“Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama
principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya
tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah
saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja
korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan
pada momen-momen yang memang sudah menjadi bagian kehidupan kantoran seperti harus
menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling
mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan
saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki
pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran
dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka
atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.
Tidak jarang
saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata
keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram
menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin
tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga
sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio –
visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka
rangkaian kalimat persis yang diinginkan atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”
Saya coba
mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung
kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau
mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang
kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen
mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat
oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar
merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor
semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh
bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang
perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area
para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.
Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
“Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya
seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib.
Saya bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau
meetingnya?”.
Tidak lama
kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari
divisi lain membuka pintu ruangan; “bro
orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun
memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul
semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya
dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak
principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat
berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.
“Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa
meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah
membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me
Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any
dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama
kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar
dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.
Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi
saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my
desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam
harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana
mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear,
selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9
pagi.”
Revolta, 16
Maret 2014
intinya membahas soal tata bahasa ya?
BalasHapusbisa, bisa jadi itu juga.. :)
BalasHapus