Malam datang lagi….
Adalah saat Mela harus bekerja. Sebuah
profesi yang tidak diimpikannya sama sekali, sangat jauh melenceng dari
jawabannya saat usianya tujuh tahun ketika ibunya bertanya, “Mela kalau sudah
besar mau jadi apa?”, “Mau jadi dokter”, jawab Mela kecil.
Ketika lulus SMP dia memantapkan cita-citanya dengan memasuki
sekolah kejuruan perawat atau lebih dikenal sebagai suster. Meski berbeda
jurusan dari cita-cita menjadi dokter ke perawat karena terkendala biaya
pendidikan yang mahal, dia pikir profesi perawat tidaklah terlalu melenceng
dari profesi dokter, masih bertugas menyembuhkan orang sakit meskipun tidak
menangani langsung karena hanya asisten dokter. Profesi perawat pun masih
menangani seputar tubuh manusia, tidak terlalu jauh berbeda dengan pekerjaan
dokter. Dan yang terpenting adalah
karena sama-sama dapat menolong jiwa manusia, maka perawat pun sama
mulianya dengan dokter.
Sekolah Kejuruan Perawat dijalani Mela dengan suka cita,
hingga tak terasa sudah hampir kenaikan kelas yaitu ke kelas dua atau kelas
sebelas kurikulum sekarang. Hingga sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan
berlangsung, ujian terdiri dari ujian teori dan ujian praktek. Suatu hari wali
kelasnya memberi pengumuman di muka kelas,”anak-anak jangan lupa minggu depan
ujian kenaikkan kelas, maka bayaran ujian paling lambat hari Sabtu di minggu
ini. Kalau belum bayar ya tidak bisa ikut ujian”, demikian kata ibu wali kelas.
Lonceng tanda kelas berakhir berbunyi, Mela seperti biasa
pulang ke rumah menggunakan angkutan pedesaan, meski sesekali ia menggunakan
sepeda motor ayahnya. Namun sekitar 6 bulan yang lalu sepeda motor ayahnya itu dijual,
katanya buat menambah biaya dapur dan biaya rumah tangga lainnya. Ayahnya hanya
bekerja sebagai karyawan honorer pada perusahaan rokok di desa itu, bertugas
sebagai pesuruh. Sudah 32 tahun ayahnya mengabdi di perusahaan itu.
Mela tiba di rumahnya sekitar pukul setengah tiga sore, lama
perjalanan dari sekolah ke rumahnya hanya setengah jam. “Assalamualaikum”, Mela
mengucap salam. “Waalaikumsalam”, jawab suara yang berasal dari kamar kedua
orangtuanya, suara ibunya. Mela kemudian menghampiri ke arah sumber suara,
batinnya sedikit heran karena biasanya jam segini ibunya mesti sedang berada di
dapur menyiapkan masakan untuk makan malam seluruh keluarga, atau jika sedang
senggang pasti sedang menyaksikan tayangan infotainment alias berita
sensasional yang remeh-temeh para pesohor di televisi. “Tumben ibu ada di
kamar”, batin Mela.
Mela mengetuk pintu, “masuk nak”, suara ibunya. Ketika pintu
dibuka Mela sedikit terkejut, ternyata ayahnya sudah pulang karena biasanya
ayahnya tiba di rumah menjelang waktu Isya. “Kemari nak, ada yang ingin bapak dan ibu sampaikan”, kata ayahnya sambil duduk di sisi kasur sedangkan ibunya
duduk terkulai di lantai menghadap ayah. Suasana di kamar itu terasa muram
begitupun wajah ayah dan ibu Mela, air muka keduanya tampak muram.
Selanjutnya ayah menguraikan ceritanya, bahwa disebabkan
aturan pemerintah atas penjualan tembakau yang semakin ketat yakni dengan
menaikkan pajak tembakau, mengkibatkan harga rokok dipasaran melambung tinggi,
dengan demikian ongkos produksi perusahaan rokok menjadi naik. Demi
keberlangsungan perusahaan dan agar tetap stabilnya harga jual rokok produksi
perusahaan maka manajemen mengeluarkan kebijakan “merumahkan” sebagian besar
karyawannya. Ayah Mela adalah salah satu karyawan yang dirumahkan oleh
perusahaan.
“Ayah diPHK?!!”, tanya Mela seolah tak percaya atas kenyataan itu. Seperti
berhenti rasanya semua jam di rumah itu, senyap dan hening. Begitupun detak
jantung Mela, saat itu juga rasanya berhenti. Di Kamarnya Mela terpaku dalam lamunan,
tatapannya kosong menerawang ke luar jendela menatap pohon mangga di halaman
depan rumah yang banyak ditumbuhi benalu.
“Bagaimana biaya ujianku?, bagaimana biaya sekolahku?,
bagaimana masa depanku?”, demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang berputar
mengurung benak Mela.
Kemudian Mela mengalihkan pandangannya ke cermin meja
riasnya. Secara fisik Mela adalah gadis yang cantik, kulitnya putih bersih,
tinggi tubuhnya proporsional, hidungnya mancung untuk ukuran orang Indonesia
bibirnya merah alami, wajahnya tipe kekanakan, lekuk tubuhnya sintal dan
sebagaimana gadis diusianya potongan rambutnya trendi, panjang sebahu dengan
poni dibagian depan. Benar-benar gadis muda yang ranum menggoda bak buah
rambutan yang matang tumbuh lebat di halaman kantor Polsek, meski berisiko tetap
menggoda untuk dipetik.
Esok harinya Mela tidak berangkat ke sekolah, ia memutuskan
berhenti sekolah. Iya tahu diri, ia tidak ingin membebani keluarga, belum lagi
ia teringat ketiga adiknya yang masih memerlukan biaya. Mela teringat akan
kegemarannya akan musik dangdut. Setiap ada acara pertunjukan seni di
sekolahnya dulu sejak ia SMP mestilah ia didapuk menyanyi diatas panggung. Alunan
vokalnya serak-serak basah dan goyangan tubuhnya yang serasi dengan hentakan
tabuhan gendang benar-benar melenakan siapapun yang menatapnya, khususon dimata
kaum lelaki. Liukkan tubuhnya meskipun tidak seronok namun ditubuh sintal Mela
tetap saja menjadi erotis.
*******
Mela memutuskan menjadikan penyanyi dangdut sebagai profesinya. Ada
sebuah grup Orkes Melayu yang cukup terkenal di kota kabupaten itu yakni grup
OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah. Sebenarnya ketika Mela duduk di kelas 3
SMP atau kelas 9, grup OM tersebut sempat mengajak Mela bergabung namun
orangtua Mela enggan memberi restu. Kini, karena keadaan yang menimpa keluarga
Mela, orangtua Mela tidak punya pilihan untuk melarangnya. Mela mendapat uang dari hasil menyanyi dangdut, meskipun tidak besar namun
cukuplah untuk biaya diri sendiri dan membantu keuangan keluarga. Karir Mela
sebagai penyanyi dangdut di daerah cukup gemilang, dia pun memiliki nama
panggung yaitu Mela Grasak.
Bukan tanpa godaan dalam menjalani karirnya sebagai
penyanyi dangdut. Saat berdendang diatas panggung sudah tidak terhitung celoteh
dan celetukan bernada sensualitas bahkan cenderung pelecehan, seperti kata-kata
: “buka dikit !”, “pantate joss!”, “waduh celanaku jadi sempit!”, “Aduh maak,
indah banget pemandangan gunung !”, dan lain-lain sejenisnya. Apalagi apabila
ada acara saweran diatas panggung, para lelaki yang menyawer dengan uang kertas
yang nilainya besar seperti merasa berhak atas tubuh Mela.
Pernah suatu kali
ketika acara saweran wajah Mela dilempar secara kasar uang kertas seratus
ribuan 5 lembar, sungguh pemandangan yang merendahkan martabat perempuan, namun
Mela memaksakan diri tetap tersenyum. Jika masih mencubit sisi bahu lengan atau
mencolek bokong, dia menanggapinya dengan pura-pura genit, namun jika ada yang
menurutnya terlampau jauh seperti ingin menyelipkan uang kertas ke belahan buah
dadanya maka Mela secara halus menampiknya sambil tetap tersenyum.
Pada suatu hari OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah
diundang mengisi acara syukuran panen padi di pendopo kantor kecamatan. Jajaran
perangkat pimpinan desa hadir semua, dari Pak Camat, Pak Lurah, Pak Danramil dan Pak Kapolsek, juga para tokoh masyarakat. Semua duduk di sofa yang telah disediakan
terletak persis 7 meter menghadap depan panggung. Seperti biasa Mela menjadi
bintang utama disetiap acara panggung dangdut, ratusan pasang mata menikmati liukan
tubuh Mela dibanding menikmati irama musik yang didendangkan.
Pak Lurah desa
itu adalah orang yang terpandang, dia memiliki sawah yang luasnya hektaran,
memiliki perternakan sapi potong, memiliki dua toko emas di pasar, serta
memiliki 3 istri, singkatnya ia adalah seorang saudagar kaya di desa itu.
Bahkan acara hiburan panggung dangdut malam itu pun disponsori atau atas biaya
pribadi Pak Lurah. Sedari awal Mela melantunkan lagu, Pak Lurah tidak
melepaskan pandangan bergantian ke wajah, dada, dan bokong Mela, Pak Lurah
telah terhipnotis oleh pesona kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Mela. Ingin
rasanya ia keatas panggung untuk berjoget bersama Mela atau ikut saweran, namun
ia menjaga citra dirinya sebagai Bapak Lurah yang terhormat, sehingga ia
urungkan hasrat jogetnya, hanya saja kedua jempol tangannya tak kuasa bergoyang
mengikuti irama kendang dangdut yang bertalu-talu.
Kemudian Pak Lurah meminta diri kepada seluruh perangkat pimpinan
desa yang sejajar duduk dengannya di sofa; “permisi bapak-bapak, saya ke
belakang sebentar”, begitu katanya. Ternyata yang dimaksud “belakang” bukanlah kamar
mandi atau kamar kecil untuk buang air, melainkan ke belakang panggung. Ia menemui
pimpinan OM Debur Banyu Karang Bolong di Tengah, ia menyerahkan segepok uang
lembaran 50 ribuan kepada pimpinan OM tersebut kemudian berkata ; “kamu atur gimana caranya supaya si Mela nanti pulang bisa bareng sama aku”. “Siap
Pak Boss Lurah, serahkan sama saya”, balas pimpinan OM itu.
Acara hiburan itupun selesai sekitar pukul setengah satu dini hari. Pimpinan OM
menghampiri Mela, “Mel,…saya minta maaf ga bisa nganter kamu pulang ya”. “Loh
pak saya gimana pulangnya?”, tanya Mela resah. “Tenang aja, ada yang bersedia
nganter kamu pulang, Pak Lurah,” Jawab pimpinan OM itu. Mela terperanjat, “wah…masa
Pak Lurah yang nganter aku, aku kan ga enak dong”. Tiba-tiba ada suara yang
menyela, “tidak apa-apa dik Mela, aku anter pulang ya, sudah malam sekali ini
loh”, ternyata si penyela itu adalah Pak Lurah sendiri. Mela pun menunduk tersipu namun
mengiyakan ajakan Pak Lurah.
Akhirnya Mela telah berada di dalam mobil bersama Pak Lurah.
Pak Lurah membuka pembicaraan, “Dik Mela penampilannya tadi luar biasa, bagus
sekali!, suaranya apik, gurih…goyanganmu itu dik, bikin jantung saya mau copot”.
Dengan genit Mela membalas pujian Pak Lurah, “ahh Pak Lurah bisa saja”. Pak Lurah
menyambung, “Dik Mela saya punya kenalan produser musik dangdut dari Jakarta,
besok aku janjian mau ketemuan, kamu mau ga aku kenalkan?, aku yakin dia pasti
tertarik mau mengorbitkan kamu menjadi artis top ibu kota”.
Mendengar pemaparan
Pak Lurah mata Mela berbinar, pikirannya sejenak menerawang, ia teringat
kembali ketika ayahnya terkena PHK, kemudian ia putus sekolah, 3 orang adik-adiknya
yang masih butuh banyak biaya, ibunya yang berjualan hasil kebun di pasar.
Terbesit dipikirannya; “inilah saatnya…..akhirnya aku bisa menjadi artis
dangdut top”. Kemudian dia membayangkan kehidupan sebagai artis dangdut top sebagaiman
yang ia saksikan di acara-acara televisi, begitu glamour dan sensasional. Bagaimana
tidak, semua peristiwa pribadi seperti harus masuk rumah sakit hanya karena
masuk angin saja masuk berita, ditinggalkan suami masuk berita, semata-mata masak
di dapur pun bisa masuk berita. Mela kemudian tersenyum sendiri gara-gara
membayangkan jika dia sudah menjadi artis top jangan-jangan hobi kentutnya akan
jadi berita, kemudian yang terpenting dia membayangkan dia akan mempunyai
banyak uang.
“Dik Mela!, dik Mela!…. Kok jadi melamun senyum-senyum
sendiri, ada apa?, tegur Pak Lurah membuyarkan lamunan Mela. Mela jadi sedikit terkejut
malu, “ehh…hehehe ga kenapa-napa pak”. “Gimana, mau kan kamu besok malam aku
kenalkan sama produser kenalanku itu?, kalau mau aku jemput kamu besok jam 8
malam”, tanya Pak Lurah. “Mau pak, mau”, kata Mela sumringah.
Sekitar pukul 1 dini hari sampailah mereka di rumah Mela. Pak Lurah mengucapkan
salam perpisahan kemudian melajukan kembali mobilnya. Didalam mobil Pak Lurah
tertawa-tawa sendiri laksana tawa kemenangan.
*******
Seperti disepakati pada malam sebelumnya, Pak Lurah
menjemput Mela dirumahnya pada pukul 8 malam lewat 2 menit. Necis sekali
penampilan Pak Lurah malam itu, celana jeans baggy, kemeja lengan pendek warna
merah motif kotak, sepatu santai merk terkenal berlogo seekor buaya, tak
ketinggalan ramnbut yang tersisir rapih licin berminyak rambut, serta wangi
parfum yang semerbak tercium hingga radius 10 meter. “Kemana kita pak?”, tanya Mela.
“Tenang aja dik, pokoknya sip”, jawab Pak Lurah.
Tiba di persimpangan jalan Pak
Lurah membelokkan mobilnya ke kanan kemudian masuk ke sebuah hotel kelas
melati.
“Di hotel toh pak”, ujar Mela. “Iya dik, soalnya kenalanku
yang produser ini baru sampai dari Jakarta tadi sore, dia masih kecapean diperjalanan
katanya, jadi kita ketemu dia langsung di hotel tempatnya menginap saja sambil
dia istirahat biar lebih santai juga. Ga masalah kan dik Mela”, terang Pak Lurah
mencoba menyakinkan. “Ohh begitu…, ga apa-apa pak, ga masalah”, jawab Mela.
Kemudian Pak Lurah memparkirkan mobilnya di depan kamar
hotel bernomor 213. “Mari dik Mela”, kata Pak Lurah sambil membukakan pintu
mobil buat Mela. “Musti di kamar toh pak?”, Tanya Mela, terdengar nada sedikit
khawatir. “Lah kan sudah saya kasi tau barusan, kenalanku ini kecapean jadi
hari ini belum bisa kemana-mana, jadi ya di kamar saja sambil santai-santai.
Sudah dik Mela tenang saja. Mau jadi artis dangdut top ga?”, papar Pak Lurah.
Pak Lurah kemudian mengetuk pintu kamar itu. “Masuk”, kata seseorang dari dalam
kamar. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar. “Halo Pak boss produser, ini aku
udah bawa calon artis dangdut kita”, tegur Pak Lurah akrab kepada orang yang
nampaknya sudah menunggu di dalam kamar hotel itu. “Ayo dik Mela, kasih salam
boss produser”, sambung Pak Lurah kepada Mela. Mela pun menyalami si produser. “Wah
wah wah….ini barang bagus, mulus, ckckckckck, cantik sekali kamu”, kata si
produser sambil meremas jabatan tangan Mela, matanya jelalatan memandangi
tubuh sintal Mela, dari bawah, tengah sampai atas. “Coba kamu berputar”, kata
si produser kemudian. Mela pun memutar tubuhnya. “Wah wah wah….bemper belakangnya
masih kenceng”, tambah si produser. Yang dimaksud bemper adalah bagian bokong
Mela.
“Gimana Mel, kamu siap dan mau kan jadi artis dangdut top?,
saya bisa mengorbitkan kamu jadi artis top. Nanti saya bikin kamu seperti si
Nunu Gleper-gleper, atau seperti si Naskia Gitok, atau seperti si Trio Beruang
Madu Betina, atau kamu mau seperti si Cica Cacimaki?,” demikian si produser
mengimingi Mela. “Mau Pak Produser, mau banget”, jawab Mela antusias. “Husss…jangan
panggil pak, panggil “Om” donk”, pinta si produser kepada Mela. “Eh..iya om
pak, eh maksud saya om”, ralat Mela. Mata Mela menerawang ke sekeliling dalam
kamar hotel itu, ia melihat di atas meja ada 3 botol minuman keras, beberapa
botol minuman berenergi, beberapa butir pil berwarna biru, borgol, ikat
pinggang, pecut dan seperti pajangan meja namun berbentuk kelamin pria.
“Tapi kamu harus saya tes dulu, tenang aja ga susah kok
tesnya enak malahan”, kata si produser sambil nyengir seperti kuda. “Iya dik
Mela, ga usah takut, buat dik Mela tesnya ga susah, sambil santai-santai
minum-minum ini”, tambah Pak Lurah nimbrung bicara sambil membuka satu botol
minuman keras kemudian menuangkannya ke 3 gelas. Kemudian Pak Lurah menyodorkan
gelas yang telah terisi minuman keras kepada si produser, satu gelas lagi
kepada Mela. Namun Mela menolak secara halus sambil berkata, “maaf pak, aku ga
minum minuman itu”. “Loh lohhh, kamu ga boleh nolak, ini bagian dari tes loh”,
ancam si produser. Mela kemudian memberanikan diri menyanggah, “bukannya
seharusnya tesnya nyanyi pak?”. “Ahhh tes nyanyi itu gampang. Ya sudah kalau
tidak mau tes minum, gimana kalau kamu dites yang lain aja ya”, sambung Pak Lurah.
“Tes apa pak?”, tanya Mela penasaran. Pak Lurah menyodorkan wajahnya ke telinga
kanan Mela, membisikkan sesuatu.
“Apaaa ???!!!”, bentak Mela. Sejurus kemudian
telapak tangan kanan Mela mendarat di pipi kiri Pak Lurah. Kemudian Mela
menghardik kedua pria itu; “dasar buaya buntung !, tua-tua bangsat !, lintah
comberan !, iblis gerbong kereta sapi !”.
Tanpa diduga tiba-tiba si produser mendekap Mela dari arah belakang,
Mela meronta-ronta dan berteriak, “tolonggg !!, toll…”, tak dapat dilanjutkan
dikarenakan tangan si produser membekap mulutnya. Sedang Pak Lurah bersiap-siap
seolah ingin menerkam Mela. Mela terus meronta mengeluarkan seluruh tenaganya,
namun apalah daya tenaga seorang gadis dihadapan tenaga dua pria dewasa. Dengan
beringas Pak Lurah berusaha mendaratkan bibirnya ke wajah Mela, si produser tak
kalah beringas, tangan kanan membekap mulut Mela sedangkan tangan kirinya
berusaha membuka rok Mela.
Hingga tiba sekejap Mela mendapat kesempatan ia melihat bagian
kemaluan Pak Lurah tidak terhalang maka dengan sekuat tenaga Mela menyepaknya.
Sepakan Mela bagaikan sepakan Lionel Messi, “Jediigggg !!”, begitu kira-kira
bunyinya. Namun tanpa komentar “AHAAYY” dan “JEBRET” sebagaimana komentator
sepakbola dalam siaran sepakbola di televisi. Yang terdengar adalah kalimat ; “TOBAAATTTT
!!!”, dari mulut Pak Lurah. Tendangan Mela tepat dan telak menghantam kemaluan
Pak Lurah. Pak Lurah terjengkang sambil memegangi kemaluannya.
Tangan Mela jadi
lebih terbebas dari himpitan dari depan, kemudian cakar kukunya yang memang
panjang ia benamkan dan tarik sekencang-kencangnya ke wajah si produser. Tangan
kanan si produser yang masih membekap mulut Mela jadi mengendur memberikan
kesempatan Mela menggigit jari si produser. Saking kalapnya Mela sehingga
gigitannya mengakibatkan jari klingking si produser putus satu ruas dan
mengeluarkan banyak darah. “WADAAWW !!”, teriak si produser sangat kesakitan,
pada wajahnya pun tampak tiga garis merah berdarah.
Mela tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia melihat kunci
kamar hotel masih menggantung di pintu. Ia segera berlari ke arah pintu dan
membukanya kemudian berlari ke luar kompleks hotel kelas melati itu, berlari ke
arah jalan raya.
*******
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun,
malam ini Mela bersiap lagi menjalani profesinya yang ia geluti 1 bulan
terakhir. Semua perlengkapan telah ia kenakan; sarung tangan, jaket kulit berwarna hitam buatan Garut,
pengaman siku dan dengkul, juga sepatu boot, dan tak lupa mengenakan helm motor cross. Ia berjalan dengan
tenang ke arah papan papan panjang kira-kira 12 meter disejajarkan vertikal dibentuk
melingkar seperti tong. Di dalamnya sudah disiapkan motor tril oleh rekannya.
Ya…kini Mela telah beralih profesi menjadi seorang
pengendara motor pada atraksi akrobat “tong stand”, atau sering disebut menjadi “Tong
Setan”.
Setahun lalu, saat kejadian percobaan pemerkosaan yang hampir menimpa Mela,
ketika ia berlari panik sambil menangis berteriak-teriak mencari pertolongan,
ia berpapasan dengan konvoi mobil truk rombongan sirkus kampung yang biasa
beroperasi pada pasar malam secara nomaden. Ia diselamatkan oleh pasangan
suami-istri pimpinan sirkus kampung itu.
Untuk menenangkan dan menyembunyikan diri ia mengikuti
kemanapun rombongan sirkus itu menuju. Lama kelamaan ia tertarik mencoba
mengendarai motor modifikasi dalam sebuah tong besar. Latihan demi latihan dijalani
dengan tekun dan tekad kuat, jadilah kini Mela bergiat pada profesi yang
menurutnya jauh dari fitnah dan pelecehan, yaitu pengendara TONG SETAN.
Kereenn….
-selesai-