Selasa, 27 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 1



Sabtu itu pagi menjelang siang sekitar pukul setengah sebelas di sebuah kota kecil nun jauh di Banten selatan, berbeda dari hari-hari biasanya. Saat mengantar istri ke rumah makan milik keluarganya, saya melihat sepasang “bule” bercakap-cakap dengan seseorang di seberang jalan. “Heiy…, tumben ada bule di Malingping”, dalam hati saya. Kemudian mereka berjalan menuju arah saya. Saat itu juga saya berharap mereka menghampiri, sudah lama saya ingin bercakap-cakap dengan bule sekedar melatih kemampuan bahasa Inggris saya. Tak disangka, ternyata memang rumah makan keluarga saya yang mereka tuju.
Saya menyapa mereka, “hello, can I help you?”. Awalnya mereka seperti mengacuhkan saya, lebih seperti waspada. Kemudian yang laki-laki menoleh kepada saya kemudian berkata, “oh, you can speak English”. ku jawab, “yes, a little. “We like to have a breakfast, something vegetable, no meat, like vegetarian”, sambung yang perempuan. “Ow, please come in”, balas saya. Karena rumah makan keluarga istri saya adalah rumah makan masakan Padang, tentu saja sebagian besar menunya adalah daging. Menu non daging yang kebetulan tersedia siang itu adalah tahu dan terong balado, saya pikir masa iya hanya makan tahu dan terong. Kemudian saya melihat kembali pada etalase makanan tersedia pula telur goreng dan ikan asam padeh, “would you like fish?”, tanyaku. “No”, jawab yang perempuan. “What about egg?, fried egg”, tanya saya lagi. “Egg is ok”, jawab yang perempuan. Kemudian dia menunjuk pada piring saji berisi tahu goreng, lanjut bertanya, “is that tofu or tempeh?”, “tofu”, jawabku. “great!, I want that”, katanya.
Saya persilahkan mereka memilih tempat duduk, setelah mereka duduk saya pun duduk semeja dengan mereka dan mengajak bercakap-cakap sebentar.
Selanjutnya dalam cerita saya ini dialog saya dengan mereka akan saya tulis dalam terjemahan bahasa Indonesia, well…sedikit campur-campur bahasa Inggris lah ya, biar sama-sama belajar kita J.
“Kalian dari negara mana, dan hendak kemana?”, tanyaku. “Kami dari Slovakia”, jawab yang laki-laki. “Slovakia?”, tanyaku mengulang. “Ya, Eropa bagian tengah”, ditengah-tengah antara Polandia, Austria, Ceko, Hunggaria dan Ukraina. Ke sini berkendara menggunakan skuter”. “Skuter?!, tanyaku setengah tidak percaya. “Ya, skuter. Kami sewa di Jakarta untuk kami gunakan selama 1 bulan. Kami hendak ke Sawarna. Apakah masih jauh?, berapa lama perjalanan lagi”, katanya menyambung. “Sudah tidak terlalu jauh, kira-kira 2 jam lagi perjalanan berkendara”, jawabku. “Oya, nama saya Bobby, nama kalian siapa?”, Tanya saya sambil mengulurkan tangan bersalaman. Yang laki-laki bernama Andre, yang perempuan bernama Maria. Kemudian Andre bercerita bahwa kemarin malam mereka bermalam di Anyer, disebuah hotel yang menurut gambaran mereka lebih seperti bedeng tapi mereka harus membayar seharga apabila di negara mereka lebih mahal dari hotel berbintang tiga. Tidak terlalu kaget sebenarnya mendengar cerita mereka soal Anyer, saya sampaikan kepada Andre, jangankan kepada kalian turis asing, kepada turis lokal pun ada beberapa kejadian harus membayar diluar logika jika berwisata kesana, meski tidak semua pengelola wisata di Anyer berkelakuan seperti itu tentunya.
Maria pun turut buka suara bertanya, “apakah maksud jika bersalaman jari telunjuk lawan bersalaman digerak-gerakkan pada telapak tangan saya?, sambil ia peragakan salam telunjuk digoyang. Apakah itu sesuatu yang baik atau tidak?”. “That’s a flirt!, itu menggoda!, dan itu tidak baik”, terangku. “Saya sudah menduganya”, katanya. “Bagaimana cara menolaknya?”, katanya lagi. “Tarik saja tanganmu”, jawab saya.
Pikir saya, “pantas saja pertama disapa seperti waspada begitu, ternyata mereka baru dapat pengalaman kurang baik”.
Ketika diantarkan segelas besar air teh tawar hangat, Andre bertanya, apakah ini teh?, saya mengiyakan. Ketika diantar wadah almunium berisi air bening, Andre bertanya kembali, ini air apa?, saya jawab sambil tersenyum, “for washing your hand” alias kobokan. Setengah tertawa Andre menjawab, “Of course”. 
Andre kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil atau notes dan pena, lanjut bertanya, “apakah arti HATI-HATI?”. Saya pikir saat dalam perjalanan seseorang mengancam mereka, saya pun bertanya, “apakah kalian diancam?”. “Tidak”, kata Andre, hanya saja dalam perjalanan dia sering melihat rambu bertuliskan HATI-HATI. Saya tertawa, “ooo…saya pikir kalian diancam. HATI-HATI means BE CAREFULL in English”, saya menjelaskan. “Saat kapan penggunaan kata HATI-HATI digunakan?”, ganti Maria bertanya. “Mmm…misalnya saja kawan kamu akan bepergian ke suatu tempat, atau siapapun orang yang kamu kenal akan melakukan sesuatu yang sekiranya sedikit berbahaya, saat itulah kamu mengatakan HATI-HATI kepadanya”, demikian saya mencotohkan. “Ahh… I see”, kata Maria, sepertinya dia menangkap maksudnya.
Kemudian Andre lanjut bertanya, apakah benar jika menyapa seseorang laki-laki dengan panggilan “Mas”?. Meskipun sebenarnya itu bahasa Jawa tapi saya pikir sudah “mengindonesia”, saya mengiyakan. Kemudian dia bertanya kembali, “jika kepada perempuan apa?”. Saya jawab, “Mba”. Dia mengulangi perkataan saya sambil menulis, “BA”. “Tidak, tidak, kurang M”, koreksi saya. Andre pun menambahkan huruf M. “Bagaimana kepada orang yang lebih tua?”, tanyanya lagi. Aku jawab, “tentu saja beda”. “PAK”, untuk laki-laki dan “IBU”, untuk perempuan. Andre menulis kalimat bahasa Indonesia yang dia tanyakan itu pada notesnya.
Semua hidangan sudah tersedia, nasi, tahu, telur goreng dan terong balado, serta masing-masing segelas teh tawar. “Oya, silahkan kalian nikmati dulu makanannya”, kata saya. Saya pun meninggalkan mereka ke meja dibelakang mereka.

                                                             nyam-nyam...delicioso!! :)

Sekitar lima belas menit kemudian saya hampiri lagi mereka, tampak seluruh makanan dan minuman ludes, kecuali tentu saja air kobokan. Saya membuka sapaan, “jadi kemana rencana kalian setelah ini?”. Tujuan utama mereka sebenarnya menuju Sawarna yang terletak di Bayah, namun mereka bertanya apa yang menarik di Malingping, saya jawab bahwa kita berada di pesisir selatan Banten, dan disini terdapat banyak pantai alami. Mereka pun sangat tertarik melihatnya, “Kami tidak masalah menambah hari kunjungan kami disini”, kata Andre. Kemudian dia bertanya pantai apa yang menarik disini. “Saya akan mengajak kalian ke pantai Bagedur dan pantai Pasir Putih”, jawab saya. Andre bertanya untuk menegaskan sambil membuka notesnya, rupanya dia bermaksud menulis nama pantai yang barusan saya sebut pada notesnya. “BAGEDUR”, kataku. “What?”, tanyanya. Aku yakin nama pantai itu janggal ditelinganya.Aku membantu mengejakan huruf yang harus ditulisnya; “bi-ei-ji-i-di-yu-ar, BA-GE-DUR!”. Dia coba mengucapkannya, “bageidjyur”. “That’s right”, kataku membenarkan. Satu lagi, pantai Pasir Putih. “What?!”, tanyanya lagi. Saya pikir dari pada repot saya sampaikan saja bahasa Inggrisnya; “is White Sandy Beach”, simple karena memang pantai itu berpasir putih. Saya menawarkan diri menemani mereka ke pantai-pantai yang tadi disebut, mereka tampak senang.  
Mereka bercerita bahwa sebelum ke Indonesia mereka sudah terlebih dahulu berkelana selama 6 bulan di India, sampai dataran tinggi Himalaya. Andre mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkan beberapa foto-foto menarik dokumentasi petualangan mereka di India, Nepal sampai dengan pegunungan Himalaya. “Ini salah satu foto favorit saya”, sela Maria menunjukan sebuah foto. Foto sekumpulan anak kecil  perempuan seusia kira-kira 7 tahunan, seperti dalam sebuah kelas, mereka semua mengenakan seragam, atasannya mengenakan topi kecuali ada seorang anak perempuan ditengah-tengah, seorang diri mengenakan hijab. Menurut Maria, itu adalah sekolah Budha di sebuah desa di Nepal. Kemudian Andre membuka sebuah situs internet yang mereka kelola ; www.marushka.sk, yang isi materi situsnya diantaranya foto-foto dan cerita petualangan mereka. Menarik. Saat bertualang di India sampai pegunungan Himalaya pun mereka mengendarai motor.

                                             Halaman web yang mereka kelola. Good site guys

Saya kemudian berkata kepada mereka, “saya pikir kalian turis yang menggunakan mobil pariwisata”. Ternyata mereka bukan tipe “turis” seperti itu. Setelah mereka membayar makanan, mereka pamit kembali ke hotel untuk mengambil skuter mereka, sebagaimana yang Andre sampaikan, naik skuter.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke rumah makan, ternyata dengan dua motor masing-masing berkendara sendiri, tidak satu motor, mereka masing-masing mengenakan helm. Dugaan saya mereka berboncengan, meleset. Namun demikian, saat Andre sampaikan bahwa mereka menaiki skuter, saya membayangkan mereka menaiki motor Vespa klasik yang tidak jarang saya melihat dipinggir jalan raya pengendaranya mengutak-ngutik vespanya karena mogok, ternyata yang mereka kendarai adalah motor matic, dugaan meleset lagi.
Tapi tetap saja, bagi saya mereka cukup gokil alias gila, dalam makna yang keren tentunya. Bagaimana tidak, saya berpikir panjang jika harus melakukan perjalanan jarak super jauh mengendarai motor, hanya berdua dengan pasangan, ke kampung orang pula. Nah mereka ini, sudah melakukan perjalanan jarak super jauh, berdua dengan pasangan, ke negara orang pula!.

Saat mereka sudah siap dengan motornya masing-masing saya baru terpikir pasti akan seharian menemani mereka, saya mesti makan siang dulu. Giliran saya minta mereka tunggu sebentar saya mengisi perut dulu, Andre menjawab, “its ok, take your time Bobby”. Ternyata mereka pun hendak mengisi bahan bakar motor mereka terlebih dahulu, “Dimana saya bisa menemukan Pertamina disini?”, tanya Andre. Saya paham, tentulah maksudnya adalah stasiun pengisian bahan bakar atau pom bensin, “kamu ikuti saja jalan utama ini, kira-kira 2 km dari sini, pom bensinnya sebelah kanan jalan. Kamu akan lihat papan besar bertuliskan Pertamina”, terang saya.
Tepat saya menyelesaikan makan siang saya dan telah bersiap, mereka pun tiba. “Are you ready to go Bobby?”, kata Andre sambil tersenyum.    

(bersambung -)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar