Ada yang menarik pada artikel "Kilas Iptek" pada harian Kompas terbitan Jumat 24 Oktober 2014. Isi artikel itu mengatakan bahwa Pestisida tingkatkan risiko depresi dan bunuh diri. Penelitian menunjukan bahwa pestisida mengubah kimia otak petani dengan mempengaruhi kesehatan mental.
Berdasarkan penelitian ahli epidemiologi Institut Ilmu Kesehatan Lingkungan Nasional (NIEHS) Amerika Serikat memperlihatkan penggunaan insektisida Organoklorin meningkatkan risiko depresi hingga 90% dibandingkan tanpa pestisida. Sementara penggunaan pestisida dengan Fumigami (pengasapan) meningkatkan depresi sebesar 80%.
Insektisida bekerja mengganggu sel saraf serangga, tetapi pada dosis tinggi bisa mengubah sel saraf manusia. Penelitian di Brasil, petani pengguna pestisida lebih mungkin bunuh diri, kemudian di Zhejiang, Tiongkok, warga penyimpan pestisida di rumah berisiko dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri.
Saat ini saya belum mendapat informasi teranyar bagaimana dengan di Indonesia sebagai negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani dan berkebun, apakah penggunaan pestisida masih sedemikian masiv. Kalau iya, semoga petani Indonesia dikuatkan imannya.
-Revolta-
30 Oktober 2014
Katalog
- ANEURYSM (cerita pendek bersambung) (3)
- CATATAN REVOLTA (24)
- Cerita Hari Ini (11)
- Cerita Rock n' Roll (1)
- Rekomen Film (2)
- Review Buku (1)
- Review Film (3)
- Sastra Petir (11)
Jumat, 31 Oktober 2014
Kamis, 23 Oktober 2014
Sisi Gelap Situs Jejaring Sosial
Buat yang suka update status di situs jejaring sosial (social network) semoga lebih bijak kedepannya, tanpa mengurangi rasa hormat dan turut berduka cita kepada korban Almarhumah Ade Sara maupun keluarga yang ditinggalkan, kejadian tersebut semoga menjadi warning buat kita semua agar tidak perlu memposting hal-hal seperti; sedang dimana kita, apa yang sedang kita makan, sedang apa kita dll sbgnya yang intinya keseharian kita.
Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.
Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.
So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.
*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path
Selain hal tersebut tidak penting, juga menghindari dari kemungkinan perbuatan jahat dari orang yang memang berniat jahat kepada kita. Tersangka Assifa dan Hafitd mendapat kesempatan/momentum untuk berbuat jahat setelah keberadaan korban terlacak karena korban memposting keberadaannya melalui Path.
Bukan tidak mungkin karena kebiasaan kita memposting makanan kegemaran kita apalagi ditambah mengupload foto makanan yang akan kita santap ditambah pula mengumumkan di restoran mana kita sedang makan maka siapapun yang berniat berbuat jahat mendapat informasi banyak akan kegemaran makananan kita kemudian menghampiri lokasi tempat kita makan dan menuangkan atau menaburi racun pada makanan yang akan kita santap.
So guys, makin banyak orang "sakit" diluaran sana, semoga semakin bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial.
*cek berita selengkapnya http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/21/20533231/Sebelum.Membunuh.Assyifa.dan.Hafitd.Telusuri.Keberadaan.Ade.Sara.lewat.Path
Selasa, 18 Maret 2014
PRINCIPAL MALAYSIA
“Mas, nanti tolong wakilin aku rapat sama
principal dari Malaysia ya, anakku dari kemarin demam, temperatur badannya
tinggi”, kata atasan saya sore itu menjelang pukul 5 sore.
Demikianlah
saya, saat ini masih bergulat dengan dunia “8 – 5 world”, dunia pekerja
korporasi. Sebenarnya bukan hal yang nyaman bagi saya menjadi subsitisi tugas atasan
pada momen-momen yang memang sudah menjadi bagian kehidupan kantoran seperti harus
menggantikan posisinya dalam sebuat meeting, alasan penolakan yang paling
mendasar adalah memperjelas posisi saya sebagai sub-ordinat terhadap atasan
saya karena seringkali saya sebagai seorang individu subjek yang memiliki
pemikiran dan pendapat sendiri harus kalah jika dibentrokan dengan pemikiran
dan pendapat sang atasan, artinya saya tidak jauh berbeda dengan corong belaka
atasan saya.Ini benar-benar membuat saya merasa teralienasi.
Tidak jarang
saya merasa terlihat tolol dan konyol dalam sebuah meeting, dikarenakan semata-mata
keberadaan saya diruang meeting seolah-olah hanya robot yang diprogram
menyampaikan ulang apa yang diinginkan atasan. Kadang terlintas pikiran, “dasar bos!, kalau cuma sekedar minta diwakilin
tapi pendapatnya harus tetap diutarakan di meeting sama bawahan kenapa ga
sekalian pake mesin perekam audio atau bila perlu pake alat perekam audio –
visual, jadi bawahan ga perlu repot-repot mengingat dan menerka-menerka
rangkaian kalimat persis yang diinginkan atasan, tinggal pencet tombol “PLAY”, selesai.”
Saya coba
mengesampingkan rasa kesal dengan keluar dari ruangan kerja, di belakang gedung
kantor ada dipan ala kadarnya yang dibuat oleh karyawan bagian gudang atau
mungkin juga oleh karyawan bagian umum,….bagian perawatan tanaman,…..ok, tukang
kebun lebih tepatnya, atau oleh para driver (beberapa tahun belakangan manajemen
mengganti sebutan “driver” dari sebelumnya “supir”), atau boleh jadi dibuat
oleh karyawan perokok. Ya, dipan itu sering dipakai karyawan untuk sekedar
merokok, semenjak aturan larangan merokok di seluruh bagian dalam gedung kantor
semakin galak, dengan ancaman dikeluarkannya Surat Peringatan 1 sampai 3 oleh
bagian SDM. Namun demikian jikalau ada karyawan level manager keatas yang
perokok, biasanya mereka merokok di depan loby gedung kantor, persis di area
para supir…, maksud saya para driver menurunkan atasannya dari mobil.
Baru beberapa hisap merokok, telepon genggam saya berbunyi, atasan saya yang menelpon. Dia menanyakan saya sedang dimana, memastikan apakah saya siap untuk meeting nanti dan mengingatkan lagi beberapa point yang harus dibahas dengan principal dari Malaysia.
“Ok bos, sebentar lagi saya ke ruangan”, kata saya. Tak lama kemudian saya sudah kembali ke meja saya. Kemudian atasan saya pamit pulang, “ok mas, saya duluan ya, aku dapet info principal Malaysia sudah on the way kesini”.
Tinggal saya
seorang diri di ruangan, jam menunjukan sudah hampir masuk waktu maghrib.
Saya bergumam sendiri, “udah mau magrib gini jam berapa mau
meetingnya?”.
Tidak lama
kemudian adzan maghrib berkumandang, kurang dari 15 menit kemudian teman dari
divisi lain membuka pintu ruangan; “bro
orang Malaysianya udah dateng”.
Saya pun
memasuki ruangan meeting yang ternyata para peserta meeting sudah berkumpul
semua seolah menanti saya yang datang paling belakang. 4 orang termasuk saya
dari pihak kantor saya, atau bisa dibilang orang Indonesia, 3 orang dari pihak
principal dari Malaysia. Saya menyalami mereka semua, yang ternyata dapat
berbahasa “bahasa”, bercampur-campur dengan bahasa Inggris.
“Lebih cepat waktu flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta daripada dari bandara Sukarno-Hatta to come here”, begitu kata salah satu dari mereka.
Mendengar dialek percakapan mereka entah kenapa saya jadi teringat penyanyi Malaysia Zee Avi yang membawakan lagu “Kantoi”, liriknya campuran antara bahasa Melayu dengan Inggris. “Semalam I call you, you tak answer”, begitu lirik di awal lagunya. Begitu pun juga gaya percakapan principal dari Malaysia dalam meeting sore menjelang malam itu.
Tak terasa
meeting telah berlangsung sekitar 1,5 jam. Point pembahasan penutupnya adalah
membahas pertanyaan dari saya; “Excuse me
Bapak Dato, I have one more question about the law application if there any
dispute happened, just to make sure,….well tentunya kita berharap kerjasama
kita akan berjalan mulus tanpa ada dispute, tapi jikalau ada, akan digelar
dimana pengadilannya, di Malaysiakah?, atau di Indonesia?”.
Selesai meeting Bapak Dato pimpinan dari principal asal Malaysia itu memberi
saya kartu namanya, kemudian saya katakan padanya; “thank you Dato, but i’m sorry i don’t bring my name card, i left in my
desk”. Bapak Dato menjawab; “it’s ok”.
Malam
harinya setiba di rumah, atasan saya sms; “gimana
mas meeting tadi, point-point apa saja yang dibahas?”. Saya balas smsnya; “pokonya tenang bos, semua clear,
selengkapnya saya critain besok pagi. Oiya bos, besok agreementnya di-sign jam 9
pagi.”
Revolta, 16
Maret 2014
Penjual Kecapi
Hari Sabtu
biasanya saya mencuci mobil, setelah seminggu baru hari sabtulah ada waktu
untuk mencucinya. Itu pun setelah saya berhasil melawan rasa malas yang sangat.
Alhasil waktu mencuci mobil pun tidak lagi bisa dikatakan pagi, sekitar pukul
11 menjelang siang.
Jangan
ditanya panasnya kota Serang Banten pukul 11 siang, rasa-rasanya sudah seperti
tepat pukul 12 siang, matahari tepat diatas ubun-ubun kepala. Hampir saja saya
menghentikan kegiatan mencuci mobil dan berniat menundanya sampai nanti sore
atau sekalian esok hari minggu pagi jika saja debu dan noda lumpur yang
menempel pada badan mobil tidak terlalu mengganggu estetika. Ya sudahlah,
kembali saya membulatkan tekad; “harus gw cuci, titik!”.
Ditengah
saya mencuci, samar-samar saya mendengar suara seperti orang meneriakkan
sesuatu namun dengan tingkat desibel yang rendah, cenderung seperti suara orang
yang menahan rasa sakit demam. Sejenak saya hentikan kegiatan mencuci dan
mencari dari mana suara berasal.
Di luar pagar
rumah, tepatnya di jalan aspal depan rumah mata saya menangkap seorang kakek
mengenakan pakaian lusuh memakai peci dan sarung dijadikan seperti sabuk sedang
memikul dua bakul berisi beberapa plastik kresek yang entah apa isinya.
Jalannya nampak gemetaran, lambat sekali langkahnya……tertatih. Iba saya melihatnya dan saya rasa siapapun akan
merasa iba juga melihat si kakek.
“Ki* !”,
saya memanggilnya. “Jualan apa ki?”, tanya saya. “Naak, tolong naak beli
dagangan saya”, balas si kakek. Saya menghampiri dan memeriksa apa isi plastik
kresek dagangannya. Ternyata berisi buah kecapi yang entah berapa buah isi tiap
kreseknya, saya mengira-ngira kurang lebih mungkin berisi 20 sampai 25 buah
kecapi. Saya lihat plastik kreseknya
masih banyak, tanda belum ada satupun orang yang membeli. “Berapaan harganya
ki?”, tanya saya. “Berapa aja nak, tolong aki buat biaya berobat”, jawabnya.
“Waduh, kasian banget, udah sepuh
banget gitu masih ngider jualan buah kecapi buat biaya berobat”, pikir saya
iba. “Sebentar ya ki saya ambil uang”, kata saya. Di dompet saya tersisa
beberapa lembar uang sejumlah 25.000 rupiah, saya pikir cukuplah untuk membeli
buah kecapi si kakek, lagi pula saya sebenaranya tidak berminat kepada buah
kecapinya, lebih karena kasihan kepada si kakek. “Ini ki, saya beli seplastik”,
kata saya menyodorkan uang kepada si kakek. “Berapa itu nak?, mata kakek sudah
kurang lihat”, jawab si kakek. “dua puluh lima ribu ki”, jawab saya. “Naak,
seplastiknya lima puluh ribu”, balas kakek. “Ko mahal ki?”, tanya saya sambil
membatin jika tadi si kakek bilangnya bayar berapa saja, saya pikir
seikhlasnya.
“Aki
metiknya jauh nak, 10 kilo jalan kaki dari sini”, jawab si kakek. Di dompet
saya tidak ada lagi uang tersisa, karena memang belum sempat ke ATM. “Wah, saya
ga ada lima puluh ribu ke, cuma ada dua lima”, jawab saya. “ga bisa nak, saya
ngambilnya jauh, seplastik lima puluh ribu nak, buat biaya berobat”, balasnya
lagi.
Saya
tertegun, “gini aja ki, ini dua lima ribu buat aki, saya ambil 5 buah kecapi
aja”, kata saya. Kakek penjual kecapi setuju, lalu kemudian dia berlalu. Saya
pun melanjutkan mencuci mobil.
Malam
harinya adik ipar saya yang sudah lama menetap di kota Serang menyambangi rumah
saya dan keluarga yang baru sekitar 2 minggu pindah tinggal di kota Serang.
Senda gurau, cerita sana-sini banyak hal, kemudian saya bercerita pengalaman
saya tadi siang pertemuan dengan kakek penjual buah kecapi. “Ooo, kakek-kakek
jualan buah, ciri-cirinya pake baju kumel, celana kumel, pake peci terus sarung
jadi iket pinggang, jalannya aga
gemeter, matanya katanya kurang liat?”, begitu adik ipar membeberkan ciri-ciri
si kakek yang sama persis dengan yang saya temui tadi siang, saya mengiyakan.
“Bukan
pedagang baru a*, dia udah lama ngider di komplek sini terus kalo ketemu orang
selalu nawarin dagangan buah sambil bilang butuh biaya berobat, dia jual pasti
seplastik-seplastik maunya dibawar paling murah lima puluh ribu, terakhir saya
liat dia jualan salak”, jelas adik ipar saya.
Setenk,
Serang,
Februari 2014
noted :
- Aki = Kakek (sunda)
- Aa = Kakak laki-laki (sunda)
Sabtu, 18 Januari 2014
Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Narsis, Fetis & Selfie!
Media sosial bernama facebook dan sejenisnya itu sifatnya adalah sebuah paradoks, ada sebuah kontradiksi disana bahwa ketika bertemakan "media sosial" malah membuat para penggunanya "anti sosial".
Media sosial memang bisa menjadi tempat berdiskusi, berwacana dan bertukar informasi hal-hal berguna dan bermakna. Namun yang seperti demikian prosentasenya hanya 10% saja, sisanya adalah mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang : Narsis, Fetis dan yang paling trendi adalah Selfie.
Up-date status hampir setiap 10 menit sekali yang kebanyakan (sangat) tidak penting, menginformasikan sedang berada dimana, memfoto makanan yang akan atau sedang atau telah disantap, pamer materi, pamer kepintaran yang tidak ada manfaat buat orang lain, berdoa (ini yang paling "ajaib", bahkan mereka berpikir Tuhan memiliki akun media sosial) , hal-hal seperti itulah yang mendominasi suguhan media sosial.
Ada banyak wahana persahabatan atau persaudaraan yang tetep bisa dibangun dan dijalin tanpa harus menjadikan kita Narsis, Fetis dan Selfie, yang jauh lebih bermakna, jauh dari kesan memuakkan bagi sebagian orang, saya dalam hal ini.
So, selamat tinggal Narsis, Fetis & Selfie
Media sosial memang bisa menjadi tempat berdiskusi, berwacana dan bertukar informasi hal-hal berguna dan bermakna. Namun yang seperti demikian prosentasenya hanya 10% saja, sisanya adalah mereka yang menggunakan media sosial sebagai ajang : Narsis, Fetis dan yang paling trendi adalah Selfie.
Up-date status hampir setiap 10 menit sekali yang kebanyakan (sangat) tidak penting, menginformasikan sedang berada dimana, memfoto makanan yang akan atau sedang atau telah disantap, pamer materi, pamer kepintaran yang tidak ada manfaat buat orang lain, berdoa (ini yang paling "ajaib", bahkan mereka berpikir Tuhan memiliki akun media sosial) , hal-hal seperti itulah yang mendominasi suguhan media sosial.
Ada banyak wahana persahabatan atau persaudaraan yang tetep bisa dibangun dan dijalin tanpa harus menjadikan kita Narsis, Fetis dan Selfie, yang jauh lebih bermakna, jauh dari kesan memuakkan bagi sebagian orang, saya dalam hal ini.
So, selamat tinggal Narsis, Fetis & Selfie
Selasa, 03 Desember 2013
PULANG
penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
“PULANG”, adalah sebaris kata yang bermakna tersirat.
Ada makna merengkuh hati, tempat kita bersauh mengistirahatkan fisik dan batin setelah seharian bergumul dengan penat dan kerasnya kehidupan.
Ada makna kerinduan yang mendalam, kembalinya kita ke rengkuhan tempat dan dimana muasal kita berasal, dimana ada banyak cerita dan romantika masa lalu yang membentuk pencitraan diri dimasa saat ini.
Ada pula Pulang bermakna kembalinya kita ke haribaan Sang Pemilik jiwa dan raga ini.
Demikianlah kata PULANG, ada makna sentimental dibaliknya.
Ada makna merengkuh hati, tempat kita bersauh mengistirahatkan fisik dan batin setelah seharian bergumul dengan penat dan kerasnya kehidupan.
Ada makna kerinduan yang mendalam, kembalinya kita ke rengkuhan tempat dan dimana muasal kita berasal, dimana ada banyak cerita dan romantika masa lalu yang membentuk pencitraan diri dimasa saat ini.
Ada pula Pulang bermakna kembalinya kita ke haribaan Sang Pemilik jiwa dan raga ini.
Demikianlah kata PULANG, ada makna sentimental dibaliknya.
Novel ini berlatar belakang kisah eksil (pelarian) politik
pada saat Indonesia mengalami sejarah terkelamnya yaitu peristiwa 30 September
1965 dan kejadian setelahnya, yaitu pembersihan bahkan pembrantasan mereka yang
disangka terlibat secara langsung maupun tidak langsung pada peristiwa 30
September 1965 tersebut.
Beberapa tokoh sentralnya adalah Dimas Suryo, wartawan Kantor Berita Nusantara. Pada saat gelombang pembersihan orang-orang yang diduga terlibat Gerakan 30 September 1965 dia dikirim ke Luar Negri oleh kantor beritanya. Pergaulan dengan kawan-kawan dekatnya termasuk sang Pemimpin Redaksi yang memiliki pandangan politik Komunis membuatnya tak bisa kembali ke Tanah Air, ditolak oleh pemerintah Orde Baru bahkan diburu, sehingga bersama ke-tiga sahabatnya harus pertualang dari satu negara ke negara lain, hingga Paris Perancis menjadi persinggahan terakhir.
Kehidupan di Perancis tidak membuatnya melupakan Tanah Airnya Indonesia, kampung kelahirannya Solo, Jawa Tengah. Meskipun dia membangun sebuah restoran bercita-rasa Indonesia yang cukup sukses bersama ketiga sahabatnya sesama pelarian politik di Perancis, meskipun dia telah bertemu dengan jodohnya seorang istri berkebangsaan Perancis yang kemudian lahirlah anak dari hasil pernikahannya, seorang perempuan cantik yang diberi nama Lintang Utara.
Namun tetap jauh di lubuk hatinya yang tersendu dia mengingat orang-orang yang dicintai jauh di negri yang saat itu dirundung kisah horor pembantaian besar-besaran diluar nalar kemanusiaan.
Ada rasa hilang dari hatinya meskipun dia
dikeliling orang-orang yang mengasihinya.
Tokoh sentral lainnya adalah Lintang Utara, anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan perempuan Perancis bernama Vivienne. Parasnya perpaduan ras Asia dengan Kaukasian, kecantikan yang ada padanya bukan kecantikan biasa gadis-gadis Eropa yang putih pucat, namun lebih mirip putih berisi layaknya susu. Ketidakbahagiaan sang ayah yang dirasakannya mau tidak mau membawanya kepada pergumulan pertanyaan-pertanyaan apa yang ayahnya sembunyikan dari dia dan ibunya, misteri negara asal ayahnya yang bernama INDONESIA, mengapa ayahnya yang seorang Asia bisa terdampar di negri Perancis, yang kesemuanya membawanya kepada pertanyaan yang paling tinggi yakni akar dari kejati diriannya yang memiliki darah Indonesia. Hingga takdir membawanya menuju Indonesia dikarenakan harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di salah satu Universitas terkemuka di Perancis yaitu Universitas Sorbonne, yakni membuat film dokumenter tentang para mantan Tahanan Politik mereka yang disangka terlibat Gerakan 30 September 1965. Namun seperti mendapat kesialan, dia datang ke Indonesia disaat yang kurang tepat, yakni di tahun 1998. Saat itu Indonesia kembali berkecamuk oleh sebuah gerakan perubahan yang disuarakan oleh Mahasiswa, yang menuntut Reformasi sistem yang demikian menyesakkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebuah klimaks dari masa-masa yang dinamakan krisis moneter yang menerpa Indonesia, dimulai tahun 1997, sebuah gambaran dari rapuhnya pondasi Pembangunan yang dibanggakan oleh Orde Baru.
Sekali lagi, Indonesia porak-poranda dan Lintang Utara putri Dimas Suryo berada ditengah kekacauan itu.
Tokoh sentral lainnya adalah Lintang Utara, anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan perempuan Perancis bernama Vivienne. Parasnya perpaduan ras Asia dengan Kaukasian, kecantikan yang ada padanya bukan kecantikan biasa gadis-gadis Eropa yang putih pucat, namun lebih mirip putih berisi layaknya susu. Ketidakbahagiaan sang ayah yang dirasakannya mau tidak mau membawanya kepada pergumulan pertanyaan-pertanyaan apa yang ayahnya sembunyikan dari dia dan ibunya, misteri negara asal ayahnya yang bernama INDONESIA, mengapa ayahnya yang seorang Asia bisa terdampar di negri Perancis, yang kesemuanya membawanya kepada pertanyaan yang paling tinggi yakni akar dari kejati diriannya yang memiliki darah Indonesia. Hingga takdir membawanya menuju Indonesia dikarenakan harus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di salah satu Universitas terkemuka di Perancis yaitu Universitas Sorbonne, yakni membuat film dokumenter tentang para mantan Tahanan Politik mereka yang disangka terlibat Gerakan 30 September 1965. Namun seperti mendapat kesialan, dia datang ke Indonesia disaat yang kurang tepat, yakni di tahun 1998. Saat itu Indonesia kembali berkecamuk oleh sebuah gerakan perubahan yang disuarakan oleh Mahasiswa, yang menuntut Reformasi sistem yang demikian menyesakkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia selama kurun waktu 32 tahun. Sebuah klimaks dari masa-masa yang dinamakan krisis moneter yang menerpa Indonesia, dimulai tahun 1997, sebuah gambaran dari rapuhnya pondasi Pembangunan yang dibanggakan oleh Orde Baru.
Sekali lagi, Indonesia porak-poranda dan Lintang Utara putri Dimas Suryo berada ditengah kekacauan itu.
Novel ini berlatar belakang Indonesia saat menjelang kejadian 30 September 1965, kejadian-kejadian beberapa tahun setelahnya, Gerakan Mei 1968 di Perancis, hingga pada saat kerusuhan 1998 dan Gerakan Reformasi 1998.
Menariknya, saya (sebagai pembaca) merasa mendapat gambaran kehidupan para eksil/pelarian politik atas kejadian 30 September 1965 di negri Perancis, mereka bertahan hidup dengan segala rintangan yang menerpa, teror mental yang tidak pernah berhenti bahkan di tempat yang jauh dari Indonesia, rasa kehilangan identitas diri, dijauhkan dari keluarga mereka yang beberapa tidak tahu bagaimana nasibnya, hingga keharuan dan kerinduan mereka akan PULANG ke Tanah Air, Indonesia.
Ada gambaran pula, bahwa mereka-mereka yang ditangkapi kemudian diinterogasi dan disiksa bahkan dibunuh, tidaklah mereka yang terlibat Gerakan 30 September 1965, mereka “sekedar” menjadi anggota keluarga para simpatisan Partai Komunis Indonesia, teman dekat, bahkan “sekedar” berinteraksi sebagai sesama warga negara.
Saya pikir Leila S. Chudori sebagai penulis Novel ini tidak
main-main atas penggambaran dalam Novelnya, mestinya semua tulisannya
berdasarkan riset yang mendalam selama 6 tahun proses penulisannya.
Menariknya lagi (bagi saya), menurut Leila karakter Lintang Utara menjadi hidup berdasarkan penuturan seorang Mariana Renata Dantec dengan mengisahkan kehidupan mahasiswa Universitas Sorbonne, Paris. Meskipun tidak mengatakan bahwa Lintang Utara adalah penggambaran Mariana Renata.
Kemudian karakter Dimas Suryo terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan para eksil politik salah satunya adalah Sobron Aidit, adik kandung dari DN Aidit.
Menariknya lagi (bagi saya), menurut Leila karakter Lintang Utara menjadi hidup berdasarkan penuturan seorang Mariana Renata Dantec dengan mengisahkan kehidupan mahasiswa Universitas Sorbonne, Paris. Meskipun tidak mengatakan bahwa Lintang Utara adalah penggambaran Mariana Renata.
Kemudian karakter Dimas Suryo terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan para eksil politik salah satunya adalah Sobron Aidit, adik kandung dari DN Aidit.
Ada bumbu romantisme bahkan sensualitas dalam novel, tapi menurut saya “its ok lah” dan yang penting tidak lari dari konteks judul novel itu sendiri, nilai-nilai humanisme yang tersirat dalam novel dan tentu saja sedikit banyak atahun 1965, karena meskipun kelam sejarah tetaplah sejarah yang tidak boleh ditinggalkan dan menjadi pembe
Rabu, 24 Juli 2013
MALIN KUNDANG MENGGUGAT !
Kalian tahu legenda Malin
Kundang si anak yang konon durhaka kepada sang ibu?, saya beri tahu sesuatu,
Malin Kundang itu sebenarnya juga korban. Dia tidak diberi kesempatan
menjelaskan duduk perkara kepada orang banyak yang terlanjur melabelinya “anak
durhaka” mengapa dia bersikap seolah memusuhi ibunya, karena boleh jadi sang
ibulah yang telah sekian lama terlebih dahulu tidak mencurahkan kasih sayang
yang tulus laiknya ibu kepada anaknya.
Mengapa masyarakat tidak bertanya kepada
sang Ibu; bukankah seorang ibu seharusnya mengasihi tanpa batas anaknya,
mengasihaninya, mencintainya dengan tulus bagaikan matahari yang menyinari bumi
tak mengharapkan balas dan hanya memberi tak harap kembali, mengapa tega
mengutuk darah dagingnya sendiri menjadi batu?. Adakah masyarakat memikirkan;
apakah sang ibu Malin Kundang kemudian tertawa puas setelah anaknya sendiri
berubah menjadi batu akibat sumpah serapahnya?, adakah secercah sesal dalam
kelembutan hati seorang ibu demi melihat anaknya berubah menjadi seonggok batu?
Sedangkan dikehidupan nyata
dan bukan sekedar legenda, cobalah ingat dan hitung telah berapa banyak kabar
tentang bayi tak berdosa yang dibunuh ibunya sendiri ketika masih merah, dikubur
hidup-hidup di halaman belakang tempat bersalin bidan jahat yang membuka
praktek gelap aborsi, dibuang bagaikan sampah di selokan yang kotor dan berair
busuk, dibiarkan dalam kardus bekas kemudian ditinggal di tengah jalan antah
berantah jika sang bayi merah bernasib sial tentunya akan menjadi santapan
anjing jalanan atau hidangan pesta semut merah yang gemar daging mentah.
Jika si anak sudah lebih
besar, pernahkah mendengar kabar ada anak yang dijual oleh ibunya sendiri?,
baik itu dijual dengan cara yang tidak manusiawi, seperti dijadikan sundal jika
anaknya perempuan atau dijual untuk dijadikan peminta-minta di jalanan kota.
Atau dijual dengan “cara terhormat”, yaitu dikawinkan dengan paksa demi sang
ibu mendapat kenikmatan ataupun kehormatan status sosial hidup.
Anak-anak selalu menjadi
korban ambisi orang tua. Banyak dari mereka tidak mampu dan berani melawan
kodrat sebagai anak. Label “Anak Durhaka” terlalu diterima mentah-mentah oleh
pola pikir masyarakat yang terlanjur mengakar kuat hingga ke perut bumi sehingga
menjadi stigma yang sangat menakutkan. Lalu mengapa atas kejahatan orang tua
kepada anak-anaknya tidak pernah ada label “Orang Tua Durhaka”?. Belum lagi
ancaman dari agama yang ditafsirkan berat sebelah dan diterima mentah-mentah
tanpa nalar akal budi, sungguh ganjaran neraka adalah ancaman menakutkan.
Mestinya orang yang paham agama mengetahui, atau pura-pura tidak tahu?, atau
tidak ingin tahu?,….bahwa Tuhan Maha Adil, bahwa Tuhan Maha Pengasih dan
Penyayang.
Padahal anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan ke alam fana yang penuh kebusukan ini, mereka seharusnya menjadi "Buah Cinta" ayah dan ibu, bukanlah "Buah Nafsu" yang banal.
Boleh jadi legenda Malin
Kundang sebagai anak yang memusuhi sang ibu maka terkutuklah dia menjadi batu,
namun ternyata di dunia ini tidak sedikit pula orang tua yang berhati batu!
Langganan:
Postingan (Atom)

