Sabtu, 12 Desember 2015

FILOSOFI NGOPI SEPERTI MENJALANI KEHIDUPAN



"NGOPI" atau minum kopi adalah ketika kamu membuat kopi, kamu meracik sendiri akan seperti apa rasa kopi yang menurut kamu terenak dan ternikmat, dengan komposisi yang kamu perkirakan sendiri apakah lebih banyak atau lebih sedikit kopinyakah, gulanyakah, krimnyakah, susunyakah, coklatnyakah, kemudian volume airnya bahkan ukuran dan bentuk gelas atau cangkirnya, semua itu akan berpengaruh kepada citarasa yang menurutmu sendiri adalah kopi enak dan nikmat.
Untuk mencapai citarasa yang benar-benar sesuai, kamu harus mencoba berkali-kali sampai entah berapa gelas racikan kopi yang gagal memenuhi citarasa yang kamu inginkan. Tapi atas semua kegagalan itu kamu tidak akan berhenti, terus dan terus meracik kopi terbaikmu.
 
Adakalanya kamu menikmati kopi yang tersedia pada warung-warung kopi tradisional ataupun modern ala kafe, tapi tetap saja jenis dan citarasa kopinya kamulah yang pilih dan tentukan sendiri.
Adakalanya pula kamu memilih kopi cepat saji atau instan yang sudah terkemas dari pabrikan, kamulah yang memilih rasa kopi yang kamu inginkan. Meskipun sering kali kamu hanya bisa terima apa adanya rasa racikan kopi dari pabrikan, karena kamu tidak mampu meracik kopi kamu sendiri, atau kamu tidak punya pilihan lain, atau bahkan kamu tidak tahu bahwa sebenarnya ada kopi yang lebih nikmat yang sebenarnya lebih sesuai dan memenuhi citarasa dan seleramu, namun kamu …pasrah.


Demikian pula kehidupanmu, kamu harus meracik sendiri, ketika gagal kamu coba lagi berkali-kali sampai menurutmu mencapai kehidupan yang “enak dan nikmat”. Atau kamu harus memilih kehidupan “yang tersedia”, atau kamu terima apa adanya kehidupan bagaimanapun yang terjalani…pasrah.


Begitulah…, filosofi "ngopi", seperti menjalani kehidupan ini.



B. Revolta
12 Desember 2015       

Jumat, 07 Agustus 2015

Pantai Bagedur Pada Suatu Hari



Seharian kemarin aku di pantai saja dengan maksud menenangkan pikiran. Bagedur nama pantai itu, terletak di pesisir Banten Selatan. Aku bagai menyaksikan  lukisan alam yang begitu dashyat indahnya. Pantai dengan hamparan pasir putih kecoklatan yang membentang luas mengeluarkan kilau bagaikan memantulkan serbuk berlian, langit yang biru tanpa batas dengan sedikit guratan putih awan, gulungan ombak laksana saling berlomba menuju pantai dan alunan debur ombak bagaikan musik latar yang tiada habisnya.
Aku pandangi arah lautan lepas sampai sejauh mana mataku mampu melihat, yang nampak dimataku adalah sebuah garis horizontal imaginer. Benakku bertanya, “ada apa dibalik garis garis lautan itu?, apakah ada kapal besar atau perahu nelayan yang kecil?”, “apakah nun jauh disana letak pulau Chrismast yang sudah masuk teritori Australia?”, “akan adakah ikan paus atau lumba-lumba yang tiba-tiba menyembul keluar?”.
Kemudian,…di dipan bambu saung itu aku rebahkan saja tubuhku sambil ku pandangi lautan sekalian langit birunya.” Ya ampun”,…kataku membatin, melihat lautan luas sekalian langit birunya dengan posisi rebah memberi sensasi yang berbeda dibanding dengan posisi kepala tegak. Seolah-olah pantai ini tidak hanya menjamah dalam bentuk keindahan visual yang diterima bola mata kemudian dicerna otak dalam bentuk keindahan logika semata, namun ketika memandang lautan lepas sambil merebahkan tubuh pantai ini bagaikan menjadi hidup, kemudian menyapa hati dan nurani. Bagaikan hanya ada aku yang sangat kecil seorang diri direngkuh oleh “Sesuatu” yang maha hebat dan megah, namun “Dia” begitu ramah dan begitu mistis. Aku tersenyum bahagia bagaikan baru pertama kali merasa hidup, hatiku bebas.     

Aku jadi teringat sahabatku, sahabat baikku yang sudah aku anggap abangku sendiri, namanya Lutvy. Aku berkata sendiri, “harusnya sekarang lo ada disini man”. Lutvy suatu hari mengatakan padaku dia menyaksikan indahnya pantai Bagedur ini  di sebuah siaran televisi, dia langsung jatuh cinta kepada pantai ini. Kemudian dia berkata kepadaku, “ajak gue kesana bro”.
Aku kemudian berpikir, kenapa tidak saat ini saja ku ajak Lutvy disini bersamaku di pantai ini menikmati suasana. Jangankan di pinggir pantai, kami jika sudah bersama bahkan di tepi sawah berlumpur pun bias menjadi tempat yang sangat menyenangkan dan ceria.

Sesaat kemudian Lutvy sudah duduk di dipan belakangku dengan posisi duduk, kedua kakinya dilipat ke dadanya, kedua tangannya posisi mengikat betis. Aku menyapanya, “my maann”. Tak lama kemudian kami bersulang whiski mansion, bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Kami terhanyut dalam derai tawa mentertawakan kisah-kisah konyol masa lalu yang telah kami lalui bersama, ada juga kisah-kisah yang kami banggakan. Kemudian Lutvy bangkit dari duduknya, dia berlari ke arah pantai sambil berteriak riang mengangkat kedua tangannya, menerjang ombak menceburkan diri ke laut dengan masih mengenakan pakaian dan sepatu lengkap. Aku tertawa melihat tingkahnya, “dasar gokil !”, kataku. Lutvy keluar dari air tertawa menyeringai, senang sekali dia nampaknya. Kemudian dia berjalan ke arahku, aku sudah hafal gelagatnya dia pasti berniat mengerjaiku menarik aku ke laut berbasahan. Aku bersiap lari.

Tapi Lutvy perlahan pudar dari pandanganku, kemudian aku tersadar dia sudah tiada. Dia telah dipanggil ke haribaan Tuhan 2 tahun yang lalu. Terpikir olehku jika ada kesempatan aku berziarah ke makamnya aku akan mengambil sedikit tanah kuburnya dan kemudian aku lempar ke pantai ini atau fotonya akan aku lemparkan ke laut pantai ini agar keinginannya melihat pantai Bagedur akhirnya kesampaian meski hanya diwakilkan tanah kuburnya atau fotonya.

Aku kembali ke dipan itu, rebahkan tubuh lagi. Suasana menjadi hening kembali yang terdengar hanya deburan ombak. Ku tarik panjang nafasku, kembali bersatu dengan alam pantai itu. Sampai aku terhenyak ketika seorang bapak tua memanggil-manggil aku tapi bukan dengan namaku.


Pantai Bagedur, Bansel, 7 Juli 2015.    








Kamis, 30 Juli 2015

Ke-GR-an Disamper Malaikat



Siang itu aku mengantar istri ke terminal bus, ia ada keperluan ke rumah orang-tuanya di kampung. Setelah memastikan dia menaiki bus sesuai tujuan aku tidak langsung pulang karena aku pikir tidak lama lagi akan masuk waktu dzuhur langsung saja aku mengarahkan langkahku menuju masjid terminal itu untuk melaksanakan sholat dzuhur.
Setelah berwudhu aku duduk bersimpuh pada pelataran masjid itu menunggu saat-saat azan yang kira-kira tinggal 2-3 menit lagi.
Tiba-tiba seorang bapak-bapak yang sudah nampak tua menghampiriku, dia mengenakan celana bahan berwarna abu-abu, memakai batik yang warna coraknya mulai pudar dan lusuh, berkacamata tebal dan memakai kopiah dengan warna hitam yang sudah pudar pula.
“Darimana nak?”, tanyanya kepadaku kalimat pembuka basa-basinya. Ku jawab, “abis nganter istri pak”.

Kemudian dia bercerita bahwa ia berasal dari kota yang cukup jauh dari terminal kota ini bermaksud hendak menjemput istrinya dari ibu-kota namun sial sang istri terlanjur pulang terlebih dahulu dari si bapak itu, yang menjadi masalah adalah si bapak itu kehabisan ongkos untuk kembali pulang ke kotanya. Ia kemudian menanyakan kepadaku apakah kiranya aku dapat membantunya memberi ongkos pulang kepadanya barang Rp 15.000,- atau Rp 20.000. Tentu saja dengan senang hati aku ingin membantunya karena aku merasa kasihan kepada bapak itu. Aku pun memberinya Rp. 20.000, dia nampak senang sekali dan mengucapkan terimakasih kepadaku kemudian berlalu hendak mengambil wudhu katanya.

Akhirnya adzan dzuhur berkumandang, aku pun kemudian sholat berjamaah bersama orang yang hadir di masjid terminal itu. Selesai sholat aku teringat kembali kepada Bapak itu, aku berpikir karena ini bula Ramadhan boleh jadi bapak tadi merupakan jelmaan malaikat.

Seminggu kemudian aku kembali ke terminal itu, kali ini aku yang hendak bepergian ke luar kota. Lagi-lagi aku tiba di terminal itu menjelang dzuhur, aku pun bermaksud hendak sholat terlebih dahulu sebelum menaiki bus kota tujuanku.Waktu adzan masih kurang 15 menit lagi, aku duduk di pelataran masjid menunggu adzan. Beberapa saat kemudian masuklah ke pelataran masjid seorang bapak tua yang ciri-ciri fisiknya sama persis dengan yang bertemu dan meminta bantuanku seminggu yang lalu. Kali ini dia tidak melihatku. Aku perhatikan saja gerak-geriknya diam-diam. Dia menghampiri seorang pemuda yang duduk sendirian, akupun memasang kuping mendengar percakapan mereka berdua. Jarakku dengan mereka tidak terlalau jauh sehingga terdengar jelas percakapan mereka. Ajaib….., dialog bapak dengan pemuda itu kurang lebih sama persis dengan pengalamanku seminggu yang lalu, aku bagaikan mengalami dejavu. Aku gelengkan kepalaku sambil tersenyum kecut….ternyata.. 

Tidak lama kemudian aku melihat bapak itu beranjak pergi ke tempat wudhu, aku pun menghampiri pemuda yang barusan bercakap-cakap dengan bapak tadi untuk memastikan kecurigaanku. “Mas…maaf, abis ngobrol sama bapak-bapak tadi ya?”, tanyaku. “Iya”, jawabnya. Aku melanjutkan, “Apa dia bilang dari kota yang jauh datang ke terminal ini ingin menjemput istrinya yang datang dari ibu-kota tapi ketinggalan bus dan kemudian dia kehabisan ongkos untuk pulang kemudian ujung-ujungnya dia minta bantuan uang ke mas?”, “Iya”, jawabnya lagi. Aku tertawa, “itu modus mas”, kataku. Wajah pemuda itu nampak bingung. Aku jelaskan kepadanya bahwa seminggu yang lalu aku mengalami hal yang sama dengannya dengan bapak yang sama pula. “Mas ngasih berapa?”, tanyaku. “20 ribu”, jawabnya. “Hahaha…sama”, kataku lagi.

Seorang ibu-ibu yang sedari tadi mendengar obrolan kami menyela kemudian berkata bahwa sekitar 2 hari yang lalu bapak itu juga menghampiri seseorang dan berbuat hal yang sama persis. Aku tertawa kecut lagi, “nah mas…kita ga sendiri”, kataku sambil menepuk samping lengannya.
Pemuda itu tetap memasang tampang bingung dengan senyum yang canggung.    

..... Ini !
.... Revolta!
-30 Juli 2015
-        

Jumat, 24 Juli 2015

Tuhannya Beda

"Saya aja yang bakar ya paman tumpukan sampahnya", kata Iwo kepada pamannya. Sampah rumah-tangga dibelakang rumah paman Iwo nampak semakin menggunung apalagi seminggu yang lalu neneknya Iwo meninggal dunia karena usia yang sudah sangat sepuh, meninggalkan pula barang-barang tua dan usang yang disimpan begitu saja oleh si nenek di salah satu kamar rumah pamannya sampai saat-saat akhir hidupnya.
Setelah kamar itu dibersihkan ternyata banyak barang-barang yang tidak terpakai, termasuk kain-kain rombeng bekas nenek.

"Jangan", kata pamannya kepada Iwo. "Pamali, ada kain-kain bekas nenek. Tidak boleh membakar bekas pakaian orang yang sudah meninggal", sambungnya.
"Masa iya paman?, lah orang Cina malah dibakar sama jenazah-jenazahnya, orang Bali juga", bantah Iwo.
"Ya mereka kan agamanya lain, Tuhannya beda", timpal paman lagi.

"Tuhannya beda, ......TUHANNYA BEDA",..... kalimat itu terngiang di telinga Iwo, kemudian merasuk ke alam pikirnya. Bukankah sebagai Muslim (atau boleh jadi ajaran agama lain pula) kita bersaksi "Tiada Tuhan selain Allah"?, dan kita wajib menanamkan ke dalam akal-hati-jiwa bahwa Tuhan itu Ahad, Tuhan itu satu.
Iwo merenung dan merasa ada sebuah paradoks pemikiran, ....... bahwa kita wajib meyakini Tuhan itu Satu, tapi disatu sisi kita "meyakini" pula ada "beberapa tuhan", ada "tuhan yang lain", ada "tuhan yang beda".
Bahkan ada diantara kita yang saling menghujat bahkan saling berbunuh "membela tuhan masing-masing". 



Bobby Revolta, 24 Juli 2015

Selasa, 19 Mei 2015

THE FIGHTER



Ni film sebenernya udah aga lama dirilisnya yaitu taun 2010, tapi karena ga diputer di bioskop Indonesia gw coba review.

Dicky Ecklund dan Micky Ward adalah dua bersaudara, mereka adalah petinju profesional Amerika. Dicky sang kakak telah menjadi legenda karena menjatuhkan juara dunia Sugar Ray Leonard meskipun tetap dikalahkan karena keputusan wasit (Unanimous Decisions) pada pertarungan tinju di tahun 1978, namun setelah masa keemasannya telah habis Dicky menjadi seorang pecandu narkoba, pembuat onar dan sesekali berbuat kriminal.
Micky Ward sang adik saat itu adalah seorang petinju yang sedang menapaki karirnya, namun prestasinya kurang cemerlang.

Setelah Dicky pensiun dari dunia tinju profesional ia kemudian bertindak sebagai pelatih Micky. Namun demikian sebagai pelatih Dicky sangat tidak disiplin pada waktu karena dihabiskan bersama kawan-kawannya sesama pecandu menikmati narkoba. Masalah lain yang menghambat karir tinju Micky adalah tidak profesionalnya manajer Micky yaitu ibunya sendiri. Ibunya hanya mengejar bayaran bertinju, meskipun sang anak yakni Micky harus babak belur dihajar habis-habisan lawan tinjunya.


Disaat genting karir tinjunya Micky bertemu gadis pujaan hatinya yaitu Charlene Fleming. Menurut Charlene penyebab hancurnya karir tinju Micky adalah kakaknya dan ibunya sendiri atau secara formalnya adalah sebuah manajemen yang jauh dari profesional alias berantakan. Charlene menyarankan untuk mencari pelatih dan manajer yang lebih baik.
Micky pun mengikuti saran Charlene. Akhirnya kemenangan demi kemenangan diraih Micky.

Pada suatu pertarungan tinju yang menentukan Micky terpojok dan menjadi bulan-bulanan pukulan lawan. Semua strategi pelatihnya disisi ring tidak ampuh menghadapi gempuran lawan, hingga yang terlintas olehnya adalah ajaran-ajaran kakaknya ketika menjadi pelatihnya. Akhirnya Micky berhasil membalik keadaan, dia mempukul KO lawannya di ronde ke 8.
Micky menyadari bahwa ia masih membutuhkan keluarganya yang dia cinta, tapi ia tidak ingin kehilangan Charlene kekasihnya dan karirnya yang cemerlang bersama manajemen barunya. Bahwa ternyata yang Micky butuhkan adalah support dari semua yang disebut diatas.

Film apik ini temanya mirip film drama tinju pendahulunya yaitu Rocky Balboa, yang membedakan adalah film Fighter ceritanya begitu "membumi", seperti problematika keluarga, dilema harus memilih antara kekasih atau keluarga maupun masalah ketergantungan narkoba, karena memang film ini berdasarkan kisah asli perjalanan hidup dua petinju bersaudara Dicky Ecklund dengan nama panggilan di ring (nickname) The Pride of Lowell dan Micky Ward dengan nickname Irish yang berkarir sebagai petinju profesional asal Amerika di rentang tahun 1975 - 2003.
Faktor lain yang bikin film ini keren adalah Dicky Ecklund diperankan oleh Christian Bale yang menurut gw aktor "jaminan mutu" film-film maut alias keren. Layaklah film ini diganjar 2 piala Academy Awards untuk kategori Supporting Actor dan Supporting Actress.

"The Fighter", rilis 2010, distribusi by Paramount Pictures, Directed : David O. Rusell, Aktor/Aktris : Christian Bale, Mark Walhberg, Melissa Leo, Amy Adams.

Poin dari gw : 8.5 dari skala 10 !!

Quote keren dari film ini :
"YOU NEVER KNOW WHAT CAN HAPPEN, NEVER GIVE UP IN THIS GAME !"
-Micky Ward-



 

 

Senin, 20 April 2015

Jalan Setapak Seorang Ayah

Sore itu menjelang malam
Gelap mulai menerkam 

Seorang lelaki dewasa berjalan menyusur di sisi
Lewati satu rumah kosong, kemudian dua, tiga sampai rumah keempat
Semua rumah gelap dan mati

Beberapa saat lalu baru saja ia lewati sebuah rumah bersalin
Disanalah terlahir anaknya yang terharap seorang lelaki

Ketika sang bayi terlahir lelaki itu menangis meraung-raung
Tak satu orang pun dapat menghentikannya dari isak sesalnya
Anaknya terlahir namun telah membiru tanpa nyawa

Kembali, ia lanjutkan saja langkahnya hingga melewati surau
Ada ia rasakan bisikan dalam kalbu
"yah...sholat ayah, sholat ayah, Doakanlah aku"

Yakin lelaki itu, jiwa halus anaknyalah yang meminta
Kemudian berhenti ia di muka surau, berkata 
"iya nak, ayah segera sholat" 
Lalu tak terasa pipinya hangat oleh air mata


Serang, 20 April 2015
to my beloved son
MICKA REVOLTA

Kamis, 12 Februari 2015

Malam Yang aga Jahanam Bagi Seorang Gadis

Malam datang lagi….

Adalah saat Mela harus bekerja. Sebuah profesi yang tidak diimpikannya sama sekali, sangat jauh melenceng dari jawabannya saat usianya tujuh tahun ketika ibunya bertanya, “Mela kalau sudah besar mau jadi apa?”, “Mau jadi dokter”, jawab Mela kecil.

Ketika lulus SMP dia memantapkan cita-citanya dengan memasuki sekolah kejuruan perawat atau lebih dikenal sebagai suster. Meski berbeda jurusan dari cita-cita menjadi dokter ke perawat karena terkendala biaya pendidikan yang mahal, dia pikir profesi perawat tidaklah terlalu melenceng dari profesi dokter, masih bertugas menyembuhkan orang sakit meskipun tidak menangani langsung karena hanya asisten dokter. Profesi perawat pun masih menangani seputar tubuh manusia, tidak terlalu jauh berbeda dengan pekerjaan dokter. Dan yang terpenting adalah  karena sama-sama dapat menolong jiwa manusia, maka perawat pun sama mulianya dengan dokter.

Sekolah Kejuruan Perawat dijalani Mela dengan suka cita, hingga tak terasa sudah hampir kenaikan kelas yaitu ke kelas dua atau kelas sebelas kurikulum sekarang. Hingga sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan berlangsung, ujian terdiri dari ujian teori dan ujian praktek. Suatu hari wali kelasnya memberi pengumuman di muka kelas,”anak-anak jangan lupa minggu depan ujian kenaikkan kelas, maka bayaran ujian paling lambat hari Sabtu di minggu ini. Kalau belum bayar ya tidak bisa ikut ujian”, demikian kata ibu wali kelas.

Lonceng tanda kelas berakhir berbunyi, Mela seperti biasa pulang ke rumah menggunakan angkutan pedesaan, meski sesekali ia menggunakan sepeda motor ayahnya. Namun sekitar 6 bulan yang lalu sepeda motor ayahnya itu dijual, katanya buat menambah biaya dapur dan biaya rumah tangga lainnya. Ayahnya hanya bekerja sebagai karyawan honorer pada perusahaan rokok di desa itu, bertugas sebagai pesuruh. Sudah 32 tahun ayahnya mengabdi di perusahaan itu.

Mela tiba di rumahnya sekitar pukul setengah tiga sore, lama perjalanan dari sekolah ke rumahnya hanya setengah jam. “Assalamualaikum”, Mela mengucap salam. “Waalaikumsalam”, jawab suara yang berasal dari kamar kedua orangtuanya, suara ibunya. Mela kemudian menghampiri ke arah sumber suara, batinnya sedikit heran karena biasanya jam segini ibunya mesti sedang berada di dapur menyiapkan masakan untuk makan malam seluruh keluarga, atau jika sedang senggang pasti sedang menyaksikan tayangan infotainment alias berita sensasional yang remeh-temeh para pesohor di televisi. “Tumben ibu ada di kamar”, batin Mela.      

Mela mengetuk pintu, “masuk nak”, suara ibunya. Ketika pintu dibuka Mela sedikit terkejut, ternyata ayahnya sudah pulang karena biasanya ayahnya tiba di rumah menjelang waktu Isya. “Kemari nak, ada yang ingin bapak dan ibu sampaikan”, kata ayahnya sambil duduk di sisi kasur sedangkan ibunya duduk terkulai di lantai menghadap ayah. Suasana di kamar itu terasa muram begitupun wajah ayah dan ibu Mela, air muka keduanya tampak muram.

Selanjutnya ayah menguraikan ceritanya, bahwa disebabkan aturan pemerintah atas penjualan tembakau yang semakin ketat yakni dengan menaikkan pajak tembakau, mengkibatkan harga rokok dipasaran melambung tinggi, dengan demikian ongkos produksi perusahaan rokok menjadi naik. Demi keberlangsungan perusahaan dan agar tetap stabilnya harga jual rokok produksi perusahaan maka manajemen mengeluarkan kebijakan “merumahkan” sebagian besar karyawannya. Ayah Mela adalah salah satu karyawan yang dirumahkan oleh perusahaan.   

“Ayah diPHK?!!”, tanya Mela seolah tak percaya atas kenyataan itu. Seperti berhenti rasanya semua jam di rumah itu, senyap dan hening. Begitupun detak jantung Mela, saat itu juga rasanya berhenti. Di Kamarnya Mela terpaku dalam lamunan, tatapannya kosong menerawang ke luar jendela menatap pohon mangga di halaman depan rumah yang banyak ditumbuhi benalu.

“Bagaimana biaya ujianku?, bagaimana biaya sekolahku?, bagaimana masa depanku?”, demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang berputar mengurung benak Mela.

Kemudian Mela mengalihkan pandangannya ke cermin meja riasnya. Secara fisik Mela adalah gadis yang cantik, kulitnya putih bersih, tinggi tubuhnya proporsional, hidungnya mancung untuk ukuran orang Indonesia bibirnya merah alami, wajahnya tipe kekanakan, lekuk tubuhnya sintal dan sebagaimana gadis diusianya potongan rambutnya trendi, panjang sebahu dengan poni dibagian depan. Benar-benar gadis muda yang ranum menggoda bak buah rambutan yang matang tumbuh lebat di halaman kantor Polsek, meski berisiko tetap menggoda untuk dipetik.

Esok harinya Mela tidak berangkat ke sekolah, ia memutuskan berhenti sekolah. Iya tahu diri, ia tidak ingin membebani keluarga, belum lagi ia teringat ketiga adiknya yang masih memerlukan biaya. Mela teringat akan kegemarannya akan musik dangdut. Setiap ada acara pertunjukan seni di sekolahnya dulu sejak ia SMP mestilah ia didapuk menyanyi diatas panggung. Alunan vokalnya serak-serak basah dan goyangan tubuhnya yang serasi dengan hentakan tabuhan gendang benar-benar melenakan siapapun yang menatapnya, khususon dimata kaum lelaki. Liukkan tubuhnya meskipun tidak seronok namun ditubuh sintal Mela tetap saja menjadi erotis.

*******

Mela memutuskan menjadikan penyanyi dangdut sebagai profesinya. Ada sebuah grup Orkes Melayu yang cukup terkenal di kota kabupaten itu yakni grup OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah. Sebenarnya ketika Mela duduk di kelas 3 SMP atau kelas 9, grup OM tersebut sempat mengajak Mela bergabung namun orangtua Mela enggan memberi restu. Kini, karena keadaan yang menimpa keluarga Mela, orangtua Mela tidak punya pilihan untuk melarangnya. 
Mela mendapat uang dari hasil menyanyi dangdut, meskipun tidak besar namun cukuplah untuk biaya diri sendiri dan membantu keuangan keluarga. Karir Mela sebagai penyanyi dangdut di daerah cukup gemilang, dia pun memiliki nama panggung yaitu Mela Grasak. 

Bukan tanpa godaan dalam menjalani karirnya sebagai penyanyi dangdut. Saat berdendang diatas panggung sudah tidak terhitung celoteh dan celetukan bernada sensualitas bahkan cenderung pelecehan, seperti kata-kata : “buka dikit !”, “pantate joss!”, “waduh celanaku jadi sempit!”, “Aduh maak, indah banget pemandangan gunung !”, dan lain-lain sejenisnya. Apalagi apabila ada acara saweran diatas panggung, para lelaki yang menyawer dengan uang kertas yang nilainya besar seperti merasa berhak atas tubuh Mela.

Pernah suatu kali ketika acara saweran wajah Mela dilempar secara kasar uang kertas seratus ribuan 5 lembar, sungguh pemandangan yang merendahkan martabat perempuan, namun Mela memaksakan diri tetap tersenyum. Jika masih mencubit sisi bahu lengan atau mencolek bokong, dia menanggapinya dengan pura-pura genit, namun jika ada yang menurutnya terlampau jauh seperti ingin menyelipkan uang kertas ke belahan buah dadanya maka Mela secara halus menampiknya sambil tetap tersenyum.   

Pada suatu hari OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah diundang mengisi acara syukuran panen padi di pendopo kantor kecamatan. Jajaran perangkat pimpinan desa hadir semua, dari Pak Camat, Pak Lurah, Pak Danramil dan Pak Kapolsek, juga para tokoh masyarakat. Semua duduk di sofa yang telah disediakan terletak persis 7 meter menghadap depan panggung. Seperti biasa Mela menjadi bintang utama disetiap acara panggung dangdut, ratusan pasang mata menikmati liukan tubuh Mela dibanding menikmati irama musik yang didendangkan. 

Pak Lurah desa itu adalah orang yang terpandang, dia memiliki sawah yang luasnya hektaran, memiliki perternakan sapi potong, memiliki dua toko emas di pasar, serta memiliki 3 istri, singkatnya ia adalah seorang saudagar kaya di desa itu. Bahkan acara hiburan panggung dangdut malam itu pun disponsori atau atas biaya pribadi Pak Lurah. Sedari awal Mela melantunkan lagu, Pak Lurah tidak melepaskan pandangan bergantian ke wajah, dada, dan bokong Mela, Pak Lurah telah terhipnotis oleh pesona kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Mela. Ingin rasanya ia keatas panggung untuk berjoget bersama Mela atau ikut saweran, namun ia menjaga citra dirinya sebagai Bapak Lurah yang terhormat, sehingga ia urungkan hasrat jogetnya, hanya saja kedua jempol tangannya tak kuasa bergoyang mengikuti irama kendang dangdut yang bertalu-talu.

Kemudian Pak Lurah meminta diri kepada seluruh perangkat pimpinan desa yang sejajar duduk dengannya di sofa; “permisi bapak-bapak, saya ke belakang sebentar”, begitu katanya. Ternyata yang dimaksud “belakang” bukanlah kamar mandi atau kamar kecil untuk buang air, melainkan ke belakang panggung. Ia menemui pimpinan OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah, ia menyerahkan segepok uang lembaran 50 ribuan kepada pimpinan OM tersebut kemudian berkata ; “kamu atur gimana caranya supaya si Mela nanti pulang bisa bareng sama aku”. “Siap Pak Boss Lurah, serahkan sama saya”, balas pimpinan OM itu.

Acara hiburan itupun selesai sekitar pukul setengah satu dini hari. Pimpinan OM menghampiri Mela, “Mel,…saya minta maaf ga bisa nganter kamu pulang ya”. “Loh pak saya gimana pulangnya?”, tanya Mela resah. “Tenang aja, ada yang bersedia nganter kamu pulang, Pak Lurah,” Jawab pimpinan OM itu. Mela terperanjat, “wah…masa Pak Lurah yang nganter aku, aku kan ga enak dong”. Tiba-tiba ada suara yang menyela, “tidak apa-apa dik Mela, aku anter pulang ya, sudah malam sekali ini loh”, ternyata si penyela itu adalah Pak Lurah sendiri. Mela pun menunduk tersipu namun mengiyakan ajakan Pak Lurah.

Akhirnya Mela telah berada di dalam mobil bersama Pak Lurah. Pak Lurah membuka pembicaraan, “Dik Mela penampilannya tadi luar biasa, bagus sekali!, suaranya apik, gurih…goyanganmu itu dik, bikin jantung saya mau copot”. Dengan genit Mela membalas pujian Pak Lurah, “ahh Pak Lurah bisa saja”. Pak Lurah menyambung, “Dik Mela saya punya kenalan produser musik dangdut dari Jakarta, besok aku janjian mau ketemuan, kamu mau ga aku kenalkan?, aku yakin dia pasti tertarik mau mengorbitkan kamu menjadi artis top ibu kota”.

Mendengar pemaparan Pak Lurah mata Mela berbinar, pikirannya sejenak menerawang, ia teringat kembali ketika ayahnya terkena PHK, kemudian ia putus sekolah, 3 orang adik-adiknya yang masih butuh banyak biaya, ibunya yang berjualan hasil kebun di pasar. Terbesit dipikirannya; “inilah saatnya…..akhirnya aku bisa menjadi artis dangdut top”. Kemudian dia membayangkan kehidupan sebagai artis dangdut top sebagaiman yang ia saksikan di acara-acara televisi, begitu glamour dan sensasional. Bagaimana tidak, semua peristiwa pribadi seperti harus masuk rumah sakit hanya karena masuk angin saja masuk berita, ditinggalkan suami masuk berita, semata-mata masak di dapur pun bisa masuk berita. Mela kemudian tersenyum sendiri gara-gara membayangkan jika dia sudah menjadi artis top jangan-jangan hobi kentutnya akan jadi berita, kemudian yang terpenting dia membayangkan dia akan mempunyai banyak uang.

“Dik Mela!, dik Mela!…. Kok jadi melamun senyum-senyum sendiri, ada apa?, tegur Pak Lurah membuyarkan lamunan Mela. Mela jadi sedikit terkejut malu, “ehh…hehehe ga kenapa-napa pak”. “Gimana, mau kan kamu besok malam aku kenalkan sama produser kenalanku itu?, kalau mau aku jemput kamu besok jam 8 malam”, tanya Pak Lurah. “Mau pak, mau”, kata Mela sumringah. 

Sekitar pukul 1 dini hari sampailah mereka di rumah Mela. Pak Lurah mengucapkan salam perpisahan kemudian melajukan kembali mobilnya. Didalam mobil Pak Lurah tertawa-tawa sendiri laksana tawa kemenangan.

*******     

Seperti disepakati pada malam sebelumnya, Pak Lurah menjemput Mela dirumahnya pada pukul 8 malam lewat 2 menit. Necis sekali penampilan Pak Lurah malam itu, celana jeans baggy, kemeja lengan pendek warna merah motif kotak, sepatu santai merk terkenal berlogo seekor buaya, tak ketinggalan ramnbut yang tersisir rapih licin berminyak rambut, serta wangi parfum yang semerbak tercium hingga radius 10 meter. “Kemana kita pak?”, tanya Mela. “Tenang aja dik, pokoknya sip”, jawab Pak Lurah. 

Tiba di persimpangan jalan Pak Lurah membelokkan mobilnya ke kanan kemudian masuk ke sebuah hotel kelas melati.

“Di hotel toh pak”, ujar Mela. “Iya dik, soalnya kenalanku yang produser ini baru sampai dari Jakarta tadi sore, dia masih kecapean diperjalanan katanya, jadi kita ketemu dia langsung di hotel tempatnya menginap saja sambil dia istirahat biar lebih santai juga. Ga masalah kan dik Mela”, terang Pak Lurah mencoba menyakinkan. “Ohh begitu…, ga apa-apa pak, ga masalah”, jawab Mela.

Kemudian Pak Lurah memparkirkan mobilnya di depan kamar hotel bernomor 213. “Mari dik Mela”, kata Pak Lurah sambil membukakan pintu mobil buat Mela. “Musti di kamar toh pak?”, Tanya Mela, terdengar nada sedikit khawatir. “Lah kan sudah saya kasi tau barusan, kenalanku ini kecapean jadi hari ini belum bisa kemana-mana, jadi ya di kamar saja sambil santai-santai. Sudah dik Mela tenang saja. Mau jadi artis dangdut top ga?”, papar Pak Lurah.

Pak Lurah kemudian mengetuk pintu kamar itu. “Masuk”, kata seseorang dari dalam kamar. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar. “Halo Pak boss produser, ini aku udah bawa calon artis dangdut kita”, tegur Pak Lurah akrab kepada orang yang nampaknya sudah menunggu di dalam kamar hotel itu. “Ayo dik Mela, kasih salam boss produser”, sambung Pak Lurah kepada Mela. Mela pun menyalami si produser. “Wah wah wah….ini barang bagus, mulus, ckckckckck, cantik sekali kamu”, kata si produser sambil meremas jabatan tangan Mela, matanya jelalatan memandangi tubuh sintal Mela, dari bawah, tengah sampai atas. “Coba kamu berputar”, kata si produser kemudian. Mela pun memutar tubuhnya. “Wah wah wah….bemper belakangnya masih kenceng”, tambah si produser. Yang dimaksud bemper adalah bagian bokong Mela.

“Gimana Mel, kamu siap dan mau kan jadi artis dangdut top?, saya bisa mengorbitkan kamu jadi artis top. Nanti saya bikin kamu seperti si Nunu Gleper-gleper, atau seperti si Naskia Gitok, atau seperti si Trio Beruang Madu Betina, atau kamu mau seperti si Cica Cacimaki?,” demikian si produser mengimingi Mela. “Mau Pak Produser, mau banget”, jawab Mela antusias. “Husss…jangan panggil pak, panggil “Om” donk”, pinta si produser kepada Mela. “Eh..iya om pak, eh maksud saya om”, ralat Mela. Mata Mela menerawang ke sekeliling dalam kamar hotel itu, ia melihat di atas meja ada 3 botol minuman keras, beberapa botol minuman berenergi, beberapa butir pil berwarna biru, borgol, ikat pinggang, pecut dan seperti pajangan meja namun berbentuk kelamin pria.

“Tapi kamu harus saya tes dulu, tenang aja ga susah kok tesnya enak malahan”, kata si produser sambil nyengir seperti kuda. “Iya dik Mela, ga usah takut, buat dik Mela tesnya ga susah, sambil santai-santai minum-minum ini”, tambah Pak Lurah nimbrung bicara sambil membuka satu botol minuman keras kemudian menuangkannya ke 3 gelas. Kemudian Pak Lurah menyodorkan gelas yang telah terisi minuman keras kepada si produser, satu gelas lagi kepada Mela. Namun Mela menolak secara halus sambil berkata, “maaf pak, aku ga minum minuman itu”. “Loh lohhh, kamu ga boleh nolak, ini bagian dari tes loh”, ancam si produser. Mela kemudian memberanikan diri menyanggah, “bukannya seharusnya tesnya nyanyi pak?”. “Ahhh tes nyanyi itu gampang. Ya sudah kalau tidak mau tes minum, gimana kalau kamu dites yang lain aja ya”, sambung Pak Lurah. “Tes apa pak?”, tanya Mela penasaran. Pak Lurah menyodorkan wajahnya ke telinga kanan Mela, membisikkan sesuatu. 

“Apaaa ???!!!”, bentak Mela. Sejurus kemudian telapak tangan kanan Mela mendarat di pipi kiri Pak Lurah. Kemudian Mela menghardik kedua pria itu; “dasar buaya buntung !, tua-tua bangsat !, lintah comberan !, iblis gerbong kereta sapi !”.

Tanpa diduga tiba-tiba si produser mendekap Mela dari arah belakang, Mela meronta-ronta dan berteriak, “tolonggg !!, toll…”, tak dapat dilanjutkan dikarenakan tangan si produser membekap mulutnya. Sedang Pak Lurah bersiap-siap seolah ingin menerkam Mela. Mela terus meronta mengeluarkan seluruh tenaganya, namun apalah daya tenaga seorang gadis dihadapan tenaga dua pria dewasa. Dengan beringas Pak Lurah berusaha mendaratkan bibirnya ke wajah Mela, si produser tak kalah beringas, tangan kanan membekap mulut Mela sedangkan tangan kirinya berusaha membuka rok Mela.

Hingga tiba sekejap Mela mendapat kesempatan ia melihat bagian kemaluan Pak Lurah tidak terhalang maka dengan sekuat tenaga Mela menyepaknya. Sepakan Mela bagaikan sepakan Lionel Messi, “Jediigggg !!”, begitu kira-kira bunyinya. Namun tanpa komentar “AHAAYY” dan “JEBRET” sebagaimana komentator sepakbola dalam siaran sepakbola di televisi. Yang terdengar adalah kalimat ; “TOBAAATTTT !!!”, dari mulut Pak Lurah. Tendangan Mela tepat dan telak menghantam kemaluan Pak Lurah. Pak Lurah terjengkang sambil memegangi kemaluannya. 

Tangan Mela jadi lebih terbebas dari himpitan dari depan, kemudian cakar kukunya yang memang panjang ia benamkan dan tarik sekencang-kencangnya ke wajah si produser. Tangan kanan si produser yang masih membekap mulut Mela jadi mengendur memberikan kesempatan Mela menggigit jari si produser. Saking kalapnya Mela sehingga gigitannya mengakibatkan jari klingking si produser putus satu ruas dan mengeluarkan banyak darah. “WADAAWW !!”, teriak si produser sangat kesakitan, pada wajahnya pun tampak tiga garis merah berdarah.

Mela tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia melihat kunci kamar hotel masih menggantung di pintu. Ia segera berlari ke arah pintu dan membukanya kemudian berlari ke luar kompleks hotel kelas melati itu, berlari ke arah jalan raya.   

*******

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, malam ini Mela bersiap lagi menjalani profesinya yang ia geluti 1 bulan terakhir. Semua perlengkapan telah ia kenakan; sarung tangan, jaket kulit berwarna hitam buatan Garut, pengaman siku dan dengkul, juga sepatu boot, dan tak lupa mengenakan helm motor cross. Ia berjalan dengan tenang ke arah papan papan panjang kira-kira 12 meter disejajarkan vertikal dibentuk melingkar seperti tong. Di dalamnya sudah disiapkan motor tril oleh rekannya.
Ya…kini Mela telah beralih profesi menjadi seorang pengendara motor pada atraksi akrobat “tong stand”, atau sering disebut menjadi “Tong Setan”.

Setahun lalu, saat kejadian percobaan pemerkosaan yang hampir menimpa Mela, ketika ia berlari panik sambil menangis berteriak-teriak mencari pertolongan, ia berpapasan dengan konvoi mobil truk rombongan sirkus kampung yang biasa beroperasi pada pasar malam secara nomaden. Ia diselamatkan oleh pasangan suami-istri pimpinan sirkus kampung itu.
Untuk menenangkan dan menyembunyikan diri ia mengikuti kemanapun rombongan sirkus itu menuju. Lama kelamaan ia tertarik mencoba mengendarai motor modifikasi dalam sebuah tong besar. Latihan demi latihan dijalani dengan tekun dan tekad kuat, jadilah kini Mela bergiat pada profesi yang menurutnya jauh dari fitnah dan pelecehan, yaitu pengendara TONG SETAN.

Kereenn….


-selesai-