Jumat, 14 Desember 2018

Sehari Bersama Max Havelaar

Antara 2 hari di akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu, aku lebih suka hari Sabtu. Sabtu adalah hari libur yang lepas dari memikirkan esok harinya. Beda hal dengan hari Minggu yang meski hari libur namun ada perasaan gundah, karena esok harinya Senin harus kembali beraktivitas ke kantor bagi si karyawan, atau ke sekolah bagi si pelajar. Sabtu pekan ini aku mengajak beranjangsana istri serta anak-anakku ke pantai Goa Langir yang terletak di Lebak, Banten Selatan, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Bayah. 

Mendengar nama Bayah terlintaslah dalam pikiranku satu nama dari seseorang di zaman dahulu kala, orang itu bernama Tan Malaka. Bisa dibilang ia pelopor awal kemerdekaan Indonesia. Di tahun 1921 dia menuangkan pemikiran dalam sebuah tulisan yang diberi judul “Naar Republik Indonesia”, yang berarti Negara Republik Indonesia. Jauh sebelum Proklamasi kemerdekaan tahun 1945 dia sudah memikirkan konsep bentuk Indonesia kelak, maka tak salah jika ada yang menganggapnya Bapak Republik Indonesia. 

Tan Malaka pernah singgah di Bayah dengan nama samaran Ilyas Hussein. Dia menyamar menjadi pekerja kasar di lokasi penambangan batu-bara, setelah bertahun-tahun melanglang-buana ke berbagai negara asing. Di tahun 40an sesaat sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, suatu malam dia bertamu ke rumah K.H Wahid Hasyim di Jakarta, yang tak lain ayah dari Abdurahman Wahid atau yang kita kenal sebagai Gus Dur. Antara K.H Wahid Hasyim dengan Tan Malaka memang sudah terjalin persahabatan, maksud kedatangannya selain berdiskusi soal bangsa, Tan Malaka mengatasnamakan Pemuda Bayah juga menyatakan dukungannya atas rencana Proklamasi kemerdekaan Indonesia agar dilaksanakan sesegera mungkin.

Bayah adalah kota kecil yang menghadap langsung dengan Samudera Indonesia di pesisir selatan Pulau Jawa. Kota ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lebak, provinsi Banten. Pantai Goa Langir terletak tidak jauh dari pusat kota Bayah. Pantainya indah, dengan hamparan pasir putih yang panjang, merupakan bagian dari pantai Sawarna. Di lokasi pantai Goa Langir terdapat 3 Goa lainnya yakni Goa Kanekes, Goa Harta Karun dan Goa Seribu Candi yang menggenapkan eksotisme suasana pantai itu. 

Goa Langir adalah goa terbesar, mungkin karena itulah nama lokasi pantainya dinamakan demikian. Aku mengambil rute perjalanan dari arah Malingping, masih di daerah pesisir selatan Lebak. Bukan tanpa alasan juga aku mengambil rute ini, karena kebetulan istriku dibesarkan di sebuah desa bernama Panjaungan, yang terletak antara Malingping dengan Bayah. Setiap hari raya Idul Fitri mesti kami mudik ke Panjaungan, jadilah aku sudah terbiasa dengan jalur ini. Memang sekalian juga liburan keluargaku ini menjenguk mertuaku di Panjaungan yang rencananya kami kunjungi sehabis dari pantai Goa Langir. 

Berangkat dari rumah di bilangan Jakarta Timur pukul 5 subuh, sampai di Malingping sekitar pukul 10 pagi menjelang siang. Sambil melepas lelah dan meluruskan kaki karena penat mengendarai mobil beberapa jam kami singgah dahulu di sebuah toko serba ada sekalian membeli bekal makanan ringan. “Wah, panas ya..”, kataku kepada anak-anak. Hari itu memang cerah, matahari bersinar dengan teriknya. Aku melirik kepada alat deteksi suhu yang terpasang di mobil, menunjukan angka 32 derajat celcius. Jam berapa sampai di pantai yah?”, tanya anakku yang paling besar. Aku jawab sekitar jam 12, pas waktu makan siang. 

Sepanjang perjalanan dari Malingping ke Bayah mulai dari suatu desa bernama Sukahujan kami disuguhi pemandangan pantai dan lautan lepas yang sedap dipandang mata. Sungguh sebuah terapi melepas penat dari tekanan bagi aku yang sehari-harinya bergelut dengan kemacetan jalan raya di Jakarta.

Ayah matikan ac-nya ya. Kita buka kaca aja”, ujar aku kepada istri dan anak-anak. “Yahh…jangan yah, gerah”, protes semua di dalam mobil. “Engga, percaya deh”, balasku. Pengatur suhu aku matikan, kaca mobilnya aku buka. Tidak berapa lama kemudian angin sejuk berhembus mengalir masuk ke dalam mobil, terasa kesejukan yang alami. 

Berbarengan dengan mengalirnya hembusan angin ke dalam mobil menyeruak pula suatu aroma yang khas, aroma lautan. Aku tidak dapat menerka dengan pasti sebenarnya aroma apakah itu, apakah berasal dari pasir pantai, air laut, rumput laut, hanyir ikan, tetumbuhan pantai, atau gabungan dari semuanya itu. Yang pasti aroma itu mampu menggugah indera penciumanku hingga memberikan efek rasa ketenangan dan kedamaian. 

Senang rasanya terbebas dari bau asap knalpot kendaraan yang memenuhi udara kota Jakarta. Aku melirik kepada istriku di sampingku ia Nampak menikmati perjalanan, mungkin sambil mengenang masa-masa sekolahnya dulu bersama sahabat-sahabatnya. Demikian juga anak-anakku di kursi belakang, mereka menatap ke arah lautan dengan deburan ombaknya. 

Sudah 8 tahun pernikahanku dengan istriku namun baru kali ini aku berkesempatan mengajak anak-anakku ke pantai Goa Langir. Jika libur mudik pantai-pantai di lokasi wisata jadi terlalu ramai oleh para wisatawan baik dari sekitar Lebak maupun dari luar Lebak, bahkan tidak sedikit wisatawan dari kota-kota lain di luar Banten. Aku jadi enggan ke lokasi wisata di masa libur lebaran karena rasanya sudah bosan dengan kepadatan kota Jakarta, tidak ingin lagi harus berdesakan dengan banyak orang. 

Tapi bukan berarti tidak mengajak piknik keluarga ke pantai samasekali, karena mulai dari Sukahujan sampai ke Bayah adalah garis pantai yang sangat panjang maka aku mengajak keluargaku mengunjungi pantai-pantai lain yang sepi namun pemandangannya tidak kalah indah. Berada di pantai yang sepi rasanya seolah menjadi pantai pribadi. 


Ayah, lihat itu di pinggir pantai ada tembok tebal seperti bekas jembatan!, apa itu ayah?”, kata anak bungsuku memecah keheningan. Aku melihat kepada reruntuhan tembok tidak jauh dari pantai yang ditunjuk anakku. Memang setahuku dari kisah sejarah di zaman kolonial Belanda di Bayah ini merupakan jalur kereta api untuk mengangkut komoditas batu-bara. Bekas jalur kereta api sudah mulai tampak mulai dari daerah Saketi. Aku pikir ini menarik juga sebenarnya jika jalur ini diaktifkan kembali untuk wisata sejarah, apalagi di jalur Bayah ini pemandangannya lautan lepas pasti akan sangat menarik wisatawan. 

Iya sayang, itu bekas jalur kereta api batu-bara zaman Belanda”, terangku kepada si bungsu. Sejenak pikiranku menerawang, “Gila juga ya orang Belanda dulu itu, mencari kekayaan negri ini sampai ke pelosok Bayah begini di zaman kuda gigit besi. Seperti apa wilayah Lebak selatan ini di zaman dulu?, sekarang saja masih cukup banyak hutan belantara”. Aku pikir Lebak memang menarik baik dari potensi alamnya seperti pantai-pantainya yang indah maupun kisah-kisah sejarahnya.


Bicara secara soal sejarah, di Lebak inilah terjadi dialektika awal lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia yang tercatat dalam sejarah hingga gaungnya mencapai negeri-negeri di barat khususnya Eropa. Adalah cikal-bakal kesadaran rakyat Indonesia sebagai sebuah bangsa yang ingin merdeka dari lepas penjajahan. 

Hal tersebut dikarenakan sebuah novel berjudul “Max Havelaar” yang ditulis seorang Belanda dengan nama pena Multatuli, nama sebenarnya adalah Eduard Douwes Dekker. Multatuli berasal dari bahasa latin yang berarti “aku yang telah banyak menderita. 

Max Havelaar pertama kali diterbitkan di tahun 1860, berkisah tentang kesengsaraan rakyat jelata Lebak akibat penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda maupun penguasa pribumi. Diceritakan dalam novel itu rakyat Lebak dipaksa menanam kopi sebagai bagian dari sistem tanam paksa (culture stelsel) untuk kemudian harus dijual kepada penguasa dengan harga sangat murah, belum lagi pajak tinggi yang harus dibayarkan kepada penguasa setempat yakni Regent atau Bupati, apabila tidak mampu membayar pajak maka harta milik rakyat yang paling berharga yakni kerbau akan diambil paksa sebagai ganti. Sedangkan kerbau kala itu adalah hewan yang sangat berarti bagi rakyat karena tenaganya digunakan untuk membajak sawah. Dapat dibayangkan betapa sengsaranya kehidupan rakyat Lebak. 

Max Havelaar membuat mata dunia menoleh kepada East Indies, sebutan untuk Indonesia saat itu. Masyarakat barat bagaikan terperangah mengetahui ada eksploitasi rakyat yang demikian buruknya di belahan bumi lain, sampai-sampai di negeri Belanda sendiri terjadi kegemparan yang memaksa pemerintah kolonial akhirnya mengeluarkan kebijakan Politik Etis atau Politik Balas Budi. 

Politik Etis mengharuskan pemerintah kolonial Belanda lebih memperhatikan nasib negeri jajahan agar tidak melulu mengeksploitasi kekayaan alamnya dan menindas rakyat pribuminya. Salah satu poin Politik Etis adalah di bidang pendidikan, dengan memberikan kesempatan kepada kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan formal di bangku-bangku sekolah. Dari sanalah kelak lahir kaum intelektual pribumi yang memiliki kesadaran menuntut kesamaan hak sebagai manusia dan kemerdekaan sebagai bangsa.

*******

Kecepatan sedang saja aku mengendarai mobil, sambil menikmati suasana jalan raya pesisir selatan Lebak yang tidak padat oleh kendaraan lain, bebas hambatan dan nyaris tidak berkelok seolah lurus saja, dengan suguhan pemandangan pantai yang indah. Tidak terasa sudah di pintu masuk wisata pantai Goa Langir. Aku toleh jam tanganku, pukul 11 lewat sedikit. Lebih cepat dari perkiraan ternyata. 

Di gerbang lokasi wisata ditunggui oleh beberapa orang petugas retribusi tiket masuk ke pantai. Tiket masuknya hanya 5000 rupiah per orang saja, untuk mobil tidak dikenakan biaya alias gratis. Kawasan pantai Goa Langir masih merupakan bagian dari komplek pantai Sawarna yang sudah lebih dahulu dikenal banyak wisatawan dengan karang Tanjung Layarnya, namun memiliki daya tarik berbeda pantai Sawarna. 

Di lokasi wisata pantai Goa Langir dari gerbang hingga menuju pantainya tidak terdapat pemukiman penduduk. Akses jalannya bersisian dengan bukit batuan karst setinggi kira-kira 25 meter sampai 50 meter. Pada gugusan perbukitan itulah terdapat 4 buah goa di bagian bawahnya.

Tidak jauh dari gerbang tadi aku melihat di sisi sebelah kiri jalan terdapat warung yang memiliki lahan parkir cukup lega untuk mobilku. “Kita parkir di situ aja ya, sekalian makan siang”, kataku kepada istri. Istriku setuju, terlebih anak-anakku mereka sudah lapar katanya ingin segera bersantap siang. Kami sengaja membawa makanan dari rumah karena niat kami memang piknik, “tapi minumnya kita beli ke warung yang punya lahan parkir ya, ga enak masa parkir di tempatnya tapi ga jajan ke warungnya,” sambungku. 

Terasa nikmat sekali santap siang kami, karena memang lapar dan pemandangan pantai di tempat kami singgah luar biasa indah. Panoramanya hamparan pasir putih dan cerahnya siang hari itu dengan biru langitnya yang sempurna. Pasir putih pantainya seolah memantulkan kembali sinar matahari yang menerpanya sehingga suasana menjadi seperti berkilauan. Aku takjub dengan pemandangannya. “Subhanallah, indah banget ya”, gumam istriku. Lokasi tempat kami makan siang itu dinaungi oleh rindangnya pepohonan, sehingga seberapa teriknya pun tetap terasa sejuk. “Ini macam surga dunia, hehe”, candaku.

Selesai juga bersantap, tiba waktunya menjelajah pantai Goa Langir. Aku ijin parkir saja mobilku di tempat ini kepada ibu pemilik warung. Ibu warung mempersilahkan dengan ramah. Tujuan utamaku mengajak keluarga ke pantai Goa Langir adalah mengunjungi pantainya yang memang terbukti indah. Namun setelah melewati saja 3 goa tanpa masuk ke dalamnya begitu tiba di mulut goa yang letaknya paling ujung dan terbesar yakni goa Langir ada terbesit rasa penasaran masuk ke dalamnya. 

Sayang sekali istri dan anak-anak enggan turut masuk ke dalam goa, “engga ah, takut”, kata mereka kompak. “Ga jauh sampai ke dalam banget, paling 10 meteran aja masuknya, penasaran dalamnya seperti apa”, aku coba membujuk mereka. Sia-sia mereka tetap enggan. Akhirnya aku memberanikan diri masuk seorang diri hanya mengandalkan cahaya lampu senter dari telpon genggamku. Tidak ada persiapan membawa senter memang, karena memang tidak ada niat jelajah goa. Gentar juga rasanya masuk seorang diri, namun rasa penasaran jauh lebih kuat, “ya sudah, ga perlu 10 meterlah masuk ke dalam, cukup hitungan langkah aja, 10 langkah”, aku bertawar nyali dengan diri sendiri.

Di mulut goa aku berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan kepada Tuhan, “Bismillah”, gumamku sambil mengambil langkah pertama. Hawa di serambi goa terasa lembab namun ada semilir angin sejuk yang berhembus seolah dari dalamnya. Tiba pada langkah ke tujuh aku menapakkan langkah pada permukaan yang basah dan licin menyebabkan aku kehilangan keseimbangan, aku terjatuh. Aku coba bangkit namun kepalaku terasa berat, kelopak mata ini seakan memaksa aku terpejam saja. Kemudian semuanya menjadi gelap.

*******

Sedikit-sedikit aku mencoba membuka kedua mata ini namun masih terasa sulit rasanya, rasa nyeri masih sedikit terasa di bagian belakang kepalaku. Nampaknya aku terjatuh di dalam goa dan kepalaku terantuk batu. Tak lama kemudian samar-samar telingaku mendengar seperti seseorang sedang berpidato dengan aksen yang cedal.
         
Tuanku Raden Adipati Bupati Banten Kidul dan sekalian para Raden Demang yang menjadi kepala di daerah ini, tuan Raden Jaksa yang menjadi kepala polisi, serta Raden-raden dan Mantri-mantri serta seluruh kepala-kepala di daerah Banten Kidul. Terimalah salam hormat dari saya. Saya tahu diantara tuan-tuan terdapat ketinggian ilmu dan kemurahan hati, dengan demikian saya harap pengetahuan saya terhadap daerah Banten Kidul akan bertambah dengan ilmu tuan-tuan semua." 

"Saya membaca banyak hal-hal yang baik di Banten Kidul, rakyat tuan-tuan memiliki sawah-sawah di lembah-lembah dan adapula di gunung-gunung dan suasana di sini yang demikian damai. Tapi saya lihat rakyat tuan-tuan sekalian miskin. Mungkin karena itulah Tuhan mengutus saya ke tempat ini dimana ada banyak keadaan yang harus dibenahi kembali, untuk itu saya merasa gembira bertugas di tempat ini."

"Di luar sana banyak yang tidak mengerti kemiskinan di Banten Kidul sebab di sini banyak ladang-ladang dan curah hujan yang cukup, tanah yang gembur dan subur. Satu biji padi yang ditanam akan menghasilkan satu batang padi, sungguh mengherankan jika Banten Kidul miskin. Saya yakin ini bukan karena Tuhan menimpakan bencana kepada kita sehingga kita harus berkata; Yang demikianlah sudah kehendak-Nya. Negri kita ini miskin karena banyak kesalahan yang kita lakukan."

Terhenyak aku mendengar pidato seperti itu. Dari mulut siapakah gerangan kalimat-kalimat itu keluar. Sementara aku masih dalam posisi tidur terlentang pada kasur sambil menatap ke atas. Aku mulai merasa ada kejanggalan dengan tempat ini. Model dipan kasurnya seperti sudah sangat tua, terdapat tiang di tiap sikunya dengan atap dan kelambu. Aku paksakan juga untuk duduk disisi dipan, ku sapu segala penjuru kamar, menatap ke bawah ku lihat ubin lantainya bermotif seperti simbol kepanduan internasional berwarna hijau cerah. 

Dimana aku ini?”, tanyaku dalam hati. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapaan seseorang, “Je wordt wakker. Goedemiddag meneer!”, kata orang itu, seorang laki-laki berperawakan ras kaukasian atau yang biasa kita sebut “bule”. “Voel je je al gezond?”, sambungnya lagi. Aku semakin bingung dan sedikit panik. “I’m…, I’m sorry sir, I…I don’t understand your language”, balasku dengan terbata. “Ahh… speak English?, where do you come from sir?”, balasnya. “Actually sir, I’am from Indonesia”, balasku lagi. “Indo what?, indo…nesia?, by the name of God, where is that country?, I never heard any country in this world named Indonesia”, sahutnya. 

Aku semakin bingung, sedemikian tidak dikenalkah Indonesia olehnya. “I beg you pardon Sir, but I heard you just spoken in Indonesia”, kataku. “me?, spoken Indonesia?, when?”, tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Tampak olehku dia mengernyitkan dahinya. “Ah... you must be just heard me while I’m giving speech to the Regent, Demang and all Raden under my authority here in Banten Kidul. Well, that’s was Melayu. Jadi kamu bicara Melayu?”, tanya dia lagi kali ini mulai ada senyum di wajahnya dan wajahnya menjelaskan bahwa dia merasa lega, yang mana sebenarnya aku pun merasa demikian. 

Siapa kamu punya nama?”, kembali dia menginterogasiku. “Nama saya Permana tuan”, jawabku sambil menyodorkan telapak tangan mengajaknya berjabat tangan. “Dekker, Eduard Douwes Dekker”, Jawabnya lugas sambil balas menjabat tanganku. Mendengar nama itu aku jadi gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori. “Permana mengapa kamu kelihatan pucat seperti itu?, apakah kamu merasa tidak sehat?”, tanyanya heran. Aku mengumpulkan segenap kesadaran, kekuatan, sebenarnya juga keberanianku. Aku pejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam kemudian ku hembuskan perlahan. 

Aku pasti sedang bermimpi”, ku bicara dalam hati. Sejurus kemudian aku tampar pipi sebelah kananku sendiri, “Plak!”, ternyata terasa perih juga. “Permana kenapa kamu pukul sendiri kamu punya pipi?”, suara Douwes Dekker masih terdengar. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada diriku. 

Dine!, Dine!, breng me een glas water. Onze gast wordt wakker”, dia seperti memanggil seseorang. Tidak lama seorang perempuan kaukasian masuk ke dalam kamar membawa segelas air putih. “Hallo meneer, hoe gaat het?”, sapanya kepadaku sambil menunjukan senyum ramah. “Hij spreekt geen Nederlands. Hij spreekt melayu”, kata Douwes Dekker kepada perempuan itu. “Oh maaf, silahkan diminum airnya tuan”, kata perempuan itu kepadaku. “Terimakasih Nyonya ….”, balasku. 

Everdine van Wijnbergen. Saya istri dari Eduard”, sahutnya. Tentu saja aku mengetahui nama itu sebagai istri dari Douwes Dekker dari literasi sejarah tentang Max Havelaar yang aku baca. Rasa kebingunganku semakin menjadi-jadi, semua ini sungguh tidak masuk akal, tapi aku berusaha menyembunyikan kesan itu. “Nama saya Permana nyonya”, balasku. 

Kami bertiga kemudian berbincang-bincang kecil. Aku bertanya bagaimana aku bisa berada disini, Douwes Dekker berkata bawahannya menemukan aku tergeletak tidak sadarkan diri di tepi sungai dan membawa aku ke kediamannya sekaligus kantor Assisten Residen Lebak ini. 

Baiklah Permana, silahkan kamu lanjutkan istirahat. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Mari Dine kita biarkan tamu kita beristirahat”, kata Douwes Dekker sebelum menutup pintu kamar. 

Aku pergi menuju jendela kamar untuk melihat suasana diluar. Tampak olehku beberapa orang berpakaian seperti zaman kerajaan mengenakan beskap khas sunda berwarna hitam dan beberapa orang kaukasian juga mengenakan pakaian resmi berbahan seperti beludru berwarna biru tua dengan bordiran berwarna keemasan. 

Dari kamar bangunan tempatku beristirahat dengan bangunan yang nampaknya seperti kantor tidaklah berjauhan, hanya berseberangan dibatasi taman bunga yang terlihat terawat dengan apik. Ada tiang bendera di tengah-tengahnya, tampak oleh kedua mataku bendera Merah Putih Biru berkibar.

*******

Dentang jam Junghans terdengar bunyinya 7 kali, tadi sore Douwes Dekker berkata bahwa pukul 7 petang waktunya makan malam keluarga. Dia mengingatkan aku agar makan bersama keluarganya di meja makan di ruang tengah. Malam hari di tempat itu sumber penerangannya dari lampu minyak, tidak ada lampu bohlam, tidak ada listrik rupanya. 

Aku berjalan menuju ruang makan. “Selamat malam Permana”, sapa Dine menyambutku. Douwes Dekker sudah duduk di bangku utama meja makan yang posisinya di tengah. “Silahkan duduk Permana”, Douwes mempersilahkan aku. Setelah Douwes memimpin doa secara Nasrani sebelum bersantap kami pun menikmati hidangan.

Makan malam selesai namun aku dan Douwes Dekker belum beranjak dari meja makan. “Tuan Douwes Dekker saya terlupa menanyakan ini tadi siang, kita ini sedang berada dimana?, dan tahun berapakah ini?”, dua pertanyaan sekaligus aku utarakan. Douwes Dekker menjelaskan bahwa sekarang sedang berada di Rangkas Betung, ibu kota dari Banten Kidul dan sekarang tahun 1856. 

Mendengar penjelasannya aku jadi termangu. “Ini sungguh tidak masuk akal”, kataku dalam hati. Kemudian dia bercerita tentang tanah kelahirannya di Nederland, kesannya saat pertama kali menginjakkan kaki ke negri kolonial East Indies ini. Dia berkata bahwa dia merasa bersimpati kepada kaum pribumi rakyat jelata yang menurutnya orang-orang yang ramah, bersahaja, jujur dan juga pekerja keras. 

Saat dia bertanya kepadaku tentang asal-usulku aku jelaskan saja bahwa aku adalah kaum pribumi dari masa depan. “Negri ini akan merdeka tuan, negaranya kelak bernama Indonesia yang terdiri dari Sabang di ujung utara Sumatera sampai Merauke, atau New Holland di tanah Papua Barat. Penduduknya terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, namun kami berikrar tetap satu sebagai bangsa”. 

Aku jelaskan juga bahwa tanah Lebak tempat dia sekarang bertugas adalah tanah yang subur dan kaya, di bagian selatan terdapat hamparan pantai yang indah. Strata kemasyarakatan di tanah Banten memiliki 3 pilar utama yaitu Umara atau pemerintah, Ulama dan Jawara. Lebak juga memiliki keunikan yang khas yakni terdapat sekelompok masyarakat adat yang tetap mempertahankan budaya leluhur dengan hidup memisahkan diri dengan peradaban dunia luar bernama Suku Baduy. Letak tempat tinggal Suku Baduy tidak seberapa jauh lagi dari Rangkasbitung, ke arah Kanekes. 

Aku uraikan semua yang aku tahu tentang Lebak dan sejarah Indonesia, tampak Douwes Dekker menyimak dengan seksama dan antusias meski tidak dipungkiri juga terlihat raut kebingungan seolah tidak percaya dengan penjelasanku khususnya soal masa depan. 

Tuan Douwes Dekker ke tanah Lebak ini sebagai Asisten Residen, hendaknya tuan dapat melindungi hak-hak dasar rakyat jelata di Lebak ini”, tandasku. “Tentu saja Permana, saat pelantikan jabatan saya sudah bersumpah atas nama Tuhan bahwa saya akan melindungi rakyat dari penindasan, eksploitasi dan pemerasan”, jabarnya. 

Aku menyambung perkataanku kepadanya, “Maukah tuan berjanji kepada saya?, Tuan harus menulis segala pengalaman tuan selama bertugas sebagai Asisten Residen di Lebak ini”, pintaku kepadanya. “Tentu Permana, saya memang selalu menulis dan terbiasa membuat catatan-catatan terkait dengan tugas-tugas saya. Tapi mengapa kamu seperti menekankan perihal Lebak ini?, apakah memang Lebak sedemikian istimewa?, dan apakah tulisan saya tentang Lebak akan dibaca banyak orang?”, tanyanya kepadaku seperti keheranan. 

Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil, bahasa tubuh yang memintanya agar mempercayaiku. Aku tidak dapat membeberkan soal novel Max Havelaar dan nasibnya di masa depan, seperti ada pagar moralitas yang tidak ingin aku lompati dengan menceritakan nasib orang di masa depan seolah mendahului takdir Tuhan.

Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 1 dini hari, Douwes Dekker pamit tidur. Sebelum menuju tempat peraduannya dia memberiku 3 lembar kertas kosong dan pena beserta botol tintanya seraya meminta agar aku menulis semua hal yang menjadi topik diskusi dengannya supaya dia dapat mempelajarinya lebih lanjut soal-soal Lebak ini. Aku menyanggupinya. 

Sampai besok Permana. Selamat malam, selamat beristirahat”, katanya kepadaku. “Sama-sama tuan Douwes Dekker. Selamat malam”, balasku. Aku pun beranjak menuju kamar istirahat tamu di bagian depan rumah ini. Di luar hening sekali, tidak ada suara mesin kendaraan yang melintas, hanya terdengar suara serangga dan burung malam. Rasa kantukku sudah tidak tertahankan, sejadinya aku melemparkan tubuhku ke kasur dipan. Terlelap.

*******

Ayah…ayah..bangun yah!, bangun ayah!”, aku mendengar suara istri dan kedua anakku ditelingaku. Perlahan kubuka kelopak mataku. “Kenapa sekarang aku berada di kamar kediaman mertuaku di Panjaungan”, batinku mengenali kamar ini. Begitu aku membuka lebar kedua belah mataku, semua yang berada di kamar itu mengucap syukur. 

Seseorang dengan kalung stetoskop menghampiriku dan berkata, “Bapak pingsan selama 3 jam, kepala bagian belakang bapak terantuk batu di dalam goa, tapi syukurlah tidak ada tanda-tanda gegar otak”, rupanya dia dokter yang memberiku pertolongan pertama. Aku meraba kepala bagian belakangku, ada perban. 

Ayah sih nekat masuk ke dalam goa cuma pake senter hp”, protes anakku yang sulung. Aku hanya bisa tersenyum tanpa bicara. Aku tidak akan menceritakan apa yang aku alami kepadanya atau kepada siapapun juga. 

Saat semua orang sudah keluar kamar hanya tinggal aku sendirian, aku termenung mengingat apa yang telah ku alami, kemudian meraba kantung kemejaku. Tanganku menyentuh sesuatu benda panjang sekitar 15 sentimeter. Ternyata itu pena tinta yang diberikan Eduard Douwes Dekker kepadaku sebelum pamit tidur.                         
  
                                           

Selasa, 29 Mei 2018

AIR TINJA dan FILMNYA PAULY SHORE

Waktu smu saya tergila2 sama film ENCINO MAN, film debutnya Brendan Fraser sebelum jauh lebih nge-top di film The Mummy. Nah di film Encino Man itu pemain yang mengkilap selain Brendan Fraser yang jadi manusia purba adalah yang berperan jadi pendamping si Encino Man, yaitu si Pauly Shore yang berperan sebagai Stoney. Di film itu gayanya slenge'an and stylenya ala hypster flower generation. Ya itulah, film Encino Man sukses menghibur menurut saya karena dua orang itu.

Brendan Fraser (kiri) Pauly Shore (kanan), dalam film Encino Man, Hollywood Pitures production, 1992

Tapi saya sedang membahas Pauly Shore. Film lain yang membuat karir Pauly Shore mengkilap di jamannya adalah film yang judulnya IN THE ARMY NOW. Kali ini Pauly Shore berperan sebagai tentara Amerika yang bertugas di divisi "water purification" atau dipanggil dengan sebutan "water boy". Jadi dia bersama timnya yang ngolah (yang bisa diasumsikan sebagai) air tinja agar bisa diminum oleh pasukan sebuah operasi militer. Jadi mereka ga seperti tentara reguler yang megang senjata. Tapi itu bukan tugas yang biasa, itu tugas yang sangat vital. Bayangkan jika sebuah batalyon dalam sebuah operasi tempur kena diare gara-gara minum air kotor atau (yang bisa diasumsikan sebagai) air tinja itu, hancur berantakanlah misi.

poster film In The Army Now. Hollywood Pictures production, 1994

Tapi, heiiy ..siapa yang menduga dari water boy malah menjadi pahlawan perang karena memporak-porandakan markas musuh di Libya sana. Tapi ini bukan film serius, ini film komedi. Pauly Shore emang spesialis film komedi. Dia juga seorang Stand-Up comedian juga sih.
Cerita tentang tinja, dulu waktu jaman nongkrong sama anak-anak komplek juga kalo begadang suka manggang lele dumbo hasil mancing di empang (kolam ikan di tanah yang di gali dengan kedalaman tertentu) orang secara diem-diem. Empangnya itu kepunyaan warga betawi yang banyak tinggal di belakang komplek. Empang itu selalu ada bilik buat (maap) buang aer besar atau (maap) boker orang-orang kampung situ, atau siapa aja sebenernya boleh boker disitu. Katanya sekalian buat makanan ikan di empang itu. Jadi "ngebantu" yang punya empang juga sebenernya jadi ga boros pakan ikan. Tapi emang lele dari empang itu ukurannya gede-gede, ya dasar tipe lele jumbo juga, tapi konon tinja juga memberi "nutrisi" tambahan ke ikan.

Percaya atau tidak lele dari empang yang ngambilnya secara diem-diem dan ada bilik buat boker itu rasanya (ternyata) ajib, gurih banget. Ya tentunya gurihnya bukan dari rasa tinja (mudah-mudahan), karena secara ilmiah lele atau ikan dalam tubuhnya memiliki enzim alami yang mampu mengurai/menetralisir kotoran dalam bentuk apapun (kecuali limbah pabrik kaya merkuri ya) menjadi energi atau daging yang enak dimakan. Ya temen yang ngolah ikannya juga jago sih, bagian jeroannya bersih di buang, jadi cuma ada daging dan tulangnya. Pertama mau makan ada sensasi "uji nyali" ala FEAR FACTOR, keingetan bilik pinggir empang dan bunyi "plung" trus langsung dirubung lele-lele lapar itu. Tapi namanya juga anak muda, jaman-jamannya edan, ya sikat aja....ya itu ternyata gurih. 
Kalian musti coba.

Ya udah...segitu aja cerita sayaKalian mau nunggu cerita apa lagi emang yang ada hubungannya dengan air (olahan) tinja?. 
ga ada udah, haha :D 


Rabu, 28 Maret 2018

G U N A D I


Saat masih remaja berusia dua puluhan saya pernah punya seorang sahabat, namanya Gunadi, teman-temannya memanggilnya "Gun". Ayahnya seorang pensiunan tentara Angkatan Darat angkatan 60an, veteran operasi Trikora berpangkat Kopral Kepala. Di usianya yang saat itu sudah 64 ia terlihat begitu renta. Dia tidak dapat lagi sepenuhnya memantau pergaulan Gun anaknya, tubuhnya sudah ringkih karena sakit lever yang dideritanya. Sedangkan ibu Gun adalah tipe ibu yang lemah lembut dan cenderung tidak dapat memberikan larangan kepada anak-anaknya. Gun anak ke enam dari tujuh bersaudara, namun si adik bungsu meninggal dunia saat berusia 3 tahun, akibat wabah campak. Itu membuat Gun otomatis menjadi anak bungsu. Sebagai anak bungsu Gun cenderung dimanja oleh kedua orang tuanya, segala kemauan dan keinginannya dituruti saja. Termasuk saat ulang tahunnya yang ke 19 dia memaksa orang tuanya membelikan motor baru. Tentu saja hal tersebut memberatkan kedua orangtuanya, tapi toh dituruti juga kemauan si Gun meski ayahnya hanya mampu membelikannya motor bekas, tapi sangat layak pakai. Ada seorang tetangga yang menggadaikan motor Honda supranya buat menambah ongkos pulang kampung. “Ah, paling lama sebulan aja motornya”, kata seorang teman mengomentari motor baru tapi bekas Gun. Sambil mendengus Gun membalas berkata; “ngehe lo”, disambung kemudian tertawa berderai. Imej Gun yang paling saya hapal adalah kebiasaannya menggaruk-garuk sepanjang lengan dan rambut gondrongnya yang lepek pertanda sudah kurang lebih seminggu tidak keramas. Tapi itu tidak mengurangi daya tarik Gun dimata perempuan, memang ia pada dasarnya berwajah tampan.

Karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, selepas SMA Gun tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hanya saja ia mengambil kursus komputer selama setahun. Gun sendiri tidak pernah menyesali keadaan itu, malahan dia seperti senang karena pikirnya dia bisa terbebas dari buku-buku pelajaran sekolah. Selama dibangku SMA saja dibandingkan bersekolah dia lebih gemar membolos, bermain bilyard disebuah persewaan bilyard di pasar belakang komplek rumah. Biasanya dia bermain dengan bertaruh uang. Ibunya hanya mengelus dada saja ketika lagi-lagi surat panggilan dari pihak sekolah diterimanya, yang bertanda dari guru Bimbingan Penyuluhan atau disingkat guru BP. Sehari setelah pemanggilan pihak sekolah keesokan harinya Ayahnya dengan berjalan tertatih-tatih mencoba melabrak Gun di tempat bilyard biasa Gun menghabiskan waktunya membolos sekolah. “Ada Gun kesini?”, katanya kepada pemuda-pemuda yang sedang bermain bilyard. “Ga ada pak, sekolah”, sahut mereka kompak. Yang ditanya sebenarnya sekitar 3 menit yang lalu sedang membidik bola nomor enam. Ketika seseorang berteriak; “GUN.., BOKAP LO!”, Gun langsung terbirit-birit melarikan diri lewat pintu belakang, kemudian bersembunyi di los daging pasar itu.

Gun dan saya sebenarnya satu komplek perumahan. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar saya dan keluarga pindah ke komplek ini, sebelumnya saya dan keluarga tinggal di Antapani, Bandung. Sedangkan Gun dan keluarga sudah lebih dulu setahun tinggal disini. Keluarganya pindahan dari Lombok, NTB. Artinya saya mengenalnya sudah cukup lama, hanya saja sebatas teman kenal satu komplek. Dia lebih tua satu tahun dari saya. Sewaktu SD, saya kelas 3 dia kelas 4. Namun tidak disangka beberapa tahun kemudian kami menjadi sahabat akrab. Awal mula keakraban persahabatan kami dimulai saat saya menjadi peserta festival band di sebuah Universitas swasta di kota kami bersama 3 teman saya lainnya. Jumlah peserta festival band itu sekitar 67 band. Selain band ada juga kompetisi lainnya yang diselenggarakan, yakni cheerleader. Pada saat babak penyisihan saya dan band membawakan lagu “Creeping Death dari  Metallica”, saya menabuh drum. Setelah seluruh band membawakan satu lagu pada babak penyisihan, petang harinya sekitar pukul 3 panitia festival mengumumkan band-band yang berhasil masuk final, terpilih sebanyak 10 band. Ternyata band saya termasuk diantara finalis. Saya dan seluruh teman-teman band melompat gembira mendengar pengumuman panitia itu. Tiba-tiba seorang laki-laki berambut gondrong berwarna kecoklatan menghampiri rombongan saya; “Selamat ya bro”, katanya sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada saya dan ketiga personil band saya. “Heiy…,Gun!”, kata saya sambil melongo keheranan. “Ada di sini lo. Dari kapan?”, tanya saya kepadanya. “Dari jam satuan. Gue liat lo maen. Keren bro”, jawabnya.

Tidak lama setelah jeda istirahat, pukul 4 petang kembali panitia festival menaiki panggung, nampaknya akan mengumumkan sesuatu.  Selamat sore semuanya!!, masih semangat kan?!!. Ada kompetisi yang asik nih sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu…: CHEERLEADER!!”, demikian mc menyapa diatas panggung. Semua yang mendengar pengumuman mc itu menjadi berwajah lebih ceria dan suasana menjadi gegap gempita. “Cheerleader bro!”, kata Gun kepada saya sambil menampakan raut muka berbinar bermakna mengajak. “Yu”, balas saya yang bermakna mengiyakan ajakan. Kompetisi cheerleader digelar di depan panggung utama, posisinya tentu saja lebih rendah dari panggung. Untuk menyaksikannya penonton membentuk lingkaran, ditengah-tengahlah para gadis cheerleader berwajah manis kinyis-kinyis nan ceria menunjukan atraksi kebolehan gerakan atau tariannya, terdengar teriakan khas cheerleader. Dari posisi terbelakangi beberapa penonton lain saya hanya bisa melihat aksi cheerleader saat mereka melakukan gerakan kombinasi bertingkat atau “piramida”, lazimnya 3 tingkat. Karena posisi saya yang dibelakang penonton lain, saya hanya bisa melihat cheerleader yang berada di tingkat kedua dan ketiga piramida, itupun harus berjinjit sesekali. “Ke depan yu bro, ga kliatan disini”, kata Gun. Belum sempat saya jawab dia sudah menghilang dari dekat saya, melesat kedepan. 

Pukul 11 malam festival band itu berakhir, band saya tidak beruntung menjuarai festival. Tapi  lumayanlah, jadi finalis 10 besar. Gun masih bertahan hingga acara selesai, ingin jadi supporter band saya katanya. “Thanks man”, kata saya kepadanya. Di dalam angkutan umum menuju pulang, dia bercerita kepada saya bahwa dia sebenarnya suka ngeband juga, dia seorang vokalis. Dan dari obrolan kami ternyata saya dan Gun sama-sama penggemar berat The Doors. Hanya saja dia bilang hingga detik ini belum menemukan partner ngeband yang menggemari dan memainkan musik The doors, mungkin karena The Doors termasuk band old school. Sejak malam itu kami menjadi akrab, Tuhan menyatukan kami dalam The Doors.

The Doors, 1967
The Doors adalah band asal Los Angeles, Amerika Serikat yang aktiv dipertengahan tahun 60an. Saat itu Amerika sedang terlibat dalam perang Vietnam sebagai bagian dari panggung era perang dingin. Di Amerika sendiri menggeliat semacam gerakan anak muda pecinta damai yang melakukan aksi protes menolak kebijakan perang pemerintah Amerika, generasi ini disebut “Generasi Bunga” atau “Flower Generation”. The Doors menjadi salah satu band yang mewakili suara anak-anak muda generasi bunga. The Doors beranggotakan Jim Morrison pengisi vocal, Ray Manzarek pengisi organ, Robby Krieger pengisi gitar dan John Densmore pengisi drum. Gun sangat terobsesi kepada Jim Morrison, dan sejak perjalanan pulang bareng malam itu dia mengajak saya membentuk band yang membawakan lagu-lagu The Doors, atau jika membawakan lagu sendiri maka The Doors menjadi pengaruh utama musikalitasnya. Karena bagi saya ajakan ini seperti gayung bersambut maka saya menyetujuinya. Saya bisa juga bermain gitar, maka saya memutuskan pada band saya bersama Gun ini mengisi posisi gitar. Gun sendiri tentu saja sebagai vokalis.

Singkat cerita, akhirnya band saya dengan Gun terbentuk utuh. Namun sedikit berbeda dengan The Doors, kami menambahkan satu personil lagi yaitu posisi bass gitar. Ray Manzarek memang seorang dewa, tidak ada yang menyamakan kepiawaiannya bermain organ yang berfungsi pula sebagai harmonisasi bass. Maka jumlah personil kami berlima. Tiga personil lainnya adalah kawan-kawan kami. Pada posisi bass dan drum teman band saya, sedangkan posisi organ merupakan teman dari Gun. Skill permainan organ teman kami levelnya belum setingkat dewa seperti Ray Manzarek. Kami menamakan band ini PATIENT yang artinya “sabar”, saya yang mengusulkan nama itu. Ide nama Patient didapat dari Al Quran, yang didalamnya terdapat firman Allah yang mengatakan; “jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Juga begitu banyak kalam dalam Al Quran yang mengingatkan manusia untuk lebih banyak bersabar. Gun dan teman-teman lainnya setuju, “bermakna spiritual”, kata Gun. Entah bagaimana menjelaskan secara logika pemikiran ini, namun Gun merasa roh Jim Morrison menitis ke dalam jiwanya. Saya sendiri sedapat mungkin memahami dengan sebaik-baiknya cara Robby Krieger memainkan gitarnya pada setiap lagu-lagu The Doors sehingga setiap lagu dan penampilan mereka berjiwa. Memang secara musikalitas The Doors, alunan nada organ seorang Ray Manzareklah yang paling dominan, namun jika diibaratkan tim sepakbola maka Jim dan Robbie saat berada diatas panggung keduanya bagaikan dua ujung tombak tim, dalam hal ini Jim Morrison strikernya.

Suatu malam Gun berkunjung ke rumah saya, “bikin lagu nyok”, ajaknya. “Ayo, tapi kita cari mansion dulu biar aura psikedeliknya dapet”, balas saya. “Wah mantap!”, sahut Gun. Mansion adalah minuman beralkohol jenis whiski, kadar alkoholnya 43%, lumayan cepat membuat mabuk. Dari otak saya dan Gun dibawah pengaruh mansion terciptalah sebuah lagu yang kami beri judul “Budak Kenyataan”. Liriknya seperti dibawah ini :

Aku milik siapa, kamu milik siapa
Aku cinta siapa, kamu cinta siapa
Saling mengagumi dan saling merindukan
Kita menjalani kisah yang tertutupi
Malammalam sunyi menjadi saksi
Tanpa bersuara pun kita berjumpa
Langit gelap jadi medan petualangan
Kosong disisi menjadi niat
Niat kesempatan maka terjadilah

(bridge)
Semua menyesakku semua pojokkanku
Tak mampu ku lawan harus ku alami
Budak kenyataan adanya diriku
Nikmati saja, nikmati saja
Nikmati saja, nikmati saja

(reff)
Mati saja! Mati saja!, Nikmati saja!
Mati saja!, Nikmati saja!
Mati saja!,
Nikmati  saja!,...sampai mati!!  

Mimpi-mimpi mahal yang tak mampu dibayar

Usaha panjang yang tlah terjalani semakin hilang dari harapan
Aku sudah lelah bahkan kadang muak
Semua ini tidak seperti kehendak
Aku sangat benci keadaan ini
Hingga pada saat harus memutuskan
Idealisme diri harus mengalah
Aku hanya ini menjadi berarti   

(kembali ke bridge kemudian reff)

Saat azan subuh berkumandang, Gun beranjak pulang ke rumahnya. Langkahnya terlihat sedikit gontai. Sampai di muka rumahnya dia melihat pagar masih tergembok. Tanpa pikir panjang dia lompati saja pagar rumahnya. Kemudian terdengar seseorang membuka kunci pintu rumah, ayah Gun. “Dari mana kamu?”, tanya ayah Gun. “Dari rumah david”, jawab Gun. “Sampai seminggu?”, tanya ayahnya lagi. Gun mengabaikan pertanyaan terakhir ayahnya kemudian langsung menuju kamarnya, melanjutkan tidur lagi. Dia juga merasa kepalanya masih berat.

Jam sudah menunjukan 4.30 petang, Gun baru saja terbangun. Namun rohnya belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhnya. Terduduk saja ia disisi kasur pegasnya meski mata masih memejam, berat untuk membuka. Tangannya meraba meja disamping kasur, dia mencari batang rokok Marlboro merah siapa tahu ada tercecer disana. Dapat satu. Ganti merogoh saku celana jinsnya, mencari korek api kayu dalam kemasan kotak kardus kecil. Ia bakar rokoknya, dia hisap kemudian dia hembuskan asapnya. Perlahan dia membuka matanya hingga akhirnya sepenuhnya membuka. Ia beranjak kepada tape pemutar kasetnya dan menekan tombol “play”. Terdengar Jim Morrison menyerukan “Break On Trough To The Other Side”. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media Jim mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak sedang bernyanyi, dia lebih merasa sedang berseru. 

Kemudian Gun seperti teringat sesuatu, “oh iya,..mana tuh barang”. Lagi dia merogoh saku celana jinsnya, di sebelah dia menemukan korek apinya, “ga ada”, gumamnya dalam hati. Dia merogoh saku sebelah lagi, “nah ni dia”. Sebuah insulin, jarum suntik, dan lipatan kecil kertas foil bungkus dalam rokok. Didalam kertas foil itu terdapat bubuk putih kira-kira ukuran satu gram. Kemudian dia pergi ke dapur mencari sendok makan. Masuk kembali kedalam kamarnya, tidak lupa dia kunci. Berlanjut dia menyalakan lilin, seolah dia hendak melakukan sebuah ritual. Serbuk tadi dia bubuhkan pada sendok makan, kemudian diberi air sesuai takaran sendoknya. Sendok yang telah dibubuhkan bubuk dan diberi air tadi dia letakkan tepat diatas api yang menyala pada lilin, laksana merebus telur atau mie hanya saja pancinya dari sendok makan dan yang direbus adalah bubuk tadi. Tidak sampai satu menit air dalam sendok itu menggolak kecil sama seperti tanda air yang telah masak sempurna karena direbus. Lanjut dia buka kemasan insulin, kemudian dia masukkan perlahan cairan rebusan bubuk tadi ke dalam insulin dengan cara disedot melalui jarum suntiknya. Sampai tandas habis tak ada cairan yang tersisa pada di sendok. Ritual selanjutnya dia buka sabuk celana jinsnya kemudian dia ikatkan pada lengan kirinya diatas siku, ia ikat kuat-kuat. Kemudian dia buka-tutup kepalan tangan lengan kirinya itu dengan interval yang konstan sesekali dengan kombinasi seperti melakukan gerakan mengangkat barbel kecil pada gym sebanyak 3 kali angkatan, dia buka-tutup lagi kepalan tangannya, begitu seterusnya sampai beberapa urat lengan kirinya itu tampak jelas. Setelah itu dia ambil insulin yang telah siap tadi yang telah berisi cairan bercampur bubuk, bagaikan mantri suntik atau dokter handal dia menginjeksi lengannya sendiri tepat pada urat yang tampak menonjol. Dia tekan insulinnya hingga setengah cairan dalam insulin itu masuk ke dalam uratnya kemudian dia tarik sedot kembali insulinnya sehingga cairan tadi yang telah masuk kedalam uratnya kembali masuk ke dalam insulin, namun kali ini bercampur dengan darahnya. Kembali dia tekan insulinnya dengan perlahan hingga seluruh cairan yang telah berwarna kemerahan itu kembali masuk kedalam uratnya langsung cepat menyebar keseluruh tubuh. “Ahhhh…..”, Gun melenguh. Kelopak matanya terpejam, kali ini bukan karena kantuk namun seolah mencapai klimaks ejakulasi. Pupil bola matanya mengarah ke atas. Dia buka perlahan sabuk yang terikat pada lengannya, ketika mengendur hingga terlepas, kembali Gun melenguh; “Aaahh….”. Gun pun menggeletak kembali pada kasur pegasnya. Adegan selanjutnya dia berlarian diantara awan-awan dan pelangi yang berwarna-warni, namun bukan lari yang melelahkan melainkan berlari pada ruang hampa nol gravitasi. Terus dia melayang tinggi hingga ruang angkasa yang bertabur bintang, planet dan galaksi. 

Sementara itu lantunan musik The Doors dan seruan Jim Morrison dari speaker tape seakan turut membuai Gun yang semakin melayang tinggi hingga berada di lorong lubang hitam. “You know the day destroy the night, Night divides the day, Tried to run, Tried to hideBreak on trough to the other side!, Break on to trough to the other side, yeah!, We chased our pleasures here, Dug our treasurer there, But can you still recal, The time we cried, Break on trough to the other side, Break on trough to the other side!!
https://youtu.be/rOpQjD-rX0g


# b e r s a m b u n g #


Jumat, 16 Februari 2018

SENDIRI (Sebuah Lagu Untuk Sahabat)




Saya pernah memiliki sahabat karib. Dia bukan hanya seorang teman, saya memandangnya seperti saudara sendiri dan mentor saya. Dahulu disaat usia saya berada diusia mulai senang keluar rumah, masa pencarian jati-diri, dialah yang "mengajarkan" saya kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa sesuatu didapat tidak dengan mudah, butuh usaha dan perjuangan. Bahwa tidak semua apa yang kita inginkan dapat kita miliki. Dia berasal dari keluarga biasa, sedang saya dari keluarga yang kebetulan lebih beruntung secara ekonomi. Saya banyak belajar tentang kenyataan hidup darinya, belajar di jalanan.
Namun demikian pada masa itu, sebagai anak muda kami tidak lupa bersenang-senang, terkadang melewati batas. Kami membentuk sebuah band beraliran GRUNGE. Band kami bernama "Patient".

Suatu kesempatan saya mengajaknya mendaki gunung bersama teman-teman lainnya, Gunung Gede - Pangrango, daerah puncak, Jawa Barat. Saat diperjalanan menuju gunung, didalam bus kota dia berkata kepada saya bahwa sebenarnya dia kurang sehat, sedang flu berat dan gigi gerahamnya sedang bengkak. "Tapi demi lo semua nih, gw tetep berangkat", begitu katanya.
Kesempatan lainnya, saya dan dia sepulang dari suatu acara. Kami berboncengan sepeda motor, dia yang mengendarai. Saat itu hari telah lewat tengah malam. Saat kami melewati beberapa pemuda yang sedang berkumpul bercakap-cakap dipinggir jalan. Salah seorang dari mereka menghardik kepada kami, "pelan-pelan bawa motornya". Tanpa pikir lama, teman saya ini menghentikan laju motor. Turun dari motor lantas menghampiri mereka, "Siapa yang tadi ngomong?", bentak teman saya. "Gue", kata salah seorang dari mereka dengan sikap menantang. Saya masih duduk di motor menerka-nerka apa yang bakal terjadi. Benar saja, perkelahian. Saya segera turun dari motor dengan maksud melerai. Teman-teman dari kelompok itupun seperti hendak membantu kawan mereka yang sedang baku pukul. Entah bagaimana kejadiannya, lawan teman saya itu mundur beberapa langkah mengambil jarak, sambil memasang kuda-kuda entah karate atau taekwondo. Yang mengherankannya kawan-kawan dari kelompok itu tidak berani berbuat apa-apa. "Apa lo!, sini kalo mau bantu temen lo!", bentak teman saya itu. "Maap bang, engga bang", kata mereka sambil tangan posisi sembah hormat. Sepertinya teman saya itu masih terbakar emosi, dia kembali menghampiri lawannya, yang dihampiri malah lari. Saya kemudian menahan laju teman saya itu, namun dia malah berontak sambil tangannya mengepal ke arah lawannya; "Sini lo, jangan lari anjing!", makinya. Teman saya itu bagaikan kerasukan setan, saya kewalahan menahan berontaknya, saya pun melepasnya; "terserah lo aja dah!", hanya kalimat itu yang keluar dari mulut saya.  Dia kemudian berlari mengejar lawannya itu. Sekira 50 meter dari posisi semula teman saya berhasil mengejar lawannya, baku pukul kembali terjadi. Pemandangan yang kemudian terlihat adalah ..., si lawan tersungkur. Teman saya menendanginya sambil membentak; "bilang ampun ga lo!, ampun ga lo!". "Ampun bang, ampun bang", si lawan rupanya menyerah tak berdaya. Kelompok pemuda yang sedang nongkrong itu sekitar 5 orang. Tidak berdaya melawan teman saya itu. Mungkin kalian membayangkan teman saya itu berbadan tegap besar seperti anggota tentara atau bodyguard, salah. Posturnya cenderung kurus meski tidak kerempeng, dan tinggi badannya tidak lebih tinggi dari saya yang 170 cm.          



Desember 2012, teman saya menderita sakit keras. Ia mengeluh sakit kepala yang hebat sampai-sampai pernah membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Panas tubuhnya tinggi disertai demam. Menurut diagnosis dokter yang merawatnya pada otak teman saya itu tumbuh semacam jamur yang disebut kriptokokus. Berhari-hari dia tergolek di rumah sakit, tidak berdaya. "Banyak begadang dan minuman alkohol", kata perawat yang bertugas menjaganya kepada saya saat saya membezooknya di rumah sakit. Dua hal yang disebut itu membuat daya tubuh semakin ringkih hingga memicu perkembangan kriptokokus.

Maret 2013, sore hari di waktu maghrib sepulang saya bekerja, saat masih berkendara di motor entah bagaimana, mata kanan saya terasa perih seperti dimasuki serangga. Padahal saya mengenakan helm yang tertutup. Sampai saya harus menghentikan motor di sisi jalan raya hanya sekedar menunggu rasa perih mata saya reda. Sedemikian perihnya hingga mata kanan saya mengeluarkan banyak air.
Baru saja sekitar setengah jam saya tiba di rumah, datang seseorang yang rupanya tetangga teman saya. "Mas Bobby, bang Lutvy meninggal maghrib tadi di rumah sakit". Mendengar kabar demikian tubuh saya gemetar, kemudian saya bersimpuh pada kedua lutut, saya merasa lemas. Kemudian saya menangis memanggil-manggil nama sahabat saya itu.

Belum pernah saya merasa kehilangan seseorang seperti ini sebelumnya, saat kakek saya dari ibu meninggal dunia saya sedih tapi saya tidak merasa shock, juga saat nenek saya dari ayah meninggal. Kehilangan sahabat dekat yang selayak saudara sendiri, saya menganggapnya sebagai kakak dan mentor hidup yang darinya saya banyak "belajar" tentang realita hidup, seolah ada bagian dari diri saya yang turut pula hilang. Berpulangnya sahabat saya itu benar-benar menyadarkan saya akan kematian. Kematian itu ternyata tidak pernah jauh dari kita, dia bisa datang kapan saja.

Sahabat saya itu memang sudah tiada raganya, namun jiwa dan kenangannya akan selalu hidup di benak saya. Saya teringat dia pernah menorehkan tulisan corat-coret pada selembar kertas; "Hidup Adalah Perjalanan", mungkin itu motto hidupnya. Saya coba merenungkan arti kalimat itu. Saat ini saya memaknainya : hidup itu adalah perjalanan mencari makna dari kehadiran kita di dunia. Kita hendaknya mencari tempat di dunia ini dan peran kita bagi orang lain, ingin seperti apa kita dikenang jika kita sudah tiada. Saya kemudian mengingat sahabat saya itu selama hidupnya, dia memang jauh dari sempurna, dia hanyalah manusia biasa. Namun saya dan semua teman-temannya mengenang dia akan sosok yang setia kawan, solidaritas yang tinggi, melindungi saudara dan sahabat-sahabatnya dekat dan bernyali besar. 

Hari pemakaman teman saya itu dihadiri oleh banyak orang, terlebih sahabat-sahabatnya. Bahkan mereka yang telah pindah tinggal di lain kota menyempatkan diri hadir untuk mengantarkan Lutvy ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Innalillahi wa Innailaihi Rojiun.
         

-end of my story-


Saya membuat sebuah lagu yang saya persembahkan untuk sahabat karib saya, Lutvy Gaselick. Rest In Peace brother ..

SENDIRI

Sendiri,dihati ini
Tak ada kawan temani
Mencari, tak tahu pasti
Langkahku penuh misteri

Tuhanku, beri kekuatan
Menjalani hidupku
Enyahkan jiwa pengecut
Terbunuh berkali-kali

Sendiri, dikamar ini
Meringkuk aku sembunyi
Sakitku tidak berperi
Cobaan bertubi-tubi

Tuhanku, beri keberanian
Mengalahkan raguku
Jikalau ku harus mati
Ku tak ingin sia-sia



============================
klik link dibawah ini untuk mendengarkan lagunya
https://youtu.be/GP-ZB7BG3hM