Senin, 04 April 2011

INTO THE WILD

Apakah anda merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang anda jalani atau yang terpikir akan anda jalani?, jika jawabannya ya maka pergilah mengarungi planet bumi yang luas ini, temuilah beberapa komunitas masyarakat dan bergaulah dengan bermacam karakter manusia kemudian menyatulah dengan alam bebas. Namun janganlah  diartikan anda lari dari kenyataan, jadikan kepergian anda sebagai arena perenungan dan sebuah usaha untuk mencari jawaban dari semua pertanyaan hidup.

Itulah pesan yang saya dapat dari film INTO THE WILD. Adalah sebuah film yang mengadopsi perjalanan hidup Christopher Johnson McCandless (12 Februari 1968 – 18 Agustus 1992), seorang pemuda dari keluarga kelas menengah di Amerika yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMU dengan nilai yang sangat baik dan memiliki kesempatan yang terbuka luas untuk melanjutkan studinya ke Jurusan Hukum Universitas Harvard.
Namun alih-alih melanjutkan studi dan menjalani kehidupan penuh ceria dan hura-hura seperti kebanyakan remaja Amerika seusianya, dia malah memilih pergi ke “alam bebas(Into The Wild) ” untuk mencari kebahagiaan hidup yang hakiki.
Terlahir dalam sebuah keluarga kelas menengah yang secara ekonomi tercukupi, sebuah keluarga yang nampak sempurna ini ternyata menyimpan percikan-percikan ketidak harmonisan diantara Ayah dan Ibu Christopher. Suatu ketika digambarkan kedua orang tuanya bertengkar hebat di depan mata Christopher dan adik perempuannya.
Namun demikian memiliki orang tua yang berlatar belakang pendidikan tinggi maka bisa berarti pula terjaminnya fasilitas mengembangkan intelektualitas seorang Christopher. Christopher terbiasa dan gemar membaca literatur-literatur filsafat dan cerita-cerita roman dari penulis besar, salah satu buku yang sangat mempengaruhi alam pikirnya adalah karya Leo Tolstoy yang berjudul Happy Family.

Kemudian, hari yang selama ini dia idamkan tiba, hari dia memulai “petualangannya”. Dengan berbekal tas ransel besar yang hanya berisi pakaian, matras tidur, buku-buku favoritnya (termasuk buku Leo Tolstoy tadi) dan buku catatan yang akan merekam semua pengalaman dalam perjalannya. Hebatnya dia tidak membawa sepeser uang pun sebagai bekal, bahkan beberapa lembar uang terakhir yang ada dalam sakunya dia bakar.
Dia memulai perjalanannya dari wilayah gurun di Texas, kemudian perbatasan Mexico sampai tujuan akhir yang menurutnya disanalah dia baru akan memulai petualangannya ; wilayah hutan dingin bersalju….Alaska, yang berarti perjalannya tersebut dari wilayah paling selatan USA sampai wilayah utara USA. Dalam perjalan inilah dia menyatu dengan alam dan menemui berbagai macam karakter manusia yang semua itu dia anggap menjadi “guru kehidupan”. Uniknya, selama petualangannya dia mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp.

Seting film ini adalah tahun 1990-an, ketika Presiden Amerika pada saat itu George Bush senior sedang melancarkan Perang Teluk, yang berakibat resesi dalam negri di Amerika, mengakibatkan banyak anak muda frustasi akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan, hal mana boleh jadi juga menjadi kegalauan seorang Christopher.    
Suatu ketika dalam persinggahannya, dia berdialog dengan seseorang di sebuah bar, orang itu bertanya; “Apa yang sedang kamu lakukan ini?(melakukan petualangan)”, dia menjawab ; “Kamu hanya “hidup”, Ini adalah tentang kau keluar dari masyarakat yang sakit (sick society), karena yang aku tidak mengerti, kenapa setiap orang melakukan hal buruk satu sama lain. Bagiku itu tidak masuk akal. Kemudian atas semua penilaian-penilaian, cara pandang, kendali dari para orang tua, manusia-manusia hipokrit dan politisi-politisi”.

Dari sisi sebuah perjalanan hidup, memang kisah hidup Christopher getir, karena digambarkan kedua orang-tuanya mengerahkan segala upaya untuk mencari keberadaan anaknya Christopher, dan senantiasa merindukan kembalinya Christopher ditengah keluarga. Nasib Christopher pun berakhir tragis, karenakan minimnya pengalaman bertahan hidup di alam bebas (jungle survival) dia terjebak tidak dapat kembali pulang, dan salah memakan tumbuhan hutan yang ternyata beracun.
Namun demikian dari sisi filosofis, Christopher menemukan yang selama ini dia cari, paling tidak kesan itulah yang tersirat dalam guratan terakhirnya di lembar halaman buku Happy Family-nya Leo Tolstoy, yang mungkin sebuah pesan bagi mereka yang membacanya ;
“HAPPINES ONLY REAL WHEN SHARED”.
 Jenasah Christopher ditemukan oleh pemburu rusa, dengan perkiraan telah 2 minggu sejak nafas terakhirnya, dia meninggal pada usia 24 tahun.

Sebuah film yang sangat apik dan menginspirasi. Diproduksi tahun 2007, disutradarai oleh Sean Pean, karakter Christopher diperankan oleh aktor muda berbakat Emile Hirsch.
Di film ini selain mata dimanjakan oleh keindahan alam Amerika, telingan pun dimanjakan oleh musik soundtrack yang sebagian besar diisi oleh lagu-lagu bernuansa balada dan folk yang dinyanyikan oleh Eddie Vedder frontman dari Pearl Jam.           

Rabu, 15 Desember 2010

Petugas SPBU itu bernama “Ahmad Dhani”


Senin malam kemarin, aku kebetulan harus pulang kerja aga larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Biasanya aku termasuk karyawan “tenggo” alias jam lima “teng” langsung “go”. “Untuk rapat Board of Direction besok, laporan ini harus selesai sekarang”, demikian atasanku berkata sedari pagi tadi.
Keluar gedung kantor tempatku bekerja cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya temaram lampu penerang jalan dan cahaya pendar berkilauan yang berasal dari gedung-gedung bertingkat lainnya yang bersebelahan dengan gedung kantor kerjaku. Ada perasaan lega dalam hati, karena akhirnya aku selesaikan juga pekerjaan yang bertumpuk tadi, dan ada juga rasa syahdu demi melihat pendar cahaya-cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu gedung yang mencoba melawan gelap pekat alami malam.
Jumlah motor yang ada tempat parkir motor tidak sebanyak lagi dibanding tadi pagi, hanya saja memang ada sekitar dua puluhan motor lagi masih disitu, “pasti orang bagian Akuntansi dan Keuangan”, gumamku dalam hati. Kunyalakan mesin motorku, kudiamkan terlebih dahulu barang satu menit sekedar memanaskan mesin, tak lupa berdoa mohon keselamatan akan perjalanan pulang hingga sampai di rumah dengan selamat, kulirik jam tanganku, menunjukan pukul 8.15 malam, kemudian motor pun ku gas.  
   
Dalam perjalanan pulang, aku menyempatkan untuk mengisi bahan bakar motor yang indikatornya sudah menunjukan posisi merah yang artinya harus segera diisi.
Antrian di gardu pengisian bensin khusus motor cukup panjang, padahal sebentar lagi jam 9 malam. “Jakarta hari senin emang sibuk banget”, kataku dalam hati.  Akhirnya tiba giliranku di mesin pengisian bensin, seperti biasa petugas Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum (SPBU) itu menyapa dengan ramah ala iklan sebuah perusahaan minyak milik negara yang slogannya “Pasti Pass”.
“Di posisi nol ya pak”, katanya sambil menunjukan meteran digital pada mesin tersebut. “Ya”, kata saya. Padahal terus terang aku enggan melihat ke arah meteran digital mesin itu sekedar mengecek kebenaran perkataan petugas mesin pengisian bensin yang melayaniku. “Aku percaya ko”, masakan iya ketimbang mengisi bahan bakar 1,5 liter si petugas tega menipu, demikian pikirku.  

Selintas mataku tidak sengaja melihat name tage petugas yang mengisi bensin motorku, tertulis.......“AHMAD DHANI”.
Keren namanya bang,….Ahmad Dhani”, spontan aku sapa petugas SPBU. Dia menjawab, “hehehe…iya pak, namainnya pake bubur merah putih nih”. Salah satu tradisi di Indonesia, para orangtua membuat bubur beras ketan berwarna merah putih kemudian dibagikan kepada sanak family atau tetanga sekitar rumah sebagai ungkapan syukur atas lahirnya anak mereka. Tapi kemudian dia menyambung, “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, katanya sambil senyum kecut seolah-olah metertawakan diri sendiri.
Aga kaget juga aku mendengarnya, kemudian aku menimpali, “jangan gitu bang, biar gitu nama abang pemberian orang tua”.

Aku berlalu dari SPBU itu, tapi pikiranku tertinggal di SPBU tadi. Yang paling teringat dan nyangkut dibenakku dari adalah kata-kata petugas SPBU tadi adalah; “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, sekali terngiang, dua kali terngiang, sampai terus saja terngiang.
Terus terang saja, aku juga belum merasa hidupku “keren”, meskipun namaku bukan “Ahmad Dhani”. Aku seorang karyawan kantor yang kerja berdasarkan perintah atasan dalam bentuk secarik kertas disposisi untuk melakukan ini dan itu, akan baik atau tidaknya hasil kerjaku, aku juga tidak tahu pasti, yang penting aku sudah mengerjakan sesuai bidang keilmuanku. Toh biasanya kebijakan atau keputusan tindakan perusahaan tempat kerjaku dalam operasionalnya merupakan hasil keputusan “top level management”. Apakah keputusan itu berdasarkan review atau rekomendasiku, aku tidak tahu pasti, karena memang tidak pernah diberitahu.
Well…., aku selalu berpikir bahwa kehidupan “8 to 5 world” sebenarnya tidak cocok buat aku yang berjiwa bebas, menolak formalitas dan etika basa-basi.    
Maka dari itulah aku tidak pernah berhenti berusaha membuat hidupku lebih “keren” dari sekarang, dan mudah-mudahan aku tidak perlu meratapi nasib sementara ini, buat apa?

Sebenarnya pengen nanya lagi siy ke petugas SPBU tadi, pertanyaan usil, “bang AHMAD DHANI, gimana kabar Mulan Jameelah?” ……heheehe…cabut ! 

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I say to myself
What wonderful world

I see skies of blue and clouds of white
Bright sunny days, dark sacred nights
And I think to myself
What a wonderful world

The colors of the rainbow are so pretty in the skies
Are also on the faces of people walking by
I see friends shaking hands saying
How do you do?
They're really saying
I love you

I see babies cry, I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself
What a wonderful world
Yes, I think to myself
What a wonderful world

And I say to myself
What a wonderful world

(what a wonderful world, versi Joey Ramones)

Kamis, 30 September 2010

PALU-ARIT, SENDOK-GARPU, GITAR & PENA

Hari Ini di Jakarta, 45 tahun yang lalu.
Terbilang hari-hari mencari jawaban.
Tetap kelabu....
But lifes (must) goes on

http://id.news.yahoo.com/lptn/20100930/tpl-rekonsiliasi-peristiwa-g30s-pki-e5c0aa3.html

Selasa, 25 Mei 2010

MALAM INI SEMUA BISA TERJADI !! (Anything Goes Tonight !!)

Sudah menjadi kebiasaan The Cocons setiap malam minggu mereka latihan band, dan sudah menjadi habit (kebiasaan.penulis) pula dalam setiap aktivitas bermusik mereka minuman beralkohol ditenggak oleh David, Joe dan Chris, kali ini Jack D jadi korban mereka. Kecuali drummer mereka Danny, nih anak cuma doyan canabis !!. Dan hal itu tidak menjadi masalah buat the Cocons, malah mereka seneng banget sama keadaan DAnny seperti itu. Suatu kali David bilang ke Danny ; “Danny my men…., pertahankan prestasimu, smoking from rasta Jah !!”
Jeda satu lagu, tante yang punya studio, dari kaca sudah memberi kode dengan mengacungkan satu jari telunjuknya. Anak-anak the Cocons sudah paham, berarti waktu rental studio sudah hampir habis dan ada kesempatan 1 lagu lagi.

Tuh tante studio udah berumur juga masih enak diliat. Rambut nya dicet pirang n suka pake rok mini pula, n gayanya itu loh....kecentilan. Suka ngelempar joke-joke porno. Pernah suatu kali pas the Cocons mau latihan Joe berbasa-basi ngajak tante nyanyi bareng the Cocons, dia bilang, “aahh..tante sih lebih suka karokean, tapi pake mick yang alot”.BUSSSEEEEETTT!!!. Malam itu tumben si tante ngasih kode pake satu jari telunjuk, biasanya kodenya satu jari tengah !!!! Si Chris bilang ; “kayanya si tante “bisa” nih…..”. Pokonya high quality MILF lah!
(MILF, kepanjangan dari “Mother I Like/Love to F*ck”. Istilah yang terkenal di Amrik sana untuk mengkategorikan perempuan berumur diatas 35 tapi masih kliatan cantik & seksi.penulis)

Sebagai lagu terakhir dalam latihan kali ini sebuah lagu cover dari Black Sabbath “Iron Man” dimainkan ;

Has he lost his mind
Can he see or is he blind ?

Can he walk at all,
Or if he moves will he fall ?


Is he live or dead ?
Has he thoughts within his head ?
We'll just pass him there
Why should we even care ?


Nobody wants him
They just turn their heads
Nobody helps him
Now he has his revenge


Jam menunjukan setengah satu dini hari ketika mereka keluar studio. “Kemana kita?”, tanya Chris. “Gw balik ah, ngantuk gw…”, kata Danny. “Sama…gw juga balik, tadi seharian gw ke Kemang trus lanjut ke Sabang nyari CD....cape gw”, kata David. “Elo Joe?.., jangan bilang lo mo balik juga...”, kata Chris dengan nada sedikit mengancam. Tanggapan Joe cuma tersenyum penuh arti kemudian dia bilang, “Vonny waiting...heeeee”. “Payah lo semua...!!, c’mon guyss..., gw masih tinggi nih..masih asik bawaannya. Pengaruh Jack D blom ilang, jalan dulu ke’, nongkrong dulu ke’ “, pinta Chris. “Sorry men…minggu depan deh, kita nongkrong sampe pagi, beneran nih gw cape banget”, balas David. “Dah ah..,gw cabut!! CU guys..”, kata Danny sambil nyemplak motor Kawasaki ninja nya.
Akhirnya ketiga kawan Chris pergi meninggalkannya sendirian, masih di pelataran studio. Clingak-clinguk sendiri macam burung Bangau di sawah, “kemana yah gw…?”, kata Chris membatin. “Ah…gw jalan aja lah kemana ke’ “, katanya lagi. Kemudian dia menyetop bus malam yang masih beroperasi, tidak jelas bus menuju kemana, yang penting dia bisa meninggalkan tempat itu. Sepertinya malam itu Chris memendam suatu perasaan yang dia sendiri ingin membawa pergi jauh. Entah apa, sementara ini hanya dia yang tahu.

“Kiri bang....”, katanya kepada kernet bus. Dia sampai di suatu tempat yang pencahayaannya remang di bawah fly over, entah dimana. Alasannya dia untuk turun dari bus tadi karena HIV....Hasrat Ingin Vivis, udah ga ketahanan karena udah diujung.
“Naaahh...ada pohon nganggur tuh...”, katanya. Tanpa tedeng aling-aling (halah..bahasa apa pula.penulis) dia membuka resleting celananya…dan…seeeerrrrr….
“Haaaaaahhh...lega gw...”, katanya sambil tertawa kecil sendiri.
Setelah membuang hajatnya, dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri trotoar.
Di depan dia melihat seorang gadis seksi berambut panjang, badannya wangi, memakai rok jeans yang digunting asal sejengkal diatas dengkul, sendal berhak tinggi, memakai baju model harajuku yang lagi nge-tren dikalangan para gadis Jakarta gara-gara penampilan duo Ratu Maia n Mulan yang fresh look pada saat mereka belum bubar, tampak bagian atas belahan buah dada yang putih bersih menyembul di bagian atas baju yang dikenakannya. Gadis itu sedang menerima telpon dari Hand Phonenya. Chris terpana melihatnya kemudian melempar senyum. Terdengar gadis yang sibuk berbicara dengan lawan bicara di HP nya berkata, “eh…ntar lo telpon gw lagi…gw ada temen nih”. Dia menutup HP dan berkata kepada Chris, “haayyy cowo mo kemana?...sendirian aja nih”. Emang itu yang diharapkan Chris, ditegur sama Gadis sexy tadi. “Ga tau nih….jalan-jalan aja”, kata Chris. Kemudian disambungnya, “nah elo ngapain di tempat kaya gini ?”. Si cewe membalas dengan nakal, “nyari mangsa…”. Otak Celebrum Chris tanggap secara cepat bagaikan otak processor Intel Pentium yang terbaru dan tercanggih dalam memproses data ngadepin situasi kaya gini. Sebuah kalimat cepat meluncur dari mulutnya ; “….nih gw mangsa…”. Gadis itu dibuat malu oleh jawaban tak kalah nakal Chris, kemudian dia tertawa. Chris berkata, “eh cw…lo mau ga nemenin gw?…”. Si gadis menjawab, “boleh aja…tapi setiap jengkal kota ini ada harganya” (thanxxxxxxxxx to The Brandals buat lirik super keren itu !.penulis). Chris bereaksi, “Whaaaattt??!!!!”. Belum sempat Chris berkata lagi, si cewe melanjutkan kata-katanya, “biasanya tarif gw buat long time 1,5 jeti (juta.penulis)….., tapi karena gw suka sama lo, lo gw kasih harga 500 deh…long time…kita ke hotel, trus kita minum, santayy, pokonya kita seneng-seneng malem ini”.

Chris Van Gill nama lengkapnya, sejauh ini banyak cewe yang nge fans sama Chris. Garis keturunannya cukup bagus, Bapaknya orang Belanda, sedang ibunya dari Manado, maen gitarnya ok karena gitaris panutannya Angus Young dari AC-DC dan Abdee Negara dari Slank, pembawaannya ramah n supel, potongan rambut nya sekarang mirip Junot di film Realita, cinta dan Rock n Roll. Tampang Indo.
Chris berpikir sejenak, kemudian dia tanya, “servis lo asik ga?”. “Gw jamin lo puas…addict malah sama gw”. Satu kata keluar dari mulutnya, “wawww..” terus….”glek”. “OK deh…”, kata Chris semangat sekali dia.

Mereka pun menyetop taksi dan membawa mereka ke hotel “check in”. Tak berapa lama mereka sampai ke hotel tujuan. Urusan Front Office slesai langsung mereka menuju kamar.
“Eh cewe…,gila ye…masa dari tadi gw blom tau nama lo”, kata Chris. “eh iya....lo panggil aja gw Ocha”, kata gadis itu. “Gw Chris...”, balas Chris. Mereka pun melanjutkan dengan pembicaraan kecil, dan tentu saja...alkohol...kali ini yang light (ringan.penulis).....2 botol beer dicampur minuman energi yang dibeli di cafe hotel. “Cha...lo cantik banget sii...”, kata Chris. “Makasih”, kata Ocha, tampak Ocha tersanjung dengan pujian entah ikhlas atau gombal dari Chris. Ocha merebahkan dirinya ke kasur. Bahasa tubuh yang sangat dipahami Chris. Chris mendekati Ocha….kini bibir mereka berdua bertemu….,lincah dan kreatif tangan Chris menari di tubuh Ocha (ga perlu lah gw jelasin detail gimana “permainan” Chris, nanti malah jadi stensilan ala Enny Arrow donk crita gw ini, padahal kan tema nya rock n roll !! btw masih ada ga sii stensilan??trus Enny Arrow tuh sebenernya siapa yaks??.penulis). Malam itu bener-bener H-O-T !!!! Sampai kedua anak manusia itu Chris hanya mengenakan Celana Dalemnya, sedangkan Ocha tinggal two pieces.

Gantian kali ini Ocha bekerja keras nan kreatif, tangan nya sigap masuk ke dalam CD (Celana Dalem.penulis) Chris dan menyentuh kemaluannya. Tiba-tiba…..; “MELLAAAAAAA !!!!!”…..”, Chris spontan teriak. Ocha pun kaget, “kenapa Chris??!!”. Chris langsung duduk di pinggir kasur menutup muka dengan telapak tangan nya. “Ya Tuhaaaannn……, maapin gw Mell,…ini salah…gw salah”, kata Chris dengan nada menyesal. Dia pun menangis. Ocha si gadis sexy cuma bisa bengong dengan pemandangan di depan matanya. “Sorry Cha....gw ga bisa ngelanjutin ini...lo ambil sendiri bayaran buat lo di dompet gw, gapapa....”. Ocha pun mengenakan kembali pakaiannya dan mengambil uangnya seperti kesepakatan mereka. “Lo yakin ga mau lanjut?”, tanya Ocha bersiap-siap meninggalkan kamar hotel. “engga Cha, sorry banget...gw suka elo...tapi gw ga bisa banget melakukannya malem ini..., sorry ya”, kata Chris. “Ya gapapa, no problem lagee.., tp kalo pengen ketemu gw lagi nih nomer HP gw...anytime buat elo gw siap”, kata Ocha sambil nyerahin secarik kertas yang sudah dituliskan Nomor HP nya. “Thanks Cha...”, kata Chris. “Bye-bye..CU yah”, Ocha pun meninggalkan kamar hotel.

Tinggalah Chris sendiri di kamar hotel, sudah kembali mengenakan celana jeansnya namun masih bertelanjang dada, tampak tato motif tribal di lengan kanannya. Duduk di kursi kamar hotel sambil merokok dan menenggak sisa beer tadi.
Pikirannya menerawang jauh, mengingat ke masa lalu saat-saat bersama kekasihnya………Mella.

Mella kekasih Chris, tewas dua bulan yang lalu. Dia Over Dosis akibat terlalu banyak menggunakan putaw. Mella tewas dipangkuan Chris.

Kamis, 06 Mei 2010

BANK DUNIA DAN SRI MULYANI

Ada berita yang cukup mencengangkan 3 hari terakhir ini, yaitu ditunjuknya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi Managing Director atau Direktur Operasional Bank Dunia mulai 1 Juni 2010 menggantikan pejabat lama yang akan habis masa jabatannya pada 30 Mei 2010, Juan Jose Daboub. Saya sebut mencengangkan bukan karena ada wakil Indonesia aktif duduk sebagai salah satu pejabat teras suatu organisasi level Internasional, namun sebagaimana kita ketahui bahwa beliau saat ini berada dalam pemeriksaan dugaan penyelewengan uang negara sebesar Rp 6,7 triliun.
Sedemikian maha pentingkah jabatan di Bank Dunia?, apa dan bagaimana Bank Dunia?, dibawah ini saya akan paparkan sedikit;


International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) -- lebih dikenal sebagai World Bank/Bank Dunia -- merupakan sebuah lembaga keuangan internasional yang pertama. Didirikan pada 27 Desember 1945 setelah ratifikasi internasional mengenai perjanjian yang dicapai pada konferensi yang berlangsung pada 1 Juli–22 Juli 1944 di kota Bretton Woods. Markas Bank Dunia berada di Washington, DC, Amerika Serikat. Secara teknis dan struktural Bank Dunia termasuk salah satu dari badan PBB, namun secara operasional sangat berbeda dari badan-badan PBB lainnya.
Meskipun IBRD telah berkembang pesat selama beberapa dekade, struktur dasar dalam Anggaran Dasar tidak berubah. Anggaran Dasar tersebut menggambarkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan organisasi secara umum, sementara untuk perincian operasional diserahkan kepada pihak manajemen Bank Dunia dan dewan direktur eksekutif.
Tujuan utama Bank Dunia adalah membantu pembangunan di negara anggota dengan memberikan fasilitas investasi dana untuk tujuan-tujuan yang produktif. Juga untuk menciptakan pertumbuhan perdagangan internasional dalam jangka panjang dan seimbang dengan cara mendorong investasi internasional. Dengan demikian membantu dalam meningkatkan produktivitas, standar hidup, dan kondisi buruh. IBRD melakukannya dengan jaminan investasi swasta serta pinjaman langsung yang diambil dari modalnya sendiri. Perbaikan dan pembangunan mendapatkan prioritas yang sama dalam aktivitas Bank Dunia.


Modal awal Bank Dunia sebesar 10 miliar dolar AS, senilai 70 atau 80 miliar dolar AS pada tahun 1993. Itu merupakan "jumlah yang besar" seperti yang diamati oleh para delegat di Bretton Woods, yakni "jauh melebihi modal bank mana pun".20 persen dari modal akan dibayarkan oleh negara-negara anggota dan sisanya (80 persen) akan "dicantumkan" sebagai jaminan. Rasio dari pembayaran sampai modal yang dapat diambil telah menurun selama bertahun-tahun. Pada tahun 1993 modal keseluruhan Bank Dunia 165,59 miliar dolar AS, dan hanya 10,53 miliar dolar dibayarkan.Jaminan oleh negara-negara industri utama (modal bank yang dapat diambil) membuat Bank Dunia dapat menaikkan uang untuk peminjaman dengan meminjam dari pasar modal internasional; Bank Dunia menarik bunga dari para peminjam sebesar setengah persen di atas ongkos peminjaman, menyimpan selisih bunga itu untuk membiayai pengeluaran operasional dan untuk menambah cadangan. Keanggotaan dalam IMF adalah prasyarat untuk dapat bergabung dengan Bank Dunia.
Bank Dunia hanya memberikan pinjaman untuk "proyek-proyek tertentu", yang dalam praktiknya adalah bendungan, jalan raya, pembangkit listrik, dan sebagainya. Bank Dunia harus memastikan bahwa dana pinjaman hanya digunakan untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan ketentuan penjaminan pinjaman, dengan perhatian pada pertimbangan atas ekonomi dan efisiensi, tanpa memandang pertimbangan atau pengaruh politik atau faktor nonekonomi yang lain".


Staf Bank Dunia akan melakukan kunjungan selama beberapa hari atau beberapa minggu ke negara sasaran. Hasil kunjungan itu kemudian digabungkan dengan riset data di belakang meja. Setelah itu, staf tersebut memerintahkan suatu pengumpulan data untuk menyusun rencana pembangunan bagi setiap aspek yang relevan dari kerangka sosial suatu negara.
Bank Dunia akan terus mengamati score pemerintah saat menyusun rencana tersebut, yang tentu saja akan berupaya meregulasi "setiap aspek yang relevan" dari masyarakat. Berdasarkan pengumpulan, penyaringan dan pengorganisasian informasi Bank Dunia, maka lembaga pendonor lainnya akan membantu memberikan dana untuk setiap elemen utama pembangunan yang dirumuskan di bawah pengawasan Bank Dunia.
Bank Dunia menekankan aspek kuantitas bukan kualitas dari proyek-proyek yang didanainya, sehingga salah satu syarat pendanaan pada suatu negara adalah terjaminnya “stabilitas” dibidang ekonomi. Hal tersebut memaksa pemerintah menerapkan privatisasi perusahaan-perusahaan negara, membuka selebar-lebarnya investasi asing (liberalisasi) dan diterapkannya upah buruh yang rendah.
Di bidang lingkungan hidup, perambahan hutan (deforestasi) dikonversi menjadi perkebunan sehingga dimaksudkan agar lebih bernilai ekonomis. Di era Presiden Suharto, pembukaan sejuta hektar lahan gambut (rawa) untuk dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Kebijakan tersebut berakibat kehancuran ekologis, dikarenakan fungsi lahan gambut sebagai daerah resapan air dikonversi (alih fungsi) menjadi perkebunan, mengakibatkan bencana banjir besar.


Belum lagi mental-mental pemerintah korup di Negara yang menjadi donor Bank Dunia,
India bisa dijadikan contoh lain mengenai korupsi dan penyelewengan bantuan untuk kaum miskin, sejak negeri itu (dan tampaknya untuk seterusnya) menjadi negara pengutang terbesar Bank Dunia, dengan banyak penduduk yang masih berada dalam kemiskinan absolut. Pertanian India, terutama pertanian irigasinya adalah medan pertempuran terpenting dari strategi perang McNamara dalam memberantas kemiskinan.
Pada tahun 1982, Robert Wade -- peneliti kebangsaan Inggris -- menggambarkan korupsi yang sudah menjalar di badan administrasi irigrasi sebuah negara bagian yang terpencil di selatan India. Dia mengungkapkan, ternyata di beberapa daerah, sistem irigasi dibangun dan dioperasikan bukan untuk kepentingan petani gurem. Bahkan selanjutnya Wade mengatakan, kinerja buruk pada proyek-proyek irigasi kemungkinan akibat buruknya pengoperasian dan pemeliharaan irigasi. Kecenderungan yang terjadi adalah berlomba-lomba menaikkan jumlah pendapatan haram di antara staf badan administrasi irigasi dan para politikus di daerah itu.
Dalam studi kasusnya di selatan India ditemukan, 50 persen dana perawatan lenyap dikorupsi. Selain itu, para insinyur irigasi tampaknya memiliki iktikad buruk karena sering membuat pasokan air jadi tidak menentu, menutup pasokan air bagi perkampungan yang kekurangan, hingga penduduk terpaksa membayar uang sogokan untuk mendapatkan air. "Pendapatan dari uang sogokan akan semakin besar jika pasokan air semakin tidak menentu.
Lalu bagaimana penerapan “bantuan” donor Bank Dunia di Indonesia?apakah lolos dari usaha-usaha penyelewengan?.


Demikianlah sedikit pemaparan tentang Bank Dunia, yang ternyata (menurut saya) bukan lembaga yang tanpa “noda”.
Saya setuju terhadap pendapat bahwa seseorang menjabat di lembaga internasional tersebut pastilah orang pintar. Namun permasalahannya bukan tidak dihargainya seorang Sri Mulyani sebagai orang pintar akan menjabat di Bank Dunia. Uang negara sebesar Rp 6,7 triliyun tidaklah sedikit, ketidakjelasan kemana aliran dana tersebut hingga kini tidak jelas rimbanya. “Kepintaran” seseorang tidak lantas menghapuskan pertanggungjawaban atas dugaan penyelewengan uang negara yang harusnya digunakan untuk kepentingan Rakyat Indonesia.
Masih banyak orang pintar di Indonesia yang bermartabat dan sangat layak mendapat pengakuan Nasional maupun Internasional tanpa harus menjabat di kancah internasional, manfaatnya justru lebih kentara dan langsung terasa, contohnya Saur Marlina Manurung seorang sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran, Bandung. Mengabdikan dirinya untuk pendidikan masyarakat kaum marginal dengan mendirikan “Sokola Rimba”, menetap untuk mengajar dan mendidik di kawasan pedalaman yang dihuni Suku Anak Dalam–orang banyak menyebutnya Suku Kubu, Jambi.

-Bobby Setenk-, 6 Mei 2010

Bacaan lanjut :
- “Menggadaikan Bumi”, Bruce Rich, penerbit: Infid 1999
- Wikipedia Indonesia, artikel “Bank Dunia”
- “Butet” Saur Marlina Manurung, beberapa artikel internet.

Rabu, 14 April 2010

LOMPAT KASUR (Bed Diving)

Hari itu David mengunjungi Joe Felis, kawan band-nya di “The CoCOn”. Minggu pagi menjelang siang yang cerah…, setelah lebih dari seminggu mereka tidak berjumpa dan bertegur sapa. Tempat tinggal mereka sekarang berjauhan, tidak satu lingkungan lagi, sehingga agak sulit berkomunikasi antar mereka, dikarenakan pula Joe saat ini tidak lagi memiliki Ha-Pe, rusak keseringan dibanting oleh pacarnya karena terlalu sering masuk sms-sms dari orang-orang (cewe) yang ga jelas dan tidak bertanggung jawab, yang bunyi redaksional sms-nya rata2 : “lagi ngaps say?”

David membuka pintu pagar rumah Joe, karena sudah biasa dan mengenal dekat keluarga Joe, dia langsung menggeloyor masuk pekarangan rumah Joe.
Ditemuilah ibu-nya Joe, “Pagi Bunda”, kata David bersopan santun kepadanya. “Eeeehh…David, kemana ga kliatan seminggu ini?”, balas ibunda Joe. ”Saya sakit Bunda..., Joe ada Bunda?”, timpal David berturut-turut seperti menghindari pertanyaan Ibunda Joe lebih lanjut. “Ada, langsung aja ke kamarnya…., masih tidur..”, kata Ibunda Joe. David menuju kamar Joe. Pelan-pelan ia membuka kamar Joe dan dilihatnya Joe masih pulas tidur mengenakan celana basket yang sudah super butut.

David langsung mengambil ancang-ancang gaya Diving stage, sebuah ekspresi menikmati musik hingar-bingar nan cadas dimana penonton naik ke atas panggung kemudian melempar diri atau terjun kembali ke lautan penonton dibawahnya. Loncatlah David dengan gaya punggung tepat menindih Joe yang sedang nikmat-nikmatnya tidur.
“Hegggghhhhhh !!!!!!”……suara itulah yang keluar dari mulut Joe ketika ditindih oleh David.
“ANNNJJIIIIIIIIGGGGGGG !!!!!!!!!”…….teriak Joe.
”Hahahahahahahahahahhahahahha”…, tawa David puas sambil memegang perutnya karena menahan kegelian melihat reaksi Joe.

“Damn it lo Vid !!”, maki Joe kepada David. “Lagi-lagi elo nge-Bed Diving gw”, lanjut Joe.”Hehehehe…..sorry men, daripada gw bangunin gw sentil biji lo, mening mana?”, sergah David. “Tai lo !, kaga ada yang mening, ga enak dua2nya bangsat !”, balas Joe. David malah tetep cengar-cengir kuda.
Kedua sahabat David dan Joe, emang sahabatan kental didalam dan diluar band mereka. Tumbuh di lingkungan yang sama, dan minat akan musik yang sama. Joe seorang yatim, Bapaknya meninggal dunia ketika dia masih sangat kecil. Makanya ga aneh kalo Joe bengal. Suka berkelahi, udah berambut gondrong sejak sekolah menengah tingkat atas, punya tato kebanggaan gambar kepala suku indian di lengan kanan, suka dicariin bokap para gadis2 belia, udah gitu nih anak rese banget kalo mabok (berkali-kali David suka nahan Joe yang udah ga tahan pengen nampolin/mukulin orang). Potongan rambutnya panjang sebahu, lurus dan berwarna merah persis seperti Axl Roses lagi jaman “Appetite for Destruction”.

“Dah siang men…bangun lo !”, kata David. “Semalem begadang gw, sampe jam setengah lima….., jam berapa sih sekarang?”, tanya Joe. “Jam setengah sebelas....dah cukup lah lo tidur”, kata David.
David menyambung, “lo kemana aja ga ke rumah gw?”. “Malem jum’at kemaren gw mo ke rumah lo,...ehh....si Vonny minta anterin ke rumah sakit”, jawab Joe. David mengerenyitkan mata seperti menyelidik lalu dia bilang, “hah...ke RS, ngapain?...Abortus?”.
“Sialan lo !, nyokap nya sakit...tensinya tinggi”, sanggah Joe. ”Hehehe....gw kira...”, balas David sambil senyum.

“Gw bawa ini nih...”, kata David sambil membuka tas nya. Dua botol Mansion House beralkohol 43% ukuran Jumbo pun nampak, beserta minuman oplosannya 2 botol minuman energi merk kratingdeng plus kacang buat tarikan.
“Anjrit ! gokil lo Vid !...masih pagi nih..”, kata Joe. “Apaan??…, udah siang tau!”, sergah David. Joe terbengong sebentar kemudian dia bilang,….”ayo deh…, anggep aja minum kopi anget abis bangun pagi”, jawab Joe anteng. Kemudian dia sambung, “kayanya gw tewasnya kena lever nih”.
David menyangkal, “kaga men…, lo gw doain tewas secara “Rock n Roll way to die”, nelen muntah sendiri…kaya John Bonham drummer Led Zeppelin”.
“Yeeeehhh…malah doain gw tewas nelen jekpot sendiri, sialan lo !”, kata Joe.

Minggu pagi menjelang siang itu, kedua sahabat itu larut dalam keriangan dan keakraban, bagaikan acara reuni sebuah sekolah lanjutan yang baru berjumpa setelah 25 tahun kelulusan. Kemudian Joe menyetel tape-nya pada posisi 6 dari maksimal 8, terdengarlah suara Johnny Rotten menyanyikan “Holidays in The Sun” :

i don't wanna holiday in the sun
i wanna go to the new belsen
i wanna see some history
'cause now i got a reasonable economy
now i got a reason, now i got a reason,
now i got a reason and i'm still waiting
now i got a reason, now i got a reason to be waiting
the Berlin Wall
sensurround sound in a two inch wall
well i was waiting for the Communist call……..

“Buat kesehatan lo men…”, sebuah ting-tos dari David buat Joe sambil mengangkat gelas loki. Joe membalas, “yoi men…buat kesehatan lo juga…., trus buat vonny, lulu, vety, ica, melda, nunu, joy, peggy…n her mother …hahahahahaha…, memey, grace….mmmm…”. “Anjrit !!! banyak amat men !!”, kata David.

Jumat, 09 April 2010

THE GUERILLA (Che Guevara, part 2)


“Revolusi” tidak semudah mengucapkannya…..

Paling tidak itulah kesan yang terbesit di hati saya setelah menyaksikan film “Che-part 2, the Guerrilla”, disutradarai oleh Steven Soderbergh dan karakter Che Guevara diperankan oleh Benicio del Torro (yang juga sebagai produser film ini), produksi tahun 2008. Film yang membutuhkan analisa bagi del Torro untuk memahami karakter serta prinsip-prinsip seorang Che Guevara selama 7 tahun, dan untuk napak tilas gerilyawan di hutan Bolivia selama 3 tahun.
Film ini merupakan upaya Steven Soderbergh dan Benicio del Torro menterjemahkan diari Che yang kemudian menjadi sebuah buku yaitu “Bolivian Diary” atau versi Indonesianya “Hari-hari terakhir Che Guevara”, sebuah catatan harian Che Guevara ketika menjalani hari-harinya kembali menjadi seorang gerilyawan membantu para pemberontak di Bolivia, rentang tahun 1967.
Film berbahasa Latin ini mengantarkan Benicio del Torro menerima penghargaan aktor terbaik di Festival Film Canes Perancis tahun 2008, sebuah perhelatan penghargaan untuk film-film kategori “idealis”.

Sebuah pilihan hidup yang teramat sangat sedikit manusia memilihnya, menjadi seorang Revolusioner. Seseorang yang memilih melawan penguasa penindas, kapitalisme dan imprelisme dengan mengangkat senjata dimanapun penindasan, praktek kapitalisme dan imprealisme berlangsung. Seorang yang konsisten menerapkan gerakan “Internasionalisme” dari Manifesto Komunis.

Digambarkan seorang Che setelah keberhasilan menumbangkan penguasa diktaktor Kuba Fulgencio Batista pada tahun 1956 bersama sahabatnya Fidel Castro, kemudian membentuk pemerintahan revolusioner dan Che duduk di jabatan formal Pemerintah sebagai seorang Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional Kuba.
Dan dalam kehidupan pribadi memiliki sebuah keluarga yang ideal, dia meninggalkan semua itu dan memilih bergerilya di hutan.

Keseharian gerilyawan Bolivia dalam perjuangan mereka digambarkan cukup mendekati sebagaimana “Bolivian Diary”, keberhasilan menghadang patroli tentara Pemerintah Bolivia, mendekatkan diri kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, perkelahian antar sesama gerilyawan, ketidakdisiplinan beberapa gerilyawan dengan membuka logistik minuman tanpa seijin komandan pasukan, seragam lapangan gerilyawan yang mulai compang-camping, penampilan mereka yang mulai lusuh dan dekil karena terlalu lama di hutan, moral beberapa gerilyawan yang mulai menurun karena melihat kawan mereka tewas akibat kontak senjata dengan tentara Pemerintah Bolivia dan mendengar kabar di radio bahwa kawan mereka di sektor lain tewas semua karena penyergapan oleh tentara Pemerintah Bolivia.

Klimaksnya, tertangkapnya Che Guevara pada tanggal 8 Oktober 1967 karena pasukan gerilya Che yang jumlahnya tinggal belasan orang saja dikepung oleh tentara Pemerintah Bolivia dibantu CIA yang jumlahnya ratusan. Hingga Che Guevara dieksekusi mati di sebuah ruangan pada tanggal 9 Oktober 1967.
Sebelum dieksekusi dengan cara ditembak, Che berkata kepada calon eksekutornya, yang dalam bahasa Indonesianya ; “ayo tembak pengecut, kamu hanya akan membunuh seorang manusia !”

“Revolusi” memang tidak semudah mengucapkannya, sebagaimana Che Guevara pernah berkata …..
“In a revolution, one triumphs or dies”