakutkan. Lalu mengapa atas kejahatan orang tua kepada anak-anaknya tidak pernah ada label “Orang Tua Durhaka”?. Belum lagi ancaman dari agama yang ditafsirkan berat sebelah dan diterima mentah-mentah tanpa nalar akal budi, sungguh ganjaran neraka adalah ancaman menakutkan. Mestinya orang yang paham agama mengetahui, atau pura-pura tidak tahu?, atau tidak ingin tahu?,….bahwa Tuhan Maha Adil, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. 

Padahal anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan ke alam fana yang penuh kebusukan ini, mereka seharusnya menjadi "Buah Cinta" ayah dan ibu, bukanlah "Buah Nafsu" yang banal.

Boleh jadi legenda Malin Kundang sebagai anak yang memusuhi sang ibu maka terkutuklah dia menjadi batu, namun ternyata di dunia ini tidak sedikit pula orang tua yang berhati batu!      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar