Rabu, 15 Desember 2010

Petugas SPBU itu bernama “Ahmad Dhani”


Senin malam kemarin, aku kebetulan harus pulang kerja aga larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Biasanya aku termasuk karyawan “tenggo” alias jam lima “teng” langsung “go”. “Untuk rapat Board of Direction besok, laporan ini harus selesai sekarang”, demikian atasanku berkata sedari pagi tadi.
Keluar gedung kantor tempatku bekerja cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya temaram lampu penerang jalan dan cahaya pendar berkilauan yang berasal dari gedung-gedung bertingkat lainnya yang bersebelahan dengan gedung kantor kerjaku. Ada perasaan lega dalam hati, karena akhirnya aku selesaikan juga pekerjaan yang bertumpuk tadi, dan ada juga rasa syahdu demi melihat pendar cahaya-cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu gedung yang mencoba melawan gelap pekat alami malam.
Jumlah motor yang ada tempat parkir motor tidak sebanyak lagi dibanding tadi pagi, hanya saja memang ada sekitar dua puluhan motor lagi masih disitu, “pasti orang bagian Akuntansi dan Keuangan”, gumamku dalam hati. Kunyalakan mesin motorku, kudiamkan terlebih dahulu barang satu menit sekedar memanaskan mesin, tak lupa berdoa mohon keselamatan akan perjalanan pulang hingga sampai di rumah dengan selamat, kulirik jam tanganku, menunjukan pukul 8.15 malam, kemudian motor pun ku gas.  
   
Dalam perjalanan pulang, aku menyempatkan untuk mengisi bahan bakar motor yang indikatornya sudah menunjukan posisi merah yang artinya harus segera diisi.
Antrian di gardu pengisian bensin khusus motor cukup panjang, padahal sebentar lagi jam 9 malam. “Jakarta hari senin emang sibuk banget”, kataku dalam hati.  Akhirnya tiba giliranku di mesin pengisian bensin, seperti biasa petugas Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum (SPBU) itu menyapa dengan ramah ala iklan sebuah perusahaan minyak milik negara yang slogannya “Pasti Pass”.
“Di posisi nol ya pak”, katanya sambil menunjukan meteran digital pada mesin tersebut. “Ya”, kata saya. Padahal terus terang aku enggan melihat ke arah meteran digital mesin itu sekedar mengecek kebenaran perkataan petugas mesin pengisian bensin yang melayaniku. “Aku percaya ko”, masakan iya ketimbang mengisi bahan bakar 1,5 liter si petugas tega menipu, demikian pikirku.  

Selintas mataku tidak sengaja melihat name tage petugas yang mengisi bensin motorku, tertulis.......“AHMAD DHANI”.
Keren namanya bang,….Ahmad Dhani”, spontan aku sapa petugas SPBU. Dia menjawab, “hehehe…iya pak, namainnya pake bubur merah putih nih”. Salah satu tradisi di Indonesia, para orangtua membuat bubur beras ketan berwarna merah putih kemudian dibagikan kepada sanak family atau tetanga sekitar rumah sebagai ungkapan syukur atas lahirnya anak mereka. Tapi kemudian dia menyambung, “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, katanya sambil senyum kecut seolah-olah metertawakan diri sendiri.
Aga kaget juga aku mendengarnya, kemudian aku menimpali, “jangan gitu bang, biar gitu nama abang pemberian orang tua”.

Aku berlalu dari SPBU itu, tapi pikiranku tertinggal di SPBU tadi. Yang paling teringat dan nyangkut dibenakku dari adalah kata-kata petugas SPBU tadi adalah; “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, sekali terngiang, dua kali terngiang, sampai terus saja terngiang.
Terus terang saja, aku juga belum merasa hidupku “keren”, meskipun namaku bukan “Ahmad Dhani”. Aku seorang karyawan kantor yang kerja berdasarkan perintah atasan dalam bentuk secarik kertas disposisi untuk melakukan ini dan itu, akan baik atau tidaknya hasil kerjaku, aku juga tidak tahu pasti, yang penting aku sudah mengerjakan sesuai bidang keilmuanku. Toh biasanya kebijakan atau keputusan tindakan perusahaan tempat kerjaku dalam operasionalnya merupakan hasil keputusan “top level management”. Apakah keputusan itu berdasarkan review atau rekomendasiku, aku tidak tahu pasti, karena memang tidak pernah diberitahu.
Well…., aku selalu berpikir bahwa kehidupan “8 to 5 world” sebenarnya tidak cocok buat aku yang berjiwa bebas, menolak formalitas dan etika basa-basi.    
Maka dari itulah aku tidak pernah berhenti berusaha membuat hidupku lebih “keren” dari sekarang, dan mudah-mudahan aku tidak perlu meratapi nasib sementara ini, buat apa?

Sebenarnya pengen nanya lagi siy ke petugas SPBU tadi, pertanyaan usil, “bang AHMAD DHANI, gimana kabar Mulan Jameelah?” ……heheehe…cabut ! 

I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I say to myself
What wonderful world

I see skies of blue and clouds of white
Bright sunny days, dark sacred nights
And I think to myself
What a wonderful world

The colors of the rainbow are so pretty in the skies
Are also on the faces of people walking by
I see friends shaking hands saying
How do you do?
They're really saying
I love you

I see babies cry, I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself
What a wonderful world
Yes, I think to myself
What a wonderful world

And I say to myself
What a wonderful world

(what a wonderful world, versi Joey Ramones)

Kamis, 30 September 2010

PALU-ARIT, SENDOK-GARPU, GITAR & PENA

Hari Ini di Jakarta, 45 tahun yang lalu.
Terbilang hari-hari mencari jawaban.
Tetap kelabu....
But lifes (must) goes on

http://id.news.yahoo.com/lptn/20100930/tpl-rekonsiliasi-peristiwa-g30s-pki-e5c0aa3.html

Selasa, 25 Mei 2010

MALAM INI SEMUA BISA TERJADI !! (Anything Goes Tonight !!)

Sudah menjadi kebiasaan The Cocons setiap malam minggu mereka latihan band, dan sudah menjadi habit (kebiasaan.penulis) pula dalam setiap aktivitas bermusik mereka minuman beralkohol ditenggak oleh David, Joe dan Chris, kali ini Jack D jadi korban mereka. Kecuali drummer mereka Danny, nih anak cuma doyan canabis !!. Dan hal itu tidak menjadi masalah buat the Cocons, malah mereka seneng banget sama keadaan DAnny seperti itu. Suatu kali David bilang ke Danny ; “Danny my men…., pertahankan prestasimu, smoking from rasta Jah !!”
Jeda satu lagu, tante yang punya studio, dari kaca sudah memberi kode dengan mengacungkan satu jari telunjuknya. Anak-anak the Cocons sudah paham, berarti waktu rental studio sudah hampir habis dan ada kesempatan 1 lagu lagi.

Tuh tante studio udah berumur juga masih enak diliat. Rambut nya dicet pirang n suka pake rok mini pula, n gayanya itu loh....kecentilan. Suka ngelempar joke-joke porno. Pernah suatu kali pas the Cocons mau latihan Joe berbasa-basi ngajak tante nyanyi bareng the Cocons, dia bilang, “aahh..tante sih lebih suka karokean, tapi pake mick yang alot”.BUSSSEEEEETTT!!!. Malam itu tumben si tante ngasih kode pake satu jari telunjuk, biasanya kodenya satu jari tengah !!!! Si Chris bilang ; “kayanya si tante “bisa” nih…..”. Pokonya high quality MILF lah!
(MILF, kepanjangan dari “Mother I Like/Love to F*ck”. Istilah yang terkenal di Amrik sana untuk mengkategorikan perempuan berumur diatas 35 tapi masih kliatan cantik & seksi.penulis)

Sebagai lagu terakhir dalam latihan kali ini sebuah lagu cover dari Black Sabbath “Iron Man” dimainkan ;

Has he lost his mind
Can he see or is he blind ?

Can he walk at all,
Or if he moves will he fall ?


Is he live or dead ?
Has he thoughts within his head ?
We'll just pass him there
Why should we even care ?


Nobody wants him
They just turn their heads
Nobody helps him
Now he has his revenge


Jam menunjukan setengah satu dini hari ketika mereka keluar studio. “Kemana kita?”, tanya Chris. “Gw balik ah, ngantuk gw…”, kata Danny. “Sama…gw juga balik, tadi seharian gw ke Kemang trus lanjut ke Sabang nyari CD....cape gw”, kata David. “Elo Joe?.., jangan bilang lo mo balik juga...”, kata Chris dengan nada sedikit mengancam. Tanggapan Joe cuma tersenyum penuh arti kemudian dia bilang, “Vonny waiting...heeeee”. “Payah lo semua...!!, c’mon guyss..., gw masih tinggi nih..masih asik bawaannya. Pengaruh Jack D blom ilang, jalan dulu ke’, nongkrong dulu ke’ “, pinta Chris. “Sorry men…minggu depan deh, kita nongkrong sampe pagi, beneran nih gw cape banget”, balas David. “Dah ah..,gw cabut!! CU guys..”, kata Danny sambil nyemplak motor Kawasaki ninja nya.
Akhirnya ketiga kawan Chris pergi meninggalkannya sendirian, masih di pelataran studio. Clingak-clinguk sendiri macam burung Bangau di sawah, “kemana yah gw…?”, kata Chris membatin. “Ah…gw jalan aja lah kemana ke’ “, katanya lagi. Kemudian dia menyetop bus malam yang masih beroperasi, tidak jelas bus menuju kemana, yang penting dia bisa meninggalkan tempat itu. Sepertinya malam itu Chris memendam suatu perasaan yang dia sendiri ingin membawa pergi jauh. Entah apa, sementara ini hanya dia yang tahu.

“Kiri bang....”, katanya kepada kernet bus. Dia sampai di suatu tempat yang pencahayaannya remang di bawah fly over, entah dimana. Alasannya dia untuk turun dari bus tadi karena HIV....Hasrat Ingin Vivis, udah ga ketahanan karena udah diujung.
“Naaahh...ada pohon nganggur tuh...”, katanya. Tanpa tedeng aling-aling (halah..bahasa apa pula.penulis) dia membuka resleting celananya…dan…seeeerrrrr….
“Haaaaaahhh...lega gw...”, katanya sambil tertawa kecil sendiri.
Setelah membuang hajatnya, dia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri trotoar.
Di depan dia melihat seorang gadis seksi berambut panjang, badannya wangi, memakai rok jeans yang digunting asal sejengkal diatas dengkul, sendal berhak tinggi, memakai baju model harajuku yang lagi nge-tren dikalangan para gadis Jakarta gara-gara penampilan duo Ratu Maia n Mulan yang fresh look pada saat mereka belum bubar, tampak bagian atas belahan buah dada yang putih bersih menyembul di bagian atas baju yang dikenakannya. Gadis itu sedang menerima telpon dari Hand Phonenya. Chris terpana melihatnya kemudian melempar senyum. Terdengar gadis yang sibuk berbicara dengan lawan bicara di HP nya berkata, “eh…ntar lo telpon gw lagi…gw ada temen nih”. Dia menutup HP dan berkata kepada Chris, “haayyy cowo mo kemana?...sendirian aja nih”. Emang itu yang diharapkan Chris, ditegur sama Gadis sexy tadi. “Ga tau nih….jalan-jalan aja”, kata Chris. Kemudian disambungnya, “nah elo ngapain di tempat kaya gini ?”. Si cewe membalas dengan nakal, “nyari mangsa…”. Otak Celebrum Chris tanggap secara cepat bagaikan otak processor Intel Pentium yang terbaru dan tercanggih dalam memproses data ngadepin situasi kaya gini. Sebuah kalimat cepat meluncur dari mulutnya ; “….nih gw mangsa…”. Gadis itu dibuat malu oleh jawaban tak kalah nakal Chris, kemudian dia tertawa. Chris berkata, “eh cw…lo mau ga nemenin gw?…”. Si gadis menjawab, “boleh aja…tapi setiap jengkal kota ini ada harganya” (thanxxxxxxxxx to The Brandals buat lirik super keren itu !.penulis). Chris bereaksi, “Whaaaattt??!!!!”. Belum sempat Chris berkata lagi, si cewe melanjutkan kata-katanya, “biasanya tarif gw buat long time 1,5 jeti (juta.penulis)….., tapi karena gw suka sama lo, lo gw kasih harga 500 deh…long time…kita ke hotel, trus kita minum, santayy, pokonya kita seneng-seneng malem ini”.

Chris Van Gill nama lengkapnya, sejauh ini banyak cewe yang nge fans sama Chris. Garis keturunannya cukup bagus, Bapaknya orang Belanda, sedang ibunya dari Manado, maen gitarnya ok karena gitaris panutannya Angus Young dari AC-DC dan Abdee Negara dari Slank, pembawaannya ramah n supel, potongan rambut nya sekarang mirip Junot di film Realita, cinta dan Rock n Roll. Tampang Indo.
Chris berpikir sejenak, kemudian dia tanya, “servis lo asik ga?”. “Gw jamin lo puas…addict malah sama gw”. Satu kata keluar dari mulutnya, “wawww..” terus….”glek”. “OK deh…”, kata Chris semangat sekali dia.

Mereka pun menyetop taksi dan membawa mereka ke hotel “check in”. Tak berapa lama mereka sampai ke hotel tujuan. Urusan Front Office slesai langsung mereka menuju kamar.
“Eh cewe…,gila ye…masa dari tadi gw blom tau nama lo”, kata Chris. “eh iya....lo panggil aja gw Ocha”, kata gadis itu. “Gw Chris...”, balas Chris. Mereka pun melanjutkan dengan pembicaraan kecil, dan tentu saja...alkohol...kali ini yang light (ringan.penulis).....2 botol beer dicampur minuman energi yang dibeli di cafe hotel. “Cha...lo cantik banget sii...”, kata Chris. “Makasih”, kata Ocha, tampak Ocha tersanjung dengan pujian entah ikhlas atau gombal dari Chris. Ocha merebahkan dirinya ke kasur. Bahasa tubuh yang sangat dipahami Chris. Chris mendekati Ocha….kini bibir mereka berdua bertemu….,lincah dan kreatif tangan Chris menari di tubuh Ocha (ga perlu lah gw jelasin detail gimana “permainan” Chris, nanti malah jadi stensilan ala Enny Arrow donk crita gw ini, padahal kan tema nya rock n roll !! btw masih ada ga sii stensilan??trus Enny Arrow tuh sebenernya siapa yaks??.penulis). Malam itu bener-bener H-O-T !!!! Sampai kedua anak manusia itu Chris hanya mengenakan Celana Dalemnya, sedangkan Ocha tinggal two pieces.

Gantian kali ini Ocha bekerja keras nan kreatif, tangan nya sigap masuk ke dalam CD (Celana Dalem.penulis) Chris dan menyentuh kemaluannya. Tiba-tiba…..; “MELLAAAAAAA !!!!!”…..”, Chris spontan teriak. Ocha pun kaget, “kenapa Chris??!!”. Chris langsung duduk di pinggir kasur menutup muka dengan telapak tangan nya. “Ya Tuhaaaannn……, maapin gw Mell,…ini salah…gw salah”, kata Chris dengan nada menyesal. Dia pun menangis. Ocha si gadis sexy cuma bisa bengong dengan pemandangan di depan matanya. “Sorry Cha....gw ga bisa ngelanjutin ini...lo ambil sendiri bayaran buat lo di dompet gw, gapapa....”. Ocha pun mengenakan kembali pakaiannya dan mengambil uangnya seperti kesepakatan mereka. “Lo yakin ga mau lanjut?”, tanya Ocha bersiap-siap meninggalkan kamar hotel. “engga Cha, sorry banget...gw suka elo...tapi gw ga bisa banget melakukannya malem ini..., sorry ya”, kata Chris. “Ya gapapa, no problem lagee.., tp kalo pengen ketemu gw lagi nih nomer HP gw...anytime buat elo gw siap”, kata Ocha sambil nyerahin secarik kertas yang sudah dituliskan Nomor HP nya. “Thanks Cha...”, kata Chris. “Bye-bye..CU yah”, Ocha pun meninggalkan kamar hotel.

Tinggalah Chris sendiri di kamar hotel, sudah kembali mengenakan celana jeansnya namun masih bertelanjang dada, tampak tato motif tribal di lengan kanannya. Duduk di kursi kamar hotel sambil merokok dan menenggak sisa beer tadi.
Pikirannya menerawang jauh, mengingat ke masa lalu saat-saat bersama kekasihnya………Mella.

Mella kekasih Chris, tewas dua bulan yang lalu. Dia Over Dosis akibat terlalu banyak menggunakan putaw. Mella tewas dipangkuan Chris.

Kamis, 06 Mei 2010

BANK DUNIA DAN SRI MULYANI

Ada berita yang cukup mencengangkan 3 hari terakhir ini, yaitu ditunjuknya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjadi Managing Director atau Direktur Operasional Bank Dunia mulai 1 Juni 2010 menggantikan pejabat lama yang akan habis masa jabatannya pada 30 Mei 2010, Juan Jose Daboub. Saya sebut mencengangkan bukan karena ada wakil Indonesia aktif duduk sebagai salah satu pejabat teras suatu organisasi level Internasional, namun sebagaimana kita ketahui bahwa beliau saat ini berada dalam pemeriksaan dugaan penyelewengan uang negara sebesar Rp 6,7 triliun.
Sedemikian maha pentingkah jabatan di Bank Dunia?, apa dan bagaimana Bank Dunia?, dibawah ini saya akan paparkan sedikit;


International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) -- lebih dikenal sebagai World Bank/Bank Dunia -- merupakan sebuah lembaga keuangan internasional yang pertama. Didirikan pada 27 Desember 1945 setelah ratifikasi internasional mengenai perjanjian yang dicapai pada konferensi yang berlangsung pada 1 Juli–22 Juli 1944 di kota Bretton Woods. Markas Bank Dunia berada di Washington, DC, Amerika Serikat. Secara teknis dan struktural Bank Dunia termasuk salah satu dari badan PBB, namun secara operasional sangat berbeda dari badan-badan PBB lainnya.
Meskipun IBRD telah berkembang pesat selama beberapa dekade, struktur dasar dalam Anggaran Dasar tidak berubah. Anggaran Dasar tersebut menggambarkan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan organisasi secara umum, sementara untuk perincian operasional diserahkan kepada pihak manajemen Bank Dunia dan dewan direktur eksekutif.
Tujuan utama Bank Dunia adalah membantu pembangunan di negara anggota dengan memberikan fasilitas investasi dana untuk tujuan-tujuan yang produktif. Juga untuk menciptakan pertumbuhan perdagangan internasional dalam jangka panjang dan seimbang dengan cara mendorong investasi internasional. Dengan demikian membantu dalam meningkatkan produktivitas, standar hidup, dan kondisi buruh. IBRD melakukannya dengan jaminan investasi swasta serta pinjaman langsung yang diambil dari modalnya sendiri. Perbaikan dan pembangunan mendapatkan prioritas yang sama dalam aktivitas Bank Dunia.


Modal awal Bank Dunia sebesar 10 miliar dolar AS, senilai 70 atau 80 miliar dolar AS pada tahun 1993. Itu merupakan "jumlah yang besar" seperti yang diamati oleh para delegat di Bretton Woods, yakni "jauh melebihi modal bank mana pun".20 persen dari modal akan dibayarkan oleh negara-negara anggota dan sisanya (80 persen) akan "dicantumkan" sebagai jaminan. Rasio dari pembayaran sampai modal yang dapat diambil telah menurun selama bertahun-tahun. Pada tahun 1993 modal keseluruhan Bank Dunia 165,59 miliar dolar AS, dan hanya 10,53 miliar dolar dibayarkan.Jaminan oleh negara-negara industri utama (modal bank yang dapat diambil) membuat Bank Dunia dapat menaikkan uang untuk peminjaman dengan meminjam dari pasar modal internasional; Bank Dunia menarik bunga dari para peminjam sebesar setengah persen di atas ongkos peminjaman, menyimpan selisih bunga itu untuk membiayai pengeluaran operasional dan untuk menambah cadangan. Keanggotaan dalam IMF adalah prasyarat untuk dapat bergabung dengan Bank Dunia.
Bank Dunia hanya memberikan pinjaman untuk "proyek-proyek tertentu", yang dalam praktiknya adalah bendungan, jalan raya, pembangkit listrik, dan sebagainya. Bank Dunia harus memastikan bahwa dana pinjaman hanya digunakan untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan ketentuan penjaminan pinjaman, dengan perhatian pada pertimbangan atas ekonomi dan efisiensi, tanpa memandang pertimbangan atau pengaruh politik atau faktor nonekonomi yang lain".


Staf Bank Dunia akan melakukan kunjungan selama beberapa hari atau beberapa minggu ke negara sasaran. Hasil kunjungan itu kemudian digabungkan dengan riset data di belakang meja. Setelah itu, staf tersebut memerintahkan suatu pengumpulan data untuk menyusun rencana pembangunan bagi setiap aspek yang relevan dari kerangka sosial suatu negara.
Bank Dunia akan terus mengamati score pemerintah saat menyusun rencana tersebut, yang tentu saja akan berupaya meregulasi "setiap aspek yang relevan" dari masyarakat. Berdasarkan pengumpulan, penyaringan dan pengorganisasian informasi Bank Dunia, maka lembaga pendonor lainnya akan membantu memberikan dana untuk setiap elemen utama pembangunan yang dirumuskan di bawah pengawasan Bank Dunia.
Bank Dunia menekankan aspek kuantitas bukan kualitas dari proyek-proyek yang didanainya, sehingga salah satu syarat pendanaan pada suatu negara adalah terjaminnya “stabilitas” dibidang ekonomi. Hal tersebut memaksa pemerintah menerapkan privatisasi perusahaan-perusahaan negara, membuka selebar-lebarnya investasi asing (liberalisasi) dan diterapkannya upah buruh yang rendah.
Di bidang lingkungan hidup, perambahan hutan (deforestasi) dikonversi menjadi perkebunan sehingga dimaksudkan agar lebih bernilai ekonomis. Di era Presiden Suharto, pembukaan sejuta hektar lahan gambut (rawa) untuk dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Kebijakan tersebut berakibat kehancuran ekologis, dikarenakan fungsi lahan gambut sebagai daerah resapan air dikonversi (alih fungsi) menjadi perkebunan, mengakibatkan bencana banjir besar.


Belum lagi mental-mental pemerintah korup di Negara yang menjadi donor Bank Dunia,
India bisa dijadikan contoh lain mengenai korupsi dan penyelewengan bantuan untuk kaum miskin, sejak negeri itu (dan tampaknya untuk seterusnya) menjadi negara pengutang terbesar Bank Dunia, dengan banyak penduduk yang masih berada dalam kemiskinan absolut. Pertanian India, terutama pertanian irigasinya adalah medan pertempuran terpenting dari strategi perang McNamara dalam memberantas kemiskinan.
Pada tahun 1982, Robert Wade -- peneliti kebangsaan Inggris -- menggambarkan korupsi yang sudah menjalar di badan administrasi irigrasi sebuah negara bagian yang terpencil di selatan India. Dia mengungkapkan, ternyata di beberapa daerah, sistem irigasi dibangun dan dioperasikan bukan untuk kepentingan petani gurem. Bahkan selanjutnya Wade mengatakan, kinerja buruk pada proyek-proyek irigasi kemungkinan akibat buruknya pengoperasian dan pemeliharaan irigasi. Kecenderungan yang terjadi adalah berlomba-lomba menaikkan jumlah pendapatan haram di antara staf badan administrasi irigasi dan para politikus di daerah itu.
Dalam studi kasusnya di selatan India ditemukan, 50 persen dana perawatan lenyap dikorupsi. Selain itu, para insinyur irigasi tampaknya memiliki iktikad buruk karena sering membuat pasokan air jadi tidak menentu, menutup pasokan air bagi perkampungan yang kekurangan, hingga penduduk terpaksa membayar uang sogokan untuk mendapatkan air. "Pendapatan dari uang sogokan akan semakin besar jika pasokan air semakin tidak menentu.
Lalu bagaimana penerapan “bantuan” donor Bank Dunia di Indonesia?apakah lolos dari usaha-usaha penyelewengan?.


Demikianlah sedikit pemaparan tentang Bank Dunia, yang ternyata (menurut saya) bukan lembaga yang tanpa “noda”.
Saya setuju terhadap pendapat bahwa seseorang menjabat di lembaga internasional tersebut pastilah orang pintar. Namun permasalahannya bukan tidak dihargainya seorang Sri Mulyani sebagai orang pintar akan menjabat di Bank Dunia. Uang negara sebesar Rp 6,7 triliyun tidaklah sedikit, ketidakjelasan kemana aliran dana tersebut hingga kini tidak jelas rimbanya. “Kepintaran” seseorang tidak lantas menghapuskan pertanggungjawaban atas dugaan penyelewengan uang negara yang harusnya digunakan untuk kepentingan Rakyat Indonesia.
Masih banyak orang pintar di Indonesia yang bermartabat dan sangat layak mendapat pengakuan Nasional maupun Internasional tanpa harus menjabat di kancah internasional, manfaatnya justru lebih kentara dan langsung terasa, contohnya Saur Marlina Manurung seorang sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran, Bandung. Mengabdikan dirinya untuk pendidikan masyarakat kaum marginal dengan mendirikan “Sokola Rimba”, menetap untuk mengajar dan mendidik di kawasan pedalaman yang dihuni Suku Anak Dalam–orang banyak menyebutnya Suku Kubu, Jambi.

-Bobby Setenk-, 6 Mei 2010

Bacaan lanjut :
- “Menggadaikan Bumi”, Bruce Rich, penerbit: Infid 1999
- Wikipedia Indonesia, artikel “Bank Dunia”
- “Butet” Saur Marlina Manurung, beberapa artikel internet.

Rabu, 14 April 2010

LOMPAT KASUR (Bed Diving)

Hari itu David mengunjungi Joe Felis, kawan band-nya di “The CoCOn”. Minggu pagi menjelang siang yang cerah…, setelah lebih dari seminggu mereka tidak berjumpa dan bertegur sapa. Tempat tinggal mereka sekarang berjauhan, tidak satu lingkungan lagi, sehingga agak sulit berkomunikasi antar mereka, dikarenakan pula Joe saat ini tidak lagi memiliki Ha-Pe, rusak keseringan dibanting oleh pacarnya karena terlalu sering masuk sms-sms dari orang-orang (cewe) yang ga jelas dan tidak bertanggung jawab, yang bunyi redaksional sms-nya rata2 : “lagi ngaps say?”

David membuka pintu pagar rumah Joe, karena sudah biasa dan mengenal dekat keluarga Joe, dia langsung menggeloyor masuk pekarangan rumah Joe.
Ditemuilah ibu-nya Joe, “Pagi Bunda”, kata David bersopan santun kepadanya. “Eeeehh…David, kemana ga kliatan seminggu ini?”, balas ibunda Joe. ”Saya sakit Bunda..., Joe ada Bunda?”, timpal David berturut-turut seperti menghindari pertanyaan Ibunda Joe lebih lanjut. “Ada, langsung aja ke kamarnya…., masih tidur..”, kata Ibunda Joe. David menuju kamar Joe. Pelan-pelan ia membuka kamar Joe dan dilihatnya Joe masih pulas tidur mengenakan celana basket yang sudah super butut.

David langsung mengambil ancang-ancang gaya Diving stage, sebuah ekspresi menikmati musik hingar-bingar nan cadas dimana penonton naik ke atas panggung kemudian melempar diri atau terjun kembali ke lautan penonton dibawahnya. Loncatlah David dengan gaya punggung tepat menindih Joe yang sedang nikmat-nikmatnya tidur.
“Hegggghhhhhh !!!!!!”……suara itulah yang keluar dari mulut Joe ketika ditindih oleh David.
“ANNNJJIIIIIIIIGGGGGGG !!!!!!!!!”…….teriak Joe.
”Hahahahahahahahahahhahahahha”…, tawa David puas sambil memegang perutnya karena menahan kegelian melihat reaksi Joe.

“Damn it lo Vid !!”, maki Joe kepada David. “Lagi-lagi elo nge-Bed Diving gw”, lanjut Joe.”Hehehehe…..sorry men, daripada gw bangunin gw sentil biji lo, mening mana?”, sergah David. “Tai lo !, kaga ada yang mening, ga enak dua2nya bangsat !”, balas Joe. David malah tetep cengar-cengir kuda.
Kedua sahabat David dan Joe, emang sahabatan kental didalam dan diluar band mereka. Tumbuh di lingkungan yang sama, dan minat akan musik yang sama. Joe seorang yatim, Bapaknya meninggal dunia ketika dia masih sangat kecil. Makanya ga aneh kalo Joe bengal. Suka berkelahi, udah berambut gondrong sejak sekolah menengah tingkat atas, punya tato kebanggaan gambar kepala suku indian di lengan kanan, suka dicariin bokap para gadis2 belia, udah gitu nih anak rese banget kalo mabok (berkali-kali David suka nahan Joe yang udah ga tahan pengen nampolin/mukulin orang). Potongan rambutnya panjang sebahu, lurus dan berwarna merah persis seperti Axl Roses lagi jaman “Appetite for Destruction”.

“Dah siang men…bangun lo !”, kata David. “Semalem begadang gw, sampe jam setengah lima….., jam berapa sih sekarang?”, tanya Joe. “Jam setengah sebelas....dah cukup lah lo tidur”, kata David.
David menyambung, “lo kemana aja ga ke rumah gw?”. “Malem jum’at kemaren gw mo ke rumah lo,...ehh....si Vonny minta anterin ke rumah sakit”, jawab Joe. David mengerenyitkan mata seperti menyelidik lalu dia bilang, “hah...ke RS, ngapain?...Abortus?”.
“Sialan lo !, nyokap nya sakit...tensinya tinggi”, sanggah Joe. ”Hehehe....gw kira...”, balas David sambil senyum.

“Gw bawa ini nih...”, kata David sambil membuka tas nya. Dua botol Mansion House beralkohol 43% ukuran Jumbo pun nampak, beserta minuman oplosannya 2 botol minuman energi merk kratingdeng plus kacang buat tarikan.
“Anjrit ! gokil lo Vid !...masih pagi nih..”, kata Joe. “Apaan??…, udah siang tau!”, sergah David. Joe terbengong sebentar kemudian dia bilang,….”ayo deh…, anggep aja minum kopi anget abis bangun pagi”, jawab Joe anteng. Kemudian dia sambung, “kayanya gw tewasnya kena lever nih”.
David menyangkal, “kaga men…, lo gw doain tewas secara “Rock n Roll way to die”, nelen muntah sendiri…kaya John Bonham drummer Led Zeppelin”.
“Yeeeehhh…malah doain gw tewas nelen jekpot sendiri, sialan lo !”, kata Joe.

Minggu pagi menjelang siang itu, kedua sahabat itu larut dalam keriangan dan keakraban, bagaikan acara reuni sebuah sekolah lanjutan yang baru berjumpa setelah 25 tahun kelulusan. Kemudian Joe menyetel tape-nya pada posisi 6 dari maksimal 8, terdengarlah suara Johnny Rotten menyanyikan “Holidays in The Sun” :

i don't wanna holiday in the sun
i wanna go to the new belsen
i wanna see some history
'cause now i got a reasonable economy
now i got a reason, now i got a reason,
now i got a reason and i'm still waiting
now i got a reason, now i got a reason to be waiting
the Berlin Wall
sensurround sound in a two inch wall
well i was waiting for the Communist call……..

“Buat kesehatan lo men…”, sebuah ting-tos dari David buat Joe sambil mengangkat gelas loki. Joe membalas, “yoi men…buat kesehatan lo juga…., trus buat vonny, lulu, vety, ica, melda, nunu, joy, peggy…n her mother …hahahahahaha…, memey, grace….mmmm…”. “Anjrit !!! banyak amat men !!”, kata David.

Jumat, 09 April 2010

THE GUERILLA (Che Guevara, part 2)


“Revolusi” tidak semudah mengucapkannya…..

Paling tidak itulah kesan yang terbesit di hati saya setelah menyaksikan film “Che-part 2, the Guerrilla”, disutradarai oleh Steven Soderbergh dan karakter Che Guevara diperankan oleh Benicio del Torro (yang juga sebagai produser film ini), produksi tahun 2008. Film yang membutuhkan analisa bagi del Torro untuk memahami karakter serta prinsip-prinsip seorang Che Guevara selama 7 tahun, dan untuk napak tilas gerilyawan di hutan Bolivia selama 3 tahun.
Film ini merupakan upaya Steven Soderbergh dan Benicio del Torro menterjemahkan diari Che yang kemudian menjadi sebuah buku yaitu “Bolivian Diary” atau versi Indonesianya “Hari-hari terakhir Che Guevara”, sebuah catatan harian Che Guevara ketika menjalani hari-harinya kembali menjadi seorang gerilyawan membantu para pemberontak di Bolivia, rentang tahun 1967.
Film berbahasa Latin ini mengantarkan Benicio del Torro menerima penghargaan aktor terbaik di Festival Film Canes Perancis tahun 2008, sebuah perhelatan penghargaan untuk film-film kategori “idealis”.

Sebuah pilihan hidup yang teramat sangat sedikit manusia memilihnya, menjadi seorang Revolusioner. Seseorang yang memilih melawan penguasa penindas, kapitalisme dan imprelisme dengan mengangkat senjata dimanapun penindasan, praktek kapitalisme dan imprealisme berlangsung. Seorang yang konsisten menerapkan gerakan “Internasionalisme” dari Manifesto Komunis.

Digambarkan seorang Che setelah keberhasilan menumbangkan penguasa diktaktor Kuba Fulgencio Batista pada tahun 1956 bersama sahabatnya Fidel Castro, kemudian membentuk pemerintahan revolusioner dan Che duduk di jabatan formal Pemerintah sebagai seorang Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Nasional Kuba.
Dan dalam kehidupan pribadi memiliki sebuah keluarga yang ideal, dia meninggalkan semua itu dan memilih bergerilya di hutan.

Keseharian gerilyawan Bolivia dalam perjuangan mereka digambarkan cukup mendekati sebagaimana “Bolivian Diary”, keberhasilan menghadang patroli tentara Pemerintah Bolivia, mendekatkan diri kepada masyarakat dengan mengadakan pengobatan gratis, perkelahian antar sesama gerilyawan, ketidakdisiplinan beberapa gerilyawan dengan membuka logistik minuman tanpa seijin komandan pasukan, seragam lapangan gerilyawan yang mulai compang-camping, penampilan mereka yang mulai lusuh dan dekil karena terlalu lama di hutan, moral beberapa gerilyawan yang mulai menurun karena melihat kawan mereka tewas akibat kontak senjata dengan tentara Pemerintah Bolivia dan mendengar kabar di radio bahwa kawan mereka di sektor lain tewas semua karena penyergapan oleh tentara Pemerintah Bolivia.

Klimaksnya, tertangkapnya Che Guevara pada tanggal 8 Oktober 1967 karena pasukan gerilya Che yang jumlahnya tinggal belasan orang saja dikepung oleh tentara Pemerintah Bolivia dibantu CIA yang jumlahnya ratusan. Hingga Che Guevara dieksekusi mati di sebuah ruangan pada tanggal 9 Oktober 1967.
Sebelum dieksekusi dengan cara ditembak, Che berkata kepada calon eksekutornya, yang dalam bahasa Indonesianya ; “ayo tembak pengecut, kamu hanya akan membunuh seorang manusia !”

“Revolusi” memang tidak semudah mengucapkannya, sebagaimana Che Guevara pernah berkata …..
“In a revolution, one triumphs or dies”

Kamis, 08 April 2010

List Kurt Cobain’s top 50 Albums


8 April 1994, tubuh Kurt Cobain ditemukan tewas. Untuk mengenang kembali Kurt, gw posting 50 musisi dengan albumnya terfavorit Kurt berdasarkan yang dia tulis di Jurnal hariannya. Sengaja gw ga rubah bahasa aslinya, seperti apa adanya sumbernya "The Journal" (Kurt's Diary).
Pada beberapa musisi/album, Kurt memberikan komen/review.

Bisa temen2 liat, seorang Kurt begitu kaya referensi musiknya, dari yang beraliran Cadas/Rock, Punk, Pop, Balada sampe Rap dia lahap..itulah yang menjadikan dia musisi besar & menjadi seorang legenda.
Hal ini bertolak belakang buat sebagian (besar??) para penggemarnya, referensi musik mereka bisa dibilang 95% (kalo ga mau dibilang 100%) adalah Nirvana, yang terparah adalah sampe ke taraf "NIRVANAISME/ atau COBAINISME".
Dari dandanan sehari2 khususnya di suatu gigs, nyanyiin lagu cover all Nirvana song, cara nyanyi, yang terparah menurut gw adalah; gaya/kelakuan dipanggung berusaha semirip mungkin sama Kurt Cobain (copy cat).
Tentu saja hal ini sangat disayangkan, selain menutup kreativitas yang luas, hal itu pun membuat seseorang tidak memiliki jati-diri sesungguhnya.


Anyway,...musisi besar adalah musisi yang menghormati jasa musisi pendahulunya...halah ngaco yaks gw.
well....here they are :

1. The Stooges - Raw Power

2. Pixies - Surfer Rosa
"A die-cast metal fossil of misplaced draft, with or without the fucking production. Everyone who has ever commented on 'Surfer Rosa' has said that the production's amazing. I agree with that, but the songs are so strong that it wouldn't have mattered if you'd listened to it through a boom-box.
I was completely nihilistic up until about four or five years ago, when I first heard this. It changed my attitude. It made me finally admit, after being into punk rock for so many years, that I finally liked other stiles as well. It made me finally admit that I'm a music lover. Their music reminded me of the music that I always wanted to do - and was doing - before I got into punk rock eight or nine years ago."

3. The Breeders - POD

4. The Vaselines - Son Of A Gun
"I just have this feeling Eugene and Frances had a really cool relationship. I don't know if that's true or not, but I think it's a really amazing thing when a couple can get on together and write some of the most beautiful songs I've ever heard. They're kind of sharing their life with people. Eugene and Frances are the Captain & Tennille of the underground."

5. The Shaggs - Philosophy Of The World
"It's so obviously the real thing. I heard this one live song - a Carpenters song, maybe? - where they must have been playing a day centre, and the screams in the background are louder than the music. The Shaggs are another archetypal K band."

6. Fang - Landshark

7. MDC - Millions Of Dead Cops

8. Scratch Acid - Scratch Acid

9. Saccharine Trust - Paganicons

10. Butthole Surfers - Pee Pee The Sailor

11. Black Flag - My War

12. Bad Brains - Rock For Light

13. Gang Of Four - Entertainment!

14. Sex Pistols - Never Mind The Bollocks
"A million times more important than The Clash. How do I explain that? Hmm. Both were always a bad imitation of The Rolling Stones, in love with America. But at least they took their girlfriends on tour with them (The Slits). Their music was terrible, though. I blame Sandinista! for not letting me get into punk until years after I should have done - it was so bad.
The Pistols' album has the best production of any rock record I've ever heard. It's totally in-your-face and compressed. All the hype The Sex Pistols had was totally deserved - they deserved everything they got. Johnny Rotten was the one I identified with, he was the sensitive one.
The only reason I might agree with people calling our band "The Sex Pistols of the 90's" is that, for both bands, the music is a very natural thing, very sincere. But in terms of influence, fuck, no! Rock is too exhausted for that. We haven't produced a totally original sound like that. We might be uncompromising, but that's about it. We're an obvious metamorphosis."

15. The Frogs - It's Only Right And Natural

16. PJ Harvey - Dry

17. Sonic Youth - Daydream Nation

18. The Knack - Get The Knack

19. The Saints - Know Your Product

20. Kleenex - Kleenex/Liliput

21. The Raincoats - The Raincoats

22. Young Marble Giants - Colossal Youth
"The music relaxes you, it's total atmospherics. It's just nice, pleasant music. I love it. The drum machine has to have the cheesiest sound ever. We're going to be on a Young Marble Giants compilation, doing 'Credit In The Straight World'. I had a crush on the singer for a while - didn't everyone?
I didn't know much about them - the Moxham brothers, right? I heard they might be getting back together again recently. Isn't it weird how, when you hear something like that, you still get excited, even though you know you shouldn't?"

23. Aerosmith - Rocks

24. Various - What is it?

25. R.E.M. - Green

26. Shonen Knife - Burning Farm
"This was the first cassette that came out on K. Eventually, after a week of listening to it every day, I started crying. That's how much it affected me. I just couldn't believe that three people from a totally different culture could write songs as good as those, because I'd never heard any other Japanese music or artist who ever came up with anything good.
Everything about them is just so fucking endearing. They're not too cute! That's part of the charm. Do I think there's a paedophiliac element to their appeal? I think in Japanese culture in general there's a paedophiliac element - most of the women there dress op as young girls. It's weird.
I'm sure that I was twice as nervous to meet them as they were to meet us. I didn't want to offend or scare them in any way, because I know I'm a scruffy, slimy person who might scare them off - and that's exactly what I did. They were afraid of me. In fact, on one of our first dates together, they saw me walking towards them and they screamed at the top of their voices, turned around and ran away, and then peeked their heads out of their dressing room. I was trying to reassure them that I was harmless. The communication we had with them was deathly silence and a lot of smiling.
In many ways, they're the ultimate K band, because they are sincere, they are real. They don't' purposely put their guitars out of tune and they don't purposely sing out of tune."

27. The Slits - Typical Girls

28. The Clash - Combat Rock

29. Void/Faith - Void/Faith/Split EP

30. Rites Of Spring - Rites Of Spring

31. Beat Happening - Jamboree

32. Tales Of Terror - Tales Of Terror

33. Leadbelly - Last Sessions Volume 1
"William Burroughs turned me onto that guy. He said that if you want to hear true honest music, you should hear Leadbelly. The songs are just amazing heartfelt.
Leadbelly was this poor black man in the early 1900s who went to jail a few times for wife-beating and robbery and getting into fights and bootlegging liquor. While he was is in prison, he started playing the guitar, and he sang so well that the governor started to like him, and let him out of jail. Leadbelly became an apprentice with Blind Lemon Jefferson and started recording songs, but none of the commercial recordings he made ever captured his true essence, except for these late sessions. They happened when this guy who'd been following his career for a few years caught him on a two-track tape recorder one night when they were hanging out at this hotel. It's just really cool.
I hope that my songs approximate that honesty. That's what I strive for. He was like the first punk rocker: he'd get into town, walk into an all-white bar, try to have a drink, get beat up and then go to jail because of it. So it's really cool to hear this music, especially the air of the recordings themselves, because it's so eerie to hear it on this crackly two-track.
But that's what Folkway records are like - they're awesome. They even have the entire Watergate tapes available as a 10-album set. I'm gonna get a Folkways tattoo next to my Black Flag tattoo."

34. Mudhoney - Superfuzz Bigmuff

35. Daniel Johnston - Yim Jump Music

36. Flipper - Generic Flipper

37. The Beatles - Meet The Beatles

38. Half Japanese - We Are They Who Ache With Amorous Love
"I like to listen to Jad Fair and Half Japanese with headphones on, walking around shopping malls - in the heart of the American culture. I just think that, if people could hear this music right now, they'd melt, they wouldn't know what to do, they'd start bouncing off the walls and hyperventilating. So I turn up the music really loud and pretend it's blasting through the speakers in the mall."

39. Butthole Surfers - Locust Abortion Technician

40. Black Flag - Damaged

41. Fear - The Record

42. Pil - Flowers Of Romance

43. Public Enemy - It Takes A Nation Of Millions To Hold Us Back

44. The Marine Girls - Beach Party

45. David Bowie - The Man Who Sold The World

46. The Wipers - Is This Real?

47. The Wipers - Youth Of America

48. The Wipers - Over The Edge
"Is This Real? Yes it is. The Wipers released maybe four or five albums. The first two were totally classic and influenced The Melvins and all the other punk rock bands. They're one of the bands I tried to assimilate. Their songs were so good. Greg Sage was pretty much the romantic, quiet, visionary kind of guy. What more can I say about them? They started Seattle grunge rock in Portland, 1977."

49. Mazzy Star - She Hangs Brightly

50. Swans - Young God EP

Rabu, 07 April 2010

TADI PAGI DI KRD

Dengan tergopoh-gopoh gw segera berlari ke kereta yang udah ada di depan mata, padahal gw baru aja beli tiket di loket. Tiga hari terakhir kereta listrik yang biasa gw naikin selalu terlambat dari jadwal, dan itu bikin gw terlambat tiba di tempat gawe/kerja (kata bang Iwan Fals, “itu cerita lama”), makanya tanpa peduli gw naikin aja kereta itu.
Sungguh sesak dan minim cahaya di dalam kereta yang gw naikin, heran gw..., tapi segera gw sadar bahwa ternyata nih kereta emang ga bejendela. Pencahayaan dan udara yang masuk cuman dari pintu dengan lebar seukuran dua orang dewasa berdiri jajar.

Ini pasti “odong-odong” kata gw dalam hati. Ya..itulah sebutan kereta rangkaian diesel (KRD) yang oleh para pengguna jasa transportasi kereta jabodetabek. Entah siapa yang pertama kali menamakan itu. Setahu gw sejak gw kuliah, nama kereta diesel itu sudah disebut “odong-odong”. Odong-odong diberangkatan dari Cikampek, sebuah kota setingkat kabupaten (kalo ga salah) yang jaraknya dari Jakarta sekitar……berapa gw juga ga tau pasti, tapi kalo diperkirakan berdasarkan kota-kota singgahan, adalah seperti demikian; ….dari Jakarta terus Bekasi, terus Tambun, terus Cikarang, terus Cibitung, terus Krawang, baru deh …Cikampek (nah…silahkan temen2 mengira2).

Sementara itu bulir-bulir keringat mulai keluar dari pori-pori tangan, sebuah indikator bahwa atmosfir didalam kereta sangat tidak nyaman karena keringat keluar tidak hanya dari badan. Di pojok kanan dari posisi gw tampak beberapa laki-laki bercakap seperti tidak mempedulikan situasi sekeliling. “La iya’, lah…kata mobil polisi ada kaya kawatnya ya’…lah susah…”, kata seorang dari mereka. Seorang lagi menyahut, “lah….dimana-mana namanya udah megang botol…gimana sih…”. Dengan logat betawi pinggiran, entah apa yang mereka diskusikan, renyah sekali nampaknya.
Di setiap stasiun, maka kereta berhenti untuk mengangkut penumpang. Gerbong gw seperti sudah berjejal namun tetep aja ada penumpang baru yang masuk. Setiap ada penumpang baru, terdengar terikan, BONGKAR !!...BONGKAR !! (gw lagi2 jadi teringat lagu bang Iwan Fals ketika berkolaborasi dengan mas Sawung Jabo di Swami, ungkapan “BONGKAR !!” seperti jadi anthem kaum tertindas marginal yang ditujukan untuk penguasa sewenang-wenang). Sementara gw udah bener-bener kejepit, badan ga bergerak bahkan sekedar benerin posisi kaki. Beruntung masih bisa menggerakkan dada untuk mengambil oksigen yang mulai menipis (hiperbola beuds).

Melalui celah tubuh para penumpang yang berjejal mata gw beradu dengan sepasang mata yang sedang natap gw, sepasang mata yang ternyata dimiliki oleh seorang gadis yang manis, dengan rambut tergerai panjang, dia tersenyum ke arah gw, tentu saja gw balas senyumannya.
Gw membatin, “ada juga makhluk manis dalam gerbong terkutuk ini”. Namun sial sungguh sial, jangankan untuk sekedar menyapanya untuk mendekatinya saja suatu hal yang tidak mungkin. Tiba-tiba sekonyong-konyong terdengar batuk yang lebih mirip gonggongan anjing keluar dari mulut seorang anak laki seumuran sekolah menengah pertama. Dari bunyi batuknya seperti dia sangat menderita. Seorang bapak dibelakang gw nyeletuk, “emang kalo naek di gerbong sapi, pasti yang punya bengek kumat”.

Apa gw ga salah denger?, bapak tadi bilang kalo gerbong ini adalah gerbong sapi. Apakah itu hanya ungkapan analogi ketus nan pasrah, atau emang bener-bener gerbong yang diperuntukkan sapi?. Gw coba perhatiian lagi keadaan gerbong....ternyata emang lebih mirip kandang. Sebuah sintesa darurat keluar dari otak gw, “ah...paling ga kalau pun gerbong ini sebenernya diperuntukkan untuk sapi, toh ga kecium sama gw bau sapi atau tai sapi (sory cs) sedari awal gw naik”. Hanya aja emang gw mencium bau beras bercampur bau ketiak!!.

Semakin deket stasiun Jatinegara berarti sebentar lagi gw sampe di stasiun tujuan akhir gw. Dengan sedikit perjuangan gw berhasil menggerakkan tubuh gw sampe dekat pintu keluar gerbong. Gw nengokin kepala keluar, ga sengaja ngeliat spanduk yang terpasang di jembatan dekat rel. Spanduk bergambar seorang (yang mengangap dirinya) Tokoh Reformasi (dasar narsis!!) bertuliskan : “Tuntaskan Reformasi !!”. Pengen gw maki-maki tuh orang; “siapa lo ??!!, dasar oportunis !!”.
Tersadar kemudian, “odong-odong” dengan gerbong sapi-nya sudah tiba di stasiun Jatinegara. Gw bergegas turun sambil nyeka kringet.
Kebetulan pula sebuah toko menyetel radio yang memainkan lagu “Juwita Malam” ciptaan Ismail Marzuki versi Slank.

“kereta kita….segera tiba…
di Jatinegara kita kan berpisah…
berilah nama.., alamat serta..
esok lusa boleh kita jumpa pula.....”

-bobby revolta, 24 Agustus 2007-

14 Things You Should Know (more) About NIRVANA & Kurt



Bulan April akan selalu dikenang oleh para Grunger seluruh dunia, karena pada bulan ini 16 tahun yang lalu, salah seorang pelopor "grunge", Kurt Donald Cobain, ditemukan tewas pada tanggal 8 April 1994 dirumahnya sendiri.
Masih banyak kontroversi ataupun misteri seputar kematiannya, namun yang paling penting diingat dari seorang Kurt Cobain adalah bahwa ditangan dialah sebuah sub-kultur baru terlahir, sebuah generasi yang menolak hal-hal yang glamor, menolak kebohongan dan kepalsuan dalam segala hal, dan (lagi-lagi) anti kemapanan.

Banyak hal lain tentang Nirvana & Kurt Cobain, tapi setidaknya 14 point ini mewakili kejadian-kejadian penting menurut perjalanan waktu (time line) sepanjang karir Nirvana & Kurt;

1. Sebelum menjadi “Nirvana”, Kurt Cobain mempertimbangkan menamakan nama band itu ; Poo Poo Box, Designer Drugs, Whisker Biscuit, Spina Biffida, Gut Bomb, Egg Flog, Pukeaharrea, Puking Worms, Fish Food, Bat Guana, Imcompotent Fools dan Fecal Matter.

2. Kurt memutuskan nama band menjadi “Nirvana”, karena pada saat itu dia menganggap dirinya pengikut Buddha, meski satu-satunya pembentuk iman itu hanyalah sebuah tayangan keagamaan di TV tengah malam. Nirvana mengandung arti “pencapaian kesempurnaan”, suatu tempat yang dicapai seseorang jika sudah terlepas dari siklus reinkarnasi dan penderitaan hidup manusia. Hal itu dicapai melalui menahan nafsu, melakukan delapan ajaran Buddha dan melakukan meditasi serta pengembangan spiritual.

3. Begitu the Melvins sudah mendapat bayaran 60 dolar untuk setiap pementasan, Kurt Cobain dan Krist Novoselic segera membentuk sebuah band bernama Sellouts, yang hanya memainkan lagu Creedance Clearwater Revival, karena mereka tahu itu akan disukai bar-bar di Aberdeen.

4. “Love Buzz” adalah lagu cover song dari sebuah band asal Belanda, Shocking Blue, Kurt dan Krist menyukai lagu itu dan membuat aransemen mereka sendiri. Penampilan mereka dalam lagu itu memadukan unsur trans-psikodelic dengan suara bass yang berat dan bulat.

5. Kurt mengirimkan banyak demo ke Touch and Go dalam tahun 1988 bahkan sampai dia memberi judul demo-demo itu “The Touch and Go Demos” dalam catatannya, demonya begitu tidak menarik bagi orang-orang Touch and Go sampai-sampai tidak seorang pun disana ingat pernah menerima demo itu.

6. Pada saat salah satu pendiri Sub Pop, Jonathan Poneman mengajukan demo Nirvana, semua yang ada di Sub Pop termasuk Mark Arm anggota Mudhoney, menganggapnya jelek dan Arm menolak rekaman itu dengan alasan Nirvana “mirip Skinyard tapi kurang bagus”.

7. Tur pertama Nirvana pada tahun 1989 adalah menyusuri West Coast, yang membawa mereka ke San Fransisco. Paling banyak hanya dihadiri oleh setengah lusin kepala, yang ternyata hanyalah musisi-musisi lokal yang tertarik bergabung dengan label Sub Pop bukannya tertarik oleh Nirvana. Waktu itu Sub Pop memang lebih terkenal daripada band-band yang bernaung dibawah mereka.
Rekor penonton terbanyak, 400 orang, baru terjadi ketika Nirvana membuka penampilan Living Color, band rock dengan singgel yang masuk top 40. Hasilnya pun tidak begitu bagus untuk Nirvana : penonton jelas-jelas membenci mereka.

8. Dalam hitungan minggu, band keluaran Sub Pop, seperti Mudhoney menjadi bintang “GRUNGE” di mingguan musik Inggris. Istilah itu sendir dipakai untuk mendeskripsikan musik punk yang keras, berat dan berdistorsi yang akhirnya digeneralisasikan sebagai jenis aliran setiap band yang berasal dari daerah Northwest, khususnya Seattle. Bahkan Nirvana pun dimasukkan dalam kategori ini, walaupun Kurt Cobain sendiri benci istilah itu.

9. Penamaan singgel “Smell Teen Spirit” berawal dari pada sebuah pesta yang diadakan di apartemen Kurt, Kathleen Hanna (personil Bikini Kill) menulis dinding ruang tidur dengan cat semprot dengan tulisan “Kurt smells like teen spirit”, yang merujuk pada merk deodorant (bermerek Teen Spirit) yang dipakai Tobi Vail (personil Bikini Kill lainnya). Ini adalah guyonan untuk Kurt yang malam itu baru saja meniduri Tobi, yang ditandai dengan ikut menempelnya bau deodorant itu di tubuhnya.

10. Pada awalnya Nirvana akan membuat kontrak dengan Charisma, kontrak itu bernilai 200.000 dolar. Tapi pada menit-menit terakhir Nirvana memutuskan akan membuat kontrak dengan David Geffen Company, sebuah anak perusahaan Geffen Records. Meski perwakilan A&R DGC bukanlah penawar pertama, hubungan kerja dengan Sonic Youth ternyata menjadi faktor penentunya. Dalam kontrak tersebut, Nirvana dibayar 287.000 dolar.

11. Album pertama Nirvana (dengan Major label), Nevermind, menggusur Michael Jackson dari posisi jawara di tangga lagu Billboard, yang berarti menjadi album paling laris di Amerika. Meskipun itu bukanlah kesuksesan yang diraih dalam sekejap, keberhasilan Nirvana menguasai industri musik tidak ada tandingannya. Nirvana menggempur tangga-tangga lagu dengan “Smells Like Teen Spirit”, yang menjadi lagu paling terkenal sepanjang tahun 1991, dan intro gitar dalam lagu tersebut menandakan lahirnya rock dekade 90’an.

12. Nirvana menutup tahun 1991 dengan melakukan pertunjukan pada malam tahun baru di gedung Cow Palace di San Francisco. Pearl Jam yang menjadi band pembuka sempat memainkan sedikit lagu “Smells Like Teen Spirit”, dan dengan bercanda Eddie Vedder berkata kepada penonton, “Ingat, kita memainkannya lebih dahulu dari mereka.”

13. Pada 16 April 1992, Nirvana muncul pertama kalinya dalam sampul majalah Rolling Stone. Dalam foto yang dipakai sebagai sampul (cover depan) itu sendiri, Kurt memakai sebuah t-shirt bertuliskan “Corporate Magazine Still Suck.”

14. Pada Reading Festival tahun 1992, Nirvana menjadi band utama. Selain itu, Kurt mengatur band-band yang tampil, seperti the Melvins, Screaming Trees, L7, Mudhoney, Eugenius dan Bjorn Again.

*Sebuah Intisari dari buku “Heavier Than Heaven, Kurt Cobain Biografy” by Charles R. Cross
Dirangkum oleh : Bobby Setenk
Dipublish pertama kali di Grunge webzine "TOTAL FEEDBACK.com", 17 April 2009

DEHUMANISASI


MAKNA “HUMAN” SEBANDING ARTI DENGAN MANUSIA.
TERDAPAT KALAM SEORANG LEVI STRAUSS, DIA BERKATA MARI "MEMANUSIAKAN MANUSIA".
HERE’S THE MEANING LADIES AND GENTLEMEN; “MEMANUSIAKAN” MENGANDUNG ARTI SUBYEK SEDANGKAN “MANUSIA” MENGANDUNG ARTI OBYEK.
MASIH BINGUNG?.....MUNGKIN INILAH SAATNYA MERENUNGKAN APA MAKSUD LEVI STRAUSS.

BEBEK BERKUMPUL DIGIRING TUANNYA, KERBAU BERKUMPUL DIGIRING TUANNYA, WILDDEBEAST DI SABANA BOSTWANA BERKUMPUL BERLARI-LARI, JUGA DIGIRING MAKHLUK LAINNYA YANG BERADA DIPUNCAK RANTAI MAKANAN.
DEMIKIANLAH ADANYA; MAKHLUK YANG BERKUMPUL, DIGIRING, TEROMBANG-AMBING KESANA-KEMARI, MENURUT, ADALAH MAKHLUK TERENDAH DALAM RANTAI MAKANAN.

MANUSIA BERKUMPUL BERHARAP BERPELUH MERANA.
DI KOREA UTARA MANUSIA BERKUMPUL MENGALUNKAN PADUAN SUARA MENGANGGUNGKAN SANG PEMIMPIN BESAR SANG JENDRAL BESAR, ENTAH SEBAGAI PENGHARGAAN ATAU PENGEJEWANTAHAN RASA TAKUT LUAR BIASA?.
DI INDONESIA, MANUSIA BERKUMPUL SAMBIL BERHARAP, BERPELUH, MERANA, UNTUK BANTUAN YANG TIDAK LANGSUNG DAN TUNAI, NAMUN DISEBUT LANGSUNG DAN TUNAI, DEMIKIAN ADANYA....,LANGSUNG..."LANGSUNG HABIS".
PULA MEREKA BEREBUT HADIAH DARI CALON-CALON LEGISLATOR DAN PARTAI-PARTAI PENGUMBAR MIMPI.

“DE” ADALAH “TIDAK”, SEDANGKAN “HUMANISASI” ADALAH SEPERTI KATA LEVI STRAUSS DIATAS.
BINGUNG?.....INILAH SAATNYA MERENUNG.

"AnaRcHist CoOK BooK"; versi gw !!


Buat temen2 yang hari ini 9 Desember 2009, turun ke jalan memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, saya ucapkan selamat berdemonstrasi.
Memang korupsi itu bagai virus maut bagi kehidupan berbangsa & bernegara. Uang negara yang harusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat banyak, malahan dimakan/dinikmati sekelompok manusia yang sedang memegang kekuasaan formal negara, baik di tingkat kekuasaan eksekutif, legislatif & yudikatif.
Jelas ini (harus) di-berantas ! (words by Iwan Fals).
Tapi jangan lupa juga kalo besok, 10 Desember 2009 adalah peringatan 61 tahun Deklarasi Hak Asasi Manusia Sedunia. Ingat juga…, selama kasus Munir yang “mati di udara” (words by Efek Rumah Kaca) tidak ada kejelasan siapa dalangnya, selama penegakan hukum yang tegas cuman buat orang miskin dan kaum marginal dsb masih terjadi saat ini, selama kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih jadi kabut gelap, berarti penegakan HAM di sini belum/tidak tuntas, dan harus terus diperjuangkan.

Tentu saja dalam suatu “aksi” demonstrasi kita semua tidak menginginkan keadaan clash yang bisa menjadi chaos, namun terkadang di jalanan semua dapat terjadi termasuk keadaan clash tadi dalam arti pertempuran jalanan Aparat vs Demonstran.
Ini sedikit tips dari saya :

1. Sebisa mungkin hindari clash. Biasanya ada provokator, kalo ada indikasi tsb, amankan provokator itu.

2. Kalo clash tidak terhindar :
- Jangan panik berlebihan, hanya ada satu kata : “LAWAN !”
- Segera bawa demonstran perempuan ke tempat aman.
- Untuk meredam efek gas air mata, oleskan odol disekitar mata dengan volume proposional.
- Sebaiknya hindari semburan “water canon”, karena biasanya air dalam water canon sudah dicampur zat tertentu yang membuat gatal kulit.
- Tabung gas air mata yang baru terlontar, masih bisa dilempar balik ke arah aparat secepatnya sebelum menyemburkan lebih banyak gas putih. Sebaiknya memakai sarung tangan atau apapun yang dapat melindungi telapak tangan, karena tabung tersebut lumayan panas.
- Hindari jenis gas air mata dalam bentuk lebih kecil dari tabung. Kira2 bentuknya seperti swastika dan tiap lontaran mengeluarkan bunyi seperti gasing. Jenis gas air mata ini efek lebih perih ke mata dan panas ke kulit. Penanganan meredamnya seperti saya utarakan diatas, dengan odol dan dibasuh dengan air bersih sebanyak-banyaknya.
- Pertempuran jalanan sebenarnya tidak berimbang. Aparat memakai senjata standar penghalau demonstran yaitu senjata dengan peluru karet. Untuk menghindari terkena tembakan peluru karet, jangan bergerombol karena akan memudahkan bidikan. Percayalah, terkena peluru karet cukup sakit, apalagi terkena mata, berbahaya.
- Untuk menghindari dugaan clash telah direncanakan dan aksi demonstrasi dianggap “tidak murni”, sebisa mungkin jangan menggunakan Bom Molotov. Batu2 conblok untuk trotoar bisa dicabut dan digunakan sebagai “senjata”.
- Membakar ban bekas yang menimbulkan asap hitam cukup menyulitkan pandangan aparat. Ingat; hanya ban bekas ! bukan mobil, gedung, rumah atau apapun selain ban.
- Apabila clash berlangsung cukup “fair”, dalam arti aparat tidak menggunakan bom gas air mata, senjata peluru karet dan water canon, maka rapatkan barisan dan hadapi dengan “satu komando-satu perjuangan”. Kayu/bambu sudah cukup menjadi “senjata”.
- Politik jaman penjajah Belanda dulu yaitu “Devide et Impera” terkadang, bahkan saat ini sering diterapkan oleh Aparat. Organisasi2 Masyarakat tertentu seolah2 “mendukung” aparat. Mereka diarahkan untuk berhadapan dengan demonstran oleh aparat. Indikasi ini mulai muncul di tahun 1999-2000 dengan “dibentuknya” PAM-SWAKARSA atau RATIH (Rakyat Terlatih).
Menurut saya, jika saat demonstrasi berhadapan dengan mereka sebaiknya gunakan pendekatan persuasif atau menghindari tantangan fisik mereka. Karena jika clash dengan mereka justru keadaan tersebut yang dikehendaki oleh aparat.
Cari jalan/arah lain menuju titik tujuan “aksi” demonstrasi.
- Apabila karena keadaan yang “tidak berimbang” sebagaimana saya utarakan diatas terjadi, posisi demonstran terdesak maka berhadapan secara frontal dengan aparat adalah konyol. Daerah sekitar “sasaran” demonstrasi seperti gedung MPR, Semanggi, Bundaran HI dan Istana Negara dikelilingi pemukiman padat penduduk dan banyak “jalan tikus” berupa gang. Segeralah mengamankan diri ke tempat2 yang saya maksud itu.
- Setel lagu sebagai soundtrack supaya semangat : “Street Fighting Men”, lagunya Rolling Stone tapi versi Rage Against the Machine & “Demonstran”, lagu dari sebuah band Indie scene grunge dari Jakarta bernama “the Bolong”.(yang satu ini optional)

*dipublish pertama kali: 9 Desember 2009, bertepatan "hari anti korupsi sedunia"