Senin, 20 April 2015

Jalan Setapak Seorang Ayah

Sore itu menjelang malam
Gelap mulai menerkam 

Seorang lelaki dewasa berjalan menyusur di sisi
Lewati satu rumah kosong, kemudian dua, tiga sampai rumah keempat
Semua rumah gelap dan mati

Beberapa saat lalu baru saja ia lewati sebuah rumah bersalin
Disanalah terlahir anaknya yang terharap seorang lelaki

Ketika sang bayi terlahir lelaki itu menangis meraung-raung
Tak satu orang pun dapat menghentikannya dari isak sesalnya
Anaknya terlahir namun telah membiru tanpa nyawa

Kembali, ia lanjutkan saja langkahnya hingga melewati surau
Ada ia rasakan bisikan dalam kalbu
"yah...sholat ayah, sholat ayah, Doakanlah aku"

Yakin lelaki itu, jiwa halus anaknyalah yang meminta
Kemudian berhenti ia di muka surau, berkata 
"iya nak, ayah segera sholat" 
Lalu tak terasa pipinya hangat oleh air mata


Serang, 20 April 2015
to my beloved son
MICKA REVOLTA

Kamis, 12 Februari 2015

Malam Yang aga Jahanam Bagi Seorang Gadis

Malam datang lagi….

Adalah saat Mela harus bekerja. Sebuah profesi yang tidak diimpikannya sama sekali, sangat jauh melenceng dari jawabannya saat usianya tujuh tahun ketika ibunya bertanya, “Mela kalau sudah besar mau jadi apa?”, “Mau jadi dokter”, jawab Mela kecil.

Ketika lulus SMP dia memantapkan cita-citanya dengan memasuki sekolah kejuruan perawat atau lebih dikenal sebagai suster. Meski berbeda jurusan dari cita-cita menjadi dokter ke perawat karena terkendala biaya pendidikan yang mahal, dia pikir profesi perawat tidaklah terlalu melenceng dari profesi dokter, masih bertugas menyembuhkan orang sakit meskipun tidak menangani langsung karena hanya asisten dokter. Profesi perawat pun masih menangani seputar tubuh manusia, tidak terlalu jauh berbeda dengan pekerjaan dokter. Dan yang terpenting adalah  karena sama-sama dapat menolong jiwa manusia, maka perawat pun sama mulianya dengan dokter.

Sekolah Kejuruan Perawat dijalani Mela dengan suka cita, hingga tak terasa sudah hampir kenaikan kelas yaitu ke kelas dua atau kelas sebelas kurikulum sekarang. Hingga sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan berlangsung, ujian terdiri dari ujian teori dan ujian praktek. Suatu hari wali kelasnya memberi pengumuman di muka kelas,”anak-anak jangan lupa minggu depan ujian kenaikkan kelas, maka bayaran ujian paling lambat hari Sabtu di minggu ini. Kalau belum bayar ya tidak bisa ikut ujian”, demikian kata ibu wali kelas.

Lonceng tanda kelas berakhir berbunyi, Mela seperti biasa pulang ke rumah menggunakan angkutan pedesaan, meski sesekali ia menggunakan sepeda motor ayahnya. Namun sekitar 6 bulan yang lalu sepeda motor ayahnya itu dijual, katanya buat menambah biaya dapur dan biaya rumah tangga lainnya. Ayahnya hanya bekerja sebagai karyawan honorer pada perusahaan rokok di desa itu, bertugas sebagai pesuruh. Sudah 32 tahun ayahnya mengabdi di perusahaan itu.

Mela tiba di rumahnya sekitar pukul setengah tiga sore, lama perjalanan dari sekolah ke rumahnya hanya setengah jam. “Assalamualaikum”, Mela mengucap salam. “Waalaikumsalam”, jawab suara yang berasal dari kamar kedua orangtuanya, suara ibunya. Mela kemudian menghampiri ke arah sumber suara, batinnya sedikit heran karena biasanya jam segini ibunya mesti sedang berada di dapur menyiapkan masakan untuk makan malam seluruh keluarga, atau jika sedang senggang pasti sedang menyaksikan tayangan infotainment alias berita sensasional yang remeh-temeh para pesohor di televisi. “Tumben ibu ada di kamar”, batin Mela.      

Mela mengetuk pintu, “masuk nak”, suara ibunya. Ketika pintu dibuka Mela sedikit terkejut, ternyata ayahnya sudah pulang karena biasanya ayahnya tiba di rumah menjelang waktu Isya. “Kemari nak, ada yang ingin bapak dan ibu sampaikan”, kata ayahnya sambil duduk di sisi kasur sedangkan ibunya duduk terkulai di lantai menghadap ayah. Suasana di kamar itu terasa muram begitupun wajah ayah dan ibu Mela, air muka keduanya tampak muram.

Selanjutnya ayah menguraikan ceritanya, bahwa disebabkan aturan pemerintah atas penjualan tembakau yang semakin ketat yakni dengan menaikkan pajak tembakau, mengkibatkan harga rokok dipasaran melambung tinggi, dengan demikian ongkos produksi perusahaan rokok menjadi naik. Demi keberlangsungan perusahaan dan agar tetap stabilnya harga jual rokok produksi perusahaan maka manajemen mengeluarkan kebijakan “merumahkan” sebagian besar karyawannya. Ayah Mela adalah salah satu karyawan yang dirumahkan oleh perusahaan.   

“Ayah diPHK?!!”, tanya Mela seolah tak percaya atas kenyataan itu. Seperti berhenti rasanya semua jam di rumah itu, senyap dan hening. Begitupun detak jantung Mela, saat itu juga rasanya berhenti. Di Kamarnya Mela terpaku dalam lamunan, tatapannya kosong menerawang ke luar jendela menatap pohon mangga di halaman depan rumah yang banyak ditumbuhi benalu.

“Bagaimana biaya ujianku?, bagaimana biaya sekolahku?, bagaimana masa depanku?”, demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang berputar mengurung benak Mela.

Kemudian Mela mengalihkan pandangannya ke cermin meja riasnya. Secara fisik Mela adalah gadis yang cantik, kulitnya putih bersih, tinggi tubuhnya proporsional, hidungnya mancung untuk ukuran orang Indonesia bibirnya merah alami, wajahnya tipe kekanakan, lekuk tubuhnya sintal dan sebagaimana gadis diusianya potongan rambutnya trendi, panjang sebahu dengan poni dibagian depan. Benar-benar gadis muda yang ranum menggoda bak buah rambutan yang matang tumbuh lebat di halaman kantor Polsek, meski berisiko tetap menggoda untuk dipetik.

Esok harinya Mela tidak berangkat ke sekolah, ia memutuskan berhenti sekolah. Iya tahu diri, ia tidak ingin membebani keluarga, belum lagi ia teringat ketiga adiknya yang masih memerlukan biaya. Mela teringat akan kegemarannya akan musik dangdut. Setiap ada acara pertunjukan seni di sekolahnya dulu sejak ia SMP mestilah ia didapuk menyanyi diatas panggung. Alunan vokalnya serak-serak basah dan goyangan tubuhnya yang serasi dengan hentakan tabuhan gendang benar-benar melenakan siapapun yang menatapnya, khususon dimata kaum lelaki. Liukkan tubuhnya meskipun tidak seronok namun ditubuh sintal Mela tetap saja menjadi erotis.

*******

Mela memutuskan menjadikan penyanyi dangdut sebagai profesinya. Ada sebuah grup Orkes Melayu yang cukup terkenal di kota kabupaten itu yakni grup OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah. Sebenarnya ketika Mela duduk di kelas 3 SMP atau kelas 9, grup OM tersebut sempat mengajak Mela bergabung namun orangtua Mela enggan memberi restu. Kini, karena keadaan yang menimpa keluarga Mela, orangtua Mela tidak punya pilihan untuk melarangnya. 
Mela mendapat uang dari hasil menyanyi dangdut, meskipun tidak besar namun cukuplah untuk biaya diri sendiri dan membantu keuangan keluarga. Karir Mela sebagai penyanyi dangdut di daerah cukup gemilang, dia pun memiliki nama panggung yaitu Mela Grasak. 

Bukan tanpa godaan dalam menjalani karirnya sebagai penyanyi dangdut. Saat berdendang diatas panggung sudah tidak terhitung celoteh dan celetukan bernada sensualitas bahkan cenderung pelecehan, seperti kata-kata : “buka dikit !”, “pantate joss!”, “waduh celanaku jadi sempit!”, “Aduh maak, indah banget pemandangan gunung !”, dan lain-lain sejenisnya. Apalagi apabila ada acara saweran diatas panggung, para lelaki yang menyawer dengan uang kertas yang nilainya besar seperti merasa berhak atas tubuh Mela.

Pernah suatu kali ketika acara saweran wajah Mela dilempar secara kasar uang kertas seratus ribuan 5 lembar, sungguh pemandangan yang merendahkan martabat perempuan, namun Mela memaksakan diri tetap tersenyum. Jika masih mencubit sisi bahu lengan atau mencolek bokong, dia menanggapinya dengan pura-pura genit, namun jika ada yang menurutnya terlampau jauh seperti ingin menyelipkan uang kertas ke belahan buah dadanya maka Mela secara halus menampiknya sambil tetap tersenyum.   

Pada suatu hari OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah diundang mengisi acara syukuran panen padi di pendopo kantor kecamatan. Jajaran perangkat pimpinan desa hadir semua, dari Pak Camat, Pak Lurah, Pak Danramil dan Pak Kapolsek, juga para tokoh masyarakat. Semua duduk di sofa yang telah disediakan terletak persis 7 meter menghadap depan panggung. Seperti biasa Mela menjadi bintang utama disetiap acara panggung dangdut, ratusan pasang mata menikmati liukan tubuh Mela dibanding menikmati irama musik yang didendangkan. 

Pak Lurah desa itu adalah orang yang terpandang, dia memiliki sawah yang luasnya hektaran, memiliki perternakan sapi potong, memiliki dua toko emas di pasar, serta memiliki 3 istri, singkatnya ia adalah seorang saudagar kaya di desa itu. Bahkan acara hiburan panggung dangdut malam itu pun disponsori atau atas biaya pribadi Pak Lurah. Sedari awal Mela melantunkan lagu, Pak Lurah tidak melepaskan pandangan bergantian ke wajah, dada, dan bokong Mela, Pak Lurah telah terhipnotis oleh pesona kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Mela. Ingin rasanya ia keatas panggung untuk berjoget bersama Mela atau ikut saweran, namun ia menjaga citra dirinya sebagai Bapak Lurah yang terhormat, sehingga ia urungkan hasrat jogetnya, hanya saja kedua jempol tangannya tak kuasa bergoyang mengikuti irama kendang dangdut yang bertalu-talu.

Kemudian Pak Lurah meminta diri kepada seluruh perangkat pimpinan desa yang sejajar duduk dengannya di sofa; “permisi bapak-bapak, saya ke belakang sebentar”, begitu katanya. Ternyata yang dimaksud “belakang” bukanlah kamar mandi atau kamar kecil untuk buang air, melainkan ke belakang panggung. Ia menemui pimpinan OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah, ia menyerahkan segepok uang lembaran 50 ribuan kepada pimpinan OM tersebut kemudian berkata ; “kamu atur gimana caranya supaya si Mela nanti pulang bisa bareng sama aku”. “Siap Pak Boss Lurah, serahkan sama saya”, balas pimpinan OM itu.

Acara hiburan itupun selesai sekitar pukul setengah satu dini hari. Pimpinan OM menghampiri Mela, “Mel,…saya minta maaf ga bisa nganter kamu pulang ya”. “Loh pak saya gimana pulangnya?”, tanya Mela resah. “Tenang aja, ada yang bersedia nganter kamu pulang, Pak Lurah,” Jawab pimpinan OM itu. Mela terperanjat, “wah…masa Pak Lurah yang nganter aku, aku kan ga enak dong”. Tiba-tiba ada suara yang menyela, “tidak apa-apa dik Mela, aku anter pulang ya, sudah malam sekali ini loh”, ternyata si penyela itu adalah Pak Lurah sendiri. Mela pun menunduk tersipu namun mengiyakan ajakan Pak Lurah.

Akhirnya Mela telah berada di dalam mobil bersama Pak Lurah. Pak Lurah membuka pembicaraan, “Dik Mela penampilannya tadi luar biasa, bagus sekali!, suaranya apik, gurih…goyanganmu itu dik, bikin jantung saya mau copot”. Dengan genit Mela membalas pujian Pak Lurah, “ahh Pak Lurah bisa saja”. Pak Lurah menyambung, “Dik Mela saya punya kenalan produser musik dangdut dari Jakarta, besok aku janjian mau ketemuan, kamu mau ga aku kenalkan?, aku yakin dia pasti tertarik mau mengorbitkan kamu menjadi artis top ibu kota”.

Mendengar pemaparan Pak Lurah mata Mela berbinar, pikirannya sejenak menerawang, ia teringat kembali ketika ayahnya terkena PHK, kemudian ia putus sekolah, 3 orang adik-adiknya yang masih butuh banyak biaya, ibunya yang berjualan hasil kebun di pasar. Terbesit dipikirannya; “inilah saatnya…..akhirnya aku bisa menjadi artis dangdut top”. Kemudian dia membayangkan kehidupan sebagai artis dangdut top sebagaiman yang ia saksikan di acara-acara televisi, begitu glamour dan sensasional. Bagaimana tidak, semua peristiwa pribadi seperti harus masuk rumah sakit hanya karena masuk angin saja masuk berita, ditinggalkan suami masuk berita, semata-mata masak di dapur pun bisa masuk berita. Mela kemudian tersenyum sendiri gara-gara membayangkan jika dia sudah menjadi artis top jangan-jangan hobi kentutnya akan jadi berita, kemudian yang terpenting dia membayangkan dia akan mempunyai banyak uang.

“Dik Mela!, dik Mela!…. Kok jadi melamun senyum-senyum sendiri, ada apa?, tegur Pak Lurah membuyarkan lamunan Mela. Mela jadi sedikit terkejut malu, “ehh…hehehe ga kenapa-napa pak”. “Gimana, mau kan kamu besok malam aku kenalkan sama produser kenalanku itu?, kalau mau aku jemput kamu besok jam 8 malam”, tanya Pak Lurah. “Mau pak, mau”, kata Mela sumringah. 

Sekitar pukul 1 dini hari sampailah mereka di rumah Mela. Pak Lurah mengucapkan salam perpisahan kemudian melajukan kembali mobilnya. Didalam mobil Pak Lurah tertawa-tawa sendiri laksana tawa kemenangan.

*******     

Seperti disepakati pada malam sebelumnya, Pak Lurah menjemput Mela dirumahnya pada pukul 8 malam lewat 2 menit. Necis sekali penampilan Pak Lurah malam itu, celana jeans baggy, kemeja lengan pendek warna merah motif kotak, sepatu santai merk terkenal berlogo seekor buaya, tak ketinggalan ramnbut yang tersisir rapih licin berminyak rambut, serta wangi parfum yang semerbak tercium hingga radius 10 meter. “Kemana kita pak?”, tanya Mela. “Tenang aja dik, pokoknya sip”, jawab Pak Lurah. 

Tiba di persimpangan jalan Pak Lurah membelokkan mobilnya ke kanan kemudian masuk ke sebuah hotel kelas melati.

“Di hotel toh pak”, ujar Mela. “Iya dik, soalnya kenalanku yang produser ini baru sampai dari Jakarta tadi sore, dia masih kecapean diperjalanan katanya, jadi kita ketemu dia langsung di hotel tempatnya menginap saja sambil dia istirahat biar lebih santai juga. Ga masalah kan dik Mela”, terang Pak Lurah mencoba menyakinkan. “Ohh begitu…, ga apa-apa pak, ga masalah”, jawab Mela.

Kemudian Pak Lurah memparkirkan mobilnya di depan kamar hotel bernomor 213. “Mari dik Mela”, kata Pak Lurah sambil membukakan pintu mobil buat Mela. “Musti di kamar toh pak?”, Tanya Mela, terdengar nada sedikit khawatir. “Lah kan sudah saya kasi tau barusan, kenalanku ini kecapean jadi hari ini belum bisa kemana-mana, jadi ya di kamar saja sambil santai-santai. Sudah dik Mela tenang saja. Mau jadi artis dangdut top ga?”, papar Pak Lurah.

Pak Lurah kemudian mengetuk pintu kamar itu. “Masuk”, kata seseorang dari dalam kamar. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar. “Halo Pak boss produser, ini aku udah bawa calon artis dangdut kita”, tegur Pak Lurah akrab kepada orang yang nampaknya sudah menunggu di dalam kamar hotel itu. “Ayo dik Mela, kasih salam boss produser”, sambung Pak Lurah kepada Mela. Mela pun menyalami si produser. “Wah wah wah….ini barang bagus, mulus, ckckckckck, cantik sekali kamu”, kata si produser sambil meremas jabatan tangan Mela, matanya jelalatan memandangi tubuh sintal Mela, dari bawah, tengah sampai atas. “Coba kamu berputar”, kata si produser kemudian. Mela pun memutar tubuhnya. “Wah wah wah….bemper belakangnya masih kenceng”, tambah si produser. Yang dimaksud bemper adalah bagian bokong Mela.

“Gimana Mel, kamu siap dan mau kan jadi artis dangdut top?, saya bisa mengorbitkan kamu jadi artis top. Nanti saya bikin kamu seperti si Nunu Gleper-gleper, atau seperti si Naskia Gitok, atau seperti si Trio Beruang Madu Betina, atau kamu mau seperti si Cica Cacimaki?,” demikian si produser mengimingi Mela. “Mau Pak Produser, mau banget”, jawab Mela antusias. “Husss…jangan panggil pak, panggil “Om” donk”, pinta si produser kepada Mela. “Eh..iya om pak, eh maksud saya om”, ralat Mela. Mata Mela menerawang ke sekeliling dalam kamar hotel itu, ia melihat di atas meja ada 3 botol minuman keras, beberapa botol minuman berenergi, beberapa butir pil berwarna biru, borgol, ikat pinggang, pecut dan seperti pajangan meja namun berbentuk kelamin pria.

“Tapi kamu harus saya tes dulu, tenang aja ga susah kok tesnya enak malahan”, kata si produser sambil nyengir seperti kuda. “Iya dik Mela, ga usah takut, buat dik Mela tesnya ga susah, sambil santai-santai minum-minum ini”, tambah Pak Lurah nimbrung bicara sambil membuka satu botol minuman keras kemudian menuangkannya ke 3 gelas. Kemudian Pak Lurah menyodorkan gelas yang telah terisi minuman keras kepada si produser, satu gelas lagi kepada Mela. Namun Mela menolak secara halus sambil berkata, “maaf pak, aku ga minum minuman itu”. “Loh lohhh, kamu ga boleh nolak, ini bagian dari tes loh”, ancam si produser. Mela kemudian memberanikan diri menyanggah, “bukannya seharusnya tesnya nyanyi pak?”. “Ahhh tes nyanyi itu gampang. Ya sudah kalau tidak mau tes minum, gimana kalau kamu dites yang lain aja ya”, sambung Pak Lurah. “Tes apa pak?”, tanya Mela penasaran. Pak Lurah menyodorkan wajahnya ke telinga kanan Mela, membisikkan sesuatu. 

“Apaaa ???!!!”, bentak Mela. Sejurus kemudian telapak tangan kanan Mela mendarat di pipi kiri Pak Lurah. Kemudian Mela menghardik kedua pria itu; “dasar buaya buntung !, tua-tua bangsat !, lintah comberan !, iblis gerbong kereta sapi !”.

Tanpa diduga tiba-tiba si produser mendekap Mela dari arah belakang, Mela meronta-ronta dan berteriak, “tolonggg !!, toll…”, tak dapat dilanjutkan dikarenakan tangan si produser membekap mulutnya. Sedang Pak Lurah bersiap-siap seolah ingin menerkam Mela. Mela terus meronta mengeluarkan seluruh tenaganya, namun apalah daya tenaga seorang gadis dihadapan tenaga dua pria dewasa. Dengan beringas Pak Lurah berusaha mendaratkan bibirnya ke wajah Mela, si produser tak kalah beringas, tangan kanan membekap mulut Mela sedangkan tangan kirinya berusaha membuka rok Mela.

Hingga tiba sekejap Mela mendapat kesempatan ia melihat bagian kemaluan Pak Lurah tidak terhalang maka dengan sekuat tenaga Mela menyepaknya. Sepakan Mela bagaikan sepakan Lionel Messi, “Jediigggg !!”, begitu kira-kira bunyinya. Namun tanpa komentar “AHAAYY” dan “JEBRET” sebagaimana komentator sepakbola dalam siaran sepakbola di televisi. Yang terdengar adalah kalimat ; “TOBAAATTTT !!!”, dari mulut Pak Lurah. Tendangan Mela tepat dan telak menghantam kemaluan Pak Lurah. Pak Lurah terjengkang sambil memegangi kemaluannya. 

Tangan Mela jadi lebih terbebas dari himpitan dari depan, kemudian cakar kukunya yang memang panjang ia benamkan dan tarik sekencang-kencangnya ke wajah si produser. Tangan kanan si produser yang masih membekap mulut Mela jadi mengendur memberikan kesempatan Mela menggigit jari si produser. Saking kalapnya Mela sehingga gigitannya mengakibatkan jari klingking si produser putus satu ruas dan mengeluarkan banyak darah. “WADAAWW !!”, teriak si produser sangat kesakitan, pada wajahnya pun tampak tiga garis merah berdarah.

Mela tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia melihat kunci kamar hotel masih menggantung di pintu. Ia segera berlari ke arah pintu dan membukanya kemudian berlari ke luar kompleks hotel kelas melati itu, berlari ke arah jalan raya.   

*******

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, malam ini Mela bersiap lagi menjalani profesinya yang ia geluti 1 bulan terakhir. Semua perlengkapan telah ia kenakan; sarung tangan, jaket kulit berwarna hitam buatan Garut, pengaman siku dan dengkul, juga sepatu boot, dan tak lupa mengenakan helm motor cross. Ia berjalan dengan tenang ke arah papan papan panjang kira-kira 12 meter disejajarkan vertikal dibentuk melingkar seperti tong. Di dalamnya sudah disiapkan motor tril oleh rekannya.
Ya…kini Mela telah beralih profesi menjadi seorang pengendara motor pada atraksi akrobat “tong stand”, atau sering disebut menjadi “Tong Setan”.

Setahun lalu, saat kejadian percobaan pemerkosaan yang hampir menimpa Mela, ketika ia berlari panik sambil menangis berteriak-teriak mencari pertolongan, ia berpapasan dengan konvoi mobil truk rombongan sirkus kampung yang biasa beroperasi pada pasar malam secara nomaden. Ia diselamatkan oleh pasangan suami-istri pimpinan sirkus kampung itu.
Untuk menenangkan dan menyembunyikan diri ia mengikuti kemanapun rombongan sirkus itu menuju. Lama kelamaan ia tertarik mencoba mengendarai motor modifikasi dalam sebuah tong besar. Latihan demi latihan dijalani dengan tekun dan tekad kuat, jadilah kini Mela bergiat pada profesi yang menurutnya jauh dari fitnah dan pelecehan, yaitu pengendara TONG SETAN.

Kereenn….


-selesai-                                                      

Senin, 03 November 2014

Sumpah Serapah Karyawan Level Bawah Kepada Boss Bangsat

Pada sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antah berantah, bekerjalah disana beratus karyawan. Manajemen menanamkan serta senantiasa menggembor-gemborkan sebuah jargon yang berbunyi ; I-N-T-E-G-R-I-T-A-S.
Tidak banyak yang paham betul makna kata integritas itu sendiri, sekalipun kebanyakan karyawan dari BUMN itu sendiri, bahkan ironisnya para pejabatnya sekalipun.  Lebih gila lagi si pencetus jargon integritas itu sendiri tidak sungguh-sungguh paham maknanya.

Suatu kali direktur BUMN tersebut menginstruksikan bahwa perusahaan harus bersih dari kegiatan kolusi, yakni menggunakan atau menghalalkan segala cara demi tercapainya laba perusahaan termasuk diantaranya melakukan penyuapan kepada sebuah institusi tertentu agar mendapat kemudahan ijin usaha. Pokoknya semua tindakan perusahaan harus mengedepankan etika dan moralitas serta konsekwen menerapkan prinsip tata kelola perusahaan pemerintah yang baik dan benar.
Hingga suatu saat di penghujung tahun pada bulan Desember si direktur BUMN memberikan sebuah instruksi kepada bagian operasional. Instruksinya adalah memberikan tenggat waktu sampai pertengahan bulan Januari tahun depan untuk mendirikan unit usaha di 15 titik tempat bagaimanapun caranya.
Tentu saja para staf operasionalnya sudah mahfum apa yang mesti dilakukan demi mewujudkan keinginannya si direktur, yaitu dengan cara menyuap institusi pemberi ijin usaha.
Maka pada tenggat waktu yang ditentukan olehnya, 15 gerai unit usaha pada 15 titik tempat pada tanggal 15 bulan januari, si direktur BUMN tersebut dengan bangga meresmikannya.

Adalah Robod, seorang karyawan level bawah BUMN tersebut sangat muak akan retorika dan omong-kosong yang selama ini berlangsung di perusahaannya. Karirnya mandeg sedangkan tuntutan kehidupan dan kewajiban menafkahi keluarga demikian menghimpitnya. Setiap hari hanya keterpaksaan yang mengharuskan dia tetap bertahan bekerja di BUMN tersebut, itupun sudah banyak hari dia absen membolos kerja dengan berbagai alasan seperti; sakit, mengantar anak sekolah atau imunisasi, mengantar orangtua, mengantar istri bekerja, kendaraan mogok, kompleks rumahnya kebanjiran sampai dengan alasannya yang paling unik dan berkarakter adalah kepalanya tidak sengaja menghantam pintu lemari kamarnya sendiri. Ketika sebagian besar orang merasa kesusahan jika banjir melanda lingkungan tempat tinggal, namun tidak bagi Robod, banjir adalah momen yang membahagiakan karena dia mendapat alibi yang mutlak untuk tidak bekerja.
Menurutnya buat apa jadi karyawan rajin kalau para atasannya "Bangsat" semua.

Bangsat, adalah sebuah kata makian yang ditujukan kepada seseorang yang sangat menyebalkan. Ada juga sebagian masyarakat di Indonesia yang menyebut jenis serangga kecil penghisap darah yang hidup pada busa kasur maupun sofa, biasanya serangga jenis ini menyerang dan menggigit bagian bokong atau pantat. Konon rasa gigitannya sangat perih dan gatal, ketika digigit serangga kecil ini sering kali hardikan si korban ; "bangsat !!".

Adalah Doblang, salah seorang manajer pada BUMN tersebut. Sebagai salah seorang pimpinan alias boss divisi pada BUMN berintegritas tersebut tentu saja dia kerap memarahi dan menegur bawahanya yang menurutnya tidak disiplin, dia tidak suka kepada bawahannya yang pulang kantor mendahuluinya meskipun memang sudah jam pulang kantor normal. Karena menurutnya semua karyawan harus loyal kepada perusahaan termasuk dalam hal memberikan waktu lebih kepada perusahaan, jikalau perlu harus mengkorbankan waktu berkualitas untuk diri sendiri maupun waktu berkualitas bersama keluarga.
Doblang pernah berkata kepada jajaran bawahannya yang resah; "jangan selalu mempertanyakan apa yang perusahaan beri kepada kalian, tanyakanlah apa yang sudah kalian beri kepada perusahaan ini".

Tentu saja soal-soal timbal balik kontribusi karyawan-atasan kepada perusahaan menjadi sesuatu yang absurd pada BUMN tersebut. Bagaimana tidak, ketika para atasan selain mendapat gaji sebagaimana golongan kekaryawanannya, mendapatkan juga tunjangan jabatan seperti; uang tunjangan jabatan, kendaraan roda empat untuk operasional beserta penggantian bahan bakarnya, pulsa untuk telepon genggamnya, penggantian biaya parkir dan tol, biaya entertainment relasi, belum lagi pendapatan dari proyek-proyek tender yang memang pejabat seperti Doblang memiliki akses kesana.
Keadaan itu berbanding terbalik dengan kondisi karyawan bawahan yang mendapat upah hanya dari gaji pokok dan transport yang sangat "pas", ...... "pas" akhir bulan "pas"-ti habis uang atau bahkan "pas" untuk 2 mingguan saja.

Sudah menjadi rahasia umum pada BUMN tersebut bahwa sebagian besar mereka yang mendapat jabatan sebagai boss adalah mereka yang bisa dekat secara pribadi kepada orang-orang yang sedang menjabat dan hasil "jaringan pertemanan" yang dikuatkan. Bukan "jaringan pertemanan" biasanya tentunya, karena entah sejak kapan dimulainya di BUMN itu para boss memiliki hobi mencari kenikmatan di tempat pijat dengan bumbu seks, karaoke dengan bumbu seks, golf dengan bumbu seks, intinya semua kenikmatan hidup berbumbu seks. Mereka berdalih hal itu wajar dan layak sebagai upaya meredakan ketegangan setelah bekerja keras mengejar omzet besar perusahaan.
Apakah semua kenikmatan itu dengan biaya sendiri?, tentu tidak, selama bisa dibuat dalih "meng-entertaint relasi" maka semua kenikmatan itu menjadi beban tanggungan perusahaan.
Apakah para istri mereka tahu kelakuan para suaminya itu?, tentu (mungkin) tidak, sepanjang para istri terus dilenakan dengan uang dan kemewahan lainnya, biasanya para istri senang dan tenang saja.

Kembali kepada soal "jaringan pertemanan", adalah model pertemanan yang kerap pergi bersama biasanya di akhir pekan hari kerja untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan berbumbu sekslah yang malah mendapat peluang menjadi pejabat atau boss pada BUMN tersebut.
Kemudian yang paling penting dari semua hal jika ingin berkarir cemerlang, harus pandai menyenangkan hati boss, melayani kemauan bos dan jangan pernah mengatakan tidak kepada semua kebijakan, instruksi ataupun keinginan boss meski buruk sekalipun.

Suatu kali Doblang ditanya oleh rekan sejawatnya apa rahasia selalu mendapat jabatan dan mempertahankannya. Sambil tersenyum Doblang menjawab, "ini adalah seni, kawan,...seni". Dia tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari seni, bisa jadi semua yang berhubungan dengan air seni yaitu alat kelamin, ....bisa jadi.
Sedangkan dari perspektif Robod, makna seni seperti dimaksud Doblang adalah; seni menjilat ke atas, menginjak ke bawah.

Sudah 2 minggu ini Robod menggerutu kesal, karena bonus tidak dikeluarkan juga oleh perusahaan. Tentu saja jika urusan bonus bukan hanya Robod yang berharap-harap cemas melainkan seluruh karyawan bawahan. Rumor bonus akan dikeluarkan awal bulan ternyata isapan jempol belaka, sampai minggu ketiga bulan itu belum juga ada tanda-tanda bonus akan dikeluarkan. Padahal karyawan seperti Robod sangat mengharap bonus itu untuk membayar ongkos dapur rumahnya agar selalu mengebul, biaya sekolah anak-anaknya dan membayar hutang-hutang dan tagihan rutin lainnya.
Setelah penantian panjang, melelahkan dan membuat putus asa, akhirnya bonus keluar juga di awal minggu bulan berikutnya. Namun Robod kecewa dikarenakan jumlahnya menurutnya sangat jauh dari cukup. Robod menghardik dalam hati, "sialan bonus udah keluarnya lama, pake alasan kondisi keuangan perusahaan sedang lesu, sekalinya keluar cuma segini aja. Ini sih 1 minggu aja bakal habis tak bersisa. Padahal kata Direktur pada waktu acara Family Gathering 3 bulan lalu perusahaan mendapat laba besar, mana buktinya?, omong kosong semua!"

Esok harinya entah mendapat keberanian dari mana, Robod berniat menanyakan langsung kepada atasannya yakni si Doblang, dia sungguh-sungguh berniat secara verbal. Robod mengetuk pintu ruangan Doblang.
"Permisi pak Doblang, saya ada perlu bicara". Doblang mempersilahkan masuk dan duduk kepada Robod dengan raut muka dan tatapan menyepelekan. Robodpun masuk namun menolak duduk.
"Ada apa Rob?", tanya Doblang. "Pak, kenapa bonus saya kecil?", tanya Robod. Nampak raut muka Doblang semakin menyepelekan, kemudian berkata, "kamu udah dapet bonus aja udah bagus, kinerja kamu berantakan gitu. Sudah sering datang kesiangan sering pula minta ijin cuti".
Robod balas menjawab, "loh pak tapi kan semua pekerjaan saya selesai". Mendapat dalih sekenanya dari Robod, Doblang naik pitam, "sampeyan pikir ini perusahaan nenek moyang sampeyan!!??, sampeyan kerja seenaknya aja. Disini tidak sekedar dituntut kerjaan selesai, tapi juga kepatuhan, kedisiplinan, dan jangan lupa yang satu ini integritas sampeyan sebagai karyawan BUMN!!", hardik Doblang. Rupanya Doblang sudah sangat kesal. "Keluar sampeyan !!", sampeyan ini buang waktu saya saja", sambung Doblang.

Robod keluar dari ruangan Doblang sambil menahan amarahnya.

Tak lama kemudian terdengar teriakan, "Woyy Doblang!!, keluar lo !!", ternyata itu Robod.
Parang sepanjang sekitar 30 centimeter digenggam di tangan kanannya. "Anjing lo!, penjahat kelamin lo!, babi rakus!, tuyul kantoran lo!, tikus berdasi lo!, penjilat lo!, lidah basah lo!", rentetan maki Robod kepada Doblang dari luar. Rupanya Robod sudah menyiapkan parang yang terasah dan kemarahannya itu sedari rumah.
"Hari ini kepala lo harus pisah dari badan lo!, dasar pemakan rejeki orang, penindas bawahan, BOSS BANGSAT !!", sambung Robod.
Tiba-tiba Robod mendengar suara istrinya, "ayah bangun yah, udah setengah 7, kerja ga?, masa mau bolos lagi?". Robod pun bangun, bergegas, dia kesiangan lagi.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pestisida, Depresi & Bunuh Diri

Ada yang menarik pada artikel "Kilas Iptek" pada harian Kompas terbitan Jumat 24 Oktober 2014. Isi artikel itu mengatakan bahwa Pestisida tingkatkan risiko depresi dan bunuh diri. Penelitian menunjukan bahwa pestisida mengubah kimia otak petani dengan mempengaruhi kesehatan mental.
Berdasarkan penelitian ahli epidemiologi Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (NIEHS) Amerika Serikat memperlihatkan penggunaan insektisida Organoklorin meningkatkan risiko depresi hingga 90% dibandingkan tanpa pestisida. Sementara penggunaan pestisida dengan Fumigami (pengasapan) meningkatkan depresi sebesar 80%.
Insektisida bekerja mengganggu sel saraf serangga, tetapi pada dosis  tinggi bisa mengubah sel saraf manusia. Penelitian di Brasil, petani pengguna pestisida  lebih mungkin bunuh diri, kemudian di Zhejiang, Tiongkok, warga penyimpan pestisida di rumah berisiko dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri.

Saat ini saya belum mendapat informasi teranyar bagaimana dengan di Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani dan berkebun, apakah penggunaan pestisida masih sedemikian masiv. Kalau iya, semoga petani Indonesia dikuatkan imannya.

-Revolta-
30 Oktober 2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Sisi Gelap Situs Jejaring Sosial

Buat yang suka update status di situs jejaring sosial (social network) semoga lebih bijak kedepannya, tanpa mengurangi rasa hormat dan turut berduka cita kepada korban Almarhumah Ade Sara maupun keluarga yang ditinggalkan, kejadian tersebut semoga menjadi warning buat kita semua agar tidak perlu memposting hal-hal seperti; sedang dimana kita, apa yang sedang kita makan, sedang apa kita dll sbgnya yang intinya keseharian kita.

Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.

Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.

So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.

*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path

Selasa, 18 Maret 2014

PRINCIPAL MALAYSIA


Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan pada momen-momen yang memang sudah menjadi  bagian kehidupan kantoran seperti harus menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.

Tidak jarang saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio – visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka rangkaian kalimat persis yang diinginkan  atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”

Saya coba mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.

 Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib. Saya  bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau meetingnya?”.

Tidak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari divisi lain membuka pintu ruangan; “bro orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.

Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.

Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear, selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9 pagi.”         

Revolta, 16 Maret 2014 

Penjual Kecapi

Hari Sabtu biasanya saya mencuci mobil, setelah seminggu baru hari sabtulah ada waktu untuk mencucinya. Itu pun setelah saya berhasil melawan rasa malas yang sangat. Alhasil waktu mencuci mobil pun tidak lagi bisa dikatakan pagi, sekitar pukul 11 menjelang siang.


Jangan ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah, kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.


Ditengah saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan mencari dari mana suara  berasal.


Di luar pagar rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya. Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih.  Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan merasa iba juga melihat si kakek.


“Ki* !”, saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah kecapi.  Saya lihat plastik kreseknya masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.


“Waduh, kasian banget, udah sepuh banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”, kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak, seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir seikhlasnya.

“Aki metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya lagi. 


Saya tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya pun melanjutkan mencuci mobil.

Malam harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang. Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung jadi iket pinggang, jalannya aga gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.

“Bukan pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.  




Setenk,

Serang, Februari 2014


noted :
  1. Aki = Kakek (sunda)
  2. Aa = Kakak laki-laki (sunda)