“Ok, lets go!”, balas saya kepada Andre. Kami berkendara
dengan 3 motor masing-masing dengan motornya sendiri. Melaju perlahan saja dengan
posisi berbaris, saya paling depan, Andre, kemudian paling belakang Maria. Saat
melaju, tidak lama Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan motor yang
saya kendarai, saat sejajar dia bilang, “nice helmet” sambil kemudian tertawa.
Tentu saja dia bercanda menyindir, karena saya tidak mengenakan helm hanya
mengenakan topi trucker. Di kota kecil ini aturan mengenakan helm bagi
pengendara motor tidak terlalu ditegakkan oleh kepolisian wilayah jika tidak
ingin dikatakan tidak ditegakkan sama sekali, kesadaran masing-masing
pengendara motor saja. Saya tertawa, “Ah tidak perlu, saya merasa bebas tanpa
helm”, jawab saya ngeles.
Karena tujuan pertama yakni pantai Bagedur jalan menuju
kesana melewati rumah keluarga istri saya, saya ajak saja mereka sekedar mampir
dulu, biar melihat langsung atau bertamu ke rumah penduduk Indonesia pikir
saya. “Kamu tahu Bobby, ini pertama kalinya saya bertamu ke rumah penduduk
negara yang saya kunjungi”, sahut Andre. “Ah…tepat perkiraan gw”, kata saya
dalam hati. Kami di teras samping rumah saja.
“Heiy Bobby, itu pohon pisang bukan?”, tanya Andre sambil menunjuk. “Ya”, jawab saya. “Waw”, sambungnya. “Kamu tahu, di negara saya makan pisang sesekali saja, biasanya dihari istimewa semisalnya hari Natal. Itupun paling banyak 2 buah saja”, sambungnya lagi. Giliran saya berkata “waw”, tapi dalam hati saja, mengingat di Indonesia ini jika ingin bisa setiap hari makan pisang.
“Heiy Bobby, itu pohon pisang bukan?”, tanya Andre sambil menunjuk. “Ya”, jawab saya. “Waw”, sambungnya. “Kamu tahu, di negara saya makan pisang sesekali saja, biasanya dihari istimewa semisalnya hari Natal. Itupun paling banyak 2 buah saja”, sambungnya lagi. Giliran saya berkata “waw”, tapi dalam hati saja, mengingat di Indonesia ini jika ingin bisa setiap hari makan pisang.
Kemudian Andre bertanya lagi, “dalam perjalanan kesini saya
melihat pada sebuah pohon dengan plastik yang menggantung, terlihat seperti
kondom, apakah itu?,apakah itu sebuah kepercayaan tertentu penduduk disini,
semacam ritual?”. Saya bingung, pohon dengan plastik menggantung seperti
kondom?, mencoba menerka-nerka. “Ohh…itu…, itu membungkus melindungi buah yang
ada didalamnya agar tidak dimakan oleh kelelawar pemakan buah”, jawab saya
menerangkan. “Hmm…saya rasa bukan itu, terbungkus plastik menggantung seperti
kondom”, sanggah Andre. Saya semakin mengenyritkan dahi. Seketika saya teringat
metode stek pohon, hingga saya meralat keterangan sebelumnya kepada Andre, “Ooh
ya…, itu adalah sebuah metode untuk mendapat tanaman baru, dengan cara mengelupas
kulit luar tanaman induk kemudian dibungkus dengan tanah, didiamkan beberapa
hari sampai tumbuh akar, sehingga terbentuklah tanaman baru. Metode itu disini
disebut stek”, jawabku berteori layaknya pakar botani lulusan IPB. “No, no, no,
no….., kamu tidak mendengarkan saya Bobby”, sanggahnya lagi, kali ini dengan
gerakan jari telunjuk tangan kanannya persis seperti gerakan pembersih kaca
depan mobil. “Nanti mungkin diperjalanan menuju pantai kita akan melihatnya. Kita
jalan sekarang?”, ajaknya kemudian.
Kamipun melanjutkan perjalanan dengan posisi berkendara
persis seperti di awal berangkat. Tak beberapa lama, lagi Andre mensejajarkan
laju motornya dengan motor saya, kemudian dia berkata, “Indonesia is a Moeslim
country right?”. Saya jawab,” mayoritas penduduknya, ya”. “Apakah kamu Muslim
Bobby?”, tanyanya lagi. “Ya”, jawab saya. “Assalamualaikum”, sapanya sambil
kemudian tersenyum. “Waalaikumsalam”, balas saya, ganti saya tersenyum.
Sepanjang perjalanan mereka disuguhi pemandangan yang mesti sangat
jarang mereka lihat, sehingga terdengar celetukan Andre; “water buffalo!” alias
kerbau, “paddy field!” alias sawah, “rice!” alias beras atau nasi, “coconut
tree!” alias pohon kelapa, dan “banana tree!” alias pohon pisang lagi.
Sementara saya sedikit-sedikit menanggapi celetukan Andre sambil tetap berpikir
mencari jawaban tentang pohon dengan plastic menggantung seperti kondom. Hingga
saya teringat sesuatu, “AHA!!”, lebih seperti seruan “Eureka!!”. Tidak salah
lagi, saya rasa saya tahu “pohon kondom” yang Andre maksud . Hingga akhirnya
pada sebuah rumah penduduk, di batang pohon yang dipasang didepan rumah, saya
menoleh kepada Andre dan menyerunya, “Heiy Andre, yang kamu maksud pohon ini
kan?!”, tanya saya sambil menunjuk kepada sebuah pohon yang digantungi banyak
plastik es mambo yang diisi air warna-warni. “Ya, benar!!”, jawabnya semangat
sambil mengacungkan ibu jarinya. Saya jelaskan kepada Andre bahwa itu semacam
dekorasi pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 pada tanggal
17 Agustus bulan lalu. Di wilayah Banten, mungkin khususnya Banten Selatan,
kebiasaan unik masyarakatnya meramaikan suasana perayaan kemerdekaan RI adalah
dengan cara demikian. Puas rasanya hati saya, memecahkan misteri “pohon
kondom”.
There's your "Condom Tree" Andre :)
Malingping, Banten selatan merupakan daerah pesisir pantai
selatan. Memiliki garis pantai yang membentang panjang, dari arah ujung barat
yakni dekat Ujung Kulon, sampai ke arah Bayah yang berbatasan dengan Sukabumi
yang sudah masuk provinsi Jawa Barat. Sehingga sangatlah banyak pantai yang
bisa bebas disinggahi. Beberapa pantai ada juga yang dikomersilkan, berbayar,
salah satunya ya pantai Bagedur. Meskipun sebenarnya ada banyak “pintu masuk”
ke pantai itu tanpa harus bayar, dari arah mana saja, bagi yang mengetahuinya
tentu saja. Tidak ada pagar tembok tinggi atau pagar kawat berduri, hanya saja
memang terdapat “pagar alam” berupa semak belukar pandan, gundukan pasir pantai
yang meninggi secara alami, pepohonan alami maupun kebun ataupun perkampungan
penduduk.
Ketika melihat ada petugas jaga di gerbang pintu masuk (terkadang tidak ada petugas jaga), saya
mengajak Andre dan Maria memutar balikkan motor untuk memasuki pantai Bagedur
tidak melalui gerbang pintu masuk yang terdapat loket bayar, saya pikir selain
pantai seharusnya tidak dimiliki perseorangan maupun institusi, saya juga
kurang ikhlas jika harus membayar retribusi tanpa jelas kompensasi yang
diterima pengunjung, ya paling tidak kompensasinya kebersihan pantai terjaga.
#Padahal saya ngeles, pengen
gratisan aja :D.
Tapi Andre setuju juga dengan pendapat saya, “why we must pay for public beach?”, gitu pendapatnya. Boleh jadi dia sudah muak oleh sistem kapitalisme ala barat yang apa-apa musti bayar, apa saja bisa menjadi komoditas.
“Oke Andre and Maria, don’t worry… I know another way to the beach. Follow me!”, saya ajak mereka menerabas masuk lewat sisi perkebunan.
Hingga sampailah juga ke pantai Bagedur dari sisi yang lebih alami, tidak ada warung-warung semi permanen dan tidak pengunjung lain, seolah-olah pantai milik kami bertiga.
Tapi Andre setuju juga dengan pendapat saya, “why we must pay for public beach?”, gitu pendapatnya. Boleh jadi dia sudah muak oleh sistem kapitalisme ala barat yang apa-apa musti bayar, apa saja bisa menjadi komoditas.
“Oke Andre and Maria, don’t worry… I know another way to the beach. Follow me!”, saya ajak mereka menerabas masuk lewat sisi perkebunan.
Hingga sampailah juga ke pantai Bagedur dari sisi yang lebih alami, tidak ada warung-warung semi permanen dan tidak pengunjung lain, seolah-olah pantai milik kami bertiga.
(bersambung-)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar