Siang itu aku mengantar istri ke terminal bus, ia ada keperluan ke
rumah orang-tuanya di kampung. Setelah memastikan dia menaiki bus sesuai tujuan
aku tidak langsung pulang karena aku pikir tidak lama lagi akan masuk waktu
dzuhur langsung saja aku mengarahkan langkahku menuju masjid terminal itu untuk
melaksanakan sholat dzuhur.
Setelah
berwudhu aku duduk bersimpuh pada pelataran masjid itu menunggu saat-saat azan
yang kira-kira tinggal 2-3 menit lagi.
Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang sudah nampak tua menghampiriku, dia
mengenakan celana bahan berwarna abu-abu, memakai batik yang warna coraknya
mulai pudar dan lusuh, berkacamata tebal dan memakai kopiah dengan warna hitam
yang sudah pudar pula.
“Darimana nak?”, tanyanya kepadaku kalimat pembuka basa-basinya.
Ku jawab, “abis nganter istri pak”.
Kemudian dia bercerita bahwa ia berasal dari kota yang cukup
jauh dari terminal kota ini bermaksud hendak menjemput istrinya dari ibu-kota namun
sial sang istri terlanjur pulang terlebih dahulu dari si bapak itu, yang
menjadi masalah adalah si bapak itu kehabisan ongkos untuk kembali pulang ke
kotanya. Ia kemudian menanyakan kepadaku apakah kiranya aku dapat membantunya memberi
ongkos pulang kepadanya barang Rp 15.000,- atau Rp 20.000. Tentu saja dengan
senang hati aku ingin membantunya karena aku merasa kasihan kepada bapak itu.
Aku pun memberinya Rp. 20.000, dia nampak senang sekali dan mengucapkan
terimakasih kepadaku kemudian berlalu hendak mengambil wudhu katanya.
Akhirnya adzan dzuhur berkumandang, aku pun kemudian sholat
berjamaah bersama orang yang hadir di masjid terminal itu. Selesai sholat aku
teringat kembali kepada Bapak itu, aku berpikir karena ini bula Ramadhan boleh
jadi bapak tadi merupakan jelmaan malaikat.
Seminggu kemudian aku kembali ke terminal itu, kali ini aku yang hendak
bepergian ke luar kota. Lagi-lagi aku tiba di terminal itu menjelang dzuhur,
aku pun bermaksud hendak sholat terlebih dahulu sebelum menaiki bus kota
tujuanku.Waktu adzan masih kurang 15 menit lagi, aku duduk di
pelataran masjid menunggu adzan. Beberapa saat kemudian masuklah ke pelataran
masjid seorang bapak tua yang ciri-ciri fisiknya sama persis dengan yang
bertemu dan meminta bantuanku seminggu yang lalu. Kali ini dia tidak melihatku.
Aku perhatikan saja gerak-geriknya diam-diam. Dia menghampiri seorang pemuda
yang duduk sendirian, akupun memasang kuping mendengar percakapan mereka
berdua. Jarakku dengan mereka tidak terlalau jauh sehingga terdengar jelas
percakapan mereka. Ajaib….., dialog bapak dengan pemuda itu kurang lebih sama
persis dengan pengalamanku seminggu yang lalu, aku bagaikan mengalami dejavu.
Aku gelengkan kepalaku sambil tersenyum kecut….ternyata..
Tidak lama kemudian aku melihat bapak itu beranjak pergi ke
tempat wudhu, aku pun menghampiri pemuda yang barusan bercakap-cakap dengan bapak
tadi untuk memastikan kecurigaanku. “Mas…maaf, abis ngobrol sama bapak-bapak
tadi ya?”, tanyaku. “Iya”, jawabnya. Aku melanjutkan, “Apa dia bilang dari kota
yang jauh datang ke terminal ini ingin menjemput istrinya yang datang dari
ibu-kota tapi ketinggalan bus dan kemudian dia kehabisan ongkos untuk pulang
kemudian ujung-ujungnya dia minta bantuan uang ke mas?”, “Iya”, jawabnya lagi.
Aku tertawa, “itu modus mas”, kataku. Wajah pemuda itu nampak bingung. Aku
jelaskan kepadanya bahwa seminggu yang lalu aku mengalami hal yang sama dengannya
dengan bapak yang sama pula. “Mas ngasih berapa?”, tanyaku. “20 ribu”,
jawabnya. “Hahaha…sama”, kataku lagi.
Seorang ibu-ibu yang sedari tadi mendengar obrolan kami
menyela kemudian berkata bahwa sekitar 2 hari yang lalu bapak itu juga menghampiri
seseorang dan berbuat hal yang sama persis. Aku tertawa kecut lagi, “nah mas…kita
ga sendiri”, kataku sambil menepuk samping lengannya.
Pemuda itu tetap memasang tampang bingung dengan senyum yang
canggung.
..... Ini !
.... Revolta!
-30 Juli 2015-
..... Ini !
.... Revolta!
-30 Juli 2015-