Pada sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antah berantah, bekerjalah disana beratus karyawan. Manajemen menanamkan serta senantiasa menggembor-gemborkan sebuah jargon yang berbunyi ; I-N-T-E-G-R-I-T-A-S.
Tidak banyak yang paham betul makna kata integritas itu sendiri, sekalipun kebanyakan karyawan dari BUMN itu sendiri, bahkan ironisnya para pejabatnya sekalipun. Lebih gila lagi si pencetus jargon integritas itu sendiri tidak sungguh-sungguh paham maknanya.
Suatu kali direktur BUMN tersebut menginstruksikan bahwa perusahaan harus bersih dari kegiatan kolusi, yakni menggunakan atau menghalalkan segala cara demi tercapainya laba perusahaan termasuk diantaranya melakukan penyuapan kepada sebuah institusi tertentu agar mendapat kemudahan ijin usaha. Pokoknya semua tindakan perusahaan harus mengedepankan etika dan moralitas serta konsekwen menerapkan prinsip tata kelola perusahaan pemerintah yang baik dan benar.
Hingga suatu saat di penghujung tahun pada bulan Desember si direktur BUMN memberikan sebuah instruksi kepada bagian operasional. Instruksinya adalah memberikan tenggat waktu sampai pertengahan bulan Januari tahun depan untuk mendirikan unit usaha di 15 titik tempat bagaimanapun caranya.
Tentu saja para staf operasionalnya sudah mahfum apa yang mesti dilakukan demi mewujudkan keinginannya si direktur, yaitu dengan cara menyuap institusi pemberi ijin usaha.
Maka pada tenggat waktu yang ditentukan olehnya, 15 gerai unit usaha pada 15 titik tempat pada tanggal 15 bulan januari, si direktur BUMN tersebut dengan bangga meresmikannya.
Adalah Robod, seorang karyawan level bawah BUMN tersebut sangat muak akan retorika dan omong-kosong yang selama ini berlangsung di perusahaannya. Karirnya mandeg sedangkan tuntutan kehidupan dan kewajiban menafkahi keluarga demikian menghimpitnya. Setiap hari hanya keterpaksaan yang mengharuskan dia tetap bertahan bekerja di BUMN tersebut, itupun sudah banyak hari dia absen membolos kerja dengan berbagai alasan seperti; sakit, mengantar anak sekolah atau imunisasi, mengantar orangtua, mengantar istri bekerja, kendaraan mogok, kompleks rumahnya kebanjiran sampai dengan alasannya yang paling unik dan berkarakter adalah kepalanya tidak sengaja menghantam pintu lemari kamarnya sendiri. Ketika sebagian besar orang merasa kesusahan jika banjir melanda lingkungan tempat tinggal, namun tidak bagi Robod, banjir adalah momen yang membahagiakan karena dia mendapat alibi yang mutlak untuk tidak bekerja.
Menurutnya buat apa jadi karyawan rajin kalau para atasannya "Bangsat" semua.
Bangsat, adalah sebuah kata makian yang ditujukan kepada seseorang yang sangat menyebalkan. Ada juga sebagian masyarakat di Indonesia yang menyebut jenis serangga kecil penghisap darah yang hidup pada busa kasur maupun sofa, biasanya serangga jenis ini menyerang dan menggigit bagian bokong atau pantat. Konon rasa gigitannya sangat perih dan gatal, ketika digigit serangga kecil ini sering kali hardikan si korban ; "bangsat !!".
Adalah Doblang, salah seorang manajer pada BUMN tersebut. Sebagai salah seorang pimpinan alias boss divisi pada BUMN berintegritas tersebut tentu saja dia kerap memarahi dan menegur bawahanya yang menurutnya tidak disiplin, dia tidak suka kepada bawahannya yang pulang kantor mendahuluinya meskipun memang sudah jam pulang kantor normal. Karena menurutnya semua karyawan harus loyal kepada perusahaan termasuk dalam hal memberikan waktu lebih kepada perusahaan, jikalau perlu harus mengkorbankan waktu berkualitas untuk diri sendiri maupun waktu berkualitas bersama keluarga.
Doblang pernah berkata kepada jajaran bawahannya yang resah; "jangan selalu mempertanyakan apa yang perusahaan beri kepada kalian, tanyakanlah apa yang sudah kalian beri kepada perusahaan ini".
Tentu saja soal-soal timbal balik kontribusi karyawan-atasan kepada perusahaan menjadi sesuatu yang absurd pada BUMN tersebut. Bagaimana tidak, ketika para atasan selain mendapat gaji sebagaimana golongan kekaryawanannya, mendapatkan juga tunjangan jabatan seperti; uang tunjangan jabatan, kendaraan roda empat untuk operasional beserta penggantian bahan bakarnya, pulsa untuk telepon genggamnya, penggantian biaya parkir dan tol, biaya entertainment relasi, belum lagi pendapatan dari proyek-proyek tender yang memang pejabat seperti Doblang memiliki akses kesana.
Keadaan itu berbanding terbalik dengan kondisi karyawan bawahan yang mendapat upah hanya dari gaji pokok dan transport yang sangat "pas", ...... "pas" akhir bulan "pas"-ti habis uang atau bahkan "pas" untuk 2 mingguan saja.
Sudah menjadi rahasia umum pada BUMN tersebut bahwa sebagian besar mereka yang mendapat jabatan sebagai boss adalah mereka yang bisa dekat secara pribadi kepada orang-orang yang sedang menjabat dan hasil "jaringan pertemanan" yang dikuatkan. Bukan "jaringan pertemanan" biasanya tentunya, karena entah sejak kapan dimulainya di BUMN itu para boss memiliki hobi mencari kenikmatan di tempat pijat dengan bumbu seks, karaoke dengan bumbu seks, golf dengan bumbu seks, intinya semua kenikmatan hidup berbumbu seks. Mereka berdalih hal itu wajar dan layak sebagai upaya meredakan ketegangan setelah bekerja keras mengejar omzet besar perusahaan.
Apakah semua kenikmatan itu dengan biaya sendiri?, tentu tidak, selama bisa dibuat dalih "meng-entertaint relasi" maka semua kenikmatan itu menjadi beban tanggungan perusahaan.
Apakah para istri mereka tahu kelakuan para suaminya itu?, tentu (mungkin) tidak, sepanjang para istri terus dilenakan dengan uang dan kemewahan lainnya, biasanya para istri senang dan tenang saja.
Kembali kepada soal "jaringan pertemanan", adalah model pertemanan yang kerap pergi bersama biasanya di akhir pekan hari kerja untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan berbumbu sekslah yang malah mendapat peluang menjadi pejabat atau boss pada BUMN tersebut.
Kemudian yang paling penting dari semua hal jika ingin berkarir cemerlang, harus pandai menyenangkan hati boss, melayani kemauan bos dan jangan pernah mengatakan tidak kepada semua kebijakan, instruksi ataupun keinginan boss meski buruk sekalipun.
Suatu kali Doblang ditanya oleh rekan sejawatnya apa rahasia selalu mendapat jabatan dan mempertahankannya. Sambil tersenyum Doblang menjawab, "ini adalah seni, kawan,...seni". Dia tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari seni, bisa jadi semua yang berhubungan dengan air seni yaitu alat kelamin, ....bisa jadi.
Sedangkan dari perspektif Robod, makna seni seperti dimaksud Doblang adalah; seni menjilat ke atas, menginjak ke bawah.
Sudah 2 minggu ini Robod menggerutu kesal, karena bonus tidak dikeluarkan juga oleh perusahaan. Tentu saja jika urusan bonus bukan hanya Robod yang berharap-harap cemas melainkan seluruh karyawan bawahan. Rumor bonus akan dikeluarkan awal bulan ternyata isapan jempol belaka, sampai minggu ketiga bulan itu belum juga ada tanda-tanda bonus akan dikeluarkan. Padahal karyawan seperti Robod sangat mengharap bonus itu untuk membayar ongkos dapur rumahnya agar selalu mengebul, biaya sekolah anak-anaknya dan membayar hutang-hutang dan tagihan rutin lainnya.
Setelah penantian panjang, melelahkan dan membuat putus asa, akhirnya bonus keluar juga di awal minggu bulan berikutnya. Namun Robod kecewa dikarenakan jumlahnya menurutnya sangat jauh dari cukup. Robod menghardik dalam hati, "sialan bonus udah keluarnya lama, pake alasan kondisi keuangan perusahaan sedang lesu, sekalinya keluar cuma segini aja. Ini sih 1 minggu aja bakal habis tak bersisa. Padahal kata Direktur pada waktu acara Family Gathering 3 bulan lalu perusahaan mendapat laba besar, mana buktinya?, omong kosong semua!"
Esok harinya entah mendapat keberanian dari mana, Robod berniat menanyakan langsung kepada atasannya yakni si Doblang, dia sungguh-sungguh berniat secara verbal. Robod mengetuk pintu ruangan Doblang.
"Permisi pak Doblang, saya ada perlu bicara". Doblang mempersilahkan masuk dan duduk kepada Robod dengan raut muka dan tatapan menyepelekan. Robodpun masuk namun menolak duduk.
"Ada apa Rob?", tanya Doblang. "Pak, kenapa bonus saya kecil?", tanya Robod. Nampak raut muka Doblang semakin menyepelekan, kemudian berkata, "kamu udah dapet bonus aja udah bagus, kinerja kamu berantakan gitu. Sudah sering datang kesiangan sering pula minta ijin cuti".
Robod balas menjawab, "loh pak tapi kan semua pekerjaan saya selesai". Mendapat dalih sekenanya dari Robod, Doblang naik pitam, "sampeyan pikir ini perusahaan nenek moyang sampeyan!!??, sampeyan kerja seenaknya aja. Disini tidak sekedar dituntut kerjaan selesai, tapi juga kepatuhan, kedisiplinan, dan jangan lupa yang satu ini integritas sampeyan sebagai karyawan BUMN!!", hardik Doblang. Rupanya Doblang sudah sangat kesal. "Keluar sampeyan !!", sampeyan ini buang waktu saya saja", sambung Doblang.
Robod keluar dari ruangan Doblang sambil menahan amarahnya.
Tak lama kemudian terdengar teriakan, "Woyy Doblang!!, keluar lo !!", ternyata itu Robod.
Parang sepanjang sekitar 30 centimeter digenggam di tangan kanannya. "Anjing lo!, penjahat kelamin lo!, babi rakus!, tuyul kantoran lo!, tikus berdasi lo!, penjilat lo!, lidah basah lo!", rentetan maki Robod kepada Doblang dari luar. Rupanya Robod sudah menyiapkan parang yang terasah dan kemarahannya itu sedari rumah.
"Hari ini kepala lo harus pisah dari badan lo!, dasar pemakan rejeki orang, penindas bawahan, BOSS BANGSAT !!", sambung Robod.
Tiba-tiba Robod mendengar suara istrinya, "ayah bangun yah, udah setengah 7, kerja ga?, masa mau bolos lagi?". Robod pun bangun, bergegas, dia kesiangan lagi.
Katalog
- ANEURYSM (cerita pendek bersambung) (3)
- CATATAN REVOLTA (24)
- Cerita Hari Ini (11)
- Cerita Rock n' Roll (1)
- Rekomen Film (2)
- Review Buku (1)
- Review Film (3)
- Sastra Petir (11)
Senin, 03 November 2014
Jumat, 31 Oktober 2014
Pestisida, Depresi & Bunuh Diri
Ada yang menarik pada artikel "Kilas Iptek" pada harian Kompas terbitan Jumat 24 Oktober 2014. Isi artikel itu mengatakan bahwa Pestisida tingkatkan risiko depresi dan bunuh diri. Penelitian menunjukan bahwa pestisida mengubah kimia otak petani dengan mempengaruhi kesehatan mental.
Berdasarkan penelitian ahli epidemiologi Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (NIEHS) Amerika Serikat memperlihatkan penggunaan insektisida Organoklorin meningkatkan risiko depresi hingga 90% dibandingkan tanpa pestisida. Sementara penggunaan pestisida dengan Fumigami (pengasapan) meningkatkan depresi sebesar 80%.
Insektisida bekerja mengganggu sel saraf serangga, tetapi pada dosis tinggi bisa mengubah sel saraf manusia. Penelitian di Brasil, petani pengguna pestisida lebih mungkin bunuh diri, kemudian di Zhejiang, Tiongkok, warga penyimpan pestisida di rumah berisiko dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri.
Saat ini saya belum mendapat informasi teranyar bagaimana dengan di Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani dan berkebun, apakah penggunaan pestisida masih sedemikian masiv. Kalau iya, semoga petani Indonesia dikuatkan imannya.
-Revolta-
30 Oktober 2014
Berdasarkan penelitian ahli epidemiologi Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (NIEHS) Amerika Serikat memperlihatkan penggunaan insektisida Organoklorin meningkatkan risiko depresi hingga 90% dibandingkan tanpa pestisida. Sementara penggunaan pestisida dengan Fumigami (pengasapan) meningkatkan depresi sebesar 80%.
Insektisida bekerja mengganggu sel saraf serangga, tetapi pada dosis tinggi bisa mengubah sel saraf manusia. Penelitian di Brasil, petani pengguna pestisida lebih mungkin bunuh diri, kemudian di Zhejiang, Tiongkok, warga penyimpan pestisida di rumah berisiko dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri.
Saat ini saya belum mendapat informasi teranyar bagaimana dengan di Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani dan berkebun, apakah penggunaan pestisida masih sedemikian masiv. Kalau iya, semoga petani Indonesia dikuatkan imannya.
-Revolta-
30 Oktober 2014
Kamis, 23 Oktober 2014
Sisi Gelap Situs Jejaring Sosial
Buat yang suka update status di situs jejaring sosial (social network) semoga lebih bijak kedepannya, tanpa mengurangi rasa hormat dan turut berduka cita kepada korban Almarhumah Ade Sara maupun keluarga yang ditinggalkan, kejadian tersebut semoga menjadi warning buat kita semua agar tidak perlu memposting hal-hal seperti; sedang dimana kita, apa yang sedang kita makan, sedang apa kita dll sbgnya yang intinya keseharian kita.
Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.
Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.
So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.
*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path
Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.
Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.
So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.
*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path
Selasa, 18 Maret 2014
PRINCIPAL MALAYSIA
“Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama
principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya
tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah
saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja
korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan
pada momen-momen yang memang sudah menjadi bagian kehidupan kantoran seperti harus
menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling
mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan
saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki
pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran
dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka
atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.
Tidak jarang
saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata
keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram
menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin
tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga
sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio –
visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka
rangkaian kalimat persis yang diinginkan atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”
Saya coba
mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung
kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau
mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang
kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen
mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat
oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar
merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor
semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh
bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang
perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area
para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.
Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
“Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya
seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib.
Saya bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau
meetingnya?”.
Tidak lama
kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari
divisi lain membuka pintu ruangan; “bro
orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun
memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul
semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya
dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak
principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat
berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.
“Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa
meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah
membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me
Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any
dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama
kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar
dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.
Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi
saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my
desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam
harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana
mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear,
selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9
pagi.”
Revolta, 16
Maret 2014
Penjual Kecapi
Hari Sabtu
biasanya saya mencuci mobil, setelah seminggu baru hari sabtulah ada waktu
untuk mencucinya. Itu pun setelah saya berhasil melawan rasa malas yang sangat.
Alhasil waktu mencuci mobil pun tidak lagi bisa dikatakan pagi, sekitar pukul
11 menjelang siang.
Jangan
ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti
tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya
menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore
atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang
menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah,
kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.
Ditengah
saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan
sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang
yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan
mencari dari mana suara berasal.
Di luar pagar
rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek
mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang
memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya.
Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih. Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan
merasa iba juga melihat si kakek.
“Ki* !”,
saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli
dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik
kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap
kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah
kecapi. Saya lihat plastik kreseknya
masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya
ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.
“Waduh, kasian banget, udah sepuh
banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya
iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa
beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli
buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah
kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”,
kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah
kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak,
seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil
membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir
seikhlasnya.
“Aki
metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet
saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya
ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya
ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya
lagi.
Saya
tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi
aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya
pun melanjutkan mencuci mobil.
Malam
harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah
saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang.
Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman
saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek
jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung
jadi iket pinggang, jalannya aga
gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri
si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.
“Bukan
pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang
selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti
seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya
liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.
Setenk,
Serang,
Februari 2014
noted :
- Aki = Kakek (sunda)
- Aa = Kakak laki-laki (sunda)
Sabtu, 18 Januari 2014
Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Narsis, Fetis & Selfie!
Media sosial bernama facebook dan sejenisnya itu sifatnya adalah sebuah paradoks, ada sebuah kontradiksi disana bahwa ketika bertemakan "media sosial" malah membuat para penggunanya "anti sosial".
Media sosial memang bisa menjadi tempat berdiskusi, berwacana dan bertukar informasi hal-hal berguna dan bermakna. Namun yang seperti demikian prosentasenya hanya 10% saja, sisanya adalah mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang : Narsis, Fetis dan yang paling trendi adalah Selfie.
Up-date status hampir setiap 10 menit sekali yang kebanyakan (sangat) tidak penting, menginformasikan sedang berada dimana, memfoto makanan yang akan atau sedang atau telah disantap, pamer materi, pamer kepintaran yang tidak ada manfaat buat orang lain, berdoa (ini yang paling "ajaib", bahkan mereka berpikir Tuhan memiliki akun media sosial) , hal-hal seperti itulah yang mendominasi suguhan media sosial.
Ada banyak wahana persahabatan atau persaudaraan yang tetep bisa dibangun dan dijalin tanpa harus menjadikan kita Narsis, Fetis dan Selfie, yang jauh lebih bermakna, jauh dari kesan memuakkan bagi sebagian orang, saya dalam hal ini.
So, selamat tinggal Narsis, Fetis & Selfie
Media sosial memang bisa menjadi tempat berdiskusi, berwacana dan bertukar informasi hal-hal berguna dan bermakna. Namun yang seperti demikian prosentasenya hanya 10% saja, sisanya adalah mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang : Narsis, Fetis dan yang paling trendi adalah Selfie.
Up-date status hampir setiap 10 menit sekali yang kebanyakan (sangat) tidak penting, menginformasikan sedang berada dimana, memfoto makanan yang akan atau sedang atau telah disantap, pamer materi, pamer kepintaran yang tidak ada manfaat buat orang lain, berdoa (ini yang paling "ajaib", bahkan mereka berpikir Tuhan memiliki akun media sosial) , hal-hal seperti itulah yang mendominasi suguhan media sosial.
Ada banyak wahana persahabatan atau persaudaraan yang tetep bisa dibangun dan dijalin tanpa harus menjadikan kita Narsis, Fetis dan Selfie, yang jauh lebih bermakna, jauh dari kesan memuakkan bagi sebagian orang, saya dalam hal ini.
So, selamat tinggal Narsis, Fetis & Selfie
Langganan:
Komentar (Atom)
