Semenjak Pemilihan Presiden 2014, masyarakat terpolarisasi,
Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Namun menariknya, ada isu usang
yang kembali dihidupkan untuk melumpuhkan kelompok lainnya, yakni
bangkitnya komunisme (baca: Partai Komunis Indonesia/PKI). Dasar tuduhan
mereka adalah serbuan pekerja ilegal dan membanjirnya produk-produk
asal Tiongkok.
Isu PKI itu sudah usang dimakan jaman.
Seberapapun lantang mulut menuduh sana-sini, tidak akan menjadi sebuah
keyakinan dan kesepakatan mayoritas bangsa Indonesia sebagaimana yang
terjadi di tahun 1965-1966. Selain bukti yang sangat lemah dan sangat
minim fakta, juga cenderung mengada-ngada yang sengaja disebarkan oleh
beberapa elit politik (demagog).
Jangan dilupakan juga
bahwa situasi dan kondisi internasional selalu mempengaruhi gerak arah
perpolitikan atau perjalanan sejarah suatu negara di dunia ketiga,
Indonesia khususnya. Berikut ini saya coba paparkan argumentasi saya.
Saat
kejadian 1965, situasi internasional sedang mengalami “Perang
Dingin”/Cold War. Antagonisme yang berlangsung adalah antara Kapitalisme
dan Imperialisme (Blok Barat) dengan Komunisme (Blok Timur). Indonesia
yang saat itu di bawah pemerintahan Sukarno sebenarnya bersikap
netral/Non-blok.
Namun dikarenakan ada kecenderungan bangsa barat
tidak ramah kepada Sukarno, maka adalah konsekuensi logis apabila
Sukarno cenderung dekat kepada negara-negara blok timur, khususnya
Tiongkok karena merasa lebih dihargai. Bukan tanpa sebab juga Sukarno
dimusuhi oleh kubu Blok Barat, dikarenakan dia sangat menentang
imperialisme yang menjadi garis kebijakan luar negeri Blok Barat.
Meskipun
Sukarno dekat dengan Blok Timur dengan ideologi Komunismenya, namun
Sukarno tidak pernah merasa menjadi seorang Komunis atau membawa
Republik Indonesia menjadi negara Komunis, ia seorang Nasionalis sejati.
Sukarno adalah seorang Pancasilais karena dialah sang penemu Pancasila.
Meskipun
dengan rendah hati dia mengatakan bahwa dia bukanlah penemu Pancasila,
dia hanya menggali Pancasila dari nilai-nilai yang sudah lama hidup di
dalam jiwa setiap insan Nusantara, ada di dalam jiwa seluruh rakyat
Republik Indonesia yang dia cintai. Bahwa setiap jiwa orang Indonesia
adalah insan yang berketuhanan Yang Maha Esa, menjungjung rasa
kemanusiaan, terikat rasa senasib sebagai bangsa Indonesia, menjunjung
musyawarah untuk mufakat, dan senantiasa bergotong-royong saling
membantu sesama tanpa membeda-bedakan.
Tahun 1965, pada saat itu
tensi perpolitikan dalam negeri sedang tinggi, di antaranya adalah
perseteruan antara Tentara Nasional Indonesia, khususnya Angkatan Darat
(TNI AD), dengan PKI semakin meruncing. Klimaksnya adalah penolakan usul
PKI, yakni membentuk Angkatan kelima yang terdiri dari kaum buruh dan
tani yang dipersenjatai ditolak mentah-mentah oleh Jenderal Ahmad Yani
sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) waktu itu.
Usul
Angkatan Kelima sebenarnya bukan ide tanpa dasar. Usul tersebut adalah
berkenaan Indonesia yang saat itu sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.
Menurut Sukarno, pembentukan negara Malaysia (waktu itu bernama
Federasi Malaysia) adalah provokasi pihak Inggris dan dianggapnya
“boneka Inggris” sebagai kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk
baru. Alasan lainnya adalah Angkatan Kelima merupakan pelaksanaan konsep
Bela Negara sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk
membantu tentara regular bertempur melawan Malaysia yang dibantu koalisi
Inggris, maka rakyat (yang menurut interpretasi PKI adalah terdiri dari
kaum buruh dan tani) diikutsertakan dengan menjadi sukarelawan. Usul
itu tetap ditolak oleh Jenderal Ahmad Yani dengan alasan tidak efisien.
Meski demikian, seorang Sukarno berhasil menggelorakan semangat
patriotisme rakyat Indonesia dengan menyerukan Komanda Ganyang Malaysia
(KOGAM).
Inggris yang saat itu merupakan salah satu negara utama
pendukung Blok Barat bersama sekutu utamanya adalah Amerika Serikat,
merasa Sukarno-lah penghalang utama kepentingan-kepentingan mereka di
wilayah Asia Tenggara. Maka mereka selalu mencoba melakukan operasi
terselubung untuk menjatuhkan Sukarno.
Di mulai dari akhir tahun
50an sampai awal tahun 60an; menyokong persenjataan gerakan separatis
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Rakyat
Semesta (Permesta), sampai mengirim pesawat pembom ke wilayah udara
Indonesia dengan tujuan membom istana negara yang dipiloti seorang
tentara bayaran berkebangsaan Amerika bernama Allen Pope, semua itu
diduga merupakan operasi terselubung yang dirancang oleh Central
Intelligence Agency (CIA).
Sebagaimana kita bangsa Indonesia
mengetahui bahwa pada tahun 1965 terjadi sebuah peristiwa yang dikenal
sebagai Gerakan 30 September. Mereka melaksanakan Gerakan 30 September
menamakan kelompok mereka dengan nama Dewan Revolusi. Gerakan tersebut
menculik dan membunuh para Jenderal yang dituduh tergabung dalam
Dewan Jenderal yang akan melakukan makar dengan menjatuhkan Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia saat itu.
Kejadian
tersebut adalah menjadi klimaks dari tensi politik dalam negeri
Indonesia yang sedang memanas kala itu. Akhirnya, sejarah Indonesia
mencatat bahwa rakyat yang anti PKI didukung penuh oleh TNI AD berhasil
memenangkan “pertarungan” dengan memberangus PKI dan memberantas
orang-orang yang dituduh PKI dengan cara dieksekusi tanpa pengadilan dan
dikirim ke kamp tahanan di Pulau Buru.
Sebagai puncak rentetan
dari peristiwa itu, Presiden Sukarno diberhentikan dari jabatannya
sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1967 dan mengantarkan
Jenderal Suharto sebagai penggantinya.
Menurut versi Orde
Baru di bawah rezim Suharto, adalah PKI dengan paham komunismenya yang
berada di belakang Gerakan 30 September. Namun demikian, tidak sedikit
peneliti sejarah baik dari Indonesia sendiri maupun luar negeri yang
menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan kajiannya. Beberapa hasil
penelitian mereka mengungkapkan bahwa ada keterlibatan Amerika Serikat
di bawah kordinasi CIA berada di belakang peristiwa Gerakan 30 September
1965 yang berujung pada jatuhnya Sukarno di tahun 1967.
Suharto
ketika menjadi presiden mengubah kebijakan koalisi luar negeri Sukarno.
Suharto cenderung dekat kepada Blok Barat, khususnya Amerika Serikat.
Kebijakan Suharto lainnya adalah mengejar ketertinggalan dalam
pembangunan/percepatan pembangunan Indonesia dengan cara mengajukan
bantuan dana (hutang luar negeri) kepada lembaga moneter/keuangan yang
berasal dari Amerika Serikat yakni Bank Dunia (World Bank).
Demikianlah
jika ditelaah dari perspektif global. Perang Dingin di Indonesia antara
Blok Barat dengan Blok Timur akhirnya dimenangkan oleh Blok Barat
(baca; Amerika Serikat).
Angin perubahan dunia kemudian
berubah, ditandai dengan tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur
(berhaluan Blok Timur) dengan Jerman Barat (berhaluan Blok Barat) pada
Januari 1990 resmi dirobohkan. Reunifikasi Jerman tersebut mengubah
bentuk pemerintahan tersebut menjadi Republik Parlementer.
Kemudian
negara yang menjadi rival utama Amerika Serikat dalam Perang Dingin
sebagai negara adikuasa yang dianggap pemimpin Blok Timur yang berhaluan
komunis yaitu Uni Sovyet akhirnya bubar pada bulan Desember 1991,
kemudian pecah menjadi 12 negara. Penggunaan nama Uni Sovyet pun dirubah
menjadi Rusia dengan bentuk negara tidak lagi komunis melainkan
Federasi.
Dengan robohnya tembok Berlin dan bubarnya Uni
Sovyet tersebut dapat diartikan bahwa Perang Dingin telah berakhir, Blok
Timur dengan komunismenya telah hancur, dan Amerika Serikat menjadi
satu-satunya negara adikuasa, dan dianggap satu-satunya negara super
power. Lalu pertanyaannya, apakah sebagai negara super power kini
Amerika Serikat bebas menjalankan kebijakannya dan memaksakan
kepentingannya di seluruh dunia? Jawabannya ternyata TIDAK.
Kebijakan
Amerika Serikat di Jazirah Arab yang pro negara Zionis Israel mendapat
tentangan dan perlawan dari negara-negara Islam sebagai bentuk
solidaritas kepada bangsa Palestina yang negaranya diambil alih oleh
bangsa Yahudi dengan mendirikan negara Israel. Penentangan dan
perlawanan yang paling keras tentu saja dilakukan oleh kelompok Islam
garis keras.
Kelompok Islam garis keras ini paham betul
bahwa tidak mungkin menghadapi Amerika Serikat secara perang frontal
terbuka karena akan kalah secara teknologi. Mereka menjalankan bentuk
perang dan perlawanan lain, yakni melalui ideologi yaitu dengan
menanamkan dan menyebarkan paham Radikalisme Islam dan strategi perang
dengan cara Terorisme.
Peristiwa dihantamnya menara kembar World
Trade Center di Manhattan, New York, Amerika Serikat pada 11 September
2001 dengan pesawat yang dibajak diyakini didalangi oleh Al-Qaeda
menegaskan Amerika Serikat akan musuh besar baru mereka, yaitu kelompok
Radikal Islam. Amerika Serikat melancarkan sebuah propaganda dalam
menyerang negara-negara pendukung kelompok Islam Radikal dengan jargon
War On Terrorism.
Kembali
ke Indonesia, dengan kondisi terkini berhembusnya isu bangkitnya PKI
yang tujuan utama sebenarnya adalah melancarkan fitnah untuk membunuh
karakter lawan politik. Cara itu tak ubahnya seperti kembali memakan
daging yang sudah sangat lama dikubur dalam peti, meski sudah tidak
berbentuk utuh bahkan nyaris hancur berkalang tanah tetap dipaksakan
memakannya.
Namun tidak sedikit pula yang percaya daging
itu masih segar dan menelannya mentah-mentah. Mereka lupa bahwa PKI
komunisme sudah “tidak laku di pasaran” karena rakyat sudah cerdas
memahami bahwa komunisme bersifat totaliter yang pemerintahannya
dijalankan secara diktaktor, perekonomian yang stagnan karena dikelola
sentralistik segalanya diputuskan pemerintah dan tidak ada kebebasan
yang sifatnya individual.
Bangsa-bangsa dunia saat ini
tidak ada yang benar-benar murni dan konsekuen menjalankan komunisme,
bahkan di Republik Rakyat Cina/Tiongkok. Saat ini perdagangan produk
Tiongkok bersaing menguasai pasar internasional. Itu berarti berarti
Tiongkok semakin bersifat kapitalis.
Hanya tinggal Korea
Utara yang masih menjalankan komunisme ala Mao Zedong, itupun negara
mereka sangat tertutup dan menarik diri dari pergaulan internasional dan
lagi-lagi tidak murni dan konsekuen dengan komunismenya. Mereka
menjalankan ideologi tradisional Korea yang disebut
Juche.
Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan :
- Hadirnya
Komunisme di jaman Kolonial Belanda, terkhusus di Indonesia sejak tahun
1914 adalah konsekuensi logis sebagai anti-tesis/lawan dari musuh
ideologinya; Imperialisme dan Kolonialisme yang saat itu mencengkram
Indonesia sebagai bangsa jajahan, sebagaimana kebanyakan bangsa-bangsa
di Asia-Afrika. Saat ini tidak ada lagi bangsa-bangsa yang dijajah oleh
bangsa lain.
- Semenjak Perang Dingin berakhir, maka berakhir pula komunisme sebagai ideologi yang dianut suatu bangsa.
- Komunisme, Marxisme dan Leninisme saat ini semata-mata sebatas kajian sejarah, kajian keilmuan dan alat analisa.
- PKI
di Indonesia telah kalah dan mati di tahun 1966 tidak terlepas dari
situasi dan kondisi global saat itu, yakni era Perang Dingin (Cold War),
yang dimenangkan Blok Barat yang representasikan oleh Amerika Serikat.
Kalahnya Blok Timur ditandai dengan robohnya tembok Berlin dan bubarnya
Uni Sovyet.
- Jaman telah berganti, Amerika Serikat hingga saat
ini memiliki musuh baru, bukan lagi komunisme, melainkan Radikalisme
Islam dan Terorisme.
(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali pada situs Qureta 11 Mei 2017)