Mengapa masyarakat tidak bertanya kepada
sang Ibu; bukankah seorang ibu seharusnya mengasihi tanpa batas anaknya,
mengasihaninya, mencintainya dengan tulus bagaikan matahari yang menyinari bumi
tak mengharapkan balas dan hanya memberi tak harap kembali, mengapa tega
mengutuk darah dagingnya sendiri menjadi batu?. Adakah masyarakat memikirkan;
apakah sang ibu Malin Kundang kemudian tertawa puas setelah anaknya sendiri
berubah menjadi batu akibat sumpah serapahnya?, adakah secercah sesal dalam
kelembutan hati seorang ibu demi melihat anaknya berubah menjadi seonggok batu?
Sedangkan dikehidupan nyata
dan bukan sekedar legenda, cobalah ingat dan hitung telah berapa banyak kabar
tentang bayi tak berdosa yang dibunuh ibunya sendiri ketika masih merah, dikubur
hidup-hidup di halaman belakang tempat bersalin bidan jahat yang membuka
praktek gelap aborsi, dibuang bagaikan sampah di selokan yang kotor dan berair
busuk, dibiarkan dalam kardus bekas kemudian ditinggal di tengah jalan antah
berantah jika sang bayi merah bernasib sial tentunya akan menjadi santapan
anjing jalanan atau hidangan pesta semut merah yang gemar daging mentah.
Jika si anak sudah lebih
besar, pernahkah mendengar kabar ada anak yang dijual oleh ibunya sendiri?,
baik itu dijual dengan cara yang tidak manusiawi, seperti dijadikan sundal jika
anaknya perempuan atau dijual untuk dijadikan peminta-minta di jalanan kota.
Atau dijual dengan “cara terhormat”, yaitu dikawinkan dengan paksa demi sang
ibu mendapat kenikmatan ataupun kehormatan status sosial hidup.
Anak-anak selalu menjadi
korban ambisi orang tua. Banyak dari mereka tidak mampu dan berani melawan
kodrat sebagai anak. Label “Anak Durhaka” terlalu diterima mentah-mentah oleh
pola pikir masyarakat yang terlanjur mengakar kuat hingga ke perut bumi sehingga
menjadi stigma yang sangat menakutkan. Lalu mengapa atas kejahatan orang tua
kepada anak-anaknya tidak pernah ada label “Orang Tua Durhaka”?. Belum lagi
ancaman dari agama yang ditafsirkan berat sebelah dan diterima mentah-mentah
tanpa nalar akal budi, sungguh ganjaran neraka adalah ancaman menakutkan.
Mestinya orang yang paham agama mengetahui, atau pura-pura tidak tahu?, atau
tidak ingin tahu?,….bahwa Tuhan Maha Adil, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan
Penyayang.
Padahal anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan ke alam fana yang penuh kebusukan ini, mereka seharusnya menjadi "Buah Cinta" ayah dan ibu, bukanlah "Buah Nafsu" yang banal.
Boleh jadi legenda Malin
Kundang sebagai anak yang memusuhi sang ibu maka terkutuklah dia menjadi batu,
namun ternyata di dunia ini tidak sedikit pula orang tua yang berhati batu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar