Sabtu, 25 Februari 2017

Rasisme, Malcolm X dan Nation of Islam

Amerika saat ini adalah satu-satunya negara adikuasa juga merupakan salah satu negara besar dan modern. Namun mungkin beberapa dari kita tidak mengetahui, bahwa untuk mencapai taraf kondisi itu, Amerika harus terlebih dahulu mengalami “ujian” di dalam negeri. Selain Perang Saudara (Civil War) di abad 19 antara Utara (Union) dengan Selatan (Konfederasi), di abad 20 pada tahun 60an kembali negara itu mengalami ujian berat. Ujian tersebut adalah RASISME. Sebagai negara yang memiliki sejarah sebagai bangsa koloni yang nenek moyangnya adalah para imigran dari berbagai negara dan bangsa, maka penduduk Amerika terdiri dari berbagai ras; yakni kulit putih (Kaukasian), kulit hitam (Negroid), Latin (Hispanik), Timur Tengah/Arab (Semit), India dan kulit kuning (Asia).

Selepas perang dunia ke 2, situasi global dunia menggeliat dengan bermunculannya gerakan-gerakan kemerdekaan berbagai bangsa-bangsa jajahan (termasuk Indonesia). Gerakan-gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa tersebut dibarengi pula dengan kesadaran kesetaraan hak asasi manusia dan kesetaraan hak sipil berbagai suku-suku bangsa di dunia. Kesadaran hak asasi manusia dan kesetaraan hak sipil tersebut tidak hanya menjangkiti negara-negara yang baru merdeka, di Amerika pun yang selama bertahun-tahun dapat “mengendalikan” soal-soal rasisme dengan superioritas kulit putih, terkena terpaan angin perubahan ini. Kulit hitam di Amerika selama ini adalah sebagai penduduk kelas 2 karena sejarah kehadirannya di Amerika adalah budak yang didatangkan dari Afrika, di tahun 60an mulai terbit kesadaran sebagai manusia yang setara terhadap suku bangsa/ras lainnya. Pada beberapa wilayah Amerika saat itu, kulit hitamnya mulai melakukan pembangkangan atas penindasan dan kesewenang-wenangan kulit putih yang masih memandang kulit hitam adalah bangsa budak.
 
Adalah seorang Malcolm Little yang terlahir dari keluarga kulit hitam Amerika pada 19 Mei 1925. Ayahnya seorang pastur yang kemudian tewas diduga dibunuh oleh pendukung supremasi kulit putih (Klu Klux Klan) saat iya masih kecil. Tidak lama kemudian ibunya harus dikirim ke rumah sakit jiwa akibat shock. Keadaan itu membuat Malcolm kecil harus hidup dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Malcolm tumbuh dengan realita hidup yang sulit dan keras. Saat usia sekolah dia berujar kepada gurunya yang berkulit putih, bahwa sebagai murid yang terpandai di kelas ia bercita-cita menjadi seorang pengacara. Namun sang guru berkata bahwa ia harus mencari cita-cita yang lebih realistis untuk seorang kulit hitam. Gurunya menyarankan ia menjadi seorang yang berprofesi sebagai tukang atau pekerja-pekerja kasar lainnya.


Memasuki usia remaja, Malcolm tumbuh dijalan lingkungan Harlem, kota New York. Ia menjadi remaja yang gemar dengan kehidupan bersenang-senang ala kulit putih. Ia seolah malu akan kenyataan bahwa ia seorang berkulit hitam. Ia berpakaian seperti seorang kulit putih dan berpenampilan seperti layaknya kulit putih dengan mewarnai rambutnya menjadi merah, meski harus melawan rasa panas dan perih dari kimia pewarna rambut.. Untuk menghidupi keperluan sehari-hari ia bekerja sebagai pelayan di kereta api. 

Suatu hari saat berkunjung ke sebuah bar minuman, ia bertemu dengan sekelompok gangster bandar judi. Pimpinan gangster itu mengajaknya bergabung ke dalam kelompoknya. Malcolm menerima tawaran itu. Sejak bergabung dengan gangster itu uang yang ia dapatkan menjadi jauh lebih banyak daripada menjadi pelayan di kereta api, namun ia menjadi lebih dekat dengan kehidupan kriminal, pesta-pesta, minuman keras dan opium. Hingga akhirnya dia bersitegang dengan pimpinan gangsternya, ia diancam dibunuh yang membuatnya melarikan ke Boston. Disana ia membangun “gangsternya” sendiri dan mengangkat dirinya menjadi pimpinan kelompok perampok rumah-rumah orang kaya. Sepak terjang kriminalnya harus berhenti saat polisi menggerebek rumah yang dijadikan markas kelompoknya. Oleh pengadilan dia dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun.

Saat dipenjara, ia melawan perintah seorang sipir penjara yang mengakibatkan dia dimasukan ke dalam sel khusus untuk narapidana yang dianggap berbahaya. Sel khusus itu berukuran sempit dan tanpa cahaya, lebih mirip kandang. Satu-satunya cahaya yang masuk adalah pada saat diberi makan dan minum melalui sebuah celah. Saat sipir memberi makan kepadanya pun tak ubahnya memberi makan seekor hewan. Setelah beberapa hari menderita dalam sel khusus akhirnya ia dikeluarkan juga.

Dititik terendah dalam keadaannya di dalam penjara itulah ia bertemu dengan sesama narapidana berkulit hitam. Ia bernama Baines, atau nama panggilannya Bimbi. Baines berkata kepada Malcolm bahwa ia telah tesesat jalan. Baines bermaksud ingin menunjukan jalan yang lurus kepada Tuhan. Baines ternyata seorang anggota Nation of  Islam, sebuah organisasi yang semua anggotanya merupakan kulit hitam, dipimpin oleh Mr. Elijah Muhammad. Oleh Baines pulalah kesadaran awal Malcolm akan ketidakadilan dan diskriminasi oleh kulit putih diluar sana terbentuk. Baines pun meyakinkan kepada Malcolm untuk tidak malu kepada diri sendiri, mengenal diri sendiri dan memiliki kebanggaan diri sebagai ras kulit hitam. Suatu hari Baines mengajak Malcolm mengunjungi perpustakan dalam penjara itu, kemudian menunjukan sebuah kamus bahasa Inggris. Kemudian Baines menunjukan sebuah halaman yang tertulis makna kata “PUTIH”, ternyata menurut kamus itu arti PUTIH mengandung segala hal yang baik, indah, bagus dan benar. Selanjutnya Malcolm ditunjukan lagi halaman pada kamus itu yang menerangkan makna kata “HITAM”, ternyata menurut kamus itu pula arti HITAM mengandung segala hal yang buruk, kotor, jahat, jelek dan kelam. Menyadari hal tersebut Malcolm menjadi terperanjat, lantas dia bertanya kepada Baines apakah benar demikian adanya makna kata Hitam dan Putih seperti keterangan dalam kamus itu. Baines menjawab, bahwa si pembuat kamus itu adalah seorang berkulit putih. Itulah mengapa pada kamusnya memaknai yang Putih adalah kebaikan, sedang yang Hitam adalah keburukan. 

Semenjak saat itu Malcolm menjadi berbeda, ia mendapat pencerahan. Kemudian ia memapas habis rambut merahnya yang mencitrakan seperti orang kulit putih, ia ingin menjadi kulit hitam sejati. Ia pun menjadi narapidana yang gemar membaca. Selama dalam penjara pula ia mengadakan surat menyurat dengan pimpinan Nation of Islam, Mr Elijah Muhammad. Dalam suratnya Mr Elijah Muhammad mengatakan bahwa agama asli bangsa kulit hitam adalah Islam. Ditambahkannya pula bahwa kulit putih merampas kehidupan kaum kulit hitam dari tanah kelahiran mereka, Afrika. Berdasarkan sejarah, pada saat kulit putih dating ke Afrika, mereka membunuh, menculik dan membuang para lelaki kulit hitam ke belahan dunia Barat dengan menjadikan mereka sebagai budak, juga para wanita dan anak-anaknya terpaksa harus bekerja dan tersiksa sebagai budak sepanjang hidupnya. Mereka menjadikan orang-orang kulit hitam bodoh, dengan tidak mengenalkan bentuk-bentuk pendidikan serta pengetahuan. Secara turun-temurun, budak-budak wanita kulit hitam selalu mengalami perkosaan yang dilakukan terlebih dahulu oleh para agen budak kulit putih. Intinya, kulit putihlah yang sesungguhnya jahat bagaikan setan atau iblis. Kemudian digambarkan bahwa untuk mengisi kekayaan rohani mereka, para agen budak kulit putih itu mengajarkan agama Kristen. Para budak diajarkan dan harus percaya bahwa Tuhan sama dengan kaum kulit putih; berkulit pucat/putih, berhidung mancung, berambut pirang, serta bermata biru. Anggapan seperti itu membuat kaum kulit hitam yakin bahwa kulit mereka yang hitam akibat terkena kutukan Tuhan. 
Melalui surat pulalah Malcolm mendapat bimbingan tentang agama Islam oleh Mr Elijah Muhammad, diajarkannya bahwa Islam adalah penyerahan diri kepada Allah, kewajiban sholat lima waktu, larangan meminum alkohol, larangan memakan babi dan larangan berzinah.
Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam
                                      

Akhirnya Malcolm menyelesaikan masa tahanannya di penjara. Ia langsung berkunjung ke kantor Nation of Islam di kota Detroit untuk bergabung dengan Mr Elijah Muhammad. Di Nation of Islam sesama anggotanya saling menyapa dengan sapaan “Brother” atau Saudara. Dan saat berjumpa dengan sesama akan menyapa “Assalammualaikum”.
Saat bergabung dengan Nation of Islam, dia mengganti nama keluarganya menjadi “X”. X bermakna identifikasi para budak kulit hitam yang dibawa ke Amerika dahulu. Maka jadilah ia seorang Malcolm X.
Kegiatannya di Nation of Islam adalah mempresentasikan misi dan visi Nation of Islam di pinggir jalan layaknya pekerjaan seorang marketing, sambil memberikan brosur undangan untuk menghadiri pertemuan Nation of Islam di Masjid milik mereka.


Suatu hari Malcolm mendapat informasi bahwa ada seorang anggota mereka ditahan oleh kepolisian setelah terlebih dahulu dipukuli para polisi yang menangkapnya. Tanpa berpikir lama Malcolm mendatangi kantor polisi tersebut dengan berjalan kaki diikuti oleh puluhan anggota Nation of lslam yang lainnya. Pada saat berjalan kaki tersebut, warga kulit hitam biasa yang sedang berlalu-lalang melihat rombongan Malcolm itu kemudian berbondong-bondong mengikutinya, hingga barisan anggota Nation of Islam dan warga kulit hitam lain itu menjadi seperti long march massa. Kemudian mereka berbaris dengan tertib di sebrang kantor polisi itu sambil berteriak meminta pembebasan kulit hitam yang ditahan polisi tersebut. Malcolm masuk ke dalam kantor polisi tersebut dan meminta pihak kepolisian membebaskan rekannya itu jika memang tidak ada kesalahan. Akhirnya polisi memenuhi permintaan Malcolm, dan luar biasanya hanya dengan aba-aba jari Malcolm X, para peserta long march kulit hitam itu membubarkan diri dengan tertib. Disinilah kali pertama kharisma dan daya tarik seorang Malcolm X diketahui orang banyak. Berdasarkan kejadian itu pula Mr Elijah Muhammad mengangkat Malcolm X menjadi salah seorang menteri dalam organisasi Nation of Islam.
Malcolm X
                                                                   
Tugas Malcolm X sebagai menteri cenderung menjadi juru bicara dari Nation of Islam. Dia pun ditugasi berdakwah ke seluruh penjuru Amerika utara. Karenanya tidak heran seorang Malcolm X namanya semakin membumbung tinggi bagaikan seorang publik figur. Seorang Malcolm X senantiasa mengobarkan semangat harga diri kulit hitam untuk menolak ditindas oleh kulit putih, menolak selalu menundukan kepala saat berhadapan dengan kulit putih dan ia berseru agar pemuda kulit hitam meraih pendidikan setinggi mungkin. Saat berpidato di podium Malcolm X benar-benar menjadi singa podium. Hanya saja dalam menyampaikan dakwah dan menjadi juru bicara, ia wajib berbicara sesuai doktrin Nation of Islam dan harus selalu menjunjung tinggi seorang Elijah Muhammad sebagai pemimpin Nation of Islam. Namun demikian, alih-alih ia dan Nation of Islam sangat anti rasisme kulit putih Amerika, dalam ujarannya ia malahan bersikap rasis, sangat anti kulit putih. Ia berdakwah bahwa kulit putih adalah setan atau iblis dan Elijah Muhammad adalah utusan Allah. Berbeda dengan rekan sesama pejuang pembela hak asasi kulit hitam Dr. Martin Luther King yang menghendaki kesetaraan kulit hitam dengan kulit putih di Amerika, Malcolm X menawarkan solusi ala Nation of Islam atas masalah rasisme di Amerika yakni dengan pemisahan total antara kulit putih dengan kulit hitam.


Sorotan media membuat seorang Malcolm X menjadi publik figur, bahkan melebihi ketokohan Elijah Muhammad pimpinan Nation of Islam itu sendiri. Dari media pula akhirnya terbit berita yang mengabarkan perihal tidak sedap. Media memberitakan bahwa tiga orang wanita sekretaris pribadi Mr Elijah Muhammad melahirkan anak dari benih Elijah Muhammad. Malcolm X yang sejak dalam penjara menganggap Elijah Muhammad adalah seorang figur panutan, menjadi goyah pandangannya akan integritas seorang imam dari Nation of Islam. Apalagi ia membuktikan sendiri bahwa ternyata benar apa yang menjadi berita di media dengan mendatangi para sekretaris pribadi Elijah Muhammad tersebut. Namun demikian oleh ajudan Elijah Muhammad ia diingatkan bahwa Elijah Muhammad hanya manusia biasa, dan Malcolm harus membedakan antara Elijah Muhammad sebagai pemimpin Nation of Islam dengan kehidupan pribadinya. Malcolm harus menerima itu. 

Pada 22 November 1963, terjadi sebuah tragedi yang membuat bangsa Amerika tersentak. Presiden John F Kennedy ditembak pada saat kunjungan di kota Dallas. Amerika berkabung Nasional. Pada sebuah kesempatan Malcolm X dimintakan komentarnya atas peristiwa tersebut oleh wartawan, lalu dia mengatakan ;      
                                              “Anak-anak ayam masuk ke kandang”.
Maknanya kurang lebih; kekejaman kulit putih akhirnya memakan sendiri seorang kulit putih sebagai kepala negara.

Pernyataan Malcolm X tersebut membuat geger Amerika karena dianggap pernyataan kontroversi disaat negara sedang berkabung. Karena dianggap mencoreng nama baik Nation of Islam, Malcolm X dijatuhkan hukuman langsung oleh Elijah Muhammad, dia dilarang berbicara atau mengeluarkan pernyataan kepada media atau publik selama 90 hari. Hukuman berbicara itu termasuk juga larangan berdakwah di kalangan sendiri

Atas pemberhentiannya tersebut membuat Malcolm X mengundurkan diri dari Nation of Islam, ia pun mendirikan perkumpulannya sendiri yang ia namakan Muslim Mosque Inc.
Pada saat konferensi pers ia berkata bahwa sejak saat itu semua pernyataannya merupakan pernyataan dirinya sendiri dan tidak ada hubungan lagi dengan Nation of Islam. Sejak ia menyatakan mundur dari Nation of Islam, ia dan keluarga kerap mendapat caki-maki hingga teror ancaman pembunuhan melalui telpon rumah bahkan suatu malam rumahnya dilempari bom molotov. Untuk memenangkan hatinya atas permasalahan berat yang ia hadapi, ia melakukan perjalanan ke tanah Arab sekaligus menunaikan ibadah haji di Mekah.


Saat di Mekah dalam rangkaian ibadah haji, ia menuliskan kesannya berdasarkan pengalamannya di sana, yang ia tujukan kepada istrinya. Kutipannya sebagai berikut ;

Hari ini aku tiba di tanah Arabia. Aku tidak pernah menyaksikan keramahan yang sedemikian tulus dan persaudaraan sejati seperti disini, di tanah kuno dari Ibrahim, Muhammad SAW dan nabi-nabi besar lain yang tertulis dalam kitab suci.
Hari ini dengan ribuan orang lainnya aku memproklamirkan kebesaran Allah di kota suci Mekah. Aku mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Aku minum dari sumber mata air zam-zam. Aku berdoa kepada Allah di gunung Arafat. Itu adalah satu-satunya waktu dalam hidupku aku berdiri dibawah Sang Pencipta dan merasa menjadi manusia yang seutuhnya.


Kau mungkin terkejut dengan kalimat ini, …… aku makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan berdoa kepada Tuhan yang sama dengan sesama Muslim yang bermata biru, yang berambut pirang dan berkulit seputih-putihnya. Dan kita semua saudara sejati. Orang-orang dengan semua warna dan ras percaya kepada satu Tuhan dalam ikatan kemanusiaan. Setiap jam di tanah suci ini memberiku pandangan spiritual yang lebih besar daripada yang ku alami di Amerika

Dulu aku telah membuat dakwaan menyamakan semua kulit putih, dan akhirnya generalisir itu melukai perasaan beberapa sahabat kulit putih yang sepatutnya tidak layak menerimanya. Kelahiran kembali diriku secara spiritual yang telah ku alami sebagai buah dari berhaji ke kota suci Mekah adalah ……, aku tidak ingin lagi membuat dakwaan menyamakan sebuah ras. Aku memilih untuk sangat berhati-hati menyatakan seseorang bersalah sebelum terbukti kesalahannya.  

Aku bukan seorang rasis dan tidak akan menganut rasisme apapun. Dengan segala kejujuran dan ketulusan aku menyatakan bahwa yang aku inginkan hanyalah kebebasan, keadilan dan persamaan. Hidup, kemerdekaan dan tercapainya kebahagiaan untuk semua orang.

Saat ini, konsentrasi utamaku dengan perkumpulan dimana aku didalamnya, untuk kami sendiri tidak lain membela hak-hak mutlak kami. Namun demikian penerapan Islam yang benar dapat mengangkat kanker rasisme dari hati dan jiwa semua orang Amerika. Jika aku mati dengan membawa cahaya bagi mereka untuk mengabarkan kebenaran yang akan membantu melenyapkan penyakit rasisme ini, maka semata-mata itu karena Allah, Tuhan Semesta Alam. Sedangkan semua kesalahannya datangnya dari diriku.

Salam,
El Hajj Malik El-Shabazz ……
Malcolm X 


Beberapa saat kemudian setelahnya kepulangannya dari berhaji, ia bersama teman-temannya mendirikan organisasi baru bernama Organization of Afro-American Unity (OAAU). OAAU mendeklarasikan berdirinya organisasi tersebut di gedung pertemuan di kota New York. Hadir dalam deklarasi tersebut istri beserta anak-anaknya, sahabat-sahabat pergerakan yang sepaham dengannya, wartawan dan para tamu lainnya serta masyarakat umum.
Saat tiba giliran Malcolm X berbicara di podium, dari barisan kursi belakang ada seseorang membuat kegaduhan dengan melemparkan sebuah bom asap, hingga membuat suasana dalam gedung itu panik. Saat perhatian peserta deklarasi terfokus pada suasana gaduh, tiga orang kulit hitam maju ke depan menghampiri Malcolm X di podium dan memberondong tembakan kepadanya. Malcolm X ditembaki di depan istri dan anak-anaknya.

Malcolm X tewas pada 21 Februari 1965, ia tewas sebelum sempat menyampaikan kepada khalayak yang lebih luas lagi perihal pandangan-pandangan barunya dan solusi barunya atas masalah rasisme di Amerika. Namun demikian semangatnya, cita-citanya dan perjuangannya membela hak-hak asasi kaum hitam yang tertindas menjadi inspirasi bagi kaum kulit hitam siapapun, dimanapun dan apapun agamanya, bahkan menginspirasi siapapun tanpa mengenal warna kulit para pejuang melawan penindasan.

referensi :
1. Buku :
2. Film: Malcolm X. rilis 1992. directed by Spike Lee. distributor: Paramount Picture

TUHAN & GAMBARAN


 Saya teringat masa kecil dulu, kira-kira usia Sekolah Dasar. Ada sebuah permainan yang waktu itu di tempat saya dinamakan “gambaran”. Gambaran berbentuk selembar karton persegi panjang dengan ukuran kira-kira 30x15cm, yang terdiri dari gambar-gambar dalam kotak ukuran lebih kecil lagi kira-kira ukuran 6x3cm.


Gambar-gambar itu harus kita gunting sendiri menjadi satu-satu berbentuk seperti kartu. Biasanya (kalau tidak salah ingat) akan mendapat 36 kartu, yang memang ada nomor pada tiap-tiap gambar dalam kotak yaitu 1 sampai 36. Setahu dan seingat saya produsen mainan gambaran ini adalah “Gunung Kelud”, the one and only.   
Gambar pada lembar gambaran bisa bermacam-macam tema; ada cerita film, ada gambar tokoh pewayangan, gambar binatang dan yang paling favorit bagi saya dan teman-teman anak laki-laki adalah tentu saja gambar super hero seperti Superman, Batman, Spiderman, Hulk, Godam, Wonder Woman dan lain-lain. Cara bermain gambaran sepanjang yang pernah saya mainkan bersama teman-teman diantaranya adalah Tepokan; pemainnya berjumlah dua orang. Permainan yang satu ini, pemilihan kartunya oleh masing-masing pemainnya (disebut gacoan) adalah berdasarkan penilaian subyektiv si pemain. Maksudnya begini, misalnya menurut saya Spiderman adalah tokoh super hero yang paling keren, paling jagoan, paling hebat, banyak keunggulan, ya saya pilih gacoan kartu bergambar Spiderman. Cara bermainnya cukup sederhana, dua pemain saling berhadapan kemudian kartu gacoan diletakan ditelapak tangan masing-masing. Telapak tangan para pemain kemudian ditepukan kepada telapak tangan pemain lawan, seperti melakukan toss (hi-five). Saat kartu jatuh ke tanah (atau ke lantai) akibat pemain bertepukan, maka kartu siapa yang posisinya saat jatuh ke tanah dalam keadaan terbuka, maka dialah pemenangnya. 
Cara bermain yang lainnya adalah Saweran. Seperti namanya, cara bermainnya ya dengan cara disawer. Saweran bisa dimainkan lebih dari dua orang. Menentukan pemenangnya mirip dengan Tepokan, yakni kartu yang begitu jatuh di tanah dalam posisi terbuka, dialah pemenangnya. Namun bedanya, saweran bisa dimainkan ramai-ramai bersama teman-teman maka rasanya lebih seru dan menyenangkan. Para pemain memilih kartu gacoan berdasar gambar super hero favorit masing-masing; ada yang memilih Spiderman (saya ^_^), ada yang memilih Hulk, ada yang memilih Superman, ada yang memilih Iron Man, ada yang memilih Thor dan lain sebagainya. Kartu-kartu gacoan pemain dikumpulkan kepada salah satu pemain yang kemudian dia melemparkan kartu-kartu itu ke udara. Maka kartu-kartu pun berhamburan bagaikan daun kering yang rontok dari pohon.
Bayangkan jika peserta pemainnya lebih dari 5 orang, rasanya sangat menyenangkan saat melihat kartu-kartu yang berhamburan. Dan saat yang paling mendebarkan adalah ketika kartu-kartu itu mendarat di tanah, masing-masing pemain akan mencari gacoannya, apakah posisinya terbuka atau tertutup. Jika kartu gacoan bergambar super hero pilihannya dalam posisi terbuka girang rasanya hati. Tapi hingga belum didapatkan kartu gacoan yang hanya satu-satunya terbuka saat mendarat di tanah, belumlah ada pemenang. Maka dalam satu putaran, kartu-kartu dapat disawer beberapa kali hingga didapatlah satu-satunya kartu yang posisinya terbuka saat mendarat di tanah yang mana dialah pemenangnya, dialah jagoannya. Bagi yang gacoannya akhirnya menjadi satu-satunya yang terbuka, rasanya bangga sekali, seolah super hero pilihannyalah paling hebat. 
Biasanya selepas bermain gambaran, karena kartu-kartu gambaran kami bertema super hero atau jagoan, maka saya dan teman-teman melanjutkan bermainan gambaran tadi, tapi bukan memainkan kartunya namun membahas kehebatan masing-masing super hero yang menjadi jagoan pilihan masing-masing kami. Kami membahas sampai bahkan berdebat tentang kelebihan, kehebatan dan keahlian masing-masing super hero pilihannya. Misalnya bagi saya Spiderman itu keren, tangannya bisa mengeluarkan jaring, bisa menempel di tembok dan bisa menjerat lawan-lawannya. Dibalas oleh teman saya sebagai pengagum Superman, dia bisa terbang, matanya bisa mengeluarkan cahaya yang bisa menghancurkan benda-benda dan kebal peluru. Kemudian teman saya yang lain tidak mau kalah, super hero jagoannya adalah Hulk, tubuhnya kekar dan besar, tenaganya dahsyat, kebal peluru juga. 
Sampai akhirnya kami “saling menyerang” kelemahan super hero pilihan teman lainnya. “Spiderman apaan?, ga kebal peluru”, begitu cela teman saya. Saya tidak mau kalah tentunya, “Superman yang payah. Dikasih batu kripton doang semua kekuatannya ilang”, balas saya. “Hulk yang lucu, kalo udah ga marah jadi balik lagi ke orang biasa lemah, mana tinggal make celana pendek robek-robek doang lagi”, cela teman lain kepada yang memilih Hulk sebagai jagoannya. Hati rasanya dongkol juga sih mendapat cela-celaan kedapatan kelemahan jagoan-jagoan kami itu. Tapi herannya tiap celaan kelemahan kepada jagoan kami tetap saja jadi bahan tertawa bareng, ya paling tidak mencoba tetap tertawa walau dalam hati tetap dongkol juga. 
Jika jagoan utama kami habis dibahas kehebatan dan keunggulannya dan tentu saja kelemahannya, kami akan mencari jagoan lain yang akan dibanggakan. Misalnya saya setelah menjagokan Spiderman, jagoan alternativ saya adalah Flash, dia gerakannya sangat super cepat. Lalu teman saya jagoan alternativnya adalah Batman, dia misterius dan peralatannya canggih. Demikian teman-teman saya yang lainpun tidak ketinggalan mencari jagoan lainnya. Babak selanjutnya ya kembali lagi,…. cela-celaan mencari kelemahan jagoan pilihan teman lainnya, selanjutnya ya tawa berderai lagi. 
Acara membahas (dan saling mencela) jagoan kami ini tidak kalah serunya dengan memainkan gambaran dengan cara Tepokan atau Saweran, kami mengandalkan nalar dan pengetahuan kami untuk bisa mempresentasikan kelebihan jagoan pilihan kami tersebut, bahkan saat mencela kelemahan super hero jagoan pilihan teman lain pun kami mengandalkan logika dan nalar. Tapi sedang asik-asiknya acara “debat terbuka” itu ada saja salah seorang teman yang akhirnya berkata ; “ayo nih, Jagoan gue ga bakal pada bisa lo kalahin; ….. ALLAH !”. Serentak semua diam, tak bisa membantah atau malahan tidak ada yang berani membantah. Kebetulan saya dan teman-teman semua beragama Islam, siapa yang tidak sungkan dan bergetar hati mendengar kalimat ALLAH. Secara iman dan aqidah memanglah tidak terbantahkan, tapi masalahnya acara yang seharusnya tema dan konteksnya adalah bermain jadi langsung terasa tidak seru lagi, tidak menyenangkan lagi. Untuk beberapa saat suasana jadi hening, kemudian ada yang menyeletuk, “ah elo mah maennya Tuhan-nan”. Akhirnya acara bermain gambarannya malahan jadi bubar, semua pulang ke rumah masing-masing. 
Keesokan hari atau lusa, kembali lagi kami bermain gambaran. Yah, namanya juga anak-anak…. banyak seru-seruan, tapi ada juga momen ga serunya. Tapi tetap saja permainan gambaran super hero itu menyenangkan dan seru !

Jumat, 30 September 2016

PASANGAN MARUSHKA.Bagian 3.(selesai)



Pemandangan lepas pantai Samudera Hindia menghampar luas dihadapan kami. Ombaknya cukup tinggi dan angin kencang menderu, tipikal lautan di pesisir selatan Jawa, ditambah pula di bulan September telah masuk musim penghujan, angin jadi lebih kencang bertiup. Untung saja hari itu tidak hujan, namun langit sedikit mendung sehingga matahari tidak terlalu panas penyengat, padahahal sudah lewat tengah hari, sekitar pukul setengah dua siang. Kami diatas sebuah permukaan tanah yang lebih tinggi sekitar 3 meter dari pasir pantai, sehingga untuk ke pantainya harus menuruni bukit pasir. Motor kami tinggalkan saja terpakir diatas. Saat menuruni bukit saya berkata kepada Maria, “Maria, ini saat yang tepat mengatakan HATI-HATI, perhatikan langkahmu”. Maria tersenyum, kemudian Andre membantunya turun.

“Waw…. This is great!!”, Andre dan Maria seperti terpana. Saya tahu ini bukan pantai pertama yang mereka lihat, namun untuk orang yang tinggal dibelahan bumi yang tidak memiliki pantai dan laut pastilah setiap kali melihat pantai dan laut ada sensasi tertentu yang mereka rasakan. Kemudian Andre melepaskan sendal gunungnya, diikuti Maria melepas sendal jepitnya, sementara saya tetap mengenakan sepatu sneakers. “Bobby, ayo kita berjalan”, kata Andre. “Kita jalan?, kemana?, terlalu jauh”, saya merasa ragu. Justru malahan mereka yang seperti benar-benar ingin menyatu dengan alam. “Kita jalan sekuat kaki melangkah saja”, ajak Andre. Pantai Bagedur memiliki garis pantai yang sangat panjang, mungkin kira-kira 15 kilometer, saya belum pernah menyusurinya dari ujung satu ke ujung satunya, terlalu jauh. Bagian pantai Bagedur yang kami kunjungi ini tidak ada satupun warung, sepi, sisi seberang pantai adalah hutan belukar pohon pandan pantai. Jika saya sendirian, ada sedikit gentar juga berjalan menyisiri pantai. Tapi heran, saat itu saya merasa tenang saja berjalan bertiga, padahal mereka orang asing dan baru saja saya kenal. Mungkin juga mereka berpikir rasa yang sama seperti saya. 

Kira-kira telah berjalan 20 menit sambil diselingi obrolan ringan, saya menghampiri seorang nelayan yang sedang mencari ikan dengan cara melepas jaring dari pantai. “Pak”, saya menyapanya . Si bapak nelayan tersenyum. “tos meunang sabaraha laukna pak? (sudah dapat berapa ikan pak?)”, tanya saya dalam bahasa sunda. “Kakarak lima a (baru lima)”, jawabnya. “Ikan layur?”, tanya saya lagi. “Sanes, anu biasa weeh, teu acan usimna (bukan, ikan biasa, belum musim layur)”, jawabnya. Andre menyela obrolan saya dengan bapak nelayan, “ada apa bobby?, ada masalah?”. “Tidak, saya hanya mengajak ngobrol bapak nelayan ini, dia bilang baru mendapat lima ikan”, terang saya kepada Andre. “Hello mister”, sapa Andre kepada bapak nelayan, “Haiy”, Maria ikut menyapa juga. Yang disapa cuma menoleh sedikit dan hanya senyum tersipu-sipu saja, sambil melanjutkan pekerjaannya. 

Andre kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu, sebuah kain lebar lebih seperti permadani. “Apa fungsinya membawa ini jika tidak digunakan”, katanya sambil kemudian membentangkannya. “Ayo kita duduk bobby”, Andre mempersilahkan. Sejadinya kami duduk saja diatas pasir beralaskan kain lebar, saya dan Andre duduk bersampingan menghadap lautan sementara Maria setengah merebahkan tubuhnya dibelakang Andre seperti berjemur, mereka terkesan begitu spontan menikmati keindahan alam yang kapanpun tanpa diduga tersaji dihadapan mereka dalam petualangan mereka. Suasana jadi hening sejenak dari suara kami, hanya terdengar suara alam dari deburan ombak dan tiupan angin. Sambil menyaksikan sebuah tayangan langsung yakni kegiatan bapak nelayan yang sedang menjaring ikan. Kemudian Andre memecah diam kami, “Mengapa nelayan itu menutup semua bagian kepalanya, sehingga hanya terlihat wajahnya saja?”. Bapak nelayan itu memang menutup hampir seluruh kepalanya dengan kaus oblong yang bagian lubang untuk kepala dia gunakan untuk wajah, sedang bagian lengan kaus diikatkan menyimpul dibelakang lehernya, seolah-olah seperti pakaian penyelam. “Saya rasa dia bermaksud  melindungi seluruh kepalanya dari sengatan matahari, karena dia akan bekerja seharian penuh mencari ikan di pantai ini”, jelas saya. Andre mengangguk, tanda paham.

Kemudian ganti saya bertanya, tentang Slovakia. Andre kemudian menggambar sesuatu diatas pasir pantai dengan jari telunjuknya sebagai alat tulis, menjadi seperti sebuah pulau. “Kurang lebih ini adalah benua Eropa”, dia kemudian menerangkan maksud gambarnya. Kemudian dia membuat semacam batas-batas berkelok-kelok diatas gambar benua Eropa versinya itu. Dengan menggunakan telunjuknya menjadi pointer, “ini adalah Polandia, ini adalah Austria, ini Ceko, ini Hungaria, ini Ukraina, tepat ditengah-tengah inilah Slovakia”, dia memutar-mutar jari telunjuknya seperti bor di pasir ketika menunjuk kira-kira letak negaranya sehingga jadi membentuk lubang kecil. “Slovakia memiliki empat musim, jika musim dingin salju bisa mencapai segini”, deskripsi Andre dengan telapak tangan kanannya diatas tanah kira-kira 50 senti dari pasir pantai. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, dia bilang berenang di kolam berenang sudah merupakan rekreasi yang berharga disana, bahkan dengan ukuran kolam renang yang tidak besar. Maria menambahkan keterangan, dia bilang disana sangat dingin dibanding disini, maka itulah dia bilang saat ini dia merasa sedikit kegerahan. Terlintas di benak saya, “kegerahan?, di cuaca mendung dengan angin kencang di pinggir pantai seperti ini?, pantas saja begitu tiba di pantai Maria langsung melepas baju jaket cardigannya, hanya memakai kaus “you can see-nya””.

Mereka pun menjelaskan secara singkat negara-negara Eropa lainnya, termasuk laut Mediterania yang menjadi pemisah alam antara daratan Eropa dengan Afrika dan Jazirah Arab. “Jadi Menurut kalian negara Eropa mana yang paling ramah kepada pendatang?”, tanya saya. Sejenak Andre tampak berpikir, “hmm… Nederland, masyarakatnya baik dan terbuka. Disana marijuana legal!”. Saya pikir Andre akan mengatakan Perancis yang utama, karena sejarah peradaban negara Perancis sependek pengetahuan saya ada andil dari para imigran Muslim yang banyak berasal dari Timur Tengah diantara Maroko, negara itupun multi ras. Universitas Sorbone yang terkenal sebagai “altar ilmu pengetahuan” pastilah mempengaruhi alam pikir rakyat Perancis kebanyakan, menjadi pribadi-pribadi yang open-minded atau berpikiran terbuka. Dan Paris!, pusat seni dunia, kota cahaya, terkenal dengan gaya hidup bohemian ciri khas seniman, bebas dan egaliter. Tapi Nederland?, alias Belanda?, negara yang pernah lama menjajah Indonesia?, Andre mengatakan Nederland, ….boleh jadi juga. Saya teringat dari artikel dan literatur-literatur lainnya yang pernah saya baca bahwa akibat dari kejadian 30 September 1965, tidak sedikit pelarian politik (eksil) karena diburu oleh rezim Orde Baru mereka tidak dapat pulang ke Tanah Air, akhirnya memilih menjadi warga negara Nederland, yang artinya negara itu menerima pelarian politik Indonesia. Tapi bukankah di Nederland ada tokoh sayap kanan seorang Geert Wilders yang anti imigran khususnya imigran Muslim?. Meskipun saya pun tahu sedikit banyak, di Perancis pun ada seorang Brigitte Bardot, pesohor legendaris yang sering membuat pernyataan sentimen berbau menolak imigran Muslim di Perancis. Saya tidak tahu pasti kondisi Eropa sejatinya, toh saya belum menginjakkan kaki kesana, baru berdialog dengan dua orang penduduk Eropa yang berkunjung ke Indonesia. Bagaimanapun, lagi-lagi informasi bahwa di Belanda marijuana legal cukup menarik.        

“Oya Andre, masih mengenai Eropa, saya jadi teringat sesuatu. Setelah kejadian teror beberapa waktu lalu di Perancis dan Belgia, bagaimana sikap masyarakat Eropa pada umumnya terhadap Muslim?, apakah benar disana menjadi phobia terhadap Islam?”, tanya saya kali ini dengan pertanyaan yang sedikit serius. Saya lihat Andre menggelengkan kepalanya, kemudian bibirnya sedikit melengkung ke bawah seolah ditarik dan kedua bahunya mengangkat, “Sebagian besar bangsa Eropa sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi, siapa mereka sebenarnya pelaku terornya. Mungkin ada sebagian yang merasa phobia dan curiga terhadap Muslim, tapi tidak bisa dibilang semua. Is the Media!, television! (saat mengatakan ini Andre dan Maria hampir berbarengan). Media televisi lah yang menjadikan keadaan jadi semakin buruk dengan pembentukan opini-opini mereka. Saya pribadi lebih memilih membaca berita dari internet ketimbang televisi, karena dengan internet saya bebas memilih berita atau artikel yang ingin saya baca dan tahu”, demikian papar Andre. Saya menanggapi paparan Andre, “Ya, mereka para pelaku teror itu tidak berhak mengatasnamakan dan mewakili Muslim dan Islam keseluruhan, dengan pandangan radikalisme mereka. Saya sebagai Muslim tidak merasa diwakili mereka. Saya tidak suka paham sektarianisme dan radikalisme”.
“Menurut kamu, bagaimana dengan di Indonesia sendiri?”, Andre balas bertanya. Saya mengemukakan pendapat saya kepada Andre, bahwa kenyataannya memang Indonesia masih harus belajar tentang toleransi beragama. Tapi saya meyakini bahwa sebagian besar dari generasi saya dan setelah saya akan membuat Indonesia yang lebih baik dan damai, well … saya berharap.   


Maria kemudian bertanya kepada saya, “apakah kamu sudah ke Mekah Bobby?”. Saya menangkap maksud pertanyaannya, Maria menanyakan apakah saya sudah naik haji. “What?!”, belum..belum.., saya belum siap”, jawab saya setengah tertawa. “Kenapa?”, tanyanya lagi. Saya jawab, “menurut saya ketika ke Mekah untuk berhaji tidak hanya menuntut kesiapan materi, saya pribadi lebih menitik beratkan kesiapan mental dan moral”.
“Pergi ke Mekah salah satu kewajiban Muslim bukan?”, tanya Andre. Terus terang saya sedikit terkejut dengan pertanyaan Andre, dia bisa mengetahui sejauh itu. Akhirnya saya terangkan tentang “Rukun Islam” atau kepada mereka “The Pillars of Islam” secara urut, yaitu dimulai dari kalimat syahadat, sholat lima waktu , puasa Ramadhan, zakat, dan berhaji jika mampu. Bahkan tiap satu dari lima rukun tersebut sedikit saya jabarkan keterangannya. Mereka mendengarkan dengan seksama.


Diskusi mengasyikan kami sedikit terpotong oleh “commercial break”, si bapak nelayan pamit pulang, “mangga sadayana abdi bade uih heula (mari semua saya pulang dulu)”. “Oh Muhun pak, mangga (iya pak, silahkan)”, balas saya.

Kamipun melanjutkan diskusi. Andre bertanya tentang sejarah Indonesia, saya jelaskan semampu saya tentang kedatangan bangsa-bangsa Barat menjajah Indonesia yang dahulu disebut East Indies, Samudera Pasai Kerajaan Islam pertama di Indonesia, penyebar Islam pertama di tanah Jawa oleh Sembilan Wali, sampai penjajahan Jepang yang hanya kurang lebih 3 tahun. 

“Saya melihat saat dalam perjalanan ke Malingping, anak dibawah umur menikmati rokok. Apakah di Indonesia anak kecil diperbolehkan merokok?”, tanya Maria. Kemudian dilanjutkannya, “sebab di negara saya jika melihat anak dibawah umur merokok maka orang tua akan memukul kepalanya (Maria memperagakan dengan menggerakan telapak tangannya dengan gerakan seperti smash tenis meja). Apakah begitu mudah dan murah mendapatkan rokok di Indonesia?”. Merasa malu juga saya mendapat pertanyaan seperti itu, tapi tetap saya jawab, “tentu saja anak dibawah umur tidak diperbolehkan merokok, tapi memang aturan pemerintah atas larangan merokok kurang ketat. Indonesia ini kan tanahnya subur, semua tanaman industri dapat tumbuh, itulah mengapa dahulu bangsa barat dimulai dari Spanyol sampai terakhir Belanda menjajah Indonesia, untuk mengambil rempah-rempah, dan hasil tanaman perkebunan seperti gula, karet, kopi, teh, cengkeh dan tembakau. Tanaman cengkeh dan tembakau tumbuh subur di Indonesia, itulah mengapa di Indonesia banyak produksi rokok dan rokok mudah didapat”.
 #Jawaban terakhir adalah jawaban berbau pembenaran atas pertanyaan mengapa anak dibawah umur bisa bebas merokok di Indonesia. :P


“Heiy guys, sepertinya kita harus kembali ke motor kita. Kita meninggalkannya terlalu lama”, ujar saya, sedikit khawatir. Sebenarnya sedari awal tiba di pantai saya tidak terpikir berjalan kaki menyusuri pantai, melainkan mencari jalan yang bisa dilalui motor sehingga bisa bermotor ria diatas pasir pantai. Tapi kedua sahabat baru saya ini memilih berjalan kaki. Apalagi saat menoleh kepada titik kami awal berjalan sampai ditempat kami menggelar permadani dan mengobrol ternyata cukup jauh, tidak terasa karena terlalu asyik mengobrol mungkin. “Ok, lets go back”, Andre menyetujuinya, kain permadani dilipatnya dan dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
Saat perjalanan kembali, Andre mengeluarkan sesuatu lain dari tasnya. Sebuah kamera DSLR, dia mengambil beberapa foto pemandangan pantai Bagedur dan lautan. Tiba-tiba dia berseru, “heiyy lihat!, ada ikan terdampar”, sambil menunjuk ke pantai. Saya melihat seekor ikan ukuran sedang menggelepar di pasir pantai karena terseret ombak. Andre menyerahkan kamera yang dipegangnya kepada Maria dan berlari menuju ikan itu. Dia menangkap ikan itu perlahan dengan kedua tangannya, kemudian berjalan sedikit ke laut hingga setinggi betisnya, ikan itu kemudian dilepaskan ke dalam air. Tidak itu saja, beberapa langkah kemudian dua kepiting yang sepertinya sekarat di pasir pantai pun dia tangkap dan dia lepaskan ke dalam air. Nice.


Tiba di tempat kami memarkir motor, Andre mengajak saya berfoto dengannya, Maria yang mengambil gambar. Kemudian saya menawarkan diri mengambil foto mereka berdua sebagai kenang-kenangan telah mengunjungi daerah “in the middle of nowhere”, pantai Bagedur, Malingping, Banten, Indonesia.
Andre dan Maria kemudian berpose, mereka duduk pada motornya masing. Kemudian telapak tangan mereka disatukan seperti akan berpegang tangan, tapi ternyata jari tangan mereka berdua membentuk hati.

                                                               saya & Andre


                                                              “Marushka Couple”
Saat perjalanan pulang, formasi berkendara sama persis pada saat berangkat. Kemudian kembali Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan saya, dan dia berkata, “heiy Bobby!, apakah kamu minum kopi?”. “Ya, tentu”, jawab saya. “Ayo kita ke kafe, “chala-chala””, katanya sambil lengan kirinya mencontohkan orang yang sedang meneguk minum dari gelas. “Chala-chala?, apa itu”, tanyaku dalam hati. Saya menerka, itu pasti istilah di India yang berarti minum kopi bersama sambil beramah-tamah. Mereka kan baru saja menghabiskan 6 bulan berkeliling India. Berbeda dengan saat berangkat tadi siang, pada perjalanan pulang banyak orang-orang yang menyapa dan melambaikan tangan kepada Andre dan Maria, “Hello Mister!!”, sapa orang-orang itu. Andre dan Maria membalas dengan lambaian tangan orang-orang yang menyapa mereka, “Hello!, hello!”. Mungkin dikarenakan hari sudah sore maka orang-orang lebih banyak keluar rumah sekedar berleha-leha. Sambil tertawa saya berkata kepada Andre, “they don’t see people like you everyday”.

                                           Kopi Cap Kupu-Kupu (#support your local coffe!)


Saya menghentikan motor pada sebuah warung kopi di pinggir jalan raya. Tentu saja tidak ada kafe di Malingping, hanya warung kopi biasa, bangkunya berupa dipan bambu. Namun demikian saya melihat wajah Andre dan Maria sumringah, terlihat senang. Warung itu hanya menyediakan kopi instan pabrikan dengan bungkus renceng yang digantungkan menurut nama merek pasarannya. Diantara bungkus kopi itu saya melihat bungkus kopi yang khas ada di Banten, khususnya Banten Selatan. Kemasannya terkesan vintage, tidak modern, tapi kopi ini menjadi favorit kebanyakan masyarakat pecinta kopi di wilayah Banten Selatan karena rasa dan aromanya yang beda dari kopi merek “terkenal”. Meskipun kemasan sachet juga tapi tidak bergula, jadi jika ingin ditambah gula atau susu atau apapun, tergantung selera masing-masing. Nama kopinya “Kupu-kupu”.  “Kalian harus mencoba kopi khas Banten ini”, saran saya kepada mereka. Mereka setuju, Maria minta diseduh dengan gula, sedang Andre tanpa gula. Tapi saya memesan teh saja, karena merasa dahaga.

Kopi disuguhkan, mereka meminumnya perlahan, “is good!”, kata mereka. Tak lama kemudian Andre bertanya, “Bobby, mengapa dalam bahasa Indonesia ada kalimat yang diulang, seperti HATI-HATI, KUPU-KUPU?”. Mendengar pertanyaan tak diduga itu, saya jadi tertawa. Selama ini saya tidak memikirkannya. Mestinya memang ada penjelasannya pada pelajaran Bahasa Indonesia saat jaman sekolah dulu tapi mungkin saya absen, atau ketiduran pada saat guru menerangkan. Dengan menyesal untuk pertanyaan Andre yang satu ini saya jawab, “I’m sorry, I don’t know”. :D. 

Tak terasa hari sudah menjelang maghrib. Maria mengajak, “kita harus kembali”. Kemudian Andre membayar semua minuman, kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Setiba di pusat kota Malingping, mereka berhenti pada sebuah toko serba ada, sepertinya hendak membeli beberapa keperluan sebagai akomodasi melanjutkan perjalanan panjang mereka keesokan hari. Menurut mereka, setelah mengunjungi Sawarna mereka akan melanjutkan perjalanan jelajah Pulau Jawa hingga tujuan akhir mereka adalah Pulau Bali. Saya memparkirkan motor di pelataran rumah makan keluarga istri saya yang letaknya di seberang persis toko serba ada itu, setelah itu saya menghampiri mereka. Andre mengulurkan tangan bersalaman dengan saya, “Bobby terimakasih atas hari ini, it was great times”. Kemudian dia menyerahkan sebuah kartu nama berlogo “m”, bertuliskan nama mereka berdua: “Maria Slezakova (photographer, post production, graphic designer)” dan” Andrej Matias (copywriter, photographer, technical support), lengkap dengan alamat surel dan Facebook page. Mereka menamai perusahaan yang mereka kelola itu MARUSHKA, dengan theme line: “Travel & Love & Photography”.

Kemudian dia melanjutkan berkata, “jika kamu nanti ingin bertanya perihal Eropa silahkan hubungi kami di email atau facebook. Sebaliknya jika saya ingin bertanya tentang Indonesia saya akan hubungi kamu”. Saya jawab, “tentu saja, dengan senang hati”. Andre menyambung, “atau siapa tahu suatu saat kamu berkunjung ke Eropa, jangan ragu hubungi saya, mungkin saya bisa bantu kamu selama di Eropa”. Kemudian dia mengeluarkan buku notesnya kembali, “alamat email kamu dan nama asli kamu?”. “Maksud kamu Andre?, Bobby is my real name”, jawab saya. “Oh, sorry, saya pikir seperti pengalaman di India juga di Thailand, mereka kebanyakan menggunakan nickname mereka dengan alasan supaya mudah diingat”, terang Andre. Andre kemudian menulis nama, alamat surel dan facebook saya pada buku notesnya. Mengajak bersalaman lagi, “Thank you Bobby”. Kemudian ganti Maria bersalaman dan mengucapkan salam perpisahan dengan saya. Kepada Maria kembali saya berpesan, “HATI-HATI Maria”. Dia tersenyum. Saya bersiap menyeberang, saat menoleh, mereka masih berdiri seperti terpaku seolah melepas kepergian saya, kemudian Maria melambaikan tangannya. Padahal di awal saya menawarkan diri mengantar mereka atau istilah kerennya menjadi guide ke tempat-tempat menarik di Malingping mereka bilang, “tidak mengapa biar kami saja yang jalan, tunjukan saja arah jalannya, kami khawatir mengganggu waktu dan schedule mu Bobby” (terus terang saya heran, sebagai orang barat ternyata mereka memiliki etika ketimuran, “ga enakan”, khawatir mengganggu waktu orang). “No problem, its ok. hari ini saya sedang off, lagi pula saya senang memiliki teman baru, apalagi teman dari bangsa lain”, balas saya.  









Waktu saya meminta ijin memposting foto-foto hasil perjalanan kami di blog saya, Maria malah menawarkan tambahan foto ini ke saya. Maria menyampaikan bahwa para spg minimarket ini mengajak mereka berfoto. Maria & Ado dengan senang hati meladeni permintaan foto mereka, dan berganti berfoto dengan menggunakan kamera Andre.
Foto ini mereka posting di fanpage facebook Marushka. Ada caption berbahasa Slovakia dalam foto itu yang saya coba artikan dengan bantuan google translate :). Saya menangkap kesan mereka ingin mematahkan Islamphobia di Eropa sana khususnya kepada rekan mereka sesama warga Slovakia tentunya. 



                                                                          -SELESAI-
                             


                                                                         

Rabu, 28 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 2



“Ok, lets go!”, balas saya kepada Andre. Kami berkendara dengan 3 motor masing-masing dengan motornya sendiri. Melaju perlahan saja dengan posisi berbaris, saya paling depan, Andre, kemudian paling belakang Maria. Saat melaju, tidak lama Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan motor yang saya kendarai, saat sejajar dia bilang, “nice helmet” sambil kemudian tertawa. Tentu saja dia bercanda menyindir, karena saya tidak mengenakan helm hanya mengenakan topi trucker. Di kota kecil ini aturan mengenakan helm bagi pengendara motor tidak terlalu ditegakkan oleh kepolisian wilayah jika tidak ingin dikatakan tidak ditegakkan sama sekali, kesadaran masing-masing pengendara motor saja. Saya tertawa, “Ah tidak perlu, saya merasa bebas tanpa helm”, jawab saya ngeles.

Karena tujuan pertama yakni pantai Bagedur jalan menuju kesana melewati rumah keluarga istri saya, saya ajak saja mereka sekedar mampir dulu, biar melihat langsung atau bertamu ke rumah penduduk Indonesia pikir saya. “Kamu tahu Bobby, ini pertama kalinya saya bertamu ke rumah penduduk negara yang saya kunjungi”, sahut Andre. “Ah…tepat perkiraan gw”, kata saya dalam hati. Kami di teras samping rumah saja.
“Heiy Bobby, itu pohon pisang bukan?”, tanya Andre sambil menunjuk. “Ya”, jawab saya. “Waw”, sambungnya. “Kamu tahu, di negara saya makan pisang sesekali saja, biasanya dihari istimewa semisalnya hari Natal. Itupun paling banyak 2 buah saja”, sambungnya lagi. Giliran saya berkata “waw”, tapi dalam hati saja, mengingat di Indonesia ini jika ingin bisa setiap hari makan pisang.

Kemudian Andre bertanya lagi, “dalam perjalanan kesini saya melihat pada sebuah pohon dengan plastik yang menggantung, terlihat seperti kondom, apakah itu?,apakah itu sebuah kepercayaan tertentu penduduk disini, semacam ritual?”. Saya bingung, pohon dengan plastik menggantung seperti kondom?, mencoba menerka-nerka. “Ohh…itu…, itu membungkus melindungi buah yang ada didalamnya agar tidak dimakan oleh kelelawar pemakan buah”, jawab saya menerangkan. “Hmm…saya rasa bukan itu, terbungkus plastik menggantung seperti kondom”, sanggah Andre. Saya semakin mengenyritkan dahi. Seketika saya teringat metode stek pohon, hingga saya meralat keterangan sebelumnya kepada Andre, “Ooh ya…, itu adalah sebuah metode untuk mendapat tanaman baru, dengan cara mengelupas kulit luar tanaman induk kemudian dibungkus dengan tanah, didiamkan beberapa hari sampai tumbuh akar, sehingga terbentuklah tanaman baru. Metode itu disini disebut stek”, jawabku berteori layaknya pakar botani lulusan IPB. “No, no, no, no….., kamu tidak mendengarkan saya Bobby”, sanggahnya lagi, kali ini dengan gerakan jari telunjuk tangan kanannya persis seperti gerakan pembersih kaca depan mobil. “Nanti mungkin diperjalanan menuju pantai kita akan melihatnya. Kita jalan sekarang?”, ajaknya kemudian.

Kamipun melanjutkan perjalanan dengan posisi berkendara persis seperti di awal berangkat. Tak beberapa lama, lagi Andre mensejajarkan laju motornya dengan motor saya, kemudian dia berkata, “Indonesia is a Moeslim country right?”. Saya jawab,” mayoritas penduduknya, ya”. “Apakah kamu Muslim Bobby?”, tanyanya lagi. “Ya”, jawab saya. “Assalamualaikum”, sapanya sambil kemudian tersenyum. “Waalaikumsalam”, balas saya, ganti saya tersenyum.

Sepanjang perjalanan mereka disuguhi pemandangan yang mesti sangat jarang mereka lihat, sehingga terdengar celetukan Andre; “water buffalo!” alias kerbau, “paddy field!” alias sawah, “rice!” alias beras atau nasi, “coconut tree!” alias pohon kelapa, dan “banana tree!” alias pohon pisang lagi. Sementara saya sedikit-sedikit menanggapi celetukan Andre sambil tetap berpikir mencari jawaban tentang pohon dengan plastic menggantung seperti kondom. Hingga saya teringat sesuatu, “AHA!!”, lebih seperti seruan “Eureka!!”. Tidak salah lagi, saya rasa saya tahu “pohon kondom” yang Andre maksud . Hingga akhirnya pada sebuah rumah penduduk, di batang pohon yang dipasang didepan rumah, saya menoleh kepada Andre dan menyerunya, “Heiy Andre, yang kamu maksud pohon ini kan?!”, tanya saya sambil menunjuk kepada sebuah pohon yang digantungi banyak plastik es mambo yang diisi air warna-warni. “Ya, benar!!”, jawabnya semangat sambil mengacungkan ibu jarinya. Saya jelaskan kepada Andre bahwa itu semacam dekorasi pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 pada tanggal 17 Agustus bulan lalu. Di wilayah Banten, mungkin khususnya Banten Selatan, kebiasaan unik masyarakatnya meramaikan suasana perayaan kemerdekaan RI adalah dengan cara demikian. Puas rasanya hati saya, memecahkan misteri “pohon kondom”.
               
   

                                                       There's your "Condom Tree" Andre :)


Malingping, Banten selatan merupakan daerah pesisir pantai selatan. Memiliki garis pantai yang membentang panjang, dari arah ujung barat yakni dekat Ujung Kulon, sampai ke arah Bayah yang berbatasan dengan Sukabumi yang sudah masuk provinsi Jawa Barat. Sehingga sangatlah banyak pantai yang bisa bebas disinggahi. Beberapa pantai ada juga yang dikomersilkan, berbayar, salah satunya ya pantai Bagedur. Meskipun sebenarnya ada banyak “pintu masuk” ke pantai itu tanpa harus bayar, dari arah mana saja, bagi yang mengetahuinya tentu saja. Tidak ada pagar tembok tinggi atau pagar kawat berduri, hanya saja memang terdapat “pagar alam” berupa semak belukar pandan, gundukan pasir pantai yang meninggi secara alami, pepohonan alami maupun kebun ataupun perkampungan penduduk. 

Ketika melihat ada petugas jaga di gerbang pintu masuk (terkadang tidak ada petugas jaga), saya mengajak Andre dan Maria memutar balikkan motor untuk memasuki pantai Bagedur tidak melalui gerbang pintu masuk yang terdapat loket bayar, saya pikir selain pantai seharusnya tidak dimiliki perseorangan maupun institusi, saya juga kurang ikhlas jika harus membayar retribusi tanpa jelas kompensasi yang diterima pengunjung, ya paling tidak kompensasinya kebersihan pantai terjaga. #Padahal saya ngeles, pengen gratisan aja :D.
Tapi Andre setuju juga dengan pendapat saya, “why we must pay for public beach?”, gitu pendapatnya. Boleh jadi dia sudah muak oleh sistem kapitalisme ala barat yang apa-apa musti bayar, apa saja bisa menjadi komoditas.
“Oke Andre and Maria, don’t worry… I know another way to the beach. Follow me!”, saya ajak mereka menerabas masuk lewat sisi perkebunan.
Hingga sampailah juga ke pantai Bagedur dari sisi yang lebih alami, tidak ada warung-warung semi permanen dan tidak pengunjung lain, seolah-olah pantai milik kami bertiga.     

(bersambung-)