Rabu, 28 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 2



“Ok, lets go!”, balas saya kepada Andre. Kami berkendara dengan 3 motor masing-masing dengan motornya sendiri. Melaju perlahan saja dengan posisi berbaris, saya paling depan, Andre, kemudian paling belakang Maria. Saat melaju, tidak lama Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan motor yang saya kendarai, saat sejajar dia bilang, “nice helmet” sambil kemudian tertawa. Tentu saja dia bercanda menyindir, karena saya tidak mengenakan helm hanya mengenakan topi trucker. Di kota kecil ini aturan mengenakan helm bagi pengendara motor tidak terlalu ditegakkan oleh kepolisian wilayah jika tidak ingin dikatakan tidak ditegakkan sama sekali, kesadaran masing-masing pengendara motor saja. Saya tertawa, “Ah tidak perlu, saya merasa bebas tanpa helm”, jawab saya ngeles.

Karena tujuan pertama yakni pantai Bagedur jalan menuju kesana melewati rumah keluarga istri saya, saya ajak saja mereka sekedar mampir dulu, biar melihat langsung atau bertamu ke rumah penduduk Indonesia pikir saya. “Kamu tahu Bobby, ini pertama kalinya saya bertamu ke rumah penduduk negara yang saya kunjungi”, sahut Andre. “Ah…tepat perkiraan gw”, kata saya dalam hati. Kami di teras samping rumah saja.
“Heiy Bobby, itu pohon pisang bukan?”, tanya Andre sambil menunjuk. “Ya”, jawab saya. “Waw”, sambungnya. “Kamu tahu, di negara saya makan pisang sesekali saja, biasanya dihari istimewa semisalnya hari Natal. Itupun paling banyak 2 buah saja”, sambungnya lagi. Giliran saya berkata “waw”, tapi dalam hati saja, mengingat di Indonesia ini jika ingin bisa setiap hari makan pisang.

Kemudian Andre bertanya lagi, “dalam perjalanan kesini saya melihat pada sebuah pohon dengan plastik yang menggantung, terlihat seperti kondom, apakah itu?,apakah itu sebuah kepercayaan tertentu penduduk disini, semacam ritual?”. Saya bingung, pohon dengan plastik menggantung seperti kondom?, mencoba menerka-nerka. “Ohh…itu…, itu membungkus melindungi buah yang ada didalamnya agar tidak dimakan oleh kelelawar pemakan buah”, jawab saya menerangkan. “Hmm…saya rasa bukan itu, terbungkus plastik menggantung seperti kondom”, sanggah Andre. Saya semakin mengenyritkan dahi. Seketika saya teringat metode stek pohon, hingga saya meralat keterangan sebelumnya kepada Andre, “Ooh ya…, itu adalah sebuah metode untuk mendapat tanaman baru, dengan cara mengelupas kulit luar tanaman induk kemudian dibungkus dengan tanah, didiamkan beberapa hari sampai tumbuh akar, sehingga terbentuklah tanaman baru. Metode itu disini disebut stek”, jawabku berteori layaknya pakar botani lulusan IPB. “No, no, no, no….., kamu tidak mendengarkan saya Bobby”, sanggahnya lagi, kali ini dengan gerakan jari telunjuk tangan kanannya persis seperti gerakan pembersih kaca depan mobil. “Nanti mungkin diperjalanan menuju pantai kita akan melihatnya. Kita jalan sekarang?”, ajaknya kemudian.

Kamipun melanjutkan perjalanan dengan posisi berkendara persis seperti di awal berangkat. Tak beberapa lama, lagi Andre mensejajarkan laju motornya dengan motor saya, kemudian dia berkata, “Indonesia is a Moeslim country right?”. Saya jawab,” mayoritas penduduknya, ya”. “Apakah kamu Muslim Bobby?”, tanyanya lagi. “Ya”, jawab saya. “Assalamualaikum”, sapanya sambil kemudian tersenyum. “Waalaikumsalam”, balas saya, ganti saya tersenyum.

Sepanjang perjalanan mereka disuguhi pemandangan yang mesti sangat jarang mereka lihat, sehingga terdengar celetukan Andre; “water buffalo!” alias kerbau, “paddy field!” alias sawah, “rice!” alias beras atau nasi, “coconut tree!” alias pohon kelapa, dan “banana tree!” alias pohon pisang lagi. Sementara saya sedikit-sedikit menanggapi celetukan Andre sambil tetap berpikir mencari jawaban tentang pohon dengan plastic menggantung seperti kondom. Hingga saya teringat sesuatu, “AHA!!”, lebih seperti seruan “Eureka!!”. Tidak salah lagi, saya rasa saya tahu “pohon kondom” yang Andre maksud . Hingga akhirnya pada sebuah rumah penduduk, di batang pohon yang dipasang didepan rumah, saya menoleh kepada Andre dan menyerunya, “Heiy Andre, yang kamu maksud pohon ini kan?!”, tanya saya sambil menunjuk kepada sebuah pohon yang digantungi banyak plastik es mambo yang diisi air warna-warni. “Ya, benar!!”, jawabnya semangat sambil mengacungkan ibu jarinya. Saya jelaskan kepada Andre bahwa itu semacam dekorasi pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 pada tanggal 17 Agustus bulan lalu. Di wilayah Banten, mungkin khususnya Banten Selatan, kebiasaan unik masyarakatnya meramaikan suasana perayaan kemerdekaan RI adalah dengan cara demikian. Puas rasanya hati saya, memecahkan misteri “pohon kondom”.
               
   

                                                       There's your "Condom Tree" Andre :)


Malingping, Banten selatan merupakan daerah pesisir pantai selatan. Memiliki garis pantai yang membentang panjang, dari arah ujung barat yakni dekat Ujung Kulon, sampai ke arah Bayah yang berbatasan dengan Sukabumi yang sudah masuk provinsi Jawa Barat. Sehingga sangatlah banyak pantai yang bisa bebas disinggahi. Beberapa pantai ada juga yang dikomersilkan, berbayar, salah satunya ya pantai Bagedur. Meskipun sebenarnya ada banyak “pintu masuk” ke pantai itu tanpa harus bayar, dari arah mana saja, bagi yang mengetahuinya tentu saja. Tidak ada pagar tembok tinggi atau pagar kawat berduri, hanya saja memang terdapat “pagar alam” berupa semak belukar pandan, gundukan pasir pantai yang meninggi secara alami, pepohonan alami maupun kebun ataupun perkampungan penduduk. 

Ketika melihat ada petugas jaga di gerbang pintu masuk (terkadang tidak ada petugas jaga), saya mengajak Andre dan Maria memutar balikkan motor untuk memasuki pantai Bagedur tidak melalui gerbang pintu masuk yang terdapat loket bayar, saya pikir selain pantai seharusnya tidak dimiliki perseorangan maupun institusi, saya juga kurang ikhlas jika harus membayar retribusi tanpa jelas kompensasi yang diterima pengunjung, ya paling tidak kompensasinya kebersihan pantai terjaga. #Padahal saya ngeles, pengen gratisan aja :D.
Tapi Andre setuju juga dengan pendapat saya, “why we must pay for public beach?”, gitu pendapatnya. Boleh jadi dia sudah muak oleh sistem kapitalisme ala barat yang apa-apa musti bayar, apa saja bisa menjadi komoditas.
“Oke Andre and Maria, don’t worry… I know another way to the beach. Follow me!”, saya ajak mereka menerabas masuk lewat sisi perkebunan.
Hingga sampailah juga ke pantai Bagedur dari sisi yang lebih alami, tidak ada warung-warung semi permanen dan tidak pengunjung lain, seolah-olah pantai milik kami bertiga.     

(bersambung-)           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar