Rabu, 28 Maret 2018

G U N A D I


Saat masih remaja berusia dua puluhan saya pernah punya seorang sahabat, namanya Gunadi, teman-temannya memanggilnya "Gun". Ayahnya seorang pensiunan tentara Angkatan Darat angkatan 60an, veteran operasi Trikora berpangkat Kopral Kepala. Di usianya yang saat itu sudah 64 ia terlihat begitu renta. Dia tidak dapat lagi sepenuhnya memantau pergaulan Gun anaknya, tubuhnya sudah ringkih karena sakit lever yang dideritanya. Sedangkan ibu Gun adalah tipe ibu yang lemah lembut dan cenderung tidak dapat memberikan larangan kepada anak-anaknya. Gun anak ke enam dari tujuh bersaudara, namun si adik bungsu meninggal dunia saat berusia 3 tahun, akibat wabah campak. Itu membuat Gun otomatis menjadi anak bungsu. Sebagai anak bungsu Gun cenderung dimanja oleh kedua orang tuanya, segala kemauan dan keinginannya dituruti saja. Termasuk saat ulang tahunnya yang ke 19 dia memaksa orang tuanya membelikan motor baru. Tentu saja hal tersebut memberatkan kedua orangtuanya, tapi toh dituruti juga kemauan si Gun meski ayahnya hanya mampu membelikannya motor bekas, tapi sangat layak pakai. Ada seorang tetangga yang menggadaikan motor Honda supranya buat menambah ongkos pulang kampung. “Ah, paling lama sebulan aja motornya”, kata seorang teman mengomentari motor baru tapi bekas Gun. Sambil mendengus Gun membalas berkata; “ngehe lo”, disambung kemudian tertawa berderai. Imej Gun yang paling saya hapal adalah kebiasaannya menggaruk-garuk sepanjang lengan dan rambut gondrongnya yang lepek pertanda sudah kurang lebih seminggu tidak keramas. Tapi itu tidak mengurangi daya tarik Gun dimata perempuan, memang ia pada dasarnya berwajah tampan.

Karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, selepas SMA Gun tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, hanya saja ia mengambil kursus komputer selama setahun. Gun sendiri tidak pernah menyesali keadaan itu, malahan dia seperti senang karena pikirnya dia bisa terbebas dari buku-buku pelajaran sekolah. Selama dibangku SMA saja dibandingkan bersekolah dia lebih gemar membolos, bermain bilyard disebuah persewaan bilyard di pasar belakang komplek rumah. Biasanya dia bermain dengan bertaruh uang. Ibunya hanya mengelus dada saja ketika lagi-lagi surat panggilan dari pihak sekolah diterimanya, yang bertanda dari guru Bimbingan Penyuluhan atau disingkat guru BP. Sehari setelah pemanggilan pihak sekolah keesokan harinya Ayahnya dengan berjalan tertatih-tatih mencoba melabrak Gun di tempat bilyard biasa Gun menghabiskan waktunya membolos sekolah. “Ada Gun kesini?”, katanya kepada pemuda-pemuda yang sedang bermain bilyard. “Ga ada pak, sekolah”, sahut mereka kompak. Yang ditanya sebenarnya sekitar 3 menit yang lalu sedang membidik bola nomor enam. Ketika seseorang berteriak; “GUN.., BOKAP LO!”, Gun langsung terbirit-birit melarikan diri lewat pintu belakang, kemudian bersembunyi di los daging pasar itu.

Gun dan saya sebenarnya satu komplek perumahan. Sejak kelas 3 Sekolah Dasar saya dan keluarga pindah ke komplek ini, sebelumnya saya dan keluarga tinggal di Antapani, Bandung. Sedangkan Gun dan keluarga sudah lebih dulu setahun tinggal disini. Keluarganya pindahan dari Lombok, NTB. Artinya saya mengenalnya sudah cukup lama, hanya saja sebatas teman kenal satu komplek. Dia lebih tua satu tahun dari saya. Sewaktu SD, saya kelas 3 dia kelas 4. Namun tidak disangka beberapa tahun kemudian kami menjadi sahabat akrab. Awal mula keakraban persahabatan kami dimulai saat saya menjadi peserta festival band di sebuah Universitas swasta di kota kami bersama 3 teman saya lainnya. Jumlah peserta festival band itu sekitar 67 band. Selain band ada juga kompetisi lainnya yang diselenggarakan, yakni cheerleader. Pada saat babak penyisihan saya dan band membawakan lagu “Creeping Death dari  Metallica”, saya menabuh drum. Setelah seluruh band membawakan satu lagu pada babak penyisihan, petang harinya sekitar pukul 3 panitia festival mengumumkan band-band yang berhasil masuk final, terpilih sebanyak 10 band. Ternyata band saya termasuk diantara finalis. Saya dan seluruh teman-teman band melompat gembira mendengar pengumuman panitia itu. Tiba-tiba seorang laki-laki berambut gondrong berwarna kecoklatan menghampiri rombongan saya; “Selamat ya bro”, katanya sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman kepada saya dan ketiga personil band saya. “Heiy…,Gun!”, kata saya sambil melongo keheranan. “Ada di sini lo. Dari kapan?”, tanya saya kepadanya. “Dari jam satuan. Gue liat lo maen. Keren bro”, jawabnya.

Tidak lama setelah jeda istirahat, pukul 4 petang kembali panitia festival menaiki panggung, nampaknya akan mengumumkan sesuatu.  Selamat sore semuanya!!, masih semangat kan?!!. Ada kompetisi yang asik nih sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu…: CHEERLEADER!!”, demikian mc menyapa diatas panggung. Semua yang mendengar pengumuman mc itu menjadi berwajah lebih ceria dan suasana menjadi gegap gempita. “Cheerleader bro!”, kata Gun kepada saya sambil menampakan raut muka berbinar bermakna mengajak. “Yu”, balas saya yang bermakna mengiyakan ajakan. Kompetisi cheerleader digelar di depan panggung utama, posisinya tentu saja lebih rendah dari panggung. Untuk menyaksikannya penonton membentuk lingkaran, ditengah-tengahlah para gadis cheerleader berwajah manis kinyis-kinyis nan ceria menunjukan atraksi kebolehan gerakan atau tariannya, terdengar teriakan khas cheerleader. Dari posisi terbelakangi beberapa penonton lain saya hanya bisa melihat aksi cheerleader saat mereka melakukan gerakan kombinasi bertingkat atau “piramida”, lazimnya 3 tingkat. Karena posisi saya yang dibelakang penonton lain, saya hanya bisa melihat cheerleader yang berada di tingkat kedua dan ketiga piramida, itupun harus berjinjit sesekali. “Ke depan yu bro, ga kliatan disini”, kata Gun. Belum sempat saya jawab dia sudah menghilang dari dekat saya, melesat kedepan. 

Pukul 11 malam festival band itu berakhir, band saya tidak beruntung menjuarai festival. Tapi  lumayanlah, jadi finalis 10 besar. Gun masih bertahan hingga acara selesai, ingin jadi supporter band saya katanya. “Thanks man”, kata saya kepadanya. Di dalam angkutan umum menuju pulang, dia bercerita kepada saya bahwa dia sebenarnya suka ngeband juga, dia seorang vokalis. Dan dari obrolan kami ternyata saya dan Gun sama-sama penggemar berat The Doors. Hanya saja dia bilang hingga detik ini belum menemukan partner ngeband yang menggemari dan memainkan musik The doors, mungkin karena The Doors termasuk band old school. Sejak malam itu kami menjadi akrab, Tuhan menyatukan kami dalam The Doors.

The Doors, 1967
The Doors adalah band asal Los Angeles, Amerika Serikat yang aktiv dipertengahan tahun 60an. Saat itu Amerika sedang terlibat dalam perang Vietnam sebagai bagian dari panggung era perang dingin. Di Amerika sendiri menggeliat semacam gerakan anak muda pecinta damai yang melakukan aksi protes menolak kebijakan perang pemerintah Amerika, generasi ini disebut “Generasi Bunga” atau “Flower Generation”. The Doors menjadi salah satu band yang mewakili suara anak-anak muda generasi bunga. The Doors beranggotakan Jim Morrison pengisi vocal, Ray Manzarek pengisi organ, Robby Krieger pengisi gitar dan John Densmore pengisi drum. Gun sangat terobsesi kepada Jim Morrison, dan sejak perjalanan pulang bareng malam itu dia mengajak saya membentuk band yang membawakan lagu-lagu The Doors, atau jika membawakan lagu sendiri maka The Doors menjadi pengaruh utama musikalitasnya. Karena bagi saya ajakan ini seperti gayung bersambut maka saya menyetujuinya. Saya bisa juga bermain gitar, maka saya memutuskan pada band saya bersama Gun ini mengisi posisi gitar. Gun sendiri tentu saja sebagai vokalis.

Singkat cerita, akhirnya band saya dengan Gun terbentuk utuh. Namun sedikit berbeda dengan The Doors, kami menambahkan satu personil lagi yaitu posisi bass gitar. Ray Manzarek memang seorang dewa, tidak ada yang menyamakan kepiawaiannya bermain organ yang berfungsi pula sebagai harmonisasi bass. Maka jumlah personil kami berlima. Tiga personil lainnya adalah kawan-kawan kami. Pada posisi bass dan drum teman band saya, sedangkan posisi organ merupakan teman dari Gun. Skill permainan organ teman kami levelnya belum setingkat dewa seperti Ray Manzarek. Kami menamakan band ini PATIENT yang artinya “sabar”, saya yang mengusulkan nama itu. Ide nama Patient didapat dari Al Quran, yang didalamnya terdapat firman Allah yang mengatakan; “jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Juga begitu banyak kalam dalam Al Quran yang mengingatkan manusia untuk lebih banyak bersabar. Gun dan teman-teman lainnya setuju, “bermakna spiritual”, kata Gun. Entah bagaimana menjelaskan secara logika pemikiran ini, namun Gun merasa roh Jim Morrison menitis ke dalam jiwanya. Saya sendiri sedapat mungkin memahami dengan sebaik-baiknya cara Robby Krieger memainkan gitarnya pada setiap lagu-lagu The Doors sehingga setiap lagu dan penampilan mereka berjiwa. Memang secara musikalitas The Doors, alunan nada organ seorang Ray Manzareklah yang paling dominan, namun jika diibaratkan tim sepakbola maka Jim dan Robbie saat berada diatas panggung keduanya bagaikan dua ujung tombak tim, dalam hal ini Jim Morrison strikernya.

Suatu malam Gun berkunjung ke rumah saya, “bikin lagu nyok”, ajaknya. “Ayo, tapi kita cari mansion dulu biar aura psikedeliknya dapet”, balas saya. “Wah mantap!”, sahut Gun. Mansion adalah minuman beralkohol jenis whiski, kadar alkoholnya 43%, lumayan cepat membuat mabuk. Dari otak saya dan Gun dibawah pengaruh mansion terciptalah sebuah lagu yang kami beri judul “Budak Kenyataan”. Liriknya seperti dibawah ini :

Aku milik siapa, kamu milik siapa
Aku cinta siapa, kamu cinta siapa
Saling mengagumi dan saling merindukan
Kita menjalani kisah yang tertutupi
Malammalam sunyi menjadi saksi
Tanpa bersuara pun kita berjumpa
Langit gelap jadi medan petualangan
Kosong disisi menjadi niat
Niat kesempatan maka terjadilah

(bridge)
Semua menyesakku semua pojokkanku
Tak mampu ku lawan harus ku alami
Budak kenyataan adanya diriku
Nikmati saja, nikmati saja
Nikmati saja, nikmati saja

(reff)
Mati saja! Mati saja!, Nikmati saja!
Mati saja!, Nikmati saja!
Mati saja!,
Nikmati  saja!,...sampai mati!!  

Mimpi-mimpi mahal yang tak mampu dibayar

Usaha panjang yang tlah terjalani semakin hilang dari harapan
Aku sudah lelah bahkan kadang muak
Semua ini tidak seperti kehendak
Aku sangat benci keadaan ini
Hingga pada saat harus memutuskan
Idealisme diri harus mengalah
Aku hanya ini menjadi berarti   

(kembali ke bridge kemudian reff)

Saat azan subuh berkumandang, Gun beranjak pulang ke rumahnya. Langkahnya terlihat sedikit gontai. Sampai di muka rumahnya dia melihat pagar masih tergembok. Tanpa pikir panjang dia lompati saja pagar rumahnya. Kemudian terdengar seseorang membuka kunci pintu rumah, ayah Gun. “Dari mana kamu?”, tanya ayah Gun. “Dari rumah david”, jawab Gun. “Sampai seminggu?”, tanya ayahnya lagi. Gun mengabaikan pertanyaan terakhir ayahnya kemudian langsung menuju kamarnya, melanjutkan tidur lagi. Dia juga merasa kepalanya masih berat.

Jam sudah menunjukan 4.30 petang, Gun baru saja terbangun. Namun rohnya belum sepenuhnya menyatu dengan tubuhnya. Terduduk saja ia disisi kasur pegasnya meski mata masih memejam, berat untuk membuka. Tangannya meraba meja disamping kasur, dia mencari batang rokok Marlboro merah siapa tahu ada tercecer disana. Dapat satu. Ganti merogoh saku celana jinsnya, mencari korek api kayu dalam kemasan kotak kardus kecil. Ia bakar rokoknya, dia hisap kemudian dia hembuskan asapnya. Perlahan dia membuka matanya hingga akhirnya sepenuhnya membuka. Ia beranjak kepada tape pemutar kasetnya dan menekan tombol “play”. Terdengar Jim Morrison menyerukan “Break On Trough To The Other Side”. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media Jim mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak sedang bernyanyi, dia lebih merasa sedang berseru. 

Kemudian Gun seperti teringat sesuatu, “oh iya,..mana tuh barang”. Lagi dia merogoh saku celana jinsnya, di sebelah dia menemukan korek apinya, “ga ada”, gumamnya dalam hati. Dia merogoh saku sebelah lagi, “nah ni dia”. Sebuah insulin, jarum suntik, dan lipatan kecil kertas foil bungkus dalam rokok. Didalam kertas foil itu terdapat bubuk putih kira-kira ukuran satu gram. Kemudian dia pergi ke dapur mencari sendok makan. Masuk kembali kedalam kamarnya, tidak lupa dia kunci. Berlanjut dia menyalakan lilin, seolah dia hendak melakukan sebuah ritual. Serbuk tadi dia bubuhkan pada sendok makan, kemudian diberi air sesuai takaran sendoknya. Sendok yang telah dibubuhkan bubuk dan diberi air tadi dia letakkan tepat diatas api yang menyala pada lilin, laksana merebus telur atau mie hanya saja pancinya dari sendok makan dan yang direbus adalah bubuk tadi. Tidak sampai satu menit air dalam sendok itu menggolak kecil sama seperti tanda air yang telah masak sempurna karena direbus. Lanjut dia buka kemasan insulin, kemudian dia masukkan perlahan cairan rebusan bubuk tadi ke dalam insulin dengan cara disedot melalui jarum suntiknya. Sampai tandas habis tak ada cairan yang tersisa pada di sendok. Ritual selanjutnya dia buka sabuk celana jinsnya kemudian dia ikatkan pada lengan kirinya diatas siku, ia ikat kuat-kuat. Kemudian dia buka-tutup kepalan tangan lengan kirinya itu dengan interval yang konstan sesekali dengan kombinasi seperti melakukan gerakan mengangkat barbel kecil pada gym sebanyak 3 kali angkatan, dia buka-tutup lagi kepalan tangannya, begitu seterusnya sampai beberapa urat lengan kirinya itu tampak jelas. Setelah itu dia ambil insulin yang telah siap tadi yang telah berisi cairan bercampur bubuk, bagaikan mantri suntik atau dokter handal dia menginjeksi lengannya sendiri tepat pada urat yang tampak menonjol. Dia tekan insulinnya hingga setengah cairan dalam insulin itu masuk ke dalam uratnya kemudian dia tarik sedot kembali insulinnya sehingga cairan tadi yang telah masuk kedalam uratnya kembali masuk ke dalam insulin, namun kali ini bercampur dengan darahnya. Kembali dia tekan insulinnya dengan perlahan hingga seluruh cairan yang telah berwarna kemerahan itu kembali masuk kedalam uratnya langsung cepat menyebar keseluruh tubuh. “Ahhhh…..”, Gun melenguh. Kelopak matanya terpejam, kali ini bukan karena kantuk namun seolah mencapai klimaks ejakulasi. Pupil bola matanya mengarah ke atas. Dia buka perlahan sabuk yang terikat pada lengannya, ketika mengendur hingga terlepas, kembali Gun melenguh; “Aaahh….”. Gun pun menggeletak kembali pada kasur pegasnya. Adegan selanjutnya dia berlarian diantara awan-awan dan pelangi yang berwarna-warni, namun bukan lari yang melelahkan melainkan berlari pada ruang hampa nol gravitasi. Terus dia melayang tinggi hingga ruang angkasa yang bertabur bintang, planet dan galaksi. 

Sementara itu lantunan musik The Doors dan seruan Jim Morrison dari speaker tape seakan turut membuai Gun yang semakin melayang tinggi hingga berada di lorong lubang hitam. “You know the day destroy the night, Night divides the day, Tried to run, Tried to hideBreak on trough to the other side!, Break on to trough to the other side, yeah!, We chased our pleasures here, Dug our treasurer there, But can you still recal, The time we cried, Break on trough to the other side, Break on trough to the other side!!
https://youtu.be/rOpQjD-rX0g


# b e r s a m b u n g #


Jumat, 16 Februari 2018

SENDIRI (Sebuah Lagu Untuk Sahabat)




Saya pernah memiliki sahabat karib. Dia bukan hanya seorang teman, saya memandangnya seperti saudara sendiri dan mentor saya. Dahulu disaat usia saya berada diusia mulai senang keluar rumah, masa pencarian jati-diri, dialah yang "mengajarkan" saya kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa sesuatu didapat tidak dengan mudah, butuh usaha dan perjuangan. Bahwa tidak semua apa yang kita inginkan dapat kita miliki. Dia berasal dari keluarga biasa, sedang saya dari keluarga yang kebetulan lebih beruntung secara ekonomi. Saya banyak belajar tentang kenyataan hidup darinya, belajar di jalanan.
Namun demikian pada masa itu, sebagai anak muda kami tidak lupa bersenang-senang, terkadang melewati batas. Kami membentuk sebuah band beraliran GRUNGE. Band kami bernama "Patient".

Suatu kesempatan saya mengajaknya mendaki gunung bersama teman-teman lainnya, Gunung Gede - Pangrango, daerah puncak, Jawa Barat. Saat diperjalanan menuju gunung, didalam bus kota dia berkata kepada saya bahwa sebenarnya dia kurang sehat, sedang flu berat dan gigi gerahamnya sedang bengkak. "Tapi demi lo semua nih, gw tetep berangkat", begitu katanya.
Kesempatan lainnya, saya dan dia sepulang dari suatu acara. Kami berboncengan sepeda motor, dia yang mengendarai. Saat itu hari telah lewat tengah malam. Saat kami melewati beberapa pemuda yang sedang berkumpul bercakap-cakap dipinggir jalan. Salah seorang dari mereka menghardik kepada kami, "pelan-pelan bawa motornya". Tanpa pikir lama, teman saya ini menghentikan laju motor. Turun dari motor lantas menghampiri mereka, "Siapa yang tadi ngomong?", bentak teman saya. "Gue", kata salah seorang dari mereka dengan sikap menantang. Saya masih duduk di motor menerka-nerka apa yang bakal terjadi. Benar saja, perkelahian. Saya segera turun dari motor dengan maksud melerai. Teman-teman dari kelompok itupun seperti hendak membantu kawan mereka yang sedang baku pukul. Entah bagaimana kejadiannya, lawan teman saya itu mundur beberapa langkah mengambil jarak, sambil memasang kuda-kuda entah karate atau taekwondo. Yang mengherankannya kawan-kawan dari kelompok itu tidak berani berbuat apa-apa. "Apa lo!, sini kalo mau bantu temen lo!", bentak teman saya itu. "Maap bang, engga bang", kata mereka sambil tangan posisi sembah hormat. Sepertinya teman saya itu masih terbakar emosi, dia kembali menghampiri lawannya, yang dihampiri malah lari. Saya kemudian menahan laju teman saya itu, namun dia malah berontak sambil tangannya mengepal ke arah lawannya; "Sini lo, jangan lari anjing!", makinya. Teman saya itu bagaikan kerasukan setan, saya kewalahan menahan berontaknya, saya pun melepasnya; "terserah lo aja dah!", hanya kalimat itu yang keluar dari mulut saya.  Dia kemudian berlari mengejar lawannya itu. Sekira 50 meter dari posisi semula teman saya berhasil mengejar lawannya, baku pukul kembali terjadi. Pemandangan yang kemudian terlihat adalah ..., si lawan tersungkur. Teman saya menendanginya sambil membentak; "bilang ampun ga lo!, ampun ga lo!". "Ampun bang, ampun bang", si lawan rupanya menyerah tak berdaya. Kelompok pemuda yang sedang nongkrong itu sekitar 5 orang. Tidak berdaya melawan teman saya itu. Mungkin kalian membayangkan teman saya itu berbadan tegap besar seperti anggota tentara atau bodyguard, salah. Posturnya cenderung kurus meski tidak kerempeng, dan tinggi badannya tidak lebih tinggi dari saya yang 170 cm.          



Desember 2012, teman saya menderita sakit keras. Ia mengeluh sakit kepala yang hebat sampai-sampai pernah membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Panas tubuhnya tinggi disertai demam. Menurut diagnosis dokter yang merawatnya pada otak teman saya itu tumbuh semacam jamur yang disebut kriptokokus. Berhari-hari dia tergolek di rumah sakit, tidak berdaya. "Banyak begadang dan minuman alkohol", kata perawat yang bertugas menjaganya kepada saya saat saya membezooknya di rumah sakit. Dua hal yang disebut itu membuat daya tubuh semakin ringkih hingga memicu perkembangan kriptokokus.

Maret 2013, sore hari di waktu maghrib sepulang saya bekerja, saat masih berkendara di motor entah bagaimana, mata kanan saya terasa perih seperti dimasuki serangga. Padahal saya mengenakan helm yang tertutup. Sampai saya harus menghentikan motor di sisi jalan raya hanya sekedar menunggu rasa perih mata saya reda. Sedemikian perihnya hingga mata kanan saya mengeluarkan banyak air.
Baru saja sekitar setengah jam saya tiba di rumah, datang seseorang yang rupanya tetangga teman saya. "Mas Bobby, bang Lutvy meninggal maghrib tadi di rumah sakit". Mendengar kabar demikian tubuh saya gemetar, kemudian saya bersimpuh pada kedua lutut, saya merasa lemas. Kemudian saya menangis memanggil-manggil nama sahabat saya itu.

Belum pernah saya merasa kehilangan seseorang seperti ini sebelumnya, saat kakek saya dari ibu meninggal dunia saya sedih tapi saya tidak merasa shock, juga saat nenek saya dari ayah meninggal. Kehilangan sahabat dekat yang selayak saudara sendiri, saya menganggapnya sebagai kakak dan mentor hidup yang darinya saya banyak "belajar" tentang realita hidup, seolah ada bagian dari diri saya yang turut pula hilang. Berpulangnya sahabat saya itu benar-benar menyadarkan saya akan kematian. Kematian itu ternyata tidak pernah jauh dari kita, dia bisa datang kapan saja.

Sahabat saya itu memang sudah tiada raganya, namun jiwa dan kenangannya akan selalu hidup di benak saya. Saya teringat dia pernah menorehkan tulisan corat-coret pada selembar kertas; "Hidup Adalah Perjalanan", mungkin itu motto hidupnya. Saya coba merenungkan arti kalimat itu. Saat ini saya memaknainya : hidup itu adalah perjalanan mencari makna dari kehadiran kita di dunia. Kita hendaknya mencari tempat di dunia ini dan peran kita bagi orang lain, ingin seperti apa kita dikenang jika kita sudah tiada. Saya kemudian mengingat sahabat saya itu selama hidupnya, dia memang jauh dari sempurna, dia hanyalah manusia biasa. Namun saya dan semua teman-temannya mengenang dia akan sosok yang setia kawan, solidaritas yang tinggi, melindungi saudara dan sahabat-sahabatnya dekat dan bernyali besar. 

Hari pemakaman teman saya itu dihadiri oleh banyak orang, terlebih sahabat-sahabatnya. Bahkan mereka yang telah pindah tinggal di lain kota menyempatkan diri hadir untuk mengantarkan Lutvy ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Innalillahi wa Innailaihi Rojiun.
         

-end of my story-


Saya membuat sebuah lagu yang saya persembahkan untuk sahabat karib saya, Lutvy Gaselick. Rest In Peace brother ..

SENDIRI

Sendiri,dihati ini
Tak ada kawan temani
Mencari, tak tahu pasti
Langkahku penuh misteri

Tuhanku, beri kekuatan
Menjalani hidupku
Enyahkan jiwa pengecut
Terbunuh berkali-kali

Sendiri, dikamar ini
Meringkuk aku sembunyi
Sakitku tidak berperi
Cobaan bertubi-tubi

Tuhanku, beri keberanian
Mengalahkan raguku
Jikalau ku harus mati
Ku tak ingin sia-sia



============================
klik link dibawah ini untuk mendengarkan lagunya
https://youtu.be/GP-ZB7BG3hM

Minggu, 26 November 2017

BOBBY NASUTION

Sebenarnya saya “Bobby Nasution”. Begini ceritanya; ayah mertua saya itu orang Batak Mandailing bermarga Nasution. Jodoh memang sudah diatur Tuhan, manusia hanya dapat menerka-nerka, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat pasangan yang tepat bagi dirinya dan berusaha menjauhi predikat dan kondisi Jones, alias Jomblo Ngenes. Saya yang berdarah Manado – Sunda ini bisa ketemu jodoh perempuan batak bermarga Nasution, ya karena itu tadi, …. Jodoh.

Secara adat, karena batak menerapkan sistem patriakal maka kalau menikahi perempuan batak sebenarnya sih tidak lantas si suami (non-Batak) berhak menyandang marga si istri. Tapi karena ayah mertua saya tidak memiliki anak laki-laki, kasihan juga tidak ada yang meneruskan Nasution lelaki. Ya sudah saya mengajukan diri memakai nama Nasution sebagai penghormatan kepada ayah mertua saya. Tapi secara predikat saja, karena saya menikahi anak perempuannya. Lagi pula marga Nasution di Indonesia salah satu marga Batak banyak menjadi “orang-orang besar”, paling tidak yang paling saya hafal; Abdul Haris Nasution dan Adnan Buyung Nasution. Ya sudah, bolehlah saya menjadi Bobby Nasution.
Kalau ada pertanyaan; “Ini ada hubungannya sama mantu Pak Jokowi yang juga bernama Bobby Nasution, yang hari ini 25 November 2017 menggelar resepsi pernikahan di Medan kah?”.
Ya ga ada, saya cuma cerita tentang saya aja, cuma namanya kebetulan sama-sama Bobby. Kebetulan yang tidak sengaja ðŸ™‚


Lanjut ngopi…


-Bobby Revolta, eh .. Bobby Nasution, 25 November 2017-

Jumat, 17 November 2017

KAFIR ZAMAN NOW



Saat Paus Urban II menyerukan Perang Suci pertama (Perang Salib) di tahun 1095 kepada para ksatria kerajaan-kerajaan Eropa untuk merebut Yerusalem, kota suci kelahiran Yesus Kristus dari tangan mereka yang disebut oleh Paus Urban II itu sebagai “ras yang terkutuk yang hatinya jauh dari Tuhan, orang-orang yang hatinya sungguh tidak mendapat petunjuk dan jiwanya tidak diurus Tuhan”, yakni kaum Muslim dan Yahudi. Mereka beranggapan, sungguh memalukan bahwa makam Kristus berada di genggaman kaum Muslim (dan Yahudi). Ringkasnya, dahulu Paus Urban II menyebut kaum Muslim dan Yahudi adalah kaum kafir. Para ksatria salib (Kristen) Eropa ini berbaris menuju Yerusalem dengan maksud ingin membebaskan kota itu dari tangan para kafir. 
 
Nelson Mandela, tokoh revolusioner Afrika Selatan yang membebaskan Afrika Selatan dari politik apartheid. Ditengah perjuangannya melawan penguasa rezim kulit putih, pada tahun 1962 akhirnya dia tertangkap oleh aparat penguasa. Dia dan beberapa kawan seperjuangan dalam African National Congres (ANC) dibuang ke pulau penjara yakni Pulau Roben. Selama dipenjara di pulau Roben, para sipir penjara senantiasa memanggil mereka dengan maksud sebagai hinaan merendahkan martabat, para sipir menghardik mereka dengan sebutan; kafir.

Di Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Tempo hari saat eskalasi politik memanas gegara Pilkada DKI, terminologi kafir juga digunakan sebagian umat Muslim Indonesia yang terseret konflik politik berbau sara untuk menyebut mereka yang tidak sepaham dengan pandangan mereka dengan sebutan kafir.
Berangkat dari tiga latar belakang tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kata “kafir” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ; orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya, ternyata dalam pelaksanaannya juga digunakan oleh pihak yang dalam posisi superior (lebih tinggi strata sosial dan politik atau lebih kuat) untuk menekan mereka yang dalam posisi inferior (lebih lemah) dengan maksud merendahkan atau mengintimidasi.

Menariknya, jika kita mampu berpikir jujur dan terbuka, ternyata kalimat kafir, kafeer, kafirun dan lain-lain dan sebagainya yang kadang penulisan sedikit beda-beda tapi maknanya sama yaitu, ya… KAFIR, bukanlah sebuah kata yang hanya dimiliki oleh umat Muslim saja, menjadi monopoli umat Muslim saja. Dimana-mana, di dunia ini, berbagai suku, agama, ras dan golongan menggunakan kalimat “kafir” untuk menyebut pihak lain yang tidak seiman/sepandangan. Kita adalah kafir bagi mereka yang “tidak seiman/beda” dengan kita, begitu juga mereka yang tidak seiman/beda, maka mereka boleh kita sebut kafir.

Jika memang seperti itu kondisinya, berarti sebenarnya kita ini sama-sama kafir. Di zaman now ini dimana kita lebih butuh kedamaian daripada konflik, kita lebih butuh makanan daripada bom, kita lebih butuh kesejahteraan dibanding pedang, maka (hendaknya) sebagai sesama kafir dilarang saling mencela dan sebagai sesama kafir hendaknya kita saling toleransi.

                                                                                                             
Demikian-

Sabtu, 20 Mei 2017

HUTAN LESTARI, (maka) MANUSIA SEJAHTERA





Pada suatu pagi telpon selular saya berbunyi, ternyata ada pesan di watsapp. Rupanya adik saya yang tinggal di Surabaya, mengirimkan pesan. Tapi bukan menanyakan kabar melainkan mengirimkan sebuah link artikel di internet yang berjudul “Rampogan Sima, Tradisi Membantai Macan di Tanah Jawa”. Dalam artikel tersebut memuat tulisan tentang sebuah budaya raja-raja Jawa pada era pemerintah kolonial Hindia Belanda yang dinamai Rampogan Sima, yakni sebuah pertunjukan rakyat yang digelar di tengah alun-alun yang aktraksi utamanya adalah membunuh seekor macan secara beramai-ramai dengan cara mengelilinginya. Orang-orang yang mengelilingi macan tersebut semuanya bersenjatakan tombak. Naluri macan yang ingin melepaskan dari ancaman akan melompat menerjang orang-orang dengan tombak yang menghunus itu, tentu saja bukan kebebasan yang didapat namun tombak yang menembus tubuhnya. Memang demikian inti dari acara tersebut, yakni membunuh macan.

 


Kemudian masih pada artikel itu nampak sebuah foto yang pada keterangannya bertahun 1941 di sebuah desa di Malingping, Banten Selatan menunjukan beberapa orang menggantung buruannya pada sebilah batang kayu yakni seekor macan yang telah mati. Saya yang meminati kepada hal-hal yang berhubungan dengan konservasi hutan, kehidupan satwa liar dan juga sejarah langsung saja menanggapi membalas pesan watsapp adik saya itu dengan sedikit teori. Bahwa interaksi (baca; konflik) macan dengan manusia di Pulau Jawa yang berakibat pada kepunahan macan/harimau Jawa adalah dikarenakan :
 
1.        Kebijakan Culture Stelsel atau tanam paksa di era pemerintah kolonial yang mewajibkan rakyat menanam tanaman bernilai komoditas ekonomi seperti; Tebu, Teh, Kopi, Tembakau, Sawit dan Karet yang ternyata memang menjadi komoditas tinggi di Eropa pada jaman itu. Kemudian untuk memperluas perkebunan-perkebunan dengan tanaman komoditas tadi maka dimulailah perambahan hutan secara besar-besaran (alih fungsi hutan menjadi  perkebunan).
2.        Budaya berburu kaum bangsawan Eropa (Belanda) sebagai sebuah rekreasi dan gaya hidup ditiru oleh kaum bangsawan Jawa.
3.        Kepadatan penduduk di Pulau Jawa.

Hutan belantara yang merupakan habitat hidup macan yang semakin berkurang dan sebab perburuanlah yang mengakibatkan satwa-satwa liar di Pulau Jawa semakin terdesak ke wilayah ujung pulau Jawa, baik ujung barat (Ujung Kulon, Banten) maupun ujung timur (Baluran, Jawa Timur). Maka dari itu kedua tempat tersebut kini menjadi Taman Nasional yang menjadi Suaka Marga Satwa.

Pagi itu saya sudah sedikit berteori tentang punahnya macan di Jawa dikarenakan semakin rusaknya hutan dan perburuan, tapi ternyata adik saya hanya ingin menunjukan bahwa dahulu pernah ada macan di Malingping, Lebak, Banten yang merupakan tempat tinggal saya bersama keluarga. Dia tertarik mencari artikel tentang macan Jawa gegara berita viral “macan lucu Cidawu”, halahh... saya pikir serius…..

 

 Bagaimanapun, menurunnya kualitas dan kuantitas hutan (degradasi hutan) khususnya di Pulau Jawa tetap menjadi topik yang tidak akan pernah mengurangi minat untuk dibahas. Secara teori yang diajarkan sejak di bangku pendidikan dasar, rusaknya hutan akan berakibat punahnya satwa endemik dan timbulnya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Terdengar klise namun kenyataannya  hingga saat ditulisnya esai ini bencana alam yang saya sebutkan tadi frekuensi terjadinya di Pulau Jawa menjadi semakin sering dan cenderung semakin parah, sebut saja yang terbaru (awal Mei 2017) adalah banjir bandang di Ciwidey, Jawa Barat. Belum lagi dampak sosial yang dapat terjadi akibatnya rusaknya alam khususnya hutan.

Jika mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maka yang dimaksud hutan adalah ; tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon (biasanya tidak dipelihara orang). Sedangkan perumusan hutan dalam bahasa yang lebih dibakukan oleh peraturan perundang-undangan yakni menurut Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, maka didapatkan pengertian dari hutan adalah suatu ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan menurut saya sendiri yang memiliki minat kepada lingkungan hidup khususnya hutan dan kebetulan menggemari kegiatan hiking ke pegunugan, hutan adalah sebuah area yang terdiri dari beragam tumbuhan dan satwa didalamnya yang membentuk suatu ekosistem yang saling berkaitan membentuk suatu rantai kehidupan yang kemudian menunjang kehidupan makhluk yang paling tinggi derajatnya yakni manusia.

Tidak sedikit dari kita yang belum menyadari pentingnya hutan sebagai penunjang kehidupan manusia. Hutan hanya dipandang semata-mata sebagaimana definisi dalam KBBI yakni tanah luas yang ditumbuhi pohon-pohon yang juga sebagai tempat tinggal satwa belaka, titik. Padahal kita seringkali mendengar dan membaca sebuah terminologi “Hutan merupakan paru-paru dunia”. Sebagaimana kita ketahui betapa manusia sangat tergantung dengan paru-paru sebagai penyaring udara kotor sehingga menjadi bersih dan kemudian menyebarkannya keseluruh tubuh dalam bentuk oksigen. Begitupun fungsi hutan; pepohonan dalam hutan akan menyerap gas karbondioksida yang berbahaya bagi manusia kemudian melepas oksigen ke udara. Oksigen inilah yang kemudian kita hirup dan menghidupi kita manusia. Belum lagi akar-akar pepohonan dalam hutan yang berfungsi sebagai penyerap dan penahan air dan menguatkan struktur tanah, sehingga akan menjaga manusia dari bencana banjir dan longsor.

Hutan Indonesia merupakan hutan terbesar kedua di dunia setelah hutan Amazon di Amerika Selatan, maka boleh dikatakan selain kepada hutan Amazon penduduk dunia bergantung pula kepada hutan Indonesia. Namun seiring dengan kemajuan zaman keberadaan hutan terancam. Penghilangan hutan (deforestasi) baik ditebang untuk diambil kayunya sebagai komoditas yang bernilai ekonomis tinggi maupun dibakar dengan maksud alih fungsi menjadi perkebunan, adalah sebab utama semakin menyusutnya luas hutan di Indonesia. Berdasarkan catatan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Dari sekitar 130 juta hektar yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang atau terbakar. Namun menurut catatan Prof. Oekan S Abdoelah, Ph. D sedikit berbeda, dalam mengejar devisa, dikenal dengan istilah “green gold”, dilakukan eksploitasi hutan secara besar-besaran. Akibatnya, diperkirakan laju kerusakan hutan Indonesia secara menyeluruh berkisar 600.000 – 1,3 juta hektar per tahun. Perhitungan terbaru dipublikasikan Greenpeace, dengan mengambil data FAO pada tahun 2000-2005, mencapai rata-rata 1,871 juta hektar per tahun.

Modernitas kehidupan manusia memang tidak terhindarkan. Manusia akan senantiasa memanfaatkan sumber daya alam yakni hutan untuk memenuhi keperluan hidupnya, baik itu kebutuhan papan maupun pangan. Modernitas pula memaksa kita tidak dapat mengelak dari pembangunan dalam konteks memanfaatkan hutan sebagai komoditas kayu maupun sebagai komoditas perkebunan. Namun kita harus menyadari dan terus diingatkan bahwa hutan merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dengan cara yang langsung. Maksudnya jika sebuah pohon yang sudah besar dan bernilai ekonomis ditebang maka untuk menghasilkan pohon yang sama dengan cara penanaman kembali (reboisasi) diperlukan waktu yang tidak singkat. Diperlukan sebuah konsep pemikiran bagaimana memanfaatkan hutan namun tidak menghabiskannya dan dapat terus berkelanjutan. Yang dimaksud berkelanjutan adalah dapat terus digunakan fungsinya secara ekonomis namun kelestarian hutan dijaga dan tetap berlangsung, sehingga tetap dapat menopang kehidupan manusia. Inilah yang sesungguhnya dikehendaki konsep Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development).

Secara teknis, kegiatan maupun upaya perlindungan alam atau hutan disebut dengan konservasi. Indonesia sendiri memiliki perangkat hukum yang mengatur konservasi alam dan hutan yaitu Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Konservasi). Pada Pasal 3 UU tersebut menjabarkan tujuan konservasi :

1.    Mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati;
2.    Keseimbangan ekosistemnya;
3.    Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. 

Namun Undang-undang hanyalah rangkaian kata tanpa makna apabila tidak didasari dengan kesadaran seluruh komponen masyarakat Indonesia pada seluruh level baik aparatur Negara, pelaku usaha dan  masyarakat umum akan pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Saya percaya bahwa pemeran utama kegiatan dan upaya perlindungan hutan untuk terjaminnya tujuan konservasi; pertama adalah aparatur Negara sebagai produsen UU Konservasi, maupun sebagai aparat di lapangan sebagai penegak hukum UU Konservasi; yang kedua adalah masyarakat umum terlebih mereka yang tinggal disekitar hutan. Kegiatan dan upaya perlindungan hutan diharapkan akan menjamin pembangunan bidang kehutanan yang lestari dan berkelanjutan sehingga tetap menghasilkan devisa bagi Negara. Adapun bagi kelompok masyarakat, hutan dapat menjadi sumber mata pencaharian.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri yang beberapa kali berkunjung ke pegunungan Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat, tepatnya di lokasi wisata air terjun Curug Seribu. Pada awal berkunjung kesana sekitar awal sampai pertengahan tahun 90an, akses menuju kesana dari rumah penduduk yang terdekat dengan lokasi masih merupakan jalan setapak berupa tanah dan bebatuan dengan vegetasi pepohonan yang cukup rapat di sisi jalan. Saat itu tidak dipungut biaya alias gratis. Penduduk yang bermukim disana hanya terdiri dari beberapa kepala keluarga. Kemudian seiring dengan pamor Curug Seribu yang semakin dikenal luas karena keindahan air terjunnya dan keasrian hutannya, jumlah wisatawan yang berkunjung semakin meningkat sehingga pemerintah setempat berkolaborasi dengan penduduk lokal mengelolanya dengan lebih tertata menjadi lokasi wisata yang lebih representatif. Saat ini akses menuju air terjun menjadi jalan berfloor semen dengan tangga-tangga kecil dan dilengkapi pagar pengaman disisi jalan. Untuk menuju kesana saat ini wisatawan dikenakan biaya masuk sebesar Rp 15.000. Jumlah rumah penduduk yang bermukim di sekitar lokasi wisata Curug Seribu menjadi lebih banyak jika dibandingkan tahun 90an. Rupanya kunjungan wisatawan yang semakin meningkat menjadi sumber nafkah penduduk dengan membuka kedai makanan dan minuman, juga pemondokan sederhana untuk wisatawan yang bermalam. Masyarakat yang bermukim disana menyadari akan pentingnya menjaga keasrian hutan di lokasi wisata Curug Seribu karena hal itulah yang menjadi daya tarik wisatawan berkunjung.

Kembali lagi kepada cerita konflik macan dengan manusia hingga diduga telah punah di Pulau Jawa dan frekuensi bencana alam berupa banjir dan tanah longsor yang meningkat, hal tersebut dapat menjadi indikator terganggunya kelestarian hutan di Pulau Jawa. Ini harus dijadikan sebuah peringatan sebelum hutan di Pulau Jawa menjadi benar-benar rusak. Tujuan akhir konservasi hutan adalah mencapai kondisi berlangsungnya keutuhan dan fungsi hutan sebagai penunjang ekologi dalam pembangunan nasional, maka hutan harus dikelola secara rasional, terencana, bijak, dan adanya peran serta aktif Negara, pelaku usaha dan masyarakat umum.   






(Tulisan ini dipublikasi pertama kali pada situs Qureta pada 11 Mei 2017)

KEBANGKITAN PKI ; Memakan Daging Bangkai Berkalang Tanah


Semenjak Pemilihan Presiden 2014, masyarakat terpolarisasi, Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Namun menariknya, ada isu usang yang kembali dihidupkan untuk melumpuhkan kelompok lainnya, yakni bangkitnya komunisme (baca: Partai Komunis Indonesia/PKI). Dasar tuduhan mereka adalah serbuan pekerja ilegal dan membanjirnya produk-produk asal Tiongkok.

Isu PKI itu sudah usang dimakan jaman. Seberapapun lantang mulut menuduh sana-sini, tidak akan menjadi sebuah keyakinan dan kesepakatan mayoritas bangsa Indonesia sebagaimana yang terjadi di tahun 1965-1966. Selain bukti yang sangat lemah dan sangat minim fakta, juga cenderung mengada-ngada yang sengaja disebarkan oleh beberapa elit politik (demagog).
Jangan dilupakan juga bahwa situasi dan kondisi internasional selalu mempengaruhi gerak arah perpolitikan atau perjalanan sejarah suatu negara di dunia ketiga, Indonesia khususnya. Berikut ini saya coba paparkan argumentasi saya.

Saat kejadian 1965, situasi internasional sedang mengalami “Perang Dingin”/Cold War. Antagonisme yang berlangsung adalah antara Kapitalisme dan Imperialisme (Blok Barat) dengan Komunisme (Blok Timur). Indonesia yang saat itu di bawah pemerintahan Sukarno sebenarnya bersikap netral/Non-blok.
Namun dikarenakan ada kecenderungan bangsa barat tidak ramah kepada Sukarno, maka adalah konsekuensi logis apabila Sukarno cenderung dekat kepada negara-negara blok timur, khususnya Tiongkok karena merasa lebih dihargai. Bukan tanpa sebab juga Sukarno dimusuhi oleh kubu Blok Barat, dikarenakan dia sangat menentang imperialisme yang menjadi garis kebijakan luar negeri Blok Barat.

Meskipun Sukarno dekat dengan Blok Timur dengan ideologi Komunismenya, namun Sukarno tidak pernah merasa menjadi seorang Komunis atau membawa Republik Indonesia menjadi negara Komunis, ia seorang Nasionalis sejati. Sukarno adalah seorang Pancasilais karena dialah sang penemu Pancasila.
Meskipun dengan rendah hati dia mengatakan bahwa dia bukanlah penemu Pancasila, dia hanya menggali Pancasila dari nilai-nilai yang sudah lama hidup di dalam jiwa setiap insan Nusantara, ada di dalam jiwa seluruh rakyat Republik Indonesia yang dia cintai. Bahwa setiap jiwa orang Indonesia adalah insan yang berketuhanan Yang Maha Esa, menjungjung rasa kemanusiaan, terikat rasa senasib sebagai bangsa Indonesia, menjunjung musyawarah untuk mufakat, dan senantiasa bergotong-royong saling membantu sesama tanpa membeda-bedakan.

Tahun 1965, pada saat itu tensi perpolitikan dalam negeri sedang tinggi, di antaranya adalah perseteruan antara Tentara Nasional Indonesia, khususnya Angkatan Darat (TNI AD), dengan PKI semakin meruncing. Klimaksnya adalah penolakan usul PKI, yakni membentuk Angkatan kelima yang terdiri dari kaum buruh dan tani yang dipersenjatai ditolak mentah-mentah oleh Jenderal Ahmad Yani sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) waktu itu.

Usul Angkatan Kelima sebenarnya bukan ide tanpa dasar. Usul tersebut adalah berkenaan Indonesia yang saat itu sedang berkonfrontasi dengan Malaysia. Menurut Sukarno, pembentukan negara Malaysia (waktu itu bernama Federasi Malaysia) adalah provokasi pihak Inggris dan dianggapnya “boneka Inggris” sebagai kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru. Alasan lainnya adalah Angkatan Kelima merupakan pelaksanaan konsep Bela Negara sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk membantu tentara regular bertempur melawan Malaysia yang dibantu koalisi Inggris, maka rakyat (yang menurut interpretasi PKI adalah terdiri dari kaum buruh dan tani) diikutsertakan dengan menjadi sukarelawan. Usul itu tetap ditolak oleh Jenderal Ahmad Yani dengan alasan tidak efisien. Meski demikian, seorang Sukarno berhasil menggelorakan semangat patriotisme rakyat Indonesia dengan menyerukan Komanda Ganyang Malaysia (KOGAM).

Inggris yang saat itu merupakan salah satu negara utama pendukung Blok Barat bersama sekutu utamanya adalah Amerika Serikat, merasa Sukarno-lah penghalang utama kepentingan-kepentingan mereka di wilayah Asia Tenggara. Maka mereka selalu mencoba melakukan operasi terselubung untuk menjatuhkan Sukarno.
Di mulai dari akhir tahun 50an sampai awal tahun 60an; menyokong persenjataan gerakan separatis Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), sampai mengirim pesawat pembom ke wilayah udara Indonesia dengan tujuan membom istana negara yang dipiloti seorang tentara bayaran berkebangsaan Amerika bernama Allen Pope, semua itu diduga merupakan operasi terselubung yang dirancang oleh Central Intelligence Agency (CIA).
Sebagaimana kita bangsa Indonesia mengetahui bahwa pada tahun 1965 terjadi sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September. Mereka melaksanakan Gerakan 30 September menamakan kelompok mereka dengan nama Dewan Revolusi. Gerakan tersebut menculik dan membunuh para Jenderal yang dituduh tergabung dalam Dewan Jenderal yang akan melakukan makar dengan menjatuhkan Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia saat itu.

Kejadian tersebut adalah menjadi klimaks dari tensi politik dalam negeri Indonesia yang sedang memanas kala itu. Akhirnya, sejarah Indonesia mencatat bahwa rakyat yang anti PKI didukung penuh oleh TNI AD berhasil memenangkan “pertarungan” dengan memberangus PKI dan memberantas orang-orang yang dituduh PKI dengan cara dieksekusi tanpa pengadilan dan dikirim ke kamp tahanan di Pulau Buru.
Sebagai puncak rentetan dari peristiwa itu, Presiden Sukarno diberhentikan dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1967 dan mengantarkan Jenderal Suharto sebagai penggantinya.

Menurut versi Orde Baru di bawah rezim Suharto, adalah PKI dengan paham komunismenya yang berada di belakang Gerakan 30 September. Namun demikian, tidak sedikit peneliti sejarah baik dari Indonesia sendiri maupun luar negeri yang menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan kajiannya. Beberapa hasil penelitian mereka mengungkapkan bahwa ada keterlibatan Amerika Serikat di bawah kordinasi CIA berada di belakang peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang berujung pada jatuhnya Sukarno di tahun 1967.
Suharto ketika menjadi presiden mengubah kebijakan koalisi luar negeri Sukarno. Suharto cenderung dekat kepada Blok Barat, khususnya Amerika Serikat. Kebijakan Suharto lainnya adalah mengejar ketertinggalan dalam pembangunan/percepatan pembangunan Indonesia dengan cara mengajukan bantuan dana (hutang luar negeri) kepada lembaga moneter/keuangan yang berasal dari Amerika Serikat yakni Bank Dunia (World Bank).

Demikianlah jika ditelaah dari perspektif global. Perang Dingin di Indonesia antara Blok Barat dengan Blok Timur akhirnya dimenangkan oleh Blok Barat (baca; Amerika Serikat).
Angin perubahan dunia kemudian berubah, ditandai dengan tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur (berhaluan Blok Timur) dengan Jerman Barat (berhaluan Blok Barat) pada Januari 1990 resmi dirobohkan. Reunifikasi Jerman tersebut mengubah bentuk pemerintahan tersebut menjadi Republik Parlementer.
Kemudian negara yang menjadi rival utama Amerika Serikat dalam Perang Dingin sebagai negara adikuasa yang dianggap pemimpin Blok Timur yang berhaluan komunis yaitu Uni Sovyet akhirnya bubar pada bulan Desember 1991, kemudian pecah menjadi 12 negara. Penggunaan nama Uni Sovyet pun dirubah menjadi Rusia dengan bentuk negara tidak lagi komunis melainkan Federasi.

Dengan robohnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Sovyet tersebut dapat diartikan bahwa Perang Dingin telah berakhir, Blok Timur dengan komunismenya telah hancur, dan Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adikuasa, dan dianggap satu-satunya negara super power. Lalu pertanyaannya, apakah sebagai negara super power kini Amerika Serikat bebas menjalankan kebijakannya dan memaksakan kepentingannya di seluruh dunia? Jawabannya ternyata TIDAK.

Kebijakan Amerika Serikat di Jazirah Arab yang pro negara Zionis Israel mendapat tentangan dan perlawan dari negara-negara Islam sebagai bentuk solidaritas kepada bangsa Palestina yang negaranya diambil alih oleh bangsa Yahudi dengan mendirikan negara Israel. Penentangan dan perlawanan yang paling keras tentu saja dilakukan oleh kelompok Islam garis keras.
Kelompok Islam garis keras ini paham betul bahwa tidak mungkin menghadapi Amerika Serikat secara perang frontal terbuka karena akan kalah secara teknologi. Mereka menjalankan bentuk perang dan perlawanan lain, yakni melalui ideologi yaitu dengan menanamkan dan menyebarkan paham Radikalisme Islam dan strategi perang dengan cara Terorisme.

Peristiwa dihantamnya menara kembar World Trade Center di Manhattan, New York, Amerika Serikat pada 11 September 2001 dengan pesawat yang dibajak diyakini didalangi oleh Al-Qaeda menegaskan Amerika Serikat akan musuh besar baru mereka, yaitu kelompok Radikal Islam. Amerika Serikat melancarkan sebuah propaganda dalam menyerang negara-negara pendukung kelompok Islam Radikal dengan jargon War On Terrorism.

Kembali ke Indonesia, dengan kondisi terkini berhembusnya isu bangkitnya PKI yang tujuan utama sebenarnya adalah melancarkan fitnah untuk membunuh karakter lawan politik. Cara itu tak ubahnya seperti kembali memakan daging yang sudah sangat lama dikubur dalam peti, meski sudah tidak berbentuk utuh bahkan nyaris hancur berkalang tanah tetap dipaksakan memakannya.
Namun tidak sedikit pula yang percaya daging itu masih segar dan menelannya mentah-mentah. Mereka lupa bahwa PKI komunisme sudah “tidak laku di pasaran” karena rakyat sudah cerdas memahami bahwa komunisme bersifat totaliter yang pemerintahannya dijalankan secara diktaktor, perekonomian yang stagnan karena dikelola sentralistik segalanya diputuskan pemerintah dan tidak ada kebebasan yang sifatnya individual.

Bangsa-bangsa dunia saat ini tidak ada yang benar-benar murni dan konsekuen menjalankan komunisme, bahkan di Republik Rakyat Cina/Tiongkok. Saat ini perdagangan produk Tiongkok bersaing menguasai pasar internasional. Itu berarti berarti Tiongkok semakin bersifat kapitalis.
Hanya tinggal Korea Utara yang masih menjalankan komunisme ala Mao Zedong, itupun negara mereka sangat tertutup dan menarik diri dari pergaulan internasional dan lagi-lagi tidak murni dan konsekuen dengan komunismenya. Mereka menjalankan ideologi tradisional Korea yang disebut Juche.
Dari uraian-uraian di atas dapat ditarik kesimpulan :
  1. Hadirnya Komunisme di jaman Kolonial Belanda, terkhusus di Indonesia sejak tahun 1914 adalah konsekuensi logis sebagai anti-tesis/lawan dari musuh ideologinya; Imperialisme dan Kolonialisme yang saat itu mencengkram Indonesia sebagai bangsa jajahan, sebagaimana kebanyakan bangsa-bangsa di Asia-Afrika. Saat ini tidak ada lagi bangsa-bangsa yang dijajah oleh bangsa lain.
  2. Semenjak Perang Dingin berakhir, maka berakhir pula komunisme sebagai ideologi yang dianut suatu bangsa.
  3. Komunisme, Marxisme dan Leninisme saat ini semata-mata sebatas kajian sejarah, kajian keilmuan dan alat analisa.
  4. PKI di Indonesia telah kalah dan mati di tahun 1966 tidak terlepas dari situasi dan kondisi global saat itu, yakni era Perang Dingin (Cold War), yang dimenangkan Blok Barat yang representasikan oleh Amerika Serikat. Kalahnya Blok Timur ditandai dengan robohnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Sovyet.
  5. Jaman telah berganti, Amerika Serikat hingga saat ini memiliki musuh baru, bukan lagi komunisme, melainkan Radikalisme Islam dan Terorisme.



    (Tulisan ini dipublikasikan pertama kali pada situs Qureta 11 Mei 2017)