Pemandangan lepas
pantai Samudera Hindia menghampar luas dihadapan kami. Ombaknya cukup tinggi
dan angin kencang menderu, tipikal lautan di pesisir selatan Jawa, ditambah
pula di bulan September telah masuk musim penghujan, angin jadi lebih kencang
bertiup. Untung saja hari itu tidak hujan, namun langit sedikit mendung
sehingga matahari tidak terlalu panas penyengat, padahahal sudah lewat tengah
hari, sekitar pukul setengah dua siang. Kami diatas sebuah permukaan tanah yang
lebih tinggi sekitar 3 meter dari pasir pantai, sehingga untuk ke pantainya
harus menuruni bukit pasir. Motor kami tinggalkan saja terpakir diatas. Saat
menuruni bukit saya berkata kepada Maria, “Maria, ini saat yang tepat
mengatakan HATI-HATI, perhatikan langkahmu”. Maria tersenyum, kemudian Andre
membantunya turun.
“Waw…. This is
great!!”, Andre dan Maria seperti terpana. Saya tahu ini bukan pantai pertama
yang mereka lihat, namun untuk orang yang tinggal dibelahan bumi yang tidak
memiliki pantai dan laut pastilah setiap kali melihat pantai dan laut ada
sensasi tertentu yang mereka rasakan. Kemudian Andre melepaskan sendal
gunungnya, diikuti Maria melepas sendal jepitnya, sementara saya tetap
mengenakan sepatu sneakers. “Bobby, ayo kita berjalan”, kata Andre. “Kita
jalan?, kemana?, terlalu jauh”, saya merasa ragu. Justru malahan mereka yang seperti
benar-benar ingin menyatu dengan alam. “Kita jalan sekuat kaki melangkah saja”,
ajak Andre. Pantai Bagedur memiliki garis pantai yang sangat panjang, mungkin
kira-kira 15 kilometer, saya belum pernah menyusurinya dari ujung satu ke ujung
satunya, terlalu jauh. Bagian pantai Bagedur yang kami kunjungi ini tidak ada
satupun warung, sepi, sisi seberang pantai adalah hutan belukar pohon pandan
pantai. Jika saya sendirian, ada sedikit gentar juga berjalan menyisiri pantai.
Tapi heran, saat itu saya merasa tenang saja berjalan bertiga, padahal mereka
orang asing dan baru saja saya kenal. Mungkin juga mereka berpikir rasa yang
sama seperti saya.
Kira-kira telah berjalan
20 menit sambil diselingi obrolan ringan, saya menghampiri seorang nelayan yang
sedang mencari ikan dengan cara melepas jaring dari pantai. “Pak”, saya
menyapanya . Si bapak nelayan tersenyum. “tos meunang sabaraha laukna pak? (sudah dapat berapa ikan pak?)”, tanya
saya dalam bahasa sunda. “Kakarak lima a (baru
lima)”, jawabnya. “Ikan layur?”, tanya saya lagi. “Sanes, anu biasa weeh,
teu acan usimna (bukan, ikan biasa, belum
musim layur)”, jawabnya. Andre menyela obrolan saya dengan bapak nelayan,
“ada apa bobby?, ada masalah?”. “Tidak, saya hanya mengajak ngobrol bapak
nelayan ini, dia bilang baru mendapat lima ikan”, terang saya kepada Andre. “Hello
mister”, sapa Andre kepada bapak nelayan, “Haiy”, Maria ikut menyapa juga. Yang
disapa cuma menoleh sedikit dan hanya senyum tersipu-sipu saja, sambil
melanjutkan pekerjaannya.
Andre kemudian
membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu, sebuah kain lebar lebih seperti
permadani. “Apa fungsinya membawa ini jika tidak digunakan”, katanya sambil
kemudian membentangkannya. “Ayo kita duduk bobby”, Andre mempersilahkan.
Sejadinya kami duduk saja diatas pasir beralaskan kain lebar, saya dan Andre
duduk bersampingan menghadap lautan sementara Maria setengah merebahkan
tubuhnya dibelakang Andre seperti berjemur, mereka terkesan begitu spontan
menikmati keindahan alam yang kapanpun tanpa diduga tersaji dihadapan mereka
dalam petualangan mereka. Suasana jadi hening sejenak dari suara kami, hanya
terdengar suara alam dari deburan ombak dan tiupan angin. Sambil menyaksikan sebuah
tayangan langsung yakni kegiatan bapak nelayan yang sedang menjaring ikan.
Kemudian Andre memecah diam kami, “Mengapa nelayan itu menutup semua bagian
kepalanya, sehingga hanya terlihat wajahnya saja?”. Bapak nelayan itu memang
menutup hampir seluruh kepalanya dengan kaus oblong yang bagian lubang untuk
kepala dia gunakan untuk wajah, sedang bagian lengan kaus diikatkan menyimpul
dibelakang lehernya, seolah-olah seperti pakaian penyelam. “Saya rasa dia
bermaksud melindungi seluruh kepalanya
dari sengatan matahari, karena dia akan bekerja seharian penuh mencari ikan di
pantai ini”, jelas saya. Andre mengangguk, tanda paham.
Kemudian ganti
saya bertanya, tentang Slovakia. Andre kemudian menggambar sesuatu diatas pasir pantai
dengan jari telunjuknya sebagai alat tulis, menjadi seperti sebuah pulau. “Kurang
lebih ini adalah benua Eropa”, dia kemudian menerangkan maksud gambarnya.
Kemudian dia membuat semacam batas-batas berkelok-kelok diatas gambar benua
Eropa versinya itu. Dengan menggunakan telunjuknya menjadi pointer, “ini adalah
Polandia, ini adalah Austria, ini Ceko, ini Hungaria, ini Ukraina, tepat
ditengah-tengah inilah Slovakia”, dia memutar-mutar jari telunjuknya seperti
bor di pasir ketika menunjuk kira-kira letak negaranya sehingga jadi membentuk
lubang kecil. “Slovakia memiliki empat musim, jika musim dingin salju bisa
mencapai segini”, deskripsi Andre dengan telapak tangan kanannya diatas tanah
kira-kira 50 senti dari pasir pantai. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, dia
bilang berenang di kolam berenang sudah merupakan rekreasi yang berharga disana,
bahkan dengan ukuran kolam renang yang tidak besar. Maria menambahkan
keterangan, dia bilang disana sangat dingin dibanding disini, maka itulah dia
bilang saat ini dia merasa sedikit kegerahan. Terlintas di benak saya,
“kegerahan?, di cuaca mendung dengan angin kencang di pinggir pantai seperti
ini?, pantas saja begitu tiba di pantai Maria langsung melepas baju jaket
cardigannya, hanya memakai kaus “you can
see-nya””.
Mereka pun
menjelaskan secara singkat negara-negara Eropa lainnya, termasuk laut Mediterania
yang menjadi pemisah alam antara daratan Eropa dengan Afrika dan Jazirah Arab. “Jadi
Menurut kalian negara Eropa mana yang paling ramah kepada pendatang?”, tanya
saya. Sejenak Andre tampak berpikir, “hmm… Nederland, masyarakatnya baik dan
terbuka. Disana marijuana legal!”. Saya pikir Andre akan mengatakan Perancis
yang utama, karena sejarah peradaban negara Perancis sependek pengetahuan saya ada
andil dari para imigran Muslim yang banyak berasal dari Timur Tengah diantara
Maroko, negara itupun multi ras. Universitas Sorbone yang terkenal sebagai
“altar ilmu pengetahuan” pastilah mempengaruhi alam pikir rakyat Perancis
kebanyakan, menjadi pribadi-pribadi yang open-minded atau berpikiran terbuka.
Dan Paris!, pusat seni dunia, kota cahaya, terkenal dengan gaya hidup bohemian ciri
khas seniman, bebas dan egaliter. Tapi Nederland?, alias Belanda?, negara yang
pernah lama menjajah Indonesia?, Andre mengatakan Nederland, ….boleh jadi juga.
Saya teringat dari artikel dan literatur-literatur lainnya yang pernah saya
baca bahwa akibat dari kejadian 30 September 1965, tidak sedikit pelarian
politik (eksil) karena diburu oleh rezim Orde Baru mereka tidak dapat pulang ke
Tanah Air, akhirnya memilih menjadi warga negara Nederland, yang artinya negara
itu menerima pelarian politik Indonesia. Tapi bukankah di Nederland ada tokoh
sayap kanan seorang Geert Wilders yang anti imigran khususnya imigran Muslim?.
Meskipun saya pun tahu sedikit banyak, di Perancis pun ada seorang Brigitte
Bardot, pesohor legendaris yang sering membuat pernyataan sentimen berbau
menolak imigran Muslim di Perancis. Saya tidak tahu pasti kondisi Eropa
sejatinya, toh saya belum menginjakkan kaki kesana, baru berdialog dengan dua
orang penduduk Eropa yang berkunjung ke Indonesia. Bagaimanapun, lagi-lagi
informasi bahwa di Belanda marijuana legal cukup menarik.
“Oya Andre, masih mengenai Eropa, saya jadi teringat sesuatu. Setelah kejadian teror beberapa waktu lalu di Perancis dan Belgia, bagaimana sikap masyarakat Eropa pada umumnya terhadap Muslim?, apakah benar disana menjadi phobia terhadap Islam?”, tanya saya kali ini dengan pertanyaan yang sedikit serius. Saya lihat Andre menggelengkan kepalanya, kemudian bibirnya sedikit melengkung ke bawah seolah ditarik dan kedua bahunya mengangkat, “Sebagian besar bangsa Eropa sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi, siapa mereka sebenarnya pelaku terornya. Mungkin ada sebagian yang merasa phobia dan curiga terhadap Muslim, tapi tidak bisa dibilang semua. Is the Media!, television! (saat mengatakan ini Andre dan Maria hampir berbarengan). Media televisi lah yang menjadikan keadaan jadi semakin buruk dengan pembentukan opini-opini mereka. Saya pribadi lebih memilih membaca berita dari internet ketimbang televisi, karena dengan internet saya bebas memilih berita atau artikel yang ingin saya baca dan tahu”, demikian papar Andre. Saya menanggapi paparan Andre, “Ya, mereka para pelaku teror itu tidak berhak mengatasnamakan dan mewakili Muslim dan Islam keseluruhan, dengan pandangan radikalisme mereka. Saya sebagai Muslim tidak merasa diwakili mereka. Saya tidak suka paham sektarianisme dan radikalisme”.
“Menurut kamu, bagaimana dengan di Indonesia sendiri?”, Andre balas bertanya. Saya mengemukakan pendapat saya kepada Andre, bahwa kenyataannya memang Indonesia masih harus belajar tentang toleransi beragama. Tapi saya meyakini bahwa sebagian besar dari generasi saya dan setelah saya akan membuat Indonesia yang lebih baik dan damai, well … saya berharap.
Maria kemudian bertanya kepada saya, “apakah kamu sudah ke Mekah Bobby?”. Saya menangkap maksud pertanyaannya, Maria menanyakan apakah saya sudah naik haji. “What?!”, belum..belum.., saya belum siap”, jawab saya setengah tertawa. “Kenapa?”, tanyanya lagi. Saya jawab, “menurut saya ketika ke Mekah untuk berhaji tidak hanya menuntut kesiapan materi, saya pribadi lebih menitik beratkan kesiapan mental dan moral”.
“Pergi ke Mekah salah satu kewajiban Muslim bukan?”, tanya Andre. Terus terang saya sedikit terkejut dengan pertanyaan Andre, dia bisa mengetahui sejauh itu. Akhirnya saya terangkan tentang “Rukun Islam” atau kepada mereka “The Pillars of Islam” secara urut, yaitu dimulai dari kalimat syahadat, sholat lima waktu , puasa Ramadhan, zakat, dan berhaji jika mampu. Bahkan tiap satu dari lima rukun tersebut sedikit saya jabarkan keterangannya. Mereka mendengarkan dengan seksama.
Diskusi mengasyikan kami sedikit terpotong oleh “commercial break”, si bapak nelayan pamit pulang, “mangga sadayana abdi bade uih heula (mari semua saya pulang dulu)”. “Oh Muhun pak, mangga (iya pak, silahkan)”, balas saya.
Kamipun melanjutkan diskusi. Andre bertanya tentang sejarah Indonesia, saya jelaskan semampu saya tentang kedatangan bangsa-bangsa Barat menjajah Indonesia yang dahulu disebut East Indies, Samudera Pasai Kerajaan Islam pertama di Indonesia, penyebar Islam pertama di tanah Jawa oleh Sembilan Wali, sampai penjajahan Jepang yang hanya kurang lebih 3 tahun.
“Saya melihat saat dalam perjalanan ke Malingping, anak dibawah umur menikmati rokok. Apakah di Indonesia anak kecil diperbolehkan merokok?”, tanya Maria. Kemudian dilanjutkannya, “sebab di negara saya jika melihat anak dibawah umur merokok maka orang tua akan memukul kepalanya (Maria memperagakan dengan menggerakan telapak tangannya dengan gerakan seperti smash tenis meja). Apakah begitu mudah dan murah mendapatkan rokok di Indonesia?”. Merasa malu juga saya mendapat pertanyaan seperti itu, tapi tetap saya jawab, “tentu saja anak dibawah umur tidak diperbolehkan merokok, tapi memang aturan pemerintah atas larangan merokok kurang ketat. Indonesia ini kan tanahnya subur, semua tanaman industri dapat tumbuh, itulah mengapa dahulu bangsa barat dimulai dari Spanyol sampai terakhir Belanda menjajah Indonesia, untuk mengambil rempah-rempah, dan hasil tanaman perkebunan seperti gula, karet, kopi, teh, cengkeh dan tembakau. Tanaman cengkeh dan tembakau tumbuh subur di Indonesia, itulah mengapa di Indonesia banyak produksi rokok dan rokok mudah didapat”.
#Jawaban terakhir adalah jawaban berbau pembenaran atas pertanyaan mengapa anak dibawah umur bisa bebas merokok di Indonesia. :P
“Heiy guys, sepertinya kita harus kembali ke motor kita. Kita meninggalkannya terlalu lama”, ujar saya, sedikit khawatir. Sebenarnya sedari awal tiba di pantai saya tidak terpikir berjalan kaki menyusuri pantai, melainkan mencari jalan yang bisa dilalui motor sehingga bisa bermotor ria diatas pasir pantai. Tapi kedua sahabat baru saya ini memilih berjalan kaki. Apalagi saat menoleh kepada titik kami awal berjalan sampai ditempat kami menggelar permadani dan mengobrol ternyata cukup jauh, tidak terasa karena terlalu asyik mengobrol mungkin. “Ok, lets go back”, Andre menyetujuinya, kain permadani dilipatnya dan dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
Saat perjalanan kembali, Andre mengeluarkan sesuatu lain dari tasnya. Sebuah kamera DSLR, dia mengambil beberapa foto pemandangan pantai Bagedur dan lautan. Tiba-tiba dia berseru, “heiyy lihat!, ada ikan terdampar”, sambil menunjuk ke pantai. Saya melihat seekor ikan ukuran sedang menggelepar di pasir pantai karena terseret ombak. Andre menyerahkan kamera yang dipegangnya kepada Maria dan berlari menuju ikan itu. Dia menangkap ikan itu perlahan dengan kedua tangannya, kemudian berjalan sedikit ke laut hingga setinggi betisnya, ikan itu kemudian dilepaskan ke dalam air. Tidak itu saja, beberapa langkah kemudian dua kepiting yang sepertinya sekarat di pasir pantai pun dia tangkap dan dia lepaskan ke dalam air. Nice.
Tiba di tempat kami memarkir motor, Andre mengajak saya berfoto dengannya, Maria yang mengambil gambar. Kemudian saya menawarkan diri mengambil foto mereka berdua sebagai kenang-kenangan telah mengunjungi daerah “in the middle of nowhere”, pantai Bagedur, Malingping, Banten, Indonesia.
Andre dan Maria kemudian berpose, mereka duduk pada motornya masing. Kemudian telapak tangan mereka disatukan seperti akan berpegang tangan, tapi ternyata jari tangan mereka berdua membentuk hati.
“Oya Andre, masih mengenai Eropa, saya jadi teringat sesuatu. Setelah kejadian teror beberapa waktu lalu di Perancis dan Belgia, bagaimana sikap masyarakat Eropa pada umumnya terhadap Muslim?, apakah benar disana menjadi phobia terhadap Islam?”, tanya saya kali ini dengan pertanyaan yang sedikit serius. Saya lihat Andre menggelengkan kepalanya, kemudian bibirnya sedikit melengkung ke bawah seolah ditarik dan kedua bahunya mengangkat, “Sebagian besar bangsa Eropa sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi, siapa mereka sebenarnya pelaku terornya. Mungkin ada sebagian yang merasa phobia dan curiga terhadap Muslim, tapi tidak bisa dibilang semua. Is the Media!, television! (saat mengatakan ini Andre dan Maria hampir berbarengan). Media televisi lah yang menjadikan keadaan jadi semakin buruk dengan pembentukan opini-opini mereka. Saya pribadi lebih memilih membaca berita dari internet ketimbang televisi, karena dengan internet saya bebas memilih berita atau artikel yang ingin saya baca dan tahu”, demikian papar Andre. Saya menanggapi paparan Andre, “Ya, mereka para pelaku teror itu tidak berhak mengatasnamakan dan mewakili Muslim dan Islam keseluruhan, dengan pandangan radikalisme mereka. Saya sebagai Muslim tidak merasa diwakili mereka. Saya tidak suka paham sektarianisme dan radikalisme”.
“Menurut kamu, bagaimana dengan di Indonesia sendiri?”, Andre balas bertanya. Saya mengemukakan pendapat saya kepada Andre, bahwa kenyataannya memang Indonesia masih harus belajar tentang toleransi beragama. Tapi saya meyakini bahwa sebagian besar dari generasi saya dan setelah saya akan membuat Indonesia yang lebih baik dan damai, well … saya berharap.
Maria kemudian bertanya kepada saya, “apakah kamu sudah ke Mekah Bobby?”. Saya menangkap maksud pertanyaannya, Maria menanyakan apakah saya sudah naik haji. “What?!”, belum..belum.., saya belum siap”, jawab saya setengah tertawa. “Kenapa?”, tanyanya lagi. Saya jawab, “menurut saya ketika ke Mekah untuk berhaji tidak hanya menuntut kesiapan materi, saya pribadi lebih menitik beratkan kesiapan mental dan moral”.
“Pergi ke Mekah salah satu kewajiban Muslim bukan?”, tanya Andre. Terus terang saya sedikit terkejut dengan pertanyaan Andre, dia bisa mengetahui sejauh itu. Akhirnya saya terangkan tentang “Rukun Islam” atau kepada mereka “The Pillars of Islam” secara urut, yaitu dimulai dari kalimat syahadat, sholat lima waktu , puasa Ramadhan, zakat, dan berhaji jika mampu. Bahkan tiap satu dari lima rukun tersebut sedikit saya jabarkan keterangannya. Mereka mendengarkan dengan seksama.
Diskusi mengasyikan kami sedikit terpotong oleh “commercial break”, si bapak nelayan pamit pulang, “mangga sadayana abdi bade uih heula (mari semua saya pulang dulu)”. “Oh Muhun pak, mangga (iya pak, silahkan)”, balas saya.
Kamipun melanjutkan diskusi. Andre bertanya tentang sejarah Indonesia, saya jelaskan semampu saya tentang kedatangan bangsa-bangsa Barat menjajah Indonesia yang dahulu disebut East Indies, Samudera Pasai Kerajaan Islam pertama di Indonesia, penyebar Islam pertama di tanah Jawa oleh Sembilan Wali, sampai penjajahan Jepang yang hanya kurang lebih 3 tahun.
“Saya melihat saat dalam perjalanan ke Malingping, anak dibawah umur menikmati rokok. Apakah di Indonesia anak kecil diperbolehkan merokok?”, tanya Maria. Kemudian dilanjutkannya, “sebab di negara saya jika melihat anak dibawah umur merokok maka orang tua akan memukul kepalanya (Maria memperagakan dengan menggerakan telapak tangannya dengan gerakan seperti smash tenis meja). Apakah begitu mudah dan murah mendapatkan rokok di Indonesia?”. Merasa malu juga saya mendapat pertanyaan seperti itu, tapi tetap saya jawab, “tentu saja anak dibawah umur tidak diperbolehkan merokok, tapi memang aturan pemerintah atas larangan merokok kurang ketat. Indonesia ini kan tanahnya subur, semua tanaman industri dapat tumbuh, itulah mengapa dahulu bangsa barat dimulai dari Spanyol sampai terakhir Belanda menjajah Indonesia, untuk mengambil rempah-rempah, dan hasil tanaman perkebunan seperti gula, karet, kopi, teh, cengkeh dan tembakau. Tanaman cengkeh dan tembakau tumbuh subur di Indonesia, itulah mengapa di Indonesia banyak produksi rokok dan rokok mudah didapat”.
#Jawaban terakhir adalah jawaban berbau pembenaran atas pertanyaan mengapa anak dibawah umur bisa bebas merokok di Indonesia. :P
“Heiy guys, sepertinya kita harus kembali ke motor kita. Kita meninggalkannya terlalu lama”, ujar saya, sedikit khawatir. Sebenarnya sedari awal tiba di pantai saya tidak terpikir berjalan kaki menyusuri pantai, melainkan mencari jalan yang bisa dilalui motor sehingga bisa bermotor ria diatas pasir pantai. Tapi kedua sahabat baru saya ini memilih berjalan kaki. Apalagi saat menoleh kepada titik kami awal berjalan sampai ditempat kami menggelar permadani dan mengobrol ternyata cukup jauh, tidak terasa karena terlalu asyik mengobrol mungkin. “Ok, lets go back”, Andre menyetujuinya, kain permadani dilipatnya dan dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
Saat perjalanan kembali, Andre mengeluarkan sesuatu lain dari tasnya. Sebuah kamera DSLR, dia mengambil beberapa foto pemandangan pantai Bagedur dan lautan. Tiba-tiba dia berseru, “heiyy lihat!, ada ikan terdampar”, sambil menunjuk ke pantai. Saya melihat seekor ikan ukuran sedang menggelepar di pasir pantai karena terseret ombak. Andre menyerahkan kamera yang dipegangnya kepada Maria dan berlari menuju ikan itu. Dia menangkap ikan itu perlahan dengan kedua tangannya, kemudian berjalan sedikit ke laut hingga setinggi betisnya, ikan itu kemudian dilepaskan ke dalam air. Tidak itu saja, beberapa langkah kemudian dua kepiting yang sepertinya sekarat di pasir pantai pun dia tangkap dan dia lepaskan ke dalam air. Nice.
Tiba di tempat kami memarkir motor, Andre mengajak saya berfoto dengannya, Maria yang mengambil gambar. Kemudian saya menawarkan diri mengambil foto mereka berdua sebagai kenang-kenangan telah mengunjungi daerah “in the middle of nowhere”, pantai Bagedur, Malingping, Banten, Indonesia.
Andre dan Maria kemudian berpose, mereka duduk pada motornya masing. Kemudian telapak tangan mereka disatukan seperti akan berpegang tangan, tapi ternyata jari tangan mereka berdua membentuk hati.
saya & Andre
“Marushka Couple”
Saat perjalanan
pulang, formasi berkendara sama persis pada saat berangkat. Kemudian kembali
Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan saya, dan dia berkata, “heiy
Bobby!, apakah kamu minum kopi?”. “Ya, tentu”, jawab saya. “Ayo kita ke kafe, “chala-chala””,
katanya sambil lengan kirinya mencontohkan orang yang sedang meneguk minum dari
gelas. “Chala-chala?, apa itu”, tanyaku dalam hati. Saya menerka, itu pasti
istilah di India yang berarti minum kopi bersama sambil beramah-tamah. Mereka
kan baru saja menghabiskan 6 bulan berkeliling India. Berbeda dengan saat
berangkat tadi siang, pada perjalanan pulang banyak orang-orang yang menyapa
dan melambaikan tangan kepada Andre dan Maria, “Hello Mister!!”, sapa
orang-orang itu. Andre dan Maria membalas dengan lambaian tangan orang-orang
yang menyapa mereka, “Hello!, hello!”. Mungkin dikarenakan hari sudah
sore maka orang-orang lebih banyak keluar rumah sekedar berleha-leha. Sambil
tertawa saya berkata kepada Andre, “they don’t see people like you everyday”.
Kopi Cap Kupu-Kupu (#support your local coffe!)
Saya menghentikan motor pada sebuah warung kopi di pinggir jalan raya. Tentu saja tidak ada kafe di Malingping, hanya warung kopi biasa, bangkunya berupa dipan bambu. Namun demikian saya melihat wajah Andre dan Maria sumringah, terlihat senang. Warung itu hanya menyediakan kopi instan pabrikan dengan bungkus renceng yang digantungkan menurut nama merek pasarannya. Diantara bungkus kopi itu saya melihat bungkus kopi yang khas ada di Banten, khususnya Banten Selatan. Kemasannya terkesan vintage, tidak modern, tapi kopi ini menjadi favorit kebanyakan masyarakat pecinta kopi di wilayah Banten Selatan karena rasa dan aromanya yang beda dari kopi merek “terkenal”. Meskipun kemasan sachet juga tapi tidak bergula, jadi jika ingin ditambah gula atau susu atau apapun, tergantung selera masing-masing. Nama kopinya “Kupu-kupu”. “Kalian harus mencoba kopi khas Banten ini”, saran saya kepada mereka. Mereka setuju, Maria minta diseduh dengan gula, sedang Andre tanpa gula. Tapi saya memesan teh saja, karena merasa dahaga.
Kopi disuguhkan, mereka meminumnya perlahan, “is good!”, kata mereka. Tak lama kemudian Andre bertanya, “Bobby, mengapa dalam bahasa Indonesia ada kalimat yang diulang, seperti HATI-HATI, KUPU-KUPU?”. Mendengar pertanyaan tak diduga itu, saya jadi tertawa. Selama ini saya tidak memikirkannya. Mestinya memang ada penjelasannya pada pelajaran Bahasa Indonesia saat jaman sekolah dulu tapi mungkin saya absen, atau ketiduran pada saat guru menerangkan. Dengan menyesal untuk pertanyaan Andre yang satu ini saya jawab, “I’m sorry, I don’t know”. :D.
Tak terasa hari sudah menjelang maghrib. Maria mengajak, “kita harus kembali”. Kemudian Andre membayar semua minuman, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Setiba di pusat kota Malingping, mereka berhenti pada sebuah toko serba ada, sepertinya hendak membeli beberapa keperluan sebagai akomodasi melanjutkan perjalanan panjang mereka keesokan hari. Menurut mereka, setelah mengunjungi Sawarna mereka akan melanjutkan perjalanan jelajah Pulau Jawa hingga tujuan akhir mereka adalah Pulau Bali. Saya memparkirkan motor di pelataran rumah makan keluarga istri saya yang letaknya di seberang persis toko serba ada itu, setelah itu saya menghampiri mereka. Andre mengulurkan tangan bersalaman dengan saya, “Bobby terimakasih atas hari ini, it was great times”. Kemudian dia menyerahkan sebuah kartu nama berlogo “m”, bertuliskan nama mereka berdua: “Maria Slezakova (photographer, post production, graphic designer)” dan” Andrej Matias (copywriter, photographer, technical support), lengkap dengan alamat surel dan Facebook page. Mereka menamai perusahaan yang mereka kelola itu MARUSHKA, dengan theme line: “Travel & Love & Photography”.
Kemudian dia melanjutkan berkata, “jika kamu nanti ingin bertanya perihal Eropa silahkan hubungi kami di email atau facebook. Sebaliknya jika saya ingin bertanya tentang Indonesia saya akan hubungi kamu”. Saya jawab, “tentu saja, dengan senang hati”. Andre menyambung, “atau siapa tahu suatu saat kamu berkunjung ke Eropa, jangan ragu hubungi saya, mungkin saya bisa bantu kamu selama di Eropa”. Kemudian dia mengeluarkan buku notesnya kembali, “alamat email kamu dan nama asli kamu?”. “Maksud kamu Andre?, Bobby is my real name”, jawab saya. “Oh, sorry, saya pikir seperti pengalaman di India juga di Thailand, mereka kebanyakan menggunakan nickname mereka dengan alasan supaya mudah diingat”, terang Andre. Andre kemudian menulis nama, alamat surel dan facebook saya pada buku notesnya. Mengajak bersalaman lagi, “Thank you Bobby”. Kemudian ganti Maria bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan dengan saya. Kepada Maria kembali saya berpesan, “HATI-HATI Maria”. Dia tersenyum. Saya bersiap menyeberang, saat menoleh, mereka masih berdiri seperti terpaku seolah melepas kepergian saya, kemudian Maria melambaikan tangannya. Padahal di awal saya menawarkan diri mengantar mereka atau istilah kerennya menjadi guide ke tempat-tempat menarik di Malingping mereka bilang, “tidak mengapa biar kami saja yang jalan, tunjukan saja arah jalannya, kami khawatir mengganggu waktu dan schedule mu Bobby” (terus terang saya heran, sebagai orang barat ternyata mereka memiliki etika ketimuran, “ga enakan”, khawatir mengganggu waktu orang). “No problem, its ok. hari ini saya sedang off, lagi pula saya senang memiliki teman baru, apalagi teman dari bangsa lain”, balas saya.
-SELESAI-






