Minggu, 26 November 2017

BOBBY NASUTION

Sebenarnya saya “Bobby Nasution”. Begini ceritanya; ayah mertua saya itu orang Batak Mandailing bermarga Nasution. Jodoh memang sudah diatur Tuhan, manusia hanya dapat menerka-nerka, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat pasangan yang tepat bagi dirinya dan berusaha menjauhi predikat dan kondisi Jones, alias Jomblo Ngenes. Saya yang berdarah Manado – Sunda ini bisa ketemu jodoh perempuan batak bermarga Nasution, ya karena itu tadi, …. Jodoh.

Secara adat, karena batak menerapkan sistem patriakal maka kalau menikahi perempuan batak sebenarnya sih tidak lantas si suami (non-Batak) berhak menyandang marga si istri. Tapi karena ayah mertua saya tidak memiliki anak laki-laki, kasihan juga tidak ada yang meneruskan Nasution lelaki. Ya sudah saya mengajukan diri memakai nama Nasution sebagai penghormatan kepada ayah mertua saya. Tapi secara predikat saja, karena saya menikahi anak perempuannya. Lagi pula marga Nasution di Indonesia salah satu marga Batak banyak menjadi “orang-orang besar”, paling tidak yang paling saya hafal; Abdul Haris Nasution dan Adnan Buyung Nasution. Ya sudah, bolehlah saya menjadi Bobby Nasution.
Kalau ada pertanyaan; “Ini ada hubungannya sama mantu Pak Jokowi yang juga bernama Bobby Nasution, yang hari ini 25 November 2017 menggelar resepsi pernikahan di Medan kah?”.
Ya ga ada, saya cuma cerita tentang saya aja, cuma namanya kebetulan sama-sama Bobby. Kebetulan yang tidak sengaja ðŸ™‚


Lanjut ngopi…


-Bobby Revolta, eh .. Bobby Nasution, 25 November 2017-

Jumat, 17 November 2017

KAFIR ZAMAN NOW



Saat Paus Urban II menyerukan Perang Suci pertama (Perang Salib) di tahun 1095 kepada para ksatria kerajaan-kerajaan Eropa untuk merebut Yerusalem, kota suci kelahiran Yesus Kristus dari tangan mereka yang disebut oleh Paus Urban II itu sebagai “ras yang terkutuk yang hatinya jauh dari Tuhan, orang-orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus Tuhan”, yakni kaum Muslim dan Yahudi. Mereka beranggapan, sungguh memalukan bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum Muslim (dan Yahudi). Ringkasnya, dahulu Paus Urban II menyebut kaum Muslim dan Yahudi adalah kaum kafir. Para ksatria salib (Kristen) Eropa ini berbaris menuju Yerusalem dengan maksud ingin membebaskan kota itu dari tangan para kafir. 
 
Nelson Mandela, tokoh revolusioner Afrika Selatan yang membebaskan Afrika Selatan dari politik apartheid. Ditengah perjuangannya melawan penguasa rezim kulit putih, pada tahun 1962 akhirnya dia tertangkap oleh aparat penguasa. Dia dan beberapa kawan seperjuangan dalam African National Congres (ANC) dibuang ke pulau penjara yakni Pulau Roben. Selama dipenjara di pulau Roben, para sipir penjara senantiasa memanggil mereka dengan maksud sebagai hinaan merendahkan martabat, para sipir menghardik mereka dengan sebutan; kafir.

Di Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Tempo hari saat eskalasi politik memanas gegara Pilkada DKI, terminologi kafir juga digunakan sebagian umat Muslim Indonesia yang terseret konflik politik berbau sara untuk menyebut mereka yang tidak sepaham dengan pandangan mereka dengan sebutan kafir.
Berangkat dari tiga latar belakang tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kata “kafir” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ; orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya, ternyata dalam pelaksanaannya juga digunakan oleh pihak yang dalam posisi superior (lebih tinggi strata sosial dan politik atau lebih kuat) untuk menekan mereka yang dalam posisi inferior (lebih lemah) dengan maksud merendahkan atau mengintimidasi.

Menariknya, jika kita mampu berpikir jujur dan terbuka, ternyata kalimat kafir, kafeer, kafirun dan lain-lain dan sebagainya yang kadang penulisan sedikit beda-beda tapi maknanya sama yaitu, ya… KAFIR, bukanlah sebuah kata yang hanya dimiliki oleh umat Muslim saja, menjadi monopoli umat Muslim saja. Dimana-mana, di dunia ini, berbagai suku, agama, ras dan golongan menggunakan kalimat “kafir” untuk menyebut pihak lain yang tidak seiman/sepandangan. Kita adalah kafir bagi mereka yang “tidak seiman/beda” dengan kita, begitu juga mereka yang tidak seiman/beda, maka mereka boleh kita sebut kafir.

Jika memang seperti itu kondisinya, berarti sebenarnya kita ini sama-sama kafir. Di zaman now ini dimana kita lebih butuh kedamaian daripada konflik, kita lebih butuh makanan daripada bom, kita lebih butuh kesejahteraan dibanding pedang, maka (hendaknya) sebagai sesama kafir dilarang saling mencela dan sebagai sesama kafir hendaknya kita saling toleransi.

                                                                                                             
Demikian-