Sabtu itu pagi
menjelang siang sekitar pukul setengah sebelas di sebuah kota kecil nun jauh di
Banten selatan, berbeda dari hari-hari biasanya. Saat mengantar istri ke rumah
makan milik keluarganya, saya melihat sepasang “bule” bercakap-cakap dengan
seseorang di seberang jalan. “Heiy…, tumben ada bule di Malingping”, dalam hati
saya. Kemudian mereka berjalan menuju arah saya. Saat itu juga saya berharap
mereka menghampiri, sudah lama saya ingin bercakap-cakap dengan bule sekedar
melatih kemampuan bahasa Inggris saya. Tak disangka, ternyata memang rumah
makan keluarga saya yang mereka tuju.
Saya menyapa
mereka, “hello, can I help you?”. Awalnya mereka seperti mengacuhkan saya,
lebih seperti waspada. Kemudian yang laki-laki menoleh kepada saya kemudian
berkata, “oh, you can speak English”. ku jawab, “yes, a little. “We like to
have a breakfast, something vegetable, no meat, like vegetarian”, sambung yang
perempuan. “Ow, please come in”, balas saya. Karena rumah makan keluarga istri
saya adalah rumah makan masakan Padang, tentu saja sebagian besar menunya
adalah daging. Menu non daging yang kebetulan tersedia siang itu adalah tahu
dan terong balado, saya pikir masa iya hanya makan tahu dan terong. Kemudian saya
melihat kembali pada etalase makanan tersedia pula telur goreng dan ikan asam
padeh, “would you like fish?”, tanyaku. “No”, jawab yang perempuan. “What about
egg?, fried egg”, tanya saya lagi. “Egg is ok”, jawab yang perempuan. Kemudian dia
menunjuk pada piring saji berisi tahu goreng, lanjut bertanya, “is that tofu or
tempeh?”, “tofu”, jawabku. “great!, I want that”, katanya.
Saya
persilahkan mereka memilih tempat duduk, setelah mereka duduk saya pun duduk
semeja dengan mereka dan mengajak bercakap-cakap sebentar.
Selanjutnya dalam cerita saya ini dialog saya dengan mereka akan saya tulis dalam terjemahan bahasa Indonesia, well…sedikit campur-campur bahasa Inggris lah ya, biar sama-sama belajar kita J.
Selanjutnya dalam cerita saya ini dialog saya dengan mereka akan saya tulis dalam terjemahan bahasa Indonesia, well…sedikit campur-campur bahasa Inggris lah ya, biar sama-sama belajar kita J.
“Kalian dari
negara mana, dan hendak kemana?”, tanyaku. “Kami dari Slovakia”, jawab yang
laki-laki. “Slovakia?”, tanyaku mengulang. “Ya, Eropa bagian tengah”, ditengah-tengah
antara Polandia, Austria, Ceko, Hunggaria dan Ukraina. Ke sini berkendara
menggunakan skuter”. “Skuter?!, tanyaku setengah tidak percaya. “Ya, skuter.
Kami sewa di Jakarta untuk kami gunakan selama 1 bulan. Kami hendak ke Sawarna.
Apakah masih jauh?, berapa lama perjalanan lagi”, katanya menyambung. “Sudah
tidak terlalu jauh, kira-kira 2 jam lagi perjalanan berkendara”, jawabku. “Oya,
nama saya Bobby, nama kalian siapa?”, Tanya saya sambil mengulurkan tangan
bersalaman. Yang laki-laki bernama Andre, yang perempuan bernama Maria.
Kemudian Andre bercerita bahwa kemarin malam mereka bermalam di Anyer, disebuah
hotel yang menurut gambaran mereka lebih seperti bedeng tapi mereka harus membayar
seharga apabila di negara mereka lebih mahal dari hotel berbintang tiga. Tidak
terlalu kaget sebenarnya mendengar cerita mereka soal Anyer, saya sampaikan kepada
Andre, jangankan kepada kalian turis asing, kepada turis lokal pun ada beberapa
kejadian harus membayar diluar logika jika berwisata kesana, meski tidak semua
pengelola wisata di Anyer berkelakuan seperti itu tentunya.
Maria pun
turut buka suara bertanya, “apakah maksud jika bersalaman jari telunjuk lawan
bersalaman digerak-gerakkan pada telapak tangan saya?, sambil ia peragakan
salam telunjuk digoyang. Apakah itu sesuatu yang baik atau tidak?”. “That’s a
flirt!, itu menggoda!, dan itu tidak baik”, terangku. “Saya sudah menduganya”,
katanya. “Bagaimana cara menolaknya?”, katanya lagi. “Tarik saja tanganmu”,
jawab saya.
Pikir saya,
“pantas saja pertama disapa seperti waspada begitu, ternyata mereka baru dapat
pengalaman kurang baik”.
Ketika
diantarkan segelas besar air teh tawar hangat, Andre bertanya, apakah ini teh?,
saya mengiyakan. Ketika diantar wadah almunium berisi air bening, Andre
bertanya kembali, ini air apa?, saya jawab sambil tersenyum, “for washing your
hand” alias kobokan. Setengah tertawa Andre menjawab, “Of course”.
Andre
kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil atau notes dan pena, lanjut bertanya,
“apakah arti HATI-HATI?”. Saya pikir saat dalam perjalanan seseorang mengancam
mereka, saya pun bertanya, “apakah kalian diancam?”. “Tidak”, kata Andre, hanya
saja dalam perjalanan dia sering melihat rambu bertuliskan HATI-HATI. Saya tertawa,
“ooo…saya pikir kalian diancam. HATI-HATI means BE CAREFULL in English”, saya
menjelaskan. “Saat kapan penggunaan kata HATI-HATI digunakan?”, ganti Maria
bertanya. “Mmm…misalnya saja kawan kamu akan bepergian ke suatu tempat, atau
siapapun orang yang kamu kenal akan melakukan sesuatu yang sekiranya sedikit
berbahaya, saat itulah kamu mengatakan HATI-HATI kepadanya”, demikian saya
mencotohkan. “Ahh… I see”, kata Maria, sepertinya dia menangkap maksudnya.
Kemudian
Andre lanjut bertanya, apakah benar jika menyapa seseorang laki-laki dengan
panggilan “Mas”?. Meskipun sebenarnya itu bahasa Jawa tapi saya pikir sudah
“mengindonesia”, saya mengiyakan. Kemudian dia bertanya kembali, “jika kepada
perempuan apa?”. Saya jawab, “Mba”. Dia mengulangi perkataan saya sambil
menulis, “BA”. “Tidak, tidak, kurang M”, koreksi saya. Andre pun menambahkan
huruf M. “Bagaimana kepada orang yang lebih tua?”, tanyanya lagi. Aku jawab,
“tentu saja beda”. “PAK”, untuk laki-laki dan “IBU”, untuk perempuan. Andre
menulis kalimat bahasa Indonesia yang dia tanyakan itu pada notesnya.
Semua
hidangan sudah tersedia, nasi, tahu, telur goreng dan terong balado, serta
masing-masing segelas teh tawar. “Oya, silahkan kalian nikmati dulu makanannya”,
kata saya. Saya pun meninggalkan mereka ke meja dibelakang mereka.
nyam-nyam...delicioso!! :)
Sekitar lima
belas menit kemudian saya hampiri lagi mereka, tampak seluruh makanan dan
minuman ludes, kecuali tentu saja air kobokan. Saya membuka sapaan, “jadi
kemana rencana kalian setelah ini?”. Tujuan utama mereka sebenarnya menuju
Sawarna yang terletak di Bayah, namun mereka bertanya apa yang menarik di
Malingping, saya jawab bahwa kita berada di pesisir selatan Banten, dan disini
terdapat banyak pantai alami. Mereka pun sangat tertarik melihatnya, “Kami
tidak masalah menambah hari kunjungan kami disini”, kata Andre. Kemudian dia
bertanya pantai apa yang menarik disini. “Saya akan mengajak kalian ke pantai
Bagedur dan pantai Pasir Putih”, jawab saya. Andre bertanya untuk menegaskan
sambil membuka notesnya, rupanya dia bermaksud menulis nama pantai yang barusan
saya sebut pada notesnya. “BAGEDUR”, kataku. “What?”, tanyanya. Aku yakin nama
pantai itu janggal ditelinganya.Aku membantu mengejakan huruf yang harus
ditulisnya; “bi-ei-ji-i-di-yu-ar, BA-GE-DUR!”. Dia coba mengucapkannya, “bageidjyur”.
“That’s right”, kataku membenarkan. Satu lagi, pantai Pasir Putih. “What?!”,
tanyanya lagi. Saya pikir dari pada repot saya sampaikan saja bahasa Inggrisnya;
“is White Sandy Beach”, simple karena memang pantai itu berpasir putih. Saya
menawarkan diri menemani mereka ke pantai-pantai yang tadi disebut, mereka
tampak senang.
Mereka
bercerita bahwa sebelum ke Indonesia mereka sudah terlebih dahulu berkelana
selama 6 bulan di India, sampai dataran tinggi Himalaya. Andre mengeluarkan
telepon genggamnya dan menunjukkan beberapa foto-foto menarik dokumentasi petualangan
mereka di India, Nepal sampai dengan pegunungan Himalaya. “Ini salah satu foto
favorit saya”, sela Maria menunjukan sebuah foto. Foto sekumpulan anak
kecil perempuan seusia kira-kira 7
tahunan, seperti dalam sebuah kelas, mereka semua mengenakan seragam, atasannya
mengenakan topi kecuali ada seorang anak perempuan ditengah-tengah, seorang
diri mengenakan hijab. Menurut Maria, itu adalah sekolah Budha di sebuah desa di
Nepal. Kemudian Andre membuka sebuah situs internet yang mereka kelola ; www.marushka.sk, yang isi materi situsnya
diantaranya foto-foto dan cerita petualangan mereka. Menarik. Saat bertualang
di India sampai pegunungan Himalaya pun mereka mengendarai motor.
Halaman web yang mereka kelola. Good site guys
Saya kemudian
berkata kepada mereka, “saya pikir kalian turis yang menggunakan mobil
pariwisata”. Ternyata mereka bukan tipe “turis” seperti itu. Setelah mereka
membayar makanan, mereka pamit kembali ke hotel untuk mengambil skuter mereka,
sebagaimana yang Andre sampaikan, naik skuter.
Tidak lama
kemudian mereka kembali ke rumah makan, ternyata dengan dua motor masing-masing
berkendara sendiri, tidak satu motor, mereka masing-masing mengenakan helm. Dugaan
saya mereka berboncengan, meleset. Namun demikian, saat Andre sampaikan bahwa mereka
menaiki skuter, saya membayangkan mereka menaiki motor Vespa klasik yang tidak
jarang saya melihat dipinggir jalan raya pengendaranya mengutak-ngutik vespanya
karena mogok, ternyata yang mereka kendarai adalah motor matic, dugaan meleset
lagi.
Tapi tetap saja, bagi saya mereka cukup gokil alias gila, dalam makna yang keren tentunya. Bagaimana tidak, saya berpikir panjang jika harus melakukan perjalanan jarak super jauh mengendarai motor, hanya berdua dengan pasangan, ke kampung orang pula. Nah mereka ini, sudah melakukan perjalanan jarak super jauh, berdua dengan pasangan, ke negara orang pula!.
Saat mereka sudah siap dengan motornya masing-masing saya baru terpikir pasti akan seharian menemani mereka, saya mesti makan siang dulu. Giliran saya minta mereka tunggu sebentar saya mengisi perut dulu, Andre menjawab, “its ok, take your time Bobby”. Ternyata mereka pun hendak mengisi bahan bakar motor mereka terlebih dahulu, “Dimana saya bisa menemukan Pertamina disini?”, tanya Andre. Saya paham, tentulah maksudnya adalah stasiun pengisian bahan bakar atau pom bensin, “kamu ikuti saja jalan utama ini, kira-kira 2 km dari sini, pom bensinnya sebelah kanan jalan. Kamu akan lihat papan besar bertuliskan Pertamina”, terang saya.
Tapi tetap saja, bagi saya mereka cukup gokil alias gila, dalam makna yang keren tentunya. Bagaimana tidak, saya berpikir panjang jika harus melakukan perjalanan jarak super jauh mengendarai motor, hanya berdua dengan pasangan, ke kampung orang pula. Nah mereka ini, sudah melakukan perjalanan jarak super jauh, berdua dengan pasangan, ke negara orang pula!.
Saat mereka sudah siap dengan motornya masing-masing saya baru terpikir pasti akan seharian menemani mereka, saya mesti makan siang dulu. Giliran saya minta mereka tunggu sebentar saya mengisi perut dulu, Andre menjawab, “its ok, take your time Bobby”. Ternyata mereka pun hendak mengisi bahan bakar motor mereka terlebih dahulu, “Dimana saya bisa menemukan Pertamina disini?”, tanya Andre. Saya paham, tentulah maksudnya adalah stasiun pengisian bahan bakar atau pom bensin, “kamu ikuti saja jalan utama ini, kira-kira 2 km dari sini, pom bensinnya sebelah kanan jalan. Kamu akan lihat papan besar bertuliskan Pertamina”, terang saya.
Tepat saya
menyelesaikan makan siang saya dan telah bersiap, mereka pun tiba. “Are you
ready to go Bobby?”, kata Andre sambil tersenyum.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar