Rabu, 14 April 2010

LOMPAT KASUR (Bed Diving)

Hari itu David mengunjungi Joe Felis, kawan band-nya di “The CoCOn”. Minggu pagi menjelang siang yang cerah…, setelah lebih dari seminggu mereka tidak berjumpa dan bertegur sapa. Tempat tinggal mereka sekarang berjauhan, tidak satu lingkungan lagi, sehingga agak sulit berkomunikasi antar mereka, dikarenakan pula Joe saat ini tidak lagi memiliki Ha-Pe, rusak keseringan dibanting oleh pacarnya karena terlalu sering masuk sms-sms dari orang-orang (cewe) yang ga jelas dan tidak bertanggung jawab, yang bunyi redaksional sms-nya rata2 : “lagi ngaps say?”

David membuka pintu pagar rumah Joe, karena sudah biasa dan mengenal dekat keluarga Joe, dia langsung menggeloyor masuk pekarangan rumah Joe.
Ditemuilah ibu-nya Joe, “Pagi Bunda”, kata David bersopan santun kepadanya. “Eeeehh…David, kemana ga kliatan seminggu ini?”, balas ibunda Joe. ”Saya sakit Bunda..., Joe ada Bunda?”, timpal David berturut-turut seperti menghindari pertanyaan Ibunda Joe lebih lanjut. “Ada, langsung aja ke kamarnya…., masih tidur..”, kata Ibunda Joe. David menuju kamar Joe. Pelan-pelan ia membuka kamar Joe dan dilihatnya Joe masih pulas tidur mengenakan celana basket yang sudah super butut.

David langsung mengambil ancang-ancang gaya Diving stage, sebuah ekspresi menikmati musik hingar-bingar nan cadas dimana penonton naik ke atas panggung kemudian melempar diri atau terjun kembali ke lautan penonton dibawahnya. Loncatlah David dengan gaya punggung tepat menindih Joe yang sedang nikmat-nikmatnya tidur.
“Hegggghhhhhh !!!!!!”……suara itulah yang keluar dari mulut Joe ketika ditindih oleh David.
“ANNNJJIIIIIIIIGGGGGGG !!!!!!!!!”…….teriak Joe.
”Hahahahahahahahahahhahahahha”…, tawa David puas sambil memegang perutnya karena menahan kegelian melihat reaksi Joe.

“Damn it lo Vid !!”, maki Joe kepada David. “Lagi-lagi elo nge-Bed Diving gw”, lanjut Joe.”Hehehehe…..sorry men, daripada gw bangunin gw sentil biji lo, mening mana?”, sergah David. “Tai lo !, kaga ada yang mening, ga enak dua2nya bangsat !”, balas Joe. David malah tetep cengar-cengir kuda.
Kedua sahabat David dan Joe, emang sahabatan kental didalam dan diluar band mereka. Tumbuh di lingkungan yang sama, dan minat akan musik yang sama. Joe seorang yatim, Bapaknya meninggal dunia ketika dia masih sangat kecil. Makanya ga aneh kalo Joe bengal. Suka berkelahi, udah berambut gondrong sejak sekolah menengah tingkat atas, punya tato kebanggaan gambar kepala suku indian di lengan kanan, suka dicariin bokap para gadis2 belia, udah gitu nih anak rese banget kalo mabok (berkali-kali David suka nahan Joe yang udah ga tahan pengen nampolin/mukulin orang). Potongan rambutnya panjang sebahu, lurus dan berwarna merah persis seperti Axl Roses lagi jaman “Appetite for Destruction”.

“Dah siang men…bangun lo !”, kata David. “Semalem begadang gw, sampe jam setengah lima….., jam berapa sih sekarang?”, tanya Joe. “Jam setengah sebelas....dah cukup lah lo tidur”, kata David.
David menyambung, “lo kemana aja ga ke rumah gw?”. “Malem jum’at kemaren gw mo ke rumah lo,...ehh....si Vonny minta anterin ke rumah sakit”, jawab Joe. David mengerenyitkan mata seperti menyelidik lalu dia bilang, “hah...ke RS, ngapain?...Abortus?”.
“Sialan lo !, nyokap nya sakit...tensinya tinggi”, sanggah Joe. ”Hehehe....gw kira...”, balas David sambil senyum.

“Gw bawa ini nih...”, kata David sambil membuka tas nya. Dua botol Mansion House beralkohol 43% ukuran Jumbo pun nampak, beserta minuman oplosannya 2 botol minuman energi merk kratingdeng plus kacang buat tarikan.
“Anjrit ! gokil lo Vid !...masih pagi nih..”, kata Joe. “Apaan??…, udah siang tau!”, sergah David. Joe terbengong sebentar kemudian dia bilang,….”ayo deh…, anggep aja minum kopi anget abis bangun pagi”, jawab Joe anteng. Kemudian dia sambung, “kayanya gw tewasnya kena lever nih”.
David menyangkal, “kaga men…, lo gw doain tewas secara “Rock n Roll way to die”, nelen muntah sendiri…kaya John Bonham drummer Led Zeppelin”.
“Yeeeehhh…malah doain gw tewas nelen jekpot sendiri, sialan lo !”, kata Joe.

Minggu pagi menjelang siang itu, kedua sahabat itu larut dalam keriangan dan keakraban, bagaikan acara reuni sebuah sekolah lanjutan yang baru berjumpa setelah 25 tahun kelulusan. Kemudian Joe menyetel tape-nya pada posisi 6 dari maksimal 8, terdengarlah suara Johnny Rotten menyanyikan “Holidays in The Sun” :

i don't wanna holiday in the sun
i wanna go to the new belsen
i wanna see some history
'cause now i got a reasonable economy
now i got a reason, now i got a reason,
now i got a reason and i'm still waiting
now i got a reason, now i got a reason to be waiting
the Berlin Wall
sensurround sound in a two inch wall
well i was waiting for the Communist call……..

“Buat kesehatan lo men…”, sebuah ting-tos dari David buat Joe sambil mengangkat gelas loki. Joe membalas, “yoi men…buat kesehatan lo juga…., trus buat vonny, lulu, vety, ica, melda, nunu, joy, peggy…n her mother …hahahahahaha…, memey, grace….mmmm…”. “Anjrit !!! banyak amat men !!”, kata David.

Jumat, 09 April 2010

THE GUERILLA (Che Guevara, part 2)


“Revolusi” tidak semudah mengucapkannya…..

Paling tidak itulah kesan yang terbesit di hati saya setelah menyaksikan film “Che-part 2, the Guerrilla”, disutradarai oleh Steven Soderbergh dan karakter Che Guevara diperankan oleh Benicio del Torro (yang juga sebagai produser film ini), produksi tahun 2008. Film yang membutuhkan analisa bagi del Torro untuk memahami karakter serta prinsip-prinsip seorang Che Guevara selama 7 tahun, dan untuk napak tilas gerilyawan di hutan Bolivia selama 3 tahun.
Film ini merupakan upaya Steven Soderbergh dan Benicio del Torro menterjemahkan diari Che yang kemudian menjadi sebuah buku yaitu “Bolivian Diary” atau versi Indonesianya “Hari-hari terakhir Che Guevara”, sebuah catatan harian Che Guevara ketika menjalani hari-harinya kembali menjadi seorang gerilyawan membantu para pemberontak di Bolivia, rentang tahun 1967.
Film berbahasa Latin ini mengantarkan Benicio del Torro menerima penghargaan aktor terbaik di Festival Film Canes Perancis tahun 2008, sebuah perhelatan penghargaan untuk film-film kategori “idealis”.

Sebuah pilihan hidup yang teramat sangat sedikit manusia memilihnya, menjadi seorang Revolusioner. Seseorang yang memilih melawan penguasa penindas, kapitalisme dan imprelisme dengan mengangkat senjata dimanapun penindasan, praktek kapitalisme dan imprealisme berlangsung. Seorang yang konsisten menerapkan gerakan “Internasionalisme” dari Manifesto Komunis.

Digambarkan seorang Che setelah keberhasilan menumbangkan penguasa diktaktor Kuba Fulgencio Batista pada tahun 1956 bersama sahabatnya Fidel Castro, kemudian membentuk pemerintahan revolusioner dan Che duduk di jabatan formal Pemerintah sebagai seorang Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional Kuba.
Dan dalam kehidupan pribadi memiliki sebuah keluarga yang ideal, dia meninggalkan semua itu dan memilih bergerilya di hutan.

Keseharian gerilyawan Bolivia dalam perjuangan mereka digambarkan cukup mendekati sebagaimana “Bolivian Diary”, keberhasilan menghadang patroli tentara Pemerintah Bolivia, mendekatkan diri kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, perkelahian antar sesama gerilyawan, ketidakdisiplinan beberapa gerilyawan dengan membuka logistik minuman tanpa seijin komandan pasukan, seragam lapangan gerilyawan yang mulai compang-camping, penampilan mereka yang mulai lusuh dan dekil karena terlalu lama di hutan, moral beberapa gerilyawan yang mulai menurun karena melihat kawan mereka tewas akibat kontak senjata dengan tentara Pemerintah Bolivia dan mendengar kabar di radio bahwa kawan mereka di sektor lain tewas semua karena penyergapan oleh tentara Pemerintah Bolivia.

Klimaksnya, tertangkapnya Che Guevara pada tanggal 8 Oktober 1967 karena pasukan gerilya Che yang jumlahnya tinggal belasan orang saja dikepung oleh tentara Pemerintah Bolivia dibantu CIA yang jumlahnya ratusan. Hingga Che Guevara dieksekusi mati di sebuah ruangan pada tanggal 9 Oktober 1967.
Sebelum dieksekusi dengan cara ditembak, Che berkata kepada calon eksekutornya, yang dalam bahasa Indonesianya ; “ayo tembak pengecut, kamu hanya akan membunuh seorang manusia !”

“Revolusi” memang tidak semudah mengucapkannya, sebagaimana Che Guevara pernah berkata …..
“In a revolution, one triumphs or dies”

Kamis, 08 April 2010

List Kurt Cobain’s top 50 Albums


8 April 1994, tubuh Kurt Cobain ditemukan tewas. Untuk mengenang kembali Kurt, gw posting 50 musisi dengan albumnya terfavorit Kurt berdasarkan yang dia tulis di Jurnal hariannya. Sengaja gw ga rubah bahasa aslinya, seperti apa adanya sumbernya "The Journal" (Kurt's Diary).
Pada beberapa musisi/album, Kurt memberikan komen/review.

Bisa temen2 liat, seorang Kurt begitu kaya referensi musiknya, dari yang beraliran Cadas/Rock, Punk, Pop, Balada sampe Rap dia lahap..itulah yang menjadikan dia musisi besar & menjadi seorang legenda.
Hal ini bertolak belakang buat sebagian (besar??) para penggemarnya, referensi musik mereka bisa dibilang 95% (kalo ga mau dibilang 100%) adalah Nirvana, yang terparah adalah sampe ke taraf "NIRVANAISME/ atau COBAINISME".
Dari dandanan sehari2 khususnya di suatu gigs, nyanyiin lagu cover all Nirvana song, cara nyanyi, yang terparah menurut gw adalah; gaya/kelakuan dipanggung berusaha semirip mungkin sama Kurt Cobain (copy cat).
Tentu saja hal ini sangat disayangkan, selain menutup kreativitas yang luas, hal itu pun membuat seseorang tidak memiliki jati-diri sesungguhnya.


Anyway,...musisi besar adalah musisi yang menghormati jasa musisi pendahulunya...halah ngaco yaks gw.
well....here they are :

1. The Stooges - Raw Power

2. Pixies - Surfer Rosa
"A die-cast metal fossil of misplaced draft, with or without the fucking production. Everyone who has ever commented on 'Surfer Rosa' has said that the production's amazing. I agree with that, but the songs are so strong that it wouldn't have mattered if you'd listened to it through a boom-box.
I was completely nihilistic up until about four or five years ago, when I first heard this. It changed my attitude. It made me finally admit, after being into punk rock for so many years, that I finally liked other stiles as well. It made me finally admit that I'm a music lover. Their music reminded me of the music that I always wanted to do - and was doing - before I got into punk rock eight or nine years ago."

3. The Breeders - POD

4. The Vaselines - Son Of A Gun
"I just have this feeling Eugene and Frances had a really cool relationship. I don't know if that's true or not, but I think it's a really amazing thing when a couple can get on together and write some of the most beautiful songs I've ever heard. They're kind of sharing their life with people. Eugene and Frances are the Captain & Tennille of the underground."

5. The Shaggs - Philosophy Of The World
"It's so obviously the real thing. I heard this one live song - a Carpenters song, maybe? - where they must have been playing a day centre, and the screams in the background are louder than the music. The Shaggs are another archetypal K band."

6. Fang - Landshark

7. MDC - Millions Of Dead Cops

8. Scratch Acid - Scratch Acid

9. Saccharine Trust - Paganicons

10. Butthole Surfers - Pee Pee The Sailor

11. Black Flag - My War

12. Bad Brains - Rock For Light

13. Gang Of Four - Entertainment!

14. Sex Pistols - Never Mind The Bollocks
"A million times more important than The Clash. How do I explain that? Hmm. Both were always a bad imitation of The Rolling Stones, in love with America. But at least they took their girlfriends on tour with them (The Slits). Their music was terrible, though. I blame Sandinista! for not letting me get into punk until years after I should have done - it was so bad.
The Pistols' album has the best production of any rock record I've ever heard. It's totally in-your-face and compressed. All the hype The Sex Pistols had was totally deserved - they deserved everything they got. Johnny Rotten was the one I identified with, he was the sensitive one.
The only reason I might agree with people calling our band "The Sex Pistols of the 90's" is that, for both bands, the music is a very natural thing, very sincere. But in terms of influence, fuck, no! Rock is too exhausted for that. We haven't produced a totally original sound like that. We might be uncompromising, but that's about it. We're an obvious metamorphosis."

15. The Frogs - It's Only Right And Natural

16. PJ Harvey - Dry

17. Sonic Youth - Daydream Nation

18. The Knack - Get The Knack

19. The Saints - Know Your Product

20. Kleenex - Kleenex/Liliput

21. The Raincoats - The Raincoats

22. Young Marble Giants - Colossal Youth
"The music relaxes you, it's total atmospherics. It's just nice, pleasant music. I love it. The drum machine has to have the cheesiest sound ever. We're going to be on a Young Marble Giants compilation, doing 'Credit In The Straight World'. I had a crush on the singer for a while - didn't everyone?
I didn't know much about them - the Moxham brothers, right? I heard they might be getting back together again recently. Isn't it weird how, when you hear something like that, you still get excited, even though you know you shouldn't?"

23. Aerosmith - Rocks

24. Various - What is it?

25. R.E.M. - Green

26. Shonen Knife - Burning Farm
"This was the first cassette that came out on K. Eventually, after a week of listening to it every day, I started crying. That's how much it affected me. I just couldn't believe that three people from a totally different culture could write songs as good as those, because I'd never heard any other Japanese music or artist who ever came up with anything good.
Everything about them is just so fucking endearing. They're not too cute! That's part of the charm. Do I think there's a paedophiliac element to their appeal? I think in Japanese culture in general there's a paedophiliac element - most of the women there dress op as young girls. It's weird.
I'm sure that I was twice as nervous to meet them as they were to meet us. I didn't want to offend or scare them in any way, because I know I'm a scruffy, slimy person who might scare them off - and that's exactly what I did. They were afraid of me. In fact, on one of our first dates together, they saw me walking towards them and they screamed at the top of their voices, turned around and ran away, and then peeked their heads out of their dressing room. I was trying to reassure them that I was harmless. The communication we had with them was deathly silence and a lot of smiling.
In many ways, they're the ultimate K band, because they are sincere, they are real. They don't' purposely put their guitars out of tune and they don't purposely sing out of tune."

27. The Slits - Typical Girls

28. The Clash - Combat Rock

29. Void/Faith - Void/Faith/Split EP

30. Rites Of Spring - Rites Of Spring

31. Beat Happening - Jamboree

32. Tales Of Terror - Tales Of Terror

33. Leadbelly - Last Sessions Volume 1
"William Burroughs turned me onto that guy. He said that if you want to hear true honest music, you should hear Leadbelly. The songs are just amazing heartfelt.
Leadbelly was this poor black man in the early 1900s who went to jail a few times for wife-beating and robbery and getting into fights and bootlegging liquor. While he was is in prison, he started playing the guitar, and he sang so well that the governor started to like him, and let him out of jail. Leadbelly became an apprentice with Blind Lemon Jefferson and started recording songs, but none of the commercial recordings he made ever captured his true essence, except for these late sessions. They happened when this guy who'd been following his career for a few years caught him on a two-track tape recorder one night when they were hanging out at this hotel. It's just really cool.
I hope that my songs approximate that honesty. That's what I strive for. He was like the first punk rocker: he'd get into town, walk into an all-white bar, try to have a drink, get beat up and then go to jail because of it. So it's really cool to hear this music, especially the air of the recordings themselves, because it's so eerie to hear it on this crackly two-track.
But that's what Folkway records are like - they're awesome. They even have the entire Watergate tapes available as a 10-album set. I'm gonna get a Folkways tattoo next to my Black Flag tattoo."

34. Mudhoney - Superfuzz Bigmuff

35. Daniel Johnston - Yim Jump Music

36. Flipper - Generic Flipper

37. The Beatles - Meet The Beatles

38. Half Japanese - We Are They Who Ache With Amorous Love
"I like to listen to Jad Fair and Half Japanese with headphones on, walking around shopping malls - in the heart of the American culture. I just think that, if people could hear this music right now, they'd melt, they wouldn't know what to do, they'd start bouncing off the walls and hyperventilating. So I turn up the music really loud and pretend it's blasting through the speakers in the mall."

39. Butthole Surfers - Locust Abortion Technician

40. Black Flag - Damaged

41. Fear - The Record

42. Pil - Flowers Of Romance

43. Public Enemy - It Takes A Nation Of Millions To Hold Us Back

44. The Marine Girls - Beach Party

45. David Bowie - The Man Who Sold The World

46. The Wipers - Is This Real?

47. The Wipers - Youth Of America

48. The Wipers - Over The Edge
"Is This Real? Yes it is. The Wipers released maybe four or five albums. The first two were totally classic and influenced The Melvins and all the other punk rock bands. They're one of the bands I tried to assimilate. Their songs were so good. Greg Sage was pretty much the romantic, quiet, visionary kind of guy. What more can I say about them? They started Seattle grunge rock in Portland, 1977."

49. Mazzy Star - She Hangs Brightly

50. Swans - Young God EP

Rabu, 07 April 2010

TADI PAGI DI KRD

Dengan tergopoh-gopoh gw segera berlari ke kereta yang udah ada di depan mata, padahal gw baru aja beli tiket di loket. Tiga hari terakhir kereta listrik yang biasa gw naikin selalu terlambat dari jadwal, dan itu bikin gw terlambat tiba di tempat gawe/kerja (kata bang Iwan Fals, “itu cerita lama”), makanya tanpa peduli gw naikin aja kereta itu.
Sungguh sesak dan minim cahaya di dalam kereta yang gw naikin, heran gw..., tapi segera gw sadar bahwa ternyata nih kereta emang ga bejendela. Pencahayaan dan udara yang masuk cuman dari pintu dengan lebar seukuran dua orang dewasa berdiri jajar.

Ini pasti “odong-odong” kata gw dalam hati. Ya..itulah sebutan kereta rangkaian diesel (KRD) yang oleh para pengguna jasa transportasi kereta jabodetabek. Entah siapa yang pertama kali menamakan itu. Setahu gw sejak gw kuliah, nama kereta diesel itu sudah disebut “odong-odong”. Odong-odong diberangkatan dari Cikampek, sebuah kota setingkat kabupaten (kalo ga salah) yang jaraknya dari Jakarta sekitar……berapa gw juga ga tau pasti, tapi kalo diperkirakan berdasarkan kota-kota singgahan, adalah seperti demikian; ….dari Jakarta terus Bekasi, terus Tambun, terus Cikarang, terus Cibitung, terus Krawang, baru deh …Cikampek (nah…silahkan temen2 mengira2).

Sementara itu bulir-bulir keringat mulai keluar dari pori-pori tangan, sebuah indikator bahwa atmosfir didalam kereta sangat tidak nyaman karena keringat keluar tidak hanya dari badan. Di pojok kanan dari posisi gw tampak beberapa laki-laki bercakap seperti tidak mempedulikan situasi sekeliling. “La iya’, lah…kata mobil polisi ada kaya kawatnya ya’…lah susah…”, kata seorang dari mereka. Seorang lagi menyahut, “lah….dimana-mana namanya udah megang botol…gimana sih…”. Dengan logat betawi pinggiran, entah apa yang mereka diskusikan, renyah sekali nampaknya.
Di setiap stasiun, maka kereta berhenti untuk mengangkut penumpang. Gerbong gw seperti sudah berjejal namun tetep aja ada penumpang baru yang masuk. Setiap ada penumpang baru, terdengar terikan, BONGKAR !!...BONGKAR !! (gw lagi2 jadi teringat lagu bang Iwan Fals ketika berkolaborasi dengan mas Sawung Jabo di Swami, ungkapan “BONGKAR !!” seperti jadi anthem kaum tertindas marginal yang ditujukan untuk penguasa sewenang-wenang). Sementara gw udah bener-bener kejepit, badan ga bergerak bahkan sekedar benerin posisi kaki. Beruntung masih bisa menggerakkan dada untuk mengambil oksigen yang mulai menipis (hiperbola beuds).

Melalui celah tubuh para penumpang yang berjejal mata gw beradu dengan sepasang mata yang sedang natap gw, sepasang mata yang ternyata dimiliki oleh seorang gadis yang manis, dengan rambut tergerai panjang, dia tersenyum ke arah gw, tentu saja gw balas senyumannya.
Gw membatin, “ada juga makhluk manis dalam gerbong terkutuk ini”. Namun sial sungguh sial, jangankan untuk sekedar menyapanya untuk mendekatinya saja suatu hal yang tidak mungkin. Tiba-tiba sekonyong-konyong terdengar batuk yang lebih mirip gonggongan anjing keluar dari mulut seorang anak laki seumuran sekolah menengah pertama. Dari bunyi batuknya seperti dia sangat menderita. Seorang bapak dibelakang gw nyeletuk, “emang kalo naek di gerbong sapi, pasti yang punya bengek kumat”.

Apa gw ga salah denger?, bapak tadi bilang kalo gerbong ini adalah gerbong sapi. Apakah itu hanya ungkapan analogi ketus nan pasrah, atau emang bener-bener gerbong yang diperuntukkan sapi?. Gw coba perhatiian lagi keadaan gerbong....ternyata emang lebih mirip kandang. Sebuah sintesa darurat keluar dari otak gw, “ah...paling ga kalau pun gerbong ini sebenernya diperuntukkan untuk sapi, toh ga kecium sama gw bau sapi atau tai sapi (sory cs) sedari awal gw naik”. Hanya aja emang gw mencium bau beras bercampur bau ketiak!!.

Semakin deket stasiun Jatinegara berarti sebentar lagi gw sampe di stasiun tujuan akhir gw. Dengan sedikit perjuangan gw berhasil menggerakkan tubuh gw sampe dekat pintu keluar gerbong. Gw nengokin kepala keluar, ga sengaja ngeliat spanduk yang terpasang di jembatan dekat rel. Spanduk bergambar seorang (yang mengangap dirinya) Tokoh Reformasi (dasar narsis!!) bertuliskan : “Tuntaskan Reformasi !!”. Pengen gw maki-maki tuh orang; “siapa lo ??!!, dasar oportunis !!”.
Tersadar kemudian, “odong-odong” dengan gerbong sapi-nya sudah tiba di stasiun Jatinegara. Gw bergegas turun sambil nyeka kringet.
Kebetulan pula sebuah toko menyetel radio yang memainkan lagu “Juwita Malam” ciptaan Ismail Marzuki versi Slank.

“kereta kita….segera tiba…
di Jatinegara kita kan berpisah…
berilah nama.., alamat serta..
esok lusa boleh kita jumpa pula.....”

-bobby revolta, 24 Agustus 2007-

14 Things You Should Know (more) About NIRVANA & Kurt



Bulan April akan selalu dikenang oleh para Grunger seluruh dunia, karena pada bulan ini 16 tahun yang lalu, salah seorang pelopor "grunge", Kurt Donald Cobain, ditemukan tewas pada tanggal 8 April 1994 dirumahnya sendiri.
Masih banyak kontroversi ataupun misteri seputar kematiannya, namun yang paling penting diingat dari seorang Kurt Cobain adalah bahwa ditangan dialah sebuah sub-kultur baru terlahir, sebuah generasi yang menolak hal-hal yang glamor, menolak kebohongan dan kepalsuan dalam segala hal, dan (lagi-lagi) anti kemapanan.

Banyak hal lain tentang Nirvana & Kurt Cobain, tapi setidaknya 14 point ini mewakili kejadian-kejadian penting menurut perjalanan waktu (time line) sepanjang karir Nirvana & Kurt;

1. Sebelum menjadi “Nirvana”, Kurt Cobain mempertimbangkan menamakan nama band itu ; Poo Poo Box, Designer Drugs, Whisker Biscuit, Spina Biffida, Gut Bomb, Egg Flog, Pukeaharrea, Puking Worms, Fish Food, Bat Guana, Imcompotent Fools dan Fecal Matter.

2. Kurt memutuskan nama band menjadi “Nirvana”, karena pada saat itu dia menganggap dirinya pengikut Buddha, meski satu-satunya pembentuk iman itu hanyalah sebuah tayangan keagamaan di TV tengah malam. Nirvana mengandung arti “pencapaian kesempurnaan”, suatu tempat yang dicapai seseorang jika sudah terlepas dari siklus reinkarnasi dan penderitaan hidup manusia. Hal itu dicapai melalui menahan nafsu, melakukan delapan ajaran Buddha dan melakukan meditasi serta pengembangan spiritual.

3. Begitu the Melvins sudah mendapat bayaran 60 dolar untuk setiap pementasan, Kurt Cobain dan Krist Novoselic segera membentuk sebuah band bernama Sellouts, yang hanya memainkan lagu Creedance Clearwater Revival, karena mereka tahu itu akan disukai bar-bar di Aberdeen.

4. “Love Buzz” adalah lagu cover song dari sebuah band asal Belanda, Shocking Blue, Kurt dan Krist menyukai lagu itu dan membuat aransemen mereka sendiri. Penampilan mereka dalam lagu itu memadukan unsur trans-psikodelic dengan suara bass yang berat dan bulat.

5. Kurt mengirimkan banyak demo ke Touch and Go dalam tahun 1988 bahkan sampai dia memberi judul demo-demo itu “The Touch and Go Demos” dalam catatannya, demonya begitu tidak menarik bagi orang-orang Touch and Go sampai-sampai tidak seorang pun disana ingat pernah menerima demo itu.

6. Pada saat salah satu pendiri Sub Pop, Jonathan Poneman mengajukan demo Nirvana, semua yang ada di Sub Pop termasuk Mark Arm anggota Mudhoney, menganggapnya jelek dan Arm menolak rekaman itu dengan alasan Nirvana “mirip Skinyard tapi kurang bagus”.

7. Tur pertama Nirvana pada tahun 1989 adalah menyusuri West Coast, yang membawa mereka ke San Fransisco. Paling banyak hanya dihadiri oleh setengah lusin kepala, yang ternyata hanyalah musisi-musisi lokal yang tertarik bergabung dengan label Sub Pop bukannya tertarik oleh Nirvana. Waktu itu Sub Pop memang lebih terkenal daripada band-band yang bernaung dibawah mereka.
Rekor penonton terbanyak, 400 orang, baru terjadi ketika Nirvana membuka penampilan Living Color, band rock dengan singgel yang masuk top 40. Hasilnya pun tidak begitu bagus untuk Nirvana : penonton jelas-jelas membenci mereka.

8. Dalam hitungan minggu, band keluaran Sub Pop, seperti Mudhoney menjadi bintang “GRUNGE” di mingguan musik Inggris. Istilah itu sendir dipakai untuk mendeskripsikan musik punk yang keras, berat dan berdistorsi yang akhirnya digeneralisasikan sebagai jenis aliran setiap band yang berasal dari daerah Northwest, khususnya Seattle. Bahkan Nirvana pun dimasukkan dalam kategori ini, walaupun Kurt Cobain sendiri benci istilah itu.

9. Penamaan singgel “Smell Teen Spirit” berawal dari pada sebuah pesta yang diadakan di apartemen Kurt, Kathleen Hanna (personil Bikini Kill) menulis dinding ruang tidur dengan cat semprot dengan tulisan “Kurt smells like teen spirit”, yang merujuk pada merk deodorant (bermerek Teen Spirit) yang dipakai Tobi Vail (personil Bikini Kill lainnya). Ini adalah guyonan untuk Kurt yang malam itu baru saja meniduri Tobi, yang ditandai dengan ikut menempelnya bau deodorant itu di tubuhnya.

10. Pada awalnya Nirvana akan membuat kontrak dengan Charisma, kontrak itu bernilai 200.000 dolar. Tapi pada menit-menit terakhir Nirvana memutuskan akan membuat kontrak dengan David Geffen Company, sebuah anak perusahaan Geffen Records. Meski perwakilan A&R DGC bukanlah penawar pertama, hubungan kerja dengan Sonic Youth ternyata menjadi faktor penentunya. Dalam kontrak tersebut, Nirvana dibayar 287.000 dolar.

11. Album pertama Nirvana (dengan Major label), Nevermind, menggusur Michael Jackson dari posisi jawara di tangga lagu Billboard, yang berarti menjadi album paling laris di Amerika. Meskipun itu bukanlah kesuksesan yang diraih dalam sekejap, keberhasilan Nirvana menguasai industri musik tidak ada tandingannya. Nirvana menggempur tangga-tangga lagu dengan “Smells Like Teen Spirit”, yang menjadi lagu paling terkenal sepanjang tahun 1991, dan intro gitar dalam lagu tersebut menandakan lahirnya rock dekade 90’an.

12. Nirvana menutup tahun 1991 dengan melakukan pertunjukan pada malam tahun baru di gedung Cow Palace di San Francisco. Pearl Jam yang menjadi band pembuka sempat memainkan sedikit lagu “Smells Like Teen Spirit”, dan dengan bercanda Eddie Vedder berkata kepada penonton, “Ingat, kita memainkannya lebih dahulu dari mereka.”

13. Pada 16 April 1992, Nirvana muncul pertama kalinya dalam sampul majalah Rolling Stone. Dalam foto yang dipakai sebagai sampul (cover depan) itu sendiri, Kurt memakai sebuah t-shirt bertuliskan “Corporate Magazine Still Suck.”

14. Pada Reading Festival tahun 1992, Nirvana menjadi band utama. Selain itu, Kurt mengatur band-band yang tampil, seperti the Melvins, Screaming Trees, L7, Mudhoney, Eugenius dan Bjorn Again.

*Sebuah Intisari dari buku “Heavier Than Heaven, Kurt Cobain Biografy” by Charles R. Cross
Dirangkum oleh : Bobby Setenk
Dipublish pertama kali di Grunge webzine "TOTAL FEEDBACK.com", 17 April 2009

DEHUMANISASI


MAKNA “HUMAN” SEBANDING ARTI DENGAN MANUSIA.
TERDAPAT KALAM SEORANG LEVI STRAUSS, DIA BERKATA MARI "MEMANUSIAKAN MANUSIA".
HERE’S THE MEANING LADIES AND GENTLEMEN; “MEMANUSIAKAN” MENGANDUNG ARTI SUBYEK SEDANGKAN “MANUSIA” MENGANDUNG ARTI OBYEK.
MASIH BINGUNG?.....MUNGKIN INILAH SAATNYA MERENUNGKAN APA MAKSUD LEVI STRAUSS.

BEBEK BERKUMPUL DIGIRING TUANNYA, KERBAU BERKUMPUL DIGIRING TUANNYA, WILDDEBEAST DI SABANA BOSTWANA BERKUMPUL BERLARI-LARI, JUGA DIGIRING MAKHLUK LAINNYA YANG BERADA DIPUNCAK RANTAI MAKANAN.
DEMIKIANLAH ADANYA; MAKHLUK YANG BERKUMPUL, DIGIRING, TEROMBANG-AMBING KESANA-KEMARI, MENURUT, ADALAH MAKHLUK TERENDAH DALAM RANTAI MAKANAN.

MANUSIA BERKUMPUL BERHARAP BERPELUH MERANA.
DI KOREA UTARA MANUSIA BERKUMPUL MENGALUNKAN PADUAN SUARA MENGANGGUNGKAN SANG PEMIMPIN BESAR SANG JENDRAL BESAR, ENTAH SEBAGAI PENGHARGAAN ATAU PENGEJEWANTAHAN RASA TAKUT LUAR BIASA?.
DI INDONESIA, MANUSIA BERKUMPUL SAMBIL BERHARAP, BERPELUH, MERANA, UNTUK BANTUAN YANG TIDAK LANGSUNG DAN TUNAI, NAMUN DISEBUT LANGSUNG DAN TUNAI, DEMIKIAN ADANYA....,LANGSUNG..."LANGSUNG HABIS".
PULA MEREKA BEREBUT HADIAH DARI CALON-CALON LEGISLATOR DAN PARTAI-PARTAI PENGUMBAR MIMPI.

“DE” ADALAH “TIDAK”, SEDANGKAN “HUMANISASI” ADALAH SEPERTI KATA LEVI STRAUSS DIATAS.
BINGUNG?.....INILAH SAATNYA MERENUNG.

"AnaRcHist CoOK BooK"; versi gw !!


Buat temen2 yang hari ini 9 Desember 2009, turun ke jalan memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, saya ucapkan selamat berdemonstrasi.
Memang korupsi itu bagai virus maut bagi kehidupan berbangsa & bernegara. Uang negara yang harusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat banyak, malahan dimakan/dinikmati sekelompok manusia yang sedang memegang kekuasaan formal negara, baik di tingkat kekuasaan eksekutif, legislatif & yudikatif.
Jelas ini (harus) di-berantas ! (words by Iwan Fals).
Tapi jangan lupa juga kalo besok, 10 Desember 2009 adalah peringatan 61 tahun Deklarasi Hak Asasi Manusia Sedunia. Ingat juga…, selama kasus Munir yang “mati di udara” (words by Efek Rumah Kaca) tidak ada kejelasan siapa dalangnya, selama penegakan hukum yang tegas cuman buat orang miskin dan kaum marginal dsb masih terjadi saat ini, selama kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih jadi kabut gelap, berarti penegakan HAM di sini belum/tidak tuntas, dan harus terus diperjuangkan.

Tentu saja dalam suatu “aksi” demonstrasi kita semua tidak menginginkan keadaan clash yang bisa menjadi chaos, namun terkadang di jalanan semua dapat terjadi termasuk keadaan clash tadi dalam arti pertempuran jalanan Aparat vs Demonstran.
Ini sedikit tips dari saya :

1. Sebisa mungkin hindari clash. Biasanya ada provokator, kalo ada indikasi tsb, amankan provokator itu.

2. Kalo clash tidak terhindar :
- Jangan panik berlebihan, hanya ada satu kata : “LAWAN !”
- Segera bawa demonstran perempuan ke tempat aman.
- Untuk meredam efek gas air mata, oleskan odol disekitar mata dengan volume proposional.
- Sebaiknya hindari semburan “water canon”, karena biasanya air dalam water canon sudah dicampur zat tertentu yang membuat gatal kulit.
- Tabung gas air mata yang baru terlontar, masih bisa dilempar balik ke arah aparat secepatnya sebelum menyemburkan lebih banyak gas putih. Sebaiknya memakai sarung tangan atau apapun yang dapat melindungi telapak tangan, karena tabung tersebut lumayan panas.
- Hindari jenis gas air mata dalam bentuk lebih kecil dari tabung. Kira2 bentuknya seperti swastika dan tiap lontaran mengeluarkan bunyi seperti gasing. Jenis gas air mata ini efek lebih perih ke mata dan panas ke kulit. Penanganan meredamnya seperti saya utarakan diatas, dengan odol dan dibasuh dengan air bersih sebanyak-banyaknya.
- Pertempuran jalanan sebenarnya tidak berimbang. Aparat memakai senjata standar penghalau demonstran yaitu senjata dengan peluru karet. Untuk menghindari terkena tembakan peluru karet, jangan bergerombol karena akan memudahkan bidikan. Percayalah, terkena peluru karet cukup sakit, apalagi terkena mata, berbahaya.
- Untuk menghindari dugaan clash telah direncanakan dan aksi demonstrasi dianggap “tidak murni”, sebisa mungkin jangan menggunakan Bom Molotov. Batu2 conblok untuk trotoar bisa dicabut dan digunakan sebagai “senjata”.
- Membakar ban bekas yang menimbulkan asap hitam cukup menyulitkan pandangan aparat. Ingat; hanya ban bekas ! bukan mobil, gedung, rumah atau apapun selain ban.
- Apabila clash berlangsung cukup “fair”, dalam arti aparat tidak menggunakan bom gas air mata, senjata peluru karet dan water canon, maka rapatkan barisan dan hadapi dengan “satu komando-satu perjuangan”. Kayu/bambu sudah cukup menjadi “senjata”.
- Politik jaman penjajah Belanda dulu yaitu “Devide et Impera” terkadang, bahkan saat ini sering diterapkan oleh Aparat. Organisasi2 Masyarakat tertentu seolah2 “mendukung” aparat. Mereka diarahkan untuk berhadapan dengan demonstran oleh aparat. Indikasi ini mulai muncul di tahun 1999-2000 dengan “dibentuknya” PAM-SWAKARSA atau RATIH (Rakyat Terlatih).
Menurut saya, jika saat demonstrasi berhadapan dengan mereka sebaiknya gunakan pendekatan persuasif atau menghindari tantangan fisik mereka. Karena jika clash dengan mereka justru keadaan tersebut yang dikehendaki oleh aparat.
Cari jalan/arah lain menuju titik tujuan “aksi” demonstrasi.
- Apabila karena keadaan yang “tidak berimbang” sebagaimana saya utarakan diatas terjadi, posisi demonstran terdesak maka berhadapan secara frontal dengan aparat adalah konyol. Daerah sekitar “sasaran” demonstrasi seperti gedung MPR, Semanggi, Bundaran HI dan Istana Negara dikelilingi pemukiman padat penduduk dan banyak “jalan tikus” berupa gang. Segeralah mengamankan diri ke tempat2 yang saya maksud itu.
- Setel lagu sebagai soundtrack supaya semangat : “Street Fighting Men”, lagunya Rolling Stone tapi versi Rage Against the Machine & “Demonstran”, lagu dari sebuah band Indie scene grunge dari Jakarta bernama “the Bolong”.(yang satu ini optional)

*dipublish pertama kali: 9 Desember 2009, bertepatan "hari anti korupsi sedunia"