“Maen
di A apa maen di E?”, tanya Chris kepada David. Sebagaimana rencana mereka pada
malam sebelumnya, mereka berkumpul di rumah Joe. David, Joe dan Chris tinggal
dalam lingkungan yang sama sejak mereka seumuran bocah kelas 1 Sekolah Dasar,
sebuah komplek veteran perang, ayah mereka adalah tentara. Maka tidak aneh,
jika diantara mereka ada kedekatan secara psikologis karena merasakan
“persamaan nasib”. Namun berbeda halnya dengan David dan Chris, Joe adalah
seorang yatim, ayahnya telah gugur di medan pertempuran, pada saat Joe masih
balita.
Pada tahun 1975, pada saat era perang
dingin antara blok timur yang berhaluan komunis dan sosialis dipimpin Uni
Sovyet (sekarang Rusia) dengan blok barat yang berhaluan kapitalis dipimpin oleh Amerika, masing-masing saling
berusaha menancapkan pengaruhnya di muka bumi. Efek dari perang dingin ini
turut pula menarik Indonesia ke dalam pusaran konflik.
Sebuah pulau kecil di timur Indonesia
yang berbatasan dengan Flores, Nusa Tenggara Timur bernama Timor Portugis
adalah sebuah wilayah kolonial/jajahan bangsa Portugis, saat itu sedang
berkecamuk perang saudara antara faksi-faksi yang berpengaruh di Timor Portugis
sebagai akibat hengkangnya pemerintah kolonial Portugis. Pada saat pemerintah
kolonial hengkang tersebut maka terjadi kekosongan kekuasaan, sebuah partai
berhaluan sosialis bernama FRETILIN (Frente Revolucionária de Timor-Leste
Independente) mendeklarasikan kemerdekaan Republik Demokratik Timor Leste.
Faksi lain menganggap deklarasi kemerdekaan oleh FRETILIN tersebut dilakukan
secara sepihak. Salah satu faksi yang menentang deklarasi kemerdekaan tersebut
membalas dengan deklarasi tandingan yakni deklarasi berintegrasi dengan Negara
Kesatuan Republik Indonesia adalah APODETI (Associacao Popular Democratica da
Timorense).
Amerika dan Australia sangat
berkepentingan dengan kejadian yang sedang terjadi di Timor Portugis, Amerika
sebagai pemimpin blok barat tidak menginginkan munculnya negara baru berhaluan
komunis/sosialis, apalagi Amerika baru saja kalah perang di Vietnam yang
akhirnya menjadi negara komunis keseluruhan. Australia pun khawatir akan
terjadi efek domino dari kemenangan komunis di Vietnam akan berimbas ke
negara-negara Asia Tenggara yang merupakan serambi Australia. Maka Amerika dan
Australia sangat mendukung Timor Portugis menjadi bagian dari Indonesia atau
berintegrasi dengan Indonesia.
Saat itu yang menjabat sebagai presiden
Republik Indonesia adalah Suharto. Suharto memiliki trauma terhadap komunis
akibat peristiwa 1965 maka dari itu ia sangat membenci Komunisme dengan ajaran
Marxisme dan Leninismenya. Maka ketika mendapat restu dari Amerika merebut
Timor Portugis dari FRETILIN, tidak memerlukan waktu lama baginya mengeluarkan
instruksi untuk menginvasi Timor Portugis dengan mengirimkan Tentara Nasional
Indonesia dalam sebuah operasi militer bernama Operasi Seroja pada tanggal 7
Desember 1975.
Ayah Joe, David dan Chris turut serta
dalam Operasi Seroja tersebut.
Kembali kepada ketiga sahabat yang malam
itu sedang berkumpul membulatkan rencana pembentukan band baru sambil menikmati
suasana malam yang berbintang ditemani alunan gitar dan dendang lagu dan tidak
ketinggalan seteko kopi hitam.
“Kayanya enak di A deh, dari A – Em – G
tapi kuncinya jalan terus, kocokan dinamis”, jawab David. Ternyata mereka
sedang mencari kunci nada sebuah lagu. “Lo dah ada liriknya Vid?”, tanya Joe.
“Ada, udah gw kasih judul malah, judul lagunya Gerombolan Kera”, jawab David.
“Liat
gw liriknya!”, samber Joe lagi.
Liriknya :
Gerombolan
Makhluk ngumpul
Bersuara
‘ga karuan
Ada
yang ngomong, ada yang sibuk
Suasana
bikin pusing
Ceritanya
berdiskusi
Ko
semua bersuara?
Teriak sini- teriak sana lalu
berkejar-kejaran
reff:
Rebutan
barang
Rebutan
sarang biasa
Rebutan
pisang lalu kelahi
Sampai ada salah satu yang mampus!
Ada
satu yang paling gede
Dia
itu pemimpinnya
Nguk-nguk…katanya
Ngik-ngik..katanya
Yang
lain setuju aja
Sambut
riuh tepuk tangan
Sekalian
tepuk kaki
Ngelempar
barang, ngroyokin teman
Itu cara merayakan
“Wah,
keren vid”, kata Chris, tentang apa?, tanya Chris kemudian.
“Mmm……., tentang sebuah kelompok atau
organisasi masyarakat atau bias juga Partai Politik yang lagi marak bermunculan
belakangan ini nih, ngakunya penolong rakyat dan bangsa tapi ternyata penipu en
korup semua, malah nambah bikin kacau keadaan. Mereka sebenarnya ga lebih dari
mentingin kepentingan kelompok mereka sendiri. Gw sebut mereka Gerombolan Kera
sekalian!!hahahaha”, papar David sambil tertawa.
“Hahahaha,
yoii, mantap bro!!”, sambut Joe semangat.
“Lo
suka politik vid?”, tanya Chris kemudian.
“Kalo
konteksnya sebagai wacana en pijakan analisis untuk mengkritisi sikon Negara
ini gw suka, tapi kalo Politik Praktis gw ga suka!”, jawab David. “Politik
praktis?”, tanya Joe sambil mengrenyitkan dahi. “Setau gw yang praktis itu beli
tokipan gingseng”, sergah Joe. Hahahaha, semua tertawa. “Gini bro, ngerti
politik itu penting supaya kita tau kebusukan penguasa, dan tentu aja supaya
kita paham juga sejauh mana sebenarnya politik bisa membuat rakyat sejahtera
dan bebas dari kemiskinan dan ketakutan, ya ketakutan,….politik yang baik itu
melindungi Hak Asasi Manusia”, papar David. “Kalo politik yang lagi rame-rame
sekarang ini yang gw tonton di tivi en baca koran malah itu ya,….. rebutan
jatah kursi, jabatan en kekuasaan”, sambung Chris. “Nahh….!!, itu dia politik
praktis!!, Partai Politik negri ini rata-rata kaya gitu, meskipun ga semua,
tapi gw sejauh ini blom nemu Partai Politik yang bener-bener bersih”, sergah
David.
“Hmmm,…...,
tapi seperti kata lo vid, ada juga bangsat selain Partai Politik kan?, organisasi
kemasyarakatan klakuannya anjing juga tuh!, apalagi yang berkedok agama,
kelakuan mereka lebih kaya preman, bikin resah, bar-bar!, klakuannya ga
mencerminkan orang yang berketuhanan Yang Maha Pengasih dan Penyayang”,
argument Joe. “Mantaaaapp pak hajih!”, timpal David.
“Btw, gimana lagu gw?, kurang sip ya?”,
tanya David kembali fokus kepada lagunya. “Bagus vid, masih kedengeran asing siih,
blom familiar sama lagunya ntar juga lama-lama pasti akrab di kuping”, jawab
Chris.
“Guys guys,….nama band kita apa nih?”,
tiba-tiba Joe menyela. “,,…nama band ya?”, baru kepikiran juga David.
“Mmmm….,
mmmmm,…”, suara itu yang terdengar dari ketiganya.
“Cucak!”,
teriak Joe. “Cucak?”, apaan maknanya tuh?, tanya Chris.”Biar semerdu dan mahal
seperti burung Cucak Rawa!”, jawab Joe. “Hahahaha, najis, jelek banget!, ga
sekalian aja Kuntul!, biar kaya…..anu,…kuntul!!”, Chris menyanggah sambil
tertawa. David dan Joe tertawa terbahak-bahak.
“Mastron!, The Parto!, Umbels!, The Dead Wood!, Kecambah!, The Gitings!, The Toks!, Navigators!, Sampurasun!, Ragaji!, Cuktai!”, demikian mereka silih berganti mencoba memberi ide nama, namun semua terdengar tidak kena di hati dan telinga bersama.
“Mastron!, The Parto!, Umbels!, The Dead Wood!, Kecambah!, The Gitings!, The Toks!, Navigators!, Sampurasun!, Ragaji!, Cuktai!”, demikian mereka silih berganti mencoba memberi ide nama, namun semua terdengar tidak kena di hati dan telinga bersama.
“Gimana
kalo Xerud?!”, usul Chris.
“Apaan
artinya tuh?”, tanya David. “Kebalikan dari kondom merk Durex!, jawab Chris.
“Hahahaha”, tawa menggelegar. Emang lo tuh Chris, ocha!, timpal David. Wuahahaha
sialan lo!, balas Chris.
Suatu kali ketika Chris menjaga parkiran sebuah
minimarket, ada seorang gadis keluar dari minimarket tersebut. Penampakan gadis
itu membuat Chris terbelalak, kulit putih, tinggi, berambut panjang sebahu,
memakai celana hot pants berwarna pink, dan kaos t-shirt berwarna putih. Haii
cewe, boleh kenalan ga?, namanya siapa siih?, Tanya Chris memberondong. Si
gadis yang ditanya tampak acuh saja sambil menaiki motornya siap-siap berlalu, nampak
bola matanya memicing sinis kea rah Chris. “Ocha, kata sang gadis tak
dinyana-nyana. Waw, ochaaaa, nama yang manis, kata Chris bangga dan gede rasa.
Bukan gue, tapi elo tuh ocha, OTAK CHABUL!!, kata si gadis sambil berlalu
menggeber gas motornya. Chris hanya bisa melongo terpana.
“Gimana
kalo Cutbray?!”, usul David.
“Cutbray,…..model
celana cutbrai?”, tanya Joe. “Bukan, singkatan Kancut Berderai!”, jawab David.
“Hahahahahaha”,
kembali tawa berderai.
“Gw,
gw, gw,……gimana kalo The Kucel?!”, kata usul Chris tak mau kalah. “Hahahahaha,
kucel!!, pas tuh buat lo, muke lo Kucel!!”, cela Joe. “Hahahahahahaha, sialan
lo” kata Chris, kembali tawa menggema.
“Uhukk,
uhukkk, uhuukkk!!”, terdengar suara batuk Ibunda Joe dari dalam rumah Joe.
“Pfffttt,
ez ez ez ez ez,”, kini tawa mereka bertiga tidak keluar lepas, ditahan sambil
menutup mulut. “Lo si pada berisik, nyokap gw keganggu noh”, kata Joe.
“Weiy
weiy, seriuss nih, apa nama band yang keren”, David mencoba mengembalikan fokus
teman-temanya.
“Mmmmmmm,……mmmmmm”.
Keadaan
menjadi hening sejenak.
“Aha!!!!,
gw dapet nih”, tiba-tiba Joe memecah keheningan. “Apa?”, tanya David dan Chris.
“MAGAZINE!!
dibacanya Magazin!!”, kata Joe, matanya nampak berbinar seperti orang yang
telah menemukan uang segepok lembaran seratus ribu semua.
“Magazin?,
hmm….ma-ga-zin, magazin ya”, samar-samar David mengulang-ngulang nama itu
sambil kepalanya mengangguk-ngangguk. “Magazin, bahasa inggrisnya majalah?”,
tanya Chris memastikan. “Apa magazine isi pelor buat senapan?”, sambung David.
“Nah,
itu dia!, kan bokap-bokap kita tentara nih, kita juga tinggal di komplek
tentara, kita kan Anak Kolong, jadi sekalian menyatakan identitas kita juga,
pas kan!”, urai Joe rada berapi-api.
“Dan
kalo Magazin diartikan majalah, siapa tau band kita ini bakal selalu dimuat di
majalah!!, sambung David lagi.
“Wehhh
mantappp!!,,ok tuh, setuju gw MAGAZINE!”, kata Chris.
Porn
Magazine,….celetuk David setengah berbisik sambil senyum sendiri. Haha, majalah
bokep, sambung Chris. Gue pertama liat majalah bokep pas SMP kelas 2, punya
bokap gue, Playboy, sambung David. Playboy bokap vid, ko bisa?, tanya Joe. Iya,
bokap lagi tahun 70an sebelum ke Tim-tim kan ikut pasukan perdamaian PBB (Persatuan Bangsa Bangsa) kontingen dari Indonesia namanya Pasukan Garuda, yang lagi di
Mesir tuh, lagi Mesir perang lawan Israel rebutan terusan Suez. Namanya juga
tentara lagi tugas kali ya, jauh dari istri, negara, keluarga, dah gitu banyak
juga pasukan PBB dari negara lain khususnya dari negara barat, nah gue rasa
bokap dapet Playboy dari pasukan asal Amrik soalnya Playboynya playboy Amrik,
papar David. Nah lo bisa nyolong-nyolong liat Playboy gimana caranya?, tanya
David penasaran. Ga sengaja sih sebenernya, pas lagi bantuin beresin kamar
bokap, dilemarinya gue liat tumpukan majalah, iseng gue selidik aja, ehh
taunya,,, harta karun!, hahaha. Sejak itu kalo ada kesempatan bokap lagi ga ada,
gue nyolong-nyolong menuju lemari bokap ngoprek Playboy, gue udah apal posisi
tumpukannya and gue pastiin posisinya ga berubah, smooth criminal gitu maksudnya. Akhirnya dari cuma sekedar ngeliat-liat
ngambar levelnya jadi naek, jadi pengen memiliki, jadilah gue ngerobek halaman
yang ada gambar cewenya yang menurut gw paling hooooottttt!!, hahahaha.
Tapi
dasar ya, emang bener tuh ungkapan sepandai-pandai tupai melompat akhirnya
jatuh juga. Suatu kali gue dipanggil bokap, pas gue samperin ada nyokap gue
juga disitu sambil cengar-cengir natap gue, perasaan gue udah ga enak, pasti
ada yang ga beres nih. Ini punya kamu?, tanya bokap sambil nyerahin lipetan
kertas yang sepintas gue liat kaya gambar paha cewe, putih banget. Dengan gaya
pura-pura ga tau gue buka tuh lipetan kertas yang lebih mirip poster, dan …..astaga,,,tamat
lah gue, itu adalah gambar cewe bugil yang gue sobek dari halaman tengah
playboy bokap, Miss June 1976!!, hahahahahahaha, tawa pun menggelegar dari
mulut Joe dan Chris.
Gue lupa banget, ternyata tuh gambar ada di kantong celana
gue, and gue lupa masukin keranjang cucian, eh kedapetan pembokat gue pas lagi
nyuci, hahaha. Lagian ngapain tuh gambar bisa terus-terusan di dalem celana lo
vid, lo bawa-bawa ke kamar mandi yaks? buat bahan coli, huahahahahaha, samber
Joe disambut gelegar tawa ketiganya. Eh tapi, ini nih kejadian yang ga
terduganya guys, David menyambung ceritanya. Bokap gue dengan gentle nyerahin balik
tuh gambar ke gue sambil bilang “lain kali kalo nyimpen gambar ginian hati-hati”.
Setengah ga percaya juga gue sama respon bokap gw, gue kira gue bakal
abis-abisan diomelin dan dihukum ala militer, ternyata….. cukup bijak juga doi.
Ada rasa bangga juga gue, gue merasa bokap mengakui kedewasaan gue sebagai
laki-laki, hahaha, papar David bangga.
Oya?, wah mantep vid, terus abis itu
gimana pid?, tanya Chris penasaran. Ya ga kenapa-napa, terusnya bokap nyerahin
gambar bokep itu lagi ke gue ya gue balik kanan bubar jalan ke kamar gue lagi,
sambil dalem hati bilang ke bokap; “lain kali kalo nyimpen majalah begituan
hati-hati”, hahahahahaha!, mantap-mantapp!!, gelegar tawa ketiganya.
Gue
juga ada cerita kurang lebih sama kaya elo vid, Joe rupanya tidak mau kalah,
pas gue SMP juga. Kejadian di sekolah pas pelajaran PMP (Pendidikan Moral
Pancasila), yang ngajar Pak Hadiro. Anak-anak coba kalian baca dalam hati
halaman 15 sampai 23, kata Joe menirukan Bapak Hadiro sang guru PMP. Pak, saya
ijin ke belakang cuci muka, kata gue sambil ngacung tangan. Ga ada joe, ga bisa!,
terakhir kamu ijin ke belakang tidak kembali ke kelas, kamu malah tidur di
mushola, kata Pak Hadiro. Udah buka buku cetak PMP kamu dan baca halaman yang
tadi saya bilang, bentak Pak Hadiro. Asli deh, lama kelamaan gue jenuh juga
sama pelajaran PMP yang ngajar Pak Hadiro, masa pendidikan moral tapi hafalan,
ga ada jiwanya banget, yang ada malah ngantuk gw. Nah yaudah dari pada ngantuk
and gue ngerasa percuma juga belajar moral tapi ga ada jiwanya sekalian deh gue
keluarin stensilan yang baru gue pinjem dari Tommi.
Stensil
adalah sebutan untuk buku kecil mirip novel yang dikarang oleh seorang
misterius memakai nama samaran ENNY ARROW, buku ini cukup menjadi ikon remaja
Jakarta dan sekitarnya di tahun-tahun akhir 80an sampai awal 90an, menyaingi
popularitas Novel Lupus karangan Hilman Hariwijaya. Namun sangat berbeda dengan
Lupus, stensil Enny Arrow mengandung materi cerita pornografi.
Ah
sekalian deh gue selewengkan moral, jadi gue baca stensil tapi gue tumpuk sama
buku PMP, jadi kliatannya gue lagi baca buku PMP, padahal siih,,,, hahaha.
Eh
tiba-tiba gue dikagetin suara Pak Hadiro; Joe!!, asli kaget banget gue. Coba
kamu sebut Trias Politica menurut Montesqui?, tanya Pak Hadiro. Siapa Pak, mosquito?,
kata gue balik nanya, kontan sekelas pada ketawa. Apa yang kamu baca itu?, saya
heran dari tadi perhatiin kamu, ko baca buku PMP tapi cengar-cengir?, sudah
curiga rupanya Pak Hadiro.
Pak Hadiro nyamperin meja gue and sekonyong-koyong
ngerebut buku yang gue pegang,, anjriittt, gue ke-gep man!!, papar Joe. Hahaha,
parah!, kata David, terus kejadian sama kaya gue, Pak Hadiro senyum-senyum
maklumin lo sebagai anak laki-laki and secara gentle ngasi lo balik tuh
stensil?, kata David memburu sambil senyum.
Apaan, boro-boro!!, gue dihukum
dijemur di lapangan sambil ngehormat bendera sampe kira-kira 2 jam, mana lagi
itu masuk siang lagi jam 2an man!, and sorenya gue disuruh menghadap guru BP,
ngasih surat panggilan buat or-tu. Besoknya nyokap gue ngadep ke Kepala
Sekolah, gue disuruh tanda tangan surat pernyataan tidak akan melakukan
perbuatan tidak senonoh. Huahahahahahahaha,,, apes beraaattt!!, kata Chris dan
David sambil terkekeh mentertawai Joe, Joe cengar-cengir saja.
Eh,
bagus juga tuh, nama band STENSIL atau ENNY ARROW?, usul Joe lagi. Huahahahaha,
lagi-lagi Chris dan David tertawa. Udah ah, fix nama band kita MAGAZINE !!,
demikian kata David.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar