Senin, 03 November 2014

Sumpah Serapah Karyawan Level Bawah Kepada Boss Bangsat

Pada sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) antah berantah, bekerjalah disana beratus karyawan. Manajemen menanamkan serta senantiasa menggembor-gemborkan sebuah jargon yang berbunyi ; I-N-T-E-G-R-I-T-A-S.
Tidak banyak yang paham betul makna kata integritas itu sendiri, sekalipun kebanyakan karyawan dari BUMN itu sendiri, bahkan ironisnya para pejabatnya sekalipun.  Lebih gila lagi si pencetus jargon integritas itu sendiri tidak sungguh-sungguh paham maknanya.

Suatu kali direktur BUMN tersebut menginstruksikan bahwa perusahaan harus bersih dari kegiatan kolusi, yakni menggunakan atau menghalalkan segala cara demi tercapainya laba perusahaan termasuk diantaranya melakukan penyuapan kepada sebuah institusi tertentu agar mendapat kemudahan ijin usaha. Pokoknya semua tindakan perusahaan harus mengedepankan etika dan moralitas serta konsekwen menerapkan prinsip tata kelola perusahaan pemerintah yang baik dan benar.
Hingga suatu saat di penghujung tahun pada bulan Desember si direktur BUMN memberikan sebuah instruksi kepada bagian operasional. Instruksinya adalah memberikan tenggat waktu sampai pertengahan bulan Januari tahun depan untuk mendirikan unit usaha di 15 titik tempat bagaimanapun caranya.
Tentu saja para staf operasionalnya sudah mahfum apa yang mesti dilakukan demi mewujudkan keinginannya si direktur, yaitu dengan cara menyuap institusi pemberi ijin usaha.
Maka pada tenggat waktu yang ditentukan olehnya, 15 gerai unit usaha pada 15 titik tempat pada tanggal 15 bulan januari, si direktur BUMN tersebut dengan bangga meresmikannya.

Adalah Robod, seorang karyawan level bawah BUMN tersebut sangat muak akan retorika dan omong-kosong yang selama ini berlangsung di perusahaannya. Karirnya mandeg sedangkan tuntutan kehidupan dan kewajiban menafkahi keluarga demikian menghimpitnya. Setiap hari hanya keterpaksaan yang mengharuskan dia tetap bertahan bekerja di BUMN tersebut, itupun sudah banyak hari dia absen membolos kerja dengan berbagai alasan seperti; sakit, mengantar anak sekolah atau imunisasi, mengantar orangtua, mengantar istri bekerja, kendaraan mogok, kompleks rumahnya kebanjiran sampai dengan alasannya yang paling unik dan berkarakter adalah kepalanya tidak sengaja menghantam pintu lemari kamarnya sendiri. Ketika sebagian besar orang merasa kesusahan jika banjir melanda lingkungan tempat tinggal, namun tidak bagi Robod, banjir adalah momen yang membahagiakan karena dia mendapat alibi yang mutlak untuk tidak bekerja.
Menurutnya buat apa jadi karyawan rajin kalau para atasannya "Bangsat" semua.

Bangsat, adalah sebuah kata makian yang ditujukan kepada seseorang yang sangat menyebalkan. Ada juga sebagian masyarakat di Indonesia yang menyebut jenis serangga kecil penghisap darah yang hidup pada busa kasur maupun sofa, biasanya serangga jenis ini menyerang dan menggigit bagian bokong atau pantat. Konon rasa gigitannya sangat perih dan gatal, ketika digigit serangga kecil ini sering kali hardikan si korban ; "bangsat !!".

Adalah Doblang, salah seorang manajer pada BUMN tersebut. Sebagai salah seorang pimpinan alias boss divisi pada BUMN berintegritas tersebut tentu saja dia kerap memarahi dan menegur bawahanya yang menurutnya tidak disiplin, dia tidak suka kepada bawahannya yang pulang kantor mendahuluinya meskipun memang sudah jam pulang kantor normal. Karena menurutnya semua karyawan harus loyal kepada perusahaan termasuk dalam hal memberikan waktu lebih kepada perusahaan, jikalau perlu harus mengkorbankan waktu berkualitas untuk diri sendiri maupun waktu berkualitas bersama keluarga.
Doblang pernah berkata kepada jajaran bawahannya yang resah; "jangan selalu mempertanyakan apa yang perusahaan beri kepada kalian, tanyakanlah apa yang sudah kalian beri kepada perusahaan ini".

Tentu saja soal-soal timbal balik kontribusi karyawan-atasan kepada perusahaan menjadi sesuatu yang absurd pada BUMN tersebut. Bagaimana tidak, ketika para atasan selain mendapat gaji sebagaimana golongan kekaryawanannya, mendapatkan juga tunjangan jabatan seperti; uang tunjangan jabatan, kendaraan roda empat untuk operasional beserta penggantian bahan bakarnya, pulsa untuk telepon genggamnya, penggantian biaya parkir dan tol, biaya entertainment relasi, belum lagi pendapatan dari proyek-proyek tender yang memang pejabat seperti Doblang memiliki akses kesana.
Keadaan itu berbanding terbalik dengan kondisi karyawan bawahan yang mendapat upah hanya dari gaji pokok dan transport yang sangat "pas", ...... "pas" akhir bulan "pas"-ti habis uang atau bahkan "pas" untuk 2 mingguan saja.

Sudah menjadi rahasia umum pada BUMN tersebut bahwa sebagian besar mereka yang mendapat jabatan sebagai boss adalah mereka yang bisa dekat secara pribadi kepada orang-orang yang sedang menjabat dan hasil "jaringan pertemanan" yang dikuatkan. Bukan "jaringan pertemanan" biasanya tentunya, karena entah sejak kapan dimulainya di BUMN itu para boss memiliki hobi mencari kenikmatan di tempat pijat dengan bumbu seks, karaoke dengan bumbu seks, golf dengan bumbu seks, intinya semua kenikmatan hidup berbumbu seks. Mereka berdalih hal itu wajar dan layak sebagai upaya meredakan ketegangan setelah bekerja keras mengejar omzet besar perusahaan.
Apakah semua kenikmatan itu dengan biaya sendiri?, tentu tidak, selama bisa dibuat dalih "meng-entertaint relasi" maka semua kenikmatan itu menjadi beban tanggungan perusahaan.
Apakah para istri mereka tahu kelakuan para suaminya itu?, tentu (mungkin) tidak, sepanjang para istri terus dilenakan dengan uang dan kemewahan lainnya, biasanya para istri senang dan tenang saja.

Kembali kepada soal "jaringan pertemanan", adalah model pertemanan yang kerap pergi bersama biasanya di akhir pekan hari kerja untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan berbumbu sekslah yang malah mendapat peluang menjadi pejabat atau boss pada BUMN tersebut.
Kemudian yang paling penting dari semua hal jika ingin berkarir cemerlang, harus pandai menyenangkan hati boss, melayani kemauan bos dan jangan pernah mengatakan tidak kepada semua kebijakan, instruksi ataupun keinginan boss meski buruk sekalipun.

Suatu kali Doblang ditanya oleh rekan sejawatnya apa rahasia selalu mendapat jabatan dan mempertahankannya. Sambil tersenyum Doblang menjawab, "ini adalah seni, kawan,...seni". Dia tidak menjelaskan lebih lanjut maksud dari seni, bisa jadi semua yang berhubungan dengan air seni yaitu alat kelamin, ....bisa jadi.
Sedangkan dari perspektif Robod, makna seni seperti dimaksud Doblang adalah; seni menjilat ke atas, menginjak ke bawah.

Sudah 2 minggu ini Robod menggerutu kesal, karena bonus tidak dikeluarkan juga oleh perusahaan. Tentu saja jika urusan bonus bukan hanya Robod yang berharap-harap cemas melainkan seluruh karyawan bawahan. Rumor bonus akan dikeluarkan awal bulan ternyata isapan jempol belaka, sampai minggu ketiga bulan itu belum juga ada tanda-tanda bonus akan dikeluarkan. Padahal karyawan seperti Robod sangat mengharap bonus itu untuk membayar ongkos dapur rumahnya agar selalu mengebul, biaya sekolah anak-anaknya dan membayar hutang-hutang dan tagihan rutin lainnya.
Setelah penantian panjang, melelahkan dan membuat putus asa, akhirnya bonus keluar juga di awal minggu bulan berikutnya. Namun Robod kecewa dikarenakan jumlahnya menurutnya sangat jauh dari cukup. Robod menghardik dalam hati, "sialan bonus udah keluarnya lama, pake alasan kondisi keuangan perusahaan sedang lesu, sekalinya keluar cuma segini aja. Ini sih 1 minggu aja bakal habis tak bersisa. Padahal kata Direktur pada waktu acara Family Gathering 3 bulan lalu perusahaan mendapat laba besar, mana buktinya?, omong kosong semua!"

Esok harinya entah mendapat keberanian dari mana, Robod berniat menanyakan langsung kepada atasannya yakni si Doblang, dia sungguh-sungguh berniat secara verbal. Robod mengetuk pintu ruangan Doblang.
"Permisi pak Doblang, saya ada perlu bicara". Doblang mempersilahkan masuk dan duduk kepada Robod dengan raut muka dan tatapan menyepelekan. Robodpun masuk namun menolak duduk.
"Ada apa Rob?", tanya Doblang. "Pak, kenapa bonus saya kecil?", tanya Robod. Nampak raut muka Doblang semakin menyepelekan, kemudian berkata, "kamu udah dapet bonus aja udah bagus, kinerja kamu berantakan gitu. Sudah sering datang kesiangan sering pula minta ijin cuti".
Robod balas menjawab, "loh pak tapi kan semua pekerjaan saya selesai". Mendapat dalih sekenanya dari Robod, Doblang naik pitam, "sampeyan pikir ini perusahaan nenek moyang sampeyan!!??, sampeyan kerja seenaknya aja. Disini tidak sekedar dituntut kerjaan selesai, tapi juga kepatuhan, kedisiplinan, dan jangan lupa yang satu ini integritas sampeyan sebagai karyawan BUMN!!", hardik Doblang. Rupanya Doblang sudah sangat kesal. "Keluar sampeyan !!", sampeyan ini buang waktu saya saja", sambung Doblang.

Robod keluar dari ruangan Doblang sambil menahan amarahnya.

Tak lama kemudian terdengar teriakan, "Woyy Doblang!!, keluar lo !!", ternyata itu Robod.
Parang sepanjang sekitar 30 centimeter digenggam di tangan kanannya. "Anjing lo!, penjahat kelamin lo!, babi rakus!, tuyul kantoran lo!, tikus berdasi lo!, penjilat lo!, lidah basah lo!", rentetan maki Robod kepada Doblang dari luar. Rupanya Robod sudah menyiapkan parang yang terasah dan kemarahannya itu sedari rumah.
"Hari ini kepala lo harus pisah dari badan lo!, dasar pemakan rejeki orang, penindas bawahan, BOSS BANGSAT !!", sambung Robod.
Tiba-tiba Robod mendengar suara istrinya, "ayah bangun yah, udah setengah 7, kerja ga?, masa mau bolos lagi?". Robod pun bangun, bergegas, dia kesiangan lagi.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pestisida, Depresi & Bunuh Diri

Ada yang menarik pada artikel "Kilas Iptek" pada harian Kompas terbitan Jumat 24 Oktober 2014. Isi artikel itu mengatakan bahwa Pestisida tingkatkan risiko depresi dan bunuh diri. Penelitian menunjukan bahwa pestisida mengubah kimia otak petani dengan mempengaruhi kesehatan mental.
Berdasarkan penelitian ahli epidemiologi Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (NIEHS) Amerika Serikat memperlihatkan penggunaan insektisida Organoklorin meningkatkan risiko depresi hingga 90% dibandingkan tanpa pestisida. Sementara penggunaan pestisida dengan Fumigami (pengasapan) meningkatkan depresi sebesar 80%.
Insektisida bekerja mengganggu sel saraf serangga, tetapi pada dosis  tinggi bisa mengubah sel saraf manusia. Penelitian di Brasil, petani pengguna pestisida  lebih mungkin bunuh diri, kemudian di Zhejiang, Tiongkok, warga penyimpan pestisida di rumah berisiko dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri.

Saat ini saya belum mendapat informasi teranyar bagaimana dengan di Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani dan berkebun, apakah penggunaan pestisida masih sedemikian masiv. Kalau iya, semoga petani Indonesia dikuatkan imannya.

-Revolta-
30 Oktober 2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Sisi Gelap Situs Jejaring Sosial

Buat yang suka update status di situs jejaring sosial (social network) semoga lebih bijak kedepannya, tanpa mengurangi rasa hormat dan turut berduka cita kepada korban Almarhumah Ade Sara maupun keluarga yang ditinggalkan, kejadian tersebut semoga menjadi warning buat kita semua agar tidak perlu memposting hal-hal seperti; sedang dimana kita, apa yang sedang kita makan, sedang apa kita dll sbgnya yang intinya keseharian kita.

Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.

Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.

So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.

*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path

Selasa, 18 Maret 2014

PRINCIPAL MALAYSIA


Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan pada momen-momen yang memang sudah menjadi  bagian kehidupan kantoran seperti harus menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.

Tidak jarang saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio – visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka rangkaian kalimat persis yang diinginkan  atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”

Saya coba mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.

 Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib. Saya  bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau meetingnya?”.

Tidak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari divisi lain membuka pintu ruangan; “bro orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.

Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.

Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear, selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9 pagi.”         

Revolta, 16 Maret 2014 

Penjual Kecapi

Hari Sabtu biasanya saya mencuci mobil, setelah seminggu baru hari sabtulah ada waktu untuk mencucinya. Itu pun setelah saya berhasil melawan rasa malas yang sangat. Alhasil waktu mencuci mobil pun tidak lagi bisa dikatakan pagi, sekitar pukul 11 menjelang siang.


Jangan ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah, kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.


Ditengah saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan mencari dari mana suara  berasal.


Di luar pagar rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya. Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih.  Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan merasa iba juga melihat si kakek.


“Ki* !”, saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah kecapi.  Saya lihat plastik kreseknya masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.


“Waduh, kasian banget, udah sepuh banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”, kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak, seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir seikhlasnya.

“Aki metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya lagi. 


Saya tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya pun melanjutkan mencuci mobil.

Malam harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang. Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung jadi iket pinggang, jalannya aga gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.

“Bukan pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.  




Setenk,

Serang, Februari 2014


noted :
  1. Aki = Kakek (sunda)
  2. Aa = Kakak laki-laki (sunda)

Sabtu, 18 Januari 2014

Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Narsis, Fetis & Selfie!

Media sosial bernama facebook dan sejenisnya itu sifatnya adalah sebuah paradoks, ada sebuah kontradiksi disana bahwa ketika bertemakan "media sosial" malah membuat para penggunanya "anti sosial".

Media sosial memang bisa menjadi tempat berdiskusi, berwacana dan bertukar informasi hal-hal berguna dan bermakna. Namun yang seperti demikian prosentasenya hanya 10% saja, sisanya adalah mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang : Narsis, Fetis dan yang paling trendi adalah Selfie.

Up-date status hampir setiap 10 menit sekali yang kebanyakan (sangat) tidak penting, menginformasikan sedang berada dimana, memfoto makanan yang akan atau sedang atau telah disantap, pamer materi, pamer kepintaran yang tidak ada manfaat buat orang lain, berdoa (ini yang paling "ajaib", bahkan mereka berpikir Tuhan memiliki akun media sosial) , hal-hal seperti itulah yang mendominasi suguhan media sosial.

Ada banyak wahana persahabatan atau persaudaraan yang tetep bisa dibangun dan dijalin tanpa harus menjadikan kita Narsis, Fetis dan Selfie, yang jauh lebih bermakna, jauh dari kesan memuakkan bagi sebagian orang, saya dalam hal ini.

So, selamat tinggal Narsis, Fetis & Selfie