Senin malam kemarin, aku kebetulan harus pulang kerja aga larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Biasanya aku termasuk karyawan “tenggo” alias jam lima “teng” langsung “go”. “Untuk rapat Board of Direction besok, laporan ini harus selesai sekarang”, demikian atasanku berkata sedari pagi tadi.
Keluar gedung kantor tempatku bekerja cahaya matahari sudah digantikan oleh cahaya temaram lampu penerang jalan dan cahaya pendar berkilauan yang berasal dari gedung-gedung bertingkat lainnya yang bersebelahan dengan gedung kantor kerjaku. Ada perasaan lega dalam hati, karena akhirnya aku selesaikan juga pekerjaan yang bertumpuk tadi, dan ada juga rasa syahdu demi melihat pendar cahaya-cahaya lampu jalanan dan lampu-lampu gedung yang mencoba melawan gelap pekat alami malam.
Jumlah motor yang ada tempat parkir motor tidak sebanyak lagi dibanding tadi pagi, hanya saja memang ada sekitar dua puluhan motor lagi masih disitu, “pasti orang bagian Akuntansi dan Keuangan”, gumamku dalam hati. Kunyalakan mesin motorku, kudiamkan terlebih dahulu barang satu menit sekedar memanaskan mesin, tak lupa berdoa mohon keselamatan akan perjalanan pulang hingga sampai di rumah dengan selamat, kulirik jam tanganku, menunjukan pukul 8.15 malam, kemudian motor pun ku gas.
Dalam perjalanan pulang, aku menyempatkan untuk mengisi bahan bakar motor yang indikatornya sudah menunjukan posisi merah yang artinya harus segera diisi.
Antrian di gardu pengisian bensin khusus motor cukup panjang, padahal sebentar lagi jam 9 malam. “Jakarta hari senin emang sibuk banget”, kataku dalam hati. Akhirnya tiba giliranku di mesin pengisian bensin, seperti biasa petugas Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum (SPBU) itu menyapa dengan ramah ala iklan sebuah perusahaan minyak milik negara yang slogannya “Pasti Pass”.
“Di posisi nol ya pak”, katanya sambil menunjukan meteran digital pada mesin tersebut. “Ya”, kata saya. Padahal terus terang aku enggan melihat ke arah meteran digital mesin itu sekedar mengecek kebenaran perkataan petugas mesin pengisian bensin yang melayaniku. “Aku percaya ko”, masakan iya ketimbang mengisi bahan bakar 1,5 liter si petugas tega menipu, demikian pikirku.
Selintas mataku tidak sengaja melihat name tage petugas yang mengisi bensin motorku, tertulis.......“AHMAD DHANI”.
“Keren namanya bang,….Ahmad Dhani”, spontan aku sapa petugas SPBU. Dia menjawab, “hehehe…iya pak, namainnya pake bubur merah putih nih”. Salah satu tradisi di Indonesia, para orangtua membuat bubur beras ketan berwarna merah putih kemudian dibagikan kepada sanak family atau tetanga sekitar rumah sebagai ungkapan syukur atas lahirnya anak mereka. Tapi kemudian dia menyambung, “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, katanya sambil senyum kecut seolah-olah metertawakan diri sendiri.
Aga kaget juga aku mendengarnya, kemudian aku menimpali, “jangan gitu bang, biar gitu nama abang pemberian orang tua”.
Aku berlalu dari SPBU itu, tapi pikiranku tertinggal di SPBU tadi. Yang paling teringat dan nyangkut dibenakku dari adalah kata-kata petugas SPBU tadi adalah; “namanya keren tapi nasibnya ga keren”, sekali terngiang, dua kali terngiang, sampai terus saja terngiang.
Terus terang saja, aku juga belum merasa hidupku “keren”, meskipun namaku bukan “Ahmad Dhani”. Aku seorang karyawan kantor yang kerja berdasarkan perintah atasan dalam bentuk secarik kertas disposisi untuk melakukan ini dan itu, akan baik atau tidaknya hasil kerjaku, aku juga tidak tahu pasti, yang penting aku sudah mengerjakan sesuai bidang keilmuanku. Toh biasanya kebijakan atau keputusan tindakan perusahaan tempat kerjaku dalam operasionalnya merupakan hasil keputusan “top level management”. Apakah keputusan itu berdasarkan review atau rekomendasiku, aku tidak tahu pasti, karena memang tidak pernah diberitahu.
Well…., aku selalu berpikir bahwa kehidupan “8 to 5 world” sebenarnya tidak cocok buat aku yang berjiwa bebas, menolak formalitas dan etika basa-basi.
Maka dari itulah aku tidak pernah berhenti berusaha membuat hidupku lebih “keren” dari sekarang, dan mudah-mudahan aku tidak perlu meratapi nasib sementara ini, buat apa?
Sebenarnya pengen nanya lagi siy ke petugas SPBU tadi, pertanyaan usil, “bang AHMAD DHANI, gimana kabar Mulan Jameelah?” ……heheehe…cabut !
I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I say to myself
What wonderful world
I see skies of blue and clouds of white
Bright sunny days, dark sacred nights
And I think to myself
What a wonderful world
The colors of the rainbow are so pretty in the skies
Are also on the faces of people walking by
I see friends shaking hands saying
How do you do?
They're really saying
I love you
I see babies cry, I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself
What a wonderful world
Yes, I think to myself
What a wonderful world
And I say to myself
What a wonderful world
(what a wonderful world, versi Joey Ramones)




