Jumat, 16 Februari 2018

SENDIRI (Sebuah Lagu Untuk Sahabat)




Saya pernah memiliki sahabat karib. Dia bukan hanya seorang teman, saya memandangnya seperti saudara sendiri dan mentor saya. Dahulu disaat usia saya berada diusia mulai senang keluar rumah, masa pencarian jati-diri, dialah yang "mengajarkan" saya kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa sesuatu didapat tidak dengan mudah, butuh usaha dan perjuangan. Bahwa tidak semua apa yang kita inginkan dapat kita miliki. Dia berasal dari keluarga biasa, sedang saya dari keluarga yang kebetulan lebih beruntung secara ekonomi. Saya banyak belajar tentang kenyataan hidup darinya, belajar di jalanan.
Namun demikian pada masa itu, sebagai anak muda kami tidak lupa bersenang-senang, terkadang melewati batas. Kami membentuk sebuah band beraliran GRUNGE. Band kami bernama "Patient".

Suatu kesempatan saya mengajaknya mendaki gunung bersama teman-teman lainnya, Gunung Gede - Pangrango, daerah puncak, Jawa Barat. Saat diperjalanan menuju gunung, didalam bus kota dia berkata kepada saya bahwa sebenarnya dia kurang sehat, sedang flu berat dan gigi gerahamnya sedang bengkak. "Tapi demi lo semua nih, gw tetep berangkat", begitu katanya.
Kesempatan lainnya, saya dan dia sepulang dari suatu acara. Kami berboncengan sepeda motor, dia yang mengendarai. Saat itu hari telah lewat tengah malam. Saat kami melewati beberapa pemuda yang sedang berkumpul bercakap-cakap dipinggir jalan. Salah seorang dari mereka menghardik kepada kami, "pelan-pelan bawa motornya". Tanpa pikir lama, teman saya ini menghentikan laju motor. Turun dari motor lantas menghampiri mereka, "Siapa yang tadi ngomong?", bentak teman saya. "Gue", kata salah seorang dari mereka dengan sikap menantang. Saya masih duduk di motor menerka-nerka apa yang bakal terjadi. Benar saja, perkelahian. Saya segera turun dari motor dengan maksud melerai. Teman-teman dari kelompok itupun seperti hendak membantu kawan mereka yang sedang baku pukul. Entah bagaimana kejadiannya, lawan teman saya itu mundur beberapa langkah mengambil jarak, sambil memasang kuda-kuda entah karate atau taekwondo. Yang mengherankannya kawan-kawan dari kelompok itu tidak berani berbuat apa-apa. "Apa lo!, sini kalo mau bantu temen lo!", bentak teman saya itu. "Maap bang, engga bang", kata mereka sambil tangan posisi sembah hormat. Sepertinya teman saya itu masih terbakar emosi, dia kembali menghampiri lawannya, yang dihampiri malah lari. Saya kemudian menahan laju teman saya itu, namun dia malah berontak sambil tangannya mengepal ke arah lawannya; "Sini lo, jangan lari anjing!", makinya. Teman saya itu bagaikan kerasukan setan, saya kewalahan menahan berontaknya, saya pun melepasnya; "terserah lo aja dah!", hanya kalimat itu yang keluar dari mulut saya.  Dia kemudian berlari mengejar lawannya itu. Sekira 50 meter dari posisi semula teman saya berhasil mengejar lawannya, baku pukul kembali terjadi. Pemandangan yang kemudian terlihat adalah ..., si lawan tersungkur. Teman saya menendanginya sambil membentak; "bilang ampun ga lo!, ampun ga lo!". "Ampun bang, ampun bang", si lawan rupanya menyerah tak berdaya. Kelompok pemuda yang sedang nongkrong itu sekitar 5 orang. Tidak berdaya melawan teman saya itu. Mungkin kalian membayangkan teman saya itu berbadan tegap besar seperti anggota tentara atau bodyguard, salah. Posturnya cenderung kurus meski tidak kerempeng, dan tinggi badannya tidak lebih tinggi dari saya yang 170 cm.          



Desember 2012, teman saya menderita sakit keras. Ia mengeluh sakit kepala yang hebat sampai-sampai pernah membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Panas tubuhnya tinggi disertai demam. Menurut diagnosis dokter yang merawatnya pada otak teman saya itu tumbuh semacam jamur yang disebut kriptokokus. Berhari-hari dia tergolek di rumah sakit, tidak berdaya. "Banyak begadang dan minuman alkohol", kata perawat yang bertugas menjaganya kepada saya saat saya membezooknya di rumah sakit. Dua hal yang disebut itu membuat daya tubuh semakin ringkih hingga memicu perkembangan kriptokokus.

Maret 2013, sore hari di waktu maghrib sepulang saya bekerja, saat masih berkendara di motor entah bagaimana, mata kanan saya terasa perih seperti dimasuki serangga. Padahal saya mengenakan helm yang tertutup. Sampai saya harus menghentikan motor di sisi jalan raya hanya sekedar menunggu rasa perih mata saya reda. Sedemikian perihnya hingga mata kanan saya mengeluarkan banyak air.
Baru saja sekitar setengah jam saya tiba di rumah, datang seseorang yang rupanya tetangga teman saya. "Mas Bobby, bang Lutvy meninggal maghrib tadi di rumah sakit". Mendengar kabar demikian tubuh saya gemetar, kemudian saya bersimpuh pada kedua lutut, saya merasa lemas. Kemudian saya menangis memanggil-manggil nama sahabat saya itu.

Belum pernah saya merasa kehilangan seseorang seperti ini sebelumnya, saat kakek saya dari ibu meninggal dunia saya sedih tapi saya tidak merasa shock, juga saat nenek saya dari ayah meninggal. Kehilangan sahabat dekat yang selayak saudara sendiri, saya menganggapnya sebagai kakak dan mentor hidup yang darinya saya banyak "belajar" tentang realita hidup, seolah ada bagian dari diri saya yang turut pula hilang. Berpulangnya sahabat saya itu benar-benar menyadarkan saya akan kematian. Kematian itu ternyata tidak pernah jauh dari kita, dia bisa datang kapan saja.

Sahabat saya itu memang sudah tiada raganya, namun jiwa dan kenangannya akan selalu hidup di benak saya. Saya teringat dia pernah menorehkan tulisan corat-coret pada selembar kertas; "Hidup Adalah Perjalanan", mungkin itu motto hidupnya. Saya coba merenungkan arti kalimat itu. Saat ini saya memaknainya : hidup itu adalah perjalanan mencari makna dari kehadiran kita di dunia. Kita hendaknya mencari tempat di dunia ini dan peran kita bagi orang lain, ingin seperti apa kita dikenang jika kita sudah tiada. Saya kemudian mengingat sahabat saya itu selama hidupnya, dia memang jauh dari sempurna, dia hanyalah manusia biasa. Namun saya dan semua teman-temannya mengenang dia akan sosok yang setia kawan, solidaritas yang tinggi, melindungi saudara dan sahabat-sahabatnya dekat dan bernyali besar. 

Hari pemakaman teman saya itu dihadiri oleh banyak orang, terlebih sahabat-sahabatnya. Bahkan mereka yang telah pindah tinggal di lain kota menyempatkan diri hadir untuk mengantarkan Lutvy ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Innalillahi wa Innailaihi Rojiun.
         

-end of my story-


Saya membuat sebuah lagu yang saya persembahkan untuk sahabat karib saya, Lutvy Gaselick. Rest In Peace brother ..

SENDIRI

Sendiri,dihati ini
Tak ada kawan temani
Mencari, tak tahu pasti
Langkahku penuh misteri

Tuhanku, beri kekuatan
Menjalani hidupku
Enyahkan jiwa pengecut
Terbunuh berkali-kali

Sendiri, dikamar ini
Meringkuk aku sembunyi
Sakitku tidak berperi
Cobaan bertubi-tubi

Tuhanku, beri keberanian
Mengalahkan raguku
Jikalau ku harus mati
Ku tak ingin sia-sia



============================
klik link dibawah ini untuk mendengarkan lagunya
https://youtu.be/GP-ZB7BG3hM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar