Rabu, 28 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 2



“Ok, lets go!”, balas saya kepada Andre. Kami berkendara dengan 3 motor masing-masing dengan motornya sendiri. Melaju perlahan saja dengan posisi berbaris, saya paling depan, Andre, kemudian paling belakang Maria. Saat melaju, tidak lama Andre berusaha mensejajarkan laju motornya dengan motor yang saya kendarai, saat sejajar dia bilang, “nice helmet” sambil kemudian tertawa. Tentu saja dia bercanda menyindir, karena saya tidak mengenakan helm hanya mengenakan topi trucker. Di kota kecil ini aturan mengenakan helm bagi pengendara motor tidak terlalu ditegakkan oleh kepolisian wilayah jika tidak ingin dikatakan tidak ditegakkan sama sekali, kesadaran masing-masing pengendara motor saja. Saya tertawa, “Ah tidak perlu, saya merasa bebas tanpa helm”, jawab saya ngeles.

Karena tujuan pertama yakni pantai Bagedur jalan menuju kesana melewati rumah keluarga istri saya, saya ajak saja mereka sekedar mampir dulu, biar melihat langsung atau bertamu ke rumah penduduk Indonesia pikir saya. “Kamu tahu Bobby, ini pertama kalinya saya bertamu ke rumah penduduk negara yang saya kunjungi”, sahut Andre. “Ah…tepat perkiraan gw”, kata saya dalam hati. Kami di teras samping rumah saja.
“Heiy Bobby, itu pohon pisang bukan?”, tanya Andre sambil menunjuk. “Ya”, jawab saya. “Waw”, sambungnya. “Kamu tahu, di negara saya makan pisang sesekali saja, biasanya dihari istimewa semisalnya hari Natal. Itupun paling banyak 2 buah saja”, sambungnya lagi. Giliran saya berkata “waw”, tapi dalam hati saja, mengingat di Indonesia ini jika ingin bisa setiap hari makan pisang.

Kemudian Andre bertanya lagi, “dalam perjalanan kesini saya melihat pada sebuah pohon dengan plastik yang menggantung, terlihat seperti kondom, apakah itu?,apakah itu sebuah kepercayaan tertentu penduduk disini, semacam ritual?”. Saya bingung, pohon dengan plastik menggantung seperti kondom?, mencoba menerka-nerka. “Ohh…itu…, itu membungkus melindungi buah yang ada didalamnya agar tidak dimakan oleh kelelawar pemakan buah”, jawab saya menerangkan. “Hmm…saya rasa bukan itu, terbungkus plastik menggantung seperti kondom”, sanggah Andre. Saya semakin mengenyritkan dahi. Seketika saya teringat metode stek pohon, hingga saya meralat keterangan sebelumnya kepada Andre, “Ooh ya…, itu adalah sebuah metode untuk mendapat tanaman baru, dengan cara mengelupas kulit luar tanaman induk kemudian dibungkus dengan tanah, didiamkan beberapa hari sampai tumbuh akar, sehingga terbentuklah tanaman baru. Metode itu disini disebut stek”, jawabku berteori layaknya pakar botani lulusan IPB. “No, no, no, no….., kamu tidak mendengarkan saya Bobby”, sanggahnya lagi, kali ini dengan gerakan jari telunjuk tangan kanannya persis seperti gerakan pembersih kaca depan mobil. “Nanti mungkin diperjalanan menuju pantai kita akan melihatnya. Kita jalan sekarang?”, ajaknya kemudian.

Kamipun melanjutkan perjalanan dengan posisi berkendara persis seperti di awal berangkat. Tak beberapa lama, lagi Andre mensejajarkan laju motornya dengan motor saya, kemudian dia berkata, “Indonesia is a Moeslim country right?”. Saya jawab,” mayoritas penduduknya, ya”. “Apakah kamu Muslim Bobby?”, tanyanya lagi. “Ya”, jawab saya. “Assalamualaikum”, sapanya sambil kemudian tersenyum. “Waalaikumsalam”, balas saya, ganti saya tersenyum.

Sepanjang perjalanan mereka disuguhi pemandangan yang mesti sangat jarang mereka lihat, sehingga terdengar celetukan Andre; “water buffalo!” alias kerbau, “paddy field!” alias sawah, “rice!” alias beras atau nasi, “coconut tree!” alias pohon kelapa, dan “banana tree!” alias pohon pisang lagi. Sementara saya sedikit-sedikit menanggapi celetukan Andre sambil tetap berpikir mencari jawaban tentang pohon dengan plastic menggantung seperti kondom. Hingga saya teringat sesuatu, “AHA!!”, lebih seperti seruan “Eureka!!”. Tidak salah lagi, saya rasa saya tahu “pohon kondom” yang Andre maksud . Hingga akhirnya pada sebuah rumah penduduk, di batang pohon yang dipasang didepan rumah, saya menoleh kepada Andre dan menyerunya, “Heiy Andre, yang kamu maksud pohon ini kan?!”, tanya saya sambil menunjuk kepada sebuah pohon yang digantungi banyak plastik es mambo yang diisi air warna-warni. “Ya, benar!!”, jawabnya semangat sambil mengacungkan ibu jarinya. Saya jelaskan kepada Andre bahwa itu semacam dekorasi pada saat perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 71 pada tanggal 17 Agustus bulan lalu. Di wilayah Banten, mungkin khususnya Banten Selatan, kebiasaan unik masyarakatnya meramaikan suasana perayaan kemerdekaan RI adalah dengan cara demikian. Puas rasanya hati saya, memecahkan misteri “pohon kondom”.
               
   

                                                       There's your "Condom Tree" Andre :)


Malingping, Banten selatan merupakan daerah pesisir pantai selatan. Memiliki garis pantai yang membentang panjang, dari arah ujung barat yakni dekat Ujung Kulon, sampai ke arah Bayah yang berbatasan dengan Sukabumi yang sudah masuk provinsi Jawa Barat. Sehingga sangatlah banyak pantai yang bisa bebas disinggahi. Beberapa pantai ada juga yang dikomersilkan, berbayar, salah satunya ya pantai Bagedur. Meskipun sebenarnya ada banyak “pintu masuk” ke pantai itu tanpa harus bayar, dari arah mana saja, bagi yang mengetahuinya tentu saja. Tidak ada pagar tembok tinggi atau pagar kawat berduri, hanya saja memang terdapat “pagar alam” berupa semak belukar pandan, gundukan pasir pantai yang meninggi secara alami, pepohonan alami maupun kebun ataupun perkampungan penduduk. 

Ketika melihat ada petugas jaga di gerbang pintu masuk (terkadang tidak ada petugas jaga), saya mengajak Andre dan Maria memutar balikkan motor untuk memasuki pantai Bagedur tidak melalui gerbang pintu masuk yang terdapat loket bayar, saya pikir selain pantai seharusnya tidak dimiliki perseorangan maupun institusi, saya juga kurang ikhlas jika harus membayar retribusi tanpa jelas kompensasi yang diterima pengunjung, ya paling tidak kompensasinya kebersihan pantai terjaga. #Padahal saya ngeles, pengen gratisan aja :D.
Tapi Andre setuju juga dengan pendapat saya, “why we must pay for public beach?”, gitu pendapatnya. Boleh jadi dia sudah muak oleh sistem kapitalisme ala barat yang apa-apa musti bayar, apa saja bisa menjadi komoditas.
“Oke Andre and Maria, don’t worry… I know another way to the beach. Follow me!”, saya ajak mereka menerabas masuk lewat sisi perkebunan.
Hingga sampailah juga ke pantai Bagedur dari sisi yang lebih alami, tidak ada warung-warung semi permanen dan tidak pengunjung lain, seolah-olah pantai milik kami bertiga.     

(bersambung-)           

Selasa, 27 September 2016

PASANGAN MARUSHKA. Bagian 1



Sabtu itu pagi menjelang siang sekitar pukul setengah sebelas di sebuah kota kecil nun jauh di Banten selatan, berbeda dari hari-hari biasanya. Saat mengantar istri ke rumah makan milik keluarganya, saya melihat sepasang “bule” bercakap-cakap dengan seseorang di seberang jalan. “Heiy…, tumben ada bule di Malingping”, dalam hati saya. Kemudian mereka berjalan menuju arah saya. Saat itu juga saya berharap mereka menghampiri, sudah lama saya ingin bercakap-cakap dengan bule sekedar melatih kemampuan bahasa Inggris saya. Tak disangka, ternyata memang rumah makan keluarga saya yang mereka tuju.
Saya menyapa mereka, “hello, can I help you?”. Awalnya mereka seperti mengacuhkan saya, lebih seperti waspada. Kemudian yang laki-laki menoleh kepada saya kemudian berkata, “oh, you can speak English”. ku jawab, “yes, a little. “We like to have a breakfast, something vegetable, no meat, like vegetarian”, sambung yang perempuan. “Ow, please come in”, balas saya. Karena rumah makan keluarga istri saya adalah rumah makan masakan Padang, tentu saja sebagian besar menunya adalah daging. Menu non daging yang kebetulan tersedia siang itu adalah tahu dan terong balado, saya pikir masa iya hanya makan tahu dan terong. Kemudian saya melihat kembali pada etalase makanan tersedia pula telur goreng dan ikan asam padeh, “would you like fish?”, tanyaku. “No”, jawab yang perempuan. “What about egg?, fried egg”, tanya saya lagi. “Egg is ok”, jawab yang perempuan. Kemudian dia menunjuk pada piring saji berisi tahu goreng, lanjut bertanya, “is that tofu or tempeh?”, “tofu”, jawabku. “great!, I want that”, katanya.
Saya persilahkan mereka memilih tempat duduk, setelah mereka duduk saya pun duduk semeja dengan mereka dan mengajak bercakap-cakap sebentar.
Selanjutnya dalam cerita saya ini dialog saya dengan mereka akan saya tulis dalam terjemahan bahasa Indonesia, well…sedikit campur-campur bahasa Inggris lah ya, biar sama-sama belajar kita J.
“Kalian dari negara mana, dan hendak kemana?”, tanyaku. “Kami dari Slovakia”, jawab yang laki-laki. “Slovakia?”, tanyaku mengulang. “Ya, Eropa bagian tengah”, ditengah-tengah antara Polandia, Austria, Ceko, Hunggaria dan Ukraina. Ke sini berkendara menggunakan skuter”. “Skuter?!, tanyaku setengah tidak percaya. “Ya, skuter. Kami sewa di Jakarta untuk kami gunakan selama 1 bulan. Kami hendak ke Sawarna. Apakah masih jauh?, berapa lama perjalanan lagi”, katanya menyambung. “Sudah tidak terlalu jauh, kira-kira 2 jam lagi perjalanan berkendara”, jawabku. “Oya, nama saya Bobby, nama kalian siapa?”, Tanya saya sambil mengulurkan tangan bersalaman. Yang laki-laki bernama Andre, yang perempuan bernama Maria. Kemudian Andre bercerita bahwa kemarin malam mereka bermalam di Anyer, disebuah hotel yang menurut gambaran mereka lebih seperti bedeng tapi mereka harus membayar seharga apabila di negara mereka lebih mahal dari hotel berbintang tiga. Tidak terlalu kaget sebenarnya mendengar cerita mereka soal Anyer, saya sampaikan kepada Andre, jangankan kepada kalian turis asing, kepada turis lokal pun ada beberapa kejadian harus membayar diluar logika jika berwisata kesana, meski tidak semua pengelola wisata di Anyer berkelakuan seperti itu tentunya.
Maria pun turut buka suara bertanya, “apakah maksud jika bersalaman jari telunjuk lawan bersalaman digerak-gerakkan pada telapak tangan saya?, sambil ia peragakan salam telunjuk digoyang. Apakah itu sesuatu yang baik atau tidak?”. “That’s a flirt!, itu menggoda!, dan itu tidak baik”, terangku. “Saya sudah menduganya”, katanya. “Bagaimana cara menolaknya?”, katanya lagi. “Tarik saja tanganmu”, jawab saya.
Pikir saya, “pantas saja pertama disapa seperti waspada begitu, ternyata mereka baru dapat pengalaman kurang baik”.
Ketika diantarkan segelas besar air teh tawar hangat, Andre bertanya, apakah ini teh?, saya mengiyakan. Ketika diantar wadah almunium berisi air bening, Andre bertanya kembali, ini air apa?, saya jawab sambil tersenyum, “for washing your hand” alias kobokan. Setengah tertawa Andre menjawab, “Of course”. 
Andre kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil atau notes dan pena, lanjut bertanya, “apakah arti HATI-HATI?”. Saya pikir saat dalam perjalanan seseorang mengancam mereka, saya pun bertanya, “apakah kalian diancam?”. “Tidak”, kata Andre, hanya saja dalam perjalanan dia sering melihat rambu bertuliskan HATI-HATI. Saya tertawa, “ooo…saya pikir kalian diancam. HATI-HATI means BE CAREFULL in English”, saya menjelaskan. “Saat kapan penggunaan kata HATI-HATI digunakan?”, ganti Maria bertanya. “Mmm…misalnya saja kawan kamu akan bepergian ke suatu tempat, atau siapapun orang yang kamu kenal akan melakukan sesuatu yang sekiranya sedikit berbahaya, saat itulah kamu mengatakan HATI-HATI kepadanya”, demikian saya mencotohkan. “Ahh… I see”, kata Maria, sepertinya dia menangkap maksudnya.
Kemudian Andre lanjut bertanya, apakah benar jika menyapa seseorang laki-laki dengan panggilan “Mas”?. Meskipun sebenarnya itu bahasa Jawa tapi saya pikir sudah “mengindonesia”, saya mengiyakan. Kemudian dia bertanya kembali, “jika kepada perempuan apa?”. Saya jawab, “Mba”. Dia mengulangi perkataan saya sambil menulis, “BA”. “Tidak, tidak, kurang M”, koreksi saya. Andre pun menambahkan huruf M. “Bagaimana kepada orang yang lebih tua?”, tanyanya lagi. Aku jawab, “tentu saja beda”. “PAK”, untuk laki-laki dan “IBU”, untuk perempuan. Andre menulis kalimat bahasa Indonesia yang dia tanyakan itu pada notesnya.
Semua hidangan sudah tersedia, nasi, tahu, telur goreng dan terong balado, serta masing-masing segelas teh tawar. “Oya, silahkan kalian nikmati dulu makanannya”, kata saya. Saya pun meninggalkan mereka ke meja dibelakang mereka.

                                                             nyam-nyam...delicioso!! :)

Sekitar lima belas menit kemudian saya hampiri lagi mereka, tampak seluruh makanan dan minuman ludes, kecuali tentu saja air kobokan. Saya membuka sapaan, “jadi kemana rencana kalian setelah ini?”. Tujuan utama mereka sebenarnya menuju Sawarna yang terletak di Bayah, namun mereka bertanya apa yang menarik di Malingping, saya jawab bahwa kita berada di pesisir selatan Banten, dan disini terdapat banyak pantai alami. Mereka pun sangat tertarik melihatnya, “Kami tidak masalah menambah hari kunjungan kami disini”, kata Andre. Kemudian dia bertanya pantai apa yang menarik disini. “Saya akan mengajak kalian ke pantai Bagedur dan pantai Pasir Putih”, jawab saya. Andre bertanya untuk menegaskan sambil membuka notesnya, rupanya dia bermaksud menulis nama pantai yang barusan saya sebut pada notesnya. “BAGEDUR”, kataku. “What?”, tanyanya. Aku yakin nama pantai itu janggal ditelinganya.Aku membantu mengejakan huruf yang harus ditulisnya; “bi-ei-ji-i-di-yu-ar, BA-GE-DUR!”. Dia coba mengucapkannya, “bageidjyur”. “That’s right”, kataku membenarkan. Satu lagi, pantai Pasir Putih. “What?!”, tanyanya lagi. Saya pikir dari pada repot saya sampaikan saja bahasa Inggrisnya; “is White Sandy Beach”, simple karena memang pantai itu berpasir putih. Saya menawarkan diri menemani mereka ke pantai-pantai yang tadi disebut, mereka tampak senang.  
Mereka bercerita bahwa sebelum ke Indonesia mereka sudah terlebih dahulu berkelana selama 6 bulan di India, sampai dataran tinggi Himalaya. Andre mengeluarkan telepon genggamnya dan menunjukkan beberapa foto-foto menarik dokumentasi petualangan mereka di India, Nepal sampai dengan pegunungan Himalaya. “Ini salah satu foto favorit saya”, sela Maria menunjukan sebuah foto. Foto sekumpulan anak kecil  perempuan seusia kira-kira 7 tahunan, seperti dalam sebuah kelas, mereka semua mengenakan seragam, atasannya mengenakan topi kecuali ada seorang anak perempuan ditengah-tengah, seorang diri mengenakan hijab. Menurut Maria, itu adalah sekolah Budha di sebuah desa di Nepal. Kemudian Andre membuka sebuah situs internet yang mereka kelola ; www.marushka.sk, yang isi materi situsnya diantaranya foto-foto dan cerita petualangan mereka. Menarik. Saat bertualang di India sampai pegunungan Himalaya pun mereka mengendarai motor.

                                             Halaman web yang mereka kelola. Good site guys

Saya kemudian berkata kepada mereka, “saya pikir kalian turis yang menggunakan mobil pariwisata”. Ternyata mereka bukan tipe “turis” seperti itu. Setelah mereka membayar makanan, mereka pamit kembali ke hotel untuk mengambil skuter mereka, sebagaimana yang Andre sampaikan, naik skuter.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke rumah makan, ternyata dengan dua motor masing-masing berkendara sendiri, tidak satu motor, mereka masing-masing mengenakan helm. Dugaan saya mereka berboncengan, meleset. Namun demikian, saat Andre sampaikan bahwa mereka menaiki skuter, saya membayangkan mereka menaiki motor Vespa klasik yang tidak jarang saya melihat dipinggir jalan raya pengendaranya mengutak-ngutik vespanya karena mogok, ternyata yang mereka kendarai adalah motor matic, dugaan meleset lagi.
Tapi tetap saja, bagi saya mereka cukup gokil alias gila, dalam makna yang keren tentunya. Bagaimana tidak, saya berpikir panjang jika harus melakukan perjalanan jarak super jauh mengendarai motor, hanya berdua dengan pasangan, ke kampung orang pula. Nah mereka ini, sudah melakukan perjalanan jarak super jauh, berdua dengan pasangan, ke negara orang pula!.

Saat mereka sudah siap dengan motornya masing-masing saya baru terpikir pasti akan seharian menemani mereka, saya mesti makan siang dulu. Giliran saya minta mereka tunggu sebentar saya mengisi perut dulu, Andre menjawab, “its ok, take your time Bobby”. Ternyata mereka pun hendak mengisi bahan bakar motor mereka terlebih dahulu, “Dimana saya bisa menemukan Pertamina disini?”, tanya Andre. Saya paham, tentulah maksudnya adalah stasiun pengisian bahan bakar atau pom bensin, “kamu ikuti saja jalan utama ini, kira-kira 2 km dari sini, pom bensinnya sebelah kanan jalan. Kamu akan lihat papan besar bertuliskan Pertamina”, terang saya.
Tepat saya menyelesaikan makan siang saya dan telah bersiap, mereka pun tiba. “Are you ready to go Bobby?”, kata Andre sambil tersenyum.    

(bersambung -)

Sabtu, 12 Desember 2015

FILOSOFI NGOPI SEPERTI MENJALANI KEHIDUPAN



"NGOPI" atau minum kopi adalah ketika kamu membuat kopi, kamu meracik sendiri akan seperti apa rasa kopi yang menurut kamu terenak dan ternikmat, dengan komposisi yang kamu perkirakan sendiri apakah lebih banyak atau lebih sedikit kopinyakah, gulanyakah, krimnyakah, susunyakah, coklatnyakah, kemudian volume airnya bahkan ukuran dan bentuk gelas atau cangkirnya, semua itu akan berpengaruh kepada citarasa yang menurutmu sendiri adalah kopi enak dan nikmat.
Untuk mencapai citarasa yang benar-benar sesuai, kamu harus mencoba berkali-kali sampai entah berapa gelas racikan kopi yang gagal memenuhi citarasa yang kamu inginkan. Tapi atas semua kegagalan itu kamu tidak akan berhenti, terus dan terus meracik kopi terbaikmu.
 
Adakalanya kamu menikmati kopi yang tersedia pada warung-warung kopi tradisional ataupun modern ala kafe, tapi tetap saja jenis dan citarasa kopinya kamulah yang pilih dan tentukan sendiri.
Adakalanya pula kamu memilih kopi cepat saji atau instan yang sudah terkemas dari pabrikan, kamulah yang memilih rasa kopi yang kamu inginkan. Meskipun sering kali kamu hanya bisa terima apa adanya rasa racikan kopi dari pabrikan, karena kamu tidak mampu meracik kopi kamu sendiri, atau kamu tidak punya pilihan lain, atau bahkan kamu tidak tahu bahwa sebenarnya ada kopi yang lebih nikmat yang sebenarnya lebih sesuai dan memenuhi citarasa dan seleramu, namun kamu …pasrah.


Demikian pula kehidupanmu, kamu harus meracik sendiri, ketika gagal kamu coba lagi berkali-kali sampai menurutmu mencapai kehidupan yang “enak dan nikmat”. Atau kamu harus memilih kehidupan “yang tersedia”, atau kamu terima apa adanya kehidupan bagaimanapun yang terjalani…pasrah.


Begitulah…, filosofi "ngopi", seperti menjalani kehidupan ini.



B. Revolta
12 Desember 2015       

Jumat, 07 Agustus 2015

Pantai Bagedur Pada Suatu Hari



Seharian kemarin aku di pantai saja dengan maksud menenangkan pikiran. Bagedur nama pantai itu, terletak di pesisir Banten Selatan. Aku bagai menyaksikan  lukisan alam yang begitu dashyat indahnya. Pantai dengan hamparan pasir putih kecoklatan yang membentang luas mengeluarkan kilau bagaikan memantulkan serbuk berlian, langit yang biru tanpa batas dengan sedikit guratan putih awan, gulungan ombak laksana saling berlomba menuju pantai dan alunan debur ombak bagaikan musik latar yang tiada habisnya.
Aku pandangi arah lautan lepas sampai sejauh mana mataku mampu melihat, yang nampak dimataku adalah sebuah garis horizontal imaginer. Benakku bertanya, “ada apa dibalik garis garis lautan itu?, apakah ada kapal besar atau perahu nelayan yang kecil?”, “apakah nun jauh disana letak pulau Chrismast yang sudah masuk teritori Australia?”, “akan adakah ikan paus atau lumba-lumba yang tiba-tiba menyembul keluar?”.
Kemudian,…di dipan bambu saung itu aku rebahkan saja tubuhku sambil ku pandangi lautan sekalian langit birunya.” Ya ampun”,…kataku membatin, melihat lautan luas sekalian langit birunya dengan posisi rebah memberi sensasi yang berbeda dibanding dengan posisi kepala tegak. Seolah-olah pantai ini tidak hanya menjamah dalam bentuk keindahan visual yang diterima bola mata kemudian dicerna otak dalam bentuk keindahan logika semata, namun ketika memandang lautan lepas sambil merebahkan tubuh pantai ini bagaikan menjadi hidup, kemudian menyapa hati dan nurani. Bagaikan hanya ada aku yang sangat kecil seorang diri direngkuh oleh “Sesuatu” yang maha hebat dan megah, namun “Dia” begitu ramah dan begitu mistis. Aku tersenyum bahagia bagaikan baru pertama kali merasa hidup, hatiku bebas.     

Aku jadi teringat sahabatku, sahabat baikku yang sudah aku anggap abangku sendiri, namanya Lutvy. Aku berkata sendiri, “harusnya sekarang lo ada disini man”. Lutvy suatu hari mengatakan padaku dia menyaksikan indahnya pantai Bagedur ini  di sebuah siaran televisi, dia langsung jatuh cinta kepada pantai ini. Kemudian dia berkata kepadaku, “ajak gue kesana bro”.
Aku kemudian berpikir, kenapa tidak saat ini saja ku ajak Lutvy disini bersamaku di pantai ini menikmati suasana. Jangankan di pinggir pantai, kami jika sudah bersama bahkan di tepi sawah berlumpur pun bias menjadi tempat yang sangat menyenangkan dan ceria.

Sesaat kemudian Lutvy sudah duduk di dipan belakangku dengan posisi duduk, kedua kakinya dilipat ke dadanya, kedua tangannya posisi mengikat betis. Aku menyapanya, “my maann”. Tak lama kemudian kami bersulang whiski mansion, bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Kami terhanyut dalam derai tawa mentertawakan kisah-kisah konyol masa lalu yang telah kami lalui bersama, ada juga kisah-kisah yang kami banggakan. Kemudian Lutvy bangkit dari duduknya, dia berlari ke arah pantai sambil berteriak riang mengangkat kedua tangannya, menerjang ombak menceburkan diri ke laut dengan masih mengenakan pakaian dan sepatu lengkap. Aku tertawa melihat tingkahnya, “dasar gokil !”, kataku. Lutvy keluar dari air tertawa menyeringai, senang sekali dia nampaknya. Kemudian dia berjalan ke arahku, aku sudah hafal gelagatnya dia pasti berniat mengerjaiku menarik aku ke laut berbasahan. Aku bersiap lari.

Tapi Lutvy perlahan pudar dari pandanganku, kemudian aku tersadar dia sudah tiada. Dia telah dipanggil ke haribaan Tuhan 2 tahun yang lalu. Terpikir olehku jika ada kesempatan aku berziarah ke makamnya aku akan mengambil sedikit tanah kuburnya dan kemudian aku lempar ke pantai ini atau fotonya akan aku lemparkan ke laut pantai ini agar keinginannya melihat pantai Bagedur akhirnya kesampaian meski hanya diwakilkan tanah kuburnya atau fotonya.

Aku kembali ke dipan itu, rebahkan tubuh lagi. Suasana menjadi hening kembali yang terdengar hanya deburan ombak. Ku tarik panjang nafasku, kembali bersatu dengan alam pantai itu. Sampai aku terhenyak ketika seorang bapak tua memanggil-manggil aku tapi bukan dengan namaku.


Pantai Bagedur, Bansel, 7 Juli 2015.