Jumat, 30 September 2016

PASANGAN MARUSHKA.Bagian 3.(selesai)



Pemandangan lepas pantai Samudera Hindia menghampar luas dihadapan kami. Ombaknya cukup tinggi dan angin kencang menderu, tipikal lautan di pesisir selatan Jawa, ditambah pula di bulan September telah masuk musim penghujan, angin jadi lebih kencang bertiup. Untung saja hari itu tidak hujan, namun langit sedikit mendung sehingga matahari tidak terlalu panas penyengat, padahahal sudah lewat tengah hari, sekitar pukul setengah dua siang. Kami diatas sebuah permukaan tanah yang lebih tinggi sekitar 3 meter dari pasir pantai, sehingga untuk ke pantainya harus menuruni bukit pasir. Motor kami tinggalkan saja terpakir diatas. Saat menuruni bukit saya berkata kepada Maria, “Maria, ini saat yang tepat mengatakan HATI-HATI, perhatikan langkahmu”. Maria tersenyum, kemudian Andre membantunya turun.

“Waw…. This is great!!”, Andre dan Maria seperti terpana. Saya tahu ini bukan pantai pertama yang mereka lihat, namun untuk orang yang tinggal dibelahan bumi yang tidak memiliki pantai dan laut pastilah setiap kali melihat pantai dan laut ada sensasi tertentu yang mereka rasakan. Kemudian Andre melepaskan sendal gunungnya, diikuti Maria melepas sendal jepitnya, sementara saya tetap mengenakan sepatu sneakers. “Bobby, ayo kita berjalan”, kata Andre. “Kita jalan?, kemana?, terlalu jauh”, saya merasa ragu. Justru malahan mereka yang seperti benar-benar ingin menyatu dengan alam. “Kita jalan sekuat kaki melangkah saja”, ajak Andre. Pantai Bagedur memiliki garis pantai yang sangat panjang, mungkin kira-kira 15 kilometer, saya belum pernah menyusurinya dari ujung satu ke ujung satunya, terlalu jauh. Bagian pantai Bagedur yang kami kunjungi ini tidak ada satupun warung, sepi, sisi seberang pantai adalah hutan belukar pohon pandan pantai. Jika saya sendirian, ada sedikit gentar juga berjalan menyisiri pantai. Tapi heran, saat itu saya merasa tenang saja berjalan bertiga, padahal mereka orang asing dan baru saja saya kenal. Mungkin juga mereka berpikir rasa yang sama seperti saya. 

Kira-kira telah berjalan 20 menit sambil diselingi obrolan ringan, saya menghampiri seorang nelayan yang sedang mencari ikan dengan cara melepas jaring dari pantai. “Pak”, saya menyapanya . Si bapak nelayan tersenyum. “tos meunang sabaraha laukna pak? (sudah dapat berapa ikan pak?)”, tanya saya dalam bahasa sunda. “Kakarak lima a (baru lima)”, jawabnya. “Ikan layur?”, tanya saya lagi. “Sanes, anu biasa weeh, teu acan usimna (bukan, ikan biasa, belum musim layur)”, jawabnya. Andre menyela obrolan saya dengan bapak nelayan, “ada apa bobby?, ada masalah?”. “Tidak, saya hanya mengajak ngobrol bapak nelayan ini, dia bilang baru mendapat lima ikan”, terang saya kepada Andre. “Hello mister”, sapa Andre kepada bapak nelayan, “Haiy”, Maria ikut menyapa juga. Yang disapa cuma menoleh sedikit dan hanya senyum tersipu-sipu saja, sambil melanjutkan pekerjaannya. 

Andre kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu, sebuah kain lebar lebih seperti permadani. “Apa fungsinya membawa ini jika tidak digunakan”, katanya sambil kemudian membentangkannya. “Ayo kita duduk bobby”, Andre mempersilahkan. Sejadinya kami duduk saja diatas pasir beralaskan kain lebar, saya dan Andre duduk bersampingan menghadap lautan sementara Maria setengah merebahkan tubuhnya dibelakang Andre seperti berjemur, mereka terkesan begitu spontan menikmati keindahan alam yang kapanpun tanpa diduga tersaji dihadapan mereka dalam petualangan mereka. Suasana jadi hening sejenak dari suara kami, hanya terdengar suara alam dari deburan ombak dan tiupan angin. Sambil menyaksikan sebuah tayangan langsung yakni kegiatan bapak nelayan yang sedang menjaring ikan. Kemudian Andre memecah diam kami, “Mengapa nelayan itu menutup semua bagian kepalanya, sehingga hanya terlihat wajahnya saja?”. Bapak nelayan itu memang menutup hampir seluruh kepalanya dengan kaus oblong yang bagian lubang untuk kepala dia gunakan untuk wajah, sedang bagian lengan kaus diikatkan menyimpul dibelakang lehernya, seolah-olah seperti pakaian penyelam. “Saya rasa dia bermaksud  melindungi seluruh kepalanya dari sengatan matahari, karena dia akan bekerja seharian penuh mencari ikan di pantai ini”, jelas saya. Andre mengangguk, tanda paham.

Kemudian ganti saya bertanya, tentang Slovakia. Andre kemudian menggambar sesuatu diatas pasir pantai dengan jari telunjuknya sebagai alat tulis, menjadi seperti sebuah pulau. “Kurang lebih ini adalah benua Eropa”, dia kemudian menerangkan maksud gambarnya. Kemudian dia membuat semacam batas-batas berkelok-kelok diatas gambar benua Eropa versinya itu. Dengan menggunakan telunjuknya menjadi pointer, “ini adalah Polandia, ini adalah Austria, ini Ceko, ini Hungaria, ini Ukraina, tepat ditengah-tengah inilah Slovakia”, dia memutar-mutar jari telunjuknya seperti bor di pasir ketika menunjuk kira-kira letak negaranya sehingga jadi membentuk lubang kecil. “Slovakia memiliki empat musim, jika musim dingin salju bisa mencapai segini”, deskripsi Andre dengan telapak tangan kanannya diatas tanah kira-kira 50 senti dari pasir pantai. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, dia bilang berenang di kolam berenang sudah merupakan rekreasi yang berharga disana, bahkan dengan ukuran kolam renang yang tidak besar. Maria menambahkan keterangan, dia bilang disana sangat dingin dibanding disini, maka itulah dia bilang saat ini dia merasa sedikit kegerahan. Terlintas di benak saya, “kegerahan?, di cuaca mendung dengan angin kencang di pinggir pantai seperti ini?, pantas saja begitu tiba di pantai Maria langsung melepas baju jaket cardigannya, hanya memakai kaus “you can see-nya””.

Mereka pun menjelaskan secara singkat negara-negara Eropa lainnya, termasuk laut Mediterania yang menjadi pemisah alam antara daratan Eropa dengan Afrika dan Jazirah Arab. “Jadi Menurut kalian negara Eropa mana yang paling ramah kepada pendatang?”, tanya saya. Sejenak Andre tampak berpikir, “hmm… Nederland, masyarakatnya baik dan terbuka. Disana marijuana legal!”. Saya pikir Andre akan mengatakan Perancis yang utama, karena sejarah peradaban negara Perancis sependek pengetahuan saya ada andil dari para imigran Muslim yang banyak berasal dari Timur Tengah diantara Maroko, negara itupun multi ras. Universitas Sorbone yang terkenal sebagai “altar ilmu pengetahuan” pastilah mempengaruhi alam pikir rakyat Perancis kebanyakan, menjadi pribadi-pribadi yang open-minded atau berpikiran terbuka. Dan Paris!, pusat seni dunia, kota cahaya, terkenal dengan gaya hidup bohemian ciri khas seniman, bebas dan egaliter. Tapi Nederland?, alias Belanda?, negara yang pernah lama menjajah Indonesia?, Andre mengatakan Nederland, ….boleh jadi juga. Saya teringat dari artikel dan literatur-literatur lainnya yang pernah saya baca bahwa akibat dari kejadian 30 September 1965, tidak sedikit pelarian politik (eksil) karena diburu oleh rezim Orde Baru mereka tidak dapat pulang ke Tanah Air, akhirnya memilih menjadi warga negara Nederland, yang artinya negara itu menerima pelarian politik Indonesia. Tapi bukankah di Nederland ada tokoh sayap kanan seorang Geert Wilders yang anti imigran khususnya imigran Muslim?. Meskipun saya pun tahu sedikit banyak, di Perancis pun ada seorang Brigitte Bardot, pesohor legendaris yang sering membuat pernyataan sentimen berbau menolak imigran Muslim di Perancis. Saya tidak tahu pasti kondisi Eropa sejatinya, toh saya belum menginjakkan kaki kesana, baru berdialog dengan dua orang penduduk Eropa yang berkunjung ke Indonesia. Bagaimanapun, lagi-lagi informasi bahwa di Belanda marijuana legal cukup menarik.        

“Oya Andre, masih mengenai Eropa, saya jadi teringat sesuatu. Setelah kejadian teror beberapa waktu lalu di Perancis dan Belgia, bagaimana sikap masyarakat Eropa pada umumnya terhadap Muslim?, apakah benar disana menjadi phobia terhadap Islam?”, tanya saya kali ini dengan pertanyaan yang sedikit serius. Saya lihat Andre menggelengkan kepalanya, kemudian bibirnya sedikit melengkung ke bawah seolah ditarik dan kedua bahunya mengangkat, “Sebagian besar bangsa Eropa sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi, siapa mereka sebenarnya pelaku terornya. Mungkin ada sebagian yang merasa phobia dan curiga terhadap Muslim, tapi tidak bisa dibilang semua. Is the Media!, television! (saat mengatakan ini Andre dan Maria hampir berbarengan). Media televisi lah yang menjadikan keadaan jadi semakin buruk dengan pembentukan opini-opini mereka. Saya pribadi lebih memilih membaca berita dari internet ketimbang televisi, karena dengan internet saya bebas memilih berita atau artikel yang ingin saya baca dan tahu”, demikian papar Andre. Saya menanggapi paparan Andre, “Ya, mereka para pelaku teror itu tidak berhak mengatasnamakan dan mewakili Muslim dan Islam keseluruhan, dengan pandangan radikalisme mereka. Saya sebagai Muslim tidak merasa diwakili mereka. Saya tidak suka paham sektarianisme dan radikalisme”.
“Menurut kamu, bagaimana dengan di Indonesia sendiri?”, Andre balas bertanya. Saya mengemukakan pendapat saya kepada Andre, bahwa kenyataannya memang Indonesia masih harus belajar tentang toleransi beragama. Tapi saya meyakini bahwa sebagian besar dari generasi saya dan setelah saya akan membuat Indonesia yang lebih baik dan damai, well … saya berharap.   


Maria kemudian bertanya kepada saya, “apakah kamu sudah ke Mekah Bobby?”. Saya menangkap maksud pertanyaannya, Maria menanyakan apakah saya sudah naik haji. “What?!”, belum..belum.., saya belum siap”, jawab saya setengah tertawa. “Kenapa?”, tanyanya lagi. Saya jawab, “menurut saya ketika ke Mekah untuk berhaji tidak hanya menuntut kesiapan materi, saya pribadi lebih menitik beratkan kesiapan mental dan moral”.
“Pergi ke Mekah salah satu kewajiban Muslim bukan?”, tanya Andre. Terus terang saya sedikit terkejut dengan pertanyaan Andre, dia bisa mengetahui sejauh itu. Akhirnya saya terangkan tentang “Rukun Islam” atau kepada mereka “The Pillars of Islam” secara urut, yaitu dimulai dari kalimat syahadat, sholat lima waktu , puasa Ramadhan, zakat, dan berhaji jika mampu. Bahkan tiap satu dari lima rukun tersebut sedikit saya jabarkan keterangannya. Mereka mendengarkan dengan seksama.


Diskusi mengasyikan kami sedikit terpotong oleh “commercial break”, si bapak nelayan pamit pulang, “mangga sadayana abdi bade uih heula (mari semua saya pulang dulu)”. “Oh Muhun pak, mangga (iya pak, silahkan)”, balas saya.

Kamipun melanjutkan diskusi. Andre bertanya tentang sejarah Indonesia, saya jelaskan semampu saya tentang kedatangan bangsa-bangsa Barat menjajah Indonesia yang dahulu disebut East Indies, Samudera Pasai Kerajaan Islam pertama di Indonesia, penyebar Islam pertama di tanah Jawa oleh Sembilan Wali, sampai penjajahan Jepang yang hanya kurang lebih 3 tahun. 

“Saya melihat saat dalam perjalanan ke Malingping, anak dibawah umur menikmati rokok. Apakah di Indonesia anak kecil diperbolehkan merokok?”, tanya Maria. Kemudian dilanjutkannya, “sebab di negara saya jika melihat anak dibawah umur merokok maka orang tua akan memukul kepalanya (Maria memperagakan dengan menggerakan telapak tangannya dengan gerakan seperti smash tenis meja). Apakah begitu mudah dan murah mendapatkan rokok di Indonesia?”. Merasa malu juga saya mendapat pertanyaan seperti itu, tapi tetap saya jawab, “tentu saja anak dibawah umur tidak diperbolehkan merokok, tapi memang aturan pemerintah atas larangan merokok kurang ketat. Indonesia ini kan tanahnya subur, semua tanaman industri dapat tumbuh, itulah mengapa dahulu bangsa barat dimulai dari Spanyol sampai terakhir Belanda menjajah Indonesia, untuk mengambil rempah-rempah, dan hasil tanaman perkebunan seperti gula, karet, kopi, teh, cengkeh dan tembakau. Tanaman cengkeh dan tembakau tumbuh subur di Indonesia, itulah mengapa di Indonesia banyak produksi rokok dan rokok mudah didapat”.
 #Jawaban terakhir adalah jawaban berbau pembenaran atas pertanyaan mengapa anak dibawah umur bisa bebas merokok di Indonesia. :P


“Heiy guys, sepertinya kita harus kembali ke motor kita. Kita meninggalkannya terlalu lama”, ujar saya, sedikit khawatir. Sebenarnya sedari awal tiba di pantai saya tidak terpikir berjalan kaki menyusuri pantai, melainkan mencari jalan yang bisa dilalui motor sehingga bisa bermotor ria diatas pasir pantai. Tapi kedua sahabat baru saya ini memilih berjalan kaki. Apalagi saat menoleh kepada titik kami awal berjalan sampai ditempat kami menggelar permadani dan mengobrol ternyata cukup jauh, tidak terasa karena terlalu asyik mengobrol mungkin. “Ok, lets go back”, Andre menyetujuinya, kain permadani dilipatnya dan dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
Saat perjalanan kembali, Andre mengeluarkan sesuatu lain dari tasnya. Sebuah kamera DSLR, dia mengambil beberapa foto pemandangan pantai Bagedur dan lautan. Tiba-tiba dia berseru, “heiyy lihat!, ada ikan terdampar”, sambil menunjuk ke pantai. Saya melihat seekor ikan ukuran sedang menggelepar di pasir pantai karena terseret ombak. Andre menyerahkan kamera yang dipegangnya kepada Maria dan berlari menuju ikan itu. Dia menangkap ikan itu perlahan dengan kedua tangannya, kemudian berjalan sedikit ke laut hingga setinggi betisnya, ikan itu kemudian dilepaskan ke dalam air. Tidak itu saja, beberapa langkah kemudian dua kepiting yang sepertinya sekarat di pasir pantai pun dia tangkap dan dia lepaskan ke dalam air. Nice.


Tiba di tempat kami memarkir motor, Andre mengajak saya berfoto dengannya, Maria yang mengambil gambar. Kemudian saya menawarkan diri mengambil foto mereka berdua sebagai kenang-kenangan telah mengunjungi daerah “in the middle of nowhere”, pantai Bagedur, Malingping, Banten, Indonesia.
Andre dan Maria kemudian berpose, mereka duduk pada motornya masing. Kemudian telapak tangan mereka disatukan seperti akan berpegang tangan, tapi ternyata jari tangan mereka berdua membentuk hati.

                                                               saya & Andre


                                                              “Marushka Couple”
Saat perjalanan pulang, formasi berkendara sama persis pada saat berangkat. Kemudian kembali Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan saya, dan dia berkata, “heiy Bobby!, apakah kamu minum kopi?”. “Ya, tentu”, jawab saya. “Ayo kita ke kafe, “chala-chala””, katanya sambil lengan kirinya mencontohkan orang yang sedang meneguk minum dari gelas. “Chala-chala?, apa itu”, tanyaku dalam hati. Saya menerka, itu pasti istilah di India yang berarti minum kopi bersama sambil beramah-tamah. Mereka kan baru saja menghabiskan 6 bulan berkeliling India. Berbeda dengan saat berangkat tadi siang, pada perjalanan pulang banyak orang-orang yang menyapa dan melambaikan tangan kepada Andre dan Maria, “Hello Mister!!”, sapa orang-orang itu. Andre dan Maria membalas dengan lambaian tangan orang-orang yang menyapa mereka, “Hello!, hello!”. Mungkin dikarenakan hari sudah sore maka orang-orang lebih banyak keluar rumah sekedar berleha-leha. Sambil tertawa saya berkata kepada Andre, “they don’t see people like you everyday”.

                                           Kopi Cap Kupu-Kupu (#support your local coffe!)


Saya menghentikan motor pada sebuah warung kopi di pinggir jalan raya. Tentu saja tidak ada kafe di Malingping, hanya warung kopi biasa, bangkunya berupa dipan bambu. Namun demikian saya melihat wajah Andre dan Maria sumringah, terlihat senang. Warung itu hanya menyediakan kopi instan pabrikan dengan bungkus renceng yang digantungkan menurut nama merek pasarannya. Diantara bungkus kopi itu saya melihat bungkus kopi yang khas ada di Banten, khususnya Banten Selatan. Kemasannya terkesan vintage, tidak modern, tapi kopi ini menjadi favorit kebanyakan masyarakat pecinta kopi di wilayah Banten Selatan karena rasa dan aromanya yang beda dari kopi merek “terkenal”. Meskipun kemasan sachet juga tapi tidak bergula, jadi jika ingin ditambah gula atau susu atau apapun, tergantung selera masing-masing. Nama kopinya “Kupu-kupu”.  “Kalian harus mencoba kopi khas Banten ini”, saran saya kepada mereka. Mereka setuju, Maria minta diseduh dengan gula, sedang Andre tanpa gula. Tapi saya memesan teh saja, karena merasa dahaga.

Kopi disuguhkan, mereka meminumnya perlahan, “is good!”, kata mereka. Tak lama kemudian Andre bertanya, “Bobby, mengapa dalam bahasa Indonesia ada kalimat yang diulang, seperti HATI-HATI, KUPU-KUPU?”. Mendengar pertanyaan tak diduga itu, saya jadi tertawa. Selama ini saya tidak memikirkannya. Mestinya memang ada penjelasannya pada pelajaran Bahasa Indonesia saat jaman sekolah dulu tapi mungkin saya absen, atau ketiduran pada saat guru menerangkan. Dengan menyesal untuk pertanyaan Andre yang satu ini saya jawab, “I’m sorry, I don’t know”. :D. 

Tak terasa hari sudah menjelang maghrib. Maria mengajak, “kita harus kembali”. Kemudian Andre membayar semua minuman, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Setiba di pusat kota Malingping, mereka berhenti pada sebuah toko serba ada, sepertinya hendak membeli beberapa keperluan sebagai akomodasi melanjutkan perjalanan panjang mereka keesokan hari. Menurut mereka, setelah mengunjungi Sawarna mereka akan melanjutkan perjalanan jelajah Pulau Jawa hingga tujuan akhir mereka adalah Pulau Bali. Saya memparkirkan motor di pelataran rumah makan keluarga istri saya yang letaknya di seberang persis toko serba ada itu, setelah itu saya menghampiri mereka. Andre mengulurkan tangan bersalaman dengan saya, “Bobby terimakasih atas hari ini, it was great times”. Kemudian dia menyerahkan sebuah kartu nama berlogo “m”, bertuliskan nama mereka berdua: “Maria Slezakova (photographer, post production, graphic designer)” dan” Andrej Matias (copywriter, photographer, technical support), lengkap dengan alamat surel dan Facebook page. Mereka menamai perusahaan yang mereka kelola itu MARUSHKA, dengan theme line: “Travel & Love & Photography”.

Kemudian dia melanjutkan berkata, “jika kamu nanti ingin bertanya perihal Eropa silahkan hubungi kami di email atau facebook. Sebaliknya jika saya ingin bertanya tentang Indonesia saya akan hubungi kamu”. Saya jawab, “tentu saja, dengan senang hati”. Andre menyambung, “atau siapa tahu suatu saat kamu berkunjung ke Eropa, jangan ragu hubungi saya, mungkin saya bisa bantu kamu selama di Eropa”. Kemudian dia mengeluarkan buku notesnya kembali, “alamat email kamu dan nama asli kamu?”. “Maksud kamu Andre?, Bobby is my real name”, jawab saya. “Oh, sorry, saya pikir seperti pengalaman di India juga di Thailand, mereka kebanyakan menggunakan nickname mereka dengan alasan supaya mudah diingat”, terang Andre. Andre kemudian menulis nama, alamat surel dan facebook saya pada buku notesnya. Mengajak bersalaman lagi, “Thank you Bobby”. Kemudian ganti Maria bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan dengan saya. Kepada Maria kembali saya berpesan, “HATI-HATI Maria”. Dia tersenyum. Saya bersiap menyeberang, saat menoleh, mereka masih berdiri seperti terpaku seolah melepas kepergian saya, kemudian Maria melambaikan tangannya. Padahal di awal saya menawarkan diri mengantar mereka atau istilah kerennya menjadi guide ke tempat-tempat menarik di Malingping mereka bilang, “tidak mengapa biar kami saja yang jalan, tunjukan saja arah jalannya, kami khawatir mengganggu waktu dan schedule mu Bobby” (terus terang saya heran, sebagai orang barat ternyata mereka memiliki etika ketimuran, “ga enakan”, khawatir mengganggu waktu orang). “No problem, its ok. hari ini saya sedang off, lagi pula saya senang memiliki teman baru, apalagi teman dari bangsa lain”, balas saya.  









Waktu saya meminta ijin memposting foto-foto hasil perjalanan kami di blog saya, Maria malah menawarkan tambahan foto ini ke saya. Maria menyampaikan bahwa para spg minimarket ini mengajak mereka berfoto. Maria & Ado dengan senang hati meladeni permintaan foto mereka, dan berganti berfoto dengan menggunakan kamera Andre.
Foto ini mereka posting di fanpage facebook Marushka. Ada caption berbahasa Slovakia dalam foto itu yang saya coba artikan dengan bantuan google translate :). Saya menangkap kesan mereka ingin mematahkan Islamphobia di Eropa sana khususnya kepada rekan mereka sesama warga Slovakia tentunya. 



                                                                          -SELESAI-
                             


                                                                         

Rabu, 28 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 2



“Ok, lets go!”, balas saya kepada Andre. Kami berkendara dengan 3 motor masing-masing dengan motornya sendiri. Melaju perlahan saja dengan posisi berbaris, saya paling depan, Andre, kemudian paling belakang Maria. Saat melaju, tidak lama Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan motor yang saya kendarai, saat sejajar dia bilang, “nice helmet” sambil kemudian tertawa. Tentu saja dia bercanda menyindir, karena saya tidak mengenakan helm hanya mengenakan topi trucker. Di kota kecil ini aturan mengenakan helm bagi pengendara motor tidak terlalu ditegakkan oleh kepolisian wilayah jika tidak ingin dikatakan tidak ditegakkan sama sekali, kesadaran masing-masing pengendara motor saja. Saya tertawa, “Ah tidak perlu, saya merasa bebas tanpa helm”, jawab saya ngeles.

Karena tujuan pertama yakni pantai Bagedur jalan menuju kesana melewati rumah keluarga istri saya, saya ajak saja mereka sekedar mampir dulu, biar melihat langsung atau bertamu ke rumah penduduk Indonesia pikir saya. “Kamu tahu Bobby, ini pertama kalinya saya bertamu ke rumah penduduk negara yang saya kunjungi”, sahut Andre. “Ah…tepat perkiraan gw”, kata saya dalam hati. Kami di teras samping rumah saja.
“Heiy Bobby, itu pohon pisang bukan?”, tanya Andre sambil menunjuk. “Ya”, jawab saya. “Waw”, sambungnya. “Kamu tahu, di negara saya makan pisang sesekali saja, biasanya dihari istimewa semisalnya hari Natal. Itupun paling banyak 2 buah saja”, sambungnya lagi. Giliran saya berkata “waw”, tapi dalam hati saja, mengingat di Indonesia ini jika ingin bisa setiap hari makan pisang.

Kemudian Andre bertanya lagi, “dalam perjalanan kesini saya melihat pada sebuah pohon dengan plastik yang menggantung, terlihat seperti kondom, apakah itu?,apakah itu sebuah kepercayaan tertentu penduduk disini, semacam ritual?”. Saya bingung, pohon dengan plastik menggantung seperti kondom?, mencoba menerka-nerka. “Ohh…itu…, itu membungkus melindungi buah yang ada didalamnya agar tidak dimakan oleh kelelawar pemakan buah”, jawab saya menerangkan. “Hmm…saya rasa bukan itu, terbungkus plastik menggantung seperti kondom”, sanggah Andre. Saya semakin mengenyritkan dahi. Seketika saya teringat metode stek pohon, hingga saya meralat keterangan sebelumnya kepada Andre, “Ooh ya…, itu adalah sebuah metode untuk mendapat tanaman baru, dengan cara mengelupas kulit luar tanaman induk kemudian dibungkus dengan tanah, didiamkan beberapa hari sampai tumbuh akar, sehingga terbentuklah tanaman baru. Metode itu disini disebut stek”, jawabku berteori layaknya pakar botani lulusan IPB. “No, no, no, no….., kamu tidak mendengarkan saya Bobby”, sanggahnya lagi, kali ini dengan gerakan jari telunjuk tangan kanannya persis seperti gerakan pembersih kaca depan mobil. “Nanti mungkin diperjalanan menuju pantai kita akan melihatnya. Kita jalan sekarang?”, ajaknya kemudian.

Kamipun melanjutkan perjalanan dengan posisi berkendara persis seperti di awal berangkat. Tak beberapa lama, lagi Andre mensejajarkan laju motornya dengan motor saya, kemudian dia berkata, “Indonesia is a Moeslim country right?”. Saya jawab,” mayoritas penduduknya, ya”. “Apakah kamu Muslim Bobby?”, tanyanya lagi. “Ya”, jawab saya. “Assalamualaikum”, sapanya sambil kemudian tersenyum. “Waalaikumsalam”, balas saya, ganti saya tersenyum.

Sepanjang perjalanan mereka disuguhi pemandangan yang mesti sangat jarang mereka lihat, sehingga terdengar celetukan Andre; “water buffalo!” alias kerbau, “paddy field!” alias sawah, “rice!” alias beras atau nasi, “coconut tree!” alias pohon kelapa, dan “banana tree!” alias pohon pisang lagi. Sementara saya sedikit-sedikit menanggapi celetukan Andre sambil tetap berpikir mencari jawaban tentang pohon dengan plastic menggantung seperti kondom. Hingga saya teringat sesuatu, “AHA!!”, lebih seperti seruan “Eureka!!”. Tidak salah lagi, saya rasa saya tahu “pohon kondom” yang Andre maksud . Hingga akhirnya pada sebuah rumah penduduk, di batang pohon yang dipasang didepan rumah, saya menoleh kepada Andre dan menyerunya, “Heiy Andre, yang kamu maksud pohon ini kan?!”, tanya saya sambil menunjuk kepada sebuah pohon yang digantungi banyak plastik es mambo yang diisi air warna-warni. “Ya, benar!!”, jawabnya semangat sambil mengacungkan ibu jarinya. Saya jelaskan kepada Andre bahwa itu semacam dekorasi pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 pada tanggal 17 Agustus bulan lalu. Di wilayah Banten, mungkin khususnya Banten Selatan, kebiasaan unik masyarakatnya meramaikan suasana perayaan kemerdekaan RI adalah dengan cara demikian. Puas rasanya hati saya, memecahkan misteri “pohon kondom”.
               
   

                                                       There's your "Condom Tree" Andre :)


Malingping, Banten selatan merupakan daerah pesisir pantai selatan. Memiliki garis pantai yang membentang panjang, dari arah ujung barat yakni dekat Ujung Kulon, sampai ke arah Bayah yang berbatasan dengan Sukabumi yang sudah masuk provinsi Jawa Barat. Sehingga sangatlah banyak pantai yang bisa bebas disinggahi. Beberapa pantai ada juga yang dikomersilkan, berbayar, salah satunya ya pantai Bagedur. Meskipun sebenarnya ada banyak “pintu masuk” ke pantai itu tanpa harus bayar, dari arah mana saja, bagi yang mengetahuinya tentu saja. Tidak ada pagar tembok tinggi atau pagar kawat berduri, hanya saja memang terdapat “pagar alam” berupa semak belukar pandan, gundukan pasir pantai yang meninggi secara alami, pepohonan alami maupun kebun ataupun perkampungan penduduk. 

Ketika melihat ada petugas jaga di gerbang pintu masuk (terkadang tidak ada petugas jaga), saya mengajak Andre dan Maria memutar balikkan motor untuk memasuki pantai Bagedur tidak melalui gerbang pintu masuk yang terdapat loket bayar, saya pikir selain pantai seharusnya tidak dimiliki perseorangan maupun institusi, saya juga kurang ikhlas jika harus membayar retribusi tanpa jelas kompensasi yang diterima pengunjung, ya paling tidak kompensasinya kebersihan pantai terjaga. #Padahal saya ngeles, pengen gratisan aja :D.
Tapi Andre setuju juga dengan pendapat saya, “why we must pay for public beach?”, gitu pendapatnya. Boleh jadi dia sudah muak oleh sistem kapitalisme ala barat yang apa-apa musti bayar, apa saja bisa menjadi komoditas.
“Oke Andre and Maria, don’t worry… I know another way to the beach. Follow me!”, saya ajak mereka menerabas masuk lewat sisi perkebunan.
Hingga sampailah juga ke pantai Bagedur dari sisi yang lebih alami, tidak ada warung-warung semi permanen dan tidak pengunjung lain, seolah-olah pantai milik kami bertiga.     

(bersambung-)           

Selasa, 27 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 1



Sabtu itu pagi menjelang siang sekitar pukul setengah sebelas di sebuah kota kecil nun jauh di Banten selatan, berbeda dari hari-hari biasanya. Saat mengantar istri ke rumah makan milik keluarganya, saya melihat sepasang “bule” bercakap-cakap dengan seseorang di seberang jalan. “Heiy…, tumben ada bule di Malingping”, dalam hati saya. Kemudian mereka berjalan menuju arah saya. Saat itu juga saya berharap mereka menghampiri, sudah lama saya ingin bercakap-cakap dengan bule sekedar melatih kemampuan bahasa Inggris saya. Tak disangka, ternyata memang rumah makan keluarga saya yang mereka tuju.
Saya menyapa mereka, “hello, can I help you?”. Awalnya mereka seperti mengacuhkan saya, lebih seperti waspada. Kemudian yang laki-laki menoleh kepada saya kemudian berkata, “oh, you can speak English”. ku jawab, “yes, a little. “We like to have a breakfast, something vegetable, no meat, like vegetarian”, sambung yang perempuan. “Ow, please come in”, balas saya. Karena rumah makan keluarga istri saya adalah rumah makan masakan Padang, tentu saja sebagian besar menunya adalah daging. Menu non daging yang kebetulan tersedia siang itu adalah tahu dan terong balado, saya pikir masa iya hanya makan tahu dan terong. Kemudian saya melihat kembali pada etalase makanan tersedia pula telur goreng dan ikan asam padeh, “would you like fish?”, tanyaku. “No”, jawab yang perempuan. “What about egg?, fried egg”, tanya saya lagi. “Egg is ok”, jawab yang perempuan. Kemudian dia menunjuk pada piring saji berisi tahu goreng, lanjut bertanya, “is that tofu or tempeh?”, “tofu”, jawabku. “great!, I want that”, katanya.
Saya persilahkan mereka memilih tempat duduk, setelah mereka duduk saya pun duduk semeja dengan mereka dan mengajak bercakap-cakap sebentar.
Selanjutnya dalam cerita saya ini dialog saya dengan mereka akan saya tulis dalam terjemahan bahasa Indonesia, well…sedikit campur-campur bahasa Inggris lah ya, biar sama-sama belajar kita J.
“Kalian dari negara mana, dan hendak kemana?”, tanyaku. “Kami dari Slovakia”, jawab yang laki-laki. “Slovakia?”, tanyaku mengulang. “Ya, Eropa bagian tengah”, ditengah-tengah antara Polandia, Austria, Ceko, Hunggaria dan Ukraina. Ke sini berkendara menggunakan skuter”. “Skuter?!, tanyaku setengah tidak percaya. “Ya, skuter. Kami sewa di Jakarta untuk kami gunakan selama 1 bulan. Kami hendak ke Sawarna. Apakah masih jauh?, berapa lama perjalanan lagi”, katanya menyambung. “Sudah tidak terlalu jauh, kira-kira 2 jam lagi perjalanan berkendara”, jawabku. “Oya, nama saya Bobby, nama kalian siapa?”, Tanya saya sambil mengulurkan tangan bersalaman. Yang laki-laki bernama Andre, yang perempuan bernama Maria. Kemudian Andre bercerita bahwa kemarin malam mereka bermalam di Anyer, disebuah hotel yang menurut gambaran mereka lebih seperti bedeng tapi mereka harus membayar seharga apabila di negara mereka lebih mahal dari hotel berbintang tiga. Tidak terlalu kaget sebenarnya mendengar cerita mereka soal Anyer, saya sampaikan kepada Andre, jangankan kepada kalian turis asing, kepada turis lokal pun ada beberapa kejadian harus membayar diluar logika jika berwisata kesana, meski tidak semua pengelola wisata di Anyer berkelakuan seperti itu tentunya.
Maria pun turut buka suara bertanya, “apakah maksud jika bersalaman jari telunjuk lawan bersalaman digerak-gerakkan pada telapak tangan saya?, sambil ia peragakan salam telunjuk digoyang. Apakah itu sesuatu yang baik atau tidak?”. “That’s a flirt!, itu menggoda!, dan itu tidak baik”, terangku. “Saya sudah menduganya”, katanya. “Bagaimana cara menolaknya?”, katanya lagi. “Tarik saja tanganmu”, jawab saya.
Pikir saya, “pantas saja pertama disapa seperti waspada begitu, ternyata mereka baru dapat pengalaman kurang baik”.
Ketika diantarkan segelas besar air teh tawar hangat, Andre bertanya, apakah ini teh?, saya mengiyakan. Ketika diantar wadah almunium berisi air bening, Andre bertanya kembali, ini air apa?, saya jawab sambil tersenyum, “for washing your hand” alias kobokan. Setengah tertawa Andre menjawab, “Of course”. 
Andre kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil atau notes dan pena, lanjut bertanya, “apakah arti HATI-HATI?”. Saya pikir saat dalam perjalanan seseorang mengancam mereka, saya pun bertanya, “apakah kalian diancam?”. “Tidak”, kata Andre, hanya saja dalam perjalanan dia sering melihat rambu bertuliskan HATI-HATI. Saya tertawa, “ooo…saya pikir kalian diancam. HATI-HATI means BE CAREFULL in English”, saya menjelaskan. “Saat kapan penggunaan kata HATI-HATI digunakan?”, ganti Maria bertanya. “Mmm…misalnya saja kawan kamu akan bepergian ke suatu tempat, atau siapapun orang yang kamu kenal akan melakukan sesuatu yang sekiranya sedikit berbahaya, saat itulah kamu mengatakan HATI-HATI kepadanya”, demikian saya mencotohkan. “Ahh… I see”, kata Maria, sepertinya dia menangkap maksudnya.
Kemudian Andre lanjut bertanya, apakah benar jika menyapa seseorang laki-laki dengan panggilan “Mas”?. Meskipun sebenarnya itu bahasa Jawa tapi saya pikir sudah “mengindonesia”, saya mengiyakan. Kemudian dia bertanya kembali, “jika kepada perempuan apa?”. Saya jawab, “Mba”. Dia mengulangi perkataan saya sambil menulis, “BA”. “Tidak, tidak, kurang M”, koreksi saya. Andre pun menambahkan huruf M. “Bagaimana kepada orang yang lebih tua?”, tanyanya lagi. Aku jawab, “tentu saja beda”. “PAK”, untuk laki-laki dan “IBU”, untuk perempuan. Andre menulis kalimat bahasa Indonesia yang dia tanyakan itu pada notesnya.
Semua hidangan sudah tersedia, nasi, tahu, telur goreng dan terong balado, serta masing-masing segelas teh tawar. “Oya, silahkan kalian nikmati dulu makanannya”, kata saya. Saya pun meninggalkan mereka ke meja dibelakang mereka.

                                                             nyam-nyam...delicioso!! :)

Sekitar lima belas menit kemudian saya hampiri lagi mereka, tampak seluruh makanan dan minuman ludes, kecuali tentu saja air kobokan. Saya membuka sapaan, “jadi kemana rencana kalian setelah ini?”. Tujuan utama mereka sebenarnya menuju Sawarna yang terletak di Bayah, namun mereka bertanya apa yang menarik di Malingping, saya jawab bahwa kita berada di pesisir selatan Banten, dan disini terdapat banyak pantai alami. Mereka pun sangat tertarik melihatnya, “Kami tidak masalah menambah hari kunjungan kami disini”, kata Andre. Kemudian dia bertanya pantai apa yang menarik disini. “Saya akan mengajak kalian ke pantai Bagedur dan pantai Pasir Putih”, jawab saya. Andre bertanya untuk menegaskan sambil membuka notesnya, rupanya dia bermaksud menulis nama pantai yang barusan saya sebut pada notesnya. “BAGEDUR”, kataku. “What?”, tanyanya. Aku yakin nama pantai itu janggal ditelinganya.Aku membantu mengejakan huruf yang harus ditulisnya; “bi-ei-ji-i-di-yu-ar, BA-GE-DUR!”. Dia coba mengucapkannya, “bageidjyur”. “That’s right”, kataku membenarkan. Satu lagi, pantai Pasir Putih. “What?!”, tanyanya lagi. Saya pikir dari pada repot saya sampaikan saja bahasa Inggrisnya; “is White Sandy Beach”, simple karena memang pantai itu berpasir putih. Saya menawarkan diri menemani mereka ke pantai-pantai yang tadi disebut, mereka tampak senang.  
Mereka bercerita bahwa sebelum ke Indonesia mereka sudah terlebih dahulu berkelana selama 6 bulan di India, sampai dataran tinggi Himalaya. Andre mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkan beberapa foto-foto menarik dokumentasi petualangan mereka di India, Nepal sampai dengan pegunungan Himalaya. “Ini salah satu foto favorit saya”, sela Maria menunjukan sebuah foto. Foto sekumpulan anak kecil  perempuan seusia kira-kira 7 tahunan, seperti dalam sebuah kelas, mereka semua mengenakan seragam, atasannya mengenakan topi kecuali ada seorang anak perempuan ditengah-tengah, seorang diri mengenakan hijab. Menurut Maria, itu adalah sekolah Budha di sebuah desa di Nepal. Kemudian Andre membuka sebuah situs internet yang mereka kelola ; www.marushka.sk, yang isi materi situsnya diantaranya foto-foto dan cerita petualangan mereka. Menarik. Saat bertualang di India sampai pegunungan Himalaya pun mereka mengendarai motor.

                                             Halaman web yang mereka kelola. Good site guys

Saya kemudian berkata kepada mereka, “saya pikir kalian turis yang menggunakan mobil pariwisata”. Ternyata mereka bukan tipe “turis” seperti itu. Setelah mereka membayar makanan, mereka pamit kembali ke hotel untuk mengambil skuter mereka, sebagaimana yang Andre sampaikan, naik skuter.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke rumah makan, ternyata dengan dua motor masing-masing berkendara sendiri, tidak satu motor, mereka masing-masing mengenakan helm. Dugaan saya mereka berboncengan, meleset. Namun demikian, saat Andre sampaikan bahwa mereka menaiki skuter, saya membayangkan mereka menaiki motor Vespa klasik yang tidak jarang saya melihat dipinggir jalan raya pengendaranya mengutak-ngutik vespanya karena mogok, ternyata yang mereka kendarai adalah motor matic, dugaan meleset lagi.
Tapi tetap saja, bagi saya mereka cukup gokil alias gila, dalam makna yang keren tentunya. Bagaimana tidak, saya berpikir panjang jika harus melakukan perjalanan jarak super jauh mengendarai motor, hanya berdua dengan pasangan, ke kampung orang pula. Nah mereka ini, sudah melakukan perjalanan jarak super jauh, berdua dengan pasangan, ke negara orang pula!.

Saat mereka sudah siap dengan motornya masing-masing saya baru terpikir pasti akan seharian menemani mereka, saya mesti makan siang dulu. Giliran saya minta mereka tunggu sebentar saya mengisi perut dulu, Andre menjawab, “its ok, take your time Bobby”. Ternyata mereka pun hendak mengisi bahan bakar motor mereka terlebih dahulu, “Dimana saya bisa menemukan Pertamina disini?”, tanya Andre. Saya paham, tentulah maksudnya adalah stasiun pengisian bahan bakar atau pom bensin, “kamu ikuti saja jalan utama ini, kira-kira 2 km dari sini, pom bensinnya sebelah kanan jalan. Kamu akan lihat papan besar bertuliskan Pertamina”, terang saya.
Tepat saya menyelesaikan makan siang saya dan telah bersiap, mereka pun tiba. “Are you ready to go Bobby?”, kata Andre sambil tersenyum.    

(bersambung -)