1. Bangunlah sebuah kelompok Perkoncoan.
Dalam arti; bangunlah sebuah kelompok hang-out party-party, hura-hura, pijat-pijet yang tujuannya memperat ikatan perkoncoan. Kelompok perkoncoan tersebut hendaknya kemudian mendekat kepada lingkar kekuasaan yakni orang-orang atawa pejabat-pejabat yang sedang dan/atau berpotensi menjabat.
2. Beratkan Kepala.
Dalam arti; tundukkan kepala kalian setunduk-tunduknya apabila bertemu atasan yang kira-kira bisa membantu karir. Bahkan ketika berbicara via telepon pun dengan atasan tersebut, tetap menunduk-nunduk dengan penuh penghayatan seolah-olah berhadapan langsung.
3. "Yes" Man.
Dalam arti; Mau salah-mau bener atasan anda, hendaknya selalu katakan: "enjeh pak/bu" ataw "siapp pak/bu bos" ataw "baik pak/bu", katakan lebih dari sekali ataw berkali-kali dalam satu kali kesempatan.
4. Hilangkan Ijasah.
Dalam arti; nahh.... yang satu ini unik. Biasanya selama masih status Karyawan Paruh Waktu Tertentu (PKWT) ijasah anda akan "ditahan" oleh bagian SDM/personalia. Bagaimana caranya baik sengaja maupun tidak disengaja hilangkan ijasah tersebut, kemudian tanyakanlah secara bertubi-tubi berkesinambungan kepada bagian SDM/personalia.
Maka bagian SDM/personalia akan kelimpungan dan merasa bersalah, sehingga sebagai kompensasi anda bersangkutan akan dinaikkan jabatan bahkan diberikan jabatan struktural.
Selamat Mencoba!!
Katalog
- ANEURYSM (cerita pendek bersambung) (3)
- CATATAN REVOLTA (24)
- Cerita Hari Ini (11)
- Cerita Rock n' Roll (1)
- Rekomen Film (2)
- Review Buku (1)
- Review Film (3)
- Sastra Petir (11)
Selasa, 25 September 2012
Saya Senang Berfikir, Tidak Berarti Simpatisan ILLuminati
Menggunakan RASIONALITAS dan NALAR dianggap simpatisan Illuminati dan berpaham Liberal, berpikir IDE PROGRESIV dicap Yahudi.
Ahh, betapa picik & kejinya sebuah dakwaan tanpa dasar, apalah bedanya dengan fitnah?
Hendaklah bedakan kepatuhan dengan kebodohan dan kematian akal budi.
Ahh, betapa picik & kejinya sebuah dakwaan tanpa dasar, apalah bedanya dengan fitnah?
Hendaklah bedakan kepatuhan dengan kebodohan dan kematian akal budi.
Sabtu, 22 September 2012
KUKURUYUUKKK (bagian 1)
Sore
menjelang malam pukul setengah delapan, sesuai rencana David mengunjungi rumah
Joe. Malam itu band Joe, The Bargels akan mengisi acara panggung seni puncak
acara peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI. Kala itu tahun 1997 adalah peringatan
Dirgahayu kemerdekaan RI ke-52. Siang tadi Joe memberitahukan kepada David ; ” vid, tar malem band gw manggung diacara
tujuhbelasan, lo mo ikut ga?”, kata Joe. “Wah boleh tuh, jam berapa jalan?”, balas David bertanya. “Abis Isyalah, setengah delapanan”, jawab
Joe.
Sesampai dirumah David berpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengutarakan niatnya kepada Joe dan Chris , niat untuk membentuk sebuah band baru. Sebelumnya David adalah seorang penabuh drum pada sebuah band bernama “Detectorz”, sebuah band yang mengusung musik dari band seperti Metallica, Sepultura dan Kreator, sebuah band Metal.
Pada saat itu dalam Detectorz David adalah personil termuda, usianya baru lima belas, sehingga ketika awal tahun 90’an kala itu Alternative menggeliat merajai trend musik dunia yang ditandai oleh munculnya video clip “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana yang digandrungi dan digilai oleh remaja seusianya, maka David ikut terkena “sengatan” Nirvana. Menurut dia video clip dan lagu Smell Like Teen Spirit mewakili jiwanya yang sedang memberontak kepada nilai-nilai yang mengekang entah dari keluarga maupun lingkungan sekitar dan sebagai penawar kegelisahan dalam pencarian jatidiri.
Sesampai dirumah David berpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengutarakan niatnya kepada Joe dan Chris , niat untuk membentuk sebuah band baru. Sebelumnya David adalah seorang penabuh drum pada sebuah band bernama “Detectorz”, sebuah band yang mengusung musik dari band seperti Metallica, Sepultura dan Kreator, sebuah band Metal.
Pada saat itu dalam Detectorz David adalah personil termuda, usianya baru lima belas, sehingga ketika awal tahun 90’an kala itu Alternative menggeliat merajai trend musik dunia yang ditandai oleh munculnya video clip “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana yang digandrungi dan digilai oleh remaja seusianya, maka David ikut terkena “sengatan” Nirvana. Menurut dia video clip dan lagu Smell Like Teen Spirit mewakili jiwanya yang sedang memberontak kepada nilai-nilai yang mengekang entah dari keluarga maupun lingkungan sekitar dan sebagai penawar kegelisahan dalam pencarian jatidiri.
David
kemudian mencoba menciptakan lagu yang bertipe seperti Nirvana dan berulang kali
David menawarkan materi musiknya itu kepada kawan-kawannya di Detectorz namun
selalu ditolak dengan alasan tidak sesuai “aliran”. Bahkan lagu buatannya mendapat
cibiran dari gitarisnya yang memang berskill mumpuni, menurutnya musik
Alternative kurang berskill. Sejak dari situlah ia selalu “mencuri ilmu”
gitarisnya ketika memainkan gitar, tekadnya bulat; “gw harus bisa maen gitar”. Sebenarnya ia bukannya tidak meminta
diajarkan bermain gitar kepada gitarisnya itu, namun ada saja alasan penolakan
dari gitarisnya itu, entah mengapa, yang paling sering dijadikan alasan; “udah,..elo fokus aja di drum”. Diam-diam saat sedang latihan band atau
mengulik lagu, David memperhatikan posisi jari grip kunci gitar saat gitarisnya
memainkannya, kemudian mempraktekannya sendiri, dan diam-diam pula dia berniat
akan keluar dari Detectorz kemudian membentuk band sendiri.
Sampai
tahun 1997, tiga tahun setelah kematian frontman Nirvana, Kurt Cobain yang
tewas pada bulan April 1994, keinginannya menjadi seorang penyanyi sekaligus
gitaris sebagaimana Kurt Cobain tidak pernah padam. Perhatiannya teralih kepada
teman tempat tinggalnya, Joe dan Chris yang tergabung dalam sebuah band.
Beberapa kali David menyaksikan penampilan The Bargels mengcover (memainkan
lagu milik band lain) dari band seperti Collective Soul, The Offspring dan
Radiohead, sebuah band yang mengusung Alternative!!, begitu dalam benak David
girang. “Bandnya lumayan, tapi sayang bawain
lagu orang mulu,..trus vokalisnya ,,…aduhh”, pikir David. Namun diluar hal
teknis tersebut, dia tertarik dengan penampilan bassis dan gitarisnya, Joe
Fellis dan Chris van Gill.
Tepat
setengah delapan malam seperti rencana, rombongan The Bargels plus David
bergerak menuju venue acara Panggung Seni puncak acara peringatan Dirgahayu kemerdekaan
RI. Selain Joe dan Chris, personil lain The Bargels adalah Modjo sebagai
gitaris utama, Dino sebagai drummer dan Lucky sebagai vokalis. Lucky sebagai
vokalis penampilannya bisa dikatakan nyentrik dan selalu berhasil menarik
perhatian orang. Seperti pada malam itu, dia memakai sweater model turtle neck
lengan panjang berwarna hitam, celana jeans yang kependekan dibagian bawah seperti
model celana Michael Jackson alias ngatung
dan robek pada kedua dengkulnya, memakai sepatu basket, tidak ketinggalan kacamata
hitam, berkalung timah bulat-bulat kecil seperti kalung yang dipakai tentara di
medan perang. Rambutnya kriting panjang sebahu dan dicat berwarna merah. Pada
pergelangan tangannya memakai gelang dari akar bahar. Jika ditegaskan penampilannya
lebih mendeskripsikan seperti Paranormal dibanding anak band.
Pembawa
acara sudah di atas panggung, “yah
terimakasih buat adik-adik yang membawakan dance modern barusan,…nahh penonton
semua yang hadir disini pasti udah gak sabar buat acara yang satu ini. sekarang
tiba waktunya penampilan banddd !!!”, demikian kata pembawa acara bersemangat.
Sontak saja mendapat sambutan meriah dari penonton, kali ini sambutannya lebih
meriah dibanding penampil-penampil sebelumnya. “Oke,..ga usah menunggu lama-lama,…kita tampilkan…., The Bargels!!!”
sambung pembawa acara. Kemudian disambut riuh tepuk tangan para penonton. Semua
personil The Bargels naik ke atas panggung, dan yang terakhir naik adalah sang
vokalis, Lucky.
“Suit!! Suittt !!!
huuuuuu!!!....prok-prok-prok!!”, ternyata sambutan kepada sang vokalis lima
kali lebih meriah dibanding untuk personil lainnya. David tertawa geli juga
melihatnya dan tentu saja dia ikut berpartisipasi dalam siulan dan tepukan
tangan heboh seperti penonton lainnya.
“Alloowww,,….pakabar
semuanyaaaa!!?, assalamualaikum!! How ar yu??!”, teriak Lucky menyapa
penonton yang tidak sedikit adalah ibu-ibu itu. “Walaikumsalammm”, balas penonton.
“Kenalkan, kami The Bargels akan mencoba menghibur para penonton semua disini”, sambung Lucky. “Kemudian ia berteriak kembali; MERDEKAAAA !!!” Lagu pertama dimainkan, sebuah lagu dari The Offspring, berjudul Come Out & Play. Entah apa yang didendangkan oleh Lucky, pengucapannya tidak jelas, apalagi lagu tersebut berlirik bahasa Inggris, yang terparah adalah suaranya yang fals tidak senada dengan alunan musik. Namun ketika lagu pertama usai dibawakan tetap saja para penonton heboh dan antusias dengan penampilan The Bargels khususnya penampilan Lucky. Bahkan dari arah dibelakang ada celetukan, “wooiyy, makan apaan siy lo barusan??!!”.
“Kenalkan, kami The Bargels akan mencoba menghibur para penonton semua disini”, sambung Lucky. “Kemudian ia berteriak kembali; MERDEKAAAA !!!” Lagu pertama dimainkan, sebuah lagu dari The Offspring, berjudul Come Out & Play. Entah apa yang didendangkan oleh Lucky, pengucapannya tidak jelas, apalagi lagu tersebut berlirik bahasa Inggris, yang terparah adalah suaranya yang fals tidak senada dengan alunan musik. Namun ketika lagu pertama usai dibawakan tetap saja para penonton heboh dan antusias dengan penampilan The Bargels khususnya penampilan Lucky. Bahkan dari arah dibelakang ada celetukan, “wooiyy, makan apaan siy lo barusan??!!”.
“Okeehh, trimakasihhh, lagu kedua kami akan
membawakan lagu Jamrud yang berjudul Ayam!!”, kata Lucky.
“tikam-menikam sudah tradisi
tak mau tau apa yang
kan terjadi
hanya perkara yang kamu
cari
untuk penuhi hasrat
gila…
kasih saja
abadikan ganti wujud
aslinya
biar dia kan brubah
jadi ayam jantan “…
Demikianlah
lamat-lamat terdengar penggalan lirik lagu Jamrud band yang saat itu digawangi
Krisyanto, Aziz, Ricky Teddy, Sandy dan Fitrah yang merupakan formasi
terbaiknya.
Sekonyong-konyong
terdengar; KUKURUYUUUKKKKK !!!!!!, teriak
Lucky sambil menyeringai lalu kemudian menunjuk ke arah Pak RT dan jajaran tamu
yang duduk di bagian kursi paling depan, lirik “Kukuruyuk” adalah bagian jeda
pada lagu Jamrud tersebut dan di bagian itulah yang paling jelas terdengar
dinyanyikan Lucky dari keseluruhan penampilannya malam itu. Para penonton
terpingkal-pingkal dibuatnya, sampai-sampai ada yang memegangi perutnya. Terlihat
Chris tersipu-sipu malu oleh ulah vokalisnya tersebut. Namun lain dengan Lucky,
ia justru terlihat lebih semangat beraksi panggung, kaki kanannya dinaikkan ke
atas speaker muka panggung sambil tetap bernyanyi dengan kedua tangannya
memegangi stand mick, persis gaya andalan Axl Rose. Akhirnya lagu Ayam tuntas
juga, “terimakasih, terimakasih, sampai
jumpa lagi…I Love You!!”, tutup Lucky kepada para penonton sambil kiss-bye.
“Anjiinngg…., keren banget penampilan lo pada
men”, sambut David di bawah panggung menyambut The Bargels. Wajah Lucky
terlihat sumringah, puas sekali nampaknya dia. Joe hanya bisa cengar-cengir
sambil menyilangkan jari telunjuk kanannya melihat ke arah Lucky. “Mau suara fals, yang penting gaya broo”,
kata Lucky kepada David. “Eh vid, lo mau
minjem kacamata gw?..nih.., banyak cewe man, harus mantap gaya”, sambung
Lucky menawarkan kebaikan kepada David. Rupanya Lucky merasa diatas angin
melihat sambutan penonton tadi. “Ogah
ahh, makasih, gw masih pengen kliatan waras malem ini Luck”, sergah David.
“Hahahaha..”, gelak tawa terdengar.
“Hahahaha..”, gelak tawa terdengar.
Seluruh
rangkaian acara Panggung Seni peringatan Dirgahayu kemerdekaan RI telah
selesai, namun rombongan The Bargels tidak langsung membubarkan diri, mereka
menyempatkan berfoto-foto di sebuah lapangan basket yang berada di tengah
kompleks perumahan tempat tinggal mereka menghabiskan sisa rol film yang masih tersisa
pada kamera.
Jam
menunjukan pukul setengah satu dini hari. “Ok
fren, gw cabut (pulang) ya, ngantuk nih”, celetuk Modjo. “gw juga deh”, sambut yang lainnya
bagaikan meng-amin-i ajakan Modjo. Kecuali David, buru-buru dia berkata kepada
Joe dan Chris; “nongkrong bentaran lagi
yu bro, ngobrol-ngobrol lahh, malem minggu ini”. Sekarang di lapangan
basket itu tinggal ada tiga orang anak muda; David, Joe dan Chris.
“Ada yang pengen gw omongin ke elo bedua”,
kata David mengawali pembicaraan. “Ada apaan
vid”, sergah Chris penasaran. David menyambung pembicaraannya, “sebenernya gw dah merhatiin sepak terjang
band lo The Bargels belakangan ini, cukup keren menurut gw, khususnya gw suka
perform lo bedua. Ok deh,…gini maksud gw”, kata David, ada jeda sejenak
kemudian dia seperti membuang nafas, rupanya dia mencoba merangkai kata terbaik
untuk menyampaikan maksudnya kepada Joe dan Chris. “Gw mo ngajak lo bedua bikin band baru sama gw!, gimana menurut lo?”,
demikian kalimat yang akhirnya diutarakan David. Joe nampak terperanjat
mendengar ajakan yang baru saja diucapkan David, dia menatap teman satu bandnya
Chris, kemudian dia berkata; “ini serius
vid?”. “Dua rius!!”, balas David.
“Detectorz gimana?”, tanya Chris
menyambung. “Gw udah keluar dari
Detectorz, karena ide-ide music gw udah ga sejalan lagi sama Detectorz”,
argumen David. “Trus rencananya di band
yang baru entar lo maen drum, vokalisnya siapa?”, tanya Joe kemudian dengan
beruntun. “Gw jelasin dulu deh,…gw punya
materi lagu buatan sendiri, format sama soundnya yaa deket-deket Nirvana lah,
sebenernya siy ada unsur Sex Pistols juga…Punk Rock. Materi lagu-lagu buatan gw
ga ada yang diterima di Detectorz”, papar David. “Hah, Sex Pistols?!”, tanya Chris.”Iya, Sex Pistols, wah ini band legend man…maut!, salah satu pioneer
Punk, salah satu band yang banyak mempengaruhi musisi rock generasi dibawah
mereka!”, terang David.
Sex
Pistols, adalah sebuah band asal Inggris dibentuk tahun 1975 oleh seorang
manajer bernama Malcolm McLaren, formasi awal personel bandnya adalah Johhny
Rotten – vokalis, Steve Jones – gitaris, Glen Matlock – bassis dan Paul Cook –
drummer, kemudian posisi Glen Matlock digantikan oleh Sid Vicious. Materi dalam
lirik lagu mereka berisikan paham Anarkisme dan Nihilisme, serta menyerang monarki
Inggris. Mereka dianggap membawa jenis musik baru yang “berbahaya”. Istilah punk pun mulai dikenal orang banyak
gara-gara kemunculan mereka. Suatu
kali Steve Jones-gitaris membuat pernyataan yang mempatenkan sebagai imej Sex Pistols;. “We’re not into
music, we’re into chaos!”. Dapat diartikan musik Sex Pistols 90% attitude, selebihnya musik.
“Gw jamin lo bakalan suka Sex Pistols. Eh…, lo
pasti pada suka Nirvana kan?”, tanya David memburu. Joe dan Chris
mengangguk tanda mengiyakan. Kemudian David menyambung,”kalo lo suka Nirvana lo pada musti tau kalo Kurt Cobain dalam buku
harian pribadinya bikin list Lagu en Album favorit dia, nah Album Sex Pistols,
Nevermind The Bollocks adalah salah satu album band favoritnya”, demikian
David menjelaskan lebih lanjut.
Sebenarnya
Joe dan Chris bukannya tidak tahu sama sekali tentang Sex Pistols, mereka
paling tidak sekedar tahu, namun tidak seperti David yang lebih tahu banyak
tentang Sex Pistols, bukan hanya lagu-lagunya tapi juga sejarahnya dan makna
dibalik lagu Sex Pistols. Begitupun Nirvana, David, Joe dan Chris sama-sama sangat
menggilai Nirvana, namun tingkatan “kegilaan” David bisa dikatakan tiga tingkat
diatas Joe dan Chris. David mempunyai semua album rekaman Nirvana, kasetnya,
CDnya, video konser, dan kliping tentang Nirvana yang dia dapatkan dari mana
saja. Adapun Joe, selain Nirvana, kecenderungannya adalah menyukai band-band
rock Indonesia seperti Elpamas, God Bless, Jamrud, Boomerang, Grass Rock, dan
Slank. Sedangkan Chris cenderung menyukai band-band yang disebut “Hair Band”, adalah band-band beraliran
Heavy Metal yang berjaya di tahun 80’an, adalah band-band seperti Skid Row,
Motley Crue, Bon Jovi, Twisted Sister, Poison dan Guns N’ Roses.
“Gw tau, selera musik kita sebenernya sama
lahh, paling engga kita sama-sama suka banget sama Nirvana!”, kata David
mencoba lebih meyakinkan Joe dan Chris. “Yoiii,
gw suka banget Nirvana, gokil tuh band”, setuju Chris. “Gw cocok sama penjiwaan Nirvana, berontak!”,
sambung Joe. “Naaahh kann!!, cocok kita!”,
kata David berbinar-binar. Joe kemudian melanjutkan, “sebenernya gw pengen banget bawain lagu-lagu Nirvana tapi anak-anak ga
ada yang mau, gw doang sama Chris yang suka”. Pada titik ini David tahu dia
menemukan benang merah kesamaan atas selera musik masing-masing yang sedikit
berbeda, Nirvana!.
“Well guys,…gimana ajakan gw?!”, David
kembali kepada inti pembicaraan. Suasana hening sejenak, kemudian Joe berkata,
wajahnya tampak cerah, “gw sebenernya udah
rada males juga sih di The Bargels, ampun dah vokalnya Lucky, fals banget!, ga
pernah bisa masuk nada tu anak. Terus si Modjo terlalu serius anaknya, ga bisa
diajak gokil-gokilan”. Chris seperti jadi tersulut mendengar pemaparan Joe,
“gw suka tipe musik yang soundnya rada-rada
liar, ada storing or feedback di lagu, terusnya tipe lagu yang nada awal tuh
lembut eh pas di bagian reff distorsi galak,..Nirvana gitu kan cirinya”. “Bener banget”, kata David wajahnya
semakin ceria. Sejenak suasana kembali sepi. “Ok deh!!, kita coba dulu, gimana menurut lo Chris?”, Joe memecah
kesunyian sambil menoleh ke Chris. “Gw
siy gimana elo Joe”, kata Chris. “Lah
terus, yang nyanyi sama yang maen drum siapa?”, Joe teringat kembali
pertanyaannya. “Kalo lo ga pada keberatan
gw jadi vokalis sekaligus maen gitar rhytem, nah elo Chris gitar melody,
gimana?”, David mengajukan diri sekaligus meminta persetujuan Joe dan
Chris. Nampak Joe dan Chris mengangguk-angguk, kemudian Chris berkata, “setuju gw!”. “Drumernya?”, tanya Joe lagi. “Danny,
sepupu gw!”, jawab David”.
Danny adalah adik sepupu David yang
kebetulan tinggal satu komplek. Ibunya adalah adik dari ayah David. Tingkat
perekonomian Danny terbilang lumayan, dia memilik satu set drum sendiri di
rumahnya hadiah ulang tahun dari ayahnya. Satu set standar drum merk Tama.
Skillnya lumayan bagus, feelnya kuat, power pukulannya bagus. David pernah
beberapa kali mengajak Danny bermain drum dengannya dan David dan Danny
langsung sama-sama cocok dalam bermusik. Selera musiknya bebas, dalam arti
semua aliran musik dia suka dan dia bisa mengirinya dengan permainan drumnya,
salah satu kelebihan Danny.
“Si
Danny sepupu lo?, wah dia siy maennya bagus banget!!, setuju gw!!”, kata
Joe. “Tapi kan dia rada “anak mami”,
emang dia diijinin sama bokap-nyokapnya nongkrong-nongkrong bareng kita nanti?”,
sergah Chris. “Tenang aja gw bakal
ngomong sama bokap-nyokapnya nanti”, kata David mencoba menjawab keraguan
Chris.
Kemudian
David menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada Joe dan Chris, “ok,
mulai hari ini kita satu band”, kata David, Joe dan Chris sepakat.
Tiba-tiba
mereka tersadarkan oleh suara toa masjid yang mulai mengumandangkan lantunan
salawat, sebagai tanda tidak lama lagi akan masuk waktu shubuh. “Udah jam empat man”, kata Joe. “Wah iya, ga kerasa ya…, ok deh cabs (pulang)
kita?,..oiya, gimana kalo besok malem kita langsung ngulik materi lagu?”,
kata David. “Oke, jam berapa?”, tanya
Chris. “enaknya jam delapanan, di rumah
elo Joe, eh iya Chris lo bawa gitar kopong (sebutan untuk gitar akustik) ya”,
jawab David. “Oke”, kata Joe dan
Chris berbarengan. “Engg…, sekalian nyari
nama band”, sambung Joe cepat. Girang hati David bahwasanya Joe begitu
semangat mengajukan soal penamaan band baru mereka, padahal baru beberapa jam
saja dia manggung dengan bandnya The Bargels, dan baru beberapa saat saja
mereka sepakat membentuk band, David tersenyum kepada Joe.
Di awal pagi yang masih dini, ketiga anak muda itu pulang ke arah rumah masing-masing. Meskipun menahan kantuk, dalam benak mereka ada semacam semangat yang membuncah akan lahirnya sebuah band yang dibenak masing-masing ada pengharapan bahwa mereka akhirnya menemukan kawan band yang benar-benar cocok satu sama lain, sebuah band yang selama ini mereka idam-idamkan.
Lamat-lamat
mulai terdengar ayam jantan berkokok bersahutan menyamput datangnya sang surya,
KUKURUYUUUKK !!, David tertawa
sendiri jadinya teringat aksi panggung Lucky, vokalis The Bargels.
Senin, 14 November 2011
Bunga Kaktus
Tuhan....kenapa Kau jadikan aku seorang pecinta.
Apakah ini perasaan selintas atau benarkah aku mudah jatuh cinta?..aku tak tahu.
Logika menolak, namun hati berontak.
Lalu manakah "setan" dan manakah "malaikat",
manakah "ying" dan manakah "yang"?
Lalu manakah "setan" dan manakah "malaikat",
manakah "ying" dan manakah "yang"?
Dia datang tiba-tiba, bermain dengan perasaan.
Dia sampaikan terlena, tapi kemudian dia menyangkalnya.
Dia memohon pengakuan ku, namun ketika dia dapatkan dia menyanggahnya.
Kemudian tiba-tiba pergi tanpa pesan, namun meninggalkan kesan.
Tutur kata, makian atau mungkin juga pujian nya meresap kedalam benak ku....., yang terdalam?entahlah.
Ku bilang ;.....Sial !! ...kamu mampu membuat ku merindu !
Dia bagaikan bunga..., bunga kaktus. Indah namun sulit diraih karena tumbuh di puncaknya yang tertinggi dan didukung duri-duri pula.
Nah....sekarang dia telah hilang dalam pandangan ku, meskipun tetap tinggal dalam bawah sadar ku.
Senantiasa aku mengingat kata mutiara nya....
"Cinta tidak dimulai dan berakhir sebagaimana yang terpikir oleh kita. Cinta adalah pertarungan, cinta adalah pertempuran dan cinta pun terus tumbuh."
Cinta memang tidak frigid, dia aktiv kemana saja, mencari dan menghinggapi siapa saja, tidak terduga dan terus tumbuh menjadi apa saja yang diinginkannya.
Bobby, 23 Januari 2007
Bobby, 23 Januari 2007
Senin, 04 April 2011
INTO THE WILD
Apakah anda merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang anda jalani atau yang terpikir akan anda jalani?, jika jawabannya ya maka pergilah mengarungi planet bumi yang luas ini, temuilah beberapa komunitas masyarakat dan bergaulah dengan bermacam karakter manusia kemudian menyatulah dengan alam bebas. Namun janganlah diartikan anda lari dari kenyataan, jadikan kepergian anda sebagai arena perenungan dan sebuah usaha untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan hidup.
Itulah pesan yang saya dapat dari film INTO THE WILD. Adalah sebuah film yang mengadopsi perjalanan hidup Christopher Johnson McCandless (12 Februari 1968 – 18 Agustus 1992), seorang pemuda dari keluarga kelas menengah di Amerika yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMU dengan nilai yang sangat baik dan memiliki kesempatan yang terbuka luas untuk melanjutkan studinya ke Jurusan Hukum Universitas Harvard.
Namun alih-alih melanjutkan studi dan menjalani kehidupan penuh ceria dan hura-hura seperti kebanyakan remaja Amerika seusianya, dia malah memilih pergi ke “alam bebas(Into The Wild) ” untuk mencari kebahagiaan hidup yang hakiki.
Terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang secara ekonomi tercukupi, sebuah keluarga yang nampak sempurna ini ternyata menyimpan percikan-percikan ketidak harmonisan diantara Ayah dan Ibu Christopher. Suatu ketika digambarkan kedua orang tuanya bertengkar hebat di depan mata Christopher dan adik perempuannya.
Namun demikian memiliki orang tua yang berlatar belakang pendidikan tinggi maka bisa berarti pula terjaminnya fasilitas mengembangkan intelektualitas seorang Christopher. Christopher terbiasa dan gemar membaca literatur-literatur filsafat dan cerita-cerita roman dari penulis besar, salah satu buku yang sangat mempengaruhi alam pikirnya adalah karya Leo Tolstoy yang berjudul Happy Family.
Kemudian, hari yang selama ini dia idamkan tiba, hari dia memulai “petualangannya”. Dengan berbekal tas ransel besar yang hanya berisi pakaian, matras tidur, buku-buku favoritnya (termasuk buku Leo Tolstoy tadi) dan buku catatan yang akan merekam semua pengalaman dalam perjalannya. Hebatnya dia tidak membawa sepeser uang pun sebagai bekal, bahkan beberapa lembar uang terakhir yang ada dalam sakunya dia bakar.
Dia memulai perjalanannya dari wilayah gurun di Texas, kemudian perbatasan Mexico sampai tujuan akhir yang menurutnya disanalah dia baru akan memulai petualangannya ; wilayah hutan dingin bersalju….Alaska, yang berarti perjalannya tersebut dari wilayah paling selatan USA sampai wilayah utara USA. Dalam perjalan inilah dia menyatu dengan alam dan menemui berbagai macam karakter manusia yang semua itu dia anggap menjadi “guru kehidupan”. Uniknya, selama petualangannya dia mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp.
Seting film ini adalah tahun 1990-an, ketika Presiden Amerika pada saat itu George Bush senior sedang melancarkan Perang Teluk, yang berakibat resesi dalam negri di Amerika, mengakibatkan banyak anak muda frustasi akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, hal mana boleh jadi juga menjadi kegalauan seorang Christopher.
Suatu ketika dalam persinggahannya, dia berdialog dengan seseorang di sebuah bar, orang itu bertanya; “Apa yang sedang kamu lakukan ini?(melakukan petualangan)”, dia menjawab ; “Kamu hanya “hidup”, Ini adalah tentang kau keluar dari masyarakat yang sakit (sick society), karena yang aku tidak mengerti, kenapa setiap orang melakukan hal buruk satu sama lain. Bagiku itu tidak masuk akal. Kemudian atas semua penilaian-penilaian, cara pandang, kendali dari para orang tua, manusia-manusia hipokrit dan politisi-politisi”.
Dari sisi sebuah perjalanan hidup, memang kisah hidup Christopher getir, karena digambarkan kedua orang-tuanya mengerahkan segala upaya untuk mencari keberadaan anaknya Christopher, dan senantiasa merindukan kembalinya Christopher ditengah keluarga. Nasib Christopher pun berakhir tragis, karenakan minimnya pengalaman bertahan hidup di alam bebas (jungle survival) dia terjebak tidak dapat kembali pulang, dan salah memakan tumbuhan hutan yang ternyata beracun.
Namun demikian dari sisi filosofis, Christopher menemukan yang selama ini dia cari, paling tidak kesan itulah yang tersirat dalam guratan terakhirnya di lembar halaman buku Happy Family-nya Leo Tolstoy, yang mungkin sebuah pesan bagi mereka yang membacanya ;
“HAPPINES ONLY REAL WHEN SHARED”.
Jenasah Christopher ditemukan oleh pemburu rusa, dengan perkiraan telah 2 minggu sejak nafas terakhirnya, dia meninggal pada usia 24 tahun.
Sebuah film yang sangat apik dan menginspirasi. Diproduksi tahun 2007, disutradarai oleh Sean Pean, karakter Christopher diperankan oleh aktor muda berbakat Emile Hirsch.
Di film ini selain mata dimanjakan oleh keindahan alam Amerika, telingan pun dimanjakan oleh musik soundtrack yang sebagian besar diisi oleh lagu-lagu bernuansa balada dan folk yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder frontman dari Pearl Jam.
Rabu, 15 Desember 2010
Petugas SPBU itu bernama “Ahmad Dhani”
Senin malam kemarin, aku kebetulan harus pulang kerja aga larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Biasanya aku termasuk karyawan “tenggo” alias jam lima “teng” langsung “go”. “Untuk rapat Board of Direction besok, laporan ini harus selesai sekarang”, demikian atasanku berkata sedari pagi tadi.
Keluar gedung kantor tempatku bekerja cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya temaram lampu penerang jalan dan cahaya pendar berkilauan yang berasal dari gedung-gedung bertingkat lainnya yang bersebelahan dengan gedung kantor kerjaku. Ada perasaan lega dalam hati, karena akhirnya aku selesaikan juga pekerjaan yang bertumpuk tadi, dan ada juga rasa syahdu demi melihat pendar cahaya-cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu gedung yang mencoba melawan gelap pekat alami malam.
Jumlah motor yang ada tempat parkir motor tidak sebanyak lagi dibanding tadi pagi, hanya saja memang ada sekitar dua puluhan motor lagi masih disitu, “pasti orang bagian Akuntansi dan Keuangan”, gumamku dalam hati. Kunyalakan mesin motorku, kudiamkan terlebih dahulu barang satu menit sekedar memanaskan mesin, tak lupa berdoa mohon keselamatan akan perjalanan pulang hingga sampai di rumah dengan selamat, kulirik jam tanganku, menunjukan pukul 8.15 malam, kemudian motor pun ku gas.
Dalam perjalanan pulang, aku menyempatkan untuk mengisi bahan bakar motor yang indikatornya sudah menunjukan posisi merah yang artinya harus segera diisi.
Antrian di gardu pengisian bensin khusus motor cukup panjang, padahal sebentar lagi jam 9 malam. “Jakarta hari senin emang sibuk banget”, kataku dalam hati. Akhirnya tiba giliranku di mesin pengisian bensin, seperti biasa petugas Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum (SPBU) itu menyapa dengan ramah ala iklan sebuah perusahaan minyak milik negara yang slogannya “Pasti Pass”.
“Di posisi nol ya pak”, katanya sambil menunjukan meteran digital pada mesin tersebut. “Ya”, kata saya. Padahal terus terang aku enggan melihat ke arah meteran digital mesin itu sekedar mengecek kebenaran perkataan petugas mesin pengisian bensin yang melayaniku. “Aku percaya ko”, masakan iya ketimbang mengisi bahan bakar 1,5 liter si petugas tega menipu, demikian pikirku.
Selintas mataku tidak sengaja melihat name tage petugas yang mengisi bensin motorku, tertulis.......“AHMAD DHANI”.
“Keren namanya bang,….Ahmad Dhani”, spontan aku sapa petugas SPBU. Dia menjawab, “hehehe…iya pak, namainnya pake bubur merah putih nih”. Salah satu tradisi di Indonesia, para orangtua membuat bubur beras ketan berwarna merah putih kemudian dibagikan kepada sanak family atau tetanga sekitar rumah sebagai ungkapan syukur atas lahirnya anak mereka. Tapi kemudian dia menyambung, “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, katanya sambil senyum kecut seolah-olah metertawakan diri sendiri.
Aga kaget juga aku mendengarnya, kemudian aku menimpali, “jangan gitu bang, biar gitu nama abang pemberian orang tua”.
Aku berlalu dari SPBU itu, tapi pikiranku tertinggal di SPBU tadi. Yang paling teringat dan nyangkut dibenakku dari adalah kata-kata petugas SPBU tadi adalah; “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, sekali terngiang, dua kali terngiang, sampai terus saja terngiang.
Terus terang saja, aku juga belum merasa hidupku “keren”, meskipun namaku bukan “Ahmad Dhani”. Aku seorang karyawan kantor yang kerja berdasarkan perintah atasan dalam bentuk secarik kertas disposisi untuk melakukan ini dan itu, akan baik atau tidaknya hasil kerjaku, aku juga tidak tahu pasti, yang penting aku sudah mengerjakan sesuai bidang keilmuanku. Toh biasanya kebijakan atau keputusan tindakan perusahaan tempat kerjaku dalam operasionalnya merupakan hasil keputusan “top level management”. Apakah keputusan itu berdasarkan review atau rekomendasiku, aku tidak tahu pasti, karena memang tidak pernah diberitahu.
Well…., aku selalu berpikir bahwa kehidupan “8 to 5 world” sebenarnya tidak cocok buat aku yang berjiwa bebas, menolak formalitas dan etika basa-basi.
Maka dari itulah aku tidak pernah berhenti berusaha membuat hidupku lebih “keren” dari sekarang, dan mudah-mudahan aku tidak perlu meratapi nasib sementara ini, buat apa?
Sebenarnya pengen nanya lagi siy ke petugas SPBU tadi, pertanyaan usil, “bang AHMAD DHANI, gimana kabar Mulan Jameelah?” ……heheehe…cabut !
I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I say to myself
What wonderful world
I see skies of blue and clouds of white
Bright sunny days, dark sacred nights
And I think to myself
What a wonderful world
The colors of the rainbow are so pretty in the skies
Are also on the faces of people walking by
I see friends shaking hands saying
How do you do?
They're really saying
I love you
I see babies cry, I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself
What a wonderful world
Yes, I think to myself
What a wonderful world
And I say to myself
What a wonderful world
(what a wonderful world, versi Joey Ramones)
Kamis, 30 September 2010
PALU-ARIT, SENDOK-GARPU, GITAR & PENA
Hari Ini di Jakarta, 45 tahun yang lalu.
Terbilang hari-hari mencari jawaban.
Tetap kelabu....
But lifes (must) goes on
http://id.news.yahoo.com/lptn/20100930/tpl-rekonsiliasi-peristiwa-g30s-pki-e5c0aa3.html
Terbilang hari-hari mencari jawaban.
Tetap kelabu....
But lifes (must) goes on
http://id.news.yahoo.com/lptn/20100930/tpl-rekonsiliasi-peristiwa-g30s-pki-e5c0aa3.html
Langganan:
Postingan (Atom)
