Jumat, 31 Oktober 2014

Pestisida, Depresi & Bunuh Diri

Ada yang menarik pada artikel "Kilas Iptek" pada harian Kompas terbitan Jumat 24 Oktober 2014. Isi artikel itu mengatakan bahwa Pestisida tingkatkan risiko depresi dan bunuh diri. Penelitian menunjukan bahwa pestisida mengubah kimia otak petani dengan mempengaruhi kesehatan mental.
Berdasarkan penelitian ahli epidemiologi Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (NIEHS) Amerika Serikat memperlihatkan penggunaan insektisida Organoklorin meningkatkan risiko depresi hingga 90% dibandingkan tanpa pestisida. Sementara penggunaan pestisida dengan Fumigami (pengasapan) meningkatkan depresi sebesar 80%.
Insektisida bekerja mengganggu sel saraf serangga, tetapi pada dosis  tinggi bisa mengubah sel saraf manusia. Penelitian di Brasil, petani pengguna pestisida  lebih mungkin bunuh diri, kemudian di Zhejiang, Tiongkok, warga penyimpan pestisida di rumah berisiko dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri.

Saat ini saya belum mendapat informasi teranyar bagaimana dengan di Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani dan berkebun, apakah penggunaan pestisida masih sedemikian masiv. Kalau iya, semoga petani Indonesia dikuatkan imannya.

-Revolta-
30 Oktober 2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Sisi Gelap Situs Jejaring Sosial

Buat yang suka update status di situs jejaring sosial (social network) semoga lebih bijak kedepannya, tanpa mengurangi rasa hormat dan turut berduka cita kepada korban Almarhumah Ade Sara maupun keluarga yang ditinggalkan, kejadian tersebut semoga menjadi warning buat kita semua agar tidak perlu memposting hal-hal seperti; sedang dimana kita, apa yang sedang kita makan, sedang apa kita dll sbgnya yang intinya keseharian kita.

Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.

Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.

So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.

*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path

Selasa, 18 Maret 2014

PRINCIPAL MALAYSIA


Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan pada momen-momen yang memang sudah menjadi  bagian kehidupan kantoran seperti harus menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.

Tidak jarang saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio – visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka rangkaian kalimat persis yang diinginkan  atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”

Saya coba mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.

 Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib. Saya  bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau meetingnya?”.

Tidak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari divisi lain membuka pintu ruangan; “bro orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.

Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.

Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear, selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9 pagi.”         

Revolta, 16 Maret 2014 

Penjual Kecapi

Hari Sabtu biasanya saya mencuci mobil, setelah seminggu baru hari sabtulah ada waktu untuk mencucinya. Itu pun setelah saya berhasil melawan rasa malas yang sangat. Alhasil waktu mencuci mobil pun tidak lagi bisa dikatakan pagi, sekitar pukul 11 menjelang siang.


Jangan ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah, kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.


Ditengah saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan mencari dari mana suara  berasal.


Di luar pagar rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya. Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih.  Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan merasa iba juga melihat si kakek.


“Ki* !”, saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah kecapi.  Saya lihat plastik kreseknya masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.


“Waduh, kasian banget, udah sepuh banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”, kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak, seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir seikhlasnya.

“Aki metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya lagi. 


Saya tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya pun melanjutkan mencuci mobil.

Malam harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang. Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung jadi iket pinggang, jalannya aga gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.

“Bukan pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.  




Setenk,

Serang, Februari 2014


noted :
  1. Aki = Kakek (sunda)
  2. Aa = Kakak laki-laki (sunda)

Sabtu, 18 Januari 2014

Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Narsis, Fetis & Selfie!

Media sosial bernama facebook dan sejenisnya itu sifatnya adalah sebuah paradoks, ada sebuah kontradiksi disana bahwa ketika bertemakan "media sosial" malah membuat para penggunanya "anti sosial".

Media sosial memang bisa menjadi tempat berdiskusi, berwacana dan bertukar informasi hal-hal berguna dan bermakna. Namun yang seperti demikian prosentasenya hanya 10% saja, sisanya adalah mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang : Narsis, Fetis dan yang paling trendi adalah Selfie.

Up-date status hampir setiap 10 menit sekali yang kebanyakan (sangat) tidak penting, menginformasikan sedang berada dimana, memfoto makanan yang akan atau sedang atau telah disantap, pamer materi, pamer kepintaran yang tidak ada manfaat buat orang lain, berdoa (ini yang paling "ajaib", bahkan mereka berpikir Tuhan memiliki akun media sosial) , hal-hal seperti itulah yang mendominasi suguhan media sosial.

Ada banyak wahana persahabatan atau persaudaraan yang tetep bisa dibangun dan dijalin tanpa harus menjadikan kita Narsis, Fetis dan Selfie, yang jauh lebih bermakna, jauh dari kesan memuakkan bagi sebagian orang, saya dalam hal ini.

So, selamat tinggal Narsis, Fetis & Selfie



      

Selasa, 03 Desember 2013

PULANG


PULANG (Novel), Leila S. Chudori
penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

“PULANG”, adalah sebaris kata yang bermakna tersirat.
Ada makna merengkuh hati, tempat kita bersauh mengistirahatkan fisik dan batin setelah seharian bergumul dengan penat dan kerasnya kehidupan.
Ada makna kerinduan yang mendalam, kembalinya kita ke rengkuhan tempat dan dimana muasal kita berasal, dimana ada banyak cerita dan romantika masa lalu yang membentuk pencitraan diri dimasa saat ini.
Ada pula Pulang bermakna kembalinya kita ke haribaan Sang Pemilik jiwa dan raga ini.
Demikianlah kata PULANG, ada makna sentimental dibaliknya.
Novel ini berlatar belakang kisah eksil (pelarian) politik pada saat Indonesia mengalami sejarah terkelamnya yaitu peristiwa 30 September 1965 dan kejadian setelahnya, yaitu pembersihan bahkan pembrantasan mereka yang disangka terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada peristiwa 30 September 1965 tersebut.

Beberapa tokoh sentralnya adalah Dimas Suryo, wartawan Kantor Berita Nusantara. Pada saat gelombang pembersihan orang-orang yang diduga terlibat Gerakan 30 September 1965 dia dikirim ke Luar Negri oleh kantor beritanya. Pergaulan dengan kawan-kawan dekatnya termasuk sang Pemimpin Redaksi yang memiliki pandangan politik Komunis membuatnya tak bisa kembali ke Tanah Air, ditolak oleh pemerintah Orde Baru bahkan diburu, sehingga bersama ke-tiga sahabatnya harus pertualang dari satu negara ke negara lain, hingga Paris Perancis menjadi persinggahan terakhir.
Kehidupan di Perancis tidak membuatnya melupakan Tanah Airnya Indonesia, kampung kelahirannya Solo, Jawa Tengah. Meskipun dia membangun sebuah restoran bercita-rasa Indonesia yang cukup sukses bersama ketiga sahabatnya sesama pelarian politik di Perancis, meskipun dia telah bertemu dengan jodohnya seorang istri berkebangsaan Perancis yang kemudian lahirlah anak dari hasil pernikahannya, seorang perempuan cantik yang diberi nama Lintang Utara.
Namun tetap jauh di lubuk hatinya yang tersendu dia mengingat orang-orang yang dicintai jauh di negri yang saat itu dirundung kisah horor pembantaian besar-besaran diluar nalar kemanusiaan.  
Ada rasa hilang dari hatinya meskipun dia dikeliling orang-orang yang mengasihinya.
Tokoh sentral lainnya adalah Lintang Utara, anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan perempuan Perancis bernama Vivienne. Parasnya perpaduan ras Asia dengan Kaukasian, kecantikan yang ada padanya bukan kecantikan biasa gadis-gadis Eropa yang putih pucat, namun lebih mirip putih berisi layaknya susu. Ketidakbahagiaan sang ayah yang dirasakannya mau tidak mau membawanya kepada pergumulan pertanyaan-pertanyaan apa yang ayahnya sembunyikan dari dia dan ibunya, misteri negara asal ayahnya yang bernama INDONESIA, mengapa ayahnya yang seorang Asia bisa terdampar di negri Perancis, yang kesemuanya membawanya kepada pertanyaan yang paling tinggi yakni akar dari kejati diriannya yang memiliki darah Indonesia. Hingga takdir membawanya  menuju Indonesia dikarenakan harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di salah satu Universitas terkemuka di Perancis yaitu Universitas Sorbonne, yakni membuat film dokumenter tentang para mantan Tahanan Politik mereka yang disangka terlibat Gerakan 30 September 1965. Namun seperti mendapat kesialan, dia datang ke Indonesia disaat yang kurang tepat, yakni di tahun 1998. Saat itu Indonesia kembali berkecamuk oleh sebuah gerakan perubahan yang disuarakan oleh Mahasiswa, yang menuntut Reformasi sistem yang demikian menyesakkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebuah klimaks dari masa-masa yang dinamakan krisis moneter yang menerpa Indonesia, dimulai tahun 1997, sebuah gambaran dari rapuhnya pondasi Pembangunan yang dibanggakan oleh Orde Baru.
Sekali lagi, Indonesia porak-poranda dan Lintang Utara putri Dimas Suryo berada ditengah kekacauan itu.

Novel ini berlatar belakang Indonesia saat menjelang kejadian 30 September  1965, kejadian-kejadian beberapa tahun setelahnya, Gerakan Mei 1968 di Perancis, hingga pada saat kerusuhan 1998 dan Gerakan Reformasi 1998.
Menariknya, saya (sebagai pembaca) merasa mendapat gambaran kehidupan para eksil/pelarian politik atas kejadian 30 September 1965 di negri Perancis, mereka bertahan hidup dengan segala rintangan yang menerpa, teror mental yang tidak pernah berhenti bahkan di tempat yang jauh dari Indonesia, rasa kehilangan identitas diri, dijauhkan dari keluarga mereka yang beberapa tidak tahu bagaimana nasibnya, hingga keharuan dan kerinduan mereka akan PULANG ke Tanah Air, Indonesia.
 Ada gambaran pula, bahwa mereka-mereka yang ditangkapi kemudian diinterogasi dan disiksa bahkan dibunuh, tidaklah mereka yang terlibat Gerakan 30 September 1965, mereka “sekedar” menjadi anggota keluarga para simpatisan Partai Komunis Indonesia, teman dekat, bahkan “sekedar” berinteraksi sebagai sesama warga negara.

Saya pikir Leila S. Chudori sebagai penulis Novel ini tidak main-main atas penggambaran dalam Novelnya, mestinya semua tulisannya berdasarkan riset yang mendalam selama 6 tahun proses penulisannya.
Menariknya lagi (bagi saya), menurut Leila karakter Lintang Utara menjadi hidup berdasarkan penuturan seorang Mariana Renata Dantec dengan mengisahkan kehidupan mahasiswa Universitas Sorbonne, Paris. Meskipun tidak mengatakan bahwa Lintang Utara adalah penggambaran Mariana Renata.
 Kemudian karakter Dimas Suryo terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan para eksil politik salah satunya adalah Sobron Aidit, adik kandung dari DN Aidit.           


Ada bumbu romantisme bahkan sensualitas dalam novel, tapi menurut saya “its ok lah” dan yang penting tidak lari dari konteks judul novel itu sendiri, nilai-nilai humanisme yang tersirat dalam novel dan tentu saja sedikit banyak atahun 1965, karena meskipun kelam  sejarah tetaplah sejarah yang tidak boleh ditinggalkan dan menjadi pembe
lajaran.



Rabu, 24 Juli 2013

MALIN KUNDANG MENGGUGAT !

Kalian tahu legenda Malin Kundang si anak yang konon durhaka kepada sang ibu?, saya beri tahu sesuatu, Malin Kundang itu sebenarnya juga korban. Dia tidak diberi kesempatan menjelaskan duduk perkara kepada orang banyak yang terlanjur melabelinya “anak durhaka” mengapa dia bersikap seolah memusuhi ibunya, karena boleh jadi sang ibulah yang telah sekian lama terlebih dahulu tidak mencurahkan kasih sayang yang tulus laiknya ibu kepada anaknya. 

Mengapa masyarakat tidak bertanya kepada sang Ibu; bukankah seorang ibu seharusnya mengasihi tanpa batas anaknya, mengasihaninya, mencintainya dengan tulus bagaikan matahari yang menyinari bumi tak mengharapkan balas dan hanya memberi tak harap kembali, mengapa tega mengutuk darah dagingnya sendiri menjadi batu?. Adakah masyarakat memikirkan; apakah sang ibu Malin Kundang kemudian tertawa puas setelah anaknya sendiri berubah menjadi batu akibat sumpah serapahnya?, adakah secercah sesal dalam kelembutan hati seorang ibu demi melihat anaknya berubah menjadi seonggok batu? 

Sedangkan dikehidupan nyata dan bukan sekedar legenda, cobalah ingat dan hitung telah berapa banyak kabar tentang bayi tak berdosa yang dibunuh ibunya sendiri ketika masih merah, dikubur hidup-hidup di halaman belakang tempat bersalin bidan jahat yang membuka praktek gelap aborsi, dibuang bagaikan sampah di selokan yang kotor dan berair busuk, dibiarkan dalam kardus bekas kemudian ditinggal di tengah jalan antah berantah jika sang bayi merah bernasib sial tentunya akan menjadi santapan anjing jalanan atau hidangan pesta semut merah yang gemar daging mentah.

Jika si anak sudah lebih besar, pernahkah mendengar kabar ada anak yang dijual oleh ibunya sendiri?, baik itu dijual dengan cara yang tidak manusiawi, seperti dijadikan sundal jika anaknya perempuan atau dijual untuk dijadikan peminta-minta di jalanan kota. Atau dijual dengan “cara terhormat”, yaitu dikawinkan dengan paksa demi sang ibu mendapat kenikmatan ataupun kehormatan status sosial hidup.

Anak-anak selalu menjadi korban ambisi orang tua. Banyak dari mereka tidak mampu dan berani melawan kodrat sebagai anak. Label “Anak Durhaka” terlalu diterima mentah-mentah oleh pola pikir masyarakat yang terlanjur mengakar kuat hingga ke perut bumi sehingga menjadi stigma yang sangat menakutkan. Lalu mengapa atas kejahatan orang tua kepada anak-anaknya tidak pernah ada label “Orang Tua Durhaka”?. Belum lagi ancaman dari agama yang ditafsirkan berat sebelah dan diterima mentah-mentah tanpa nalar akal budi, sungguh ganjaran neraka adalah ancaman menakutkan. Mestinya orang yang paham agama mengetahui, atau pura-pura tidak tahu?, atau tidak ingin tahu?,….bahwa Tuhan Maha Adil, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. 

Padahal anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan ke alam fana yang penuh kebusukan ini, mereka seharusnya menjadi "Buah Cinta" ayah dan ibu, bukanlah "Buah Nafsu" yang banal.

Boleh jadi legenda Malin Kundang sebagai anak yang memusuhi sang ibu maka terkutuklah dia menjadi batu, namun ternyata di dunia ini tidak sedikit pula orang tua yang berhati batu!